BEBAN KERJA FISIK PENYARAD K A W
SISTEM KUDA-KUDA
(Studi di Hutan Alam HPH PT. Yos Raya Timber
-Riau)
Oleh
EVI SRIBUDMNI
IPK
99322
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BEBAN KERJA FISIK PENYARAD
KAYU
SISTEM KUDA-KUDA
(Studi di Hutan Alam HPH PT. Yos Raya Timber
-
Riau)
Oleh
EVI SRIBUDIANI
IPK
99322
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
MAGISTER SAINS
Pada
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
Evi Sribudia~li. Beball Kerja Fisik Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda (Studi di Hutan Alam HPH PT. Yos Raya Timber Riau). Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. H. Zahrial Coto, MSc, Dr. Ir. Seca Gandaseca MAgr dan Dr. Ir. Sam Herodian, MS.
J ~ e n e ~ i t i a n ini bertujuan untuk mengetahui kualifikasi beban kerja fisik penyarad kayu sistem kuda-kuda dengan parameter denyut jantung, mengevaluasi tiilgkat kelelahan penyarad kayu sistem kuda-kuda dan menentukan model persainaan penyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos Raya Timber. Subjek penelitian adalah tenaga penyarad kayu dJengan kualifikasi tidak mengalami cacat fisik dan tergolong dalarn usia uroduktif. Penelitian dilakukan selama dua bulan.
-
Sebeium penyarad meiakukan pekerjaannya, dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan subjek. Selanjutnya dilakukan kalibrasi energi dengan metode
step test.
J ~ a s i l penelitian menunjukkan penyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos Raya Timber selurululya berasal dari Kalimantan. Lingkungan kerja penyarad inerupakan hutatl rawa dengan sanitasi yang kurang baik. Jumlah subjek yang diteliti sebanyak 36 orang dengan umur rata-rata 25 tahun, tinggi badan rata-rata 158 cm dan berat badan rata-rata 56 kg. Diameter kayu yang disarad rata-rata 1.5 m3. dengan jarak sarad rata-rata 235 m.
Berdasarkan jumlah laju denyut jantung yang dihasilkan subjek, kegiatan
step test tergolong ringan hingga berat. Hasil pengukuran laju denyut jantung untuk tiap siklus menunjukkan pola yang relatif sama.
Kegiatan menarik kayu merupakan kegiatan yang menghasilkan denyut jantung tertinggi (46 - 58 kkallmnt) dan menaikkan kayu ke kuda-kuda (29 - 52
kkallmnt), mendorong kayu ke betau (40.5 - 50 kkallmnt).
Hasil analisis regresi terhadap variabel jarak sarad dan volume kayu secara bersatnaan menunjukkan bahwa kedua variabel berpengaruh nyata terhadap beban kerja subjek pada selailg kepercayaan 0.1% dan R' 94.9%.
Lama waktu istirahat subjek di lapangan 1 jam dengan total waktu kerja 7
jam. Waktu istirahat berdasarkan perhitungan adalah 230 inenit atau setara dengan 4 jam.
Dengan sistem pengolahan data, didapat model yang paling baik untuk penyarad kayu di PT. Yos Raya Timber adalah model linier dengan R~ sebesai 94.9% deilgan persamaan :
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis saya yang berjudul
"BEBAN K E R J A FISIK PENYARAD KAYU S I S T E M KUDA-KUDA (Studi d i
Hutan Alam H P H PT. Yos Raya Timber -Riau) "
adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan. Semua
sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat
diperiksa kebenarannya.
Bogor, Mei 2002
. Judul Tesis : BEBAN KERJA FISIK PENYARAD KAYU SISTEM KUDA- KUDA (Studi di Hutan Alaln HPH PT. YOS RAYA TIMBER -
RIAU)
Nalna Mahasiswa : Evi Sribudiani
Nomor Pokok : 99322
Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan
Menyetuj ui
prof Dr. Ir. H. Zahrial Coto, MSc
V
Anggota Anggota2. Ketua Program Studi
UCAPAN
TERIMA
KASIH
Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hornat,
penulis menyarnpaikan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr.
Ir.
H. Zahrial Coto, MSc, Bapak Dr. Ir. Seca Gandaseca, MAgrdan Bapak Dr. Ir. Sam Herodian, MS yang telah berjedia menjadi pembimbing
dan bermurah hati memberikan arahan dan bimbingan sejak awal penulisan tesis
hingga selesai.
2. Bapak Ir. Prapto dan
Ir.
Didik Prihananto selaku pimpinan perusahaan yang telahmengizinkan penulis melakukan penelitian di HPH PT. Yos Raya Timber.
3. Suami d m putra tercinta atas segala pengorbanan yang diberikan selama penulis
melanjutkan pendidikan.
4. Bapak Ir. H. Hamdani Adeli selaku Dekan Fakultas Kehutanan Universitas
Lancang Kuning atas izin nya.
5. Ayahanda dan Ibunda serta adik-adik atas segala dukungannya.
6 . Rekan-rekan sepejuangan, Kissinger, Nonon, Rian, d m yang tidak dapat
disebutkan satu persatu atas segala bantuan dan ke jasama nya selama di Bogor.
Semoga tesis ini bermankit.
Bogor, Mei 2002
RIWAYAT
HIDUP
Penulis merupakan putri pertama dari lima bersaudara yang dilahirkan di Selat
Panjang Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau pada tanggal 12 Febmari 1971 dari ayah
bemama Masrul dan Ibu Asnah.
Tahun 1978, penulis mengawali pendidikan formal di SDN 1 Selat Panjang
dan lulus pada tahun 1984. Penulis melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA dan
lulus masing-masing pada tahun 1987 dan 1990 di Selat Panjang.
Tahun 1990, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI
(Undangan Seleksi Masuk IPB) dan memilih Fakultas Kehutanan Jumsan Teknologi
Hasil Hutan pada tahun 1991. Bulan Januari 1995, penulis lulus dan meraih gelar
Sajana Kehutanan dengan judul skripsi "Studi Logpond di Sungai Siak (Studi di
HPH PT. Rimba Mutiara Permai dan PT. Raja Garuda Mas Panel Propinsi Riau)". Tahun 1995 tepatnya 18 April, penulis diterima bekerja di sebuah HPH di
Pekanbaru sebagai tenaga teknis di bidang Pembinaan Hutan.
Tahun 1996, penulis menikah dengan Ir. Emy Sadjati dan dikamniai seorang
putra bemama Muhammad Bagus Wicaksono pada tahun 1997.
Bulan Mei 1998, penulis diterima sebagai tenaga pengajar di Fakultas
Kehutanan Universitas Lancang Kuning, tepatnya di Jumsan Teknologi Hasil Hutan.
Bulan September 1999, penulis melanjutkan pendidikan di Pascasajana IPB
dengan P r o p Studi Umu Pengetahuan Kehutanan. Sebagai salah satu syamt untuk
meraih gelar Master, penulis membuat tesis dengan judul Beban Kerja Fisik
Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda (Studi di Hutan Alam HPH PT. Yos Raya
Timber, Riau) dibawah bimbingan Bapak Prof. Dr. Ir. H. Zahrial Coto, MSc, Dr.
Seca Gandaseca, MAgr dan Dr. Ir. Sam Herodian, MS.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan dan
kemudahan mulai dari penelitian sampai penyelesaian penulisan tesis ini dengan
judul "Beban K e j a Fisik Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda (Studi di Hutan Alam
HPH PT. Yos Raya Timber - Riau).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualifikasi beban k e j a fisik
penyarad kayu sistem kuda-kuda dengan parameter denyut jantung, mengevaluasi
tingkat kelelahan penyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos Raya Timber dan
menentukan model persamaan penyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos Raya
Timber. Penelitian ini disusun guna memenuhi salah satu tugas akhir pada Program
Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang
memerlukannya.
Bogor, Mei 2002
DAFTAR IS1
Halaman
I
.
PENDAHULUAN...
1A
.
Latar Beiakang.
.
...
1...
.
B Tujuan P e n e l ~ t ~ a n 3
...
C.Hipotesa 4
...
.
I1 TMJAUAN PUSTAKA 5
A
.
Penyaradan Kayu...
5B
.
Ergonomi...
7C
.
Tenaga Manusia...
8 D.
Faal Kerja...
13...
E
.
Kelelahan dan Periode Istirahat 14I11
.
METODE PENELITIM...
16. . ...
.
A Subjek Penelltlan
...
.
B Lokasi dan Waktu Penelitian
C
.
Alat dan Bahan...
:...
...
D . Pengumpulan Data
...
E
.
Prosedur PenelitianF
.
Perhitungan...
...
.
G Analisis Data
IV
.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN...
V
.
HASIL DAN PEMBAHASAN...
A
.
Kondisi Ke j a Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT.
Yos...
Raya Timber
B
.
Gambaran Ke j a Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT.
Yos Raya Timber
...
C.
Laju Denyut Jantung Step Test...
E
.
Evaluasi Kelelahan Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT...
Yos Raya Timber 37
F
.
Model Persamaan Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PTYos Raya Timber
...
40...
VI
.
KESIMPULAN DAN SARAN 41...
.
A Kesimpulan 41
B
.
Saran...
43DAFTAR TABEL
No. Keterangan
1. Hubungan Antara Tingkat Beban Kerja dengan Pengeluaran Energi
...
2. Indeks Kelelahan Kumulatif Subjek
...
DAFTAR GAMBAR
Keterangan Halaman
...
Alat Pengukur Laju Denyut Jantung 17
Pemasangan Alat Pengukur Laju Denyut Jantung
...
19...
Jalan Ongkak 28
Kegiatan Menaikkan Kayu ke Ongkak
...
29...
Kegiatan Menyarad Kayu 30
Pola Denyut Jantung Subjek C pada saat Step Tesf
...
32Pola Denyut Jantung Subjek C pada saat Menyard Kayu
...
34Pola Hubungan antara Jarak Sarad terhadap Energi pada Subjek C
..
35Pola Hubungan antara Volume Kayu dengan Energi pada Subjek C
.
36DAPTAR LAMPIRAN
No
.
Keterangan Halaman1
.
Indeks Kurnulatif Gejala Kepenatan...
452
.
Data Subjek dan persamaan Regresi Step Test...
483
.
Besaran Denyut Jantung Subjek...
49 4.
Contoh Perhitungan Energi pada saat Step Test...
50I.
PENDAHULUAN
A. L a t a r Belakang
Hutan merupakan faktor produksi yang penting, baik sebagai tempat
berusaha maupun sebagai sumber penghasilan masyarakat. K e j a hutan sulit
dipisahkan dari masalah perekonomian masyarakat. Oleh karena itu usaha ke arah
perbaikan hubungan antara manusia dan kerja hutan m e ~ p c i k a n kewajiban dari tiap
rimbawan.
Penyaradan merupakan salah satu mata rantai kegiatan logging mempunyai
peranan sangat penting, k a n a berawal dari kegiatan ini proses pengangkutan kayu
dimulai. Penyaradan (minor transportation) merupakan suatu proses memindahkan
kayu bulatllog yang dimulai pada saat kayu diikatkan pada rantai atau tali penyarad
di tempat tebangan, kemudian disarad ke tempat tujuannya (tempat pengumpulan
kayuITPnnanding, tepi sungai, tepi jalan re1 atau tepi jalan mobil) dan berakhir
setelah kayu dilepaskan dari rantailtali penyarad (Eiias, 1998).
- Terdapat beberapa sistem penyaradan, salah satunya adalah penyaradan
secara manual yang dilakukan dengan tenaga manusia yang dikenal dengan sistem
kuda-kuda. Penyaradan sistem ini umumnya dilakukan pada hutan rawa oleh 3
sampai 6 orang tergantung dari volume kayu yang akan disarad.
Penyaradan dengan sistem kuda-kuda terbukti memiliki kelemahan terutama
dari segi produktivitasnya. Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap
produktivitas penyaradan di hutan rawa dengan sistem kuda-kuda, memperlihatkan
penyaradan sistem kuda-kuda tersebut, timbul pemikiran bahwa produktivitas yang
dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kondisi penyarad karena penyaradan dengan
sistem ini sepenuhnya mengandalkan tenaga rnanusia.
Produktivitas k e j a berhubungan erat dengan kemampuan k e j a pekeja
(human factor). Dalam rangka meningkatkan produktivitas, perbaikan prestasi
k e j a pekeja merupakan salah satu syarat penting. Mc. Ardle (1991) menyatakan
bahwa prestasi k e j a berhubungan erat dengan pengeluaran energi atau kalori,
dimana selumh kalori ini hams dipenuhi oleh makanan sehari-hari. Nilai kalori
makanan memegang peranan penting dalam menentukan kekuatan fisik dan
efisiensi ke j a manusia.
Beban k e j a yang terlalu berat, yakni yang melebihi kapasitas kemarppuan
tubuh manusia akan dapat menimbulkan kelelahan yang dapat terakumulasi.
Kelelahan inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan seorang peke j a merasakan
sakit atau bahkan mengalami cedera. Kelelahan yang beriebihan dan rasa sakit
pada tubuh terutama di daerah sekitar punggung bawah atau pinggang dapat
dikatakan sebagai penyebab utama te jadinya cedera atau kecelakaan ke ja . Hal-ha1
seperti ini belum sepenuhnya diperhatikan oleh para peke ja.
Analisis statistik dari sakit pada tulang dan otot menunjukkan bahwa
kegiatan fisik tertentu lebih banyak mengakibatkan m a sakit secara anatomik
dibandingkan kemungkinan terjadinya penyakit. Oleh k m n a itu, untuk mencegah
terjadinya ha1 tersebut dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan
mengidentifikasi beban ke j a yang dialami oleh pekerja sehingga diketahui energi
yang dikeluarkannya.
Kegiatan evaluasi tersebut antara lain dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi beban k e j a melalui analisis energi, yaitu dengan mengukur
banyaknya denyut jantung pekeja ketika melakukan pekejaan, dan
mengkonversikannya ke dalam energi. Cara lain dapat juga melalui analisis
biomekanik dari tubuh pekeja tersebut. Kegiatan mengangkat, mendorong dan
menarik beban yang berat dalam berbagai postur telah dijadikan model biomekanik
untuk memperkirakan tenaga dan moment yang dihasilkan. Selanjutnya hasil
evaluasi tersebut dapat dibandingkan dengan ambang batas kegiatan yang
disarankan oleh National Institute for Occupational Safefy and Health (Chaffin dan
Anderson, 199 1).
Melalui pengukuran beban ke j a pada manusia yang merupakan salah satu
ha1 penting dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas kerja dan
lingkungan k e j a manusia itu sendiri, maka penelitian beban ke j a suatu aktivitas
dapat. dipandang sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan atau memperbaiki
kine j a yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui kualifikasi beban k e j a fisik penyarad kayu sistem kuda-kuda
dengan parameter denyut jantung.
3. Menentukan model persamaan penyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos
Raya Timber.
C. Hipotesa
1. Output energi penyarad kayu sistem kuda-kuda lebih besar daripada output
energi optimum yang diijinkan.
