• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Laporan Beban Kerja Fisik

N/A
N/A
michael wirayuda

Academic year: 2024

Membagikan " Contoh Laporan Beban Kerja Fisik"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Bab I mengenai pendahuluan akan dibahas tujuan penulisan laporan,alat yang diguanakan dalam praktikum dan prosedur praktikum yang dilakukan.

1.1 Tujuan Penulisan Laporan

Adapun tujuan penulisan laporan pengukuran beban kerja fisiologis adalah sebagai berikut :

1. Menghitung denyut nadi operator sebelum dan sesudah melakukan akativitas material handling dan sepeda statis.

2. Mengukur beban kerja aktiviitas material handling dan sepeda statis 3. Menghitung komsumsi energi untuk aktivitas material handling dan

sepeda statis

4. Menghitung tempeatur tubuh sebelum dan sesudah melakukan aktivitas material handling dan sepeda statis

5. Menghotung nilai persentase CVL untuk menentukan kriteria dari aktivitas material handling dan sepeda statis

6. Menentukan waktu istirahat aktivitas material handling dan sepeda statis

1.2 Alat yang digunakan

Alat yang digunakan dalam praktikum pengukuran beban kerja fiisiologis adalah sebagai berikut :

1. Aktivitas Material Handling

Alat yang digunakan pada aktivitas material handling adalah sebagai berikut :

Gambar 1.3 Stopwatch

(2)

2. Aktivtas Sepeda Statis

Alat yang digunakan pada aktivitas sepeda statis adalah sebagai berikut:

a) Sepeda Statis

Sepeda statis merupakan alat simulator sederhana berbentuk mirip sepeda yang bisa dikayuh.Cara pengunaannya adalah dengan duduk diatas kursi dan gunakan kedua kaki untuk mengayuh.

Gambar 1.4 Sepeda Statis b) Termometer

Termometer aalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur) ataupu perubahan suhu tubuh.Cara pengunaanya adlah dengan mengapitkan thermometer di kedua sisi siku.

Gambar 1.5 Temometer c) Omron

Omron adalah alat yang digunakan untuk menghitung denyut nadi operator saat melakukan aktivitas sepeda statis.Omron ini diletakkan di sebelah kiri dan ulu hati.

(3)

Gambar 1.6 Omron d) Garmin

Garmin adalah alat yang digunakan oleh pengamat untuk mengukur kecepatan denyut nadi operator yang tersambung blutooth dengan omron saat melakukan aktivitas sepeda statis.

Gambar 1.7 Garmin

1.3 Prosedur Praktikum

Adapun prosedur dalam melakukan praktikum pengukuran beban kerja fisiologis adalah sebagai berikut :

1. Aktivita Material Handling a) Subjek dalam keadaan siap

b) Tangan berada dalam bentuk sudut 90 derajat c) Angkat material yang berada diatas meja

(4)

d) Badan di putar dengan membawa material ke meja selanjutnya,kemudian kembali ke meja sebelumya e) Ulangi terus menerus selama 10 menit\

2. Aktivitas Sepeda Statis

a) Subjek dalam keadaan siap

b) Subjek duduk diatas kursi yang disediakan c) Kaki berada diatas kayuh

d) Putar kayuh selama 10 menit.Kecepatan kayuh dari operator berkisar antara 30 km/jam sampai 40 km/jam.Kecapatan harus berada diatas 35 km/jam jika angka yang terbaca pada Garmin mengalami penurunan.

(5)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Fisiologi

Fisiologi merupakan cabang dari ilmu biologi yang mempelajari objek spesifik makhluk hidup dari sudut pandang struktur dan fungsinya. Fisiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu physis (alam, pekerjaan, atau sifat), dan logos (cerita, atau ilmu). Jadi secara garis besar fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup. Menurut Syaifuddin (1996), Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari faal atau pekerjaan dari tiap-tiap jaringan tubuh atau bagian dari alat-alat tubuh dan sebagainya.

Sejarah fisiologi eksperimental diawali pada abad ke-17, ketika ahli anatomi William Harvey yang menjelaskan adanya sirkulasi darah. Herman Boerhave sering disebut sebagai bapak fisiologi karena karyanya berupa buku teks berjudul Institutiones Medicae (1708).

2.2 Definisi Kerja

Modul Pengukuran Kerja Fisiologis ini membahas tentang pengukuran beban kerja berdasarkan aspek fisiologis untuk mengetahui pengaruh antara keduanya, serta menentukan waktu istirahat bagi pekerja. Oleh karena itu perlu diketahui apa sesungguhnya definisi dari kata kerja itu sendiri.

Bekerja adalah kegiatan manusia mengubah keadaan-keadaan tertentu dari alam lingkungan yang ditujukan untuk mempertahankan dan memelihara kelangsungan hidupnya, atau dapat diartikan juga sebagai suatu kegiatan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain (Sutalaksana, 2006).

Maslow dalam Sutalaksana (2006), mengemukakan lima tingkat kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan tempat tinggal untuk melindungi dari panas, dingin dan hujan. Kebutuhan akan rasa aman terhadap ancaman kehilangan milik dan nyawa serta jaminan kelangsungan hidup hari esok. Kebutuhan sosial, seperti bergaul dengan orang lain. Kebutuhan akan harga diri seperti untuk menunjukkan keberhasilan dan mendapatkan penghargaan, kemudian kebutuhan untuk menyatakan diri. Kebutuhan-kebutuhan

(6)

ini dipenuhi manusia tingkat demi tingkat mulai yang pertama sampai yang terakhir, artinya seseorang akan memenuhi kebutuhan fisiologis terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan akan rasa aman dan seterusnya. Studi ergonomi dalam kaitannya dengan kerja manusia dalam hal ini ditujukan untuk mengevaluasi dan merancang kembali tata cara kerja yang harus diaplikasikan agar dapat memberikan peningkatan efektifitas dan efesiensi. Selain juga kenyamanan ataupun keamanan bagi pekerjanya.

Salah satu tolak ukur selain waktu yang diaplikasikan untuk mengevaluasikan apakah tata cara kerja sudah dirancang baik atau belum adalah dengan mengukur penggunaan energi kerja atau energi otot manusia yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas tersebut. Berat atau ringannya kerja yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan dapat ditentukan oleh gejala-gejala perubahan yang tampak dapat diukur lewat pengukuran anggota tubuh atau fisik manusia (Nurmianto, 2003).

Secara umum jenis kerja dibedakan menjadi dua bagian yaitu kerja fisik atau otot, dan kerja mental. Pengeluaran energi pada kerja fisik relatif banyak dan pada jenis ini dibedakan lagi menjadi dua cara yaitu kerja statis dan kerja dinamis.

Kerja statis tidak menghasilkan gerak, kontraksi otot bersifat isometris yaitu gaya otot dikeluarkan tanpa menghasilkan suatu kerja, hal ini terjadi karena gerakan otot tersebut terhambat dalam suatu sistem kerja, misalnya mengangkat beban yang terlalu berat, dalam kerja statis kelelahan lebih cepat terjadi. Kerja dinamis menghasilkan gerak, kontraksi otot bersifat isotonis yaitu memanjang atau memendeknya otot dengan menghasilkan suatu kerja, kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian), dan kelelahan relatif agak lama terjadi. Pengeluaran energi pada kerja mental relatif lebih sedikit dan cukup sulit untuk mengukur kelelahannya (Nurmianto, 2003).

Hasil kerja (performasi kerja) manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu, faktor diri (individu), meliputi sikap, fisik, minat, motivasi, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman dan keterampilan, kemudian faktor situasional, meliputi lingkungan fisik, mesin, peralatan, metode kerja, dan seterusnya. Kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh pekerjaan terhadap manusia

(7)

dalam suatu sistem kerja yaitu; kriteria faal yang meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi oksigen, tekanan darah, tingkat penguapan, temperatur tubuh, komposisi kimia dalam air seni, dan seterusnya, tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat tubuh selama bekerja. Kriteria kejiwaan yang meliputi kejenuhan atau kejemuan, emosi, motivasi, sikap, dan seterusnya, tujuannya adalah mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama bekerja.

Kriteria hasil kerja yang meliputi pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari pekerja selama bekerja, tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi kerja dengan melalui hasil kerja yang diperoleh dari pekerja (Sutalaksana, 2006).

2.3 Konsumsi Energi untuk Aktivitas Kerja

Salah satu tujuan utama perlunya menganalisa konsumsi energi pada pekerjaan adalah pemilihan periode istirahat pada manajemen waktu kerja, disamping untuk membandingkan metode alternatif pemilihan peralatan untuk melakukan suatu pekerjaan (Nurmianto, 2003).

Diantara sekian banyak kriteria maka denyut jantung adalah merupakan variabel yang paling mudah untuk diukur. Akan tetapi hanya merupakan pengukuran konsumsi energi secara tidak langsung. Konsumsi oksigen adalah merupakan faktor dari proses metabolisme yang dapat dianggap berhubungan langsung dengan konsumsi energi. Oleh karenanya faktor tersebut dapat dianggap sebagai faktor pengukuran dan valid, meskipun alat pengukurnya sendiri akan sedikit mengganggu subyek atau orang yang sedang diamati, seperti misalnya masker yang harus dipakai dapat mengganggu proses pernafasan, jika tidak dipasang dengan sempurna, dan peralatan ukur dipasang di punggung bisa dianggap terlalu berat sehingga dapat mempengaruhi kebebasan geraknya (Nurmianto, 2003).

2.3.1 Kalori untuk Bekerja

Satuan dari energi yang dipakai pada beberapa literatur ergonomi adalah Kilocalorie (Kcal). Dalam unit SI (Satuan Internasional) didapat bahwa 1 Kilocalorie (Kcal) = 4.2 Kilojoule (Kj). Konversi konsumsi energi dalam satuan Watt yaitu, 1 Watt = 1 Joule/sec, 1 liter oksigen akan memberikan 4,8 kcal energi

(8)

yang setara dengan 20 kj, atau 1 liter O2 menghasilkan 4.8 kcal energi = 20kj.

Konsumsi oksigen akan tetap terus berlangsung walaupun seseorang tidak melakukan pekerjaan sekalipun. Namun jika melakukan pekerjaan, maka akan membutuhkan energi total.

Konsumsi energi diawali pada saat pekerjaan fisik dimulai. Semakin banyaknya kebutuhan untuk aktifitas otot bagi suatu jenis pekerjaan, maka semakin banyak pula energi yang dikonsumsi, dan diekspresikan sebagai kalori kerja. Kalori ini didapat dengan cara mengukur konsumsi energi pada saat istirahat atau pada saat metabolisme basal. Metabolisme basal adalah konsumsi energi secara konstan pada saat istirahat dengan perut dalam keadaan kosong.

Kalori kerja ini menunjukkan tingkat ketegangan otot tubuh manusia dalam hubungannya dengan jenis kerja berat, tingkat usaha kerjanya, kebutuhan waktu untuk istirahat, efisiensi dari berbagai jenis perkakas kerja, dan produktifitas dari berbagai variasi cara kerja (Nurmianto, 2003).

2.4 Mengukur Aktifitas Kerja Fisik Manusia

Mengukur aktifitas kerja manusia dalam hal ini adalah mengukur besarnya tenaga yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk melaksanakan pekerjaannya.

Salah satu ukuran berat ringannya aktifitas fisik manusia adalah dari banyak sedikitnya energi tubuh yang dikeluarkan, biasanya diukur dalam satuan kilokalori. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran tenaga selama bekerja, antara lain cara melaksanakan kerja, kecepatan gerak, sikap tubuh, kondisi lingkungan, dan lain-lain (Sutalaksana, 2006).

2.4.1 Pengukuran Denyut Jantung

Konsumsi energi dapat menghasilkan denyut jantung yang berbeda-beda.

Meningkatnya denyut jantung dikarenakan oleh; temperatur sekeliling yang tinggi, tingginya pembebanan otot statis, dan semakin sedikit otot yang terlibat dalam suatu kondisi kerja. Berdasarkan berbagai macam alasan itulah, sehingga denyut jantung telah dipakai sebagai index beban kerja.

(9)

Tabel 2.1 Klasifikasi Beban Kerja dan Reaksi Fisiologis

Tingkat Pekerjaan

Energy Expenditure Detak Jantung

Konsumsi Oksigen Kcal/menit Kcal/8jam Detak/menit Liter/menit Undully Heavy > 12.5 > 6000 > 175 > 2.5

Very Heavy 10.0 – 12.5 4800 – 6000 150 – 175 2.0 – 2.5 Heavy 7.5 – 10.0 3600 – 4800 125 – 150 1.5 – 2.0 Moderate 5.0 – 7.5 2400 – 3600 100 – 125 1.0 – 1.5 Light 2.5 – 5.0 1200 – 2400 60 – 100 0.5 – 1.0 Very Light < 2.5 < 1200 < 60 < 0.5

Pengukuran denyut jantung adalah merupakan salah satu alat untuk menegetahui beban kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Merasakan denyut yang ada pada arteri radial pada pergelangan tangan.

2. Mendengarkan denyut dengan stethoscope.

3. Menggunakan ECG (electrocardiogram), yaitumengukur signal elektrik yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada.

2.5 Kelelahan (Fatique)

Kelelahan merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap individu yang sudah tidak sanggup lagi melakukan aktivitasnya. Pada dasarnya pola ini ditimbulkan oleh dua hal, yaitu kelelahan fisiologis dan kelelahan psikologis (Sutalaksana, 2006). Kelelahan kerja adalah suatu kondisi dimana terjadi pada saraf dan otot manusia sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya (Nurmianto, 2003). Kelelahan dipandang dari sudut industri adalah pengaruh dari kerja pada pikiran dan tubuh manusia yang cenderung untuk mengurangi kecepatan kerja mereka atau

(10)

menurunkan kualitas produksi atau kedua-duanya dari performansi optimum seorang operator.

Cakupan dari kelelahan diantaranya adalah penurunan dalam performansi kerja, yaitu pengurangan dalam kecepatan dan kualitas output yang terjadi bila melewati suatu periode tertentu disebut fatique industri, pengurangan pada kapasitas kerja, yaitu perusakan otot atau ketidak seimbangan susunan saraf untuk memberikan stimulus disebut fatique fisiologis, laporan-laporan subyektif dari pekerja, berhubungan dengan perasaan gelisah dan bosan disebut fatique psikologis, dan perubahan-perubahan dalam aktivitas dan kapasitasnya yang merupakan perubahan fungsi fisiologis atau perubahan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisiologis disebut fatique fungsional. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kelelahan adalah penentuan dan lamanya waktu kerja, penentuan dan lamanya waktu istirahat, sikap mental pekerja, besar beban kerja, kemonotonan pekerjaan dalam lingkungan kerja yang tetap, kondisi tubuh operator pada waktu melaksanakan pekerjaan, lingkungan fisik kerja, kecepatan kerja, jenis dan kebiasaan olahraga, jenis kelamin, usia, dan sikap kerja (Nurmianto, 2003).

