190
Pengaruh Tata Kelola Perusahaan, Modal Intelektual dan Pengungkapan Laporan Keberlanjutan terhadap Nilai
Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi (Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di LQ 45
Periode 2014-2017)
JE-Vol.27-No.2-2019-pp.190-204
Nurrahma Dewi1,2*, Kamaliah2, Alfiati Silfi2
1 STEI Iqra Annisa, Pekanbaru, Riau, Indonesia
2 Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia
*Email: [email protected]
ABSTRACT
This purpose of this research is to test the influence of corporate governance which proxied by institutional ownership, audit commitee and independent commissioner board, intellectual capital and sustainability report disclosure on firm value with financial performance as mediating variable. The population are 45 companies listed on LQ 45 index during 2014-2017. The sampling method is purposive samping, so that obtained about 18 companies a sample. This research uses secondary data obtained in the form of annual reports and sustainability reports. Data analysis technique in this research uses path analysis with SPSS IBM 25.The result of hypothesis testing found that institutional ownership and sustainability report have an effect on firm value, while audit commitee, independent commissioner and intellectual capital have no effect on firm value. Financial performance ia able to mediate audit commitee, independent commissioner, intellectual capital and sustainability report on firm value. Meanwhile, financial performance is unable to mediate institutional ownership and firm value. The results of this research found that corporate governance which proxied by institutional ownership, audit commitee and independent commissioner board, intellectual capital and sustainability report disclosure effect on firm value about 54,5%. While the remaining are influenced by other variables.
Keywords: Institutional Ownership, Audit Commitee, Independent Commissioner Board, Intellectual Capital, Sustainability Report Disclosure
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh tata kelola perusahaan yang diproksi dengan kepemilikan institusional, komite audit dan dewan komisaris independen, modal intelektual dan pengungkapan laporan keberlanjutan pada nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi. Populasi adalah 45 perusahaan yang terdaftar pada indeks LQ 45 selama 2014-2017. Metode pengambilan sampel adalah purposive samping, sehingga diperoleh sekitar 18 perusahaan sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dalam bentuk laporan tahunan dan laporan keberlanjutan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur dengan SPSS IBM 25. Hasil pengujian hipotesis menemukan bahwa kepemilikan institusional dan laporan keberlanjutan berpengaruh pada nilai perusahaan, sedangkan komite audit, komisaris independen dan modal intelektual tidak berpengaruh pada nilai perusahaan. Kinerja keuangan ia mampu memediasi komite audit, komisaris independen, modal intelektual dan laporan keberlanjutan nilai perusahaan.
Sementara itu, kinerja keuangan tidak dapat memediasi kepemilikan institusional dan nilai perusahaan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa tata kelola perusahaan yang diproksi dengan kepemilikan institusional, komite audit dan dewan komisaris independen, modal intelektual dan pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan sekitar 54,5%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Kata kunci: Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Dewan Komisaris Independen, Modal Intelektual, Pengungkapan Laporan Keberlanjutan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau
http://je.ejournal.unri.ac.id/
p-ISSN 0853-7593 e-ISSN 2715-6877 Juni 2019 Volume 27 Nomor 2
191
1. PENDAHULUAN
Pada era modern, banyak perusahaan yang bersaing ketat demi memajukan serta meningkatkan perusahaannya dengan berbagai strategi andalan mereka. Saat ini prioritas perusahaan tidak hanya laba semata. Salah satu hal yang hendak dicapai oleh perusahaan selain laba berupa peningkatan nilai perusahaan. Hal ini juga tercermin dari theory of the firm yang menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm) (Salvatore, 2011). Peningkatan nilai perusahaan merupakan sebuah prestasi yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya. Nilai perusahaan yang tinggi akan meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham (Yuniarti, 2015). Perusahaan yang mengutamakan kesejahteraan dan kemakmuran para pemegang sahamnya akan senantiasa berusaha meningkatkan kinerja keuangannya sehingga mampu memaksimalkan harga sahamnya.
Akhir-akhir ini, bursa saham di wilayah Asia kembali mengalami tekanan turun. Salah satu penyebab terjadinya hal ini dikarenakan krisis politik di Italia yang berpengaruh negatif pada pasar investasi. Akibatnya, nilai tukar Euro mengalami penurunan mencapai level terendah dalam 10 bulan.
Selain itu, indeks MSCI Asia-Pacific yang menjadi acuan bursa saham Asia di luar Jepang menunjukkan penurunan sebesar 15%. Fenomena penurunan ini merupakan kelanjutan penurunan besar pada Wall Street, Amerika Serikat pada bulan Mei 2018 (www.strategydesk.co.id, 2018). Dampak nyata yang terjadi di Indonesia berupa tren harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di LQ 45 bergerak dibawah harga rata-rata (moving average) selama 200 hari terakhir (MA200) dan mengalami bergolakan.
