MAKALAH PANCASILA
“PANCASILA DITINJAU DARI SEGI FILSAFAT”
DIBUAT OLEH :
1. AGUNG FIRMANSYAH
(H1A016075)
2. RISWANTO
(H1A016077)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
PURBALINGGA
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... 1
BAB I... 1
PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah... 1
1.3 Tujuan... 1
1.4 Manfaat... 1
BAB II... 1
KAJIAN TEORI... 1
2.1 Pengertian Pancasila... 1
2.2 Pengertian Filsafat... 1
BAB III... 1
KONDISI FILSAFAT PANCASILA INDONESIA SAAT INI...1
BAB IV... 1
PEMBAHASAN... 1
4.1 Pancasila sebagai Suatu Sistem...1
4.2 Pancasila sebagai Sistem Filsafat...1
4.3 Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai suatu Sistem Filsafat...1
4.4 Fungsi dan Manfaat Filsafat Pancasila...1
5.1 Kesimpulan... 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh
PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, diundangkan dalam
Berita Republik Indonesia tahun II No.7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945. Dalam
perjalanan sejarahnya, eksistensi Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia
mengalami berbagai macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa
demi kokoh dan tegaknya kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi Negara Pancasila.
Berdasarkan alasan serta kenyataan tersebut maka sudah menjadi tanggung jawab kita bersama
sebagai warga negara untuk mengembangkan serta mengkaji Pancasila sebagai suatu hasil karya besar
bangsa kita yang setingkat dengan paham atau isme-isme besar dunia dewasa ini seperti Liberalisme,
Sosialisme, dan Komunisme. Upaya untuk mempelajari serta mengkaji Pancasila tersebut terutama
dalam kaitannya dengan realisasi filsafat Pancasila dalam kehidupan bernegara untuk mencapai
citi-cita.
Dengan demikian falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia harus diketahui oleh
seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa
yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk
kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa dan negara Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan pokok permasalahan yang akan
diuraikan dalam makalah ini sebagai berikut :
2. Apakah fungsi dan manfaat filsafat pancasila?
3. Bagaimana kondisi filsafat pancasila Indonesia saat ini?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1. Memenuhi tugas mata kuliah Pancasila.
2. Menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.
3. Mengetahui makna pancasila ditinjau dari segi filsafat.
4. Mengetahui fungsi dan manfaat filsafat Pancasila.
5. Mengetahui kondisi filsafat pancasila Indonesia saat ini.
1.4 Manfaat
Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah:
1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.
2. Mahasiswa dapat mengetahui makna pancasila ditinjau dari segi filsafat.
3. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan manfaat filsafat Pancasila.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Pancasila
Kata Pancasila berasal dari kata Sansakerta (Agama Budha) yaitu untuk mencapai Nirwana diperlukan
5 Dasar/Ajaran, yaitu:
1. Jangan mencabut nyawa makhluk hidup/dilarang membunuh.
2. Jangan mengambil barang orang lain/dilarang mencuri
3. Jangan berhubungan kelamin/dilarang berjinah
4. Jangan berkata palsu/dilarang berbohong/berdusta.
5. Jangan minum yang menghilangkan pikiran/dilarang minuman keras.
Diadaptasi oleh orang Jawa menjadi 5 M = Madat/Mabok, Maling/Nyuri, Madon/Awewe, Maen/Judi,
Mateni/Bunuh. Pengertian Pancasila meliputi tiga lingkup, yaitu pengertian Pancasila secara
etimologis, historis, dan terminologis.
1. Pengertian Pancasila secara Etimologis
Secara etimologis istilah Pancasila berasal dari Sansekerta dari India (bahasa kasta Brahmana) adapun
bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut Moh.Yamin, dalam bahasa Sansekerta Pancasila
memiliki dua macam arti secara leksikal yaitu :
a. “panca” artinya “lima”;”syila” (vocal i pendek) artinya “batu sendi”,”alas”,atau “dasar”. Maka
secara harfiah Pancasila berarti berbatu sendi lima atau dasar yang memiliki lima unsur.
b. “panca” artinya “lima”;”syiila” (vocal i panjang) artinya “peraturan tingkah laku, yang penting atau
yang senonoh. Maka Pancasila bermakna lima aturan tingkah laku yang penting.
Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr.Radjiman
Widyodiningrat mengajukan suatu masalah dalam sidang tersebut,yaitu tentang rumusan dasar Negara
yang akan dibentuk. Kemudian tampillah tiga orang pembicara dalam siding tersebut yaitu
Moh.Yamin,Soepomo,dan Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang tersebut,Ir.Soekarno
berpidato secara lisan tentang rancangan rumusan dasar Negara Indonesia yang dinamakan
Pancasila,yang berarti lima dasar. Menurut Soekarno ide ini berasal dari salah satu temannya,seorang
ahli bahasa yang tidak disebutkan namanya.
3. Pengertian Pancasila secara Terminologis
Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara Republik Indonesia.
Untuk melengkapi alat-alat kelengkapan Negara sebagaimana lazimnya Negara-negara yang
merdeka,maka PPKI segera mengadakan siding. Dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945telah
berhasil mengesahkan UUD Negara Republik Indonesia yang dikenal dengan UUD 1945.
2.2 Pengertian Filsafat
Secara etimologis kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philein” yang berarti “cinta” dan “sophos”
yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom” ( Nasution : 1973 ). Filsafat adalah cinta
kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang
berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
Dalam pengertian khusus, karena filsafat telah mengalami perkembangan yang cukup lama tentu
dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya ruang, waktu, keadaan dan orangnya. Itulah sebabnya
maka timbul berbagai pendapat mengenai pengertian filsafat yang mempunyai kekhususannya
masing-masing. Ada berbagai aliran didalam filsafat adalah suatu bukti bahwa ada bemacam-macam pendapat
yang khusus yang berbeda satu sama lain. Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan
dalam khasanah ilmu adalah:
1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah.
Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu
realitas kesemestaan, termasuk makhluk hidup dan manusia, ialah materi. Semua realitas itu
ditentukan oleh materi (misalnya benda,makanan) dan terikat pada hukum alam, yaitu hukum
sebab-akibat (hukum kausalitas) yang bersifat obyektif.
2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau
intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi merupakan hakikat
yang asli dan abadi. Aliran realisme menggambarkan bahwa kedua aliran di atas, materials dan
idealisme yang bertentangan itu, tidak sesuai dengan kenyataan (tidak realistis). Sesungguhnya,
realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda (materi) semata- mata. Karenanya, realitas
adalah paduan benda (materi dan jasmaniah) dengan yang nonmateri (spiritual, jiwa, dan rohaniah).
Jadi, menurut aliran realisme, realitas merupakan sintesis antara jasmaniah-rohaniah, materi dan
nonmateri.
4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak
BAB III
KONDISI FILSAFAT PANCASILA INDONESIA SAAT INI
Pancasila adalah dasar negara, ideologi bangsa dan falsafah serta pandangan hidup bangsa, yang
didalamnya terkandung nilai dasar (intrinsik), nilai instrumental dan nilai praksis. Selain itu Pancasila
sebagai ideologi terbuka memiliki 4 dimensi yaitu: dimensi realita, idealisme, fleksibilitas dan
pembangunan nasional. Namun nilai-nilai yang dimiliki Pancasila pada saat ini kondisinya
dipengaruhi oleh nilai-nilai universal, globalisasi bercirikan demokratisasi, hak asasi manusia dan
lingkungan hidup. Selain itu pula, kemajuan iptek berupa informasi dan transformasi menjadikan
dunia tanpa batas, dan era pasar bebas bercirikan liberalisme ekonomi kapitalis berdampak terhadap
pergeseran peradaban. Dari kenyataan tersebut Pancasila mengalami perubahan yang cukup tajam,
dimana di dalam kehidupan masyarakat nilai-nilai Pancasila banyak ditinggalkan bahkan dalam tindak
tanduk, perilaku, moral warga negri ini menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.