2.5.1 Kelelahan Otot

Kelelahan otot adalah kelelahan yang terjadi karena kerja, dengan adanya aktivitas kontraksi dan relaksasi yang diakibatkan oleh pengeluaran sejumlah energi secara cepat, pekerjaan yang dikerjakan terus menerus, pekerjaan setempat atau lokal yang terus menerus berulang dengan pengeluaran energi tempat yang besar, dan sikap yang dibatasi. Kondisi dinamis dari pekerjaan ini akan meningkatkan sirkulasi darah juga mengirim zat-zat makanan bagi otot dan mengusir asam laktat (Nurmianto, 2003).

Terdapat beberapa cara untuk mengurangi kelelahan otot. Cara-cara tersebut antara lain; mengatur beban kerja dengan melakukan perancangan kerja, mengatur periode istirahat yang cukup berdasarkan atas pertimbangan fisiologis, mengatur regu-regu kerja dengan baik dan menyeimbangkan tekanan fisiologis diantara anggota pekerja, menyediakan air dan garam yang cukup bagi pekerja

(11)

yang bekerja dalam lingkungan kerja yang panas, menyeleksi pekerja yang didasarkan atas kemampuan fisik mereka dan tingkat pelatihan (trainning) untuk aktivitas tertentu yang membutuhkan energi yang cukup besar (Sutalaksana, 2006 2.5.2 Gejala Kelelahan dan Cara Menguranginya

Berikut ini diberikan suatu daftar yang dapat digunakan sebagai patokan untuk mengetahui datangnya gejala-gejala atau perasaan kelelahan (Sutalaksana, 2006), yaitu:

1. Kepala terasa berat, lelah seluruh badan, kaki terasa berat, menguap, pikiran terasa kacau, mengantuk, mata terasa berat, kaku dan canggung dalam bergerak, tidak seimbang dalam berdiri, serta merasa ingin berbaring.

2. Merasa susah berpikir, lelah berbicara, menjadi gugup, tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat memusatkan perhatian terhadap sesuatu, cenderung lupa, kurang kepercayaan, cemas terhadap sesuatu, tidak dapat mengontrol sikap, dan tidak dapat tekun dalam bekerja.

3. Sakit kepala, kekakuan bahu, merasa nyeri di punggung, pernapasan merasa tertekan, haus, suara serak, merasa pening, spasme dari kelopak mata, tremor pada anggota badan, dan merasa kurang sehat badan.

Gejala-gejala yang termasuk kedalam kelompok 1, menunjukkan perlemahan kegiatan, kelompok 2 menunjukkan perlemahan motivasi, dan kelompok 3 menunjukkan kelelahan fisik psikologis. Kelelahan dapat dikurangi dengan berbagai cara, diantaranya dengan menyediakan kalori secukupnya sebagai asupan untuk tubuh, bekerja dengan menggunakan metoda kerja yang baik, misalnya bekerja dengan memakai prinsip ekonomi gerakan, memperhatikan kemampuan tubuh, artinya pengeluaran tenaga tidak melebihi pemasukannya dengan memperhatikan batasan-batasannya, memperhatikan waktu kerja yang teratur. Berarti harus dilakukan pengaturan terhadap jam kerja, waktu istirahat dan sarana-sarananya, masa-masa libur dan rekreasi, mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya, seperti suhu, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran bau atau wangi-wangian, dan berusaha untuk mengurangi monotoni dan ketegangan-ketegangan akibat kerja, misalnya dengan

(12)

menggunakan warna dan dekorasi ruangan kerja, menyediakan musik, menyediakan waktu-waktu olah (Sutalaksana, 2006).

2.5.3 Stres

Mengapa stres dibahas pada modul fisiologi ini, karena stres merupakan salah satu pemicu terjadinya kelelahan fisiologis. Stres adalah satu abstraksi.

Orang tidak dapat melihat pembangkit stres (stressor), yang dapat dilihat adalah akibat dari pembangkit stres (Munandar, 2001). Jika seseorang untuk pertama kali mengalami situasi penuh stres, maka mekanisme pertahanan dalam badan diaktifkan. Suatu faktor stres dapat menghasilkan berbagai penyakit badaniah.

Keadaan ini bagi seseorang dapat menghasilkan penurunan dalam unjuk kerjanya.

Everely dan Girdano (1980), mengajukan daftar tanda-tanda dari adanya distress. Menurut mereka, stres akan mempunyai dampak pada suasana hati (mood), otot kerangka (musculoskeletal), dan organ-organ dalam badan (visceral).

Karena modul ini membahas aspek fisiologis maka berikut ini adalah tanda-tanda organ-organ dalam badan (visceral) bila seseorang mengalami stress:

1. Perut terganggu

2. Merasa jantung berdebar 3. Banyak berkeringat 4. Tangan berkeringat

5. Merasa kepala ringan atau akan pingsan 6. Mengalami kadinginan (cold chills) 7. Wajah menjadi panas

8. Mulut menjadi kering

9. Mendengar bunyi berdering dalam kuping

10. Mengalami “rasa akan tenggelam” dalam perut (sinking feeling)

Selanjutnya kondisi fisik kerja juga dapat dianalisa sebagai penyebab stress yang dapat mengakibatkan kelelahan. Disamping dampaknya terhadap prestasi kerja, kondisi kerja fisik memiliki dampak juga terhadap kesehatan mental dan keselamatan kerja seorang tenaga kerja. Kondisi fisik kerja

(13)

mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologis diri seorang tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan pembangkit stres (stressor). Kondisi fisik kerja yang dapat dianalisa meliputi; bising (noise), vibrasi, dan kebersihan (hygine).

(14)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan hasil pengumpulan data-data yang dibutuhkan yang akan digunakan dalam mengukur beban kerja fisiologis seseorang dan hasil pengolahan data-data tersebut.

3.1 Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data umum, denyut nadi, dan temperatur operator yang melakukan aktivitas material handling dan aktivitas sepeda statis.

3.1.1 Aktivitas Material Handling

Bagian ini akan menjelaskan mengenai data yang dibutuhkan dalam melakukan pengukuran beban kerja fisiologis untuk aktivitas material handling.

Data-data yang dibutuhkan terdapat pada tabel 2.1 dan tabel 2.2.

Tabel 3.1 Data Umum Operator Aktivitas Material Handling

No Keterangan Uraian

1 Nama Rukson Simarmata

2 Usia 41 tahun

3 Berat Badan 75 kg 4 Kondisi Nutrisi Baik

5 Lama Tidur 6 jam

6 Kebiasaan Olahraga Sering 7 Jenis Olahraga Volly

8 Obat-obatan -

9 Merokok Iya

Tabel 3.2 Data Denyut Nadi dan Temperatur Operator Material Handling

No Keterangan Data waktu 10 denyut nadi (s)

Temperatur Tubuh (celcius)

1 Sebelum Aktivitas 07,50 s 37

2 Sesudah Aktivitas 07,00 s 37,5

(15)

3.1.2 Aktivitas Sepeda Statis (SS)

Bagian ini akan menjelaskan mengenai data yang dibutuhkan dalam melakukan pengukuran beban kerja fisiologis untuk aktivitas sepeda statis. Data- data yang dibutuhkan terdapat pada tabel 2.3, dan tabel 2.4.