Berdasarkan data yang dikutip dari investasikontan.co.id, pada bulan Mei tahun 2018, jumlah saham LQ45 yang berada di bawah garis MA200 menjadi 31 saham. Hal ini berarti, tinggal 68,8% saham anggota LQ45 yang masih berada di bawah garis MA200.
Peningkatan nilai perusahaan semestinya melandasi segala bentuk keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan. Hal ini berkaitan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik oleh perusahaan. Salah satu mekanisme yang berpengaruh berupa kepemilikan institusional, komite audit dan komisaris independen. Pihak institusi memantau secara profesional perkembangan investasi sehingga tingkat pengendalian yang dilakukan terhadap tindakan manajemen akan mengurangi potensi kecurangan. Hal ini akan mampu meningkatkan nilai perusahaan. Selanjutnya, komite audit bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Jika kualitas dan karakteristik komite audit tercapai, maka transparansi pertanggungjawaban manajemen perusahaan dapat dipercaya, sehingga akan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap perusahaan.
Sementara itu, komisaris independen memiliki tanggung jawab pokok untuk mendorong diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik dalam perusahaan melalui pemberdayaan, pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Intensitas persaingan yang semakin meningkat disertai adanya perkembangan teknologi informasi, tentunya perusahaan membutuhkan inovasi sehingga memaksa mereka untuk mengubah pola menjalankan bisnisnya menuju knowledge based bussiness (bisnis berdasarkan pengetahuan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Menurut Reed et al. (2006), hal yang berperan berupa pemanfaatan modal intelektual yang akan berkontribusi pada pencapaian dan mempertahankan kinerja yang kompetitif daripada sumberdaya berwujud (dalam Al-Musali et al., 2016). Peningkatan nilai perusahaan dipengaruhi juga oleh pengambilan keputusan investasi atas kandungan informasi yang disampaikan perusahaan melalui pengungkapan laporan keberlanjutan. Laporan ini dipercaya dapat meningkatkan reputasi dan kepercayaan bagi konsumen (Ernst & Young, 2013), sehingga pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya tetap akan menjaga hubungan baik dengan perusahaan (Jusmarni, 2016).
Dari beberapa hasil penelitian terdahulu, terdapat hasil penelitian yang tidak konsisten tentang nilai perusahaan. Ghozali (2018) menyatakan bahwa untuk mengatasi ketidak konsistenan hasil penelitian-penelitian sebelumnya, maka diperlukan pendekatan kontijensi (contingency approach). Hal
192
ini dilakukan dengan memasukkan variabel lain yang mungkin mempengaruhi nilai perusahaan yakni kinerja keuangan.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nilai Perusahaan
Yuniarti (2015) menyatakan bahwa nilai perusahaan merupakan persepsi pemegang saham terhadap perusahaan, yang sering dikaitkan dengan harga saham. Semakin bagus kinerja perusahaan akan semakin besar kepercayaan pemegang saham dan publik kepada perusahaan tersebut. Dengan demikian, akan meningkatkan nilai perusahaan.
2.2. Kepemilikan Institusional
Menurut Widiastuti et al. (2013), kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh lembaga dari eksternal. Keberadaan investor institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. (Jensen dan Meckling 1976).
2.3. Komite Audit
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 55/POJK.04/2015, mendefinisikan komite audit sebagai komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Dalam pelaksanaannya, komite audit bertindak mandiri dalam pelaksanaan tugas maupun pelaporan serta bertanggungjawab langsung kepada dewan komisaris yang berhubungan kebijakan akuntansi perusahaan, pengawasan internal, dan sistem pelaporan keuangan.
2.4. Komisaris Independen
Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014, komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik. persyaratan jumlah minimal komisaris independen adalah 30% dari seluruh anggota dewan komisaris.
2.5. Modal Intelektual
Brooking (1996) dalam Ulum (2017) memberikan definisi terkait modal intelektual bahwa istilah ini diberikan untuk kombinasi aset tidak berwujud yang dapat membuat perusahaan berfungsi. Hal ini bermakna bahwa perusahaan akan berjalan sesuai yang diharapkan saat perusahaan mampu mengolah serta mengkombinasikan komponen aset tidak berwujud tersebut. Hal ini memberikan gambaran bahwa peranan modal intelektual sebagai sepaket pengetahuan yang berguna demi pengelolaan dan pencapaian tujuan perusahaan.
2.6. Pengungkapan Laporan Keberlanjutan
Elkington (1997) mendefinisikan laporan keberlanjutan sebagai laporan yang tidak hanya memuat informasi kinerja keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara berkesinambungan. Informasi yang tersaji dalam laporan keberlanjutan merupakan upaya perusahaan untuk mengungkapkan serta mengkomunikasikan kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya terkait kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial perusahaan.
2.7. Kinerja Keuangan
Menurut Fahmi (2012), kinerja keuangan adalah suatu analisis yang di lakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah dilaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Sementara itu, Jumingan (2006) menjabarkan bahwa kinerja keuangan adalah gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana, yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas.
193
2.8. Hipotesis Penelitian
H1 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan H2 : Komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H3 : Komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan H4 : Modal intelektual terhadap nilai perusahaan
H5 : Pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan H6 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kinerja keuangan
H7 : Komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan
H8 : Komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan H9 : Modal intelektual berpengaruh terhadap kinerja keuangan
H10 : Pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap kinerja keuangan H11 : kinerja keuangan berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H12 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi
H13 : Komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi
H14 : Komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi
H15 : Modal intelektual berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi
H16 : Pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi
3. DATA DAN METODOLOGI
Populasi penelitian ini adalah Perusahaan yang terdaftar di LQ 45 dari 2014-2017 dengan teknik pemilihan sampel melalui purposive sampling, hingga terdapat 18 sampel. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data melalui data sekunder yang diperoleh dari idx, yahoo finance, indonesia capital market directory dan sustainability report pada web perusahaan sampel.
3.1. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel Dependen (Nilai Perusahaan)
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor mengenai tingkat kemakmuran pemegang saham yang berkaitan dengan harga pasar saham perusahaan (Yuniarti, 2015). Nilai perusahaan pada penelitian ini diukur dengan menggunakan rasio Tobins’Q.
Q= (𝐸𝑀𝑉+𝐷)
(𝐸𝐵𝑉+𝐷)
2. Variabel Independen Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan yang dimiliki oleh institusi dari seluruh jumlah modal saham perusahaan yang dikelola (Boediono, 2005).
KI = Jumlah saham institusi jumlah saham yang beredar
Komite Audit
Menurut Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/POJK.04/2015, komite audit adalah komite yang dibentuk dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan.
KA = Jumlah Anggota Komite Audit
194
Komisaris Independen
Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/2014 komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik.
Kin = Jumlah dewan komisaris independen Total jumlah dewan komisaris
Modal Intelektual
Modal intelektual terdiri dari tiga elemen berupa human capital, structural capital dan customer capital yang saling berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi hingga dapat memberikan nilai bagi perusahaan berupa keunggulan bersaing organisasi (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Modal intelektual diukur dengan menggunakan model Pulic (1998) dalam penelitian Ulum et al. (2008) yakni Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM).
VAICTM = VACA + VAHU + STVA
Pengungkapan Laporan Keberlanjutan
Elkington (1997) memberikan definisi bahwa laporan keberlanjutan sebagai laporan yang tidak hanya memuat informasi kinerja keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang terdiri dari informasi aktivitas ekonomi, sosial dan lingkungan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara berkesinambungan (sustainable performance).
SRDI = n
K
4. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Statistik Deskriptif
Berikut ini adalah hasil statistik deskriptif seperti yang tercantum pada Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1: Hasil Statistik Deskriptif
Keterangan N Min Max Mean Std. Deviation
Kepemilikan institusional
72 ,4720 ,7950 ,598014 ,0850363
Komite audit 72 3 6 3,63 ,863
Komisaris Independen 72 ,2000 ,6250 ,392056 ,1064659
Modal Intelektual 72 1,1580 5,8740 3,177139 1,0401795
SR 72 ,2700 ,8240 ,516847 ,1281508
Nilai Perusahaan 72 ,7190 3,2750 1,568000 ,6161330
Kinerja Keuangan 72 ,0110 ,2280 ,087528 ,0552528
Valid N (listwise) 72 Sumber: Data olahan (2018)
b. Hasil Uji Normalitas Data
Tabel 2: Hasil Uji Normalitas Data
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan hasil uji normalitas pada Tabel 2 di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki data yang berdistribusi normal karena nilai 0,064 > 0,050.
c. Hasil Uji Multikoliniearitas
Keterangan Unstandardized Residual
Asymp. Sig. (2-tailed) ,064c
195
Tabel 3: Hasil Uji Multikolinearitas
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Kepemilikan institusional ,853 1,172
Komite audit ,834 1,199
Komisaris Independen ,740 1,351
Modal Intelektual ,804 1,244
SR ,859 1,164
Kinerja Keuangan ,686 1,458
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan Tabel 3 diatas mengenai hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan didapatkan bahwa semua variabel independen memiliki nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10.00, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut bebas dari multikolinieritas.
d. Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4: Hasil Uji Autokorelasi
Model R Square Durbin-Watson
1 ,336 2,079
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan Tabel 4 diatas, diketahui nilai durbin watson sebesar 2,079. Hal ini menandakan bahwa nilai durbin watson berada pada 1,55 < DW < 2,46, sehingga disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak ada terdapat autokorelasi.
e. Hasil Uji Heterokedatisitas
Gambar 1: Hasil Uji Heteroskedatisitas
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan Gambar 1 diatas, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi dalam penelitian ini.
f. Analisis Jalur
Hasil uji analisis jalur terdiri dari dua substruktur. Berikut merupakan hasil uji analisis jalur pada path analysis substruktur 1 seperti yang terlihat pada Tabel 5 dibawah ini.
196
Tabel 5: Hasil Uji Analisis Jalur Substruktur 1 Coefficientsa
Sumber: Data Olahan (2018)
Sedangkan untuk hasil uji analisis jalur pada path analysis substruktur 2 dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6: Hasil Uji Regresi Linier Berganda Substruktur 2 Coefficientsa
Sumber: Data Olahan (2018)
g. Hasil Uji Koefisien Determinasi Total
Berdasarkan data sebelumnya diperoleh koefisien determinasi total sebagai berikut :
Persamaan Satu (1)
Z = 0,047X1+ 0,218X2+ 0,269X3+ 0,386X4 + 0,232X5 + ε1
R2 = 0,314; ε1 = √1 − 0,314 = √0,686 = 0,828
Z = 0,047X1+ 0,218X2+ 0,269X3+ 0,386X4 + 0,232X5 + 0,828
Persamaan Dua (2)
Y = 0,310X1+ 0,042X2 + 0,068X3 + 0,133X4 + 0,286X5 + 0,405Z + ε2
R2 = 0,336; ε1 = √1 − 0,336 = √0,664 = 0,815
Y = 0,310X1+ 0,042X2 + 0,068X3 + 0,133X4 + 0,286X5 + 0,405Z + 0,815
Koefisien determinasi total merupakan total keragaman yang dapat dijelaskan oleh model. Total keberagaman tersebut dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
R2m = 1 - (ρε1 xρε1) x (ρε2 xρε2)
= 1 - (0,828 x 0,828) x (0,815 x 0,815) = 1 – (0,686 x 0,664)
= 1 – 0,455 = 0,545
Model
Standardized
Coefficients T Sig.
Beta (Constant)
Kepemilikan institusional Komite audit
Komisaris Independen Modal Intelektual SR
,388 ,699
,047 ,428 ,670
,218 2,010 ,048
,269 2,366 ,021
,386 3,732 ,000
,232 2,181 ,033
Model
Standardized
Coefficients T Sig.
Beta 1
(Constant)
Kepemilikan institusional Komite audit
Komisaris Independen Modal Intelektual SR
Kinerja Keuangan
3,482 ,001
,310 2,836 ,006
,042 ,377 ,707
,068 ,580 ,564
,133 1,177 ,243
,286 2,626 ,011
,406 3,324 ,001
197 = 54,5%
Dengan kata lain, 54,4% informasi yang terkandung dalam data dapat dijelaskan oleh model.
Sementara, 45.5% dijelaskan oleh variabel lain yang belum terdapat dalam model dan error.
h. Hasil Pengujian Hipotesis Dan Pembahasan
1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan Tabel 7: Hasil Pengujian Hipotesis Pertama
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X1 → Y 0,310 2,836 0,006 Ha diterima
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 7 diatas, diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional memiliki nilai thitung sebesar 2,836 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,006 < 0,050. Sehingga, Ha
diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional tersebut berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Semakin besar kepemilikan saham oleh investor institusional, maka semakin besar kekuatan suara dan dorongan institusi keuangan untuk mengawasi manajemen, sehingga dapat mendisiplinkan kinerja manajer untuk bertindak memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham dan memberikan dorongan yang lebih besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan (Haryono et al., 2015).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Jallo et al. (2017) bahwa kepemilikan institusional ini berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2. Pengaruh Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan
Tabel 8: Hasil Pengujian Hipotesis Kedua
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X2 → Y 0,042 0,377 0,707 Ha ditolak
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 8 diatas, diketahui bahwa variabel komite audit memiliki nilai thitung sebesar 0,377 < 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,707 > 0,05. Sehingga Ha ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Pada penelitian ini, komite audit tidak berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan. Komite audit akan mempengaruhi nilai perusahaan melalui peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Hal ini akan terlihat saat komite audit mampu memenuhi tugas dan tanggung jawab sesuai piagam komite audit. Salah satu aspek yang ternyata mempengaruhi ketidakmampuan komite audit mempengaruhi nilai perusahan ditinjau dari proporsi komite audit yang belum memenuhi cakupan kompleksitas perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jallo et al. (2017) jumlah komite audit tidak menjadi tolak ukur bahwa perusahaan akan memperoleh nilai yang tinggi dimata pemegang saham.
3. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan
Tabel 9: Hasil Pengujian Hipotesis KetigaVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X3 → Y 0,068 0,580 0,564 Ha ditolak
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 9 di atas, diketahui bahwa variabel komisaris independen memiliki nilai thitung sebesar 0,580 < 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,564 > 0,05. Sehingga Ha ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Keberadaan komisaris independen baik dari segi jumlah sekalipun belum mampu menjadi sinyal bagi pemegang saham bahwa nilai perusahaan tersebut bagus. Kedudukan komisaris independen bahkan kerapkali melakukan rangkap jabatan pada beberapa perusahaan lain. Oleh karena itu, keberadaan komisaris independen semata belum mampu meningkatkan nilai perusahaan.
198
4. Pengaruh Modal Intelektual terhadap Nilai Perusahaan
Tabel 10: Hasil Pengujian Hipotesis KeempatVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X4 → Y 0,133 1,177 0,243 Ha ditolak
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 10 di atas, diketahui bahwa variabel modal intelektual memiliki nilai thitung sebesar 1,177 < 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,243 > 0,05. Sehingga Ha ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modal intelektual tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Pengaruh modal intelektual terhadap nilai perusahaan tidak terjadi secara langsung. Hal ini dikarenakan belum terdapat pengakuan dan pengukuran yang baku atas komponen modal intelektual pada laporan keuangan perusahaan. Sehingga, informasi terkait pemanfaatan modal intelektual oleh perusahaan belum mampu menjadi sinyal yang baik pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
5. Pengaruh Pengungkapan Laporan Keberlanjutan terhadap Nilai Perusahaan
Tabel 11: Hasil Pengujian Hipotesis KelimaVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X5 → Y 0,286 2,626 0,011 Ha diterima
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 11 di atas, diketahui bahwa variabel pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki nilai thitung sebesar 2,626 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,011 < 0,05.
Sehingga Ha diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Perusahaan yang menerbitkan laporan berkelanjutan tentu akan direspon positif oleh investor karena perusahaan dianggap memiliki kinerja ekonomi, lingkungan dan social yang baik berdasarkan informasi yang tercantum didalam laporan keberlanjutan. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi investor untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan tersebut sehingga pergerakan saham cenderung meningkat yang berdampak terhadap naiknya nilai perusahaan. Hasil penelitian senada dengan yang dilakukan Safitri (2015) bahwa terdapat pengaruh antara pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap nilai perusahaan.
6. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan
Tabel 12: Hasil Pengujian Hipotesis KeenamVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X1 → Z 0,047 0,428 0,670 Ha ditolak
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 12 di atas, diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional memiliki nilai thitung sebesar 0,428 < 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,670 > 0,05. Sehingga Ha ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hal ini dikarenakan karakteristik perusahaan di Indonesia mempunyai pola struktur kepemilikan yang lebih terkonsentrasi (closely held) sehingga pendiri perusahaan juga dapat menempati posisi dalam dewan direksi atau komisaris, sehingga banyak perusahaan di Indonesia mempunyai hubungan yang erat antara pemilik dengan dewan direksi atau dewan komisaris.
7. Pengaruh Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan
Tabel 13: Hasil Pengujian Hipotesis Ketujuh
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X2 → Z 0,218 2,010 0,048 Ha diterima
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data Tabel 13 di atas, diketahui bahwa variabel komite audit memiliki nilai thitung
sebesar 2,010 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,048 < 0,05. Sehingga Ha diterima, dengan demikian
199
dapat disimpulkan bahwa komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil ini senada dengan penelitian Kartikasari (2017) yang menyatakan bahwa komite audit berpengauh positi terhadap kinerja keuangan perusahaan. Komposisi komite audit yang tepat akan memberikan gambaran yang positif terhadap kinerjanya sehingga mampu melakukan pengawasa n terhadap aspek laporan keuangan, tata kelola perusahaan serta pengawasan perusahaan secara keseluruhan sebagai komite penunjang dewan komisaris, maka kinerja komite ini diyakin akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
8. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Kinerja Keuangan
Tabel 14: Hasil Pengujian Hipotesis KedelapanVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X3 → Z 0,269 2,366 0,021 Ha diterima
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 14 di atas, diketahui bahwa variabel komisaris independen memiliki nilai thitung sebesar 2,366 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,021 < 0,05. Sehingga Ha
diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan.Semakin banyaknya jumlah komisaris independen membuat pengawasan terhadap kinerja manajemen menjadi lebih baik. Selain itu, setiap tindakan dari komisaris independen yang berhubungan dengan perusahaan lebih objektif karena tidak dipengaruhi oleh hubungan-hubungan afiliasi. Sehingga tentu akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
9. Pengaruh Modal Intelektual terhadap Kinerja Keuangan
Tabel 15: Hasil Pengujian Hipotesis KesembilanVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X4 → Z 0,386 3,732 0,000 Ha diterima
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 15 diatas, diketahui bahwa variabel modal intelektual memiliki nilai thitung sebesar 2,366 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,021 < 0,05. Sehingga Ha diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modal intelektual berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan total aset yang dimiliki perusahan akan semakin meningkat apabila perusahaan menggunakan dan memanfaatkan secara maksimal modal intelektual yang dimiliki. Modal intelektual telah berperan penting dalam pembentukan nilai tambah dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Solikhah (2010) menyatakan modal intelektual berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
10. Pengaruh Pengungkapan Laporan Keberlanjutan terhadap Kinerja Keuangan
Tabel 16: Hasil Pengujian Hipotesis KesepuluhVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X5 → Z 0,232 2,181 0,033 Ha diterima
Sumber : Data Olahan (2018)
Berdasarkan data Tabel 16 diatas, diketahui bahwa variabel pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki nilai thitung sebesar 2,181 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,033 < 0,05.
Sehingga Ha diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pratami (2017) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan positif antara pengungkapan laporan keberlanjutan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Pelaporan keberlanjutan membantu organisasi untuk menetapkan tujuan, mengukur kinerja, dan mengelola perubahan dalam rangka membuat operasi mereka agar lebih berkelanjutan. Informasi yang tercantum dalam laporan keberlanjutan akan membantu pemegang saham untuk membuat keputusan investasi pada perusahaan. Dengan demikian, melalui hal ini akan terlihat seberapa bagus citra dan kinerja perusahaan.
200
11. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan
Tabel 17: Hasil Pengujian Hipotesis KesebelasVariabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
Z → Y 0,405 3,324 0,001 Ha diterima
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 17 di atas, diketahui bahwa variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Sehingga Ha diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Tingkat keberhasilan manajemen perusahaan mengelola aset dan modal yang dimiliki dapat diketaui melalui rasio keuangan tersebut. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat. Peningkatan laba merupakan salah satu faktor penting bagi terciptanya keunggulan daya saing perusahaan secara berkelanjutan. Ketika laba yang dihasilkan terus meningkat maka dividen yang diterima para investor juga akan ikut meningkat atau bisa dikatakan kesejahteraan para pemegang saham meningkat. Investor yang kesejahteraannya terjaga otomatis akan memberikan penilaian yang baik kepada perusahaan. Peningkatan harga saham akan menimbulkan apresiasi investor terhadap kinerja perusahaan. Peningkatan harga saham di pasar mencerminkan nilai perusahaan yang semakin baik bagi investor.
12. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi
Tabel 18: Hasil Pengujian Hipotesis Kedua Belas
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X1 → Z 0,047 0,428 0,670
Ha ditolak
Z → Y 0,405 3,324 0,001
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 18 di atas, diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional memiliki nilai thitung sebesar 0,428 < 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,670 > 0,05. Sementara variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
Meski variabel kinerja keuangan berpengaruh terhadap nilai perusahaan, namun kepemilikan institusional tidak signifikan pada taraf kesalahan 5%. Sehingga, hipotesis kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan tidak terbukti kebenarannya. Variabel kinerja keuangan tidak mampu memediasi hubungan kepemilikan institusional dan nilai perusahaan dikarenakan peran pengawasan yang dilakukan pihak institusional berpengaruh secara langsung terhadap nilai perusahaan. Selain itu, keberadaan pihak institusional pada perusahaan juga mampu menjadi wadah untuk meningkatkan partisipasi dan kepercayaan pemegang saham pada suatu perusahaan. Semakin banyak kepemilikan saham institusi pada suatu perusahaan, hal ini menandakan bahwa aktivitas transaksi pemegang saham institusi jadi tolak ukur perdagangan saham. Alhasil pergerakan saham membaik hingga mampu meningkatkan nilai perusahaan.
13. Pengaruh Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi
Tabel 19: Hasil Pengujian Hipotesis Ketiga Belas
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X2 → Z 0,218 2,010 0,048
Ha diterima
Z → Y 0,405 3,324 0,001
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data pada Tabel 19 di atas, diketahui bahwa variabel komite audit memiliki nilai thitung sebesar 2,010 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,048 < 0,05. Sementara variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
Maknanya, komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Begitupula dengan kinerja keuangan
201
yang signifikan pada taraf kesalahan 5%. Dengan demikian, hipotesis komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan terbukti kebenarannya. Semakin banyak jumlah komite audit yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan memberikan perlindungan dan kontrol yang lebih baik terhadap proses akuntansi dan keuangan dan pada akhirnya akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Bahkan kinerja komite audit terkait transparansi akan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap perusahaan tersebut. Dengan demikian, situasi ini akan memberikan sinyal yang baik bagi perusahaan yang terlihat pada peningkatan harga saham perusahaan. Peningkatan harga saham akan mampu meningkatkan nilai perusahaan.
14. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi
Tabel 20: Hasil Pengujian Hipotesis Keempat Belas
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X3 → Z 0,269 2,366 0,021
Ha diterima
Z → Y 0,405 3,324 0,001
Sumber: Data Olahan (2018)
Berdasarkan data Tabel 20 di atas, diketahui bahwa variabel komisaris independen memiliki nilai thitung sebesar 2,366 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,021 < 0,05. Sementara variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
Maknanya, komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan Begitupula dengan kinerja keuangan yang signifikan pada taraf kesalahan 5%. Dengan demikian, hipotesis komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan terbukti kebenarannya. Septiputri dan Mutmainah (2013) menyatakan bahwa dewan komisaris independen bertanggungjawab untuk meyakinkan bahwa perusahaan dijalankan dengan baik. Ketika perusahaan telah dijalankan dengan baik, maka investor akan tertarik untuk berinvestasi para perusahaan tersebut. Pada kasus ini, investor percaya bahwa perusahaan mempunyai kinerja keuangan yang baik dengan adanya peningkatan laba yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan. Sehingga kemakmuran pemegang saham akan tercapai.
15. Pengaruh Modal Intelektual terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi
Tabel 21: Hasil Pengujian Hipotesis Kelima Belas
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X4 → Z 0,386 3,732 0,000
Ha diterima
Z → Y 0,405 3,324 0,001
Sumber: Data olahan (2018)
Berdasarkan data Tabel 21 diatas, diketahui bahwa variabel modal intelektual memiliki nilai thitung sebesar 3,732 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Sementara variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
Maknanya, modal intelektual berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Begitupula dengan kinerja keuangan yang signifikan pada taraf kesalahan 5%. Dengan demikian, hipotesis modal intelektual berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan terbukti kebenarannya. Semakin tinggi kinerja perusahaan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari tahun ke tahun dan mengakibatkan usaha yang dimiliki oleh perusahaan semakin berkembang. Perkembangan perusahaan memikat banyak investor untuk menanamkan modalnya ke dalam perusahaan. Hal ini berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
16. Pengaruh Pengungkapan Laporan Keberlanjutan terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Mediasi
Berdasarkan data Tabel 22, diketahui bahwa variabel pengungkapan laporan keberlanjutan memiliki nilai thitung sebesar 2,181 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,033 < 0,05. Sementara variabel kinerja keuangan memiliki nilai thitung sebesar 3,324 > 1,668 (ttabel) dan nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
202
Maknanya, pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap kinerja keuangan Begitupula dengan kinerja keuangan yang signifikan pada taraf kesalahan 5%. Dengan demikian, hipotesis pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan terbukti kebenarannya.
Tabel 22: Hasil Pengujian Hipotesis Keenam Belas
Variabel Koef Regresi t hitung Sign Keputusan
X5 → Z 0,232 2,181 0,033
Ha diterima
Z → Y 0,405 3,324 0,001
Sumber: Data olahan (2018)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pratami (2017) bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas yang merupakan proksi kinerja keuangan sebagai variabel mediasi. Transparansi yang dilakukan perusahaan mengindikasikan bahwa perusahaan memperhatikan kebutuhan informasi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Bahkan laporan keberlanjutan mampu menjadi alat refleksi atas kegiatan keberlanjutan yang dilakuakn terkait aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Sehingga, perbaikan- perbaikan terkait strategi, tujuan serta pencapaian yang dilakukan akan mampu meningkatkan kinerja keuangan yang pada akhirnya meningkat nilai perusahaan.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di lakukan, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut:
1. Hasil pengujian hipotesis pertama membuktikan bahwa kepemilikan institusional mampu mempengaruhi nilai perusahaan secara langsung.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua membuktikan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Salah satu penyebab karena belum memenuhi cakupan kompleksitas perusahaan.
3. Hasil pengujian hipotesis ketiga membuktikan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Keberadaan komisaris independen baik dari segi jumlah sekalipun belum mampu menjadi sinyal bagi pemegang saham bahwa nilai perusahaan tersebut bagus.
4. Hasil pengujian hipotesis keempat membuktikan bahwa modal intelektual tidak mampu mempengaruhi nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan belum terdapat pengakuan dan pengukuran yang baku atas komponen modal intelektual pada laporan keuangan perusahaan. Sehingga hal ini belum mampu menjadi sinyal positif bagi pemegang saham.
5. Hasil pengujian hipotesis kelima membuktikan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan mempengaruhi nilai perusahaan.
6. Hasil pengujian hipotesis keenam membuktikan bahwa kepemilikan institusional tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Karakteristik perusahaan di Indonesia mempunyai pola struktur kepemilikan yang lebih terkonsentrasi (closely held) sehingga pendiri perusahaan juga dapat menempati posisi dalam dewan direksi atau komisaris.
