RESPONSI PERTEMUAN 3
MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGNEGARAAN
NAMA : LUTHFIA NURUL IZZA
NIM : 222313179
KELAS : 2KS4
Akun Kaskus Fufufafa telah menjadi sorotan publik karena unggahannya yang berisi hinaan dan merendahkan orang lain. Fenomena ini mencerminkan masalah yang lebih luas terkait dengan penggunaan akun anonim di media sosial, yang sering kali digunakan untuk menyebarkan konten negatif. Dari perspektif Pancasila sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), penting untuk menganalisis dampak dari perilaku ini terhadap masyarakat.
Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, menekankan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan. Namun, penggunaan akun anonim sering kali mengabaikan nilai-nilai tersebut. Dalam konteks ini, media sosial berfungsi sebagai arena di mana individu dapat mengekspresikan diri tanpa mempertanggungjawabkan tindakan mereka. Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa media baru dapat berfungsi sebagai mesin perubahan sosial yang mempengaruhi keyakinan dan perilaku masyarakat (Haramain et al., 2020). Ketika individu merasa tidak terikat oleh identitas mereka, mereka cenderung lebih bebas dalam menyebarkan ujaran kebencian dan konten negatif, yang pada gilirannya dapat merusak tatanan sosial (Mardiana et al., 2019).
Lebih lanjut, penggunaan akun anonim di media sosial dapat dilihat sebagai bentuk perilaku yang didorong oleh kebutuhan untuk mengungkapkan diri tanpa risiko. Penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali mengejar tujuan strategis dalam pengungkapan diri di platform media sosial, yang dapat mempengaruhi kedekatan dan intimasi dalam interaksi (Абакумова et al., 2020). Dalam konteks ini, akun anonim memungkinkan individu untuk berpartisipasi dalam diskusi tanpa takut akan konsekuensi sosial, tetapi sering kali hal ini disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian dan merendahkan orang lain.
Dari sudut pandang komunikasi, media sosial berfungsi sebagai ruang nilai publik di mana berbagai pandangan dan ide dapat dipertukarkan. Namun, ketika ruang ini dipenuhi dengan konten negatif, seperti yang ditunjukkan oleh akun Fufufafa, hal ini dapat mengganggu dialog konstruktif
dan menciptakan polarisasi dalam masyarakat (Parker & Bozeman, 2018). Penelitian menunjukkan bahwa media tidak hanya mempengaruhi apa yang dipikirkan orang, tetapi juga bagaimana mereka harus berpikir (Chigona & Mooketsi, 2011). Dengan demikian, konten negatif yang disebarkan melalui akun anonim dapat membentuk persepsi masyarakat dan memperkuat stereotip yang merugikan.
Dalam konteks Pancasila, penting untuk mengedukasi masyarakat tentang tanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Pancasila menekankan pentingnya menghormati satu sama lain dan menjaga persatuan. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi penyebaran konten negatif harus melibatkan pendekatan yang mengedukasi pengguna tentang dampak dari tindakan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kebebasan berekspresi di media sosial perlu disertai dengan kesadaran akan tanggung jawab sosial (Mardiana et al., 2019). Dengan demikian, pendidikan dan kesadaran publik dapat menjadi alat yang efektif untuk mengurangi perilaku negatif di media sosial.
Pentingnya penegakan regulasi juga perlu dipertimbangkan sebagai langkah untuk membatasi penyebaran konten negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah dan platform media sosial dapat bekerja sama dalam memperketat aturan serta memperkuat mekanisme pelaporan konten negatif. Di samping itu, pembatasan atau pengawasan pada akun anonim yang sering menjadi media untuk ujaran kebencian perlu diterapkan tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi yang tetap menghormati nilai-nilai demokrasi. Dengan menggabungkan pendekatan edukasi dan penegakan regulasi yang efektif, diharapkan penggunaan media sosial dapat lebih mengedepankan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial, sehingga menjadi ruang yang produktif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Secara keseluruhan, fenomena akun anonim seperti Fufufafa menunjukkan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam era digital. Penggunaan akun anonim dapat mengarah pada penyebaran konten negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan strategi yang tidak hanya mengedukasi pengguna tentang tanggung jawab sosial mereka, tetapi juga mendorong penggunaan media sosial yang lebih positif dan konstruktif.
Referensi:
Chigona, W. and Mooketsi, B. (2011). In the eyes of the media: discourse of an ict4d project in a developing country. The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, 46(1), 1-16. https://doi.org/10.1002/j.1681-4835.2011.tb00328.x
Haramain, M., Nurhikmah, N., JUDDAH, A., & Rustan, A. (2020). Contestation of islamic radicalism in online media: a study with foucault’s theory on power relation..
https://doi.org/10.4108/eai.1-10-2019.2291698
Mardiana, H., Hellystia, D., & Ghufron, M. (2019). The implication of freedom of expression for teenagers on social media in indonesia.. https://doi.org/10.4108/eai.8-12-2018.2283907
Parker, M. and Bozeman, B. (2018). Social media as a public values sphere. Public Integrity, 20(4), 386-400. https://doi.org/10.1080/10999922.2017.1420351
Абакумова, И., Grishina, A., Zvezdina, G., Zvezdina, E., & Dyakova, E. (2020). Models of information behavior: changes in psychological boundaries of internet users. E3s Web of Conferences, 210, 20015. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202021020015