Tabel 3.3 Data Umum Operator Sepeda Statis

No Keterangan Uraian

1 Nama Hendro Panahatan

2 Usia 21 tahun

3 Berat Badan 48 kg 4 Kondisi Nutrisi Baik

5 Lama Tidur 5 jam

6 Kebiasaan Olahraga Sering

7 Jenis Olahraga Gym, Renang, Jogging

8 Obat-obatan -

9 Merokok Iya

Tabel 3.4 Data Temperatur Aktivitas Sepeda Statis

No Keterangan Data waktu 10 denyut nadi (s)

Temperatur Tubuh (celcius) 1 Sebelum Aktivitas 06,80 s 36,4

2 Sesudah Aktivitas 04,30 s 37

3.1.3 Aktivitas Treadmill

Bagian ini akan menjelaskan mengenai data yang dibutuhkan dalam melakukan pengukuran beban kerja fisiologis untuk aktivitas treadmill. Data-data yang dibutuhkan terdapat pada tabel 2.5, dan tabel 2.6.

Tabel 3.5 Data Umum Operator Treadmill

No Keterangan Uraian

1 Nama Leonixander Cayadi

2 Usia 20 tahun

3 Berat Badan 72 kg 4 Kondisi Nutrisi Baik

5 Lama Tidur 5 jam

6 Kebiasaan Olahraga Jarang

7 Jenis Olahraga Renang, Badminton

(16)

8 Obat-obatan -

9 Merokok Tidak

Tabel 3.6 Data Temperatur Aktivitas Treadmill No Keterangan Data waktu 10

denyut nadi (s)

Temperatur Tubuh (celcius)

1 Sebelum Aktivitas 05,20 s 36,2

2 Sesudah Aktivitas 04,77 s 37,5

3.2 Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan sebelumnya diolah untuk menentukan beban kerja fisiologis operator yang melakukan aktivitas material handling dan aktivitas sepeda statis.

3.2.1 Perhitungan Denyut Nadi/Menit

Bagian ini menjelaskan mengenai pengolahan data untuk menghitung denyut nadi/menit operator sebelum dan sesudah melakukan aktivitas material handling dan aktivitas sepeda statis.

Untuk Material Handling

Denyut sebelum aktivitas = 10

𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 10 𝑑𝑒𝑛𝑦𝑢𝑡 𝑛𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠x 60denyut

menit

= 10 7,5x60

= 80denyut menit

Denyut sesudah aktivitas = 10

𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 10 𝑑𝑒𝑛𝑦𝑢𝑡 𝑛𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠x 60denyut

menit

=10 7 x60

= 85,71denyut menit

(17)

Tabel 3.7 Data Denyut Nadi Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

No Operator Aktivitas

Denyut Nadi Sebelum Aktivitas

(per menit)

Denyut Nadi Sesudah Aktivitas

(per menit)

1 Rukson Simarmata Material handling 80 85,71

2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 88,23 139,53

3 Leonixander Cayadi Treadmill 115,38 125,78

3.2.2 Perhitungan Beban Kerja

Bagian ini menjelaskan mengenai pengolahan data untuk menghitung beban kerja operator sebelum dan sesudah melakukan aktivitas material handling, aktivitas sepeda statis, dan aktivitas Treadmill.

Perhitungan beban kerja memerlukan data denyut nadi dan tingkat energi.

Tingkat energi dapat dihitung:

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4) Keterangan:

Y = tingkat energi (Kkal/menit) x = denyut nadi/menit

Tabel 3.8 Tingkat Energi Sebelum dan Sesudah Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

No Operator Aktivitas Tingkat Energi

Sebelum Aktivitas

Tingkat Energi Sesudah Aktivitas

1 Rukson Simarmata Material handling 0,014 0,019

2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 0,021 0,088

3 Leonixander Cayadi Treadmill 0,053 0,067

Contoh perhitungan:

1. Tingkat energi pada aktivitas Material Handling (MH) a. Tingkat Energi sebelum

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

= 1.80411 – 0.0229038 (80) + 4.71733(802)(10-4)

=

(18)

b. Tingkat Energi sesudah

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

=

=

2. Tingkat energi pada aktivitas Sepeda Statis (SS) a. Tingkat Energi sebelum

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

=

=

b. Tingkat Energi sesudah

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

=

=

3. Tingkat energi pada aktivitas Treadmill a. Tingkat Energi sebelum

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

=

=

b. Tingkat Energi sesudah

Y = 1.80411 – 0.0229038 (X) + 4.71733(X2)(10-4)

=

=

4. Rata-rata Tingkat Energi

a. Rata-rata Tingkat Energi aktivitas Material Handling

= (Tingkat energi sebelum + Tingkat energi sesudah) 2

= (0,014+0,019)

2 = 0,0165 Kkal/menit = …….. Kkal/jam b. Rata-rata Tingkat Energi aktivitas Sepeda Statis

= (Tingkat energi sebelum + Tingkat energi sesudah) 2

= (0,021+0,088)

2 = 0,0545 Kkal

menit= ……….. Kkal/jam c. Rata-rata Tingkat Energi aktivitas Treadmill

(19)

= (Tingkat energi sebelum + Tingkat energi sesudah) 2

= (0,053+0,067)

2 = 0,06 Kkal/menit = …….. Kkal/jam

Perhitungan beban kerja:

Beban kerja = Y x 60 (Kkal/jam) Keterangan:

Y = tingkat energi rata-rata aktivitas

Tingkat beban kerja memiliki 3 kriteria:

Beban Kerja Ringan = 100 – 200 Kkal/jam Beban Kerja Moderat = >200 – 350 Kkal/jam Beban Kerja Berat = >350 Kkal/jam

Tabel 3.9 Klasifikasi Beban Kerja pada Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

No Operator Aktivitas Beban Kerja

(Kkal/jam) Kriteria 1 Rukson Simarmata Material handling 74.25 Beban Kerja Ringan 2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 156,96 Beban Kerja Ringan

3 Leonixander Cayadi Treadmill 259,2 Beban Kerja Moderat

3.2.3 Perhitungan Konsumsi Oksigen untuk Beban Kerja

Bagian ini menjelaskan mengenai pengolahan data untuk menghitung konsumsi energi untuk beban kerja operator sebelum dan sesudah melakukan aktivitas material handling, aktivitas sepeda statis dan aktivitas treadmill.

Perhitungan beban kerja memerlukan data denyut nadi, data berat badan, dan data konsumsi oksigen.

Konsumsi oksigen untuk beban kerja dapat dihitung:

Y’ = 0,014x + 0,017z – 1,706 Keterangan:

Y’ = konsumsi oksigen (liter/menit) x = denyut nadi/menit

z = berat badan (kg)

(20)

Tabel 3.10 Klasifikasi Konsumsi Oksigen Kriteria Beban

Kerja

Konsumsi Oksigen (liter/menit)

Ringan 0,5-1,0

Sedang 1,0-1,5

Berat 1,5-2,0

Sangat Berat 2,0-2,5

Sangat Berat Sekali >2,5

Tabel 3.11 Konsumsi Oksigen Sebelum Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill.

No Operator Aktivitas

Konsumsi Oksigen Sebelum Aktivitas

(liter/menit)

Kriteria

1 Rukson Simarmata Material handling 0,689 Ringan

2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 0,34522 Ringan

3 Leonixander Cayadi Treadmill 1,13332 Sedang

Tabel 3.12 Konsumsi Oksigen Sesudah Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill.

