PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Tidak hanya menjadikan kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswanya, UNY juga membangun Lab Kewirausahaan (KWU LAB). Lab kewirausahaan atau sering disebut LAB KWU sudah menaungi UMKM yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, kajian efisiensi penggunaan input atau faktor produksi pada usaha mahasiswa UMKM ritel di Lab Kewirausahaan UNY menjadi sangat penting.
Bahkan saat ini sebenarnya banyak ruang yang ditawarkan kepada masyarakat luas untuk menempati booth kosong di Lab Kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi yang digunakan oleh UMKM di Laboratorium Kewirausahaan UNY. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian “Efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi pada UMKM ritel mahasiswa di Laboratorium Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta”.
Identifikasi Masalah
Sedangkan 1 (satu) UMKM ritel produksi mahasiswa (makanan) yang dinyatakan tidak efisien adalah Chiksu Jogja. Artinya, jumlah UMKM ritel mahasiswa (makanan) yang mencapai efisiensi lebih besar dibandingkan dengan jumlah UMKM ritel mahasiswa produksi (makanan) yang belum efisien. Jika dilihat pada UMKM ritel klaster mahasiswa produksi (non pangan), 1 responden (17%) sudah mencapai efisiensi dan 5 responden (83%) belum efisien.
Jika dilihat pada klaster UMKM ritel mahasiswa manufaktur (makanan), 1 responden (33%) sudah mencapai efisiensi dan 2 responden (67%) belum efisien. Pada klaster UMKM ritel mahasiswa manufaktur (makanan), terdapat dua UMKM ritel mahasiswa (67%) yang efisien yaitu Choco Boom dan Wakinem Milk and Bar, serta terdapat satu UMKM ritel mahasiswa (33%) yang belum efisien. efektif yaitu Chiksu Jogja. Judul: Efisiensi Finansial Menggunakan Faktor Produksi pada UMKM Ritel Mahasiswa di Laboratorium Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta.
Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat efisiensi ekonomi penggunaan input atau faktor produksi dalam menghasilkan output UMKM ritel mahasiswa di Laboratorium Kewirausahaan UNY.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini akan menjadi masukan dalam upaya pengembangan Laboratorium Kewirausahaan UNY kedepannya untuk mewujudkan fungsi laboratorium sebagai sarana pembentukan kompetensi lulusan dan sebagai revenue generator bagi UNY. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmunya selama belajar. Selain itu penelitian ini bermanfaat untuk memperluas ilmu pengetahuan dan pengetahuan baru guna mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
LANDASAN TEORI
Kajian Teori
- UMKM
- Ritel
- Produksi
- Efisiensi
- Laboratorium Kewirausahaan UNY
Faktor produksi variabel adalah faktor-faktor produksi yang kuantitasnya dapat berubah dalam jangka waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan jumlah output yang dihasilkan Ari Sudarman (1984:225). Faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan harus diperhatikan apabila proses produksi dalam jumlah yang cukup, Soekartawi (2003:25). Dari penjelasan di atas terlihat bahwa produksi suatu barang memerlukan faktor produksi.
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis apabila faktor produksi yang digunakan menghasilkan output yang maksimal. Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis apabila faktor produksi yang digunakan menghasilkan output yang maksimal. Mahasiswa UMKM ritel di Laboratorium Kewirausahaan UNY, efisiensi teknis dipengaruhi oleh jumlah faktor produksi yang digunakan.
Penelitian yang Relevan
Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap pemilik UMKM retail mahasiswa UNY di Laboratorium Kewirausahaan. Dalam penyusunan penelitian ini, peneliti menggunakan objek penelitian berupa UMKM ritel mahasiswa yang berlokasi di Laboratorium Kewirausahaan UNY. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa pengelola ritel UMKM di Laboratorium Kewirausahaan mayoritas adalah laki-laki.