2. Volume kayu dan jarak sarad mempengaruhi beban k e j a penyarad kayu sistem
11.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penyaradan Kayu
Menurut Elias (1 988) penyaradan (minor transportation) adalah suatu proses
memindahkan kayu bulatllog yang dimulai pada saat kayu diikatkan pada rantai atau
tali penyarad di tempat tebangan kemudian disarad ke tempat tujuannya
(TPnJlanding, tepi sungai, tepi jalan re1 atau tepi jalan mobil) dan berakhir setelah
kayu dilepaskan dari mntai/tali penyamd. Cara-cara penyaradan yang dikenal
secam umum hiigga saat ini terdiri dari :
1. Pemikulan dan penarikan kayu oleh manusia
2. Penyaradan dengan bantuan daya penarik binatang (sapi, gajah, kuda atau
kerbau)
3. Penyamdan dengan gaya berat gmvitasi
4. Penyaradan dengan traktor
5. Penyamdan dengan kabel
6: Penyamdan dengan balon
7. Penyamdan dengan pesawat udam (helikopter).
Sistem kuda-kuda merupakan penyaradan dengan penarikan kayu bulat yang
menggunakan tenaga manusia. Kayu bulat yang akan disarad diletakkan di atas alat
yang terbuat dari kayu yang disebut kuda-kuda, sehingga disebut penyamdan
dengan sistem kuda-kuda. Penyamdan dengan sistem kuda-kuda di hutan mwa
Indonesia pada umumnya menggunakan short-woodsystem dan long-wood system.
penyaradan yang termasuk sistem manual yang hanya menggunakan tenaga otot
manusia untuk menarik kayu ke luar dari dalam hutan. Sehingga pekerjaan
penyaradan ini rnerupakan pekerjaan yang sangat berat. Pada umumnya hanya
orang-orang tertentu saja yang mampu menge rjakan peke rjaan tersebut dengan baik,
misalnya para penyarad kayu di hutan rawa yang berasal dari daerah Kalimantan
Barat (Elias, 1998).
Kagiatan penyaradan di hutan rawa tropika Indonesia terdiri dari tiga tahap,
yaitu : membuat betau, membuat jalan sarad dan menyarad kayu. Betau merupakan
tempat pengumpulan kayu yang telah disarad yang terletak dekat jalan re1 berukuran
15 x 3.5 meter. Betau terdiri dari susunan kayu bulat berdiameter 15-20 cm yang disusun rnelintang dan membujur menyempai anak tangga. Jumlah betau dalam 1
petak tebang (100 ha) sebanyak 8 - 12 buah tergantung potensi kayu. Kayu di betau
disusun rapi untuk memudahkan kegiatan pengukuran dan penomoran serta
pernuatan kayu ke atas Ion untuk pengangkutan jarak jauh dengan loko traksi.
Secara umum siklus k e j a penyaradan dengan sistem kuda-kuda terdiri dari
beberapa elemen kerja, yaitu berjalan menuju kayu yang akan disarad, memuat,
menyarad, membongkar dan menyusun atau menumpuk kayu di betau (Elias, 1998).
Letoumeau (1 975) menyatakan bahwa penyaradan di hutan rawa dilakukan
dengan alat yang disebut kuda-kuda. Kayu dimuat ke atas kuda-kuda kemudian di
dorong dan ditarik di atas jalan sarad yang terbuat dari cabang-cabang kayu
melintang terhadap arah penyaradan. Keuntungan penyaradan dengan sistem kuda-
- Padat karya sehingga banyak menyerap tenaga ke j a
- Biaya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan cara penyaradan lainnya
- lnvestasi awal rendah
-
Sederhana dan tidak memerlukan tenaga terlatih- Tidak peka terhadap perubahan cuaca
- Pengawasan minimal
Sedangkan kelemahan penyaradan dengan sistem kuda-kuda adalah :
- Tenaga kerja yang mau beke j a di hutan rawa sulit untuk didapat
-
Produktivitas rendah karena dilakukan secara manual-
Produktivitas tidak teratur karenadipengaruhi oleh kecenderungan peke j a untukberpindah-pindah.
- Kondisi tegakan tinggal yang rusak akibat penggunaan pohon dengan diameter
kecil untuk pembuatan jalan rel.
B. Ergonorni
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ergos yang berarti
ke j a dan nomos yang berarti aturan (Morgan, 1989). Menurut Staaf dan Wiksten
(1984) ergonomi adalah ilmu tentang cara k e j a dan cara pengukuran produktivitas
ke ja. Sedangkan menurut Suma'mur( 1967) ergonomi mempakan penerapan ilmu-
ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmu teknik dan teknologi
untuk mencapai penyesuaian satu sama lainnya secara optimal antara manusia dan
Ergonomi dapat membantu dalam mengatasi masalah-masalah yang berkaitan
dengan keseimbangan beban k e j a dan pengamh-pengamh yang timbul akibat
melakukan aktivitas k e j a tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin
keamanan dan kenyamanan k e j a yang berarti pula meningkatkan produktivitas
ke j a (Suma'mur, 1989).
Menurut Suma'mur (1989), tujuan yang hendak dicapai dengan ergonomi
meliputi empat hal, yaitu :
a. Efisiensi ke ja, merupakan usaha untuk menciptakan hubungan ke j a sedemikian
rupa sehingga tercapai keadaan tepat guna, yaitu diperoleh hasil k e j a yang
maksimal dengan tenaga seminimal mun&m.
b. Kesehatan k e j a , artinya hubungan tersebut dirancang untuk mencegah
kemungkinan te jadinya penyakit akibat ke ja.
c. Keseiamatan keja, mempakan perencanaan hubungan k e j a yang sedemikian
rupa sehingga terjamin suatu sistem pengamanan terhadap kemungkinan
te jadinya kecelakaan ke ja
d. Kenyamanan keja, merupakan usaha untuk menciptakan hubungan k e j a antara
manusia dengan lingkungan kejanya agar diperoleh kenyamanan bagi peke j a ,
termasuk di dalamnya terhindamya kelelahan.
C. Tenaga Manusia
Kemampuan maksimal seseorang dalam melakukan pekejaan tergantung
pada konsumsi makanan sehari-hari akan gizi, keadaan gizi dan fisik orang tersebut
Kebutuhan tenaga atau energi sehari yang diperlukan oleh seorang laki-laki
berumur antara 20 - 39 tahun adalah 2299.9 kalori per hari untuk melakukan pekerjaan ringan dan 2530.0 kalori per hari untuk melakukan pekejaan sedang.
Untuk laki-laki berumur antara 40 - 59 tahun, kebutuhan energi untuk melakukan
pekerjaan ringan dan sedang masing-masing adalah 2245.5 dan 2470.0 kalori per
hari (Singleton, 1972). Disamping jenis aktivitas, kebutuhan energi seseorang juga
dipengaruhi oleh umur, berat badan, iklim dan bentuk kegiatan yang berhubungan
dengan kebudayaan.
Pada dasamya pengeluaran energi seseorang dapat dibedakan dalam dua
segi, peitama pengeluaran tenaga total tubuh atau Iaju metabolisme, dan yang kedua
adalah pengeluaran tenaga mekanis. Tenaga mekanis ini bempa tenaga yang
dikeluarkan otot untuk melakukan k e j a fisik. Besamya kapasitas tenaga mekanis
yang dapat dikeluarkan seseorang dalam melakukan suatu aktivitas kerja tergantung
dari lamanya melakukan ke ja, usia, jenis kelamin dan ukuran tubuh. Semakin
berat suatu beban k e j a maka semakin tinggi energi yang dibutuhkan, akan
mengakibatkan pernapasan sem&in cepat dalam rangka memenuhi kebutuhan
oksigen yang semakin meningkat (Singleton, 1972) dan Pancel (1993)
menggolongkan tingkat pekejaan manusia berdasarkan kebutuhan tenaga dan
Tabel 1. Hubungan Antara Tingkat Beban Ke rja dengan Pengeluaran Energi
Sumber : American Industrial Hygiene Association
C.1. Pengukuran Tenaga Manusia
Laju metabolisme berhubungan langsung dengan besamya tenaga
yang dikeluarkan sehingga pengeluaran tenaga dapat dihitung dengan dasar
prinsip metabolisme. Pengukuran dapat dihitung berdasarkan parameter-
parameter yang menunjukkan laju metabolisme antara lain : konsumsi oksigen
pemafasan, jumlah COz pemafasan, denyut jantung, suhu tubuh dan kadang-
kadang dapat didekati dengan ritme pemafasan (Herodian, dkk, 199 1).
Menurut Passmore dan Robson (dalam Mc. Cormick, 1970) ada dua
rnetode pengukuran tenaga rnanusia, yaitu metode langsung dan tidak
langsung. Prinsip yang digunakan pada metode langsung berdasarkan atas
kesetaraan antara panas dengan energi (Prinsip Kalorimeter). Pada metode ini
pengukuran dilakukan di sebuah ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas
k e j a dan peralatan tertentu. Ruangan ini memungkinkan untuk mengukur
panas yang dikeluarkan rnanusia selarna penelitian. Panas yang dikeluarkan
diserap oleh air yang bersirkulasi dalam pipa-pipa di sekeliling ruangan
dengan cermat dan dikonversi menjadi energi yang dibutuhkan saat
melakukan kerja di dalam ruangan tersebut. Metode pengukuran langsung ini
umumnya hanya digunakan di laboratorium.
Metode tidak langsung digunakan untuk pengukuran berbagai
aktivitas di lapangan, dimana metode langsung tidak dapat digunakan. Dalam
ha1 ini energi yang dibutuhkan diduga dari jumlah konsumsi oksigen yang
dibutuhkan dalam melakukan kerja pada kondisi aerobik. Pengukuran dapat
dilakukan langsung dengan menghitung jumlah konsumsi oksigen untuk
sample pekerjaan selama beberapa waktu, yaitu dengan pengukuran 0 2 dan
C 0 2 hasil pernapasan, dengan pengukuran denyut jantung atau dengan
pengukuran suhu tubuh.
Mc. Cormick (1970) menyatakan bahwa beban kerja fisik yang
dilakukan seseorang dapat diukur berdasarkan tiga variabel, yaitu banyaknya
Oz yang dikonsumsi tubuh pada kondisi aerob, denyut jantung dan suhu
tubuh.
Cam termudah untuk melakukan pengukuran beban ke rja fisik adalah
melalui pengukuran denyut jantung. Dalam berbagai ke j a yang dilakukan,
denyut jantung meningkat sesuai dengan meningkatny:: beban ke rja (Astrand
dan Rodahl, 1971). Pengukuran denyut jantung cukup mudah dan tepat,
sehingga cocok untuk pengukuran kegiatan di lapangan (Hayashi, Moriizumi
dan Jin, 1977).
Peralatan yang digunakan pada metode tidak langsung adalah Heart
jantung menjadi oksigen dihitung dengan menggunakan rumus berikut
(Tarwotjo dkk, 1976) :
Y = -0.6510 + 0.0138 x
dimana : Y = laju konsumsi oksigen (literlmenit)
X = puisa denyut jantung yang temkur (pulsafrnenit)
Untuk mengkonversi dari oksigen ke energi (tenaga) adaiah dengan
mengalikan laju konsumsi oksigen dengan W a r konversi, dengan asumsi
nilai RQ berbandingan kadar C 0 2 dengan 0 2 sisa pemafasan) 0.76.
Sehingga faktor konversi yang dipakai adalah 4.75 kkallliter 02. Nilai RQ
yang dipakai 0.71 - 0.80 (berdasarkan campuran makanan yang dikonsumsi
rata-rata orang Indonesia).
Denyut jantung mempunyai korelasi yang tinggi dengan penggunaan
energi (konsumsi oksigen), tetapi denyut jantung tidak hanya dipengaruhi
oleh beban kerja fisik saja, melainkan dipengaruhi pula oleh beban kerja
mental. Karena ha1 ini, maka banyak peneliti menganggap bahwa
pengukuran denyut jantung bukanlah metode yang tepat untuk menentukan
beban kerja fisik. (Herodian, 1997). Hal ini menunjukkan bahwa untuk
mengetahui beban kerja dengan pengukuran denyut jantung membutuhkan
suatu kalibrasi.
Salah satu metode yang dapat dipergunakan untuk kalibrasi denyut
jant~mg adalah dengan mempergunakan metode step test. Step test memiliki
komponen pengukuran yang mudah, selalu tersedia di mana saja dan kapan
dari beban k e j a dengan mengubah tinggi ataupun intensitas langkah.
Menumt Hayashi, Morizumi dan Jin (1997), denyut jantung sebanding
dengan konsumsi oksigen. Beban k e j a dapat diketahui dengan
mengkalibrasi kurva antara denyut jantung dan beban ke j a yang ditetapkan
sebelum melakukan kerja Dengan demikian metode ini dapat menganalisa
ketidakstabilan denyut jantung seseorang.
Faktor-faktor individual seperti umur, jenis kelamin, berat badan dan
tinggi badan hams diperhatikan untuk menentukan karakteristik orang atau
individu yang diukur. Semakin banyak objek yang dianalisa akan semakin
baik hasil yang diperoleh. Setiap objek yang akan diukur denyut jantungnya
pada saat beke ja, hams dikalibrasi terlebih dahulu yaitu dengan cara menaiki
atau menuruni kotak kayu dengan frekwensi ulangan yang berbeda.
D. Faal Kerja
Faal k e j a merupakan bagian ilmu yang mempelajari anatomi atau mekanisme
ke j a tubuh manusia. Beke j a secara faal dapat diartikan sebagai suatu ke jasama
dalam koordinasi yang sebaik-baiknya dari alat indra, otak, dan susunan syaraf pusat
dan perifer serta otot. Selain itu jantung, paru-paru dan hati serta organ tubuh
lainnya juga tumt berperan pada saat tubuh melakukan kerja, sebab otot-otot yang
sedang bekerja memerlukan suplai makanan dan oksigen yang dihasilkan melalui
metabolisme tubuh (Suma'mur, 1976).
Makin berat kerja yang dilakukan oleh otot, semakin besar pula energi yang
pemafasan dapat digunakan sebagai indikator besarnya beban kerja yang dilakukan
oleh tubuh. Disamping itu, kecepatan denyut jantung dan peningkatan suhu tubuh
dapat juga dijadikan parameter tingkat beban kerja sebab jantung merupakan pompa
yang mengalirkan darah sebagai pembawa sari makanan, 0 2 dan CO2 pada proses
metabolisme (Suma'mur, 1976).
E. Kelelahan dan Periode Istirahat
Kelelahan adalah peristiwa penurunan efisiensi dan berkurangnya kekuatan
bertahan. Secara umum kelelahan dapat dibagai menjadi dua bagian, yaitu :
kelelahan psikologi dan kelelahan fisiologi (Singleton, 1972).
Kelelahan fisiologi berhubungan dengan kebutuhan energi otot dan
pembuangan sisa metabolisme. Kelelahan psikologi menyebabkan penurunan
kemampuan yang dicirikan oleh penurunan hasil ke ja, kecepatan k e j a dan adanya
peningkatan kesalahan. Terdapat beberapa tipe kelelahan bukan ototi (Sastrowinoto,
1985) :
a. Lelah disebabkan oleh ketegangan pada organ visual (lelah visual)
b. Lelah karena ketegangan fisik di semua organ (lelah fisik umum)
c. Lelah disebabkan oleh ke rja mental (lelah mental)
d. Lelah k a n a tegangan lewat satu sisi dari fungsi psikometer (lelah syaraf)
e. Lelah dikarenakan kerja yang monoton atau lingkungan yang menjemukan
Lamanya periode istirahat tergantung pada lamanya melakukan k e j a atau
tingkat laju metabolisme. Lamanya waktu istirahat 1 waktu pemulihan dihitung
dengan menggunakan mmus dari Mc. Cormick (1970) sebagai berikut :
T
x
( K -
S )R
=K -
1.5
dimana :
R = lamanya waktu istilahat (menit) T = lamanya melakukan ke rja (menit)
K = mta-rata pengeluaran tenaga tubuh (kkallmenit)
S = tetapan yang besamya 3, 4, 5 atau 6 (kkawmenit) biasanya dipakai 4 kkallmenit
Menurut Suma'mur (1967), lamanya waktu istirahat tergantung dari
lamanya melakukan k e j a dan waktu kerja (pagi, siang, sore) dan besarnya
beban keja. Pada beban k e j a yang berat, semakin sering waktu istirahat
dengan waktu yang singkat semakin baik dibandingkan dengan ke j a terus-
menerus dan istirahat dengan waktu yang panjang. Lamanya waktu istirahat
dapat dihitung dengan rumus :
dimana : tp = waktu istirahat (menit)
M = pengeluamn tenaga tubuh (kkallmenit) Tb = lama k e j a (menit)
Dengan rumus ini, pengeluaran tenaga sebesar 4.2 kkallmenit tidak
111.
METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah tenaga penyarad dengan kualifikasi tidak
mengalami cacat fisik dan tergolong usia produktif.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Alam PT. Yos Raya Tiniber yang
terletak di wilayah Cabang Dinas Kebutanan (CDK) Selat Panjang, Dinas
Kehutanan Propinsi Dati I Riau, tepatnya di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau. .
..
"
Waktu pelaksanaan penelitian di lapangan selama satu bulih.
. .
C. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini adalah :
-
Pita ukur untuk mengukur diameter sortimen kayu yang disarad-
Meteran untuk mengukur jarak sarad dan panjang sortirnen kayu yang disarad- Stop watch untuk mengukur waktu ke j a penyaradan
- Timbangan badan untuk mengukur berat badan objek
-
Metronome untuk menentukan ritme ke j a pada saat step test-
Heart Rate Monitor untuk mengukur laju denyut jantung- Bangku step test dengan ketinggian 30 cm
-
Time study sheet untuk mencatat aktivitas ke j a dan alat tulisGambar 1. Peralatan Step Test
D. Pengumputan Data
1. Jenis Data
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
a. Data primer ; data yang diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran
langsung di lapangan, meliputi :
- Berat dan tinggi serta umur pekerja penyarad
-
Gerakan dasar pekerja serta frekwensinya pada saat peke j a melakukankegiatan
- Ukuran diameter dan panjang sortimen kayu yang disarad untuk
mengetahui volume kayu yang disarad
- Waktu ke j a penyamdan
-
Banyaknya denyut jantung yang tercatat pada HRM-
Menu dan pola makan sertafood habit penyaradb. Data sekunder ; meliputi keadaan umum lokasi penelitian dan d a h tarif
upah.
Selain itu dilakukan pula pengisian kuisioner oleh pekeja dengan jumlah
tertentu mengenai berbagai macam kondisi peke j a dan peke jaannya..
E. Prosedur Penelitian
Tahapan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Pengukuran bemt d m tinggi badan subjek.
b. Sebelum pekeja melakukan kegiatannya, terlebih dahulu dilakukan
kalibrasi energi yang dihasilkan dengan metode step test dengan cara setiap
pekerja melakukan naik turun bangku dengan ketinggian 3 0 cm dengan
frekwensi 20,25,30,35 dan 40 siklus per menit dimana satu siklus adalah
sekali naik dan sekali turun bangku. Pengukumn laju denyut jantung
dilakukan dengan memasang heart rate monitor pada subjek. Transmitter
dipasangkan di dada subjek sedangkan resceiver nya dipasangkan di
pergelangan tangan. Adapun pemasangan alat dapat dilihat pada gambar 2.
Data denyut jantung subjek akan tersimpan pada resceiver, sedangkan
waktu dan aktivitas pekerjaan dicatat pada time study sheet. P enykuran
laju denyut jantung pada saat step test dilakukan tiap 3 menit dengan
Gambar 2. Pemasangan Alat Pengukur Laju Denyut Jantung
- pada Subjek
c.
:
Pengukuran denyut jantung operator pada saat melakukan pekejaan, dimana sebelumnya operator melakukan istirahat duduk seiama 10 menit.Waktu dan aktivitas pekerjaan dicatat pada fitne study sheet.
d. Pengukuran diameter dan panjang kayu
e. Pengukuran jarak sarad
f. Penggunaan energi diperoleh dengan mencatat semua aktivitas yang
dilakukan penyarad. Kalori yang diperoleh dari seluruh kegiatan tersebut
kemudian dijumlahkan.
g. Sistem pengumpulan data mengenai konsumsi dan kegiatan penyarad
dicatat menu, macam dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi.
Demikian pula dengan macam dan kegiatan penyarad.
h. Data mengenai jenis pekerjaan dan jam k e j a diperoleh dari pihak
perusahaan, disarnping mengamati dan menanyakan langsung kepada yang
bersangkutan. Sebagai data penunjang ditanyakan pula kebiasaan makan
'tfood habir" dan pantangan terhadap makanan.
F. Perhitungan
a. Untuk menganalisa hubungan ant= denyut jantung dengan beban k e j a
fisik pada saat step test, dilakukan dengan menggunakan rumus energi
(Hirakawa dalam Gandaseca, 1998) sebagai berikut :
E g = 0 . 0 1 6 3 x W x N x H x 1 . 2
dimana : Eg = energi total yang dikeluarkan tubuh (kkal/kg/mnt) W = berat badan pekerja (kg)
N = jumlah step per menit
H = tinggi kotak kayu step test (m)
1.2 = energi yang dibutuhkan untuk metabolisme dasar (kkavmnt)
0.163 = konstanta
Hasil yang diperoleh dari rumus di atas kemudian dicari hubungannya
dengan denyut jantung hasil pengukuran step test sehingga diperoleh
peeamaan garis lineamya. Selanjutnya persamaan garis linear tersebut
memasukkan nilai pengukuran denyut jantung selama kerja ke persamaan
garis linear tersebut.
b. Perhitungan waktu istirahat dengan menggunakan rumus berikut (Ivlc. Cormick, 1970) :
T X
( K -
S )
R
=K -
1.5
dimana : R = lamanya waktu istirahat ( menit )
T = lamanya melakukan ke j a ( menit )
K = rata - rata pengeluaran tenaga tubuh ( kkal I menit )
S = tetapan yang besamya 4 kkal I menit.
G . Analisis Data
1. Besamya pengaruh tunggal hktor jarak sarad dan volume kayu terhadap beban
k e j a fisik dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi linear
sederhana dengan model persamaan sebagai berikut :
dimana : Y = beban ke j a fisik peke j a ( kkal I kg I mnt )
a = konstanta
b = koefisien regresi jamk sarad atau volume kayu yang disarad
2. Besarnya pengaruh bersama faktor jarak sarad dan volume kayu terhadap beban
ke j a fisik dapat diketahui dengan menggunakan analisis regresi linear berganda
dengan model persamaan sebagai berikut :
dimana : Y = beban fisik pekeja (klcal/kg/mnt)
p,
= konstantapl
= koefisien regresi jarad saradP2
= koefisien regresi volume kayu yang disaradX, = jarak sarad (m)
IV.
KEADAAN
UMUM
LOKASI PENELITIAN
Berdasarkan buku laporan Rencana Karya Tahunan Pengusahaan Hutan HPH
PT. Yos Raya Timbertahun 2000/2001 d m buku laporan Rencana Operasional TPTI
HPH PT. Yos Raya Timber tahun 1999/2000 dan datadata sekunder lainnya,
diperoleh gambaran umum HPH PT. Yos Raya Timber sebagai berikut :
1. Data Pokok Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. Yos Raya Timber
SK HPH Nomor : 243lKpts-IV1989
Tanggal : 24 Mei 1989
Status Permodalan : PMDN
Luas Areal HPH : 97.000 Ha
Kelompok Hutan : Sei Kutub d m Sei Serkap
Alamat Kantor : J1. Dr. SetiaBudhi No. 206 Pekanbaru
2. Letak Geografis
Areal HPH PT. Yos Raya Timber secara geografis terletak pada 102~00'
103~00' BT dan 0O000'
-
1'00' LU.3. Administrasi Pernerintahan
Secara administrasi areal HPH PT. Yos Raya Timber termasuk ke dalam wiiayah
Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Kampar dan
4. Administrasi Pemangkuan Hutan
Secara administrasi pemangkuan hutan areal HPH PT. Yos Raya Timber
termasuk ke dalam Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sungai Belat dan RPH
Kutub, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kutub, Cabang Dinas
Kehutanan (CDK) Selat Panjang, Dinas Kehutanan Propinsi Dati I Riau.
5. Luas Areal
Luas areal HPH PT. Yos Raya Timber sesuai dengan SK HPH Nomor 243IKpts-
IV1989 adalah 97.000 H a Bedasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan VGHK)
luasan tersebut terdiri atas Hutan Produksi seluas 92.846 Ha dan Hutan Lindung
seluas 4.154 Ha.
6. Keadaan Hutan
Areal HPH ini termasuk ke dalam tipe hutan rawa (Tropical Swamp Forest)
dengan jenis-jenis dominan adalah meranti (Shorea spp), ramin (Gonysfilus
bancanus kurz) dan suntai (Payena laceifolia H.J.L).
7. Topografi
Topografi areal HPH PT. Yos Raya Timber seluruhnya tediri dari lereng datar
dengan kemiringan lereng kurang dari 3 % atau termasuk ke dalam kemiringan
lereng 0 - 8 % (kelas lereng A). Kelompok fisiografi yang menyusun areal tersebut adalah fisiografi kubah gambut.
8. Gcologi dan Tanah
Endapan yang menyusun areal HPH PT. Yos Raya Timber dikenal sebagai
kelompok Aluvial Plaistosen. Adanya gambut di beberapa tempat dengan bentuk
Concentrated Surface Wash. Batuan induk yang menyusun areal HPH ini terdiri
dari liat, debu, pasir dan sisa-sisa tumbuhan.
9. Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Fergusson areal HF'H PT. Yos Raya
Timber termasuk ke dalam tipe iklim B dengan rasio jumlah rata-rata bulan
kering dan bulan basahnya (nilai Q) sebesar 22.0 1 %.
Curah hujan rata-rata per tahun 186 mm, rata-rata bulanan terbesar te jadi
pada Bulan Oktober yakni sebesar 225 mm dengan hari hujan 15 hari. Curah
hujan terkecil tejadi pada Bulan Agustus sebesar 96 mm dengan jumlah hari
hujan 8 hari. Periode bulan kering tejadi antara Bulan Juni hiigga Agustus
dengan curah hujan antara 96 - 109 mm. Suhu udara rata-rata bulanan 28.8 OC, sedangkan suhu udara maksimum rata-rata sebesar 30' C dan suhu minimum rata-
rata sebesar 27.8' C. Kelembaban relatif berkisar antara 85.1
-
89.0 % dengannilai rata-rata 87 %.
10. Hidrologi
Areal
HF'H
PT. Yos Raya Timber termasuk kedalam DAS Sungai Kampar.Terdapat dua Sub DAS yaitu Sub DAS Kutub dan Sub DAS Serkap. Kedua
sungai utama tersebut bermuara di Sungai Kampar. Muara Sungai Kutub berada
di bagian lebih ke hulu sedangkan muara Sungai Serkap berada di bagian hilir.
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Kerja Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT. Yos Raya Timber
Penyamd kayu sistem kuda-kuda di sini hampir sebagaian besar berasal
dari Kalimantan yang dikontrak perusahaan. Penyarad kayu terdiri dari 10 regu
dalam satu petak tebang yang dipirnpin oleh satu orang ketua kelompok yang
mengkoordinir 6 - 10 orang pekerja tiap regu.
Lingkungan kerja penyarad merupakan kawasan rawa yang memiliki
sanitasi kurang baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya nyamuk penyebar
malaria Penyakit malaria pemah diderita oleh hampir seluruh pekerja. Penyarad
kayu tinggal di barak-barak ke j a yang dibuat dari kayu-kayu kecil (diameter 5-8
cm) dengan atap terpal. Barak k e j a dibuat pada ketinggian
+
2 meter daripermukaan rawa dengan maksud untuk menghindari binatang buas.
Air juga menjadi kendala cukup besar pada lingkungan kerja penyarad
kayu. Air rawalgambut di sekitar lokasi penelitian benvama coklat kemerahan
menjadi konsumsi sehari-hari pekeja penyaradan. Air tersebut mengandung
unsur Fe (zat besi) yang tinggi sehingga tidak layak untuk diminum. Untuk
memasak makanan dilakukan di barak ke j a dengan membuat tungku sederhana.
Kondisi gizi buruk juga dihadapi penyarad kayu. Dari hasil pengamatan
penulis selama penelitian, pekeja kurang mengkonsumsi sayur-sayuran segar
sebagai sumber vitamin dan mineral, dan ikan segarllauk pauk sebagai sumber
protein yang diperlukan tubuh. Makanan yang dikonsumsi sebagian besar
L l
kalori tubuh dalam melakukan kerja. lkan segar hanya sekali-kali dikonsumsi,
itupun jika diperoleh pada saat memancing di sungai. Makanan tambahan jarang
dikonsumsi.
Untuk peke jaan di tempat ke rja yang bersuhu tinggi dan beban kerja yang
berat, hams diperhatikan kebutuhan air minum. Akibat adanya energi panas yang
dihasilkan dalam proses pembakaran (metabolisme), maka suhu tubuh akan
meningkat. Untuk menyesuaikan kondisi panas tersebut, tubuh mengimbanginya
dengan berkeringat. Oleh karena itu, semakin banyak minum akan membantu
memulihkan kondisi pekerja.
B. Gambaran Kerja Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT. Yos Raya Timber
Sistem penyaradan yang dilakukan di sini menggunakan tenaga manusia
seutuhnya. Kayu bulat diletakkan di atas alat yang terbuat dari kayu yang dikenal
dengan istilah ongkak. Sistem manual yang melibatkan sepenuhnya tenaga
manusia ini melibatkan 6-10 orang pekerja tiap regu. Panjang ongkak 3-4 m
dengan tebal kayu untuk ongkak 8-15 cm. Kayu yang digunakan merupakan
kayu dengan berat jenis tinggi yang diperoleh di sekitar lokasi penyaradan.
Jalur kegiatan penyaradan kayu menggunakan re1 dari potongan kayu-
kayu kecil yang diperoleh di sekitar lokasi pembuatan re1 yang dikenal dengan
istilah jalan ongkak. Kayu yang digunakan berdiameter 10-15 cm dan merupakan
jenis non komersial. Jumlah lapisan jalan ongkak disesuaikan dengan kondisi
28
bujuran dan jari-jari. Sedangkan bila tanahnya kering, jumlah lapisannya cukup
[image:117.602.107.470.190.437.2]dua yaitu bujuran dan jari-jari. Jarak antara jari-jari re1 berkisar antara 30-50 cm.
Gambar 3. Jalan Ongkak
Komponen dalam pembuatan jalan ongkak terdiri dari tiga rangkaian
kegiatan yaitu perintisan jalan yang akan dibuat, pencarian bahan landasan dan
pemasangan bahan. Sebelum pemasangan jari-jari rel, kulit kayu bagian atasnya
dikupas dahulu agar licin dan memudahkan pada saat menyarad kayu.
Jalan ongkak b e h n g s i sebagai jalan sarad terdiri dari dua macam, yaitu
jalan sarad utama yang terletak di tengah-tengah petak kerja dan jalan s a d
cabang yang posisinya tidak teratur tergantung posisi kayu yang akan disarad.
Lebar jalan sarad baik untuk jalan utama maupun jalan cabang adalah 4 meter
dengan panjang yang disesuaikan dengan ukuran petak ke j a . Rata-rata panjang
29
Penyamdan kayu dilakukan dengan bejalan ke tempat kayu yang akan
disarad. Regu penyarad berjalan menuju kayu yang akan disarad sarnbil menarik
kuda-kudalongkak yang dilakukan oleh dua orang pekeja. Selanjutnya
menaikkan kayu bulat ke atas kuda-kuda, kemudian kayu bulat diikat dengan tali
plastik yang telah dirangkai pada bagian tengah kuda-kuda. Panjang kayu yang
disarad mta-rata 8 meter. Sebelum kayu disarad, jari-jari re1 diberi sabun untuk
memperkecil gesekan antam kuda-kuda dengan jari-jari rel. Hal ini juga
dimaksudkan untuk memperlicin jalan ongkak agar mudah dilewati. Setelah kayu
diikat pada kuda-kuda, proses penarikan kayu bulat pun dimulai. Posisi peke rja
penarik kayu adalah 3-4 orang disarnping kin dan kanan kayu dengan satu orang
sebagai pengarah kayu dan sekaligus penarik kayu. Pekeja yang lain berada di
bagian belakang sebagai pendorong kayu. Selanjutnya kayu disarad sampai ke
betau (tempat pengumpulan kayu).
Gambar 5. Kegiatan Menyarad Kayu
Setelah kayu yang disarad sampai di betau, tali pada kayu dilepas, lalu
dilakukan pemasangan ender-ender 1 landasan antara kuda-kuda dan betau,
kemudian kayu didorong dengan locak ke atas betau. Prestasi ke j a tiap regu per
hari rata-rata 25-35 batang kayu dengan volume kayu antara 0.8 - 2 m3 per batang. Penyarad kayu diupah berdasarkan jumlah m3 kayu yang disarad dengan
upah sebesar Rp. 17.500,- per m3/regu. Sebagai pembanding, dari data sekunder
diperuleh keterangan bahwa upah menyarad kayu dengan traktor di hutan rawa
sebesar Rp. 8.500,- per m3/operator. Jenis kayu yang disarad adalah meranti
[image:119.611.122.475.129.425.2]Gambar 5. Kegiatan Menyarad Kayu
Setelah kayu yang disarad sampai di betau, tali pada kayu diepas, lalu
,
diakukan pemasangan ender-ender / landasan antara kuda-kuda dan betau, kemudian
kayu didorong dengan Iocak ke atas betau. Prestasi kerja tiap regu per hari rata-rata
25-3.5 batang kayu dengan volume kayu antara 0.8 - 2
m3
per batang. Penyaradkayu diupah berdasarkan jumlah m3 kayu yang disarad dengan upah sebesar
Rp. 17.500,- per m3/regu. Sebagai pembandiig, dari data sekunder diperoleh
keterangan bahwa upah menyarad kayu dengan traktor di hutan rawa sebesar
Rp. 8.500,- per m3/operator. Jenis kayu yang disarad adalah Meranti (Shorea spp)
[image:120.602.130.497.69.411.2]C. Laju Denyut Jantnng Pada Saat Step Test
Tabel besaran denyut jantung subjek (Step Test 30120, 30125, 30130,
30135, 30140 c d s i k l u s per menit) dapat dilihat pada lampiran 3. Nilai denyut
jantung yang tertera di tabel tersebut adalah nilai denyut jantung rata-rata yang
diambil pada menit kedua sesaat sebelum istirahat, misalnya step test dilakukan
selama 3 menit maka nilai denyut jantung yang diambil adalah rata-rata pada
menit kedua sampai ketiga. Berdasarkan jumlah denyut jantung yang dihasilkan,
kegiatan step test tergolong ringan hingga berat.
Hasil pengukuran denyut jantung untuk tiap-tiap siklus per menit pada
kegiatan slep test menunjukkan pola-pola denyut jantung yang relatif sama. Pola
denyut jantung subjek segera meningkat sesuai dengan semakin tingginya ritme
siklus pada saat step test. Sedangkan pada waktu istirahat 5 menit, terlihat denyut
jantungnya menurun tetapi tidak serendah pada saat pertama kali memulai step
test. Pe~ubahan mental subjek ketika melakukan step test berpengaruh terhadap
pengukuran denyut jantung yang dihasilkan, seperti suasana kurang santai saat
step test dilakukan, adanya gangguan terhadap konsenhasi subjek serta perasaan
kurang nyaman pada subjek karena menggunakan alat pengukur denyut jantung.
Faktor lain adalah tidak tepatnya frekuensi step test (dapat lebih banyak atau lebih
sedikit) yang dilakukan subjek dengan irama digital metronome, sehingga akan
1 6 11 16 21 26 31 36 41 46
Waktu (rnenit)
Gambar 6. Pola Denyut Jantung Subjek C pada saat Melakukan Step Test
D. Analisa Beban Kerja Fisik Penyarad Kayu Sistem Kuda-Knda di PT. Yos Raya Timber
Jumlah subjek penelitian yang dianalisa adalah 36 orang .penyarad
berbadan sehat, yang memiliki umur rata-rata 25 tahun dengan tinggi badan rata-
rata 158 cm dan berat badan rata-rata 56 kg. Diameter kayu yang disarad rata-rata
1.5 m3 dengan jarak sarad rata-rata 235 rn. Waktu keja penyaradan yang diukur
selama 6 jam, dimana 1 jam sebelumnya melakukan kegiatan step test, 4 jam
menyarad kayu dan 1 jam istirahat. Suhu udara berkisarantara 28
-
37 OC dengankeIembaban berkisar antara 85.1 - 89.0 %.
Denyut jantung yang tercatat pada saat menyarad kayu berkisar antara 11 8
s/d 209 denyut / menit, sedangkan denyut jantung pada waktu istirahat berkisar
[image:122.602.169.451.96.292.2]Energi yang dikeluarkan pada saat step test berkisar antara 11 sld 36
kkallmenit. Energi yang dikeluarkan pada saat menyarad kayu sebesar 26. s/d 58
kkallmenit. Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa tingkat beban kerja
penyamd kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos Raya Timber tergolong luar biasa
berat. Hal ini didasarkan pada penggolongan tingkat pekerjaan manusia
berdasarkan kebutuhan tenaga oleh Pancel (1993). Dari hasil pencatatan tally
sheet selama pengambilan data, terlihat bahwa kegiatan menarik kayu merupakan
kegiatan yang menghasilkan denyut jantung tertinggi sehingga mengeluarkan
tenaga tertinggi pula. Hal ini disebabkan posisi badan saat menarik kayu.
Selanjutnya kegiatan menaikkan kayu dengan locak ke kuda-kuda I ongkak menduduki posisi kedua, dilanjutkan dengan kegiatan mendorong kayu ke dan
dari betau yang menduduki posisi ketiga. Kegiatan laimya seperti bejalan
menuju dan dari betau ke tempat kayu yang akan disarad, menahan kayu,
melepaskan kayu dari kuda-kuda dan lain sebagainya, bagi sebagian penyarad
menunjukkan denyut jantung yang tinggi. Hal ini disebabkan karena kelelahan
akibat kegiatan menyarad sebelumnya.
Hasil pencatatan tally sheet juga memperlihatkan bahwa adanya
pembagian tugas dalam melaksanakan kegiatan penyaradan pada masing-masing
pekerja tiap regu. Penyarad yang berat badan dan tingginya lebih tinggi pada
umumnya diberi tugas menarik kayu. Selama pengambilan data terlihat bahwa
Gambar 7. Pola Denyut Jantung Subjek C pada saat Menyarad Kayu
Dari gambar 7 terlihat bahwa semakin lama bekeja, semakin tinggi laju
denyut jantung yang tercatat. Pengaruh waktu k e j a (pagi, siang) tidak terlihat
nyata di sini. Hal ini disebabkan suhu udara dan kelembaban yang tidak terlalu
bewariasi. Disamping itu disebabkan pula oleh kecilnya variasi jarak sarad dan
volume kayu yang disarad.
Hasil analisis regresi yang dilakukan terhadap variabel jarak sarad dan
volume kayu secara terpisah, memperlihatkan bahwa volume kayu
mempengaruhi beban kerja fisik secara sangat nyata pada tingkat kepercayaan
memperlihatkan pengaruh yang nyata pada selang.kepercayaan 0.01% dengan
koefisien determinasi sebesar 94.8%.
Regression Plot
BLi = -354.528 + 1.93091 JKS = 2.61381 RSq = 94.8 % RSq(adD = 94.7 %
195 200 205 210
JRK
[image:125.595.103.407.197.453.2]Regression
Plot
M=-rnssrs+zr.snava.
S = 10.02E4 R S4 ~ 2 6 . 1 % R-Sq(adi)=25.4%
1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 3.0 1.9 2.0 VOL
Gambar 9. Pola Hubungan antara Volume Kayu dengan Energi pada Subjek C
Pada gambar 9 terlihat pola yang kurang beraturan-dan menghasilkan
koefisien determinasi yang cukup kecil (26.1 %). Ini artinya hanya sekian persen
saja (26.1) faktor volume yang mampu diterangkan oleh model terhadap jumlah
energi yang dikeluarkan penyarad, sedangkan sisanya diterangkan oleh faktor
lain. Hal ini disebabkan tidak teraturnya volume kayu yang disarad. Disamping
itu disebabkan juga karena faktor kelelahan.
Hasil analisis regresi yang dilakukan terhadap variabel jarak sarad dan
volume kayu secara bersamaan, menunjukkan bahwa variabel volume kayu dan
jar& sarad sangat berpengaruh terhadap beban k e j a penyarad (energi yang
dikeluarkan) pada selang kepercayaan 0.1 % dengan nilai koefisien determinasi
[image:126.605.130.414.68.345.2]E. Evaluasi Tingkat Kelelahan Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT. Yos
Raya Timber
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu istirahat penyarad kayu
adalah 60 menit dengan total waktu kerja 7 jam. Istirahat dilakukan setelah
bekerja selama 4 jam. Lama waktu istirahat ini tidak mencukupi. Hal ini terlihat
dari pengamatan selama pengambilan data, dimana para penyarad sering
melakukan istirahat sendiri-sendiri pada saat jam bekerja dengan waktu yang
relatif singkat. Waktu istirahat digunakan untuk makan dan beristirahat.
Penyarad kembali ke barak kerja yang terletak sekitar 200 m dari lokasi
penyaradan. Total lama waktu istirahat seharusnya berdasarkan rumus Mc.
Cormick (1970) adalah sebesar 230 menit atau setara dengan 4 jam. Hal ini
berarti dibutuhkan waktu istirahat tiap 1 jam 20 menit ke rja dengan lama waktu
yang relatif singkat. Pada beban k e j a yang berat apalagi luar biasa berat,
semakin sering waktu istirahat dengan waktu yang singkat semakin baik
dibandingkan dengan k e j a terus menerus dan istirahat dengan waktu yang
panjang. Waktu istirahat ini dapat dibagi-bagi pada jam-jam tertentu dengan lama
tertentu. Berdasarkan tingkat beban ke rja yang ditimbulkan, penulis mencoba
membuat waktu istirahat selama 10 menit tiap 1 jam 20 menit setelah beke ja.
Hal ini didasari pada lamanya waktu istirahat setelah melakukan step test yang
dilakukan penyarad sebelum memulai peke jaannya, dimana di sini terlihat
penurunan laju denyut jantung yang cukup signifikan. Disamping itu, didasari
pula oleh jumlah denyut jantung yang dihasilkan, dimana terlihat bahwa denyut
Perbedaan waktu yang diketahui dari perubahan lingkungan yang relatif
dingin pada pagi hari dengan lingkungan pada siang hari, memperlihatkan
pengaruh yang tidak nyata terhadap kelelahan peke rja (Aspriansyah, 2002). Hal
ini disebabkan karena kondisi lingkungan kerja yang relatif sama dan beban
(volume kayu dan jarak sarad) yang relatiftidak berbeda antar waktu.
Berdasarkan pengelompokkan Gandaseca (1998), hasil dari pengisian
kuisioner oleh subjek menunjukkan bahwa prosentase subjek tertinggi (44.29%)
diperoleh pada grup NF6 dan terendah padaNF2-2 (28.98%) seperti terlihat pada
tabel 2 berikut.
Tabel 2. Indeks Kelelahan Kumulatif Subjek
Tabel 2 di atas memperlihatkan bahwa pekerja yang mengalami gejala
tenaga rnelernah (power reduction)/NFl sebesar 33.02% atau 1 1 orang, kelornpok
gejala perasaan urnum kelelahan (NF2-1) sebanyak 33.43% atau 12 pekerja,
gejala perasaan kelelahan fisik/NF2-2 (physical disorder) sebanyak 28.98% atau
10 peke rja, kondisi tidak menyenangkan pada badan (irritated situation) sebesar
29.80 % atau 10 pekerja, penurunan sernangat bekerja 1 tenaga akan melemah Grup Indeks Kelelahan Kurnulatif
NFl NF2-1 NF2-2 NF3 NF4 NF5-1 NF5-2 NF6
[image:128.599.110.504.350.519.2](NF4) sebesar 32.75% atau 11 pekeja dan perasaan mulai sakit (NF5-1) dialami
oleh 35.32% atau 12 pekerja. Kehilangan kontrol oleh tubuh (NF5-2) dan
kelelahan kronik (NF6) dialami oleh 33.97% atau 1 1 pekerja dan 44.29% atau 15
[image:129.595.140.443.246.492.2]pekerja. Untuk menggambarkan karakteristik pekeja secara keseluruhan pada
gambar 10 berikut.
Kelelahan Mental Kelelahan Fisik
[image:129.595.94.451.254.751.2]NF5
-
1 1 NF 6Gambar 10. Hasil Gejala Kelelahan Kumulatif yang diteliti
Keterangan NF1
NF2- 1
NF2-2 NF3 NF4 NF5-1 NF5-2 NF6
= gejala tenaga melemah (power reduction)
= gejala perasaan umum kelelahan
= gejala perasaan kelelahan fisik (physical disorder)
= gejala kelelahan pada badan
= gejala tenaga akan melemah
= gejala perasaan mulai sakit
= gejala kehilangan kontrol atas tubuh
Dan gambar 10 di atas terlihat bahwa kelelahan fisik lebih besar
dibandingkan dengan kelelahan mental walaupun keduanya tidak memperlihatkan
perbedaan yang signifikan. Namun kecenderungan yang tampak adalah ke arah
kanan yang menandakan kelelahan fisik.
F. Model Persamaan Penyarad Kayu Sistem Kuda-Kuda di PT. Yos Raya Timber
Setelah dilakukan pengolahan data, variabel-variabel yang diukur seperti
berat badan, tinggi badan, umur, volume kayu dan jar& sarad serta faktor waktu,
maka didapat model yang paling baik untuk penyarad kayu sistem kuda-kuda di
PT. Yos Raya Timber adalah model linier
(RZ
= 94.9 %) dengan persamaan :Energi (kkallmenit) =
-
356-+ 0.01 volume (m3)+'
1.91 jar& (m)Ini berarti ketepatan model untuk menyatakan hubungan variabel-variabel yang
ada sangat tepat. Semakin tinggi volume kayu dan semakin jauh jar& sarad,
semakin besar energi yang dikeluarkan oleh pekeja dalam menyarad kayu.
Model yang diperoleh ini didasarkan pada asumsi bahwa variasi lingkungan ke j a
tidak beragam (perbedaan suhu dan kelembaban udara kecil), karakteristik
manusia atau pekeja relatif sama (dalam ha1 ini berasal dari satu daerah yakni
VI.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Jumlah subjek yang diteliti adalah 36 orang penyarad berbadan sehat, yang
memiliki umur rata-rata 25 tahun dengan tinggi badan rata-rata 158 cm dan berat
badan rata-rata 56 kg. Diameter kayu yang disarad rata-rata 1.5 m3 dengan jarak
sarad rata-rata 235 m. Jenis Kayu yang disarad adalah meranti (Shorea spp) dan
suntai (Payena lacefolia HJ.L). Waktu k e j a penyaradan yang diukur selama 6
jam, dimana 1 jam sebelumnya melakukan kegiatan step test, 4 jam menyarad
kayu dan 1 jam istirahat makan. Suhu udara berkisar antara 28 - 31 OC dengan kelembaban antara 85.1 - 89.6 %.
2. Laju denyut jantung subjek yang tercatat pada saat menyarad kayu antara 118 -
209 denyut 1 menit, sedangkan pada saat jam istirahat makan antara 78 - 120
denyut I menit. Energi yang dikeluarkan pada saat step test berkisar antara 11 -
36 kkallmenit, pada saat menyarad kayu sebesar 26 - 58 kkallmenit. Dari hasil ini terlihat bahwa tingkat beban ke japenyarad kayu sistem kuda-kuda di PT. Yos
Raya Timber tergolong luar biasa berat. Hal ini didasarkan pada penggolongan
tingkat pekerjaan manusia berdasarkan kebutuhan tenaga oleh Pancel(1993).
3. Dari hasil pencatatan taNy sheet selama pengambilan data pada subjek, terlihat
bahwa kegiatan menarik kayu merupakan kegiatan yang menghasilkan denyut
jantung tertinggi ( 4 6 - 58 kkal I menit ), dilanjutkan de