No Operator Aktivitas

Konsumsi Oksigen Sebelum Aktivitas

(liter/menit)

Kriteria

1 Rukson Simarmata Material handling 0,76894 Ringan

2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 1,06342 Sedang

3 Leonixander Cayadi Treadmill 1,27892 Sedang

Contoh perhitungan:

1. Konsumsi oksigen sebelum aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

a. Aktivitas Material Handling Y’sebelum

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 80) + (0,017 𝑥 75) − 1,706

= 0,689 liter/menit b. Aktivitas Sepeda Statis

(21)

Y’sebelum

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 88,23) + (0,017 𝑥 48) − 1,706

= 0,34522 liter/menit c. Aktivitas Treadmill

Y’sebelum

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 115,38) + (0,017 𝑥 72) − 1,706

= 1,13332 liter/menit

2. Konsumsi oksigen sesudah aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

a. Aktivitas Material Handling Y’sesudah

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 85,71) + (0,017 𝑥 75) − 1,706

= 0,76894 liter/menit

b. Aktivitas Sepeda Statis Y’sesudah

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 139,53) + (0,017 𝑥 48) − 1,706

= 1,06342 liter/menit c. Aktivitas Treadmill

Y’sesudah

= 0,014𝑥 + 0,017𝑧 − 1,706

= (0,014 𝑥 125,78) + (0,017 𝑥 72) − 1,706

= 1,27892 liter/menit

(22)

3.2.4 Perhitungan % CVL (Cardiovascular Load)

Bagian ini menjelaskan mengenai perhitungan % CVL (Cardiovascular Load) operator yang melakukan aktivitas material handling, sepeda statis dan treadmill selama 10 menit.

%𝐂𝐕𝐋 =(𝐃𝐞𝐧𝐲𝐮𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 − 𝐃𝐞𝐧𝐲𝐮𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐈𝐬𝐭𝐢𝐫𝐚𝐡𝐚𝐭)

(𝐃𝐞𝐧𝐲𝐮𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐌𝐚𝐱 − 𝐃𝐞𝐧𝐲𝐮𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐈𝐬𝐭𝐢𝐫𝐚𝐡𝐚𝐭) 𝐱𝟏𝟎𝟎%

Denyut nadi maksimal untuk pria = 220 – umur Denyut nadi maksimal untuk wanita = 200 – umur

Tabel 3.14 Klasifikasi %CVL

%CVL Klasifikasi %CVL

<30% Tidak terjadi kelelahan 30%-60% Diperlukan perbaikan 60%-80% Kerja dalam waktu singkat 80%-100% Diperlukan tindakan segera

>100% Tidak diperbolehkan beraktivitas Tabel 3.15 %CVL Aktivitas Operator

No Operator Aktivitas

Denyut Nadi Max

Denyut Nadi Kerja

Denyut Nadi Istirahat

%CVL Kriteria

1 Rukson Simarmata Material handling 145 85,71 80 8,78 Tidak terjadi kelelahan 2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 199 139,53 88,23 46,31 Diperlukan perbaikan 3 Leonixander Cayadi Treadmill 200 125,78 115,38 12,29 Tidak terjadi kelelahan

Contoh perhitungan:

1. Perhitungan %CVL pada aktivitas Material Handling

%CVL =(Denyut Nadi Kerja − Denyut Nadi Istirahat)

(Denyut Nadi Max − Denyut Nadi Istirahat) x100%

= (85,71 − 80)

(145 − 80) x100% = 8,78%

2. Perhitungan %CVL pada aktivitas Sepeda Statis

%CVL =(Denyut Nadi Kerja − Denyut Nadi Istirahat)

(Denyut Nadi Max − Denyut Nadi Istirahat) x100%

=(139,53 − 88,23)

(199 − 88,23) x100% = 46,31%

(23)

3. Perhitungan %CVL pada aktivitas Treadmill

%CVL =(Denyut Nadi Kerja − Denyut Nadi Istirahat)

(Denyut Nadi Max − Denyut Nadi Istirahat) x100%

=(125,78 − 115,38)

(200 − 115,38) x100% = 12,29%

3.2.5 Temperatur Tubuh

Bagian ini berisikan pengkategorian temperatur tubuh operator setelah melakukan aktivitas material handling, sepeda statis dan treadmill.

Tabel 3.16 Kategori Temperatur Tubuh Operator

Kategori Temperatur (celcius) Sangat Ringan <37,5

Ringan 37,5

Moderat 37,5-38

Berat 38-38,5

Sangat Berat 38,5-39 Berat Ekstrim >39

Tabel 3.17 Temperatur Sesudah Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

No Operator Aktivitas Temperatur

Sesudah Kategori

1 Rukson Simarmata Material handling 37,5 Ringan

2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 37 Sangat Ringan

3 Leonixander Cayadi Treadmill 37,5 Ringan

Pengkategorian dilakukan dengan memperlihatkan temperatur tubuh operator setelah melakukan aktivitas material handling, sepeda statis dan treadmill.

3.2.6 Penentuan Waktu Istirahat

Penentuan waktu istirahat dilakukan dengan membandingkan terlebih dahulu nilai K (konsumsi energi) dengan nilai S (pengeluaran energi rata-rata).

Jika K<S, maka waktu istirahat yang diperoleh = 0. Jika K>S, maka penetuan waktu istirahat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

(24)

𝐓𝐫 = 𝐓𝐬| 𝐊 − 𝐒 𝐊 − 𝟏, 𝟓| Keterangan:

Tr = Istirahat yang dibutuhkan (menit) Ts = total waktu kerja (menit)

K = konsumsi energi untuk bekerja (Kkal/menit)

S = pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (Kkal/menit0 (Pria = 5 Kkal/menit dan Wanita = 4 Kkal/menit)

Tabel 3.18 Waktu Istirahat Aktivitas Material Handling, Sepeda Statis dan Treadmill

No Operator Aktivitas Waktu

Istirahat 1 Rukson Simarmata Material handling 0 2 Hendro Panahatan M Sepeda statis 0

3 Leonixander Cayadi Treadmill 0

Contoh perhitungan:

1. Penentuan waktu istirahat pada aktivitas Material Handling

Konsumsi energi untuk bekerja lebih kecil dari pengeluaran energi rata- rata yang direkomendasikan (K<S).

0,3997 Kkal/menit < 5 Kkal/menit

Jadi tidak diperlukan waktu istirahat pada aktivitas material handling.

2. Penentuan waktu istirahat pada aktivitas Sepeda Statis

Konsumsi energi untuk bekerja lebih kecil dari pengeluaran energi rata- rata yang direkomendasikan (K<S).

3,591 Kkal/menit < 5 Kkal/menit

Jadi tidak diperlukan waktu istirahat pada aktivitas sepeda statis.

3. Penentuan waktu istirahat pada aktivitas Treadmill

Konsumsi energi untuk bekerja lebih kecil dari pengeluaran energi rata- rata yang direkomendasikan (K<S).

0,728 Kkal/menit < 5 Kkal/menit

(25)

Jadi tidak diperlukan waktu istirahat pada aktivitas treadmill.

Nilai konsumsi energi (K) yang didapatkan oleh kedua operator yang melakukan aktivitas material handling, sepeda statis dan treadmill lebih kecil dari nilai S (K<S), didapatkan waktu istirahat yang diperoleh untuk ketiga operator = 0, sehingga operator tidak memerlukan rekomendasi waktu istirahat dalam pekerjaan aktivitas material handling, sepeda statis dan treadmill yang dilakukan selama 10 menit.

(26)

BAB 4 ANALISIS

5.1 Analisis Operator Aktivias Material Handling

Sub bab ini membahas tentang analisis denyut nadi, analisis kerja biologis, analisis komsumsi energy, analisis persentase CVL, analisis temperature tubuh, dan analisis waktu istirahat dari operator pada aktivitas material handling.

5.1.1 Analisis Denyut Nadi

Operator yang melakukan aktivitas material handling ini adalah Rukson Simarmata. Denyut nadi yang didapatkan untuk 10 denyut nadi pertama sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 7.50 detik atau 80 denyut/menit. Sementara untuk 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas material handling ini adalah sebesar 7.00 detik atau 85.71 denyut/menit. Jadi denyut nadi yang didapatkan sebelum melakukan aktivitas waktunya lebih besar daripada setelah melakukan aktivtias. Hal ini disebabkan karena pada saat setelah melakukan aktivitas, aliran darah menjadi semakin cepat dan jantung pun bekerja lebih cepat, sehingga menyebabkan denyut nadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Oleh sebab itu, waktu yang diperlukan untuk mencapai 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas menjadi lebih singkat.

5.1.2 Analisis Kerja Fisiologi

Pengolahan data dari analisis kerja fisiologis ini memerlukan data denyut nadi dan juga data tngkat energy dari aktivitas material handling ini. Tingkat energy yang didapatkan dari aktivitas material handling sebelum aktivitas adalah sebesar 0.014 Kkal/menit. Sementara tingkat energy yang didapatkan setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 0.019 Kkal/menit. Jadi rata-rata tingkat energi aktivitas material handling adalah sebesar 0.0165 Kkal/menit.

Beban kerja yang didapatkan pada aktivtias material handling adalah sebesar 74.25 Kkal/jam. Jadi beban kerja pada aktivitas material handling ini tergolong dalam kategori beban kerja ringan . Karena nilainya tidak mencapai 200 Kkal/jam. Nilai dari beban kerja ini dipengaruhi oleh besarnya tingkat energy

(27)

rata-rata aktivitas dan berat badan operator dan nilai-nilai tersebut memiliki hubungan linier antara satu sama lain.

5.1.3 Analisis Konsumsi Energi

Konsumsi energy yang dibutuhkan pada aktivitas material handling mengalami peningkatan sebelum melakukan aktivitas dengan sesudah melakukan aktivitas yaitu sebesar 0.3997 Kkal/menit. Semakin banyaknya kebutuhan untuk aktivitas otot bagi suatu jenis pekerjaan, maka semakin banyak pula energi yang dikonsumsi dan diekspresikan sebagai kalori kerja (Nurmianto, 1996). Konsumsi energi awal dari operator adalah sebesar 3.445 Kkal/menit, sedangkan konsumsi energi setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 3.8447 Kkal/menit. Hal ini menunjukkan bahwa ketika melakukan aktivtias tubuh membutuhkan energy yang lebih besar ketika melakukan pekerjaan yang lebih berat dari biasanya.

Konsumsi oksigen operator sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 0.689 liter/menit. Sementara konsumsi oksigennya setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 0.76894 liter/menit. Karena konsumsi oksigennya kurang dari 1 liter/menit, maka dapat dikatakan bahwa kriteria dari beban kerja dari aktivitas material handling ini tergolong ringan. Nilai dari konsumsi oksigen ini sangat dipengaruhi oleh denyut nadi/menit dan juga berat badan dari operator. Jadi semakin berat pekerjaan yang dilakukan oleh operator maka semakin besar oksigen yang dikonsumsi oleh operator. Karena untuk melakukan pekerjaan yang berat tubuh memerlukan kapasitas oksigen yang lebih besar dari biasanya.

5.1.4 Analisis Persentase CVL

Persentase CVL (Cardiovascular Load) digunakan untuk mengetahui klasifikasi dari pekerjaan yang dilakukan oleh operator. Apakah pekerjaan yang dilakukan diperlukan perbaikan untuk kedepannya atau hanya boleh dilakukan dalam waktu singkat, tergantung dari persentase CVL yang didapatkan. Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi kerja dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = % CVL) (Widodo, 2008). Persentase CVL yang didapatkan pada aktivitas material handling sebesar 8.78 %. Hal ini

(28)

menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan operator tersebut tidak mengalami kelelahan, Karena nilai dari persentase CVL kurang dari 30%. Nilai dari persentase CVL ini sangat dipengaruhi denyut nadi dari operator yang melakukan aktivtias material handling. Berat benda kerja dan waktu melakukan aktivitas juga sangat mempengaruhi nilai dari persentase ini. Semakin besar berat benda kerja maka denyut nadi akan berdetak lebih kencang, karena aliran darah bekerja lebih cepat dari biasanya. Begitu pula untuk waktu melakukan aktivitas, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas maka denyut nadi akan berdetak lebih kencang dari biasanya. Jadi kepekaan denyut nadi akan segera berubah dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari pembebanan mekanik, fisika maupun kimiawi (Mega, 2014).

5.1.5 Analisis Temperatur Tubuh

Temperatur tubuh dari operator sebelum melakukan aktivitas sebesar 37 C.

Sementara temperature setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 37.5°C. Jadi terjadinya peningkatan temperature tubuh pada tubuh operator. Hal ini disebabkan oleh adanya pembakaran energy dalam tubuh ketika melakukan aktivitas yang lebih berat dari biasanya, sehingga menyebabkan peningkatan temperatur tubuh, maka aktivitas dari material handling tergolong kepada aktivitas yang sangat ringan untuk dilakukan karena nilainya kurang dari 37.5°C. Tubuh manusia dapat menyesuaikan diri dengan temperature luar yang tidak melebihi dari 20% untuk kondisi panas dan 35% dari keadaan dingin, semuanya dari keadaan normal tubuh (Firdaus, 2009).

5.1.6 Analisis Waktu Istirahat

Pengaturan waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan, dan factor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising dan berdebu (Widodo, 2008). Waktu istirahat yang didapatkan berdasarkan pengolahan yang dilakukan selama 0 menit. Jadi ketika melakukan aktivitas material handling selama 10 menit tidak membutuhkan waktu istirahat, karena konsumsi energi yang digunakan lebih kecil dairpada pengeluaran energi rata-rata. Waktu istirahat yang sebaiknya dilakukan pekerja yang diberikan pada

(29)

saat tingkat denyut jantung,suhu tubuh, dan tingkat mengantuk sedang berada pada puncaknya (Silalahi, 2011).

5.2 Analisis Operator Aktivitas Sepeda Statis (SS)

Sub bab ini membahas tentang analisis denyut nadi, analisis kerja biologis, analisis komsumsi energy, analisis persentase CVL, analisis temperature tubuh, dan analisis waktu istirahat dari operator pada aktivitas sepeda statis.

5.2.1 Analsis Denyut Nadi

Operator yang melakukan aktivitas sepeda statis ini adalah Hendro Panahatan M. Denyut nadi yang didapatkan untuk 10 denyut nadi pertama sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 6.80 detik atau 88.23 denyut/menit.

Sementara untuk 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas sepeda statis ini adalah sebesar 4.30 detik atau 139.53 denyut/menit. Jadi denyut nadi yang didapatkan sebelum melakukan aktivitas waktunya lebih besar daripada setelah melakukan aktivtias. Hal ini disebabkan karena pada saat setelah melakukan aktivitas, aliran darah menjadi semakin cepat dan jantung pun bekerja lebih cepat, sehingga menyebabkan denyut nadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Oleh sebab itu, waktu yang diperlukan untuk mencapai 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas menjadi lebih singkat.

Pekerjaan pada pria dapat digolongkan berat jika jumlah denyut nadi mencapai 154 per menit (Muflichatun, 2006). Sementara denyut nadi dari operator sepeda statis ini memiliki nilai yang lebih rendah dari pada denyut nadi pria yang tergolong berat tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh operator sepeda statis ini ringan.

5.2.2 Analisis Kerja Fisiologis

Pengolahan data dari analisis kerja fisiologis ini memerlukan data denyut nadi dan juga data tngkat energy dari aktivitas sepeda statis ini. Tingkat energy yang didapatkan dari aktivitas sepeda statis sebelum aktivitas adalah sebesar 0.021 Kkal/menit. Sementara tingkat energy yang didapatkan setelah melakukan

(30)

aktivitas adalah sebesar 0.088 Kkal/menit. Jadi rata-rata tingkat energi aktivitas sepeda statis adalah sebesar 0.0545 Kkal/menit.

Beban kerja yang didapatkan pada aktivtias sepeda statis adalah sebesar 156.96 Kkal/jam. Jadi beban kerja pada aktivitas sepeda statis ini tergolong dalam kategori beban kerja ringan . Karena nilainya tidak mencapai 200 Kkal/jam. Nilai dari beban kerja ini dipengaruhi oleh besarnya tingkat energy rata-rata aktivitas dan berat badan operator dan nilai-nilai tersebut memiliki hubungan linier antara satu sama lain.

5.2.3 Analisis Konsumsi Energi

Konsumsi energi yang dibutuhkan pada aktivitas sepeda statis mengalami peningkatan sebelum melakukan aktivitas dengan sesudah melakukan aktivitas yaitu sebesar 3.591 Kkal/menit. Semakin banyaknya kebutuhan untuk aktivitas otot bagi suatu jenis pekerjaan, maka semakin banyak pula energi yang dikonsumsi dan diekspresikan sebagai kalori kerja (Nurmianto, 1996). Konsumsi energi awal dari operator adalah sebesar 1.7261 Kkal/menit, sedangkan konsumsi energi setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 5.3171 Kkal/menit. Hal ini menunjukkan bahwa ketika melakukan aktivtias tubuh membutuhkan energy yang lebih besar ketika melakukan pekerjaan yang lebih berat dari biasanya.

Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energy yang dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.

Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energy yang diperlukan untuk dikonsumsi (Widodo, 2008). Konsumsi oksigen operator sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 0.34522 liter/menit. Sementara konsumsi oksigennya setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 1.06342 liter/menit. Karena konsumsi oksigennya lebih dari 1 liter/menit dan kurang dari 1.5 liter/menit, maka dapat dikatakan bahwa kriteria dari beban kerja dari aktivitas sepeda statis ini tergolong sedang. Nilai dari konsumsi oksigen ini sangat dipengaruhi oleh denyut nadi/menit dan juga berat badan dari operator. Jadi semakin berat pekerjaan yang dilakukan oleh operator maka semakin besar oksigen yang dikonsumsi oleh operator. Karena untuk melakukan pekerjaan yang berat tubuh memerlukan kapasitas oksigen yang lebih besar dari biasanya.

(31)

5.2.4 Analisis Persentase CVL

Persentase CVL (Cardiovascular Load) digunakan untuk mengetahui klasifikasi dari pekerjaan yang dilakukan oleh operator. Apakah pekerjaan yang dilakukan diperlukan perbaikan untuk kedepannya atau hanya boleh dilakukan dalam waktu singkat, tergantung dari persentase CVL yang didapatkan.

Persentase CVL yang didapatkan pada aktivitas sepeda statis sebesar 46.31%. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan operator tersebut tidak mengalami kelelahan, Karena nilai dari persentase CVL lebih dari 30% perlu dilakukan perbaikan. Nilai dari persentase CVL ini sangat dipengaruhi denyut nadi dari operator yang melakukan aktivtias sepeda statis. Rentang waktu yang diperlukan untuk melakukan aktivitas sepeda statis juga sangat mempengaruhi nilai dari persentase ini. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas sepeda statis maka denyut nadi akan berdetak lebih kencang dari biasanya.

5.2.5 Analisis Temperatur Tubuh

Temperatur tubuh dari operator sebelum melakukan aktivitas sebesar 36.4°C . Sementara temperature setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 37°C.

Jadi terjadinya peningkatan temperature tubuh pada tubuh operator. Hal ini disebabkan oleh adanya pembakaran energy dalam tubuh ketika melakukan aktivitas yang lebih berat dari biasanya, sehingga menyebabkan peningkatan temperatur tubuh, maka aktivitas dari sepeda statis tergolong kepada aktivitas yang sangat ringan untuk dilakukan karena nilainya kurang dari 37.5°C.

5.2.6 Analisis Waktu Istirahat

Pengaturan waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan, dan factor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising dan berdebu (Widodo, 2008). Waktu istirahat yang didapatkan berdasarkan pengolahan yang dilakukan selama 0 menit. Jadi ketika melakukan aktivitas sepeda statis selama 10 menit tidak membutuhkan waktu istirahat, karena konsumsi energi yang digunakan lebih kecil dairpada pengeluaran energi rata-rata.

Waktu istirahat sangat dipengaruhi oleh kosumsi energy yang digunakan oleh

(32)

operator, semakin tinggi kosumsi energi yang digunakan oleh operator maka semakin besar pula waktu istirahat yang dibutuhkan oleh operator yang melakukan suatu aktivitas.

5.3 Analisis Operator Aktivitas Treadmill

Sub bab ini membahas tentang analisis denyut nadi, analisis kerja biologis, analisis komsumsi energy, analisis persentase CVL, analisis temperature tubuh, dan analisis waktu istirahat dari operator pada aktivitas treadmill.

5.3.1 Analsis Denyut Nadi

Operator yang melakukan aktivitas treadmill ini adalah Randy Prima.

Denyut nadi yang didapatkan untuk 10 denyut nadi pertama sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 0.520 detik atau 80 denyut/menit. Sementara untuk 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas treadmill ini adalah sebesar 0.477 detik atau 125.78 denyut/menit. Jadi denyut nadi yang didapatkan sebelum melakukan aktivitas waktunya lebih besar daripada setelah melakukan aktivtias. Hal ini disebabkan karena pada saat setelah melakukan aktivitas, aliran darah menjadi semakin cepat dan jantung pun bekerja lebih cepat, sehingga menyebabkan denyut nadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Oleh sebab itu, waktu yang diperlukan untuk mencapai 10 denyut nadi setelah melakukan aktivitas menjadi lebih singkat.

Pekerjaan pada pria dapat digolongkan berat jika jumlah denyut nadi mencapai 154 per menit (Muflichatun, 2006). Sementara denyut nadi dari operator treadmill ini memiliki nilai yang lebih rendah dari pada denyut nadi pria yang tergolong berat tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh operator treadmill ini ringan.

5.3.2 Analisis Kerja Fisiologis

Pengolahan data dari analisis kerja fisiologis ini memerlukan data denyut nadi dan juga data tngkat energy dari aktivitas treadmill ini. Tingkat energy yang didapatkan dari aktivitas treadmill sebelum aktivitas adalah sebesar 0.053 Kkal/menit. Sementara tingkat energy yang didapatkan setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 0.067 Kkal/menit. Jadi rata-rata tingkat energi aktivitas treadmill adalah sebesar 0.06 Kkal/menit.

(33)

Beban kerja yang didapatkan pada aktivtias treadmill adalah sebesar 259.2 Kkal/jam. Jadi beban kerja pada aktivitas treadmill ini tergolong dalam kategori beban kerja moderat. Karena nilainya besar dari 200 Kkal/jam. Nilai dari beban kerja ini dipengaruhi oleh besarnya tingkat energy rata-rata aktivitas dan berat badan operator dan nilai-nilai tersebut memiliki hubungan linier antara satu sama lain.