Terabaikannya Pancasila juga dapat dilihat dari dicabutnya Tap MPR nomor 2/1978 tentang P4 dan
dibubarkannya BP7, yang berarti secara formal tidak ada lagi lembaga yang mengkaji dan
mengembangkan Pancasila. Selain itu UU nomor 20/2003 tentang pendidikan nasional tidak lagi
menyebut Pancasila sebagai pelajaran wajib. Sehingga kedepan generasi muda akan kehilangan makna
Pancasila, sebagai jati diri bangsa yang digali dari bumi sendiri. Nilai-nilai luhur Pancasila dalam
implementasinya antara harapan dan kenyataan masih jauh dari apa yang diharapkan, hal tersebut
dapat dilihat pada dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara saat ini yang antara lain :
aturan negara yang belum memadai dan mencapai sasaran yang diinginkan,
penyelenggaraan negara yang belum sesuai dengan komitmen yang telah disepakati, masyarakat apatis
menerima Pancasila, dalam era Otonomi Daerah banyak terjadi ketimpangan di daerah, isu sara,
konflik horisontal, primordialisme, mementingkan ego sektoral, yang kesemuanya meninggalkan
Setiap sila-sila dalam Pancasila dewasa ini seharusnya dihayati dan dilaksanakan, bukan dilupakan
dan dikesampingkan. Kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang masih sangat jauh dari penerapan
sila-sila Pancasila-sila, namun sudah ada beberapa kebijakan yang mengarah kepada penerapan sila-sila Pancasila-sila,
walaupun sedikit. Setiap sila dalam Pancasila kalau diteliti, kebijakan pemerintah masih sangat jauh
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pancasila sebagai Suatu Sistem
Pancasila yang terdiri dari lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Yang dimaksud
dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling bergabungan, saling bekerja sama
untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh, sistem
lazimnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1) Suatu kesatuan bagian-bagian
2) Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
3) Saling berhubungan, saling ketergantungan
4) Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem)
5) Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks (Shore and Voich, 1974).
Dasar filsafat negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asas
peradaban. Namun demikian, sila-sila pancasila itu bersama-sama merupakan suatu kesatuan dan
keutuhan, setiap sila merupakan suatu unsur (bagian yang mutlak) dari kesatuan Pancasila. Maka dasar
filsafat negara pancasila merupakan suatu kesatuan yang bersifat majemuk tunggal. Setiap sila tidak
dapat berdiri sendiri terpisah dari sila yang lain. Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat dipahami
dari pemikiran dasar yang terkandung dalam pancasila, yaitu pemikiran tentang manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan
4.2 Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi substansi
dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai
refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa,
dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh.
Ciri sistem Filsafat Pancasila itu antara lain:
1. Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh. Dengan kata lain, apabila
tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila lainnya terpisah-pisah maka itu bukan Pancasila.
2. Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Sila 1, menjiwai sila 2,3,4 dan 5;
Sila 2, dijiwai sila 1, dan menjiwai sila 3, 4 dan 5;
Sila 3, dijiwai sila 1, 2, dan menjiwai sila 4, 5;
Sila 4, dijiwai sila 1,2,3, dan menjiwai sila 5;
Sila 5, dijiwai sila 1,2,3,4.
4.3 Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai suatu Sistem Filsafat
Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang bersifat
formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar epistemologis serta dasar
axiologis dari sila-sila Pancasila. Sebagaimana dijelaskan bahwa kesatuan sila-sila Pancasila adalah
bersifat hierarkhis dan mempunyai bentuk piramidal, digunakan untuk menggambarkan hubungan
urutan-urutan luas (kuantitas) dan dalam pengertian inilah hubungan kesatuan sila-sila Pancasila itu
dalam arti formal logis. Wawasan filsafat meliputi bidang penyelidikan ontologi, epistemologi,
1. Aspek Ontologi
Menurut Runes, ontologi ialah teori tentang ada, keberadaan atau eksistensi. Menurut Aristoteles,
ontologi adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu dan disamakan artinya dengan metafisika.
Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya
saja melainkan juga meliputi hakikat dasar dari sila-sila Pancasila atau secara filosofis merupakan
dasar dari sila-sila Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah merupakan asas
yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologi. Dasar ontologi
Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memilki hakikat hak mutlak Monopluralis, oleh
karena itu hakikat dasar ini disebut sebagai dasar antropologis.
Hubungan kesesuaian antara negara dan landasan sila-sila Pancasila adalah berupa hubungan
sebab-akibat:
a. Negara sebagai pendukung hubungan, sedangkan Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil sebagai
pokok pangkal hubungan.
b. Landasan sila-sila Pancasila yaitu Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil adalah sebagai sebab, dan
negara adalah sebagai akibat.
