Nama: Putri Nabila NIM: E34180035
Daftar Menteri Pariwisata dan Capaiannya 1. Achmad Tahir (1983-1988)
Achmad Tahir merupakan mantan perwira Gyugun yang berinisiatif untuk melatih pemuda Indonesia dengan membentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI). Usai berjuang dalam pertempuran Medan Area, pada masa Orde Baru, Achmad Tahir dipercaya menjadi Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi dalam Kabinet Pembangunan IV. Selama jabatannya menjadi menteri, Achmad Tahir membuat kebijakan yaitu membebaskan visa untuk 26 negara, 9 bandara, dan 7 pelabuhan laut sebagai pintu masuk wisatawan.
2. Soesilo Soedarman (1988-1993)
Soesilo Soedarman pernah menjabat sebagai Duta Luhur RI kepada Amerika Serikat yang berkedudukan di Washington DC (1986-1988), menjadi Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (1988-1993), dan menjadi Menteri Koordinator Segi Politik, Hukum dan Keamanan pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998). Soesilo Soedarman menjadi Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi pada Kabinet Pembangunan V. Kebijakannya sebagai Menteri Pariwisata yaitu memperkenalkan program kampanye pariwisata Sapta Pesona (1989) dan mencanangkan program Visit Indonesia Year 1991.
3. Joop Ave (1993-1998)
Joop Ave dikenal sebagai “Bapak Pariwisata Indonesia” karena kontribusinya dalam dunia pariwisata yang sudah dilakukan selama belasan tahun. Program kerja Joop Ave yang terkenal yaitu “Visit Indonesia Year 1991”, yaitu ajakan pada wisatawan asing agar ingin mengunjungi Indonesia, khususnya di daerah selain Bali yang memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik.
4. Abdul Latief (1998-1998)
Abdul Latief hanya menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya di Kabinet Pembangunan VII selama tiga bulan saja. Hal tersebut dikarenakan desakan dari keluarganya untuk berhenti menjadi menteri.
5. Marzuki Usman (1998-1999)
Marzuki Usman merupakan sarjana ekonomi dari Universitas Gajah Mada. Karirnya dimulai sebagai Staf Direktorat Jenderal Keuangan di Departemen Keuangan. Sebagai Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya, capaian yang diraih yaitu sektor pariwisata Indonesia yang tumbuh dengan kunjungan wisatawan asing dari 4,6 juta orang menjadi 4,7 juta orang.
6. Giri Suseno Hadihardjono (1999-1999)
Giri Suseno menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya hanya sebulan saja, yang bertepatan dengan dirinya menjabat sebagai Menteri Perhubungan.
7. Hidayat Jaelani (1999-2000)
Hidayat Jaelani pernah menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Pariwisata (1996-1998) dan menjadi Dirjen Pariwisata, Departemen Pariwisata, Seni dan Adat (1998-2000).
Saat menjadi Menteri Negara Pariwisata dan Kesenian Kabinet Persatuan Nasional, jumlah turis mancanegara yang datang ke Indonesia meningkat menjadi 5 juta orang.
8. I Gede Ardhika (2000-2004)
I Gede Ardhika mencetuskan pariwisata berbasis desa dan desa wisata banyak yang berkembang pada saat itu. Jumlah wisatawan asing pada tahun 2002 sebanyak 5 juta orang, turun menjadi 4,4 juta orang di tahun 2003 karena tragedi bom bali I. Namun, pada tahun 2004 jumlah wisatawan meningkat kembali menjadi 5 juta dengan pendapatan negara dari devisi sebanyak US$ 4 milyar.
9. Jero Wacik (2004-2009, 2009-2011)
Program kerja Jero Wacik saat menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Indonesia Bersatu dan Kabinet Indonesia Bersatu II yaitu menghidupkan kembali program Visit Indonesia Year karena pada saat itu Indonesia mengalami krisis kembali setelah peristiwa bom bali II. Pada tahun 2011, Jero Wacik juga mencanangkan program kampanye pariwisata Wonderful Indonesia. Jero Wacik juga sempat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral setelah adanya reshuffle kabinet. Namun, Jero Wacik divonis 4 tahun penjara karena penyelewengan Dana Opearisonal Menteri (DOM) dan penerimaan gratifikasi ketika menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
10. Mohammad Nuh (2009-2009)
Mohammad Nuh menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata hanya 20 hari saja.
Sebelum itu, Mohammad Nuh adalah Menteri Komunikasi dan Informatika.
11. Mari Elka Pangestu (2011-2014)
Mari Elka Pangestu merupakan menteri perempuan pertama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pencapaian Mari Elka sebagai Menteri Pariwisata yaitu jumlah wisatawan mancanegara tumbuh dari 7,6 juta orang menjadi 8,8 juta orang. Selain itu, devisa negara dari sektor pariwisata meningkat dari US$ 8,5 milyar menjadi US$ 10 milyar. Atas pencapaiannya, Presiden SBY memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana kepada Mari Elka pada tahun 2013.
12. Arief Yahya (2014-2019)
Pencapaian Arief Yahya sebagai Menteri Pariwisata yaitu memperkenalkan “10 Bali Baru” sebagai destinasi pariwisata utama. Lalu, industri pariwisata Indonesia meraih 11 penghargaan dari ajang ASEAN Tourism Award 2019, dan sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar dengan nilai US$ 12,2 milyar (2015), US$ 13,6 milyar (2016), dan US$ 15 milyar (2017).
13. Wishnutama Kusubandio (2019-2020)
Sebelum menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama lebih banyak berkarier di bidang pertelevisian. Pencapaian Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata yaitu memperkenalkan lima destinasi wisata prioritas, di antaranya yaitu Danau Toba, Mandalika, Likupang, Borobudur, dan Labuan Bajo. Selain itu, Wishnutama mencanangkan program Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) sebagai bentuk adaptasi pariwisata di masa Covid-19. Dan juga Wishnutama melakukan branding #BeliKreatifLokal.
14. Sandiaga Uno (2020-sekarang)
Sandiaga Uno memaparkan tiga pilar unggulan yang mampu membangkitkan sektor parektaf. Pilar pertama yaitu menebar harapan, semangat, dan memupuk motivasi.
Pilar kedua yaitu pembukaan usaha dan peluang kerja. Dari pilar tersebut, Sandiaga Uno membuat program Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Pariwisata di Indonesia melalui hastag #DiIndonesiaSaja. Pilar ketiga yaitu pengembangan desa wisata.
Terdapat 244 lokasi desa wisata yang sudah masuk ke dalam desa wisata binaan Kemenparekraf.
Peraturan Wisata di Hutan Lindung dan Hutan Produksi
Peraturan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan lindung dijelaskan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 22 tahun 2012 tentang Pedoman Kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam pada Hutan Lindung. Peraturan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan produksi dijelaskan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 31 tahun 2016 tentang Pedoman Kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam pada Hutan Produksi. Namun, terdapat peraturan lainnya terkait peraturan wisata di hutan lindung dan hutan produksi, yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 8 tahun 2021 tentang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, serta pemanfaatan hutan di hutan lindung dan hutan produksi. Kegiatan jasa lingkungan wisata alam yang dapat dilakukan terdiri dari penyediaan sarana dan penyediaan jasa. Penyediaan sarana terdiri dari sarana wisata tirta, akomodasi, wisata petualangan, wisata pendidikan, budaya atau religi, dan informasi pariwisata. Penyediaan jasa antara lain jasa pramuwisata, transportasi, perjalanan wisata, cinderamata, dan jasa makanan serta minuman.