7. Hasil pengujian hipotesis ketujuh membuktikan bahwa komite audit mempengaruhi kinerja keuangan.
8. Hasil pengujian hipotesis kedelapan membuktikan bahwa komisaris independen mempengaruhi kinerja keuangan.
9. Hasil pengujian hipotesis kesembilan membuktikan bahwa modal intelektual mempengaruhi kinerja keuangan.
10. Hasil pengujian hipotesis kesepuluh membuktikan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
11. Hasil pengujian hipotesis kesebelas membuktikan bahwa kinerja keuangan mempengaruhi nilai perusahaan.
12. Hasil pengujian hipotesis kedua belas membuktikan bahwa kepemilikan institusional sama tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan sebagai variabel mediasi.
203
13. Hasil pengujian hipotesis ketiga belas membuktikan bahwa komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan sebagai variabel mediasi. saham perusahaan.
14. Hasil pengujian hipotesis keempat belas membuktikan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan sebagai variabel mediasi.
15. Hasil pengujian hipotesis kelima membuktikan bahwa modal intelektual berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi.
16. Hasil pengujian hipotesis keenam belas membuktikan bahwa pengungkapan laporan keberlanjutan berpengaruh terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel mediasi.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Musali, M.A.K. & Ismail, K.N.I.K. (2016). Cross-country comparison of intellectual capital performance and its impact on financial performance of commercial banks in GCC countries, International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, 9(4), 512-531
Boediono, G.S.B. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governace dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII, 172-194
Elkington, J. (1997). Cannibals with Forks : The Triple Bottom Line of 21st Century Business. Oxford : Capstone Publishing Ltd
Ernst & Young. (2013). Value of Sustainability Reporting. Boston College Carroll School Of Management Fahmi, I. (2012). Analisis Kinerja Keuangan. Bandung: Alfabeta
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25, Edisi 9. Semarang: UNDIP
Haryono, U. & Paminto, A. (2015). Corporate Governance and Firm Value : The Mediating Effect of Financial Performance and Firm Risk. European Journal of Business and Management, 7(35), 18-24
Jallo, A., Mus, A.R., Mursalim, & Suryanti. (2017). Effect of corporate social responsibility, good corporate governance and ownership structure on financial performance and firm value: A Study in Jakarta Islamic Index.
IOSR Journal of Business and Management (IOSR-JBM), 19(11), 64-75
Jensen, M.C. & Meckling, W.H. (1976). Theory of The Firm: Manajerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Joumal of Financial Economics, 3(4), 305-360
Jumingan. (2006). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara
Jusmarni. (2016). Pengaruh Sustainability Reporting Terhadap Kinerja Keuangan dari sisi Market Value Ratios dan Asset Management Ratio. Jurnal SOROT, 11(1), 29–45
Kartikasari, Y.D. (2017). Pengaruh Good Corporate Governance dan Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Keuangan. Jurnal Profita Kajian Ilmu Akuntansi, 5(8)
Peraturan Otoritas Jasa keuangan Nomor 55 /POJK.04/2015 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33 /Pojk.04/2014
Pratami, Y. (2017). Pengaruh sustainability Reporting, Institutional Ownership, Struktur Modal dan Insentif Manajer Terhadap Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Intervening. Tesis. Magister Akuntansi. Universitas Riau
Safitri, D.A. (2015). Sustainability Report Terhadap Kinerja Keuangan dan Pasar. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, 4(4)
Salvatore, D. (2011). Managerial Economics. Fitth Edition. Singapore: Thomson Learning
204
Sawarjuwono, T & Kadir, P.A. (2003). Intellectual Capital: Perlakuan, Pengukuran, dan Pelaporan (Sebuah Library Research). Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 5(1), 35-57
Septiputri, V.R. & Mutmainah, S.. (2013). Dampak Corporate Governance Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Indonesia Tahun 2007-2011. Diponegoro Journal of Accounting, 2(2), 211-219
Solikhah, B. (2010). Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan, Pertumbuhan dan Nilai Pasar pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia. Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang
Ulum, I., Ghozali, I., & Chairiri, A.. (2008). “Intellectual Capital dan Kinerja Keuangan Perusahaan; Suatu Analisis Dengan Pendekatan Partial Least Squares”. Simposium Nasional Akuntansi XI.
Ulum, Ihyaul. (2017). Intellectual Capital : Model Pengukuran, Framework Pengungkapan dan Kinerja Organisasi. Malang: UMM Press
Widiastuti, M., Midiastuty, P.P., & Suranta, E. (2013). Dividend Policy and Foreign Ownership. Simposium Nasional Akuntansi XVI, 3401-3423
Yuniarti, R. (2015). Pengaruh kebijakan dividen dan dan pertumbuhan Perusahaan terhadap nilai perusahaan di BEI. Jurnal Ekombis Review, 2(2), 224-230