5.3.3 Analisis Konsumsi Energi

Konsumsi energi yang dibutuhkan pada aktivitas treadmill mengalami peningkatan sebelum melakukan aktivitas dengan sesudah melakukan aktivitas yaitu sebesar 0.728 Kkal/menit. Semakin banyaknya kebutuhan untuk aktivitas otot bagi suatu jenis pekerjaan, maka semakin banyak pula energi yang dikonsumsi dan diekspresikan sebagai kalori kerja (Nurmianto, 1996). Konsumsi energi awal dari operator adalah sebesar 5.66 Kkal/menit, sedangkan konsumsi energi setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 6.3946 Kkal/menit. Hal ini menunjukkan bahwa ketika melakukan aktivtias tubuh membutuhkan energy yang lebih besar ketika melakukan pekerjaan yang lebih berat dari biasanya.

Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energy yang dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.

Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energy yang diperlukan untuk dikonsumsi (Widodo, 2008). Konsumsi oksigen operator sebelum melakukan aktivitas adalah sebesar 1.3332 liter/menit. Sementara konsumsi oksigennya setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 1.27892 liter/menit. Karena konsumsi oksigennya lebih dari 1 liter/menit dan kurang dari 1.5 liter/menit, maka dapat dikatakan bahwa kriteria dari beban kerja dari aktivitas treadmill ini tergolong sedang. Nilai dari konsumsi oksigen ini sangat dipengaruhi oleh denyut nadi/menit dan juga berat badan dari operator. Jadi semakin berat pekerjaan yang dilakukan oleh operator. Jadi semakin berat pekerjaan yang dilakukan oleh operator maka semakin besar oksigen yang dikonsumsi oleh operator. Karena untuk melakukan pekerjaan yang berat tubuh memerlukan kapasitas oksigen yang lebih besar dari biasanya.

(34)

5.3.4 Analisis Persentase CVL

Persentase CVL (Cardiovascular Load) digunakan untuk mengetahui klasifikasi dari pekerjaan yang dilakukan oleh operator. Apakah pekerjaan yang dilakukan diperlukan perbaikan untuk kedepannya atau hanya boleh dilakukan dalam waktu singkat, tergantung dari persentase CVL yang didapatkan.

Persentase CVL yang didapatkan pada aktivitas treadmill sebesar 12.29% . Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan operator tersebut tidak mengalami kelelahan, Karena nilai dari persentase CVL kurang dari 30%. Nilai dari persentase CVL ini sangat dipengaruhi denyut nadi dari operator yang melakukan aktivtias treadmill. Rentang waktu yang diperlukan untuk melakukan aktivitas treadmill juga sangat mempengaruhi nilai dari persentase ini. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas treadmill maka denyut nadi akan berdetak lebih kencang dari biasanya.

5.3.5 Analisis Temperatur Tubuh

Temperatur tubuh dari operator sebelum melakukan aktivitas sebesar 36.2°C. Sementara temperature setelah melakukan aktivitas adalah sebesar 37.5°C. Jadi terjadinya peningkatan temperature tubuh pada tubuh operator. Hal ini disebabkan oleh adanya pembakaran energy dalam tubuh ketika melakukan aktivitas yang lebih berat dari biasanya, sehingga menyebabkan peningkatan temperatur tubuh, maka aktivitas dari treadmill tergolong kepada aktivitas yang sangat ringan untuk dilakukan karena nilainya kurang dari 37.5°C

5.3.6 Analsis Waktu Istirahat

Pengaturan waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan, dan factor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising dan berdebu (Widodo, 2008). Waktu istirahat yang didapatkan berdasarkan pengolahan yang dilakukan selama 0 menit. Jadi ketika melakukan aktivitas treadmill selama 10 menit tidak membutuhkan waktu istirahat, karena konsumsi energi yang digunakan lebih kecil dairpada pengeluaran energi rata-rata.

Waktu istirahat sangat dipengaruhi oleh kosumsi energy yang digunakan oleh operator, semakin tinggi kosumsi energi yang digunakan oleh operator maka

(35)

semakin besar pula waktu istirahat yang dibutuhkan oleh operator yang melakukan suatu aktivitas

(36)

BAB 5 PENUTUP

Setelah dilakukan penelitian dan pengolahan data maka didapatkan beberapa kesimpulan dan saran yang akan dijelaskan seperti berikut :

6.1 Kesimpulan

Pada praktikum pengukuran beban kerja fisiologis yang telah dilakukan maka didapatkan beberapa kesimpulan, diantara lain :

1. Denyut nadi operator sebelum melakukan aktivitas material handling , sepeda statis dan treadmill lebih lambat dibandingkan dengan denyut nadi setelah melakukan aktivitas tersebut. Hal ini disebabkan karena pada saat setelah melakukan aktivitas aliran darah menjadi semakin cepat dan jantung pun bekerja lebih cepat, sehingga menyebabkan denyut nadi berdetak lebih cepat dari biasanya,

2. Beban kerja pada aktivitas material handling, sepeda statis dan Treamill tergolong dalam beban kerja ringan , karena nilainya tidak mencapai 200 Kkal/jam. Nilai dari beban kerja ini dipengaruhi oleh besarnya tingkat energy rata-rata aktivitas dan berat badan operator dan nilai-nilai tersebut memiliki hubungan linier antara satu sama lain.

3. Konsumsi energi awal dari operator material handling , sepeda statis dan treadmill lebih kecil dibandingkan demgan setelah melakukan aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa ketika melakukan aktivitas, tubuh membutuhkan energi lebih besar karena melakukan pekerjaan yang lebih berat dari biasanya.

4. Temperatur tubuh dari operator material handling , sepeda statis dan treadmill mengalami peningkatan setelah melakukan aktivitas. Hal ini disebabkan oleh adanya pembakaran energi dalam tubuh ketika melakukan aktivitas yang lebih berat dari biasanya, sehingga menyebabkan peningkatan temperatur tubuh.

5. Persentase CVL (Cardiovascular Load) yang didapatkan dari aktivitas material handling 8.78% , sepeda statis 46.31% dan treadmill 12.29%

(37)

yang ketiganya termasuk kriteria tidak terjadi kelelahan karena kurang dari 30%.

6. Ketika melakukan aktivitas material handling , sepeda statis dan treadmill selama 10 menit tidak membutuhkan waktu istirahat, karena konsumsi energi yang digunakan lebih kecil dari pada pengeluaran energi rata-rata.

6.2 Saran

Adapun saran yang diberikan kepada praktikan selanjutnya adalah sebagai berikut :

1. Praktikan yang menjadi operator aktivitas material handling , sepeda statis dan treadmill sebaiknya melakukan aktivitas olahraga yang baik.

2. Pengolahan data dapat dilakukan menggunakan software lain seperti Gnumeric, KSpread, dan StarOfficeCalc yang lebih memudahkan dan memiliki hasil yang cukup akurat.

Gambar

Gambar 1.6 Omron  d)  Garmin
Tabel 2.1 Klasifikasi Beban Kerja dan Reaksi Fisiologis
Tabel 3.1 Data Umum Operator Aktivitas Material Handling
Tabel 3.2 Data Denyut Nadi dan Temperatur Operator Material Handling
+7

Referensi

Dokumen terkait

Struktur tabel transaksi dari sistem transaksi harian NO NAMA KOLOM TYPE KETERANGAN 1 Id Int 10 2 Tgl_transaksi Date 3 Nama_transaksi Varchar 20 4 Kredit Int 10 5 Debet Int 10