2. Aspek Epistemologi
Epistemologi, menurut Runes, adalah bidang atau cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat,
susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Pengetahuan manusia, sebagai hasil pengalaman
dan pemikiran, membentuk budaya. Bagaimana proses terjadinya meliputi pengetahuan sampai
membentuk kebudayaan, sebagai wujud keutamaan (ssuperioritas)) manusia, ingin disadari lebih
dalam. Bagaimana manusia mengetahui bahwa ia tahu, atau bagaimana manusia mengetahui bahwa
sesuatu itu ilmu pengetahuan, hal itu menjadi penyelidikan epistemologi.
Menurut Titus (1984:20) terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi, yaitu:
2. Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;
3. Tentang watak pengetahuan manusia.
Secara epistemologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari
hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya
juga merupakan sistem pengetahuan. Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief system, sistem
cita-cita, menjadi suatu ideologi. Oleh karena itu Pancasila harus memiliki unsur rasionalitas terutama
dalam kedudukannya sebagai sistem pengetahuan. Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya
tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Dengan demikian susunan Pancasila memiliki
sistem logis baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.
Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal, yaitu:
1. Isi arti Pancasila yang umum universal, yaitu hakikat sila-sila Pancasila yang merupakan inti sari
Pancasila sehingga merupakan pangkal tolak dalam pelaksanaan dalam bidang kenegaraan dan tertib
hukum Indonesia serta dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan konkrit.
2. Isi arti Pancasila yang umum kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman kolektif negara dan
bangsa Indonesia terutama dalam tertib hukum Indonesia.
3. Isi arti Pancasila yang bersifat khusus dan konkrit, yaitu isi arti Pancasila dalam realisasi praksis
dalam berbagai bidang kehidupan sehingga memiliki sifat khhusus konkrit serta dinamis (lihat
Notonagoro, 1975: 36-40)
3. Aspek Aksiologi
Aksiologi, menurut Runes, berasal dari istilah Yunani,axios yang berati nilai, manfaat, pikiran atau
ilmu/teori. Dalam pengertian yang modern, axiologi disamakan dengan teori nilai, yakni sesuatu yang
diinginkan, disukai, atau yang baik, dan juga bidang yang menyelidiki hakikat nilai, kriteria, dan
kedudukan metafisika sebagai suatu nilai.
1. Tingkah laku moral, yang berwujud etika;
2. Ekspresi etika, yang berwujud estetika atau seni dan keindahan;
3. Sosio-politik, yang berwujud ideologi.
Terdapat berbagai macam pandangan tentang nilai dan hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan
sudut pandangnya masing-masing dalam menentukan tentang pengertian serta hierarki nilai. Menurut
tinggi rendahnya, nilai- nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkat, sebagai berikut :
1. Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakan dan tidak
mengenakan.
2. Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi keidupan (Werte
des vitalen Fuhlens) misalnya kesehatan.
3. Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai- nilai kejiwaan yang sama tidak tergantung dari
keadaan jasmani maupun lingkungan. Nilai-nilai semacam itu ialah keindahan, kebenaran, dan
pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
4. Nilai-nilai kerohanian: dalam ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci.
Walter G. Everet menggolong-golongkan nilai-nilai manusiawi ke dalam kelompok yaitu:
1. Nilai-nilai ekonomis, ditujukan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang dapat dibeli.
2. Nilai-nilai kejasmanian, membantu pada kesehatan, efisiensi dan keindahan dari kehidupan badan
3. Nilai-nilai hiburan, nilai-nilai permainan dan waktu senggan yang dapat menyumbangkan pada
pengayaan kehidupan
4. Nilai-nilai sosial, berasal mula dari berbagai bentuk perserikatan manusia
5. Nilai-nilai watak, keseluruhan dari keutuhan keporibadian dan sosial yang diinginkan
7. Nilai-nilai intelektual, nilai-nilai pengetahuan dan pengajaran kebenaran
8. Nilai-nilai keagamaan
Notonagoro membagi nilai menjadi tiga yaitu:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan
hidup,seperti makan,minum,dll.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani.
Nilai kerohanian ini dapat dibedakan atas empat macam :
1. Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal manusia.
2. Nilai keindahan, atau nilai estetis, yang bersumber pada unsur perasaan manusia.
3. Nilai kebaikan, atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak manusia.
4. Nilai religius,yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai religious ini bersumber
kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.
Dalam filsafat Pancasila, disebutkan ada tiga tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan
nilai praktis. Nilai dasar adalah asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat mutlak, sebagai
sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-nilai dasar dari Pancasila adalah nilai
ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai instrumental
adalah nilai yang berbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi
dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara. Nilai praksis adalah nilai yang
sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan.
4.4 Fungsi dan Manfaat Filsafat Pancasila
Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang ingin
dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup (filsafat hidup). Dengan pandangan hidup inilah
sesuatu bangsa akan memandang persoalan-persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta
cara bagaimana memecahkan persoalan-persoalan tadi. Tanpa memiliki pandangan hidup maka suatu
bangsa akan merasa terombang-ambing dalam menghadapi persoalan-persoalan besar yang pasti akan
timbul, baik persoalan-persoalan di dalam masyarakatnya sendiri, maupun persoalan-persoalan besar
umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia ini. Dengan pandangan hidup yang
jelas sesuatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan
masalah-masalah polotik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju.
Dengan berpedoman pada pandangan hidup itu pula suatu bangsa akan membangun dirinya.
2) Filsafat Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Pancasila yang dikukuhkan dalam sidang I dari BPPK pada tanggal 1 Juni 1945 adalah di kandung
maksud untuk dijadikan dasar bagi negara Indonesia merdeka. Adapun dasar itu haruslah berupa suatu
filsafat yang menyimpulkan kehidupan dan cita-cita bangsa dan negara Indonesa yang merdeka. Di
atas dasar itulah akan didirikan gedung Republik Indonesia sebagai perwujudan kemerdekaan politik
yang menuju kepada kemerdekaan ekonomi, sosial dan budaya.
Oleh karena Pancasila tercantum dalam UUD 1945 dan bahkan menjiwai seluruh isi peraturan dasar
tersebut yang berfungsi sebagai dasar negara sebagaimana jelas tercantum dalam alinea IV Pembukaan
UUD 1945 tersebut, maka semua peraturan perundang-undangan Republik Indonesia (Ketetapan
MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang, Peraturan
Pemerintah, Keputusan Presiden dan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya) yang dikeluarkan oleh
negara dan pemerintah Republik Indonesia haruslah pula sejiwa dan sejalan dengan Pancasila (dijiwai
oleh dasar negara Pancasila). Isi dan tujuan dari peraturan perundang-undangan Republik Indonesia
tidak boleh menyimpang dari jiwa Pancasila. Bahkan dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966
ditegaskan, bahwa Pancasila itu adalah sumber dari segala sumber huum (sumber huum formal,
3) Filsafat Pancasila sebagai Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia
Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksudkan dengan kepribadian Indonesia ialah :
Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan
bangsa-bangsa lainnya. Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa-bangsa Indonesia adalah pencerminan dari garis
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari materi-materi yang telah dipaparkan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa filsafat
Pancasila merupakan ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia yang membedakannya dari
bangsa-bangsa lain. Filsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok
pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh untuk mencapai cita-cita dan tujuan.
Pancasila adalah kristalisasi nilai-nilai budaya Indonesia, yang digali nilai-nilai luhur Bangsa sejak
zaman dahulu kala, saat pemerintahan kerajaan Hindu maupun Islam, sampai dengan Pemerintahan
saat ini, dan kemudian dirumuskan dengan susah payah oleh para pejuang nasional kita. Kondisi
Indonesia saat ini dapat diibaratkan seperti sebuah kapal yang berjalan tanpa arah, termasuk maraknya
kasus korupsi. Hal ini diakibatkan semakin tereliminasinya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Aplikasi dan praktek nyata nilai-nilai Pancasila yang semakin luntur
menyebabkan maraknya penyimpangan dimana-mana.
Filsafat Pancasila memiliki manfaat dan fungsi sebagai dasar Negara,pandangan hidup bangsa, jiwa
dan kepribadian bangsa, tujuan Negara, serta perjanjian luhur bangsa Indonesia.
5.2 Saran
Sebagai warga negara Indonesia, kita harus berpikir filsafat serta mengamalkan apa yang terkandung
dalam filsafat bangsa kita yakni Pancasila demi mencapai kesejahteraan bangsa dan Negara sehingga
kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi. Pengamalan nilai-nilai filsafat Pancasila sangat
diperlukan demi tercapainya cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila yang telah
dikesampingkan dalam berbagai bidang kehidupan harus dipupuk kembali agar dapat tumbuh subur di