Ketentuan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan lindung yaitu luas areal yang dapat digunakan yaitu 10% dari total luas areal kerja perizinan pada blok pemanfaatan hutan lindung. Bentuk bangunan berupa semi permanen dan arsitekturnya disesuaikan dengan arsitektur budaya setempat. Pembangunan penyediaan jasa akomodasi dilakukan pada kelerengan 0%-30%. Izin usaha pemanfaatan wisata alam diberikan dalam bentuk IUPJLWA-PJWA atau IUPJLWA-PSWA, diberikan oleh Kepala SKPD/KPH dan gubernur atau bupati/walikota. Izin usaha diberikan pada kawasan hutan yang belum dibebani izin pemanfaatan hutan. Sementara ketentuan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan produksi yaitu areal usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan produksi berada dalam blok pemanfaatan pada kawasan hutan produksi. Luas areal kerja usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam maksimal seluas 10% dari total luas blok pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam serta masih dalam batas daya dukung lingkungan areal yang bersangkutan. Izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam pada hutan produksi diberikan dalam bentuk IUPJWA-HP atau IPSWA-HP, diberikan pada kawasan hutan produksi yang belum dibebani izin/hak.
Data Wisata Borobudur
Wisata Borobudur tidak hanya dari candi saja, tetapi juga dari adanya homestay yang dimanfaatkan oleh wisatawan yang datang dari jarak yang jauh. Jumlah homestay pun selalu meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan meningkatnya jumlah kunjungan ke Candi Borobudur. Pemiliki Homestay di sekitar Borobudur dimiliki oleh masyarakat dan swasta.
Namun, pemerintah juga berperan dalam melakukan renovasi terhadap rumah warga yang dijadikan homestay dalam rangka mendukung KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional).
Tabel 1. Data akomodasi destinasi Candi Borobudur tahun 2010-2017
Tahun Keberadaan dan Jumlah Indikator Aspek Pelayanan Dukungan Destinasi Candi Borobudur
Aksesibilitas Akomodasi
Hotel/homestay Toko/minimarket Restoran/warung makan
2010 Jalan Aspal 20 30 29
2011 Jalan Aspal 20 33 34
2012 Jalan Aspal 24 39 35
2013 Jalan Aspal 30 44 37
2014 Jalan Aspal 35 54 40
2015 Jalan Aspal 41 70 41
2016 Jalan Aspal 45 89 43
2017 Jalan Aspal 49 107 43
Struktur Organisasi Kepengurusan Arif Yahya, Wisnutama, dan Sandiaga Uno
Gambar 1 Struktur organisasi kepengurusan Arif Yahya
Gambar 2 Struktur organisasi kepengurusan Wishnutama
Gambar 3 Struktur organisasi kepengurusan Sandiaga Uno
Dari ketiga struktur organisasi tersebut, terlihat bahwa perbedaannya terletak pada jumlah deputi, jumlah anggota sekretariat dan posisi wakil menteri. Pada kepengurusan Arif Yahya, terdapat 4 deputi 3 sekretariat, dan tidak memiliki wakil menteri. Pada kepengurusan Wishnutama, terdapat 8 deputi, 2 sekretariat, dan memiliki wakil menteri. Sementara pada kepengurusan Sandiaga Uno terdapat 7 deputi, 1 sekretaris utama, 4 staf ahli, dan 1 inspektur utama.
Kondisi Wisata pada masa pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 yang terjadi di awal tahun 2020 berdampak kepada 2 sisi perekonomian, yaitu sisi persediaan dan sisi permintaan. Dari sisi persediaan, hal-hal yang terkena dampaknya yaitu penutupan pabrik dan pengurangan berbagai sektor jasa yang menyebabkan gangguan rantai pasokan global secara signifikan. Sedangkan dari sisi permintaan, adanya kebijakan lock down berdampak pada penurunan aktivitas perjalanan bisnis dan pariwisata serta penurunan jumlah konsumsi barang dan jasa. Pemerintah sudah membuat stimulus jilid I untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi nasional. Kebijakan stimulus julid I difokuskan untuk membantu sektor pariwisata, akomodasi pariwisata, dan transportasi. Alokasi dana untuk program ini yaitu 10,2 triliun rupiah. Kemudian, stimulus jilid II diumumkan pada 13 Maret 2020, terdapat empat kebijakan terkait fiskal atau perpajakan dan terkait non fiskal. Dana yang dialokasikan untuk stimulus jilid II ini mencapai 22,9 triliun rupiah.