Mahasiswa pengelola UKM retail di Laboratorium Kewirausahaan sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan SMA/SMK masing-masing sebesar 50%. Rata-rata omzet yang diperoleh mahasiswa UMKM ritel pada kelompok manufaktur (makanan) juga lebih tinggi karena setiap harinya UMKM tersebut menjual barangnya lebih cepat dibandingkan URMP (NM) dan URMR. Efisiensi ekonomi pada UMKM ritel mahasiswa Lab Kewirausahaan UNY diukur menggunakan Data Driven Analysis (DEA).
Skor Efisiensi UMKM Ritel Pelajar Produksi (Non Pangan) Menggunakan data analisis envelope tahun 2017 dengan asumsi CRS. Skor Efisiensi UMKM Ritel Mahasiswa Produksi (Makanan) Menggunakan Analisis Data Envelopment Tahun 2017 dengan Asumsi CRS. Jika dilihat pada klaster UMKM ritel, reseller mahasiswa sebanyak 4 responden (57%) sudah efektif dan yang belum efektif hanya 3 responden (43%).
Kerangka Berpikir
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis Data
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Definisi Operasional
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hal ini menunjukkan bahwa seluruh mahasiswa manajemen UMKM ritel di Lab Kewirausahaan berada pada kelompok usia produktif. Untuk jenjang pendidikan D3/S1 sebesar 37%, dan jumlah mahasiswa eksekutif UMKM di Laboratorium Kewirausahaan minimal mahasiswa magister yaitu 13%. Lab Kewirausahaan menyediakan ruang bagi mahasiswa UMKM ritel berupa ruang pengelolaan usaha dan koridor.
Dari tabel di atas terlihat 12 (dua belas) orang mahasiswa tenant retail UMKM menempati ruangan arah usahanya dan 4 (empat) orang tenant menempati koridor arah usahanya. Untuk UMKM mahasiswa ritel kelompok produksi non pangan dan pangan digunakan seluruh variabel input kecuali modal saat ini. Dari tabel 8 terlihat bahwa rata-rata variabel yang digunakan oleh 6 UKM mahasiswa ritel kelompok produksi (non makanan) adalah ruang;
Dari data di atas, UMKM mahasiswa ritel pada kelompok manufaktur (makanan) memperoleh rata-rata per peralatan tertinggi. Sementara itu, terdapat 5 (empat) UMKM mahasiswa ritel pada kelompok manufaktur (non pangan) yang belum dinyatakan efisien yaitu Indoboot, F-Style, Fee Gallery, Ashya Look dan Rain Bowl Store. Jika persentase UMKM mahasiswa ritel pada kelompok manufaktur (non pangan) sudah efisien sebesar 17% dan belum efisien sebesar 83%.
Artinya, jumlah perusahaan UKM ritel mahasiswa klaster produksi (non pangan) yang belum mencapai efisiensi lebih besar dibandingkan jumlah perusahaan UKM ritel mahasiswa klaster produksi yang mencapai efisiensi. Jika persentase mahasiswa retail yang memproduksi (makanan) 67% efisien dan 33% belum efisien. Terdapat tiga (tiga) UMKM retail reseller mahasiswa yang dinyatakan tidak efisien yaitu Al Jemari, Rest Store dan Guru Batik.
Persentase UMKM retail reseller mahasiswa yang efisien sebesar 57% dan yang belum efisien sebesar 43%.
Pembahasan
Namun jika Indoboot tidak ingin mengubah nilai asli dari variabel input yang digunakan, maka Indoboot harus meningkatkan omzet sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp agar dapat mencapai efisiensi. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) yang sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 6.133.333. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) yang sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 7.666.667.
Namun jika Ashya Look tidak ingin mengubah nilai asli variabel input yang digunakan, Ashya Look harus meningkatkan penjualan sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp untuk mencapai efisiensi. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 5.833.333. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 75.157.333.
Namun apabila Chiksu Jogja tidak ingin mengubah nilai asli dari variabel input yang digunakan, maka Chiksu Jogja sebaiknya meningkatkan omzet sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp agar dapat mencapai efisiensi. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) yang sama dengan nilai aslinya, seharusnya mampu menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 11.500.000. Namun jika Al Jemari tidak ingin mengubah nilai asli variabel input yang digunakan, maka Al Jemari harus meningkatkan omzet sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp agar dapat mencapai efisiensi.
Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 14.091.333. Namun apabila Toko Peristirahatan tidak ingin mengubah nilai asli dari variabel input yang digunakan, maka Toko Peristirahatan harus meningkatkan pendapatannya sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp untuk mencapai efisiensi. Karena dengan menggunakan faktor produksi (input) sama dengan nilai aslinya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih tinggi dari Rp 35.205.333.
Namun jika guru Membatik tidak ingin mengubah nilai asli variabel input yang digunakan, maka guru Membatik harus meningkatkan penjualan sebesar nilai proyeksi yang dihasilkan yaitu Rp untuk mencapai efisiensi.
Keterbatasan Penelitian
Selain faktor modal, promosi, tenaga kerja dan waktu, lokasi juga menjadi faktor penghambat yang dirasakan responden. Pada klaster UMKM ritel mahasiswa produksi (non pangan), terdapat satu UMKM ritel mahasiswa (17%) yang efisien yaitu Kom nou Jimmy dan lima UMKM ritel mahasiswa (83%) yang belum efisien yaitu Indoboot, F -Gaya, Galeri Biaya, Tampilan Ashya, dan Toko Rain Bowl. Pada klaster UMKM ritel mahasiswa reseller terdapat empat UMKM ritel mahasiswa (57%) yang efisien yaitu EB Craft, UNY Sport Shop, Rafanda Hijab dan Finida Store & CF Beauty dan terdapat tiga UMKM ritel mahasiswa (43%) yang yang belum efektif yaitu Al Jemari, Rest Store dan Batik Guru.
Untuk UMKM ritel mahasiswa produksi (non pangan) yang belum efisien bisa mengacu pada UMKM ritel mahasiswa produksi (makanan) yang sudah efisien yaitu Ayo Jimmy dengan skor lambda yaitu untuk Indoboot sebesar 0,800000, Galeri Biaya F-Style Ashya Look;. Untuk UMKM produksi pelajar ritel (makanan) yang belum efisien dapat mengacu pada UMKM produksi pelajar ritel (makanan) yang sudah efisien yaitu Choco Boom dan Wakinem Milk and Bar untuk skor lambda yaitu untuk Chiksu Jogja dapat merujuk ke Choco Boom di 0.936491 atau Anda bisa merujuk ke Wakinem Milk and Bar dari 0.591130. Bagi UMKM retail reseller mahasiswa yang belum efisien bisa mengacu pada UMKM retail reseller mahasiswa yang sudah efisien pada skor lambda yaitu untuk Al Jemari yang mengacu pada EB Craf UNY Sport Shop Finida Store & CF Beauty; 0,156098.
Untuk menambah permodalan UMKM ritel mahasiswa Laboratorium Kewirausahaan dalam mengembangkan produknya, UNY dapat memberikan pinjaman kepada mahasiswa dengan syarat harus dikembalikan seluruhnya sebelum menyelesaikan studi di UNY. Bagi pekerja, hal ini dapat dilakukan dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan antara pemilik usaha dan pekerja. Untuk mengatasi kendala lokasi toko yang kurang strategis, Anda dapat mengubah rute eskalator dan membuatnya melingkar sehingga konsumen akan berjalan mengelilingi setiap lantai untuk menuju eskalator lainnya.
1 Nilai peralatan yang memperlancar proses bisnis diukur dengan menjumlahkan seluruh nilai peralatan yang digunakan dalam satuan rupiah. 1 Kendala apa saja yang anda alami dalam berwirausaha di Laboratorium Kewirausahaan UNY? dapat memilih lebih dari satu).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Efisiensi penggunaan faktor produksi pada industri mebel menengah, kecil dan rumah tangga di Kabupaten Blora. Analisis Efisiensi Usaha Kecil Menengah (UKM) Batik di Kelurahan Kauman Kota Pekalongan Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA). Bapak/Ibu yang terhormat, Kami mohon untuk memberikan evaluasi terhadap instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini.
Bapak/Ibu yang terhormat, Kami mohon untuk memberikan evaluasi terhadap instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini.