Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)1
JURNAL ILMIAH AGRITAS VOL 6 NO 1 1-10
DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP SOSIAL EKONOMI INDUSTRI JAMU (STUDI KASUS: IKM JAMU BIMA SEJAHTERA
DI DESA MERDIKOREJO, KECAMATAN TEMPEL, SLEMAN, YOGYAKARTA)
THE IMPACT OF COVID-19 PANDEMIC ON SOCIO-ECONOMY OF JAMU INDUSTRY (CASE STUDY: IKM JAMU BIMA SEJAHTERA IN
MERDIKOREJO VILLAGE, TEMPEL DISTRICT, SLEMAN, YOGYAKARTA)
Fifit Rizki Khoerunnimah1*, Ari Astuti2, Artita Devi Maharani3
1,2,3 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
*Email korespondensi : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sebelum dan sesudah pandemi covid-19. Metode dasar dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan menggunakan analisis komparatif untuk membandingkan kondisi sosial ekonomi sebelum dan sesudah pandemi covid-19. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode sensus berjumlah 29 responden. Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji paired sample t-Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih baik atau sama dengan sebelum terjadi pandemi covid-19. Variabel sosial ekonomi meliputi indikator kesehatan, pendidikan, dan pendapatan. Faktor yang mempengaruhi indikator kesehatan sesudah pandemi covid-19 adalah kekhawatiran resiko tertular covid-19 di tempat berobat (rumah sakit, klinik, bidan, dan puskesmas) sehingga lebih memilih pengobatan alternatif, menjaga pola hidup sehat, mengkonsumsi jamu, dan menerapkan protokol kesehatan. Faktor yang mempengaruhi indikator pendidikan sesudah pandemi covid-19 meliputi pembelajaran jarak jauh atau daring dianggap tidak efektif baik waktu, tenaga, dan biaya. Faktor yang mempengaruhi indikator pendapatan sesudah pandemi covid-19 meliputi terjadinya peningkatan minat masyarakat terhadap konsumsi jamu, kenaikan harga bahan baku jamu, dan kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial atau lokcdown lokal. Faktor yang mempengaruhi perbedaan pendapatan reponden sesudah pandemi covid-19 yaitu modal, pengalaman berusaha, cita rasa jamu, dan frekuensi hari kerja.
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)2 Kata kunci : IKM Jamu Bima Sejahtera, covid-19, sosial ekonomi
ABSTRACT
The research aimed to know the social economic conditions of the IKM Jamu Bima Sejahtera before and after the covid-19 pandemic. The basic methods in research used quantitative descriptive methods and comparative analysis. Data collection techniques used questionnaires and interviews. Whereas, the method used was the cencus method with 29 sampling. Hypothetical testing on this research was performed using t-test paired samples.
Research has shown that the socio-economic conditions of the IKM Jamu Bima Sejahtera improved after covid-19 pandemic, or as good as those before covid-19 pandemic. Factors afffecting health indicators after covid-19 pandemic include risk concerns of exposure to covid-19 at nursing facilities (hospitals, clinics, midwife, and medical centers) maintaining a health pattern of life, consuming herbs, and applying health protocols. Factors affecting educational indicators after covid-19 pandemic include online learning that seems ineffective at time, energy, and cost. Factors affecting the income indicators after covid-19 pandemic include increased public interest in herbal consumption, rising the price of herbal herbs, and government policies about social restrictions or local lockdown. Factors that affected respondent income differences following covid-19 pandemic include capital, experience time, herbal flavor, and work’s day frequency.
Keywords: IKM Jamu Bima Sejahtera, covid-19, socio-economic
PENDAHULUAN
Covid-19 menjadi wabah yang meresahkan karena penyebarannya yang terjadi dengan sangat cepat melalui kontak antara manusia dengan manusia sehingga jumlah penderita terkonfirmasi secara drastis terus meningkat dalam waktu singkat. Namun Kemenkes menyatakan bahwa pemulihan dari infeksi virus ini dapat dilakukan tanpa perawatan khusus, jika sistem imun seseorang kuat karena virus bersifat self medication (Syahrir et al, 2020).
Penelitian Aziz et al (2020) menyatakan bahwa tanaman lokal Indonesia baik telah terbukti secara turun temurun mampu bertindak sebagai imunodilator, mencegah tindakan antagonis pada stres oksidatif serta perannya dalam memerangi penyakit yang disebabkan oleh virus.
Khasiat jamu yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus covid-19 dijadikan peluang usaha bagi para pedagang jamu dan rempah-rempah. Salah satu pedagang rempah dan jamu di Pasar Beringharjo, Purwoto membuat empon-empon dengan label empon-empon corona yang terdiri dari jahe, kunyit, temulawak, kayu manis, serai, dan secang. Paket empon-empon corona terjual lebih dari 150 kemasan saat pertama dijual (Dinnata, 2020). Pedagang jamu tradisional di Kecamatan Baureno menyatakan pandemi covid-19 berpengaruh terhadap penjualan jamu tradisional dengan peningkatan penjualan sebanyak 70% (Blokbojonegoro.com, 2020). Pemerintah juga melakukan upaya dalam
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)3 mendukung pelaku usaha jamu. Dikutip dari Antaranews (2020) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan sertifikasi kepada 30 pelaku usaha jamu gendong di Yogyakarta terkait hygiene dan sanitasi saat memproduksi jamu.
Peluang industri jamu di masa pandemi menimbulkan permasalahan baru. Meski ada peningkatan permintaan berbagai produk jamu akibat pandemi Covid-19, namun perusahaan jamu di wilayah lokal merumahkan sekitar 30% karyawan. Alasan perusahaan merumahkan karyawannya adalah untuk memangkas biaya operasional (Sindonews.com, 2020). Hal ini juga berdampak terhadap harga bahan baku jamu yang semakin tinggi. Menurut Sumini, salah satu penjual jamu di Colomadu, Kabupaten Karanganyar mengeluhkan kenaikan bahan baku jamu terutama pada jahe merah (Kontan.co.id, 2020).
Salah satu usaha jamu tradisional yang ada di D.I Yogyakarta adalah “IKM Jamu Bima Sejahtera” yang terletak di Dusun Gesikan, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. IKM Jamu Bima Sejahtera memiliki jumlah anggota 30 orang. IKM Jamu Bima Sejahtera juga sudah diakui sebagai Industri Kecil Menengah oleh Dinas Perindustrian. Pada tahun 2018 IKM Jamu Bima Sejahtera ditetapkan menjadi Sentra Jamu di Sleman oleh Bupati Sleman. Terbentuknya IKM Jamu Bima Sejahtera menciptakan inovasi produk-produk jamu yang dikemas menjadi lebih modern. Produk jamu serbuk instan ini juga sudah memiliki sertifikat izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). IKM Jamu Bima Sejahtera juga memiliki jaminan tentang kualitas jamunya. Setiap enam bulan, pihak Dinas Kesehatan Sleman akan datang untuk mengecek hasil olahan jamu.
Sosial ekonomi merupakan aspek yang penting dan harus diperhatikan untuk mengurangi dampak pandemi secara efektif. Penelitian ini juga dapat menjadi informasi tambahan bagi pemerintah dalam membuat skenario ataupun strategi guna memajukan industri jamu. Dengan demikian, industri jamu tidak hanya populer di masa pandemi namun dapat terus mengembangkan potensinya di masa mendatang.
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana kondisi sosial ekonomi di IKM Jamu Bima Sejahtera sebelum terjadi pandemi covid-19 dan kondisi sosial ekonomi di IKM Jamu Bima Sejahtera setelah terjadi pandemi covid-19.
Hipotesis dari penelitian ini adalah H0 = µ1 > µ2 dimana kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih baik atau sama dengan sebelum terjadi pandemi covid-19 serta Ha = µ1 < µ2 dimana kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih rendah dibandingkan sesudah pandemi covid-19.
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)4 METODE PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini berlangsung pada bulan Januari 2021 - Juni 2021 sedangkan lokasi penelitian di IKM Jamu Bima Sejahtera di Dusun Gesikan, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian yang menggunakan seluruh populasi sebagai sampel maka kita melakukan sensus (Wirartha, 2006). Populasi pada penelitian ini adalah anggota IKM Jamu Bima Sejahtera yang berjumlah 30 orang. Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah variabel sosial ekonomi yang menggambarkan sosial ekonomi dalam suatu rumah tangga. Oleh karena itu, pada penelitian ini hanya 29 orang yang menjadi responden dikarenakan terdapat sepasang suami istri yang sama-sama menjadi anggota IKM Jamu Bima Sejahtera.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuesioner dan wawancara. Variabel sosial ekonomi pada penelitian terdiri dari indikator kesehatan, pendidikan, pendapatan, dan kepemilikan fasilitas hidup. Pada penelitian ini pengukuran variabel diukur dengan menggunakan skoring, yaitu memberikan skor pada setiap soal.
Penelitian ini menggunakan sejumlah statemen dengan skala 5, skala likert bentuk pilihan ganda.
Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji –t berpasangan (paired t-test) adalah suatu metode pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas (berpasangan).
Ciri-ciri pada kasus yang berpasangan adalah salah satu individu (objek penelitian) dikenai 2 buah perlakuan yang berbeda. Rumus t-test yang digunakan untuk menguji hipotesis perbedaan dua sampel yang berkorelasi secara statistik secara rumus dapat ditulis sebagai
berikut: :
thit = 𝐷̅
√𝑆𝐷
√𝑛
Dengan :
SD = √𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠 Var(s2) = 1
𝑛−1∑𝑛𝑖=1((𝑥𝑗 − 𝑥𝑖) − 𝐷 )̅̅̅̅2
Keterangan : t = nilai t hitung
𝐷 = rata-rata selisih pengukuran 1 dan 2 SD = standar deviasi selisih pengukuran 1 dan 2 n = jumlah sampel
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)5 Kriteria pengujian hipotesis :
Apabila thit > ttab maka H0 ditolak artinya kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih rendah dibandingkan sebelum terjadi pandemi covid-19.
Apabila thit < ttab maka H0 diterima artinya kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih baik sama dengan dibandingkan sebelum terjadi pandemi covid-19.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deksriptif kuantitatif. Teknik ini digunakan untuk mengolah data yang diperoleh dari jawaban-jawaban responden melalui pemberian skor dengan kriteria tertentu. Jenis statistik yang disajikan dalam penelitian ini adalah angka indeks. Teknik skoring yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan skor maksimal 5 dan skor minimal 1.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan variabel sosial ekonomi. Kuesioner penelitian ini terdapat 9 soal untuk kondisi sebelum covid-19 dan kondisi sesudah covid-19. Soal merupakan pilihan ganda yang tersusun dari 4 indikator sosial ekonomi yaitu pendidikan, kesehatan, pendapatan, dan kepemilikan fasilitas hidup.
Nilai skoring diperoleh dari pemberian asumsi skor pada setiap jawaban instrumen soal.
Pada penelitian ini analisis data digunakan untuk menentukan kategori atau jenis deskriptif kuantitatif yang diperoleh dari masing-masing indikator dalam variabel, dari perhitungan deskriptif kuantitas kemudian dapat ditafsirkan dalam bentuk pernyataan.
Klasifikasi kategori tingkatan dalam bentuk persentase adalah sebagai berikut: kelas skor
“sangat rendah” dengan skala skor < 20%, kelas skor “rendah” dengan skala skor 21% - <
40%, kelas skor sedang dengan skala skor 41% - < 60%, kelas skor tinggi dengan skala skor 61% - < 80%, dan kelas skor sangat tinggi dengan skala skor >80%.
Tabel 1. Deskripsi Variabel Sosial Ekonomi Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19
Indikator Variabel Sosial
Ekonomi
Perta nyaan
Indeks Sebelum
Pandemi Covid-19
Kelas Skor
Sesudah Pandemi
Covid-19 Kelas Skor
Pendidikan
X1.a 44,7 Sedang 44,7 Sedang
X2.b 60,62 Tinggi 36,54 Rendah
Kesehatan
X1.a 65,5 Tinggi 89,66 Sangat
X2.b 49,6 Sedang 37,88 Sedang
Pendapatan X.1a 37,8 Rendah 46,82 Sedang
Kepemilikan Fasilitas
X1.a 82 Tinggi 82 Tinggi
X2.b 55,16 Sedang 55,16 Sedang
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)6
Hidup X3.c 73,8 Tinggi 73,8 Tinggi
Jumlah 469,18 466,56
Rata-Rata 59 58
Sumber : Analisis Data Primer, 2021
Pada tabel 1 menunjukan deskripsi jawaban responden dari pertanyaan variabel sosial ekonomi sebelum pandemi covid-19 dan sesudah pandemi covid-19. Variabel sosial ekonomi sebelum pandemi covid-19 memiliki nilai rata-rata indeks sebesar 59 dan termasuk dalam kategori sedang. Nilai rata-rata indeks terendah pada indikator pendapatan dengan hasil indeks sebesar 37,8 dan termasuk dalam kategori rendah. Responden yang mempunyai pendapatan antara Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 berjumlah 13 responden. Perbedaan pendapatan responden ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu frekuensi hari kerja, volume penjualan, dan pengalaman berusaha. Sedangkan untuk nilai indeks yang termasuk dalam kategori tinggi pada indikator kepemilikan fasilitas hidup pada pertanyaan alat transportasi yang digunakan dalam bekerja dan kepemilikan alat elektronik dengan nilai sebesar 82 dan 73,8.
Sedangkan variabel sosial ekonomi sesudah pandemi covid-19 yang memiliki nilai rata-rata indeks sebesar 58 dan termasuk dalam kategori sedang. Meskipun kondisi sebelum pandemi covid-19 dan sesudah pandemi covid-19 termasuk dalam kategori sedang namun kondisi sebelum pandemi covid-19 memiliki nilai indeks lebih tinggi dibandingkan dengan nilai indeks kondisi sesudah pandemi covid-19. Perbedaan nilai indeks ini dapat dilihat pada indikator kesehatan, pendidikan, dan pendapatan yang mengalami perubahan sesudah adanya pandemi covid-19.
Nilai indeks variabel sosial ekonomi sesudah pandemi covid-19 yang termasuk dalam kategori rendah pada indikator pendidikan dan kesehatan. Sebanyak 22 responden beranggapan bahwa pendidikan sesudah pandemi covid-19 mengakibatkan penurunan kualitas pendidikan putra-putri responden. Penuruan kualitas pendidikan sesudah pandemi covid-19 karena responden beranggapan pembelajaran jarak jauh atau daring tidak efektif dari waktu, tenaga, dan biaya. Responden yang memilih melakukan pengobatan alternatif berjumlah 11 responden. Responden memiliki kekhawatiran resiko tertular covid-19 di tempat berobat (rumah sakit, klinik, bidan dan puskesmas).
Sedangkan untuk nilai indeks yang termasuk dalam kategori tinggi pada indikator kepemilikan fasilitas hidup dan indikator kesehatan pada pertanyaan frekuensi sakit yang diderita rumah tangga dalam satu tahun. Responden yang mengalami sakit ringan < 5 kali sebanyak 18 responden. Hal ini menunjukan responden memiliki kesadaran dalam menjaga
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)7 kesehatan seperti menjaga pola hidup sehat, mengkonsumsi jamu, dan mematuhi protokol kesehatan. Kesehatan berpengaruh pada pendapatan dikarenakan kesehatan yang terganggu menyebabkan berkurangnya hari kerja dalam produksi dan pemasaran jamu. Hal ini juga dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap kualitas jamu yang diproduksi.
Untuk indikator pendapatan apabila dibandingkan dengan sebelum pandemi covid-19 terjadi kenaikan. Faktor yang mempengaruhi pendapatan sesudah pandemi covid-19 bagi pelaku usaha jamu meliputi terjadinya peningkatan minat masyarakat terhadap konsumsi jamu, kenaikan harga bahan baku jamu, dan kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial atau lokcdown lokal. Namun tidak semua responden merasakan peningkatan pendapatan.
Responden yang mengalami peningkatan pendapatan sejumlah 10 responden atau 34,5 %.
Responden yang mengalami peningkatan dipengaruhi oleh faktor modal, pengalaman berusaha, frekuensi hari kerja, dan cita rasa. Menanggulangi permasalahan kenaikan harga bahan baku responden memilih tidak mengurangi volume penjualan hanya mengurangi ukuran volume penjualan jamu per gelas ataupun per botol. Sedangkan responden yang mengalami penurunan pendapatan sejumlah 9 responden atau 31 %. Hal ini dipengaruhi oleh faktor yaitu modal, pengalaman berusaha, cita rasa jamu, dan hari kerja. Pengurangan volume penjualan dilakukan responden untuk mengatasi permasalahan kenaikan harga bahan baku jamu karena terbatasnya modal dan berkurangnnya pelanggan jamu di wilayah distribusi jamu reponden akibat lockdown lokal.
Tabel 2. Hasil Analisis Data Primer Uji Paired Sample t-test
Sumber : Analisis Data Primer, 2021.
Paired Differences
t df
Sig. (2- tailed) Mean
Std.
Deviation
Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the
Difference Lower Upper Pair 1 sebelum covid -
sesudah covid ,13793 2,44546 ,45411 -,79227 1,06814 ,304 28 ,764
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)8 Hasil uji hipotesis pada tabel 2 menunjukan bahwa kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih baik atau sama dengan sebelum pandemi covid-19. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, diantaranya dapat dilihat dari jawaban responden pada pertanyaan indikator kesehatan. Faktor-faktor tersebut meliputi kekhawatiran resiko tertular covid-19 di tempat berobat (rumah sakit, klinik, bidan, dan puskesmas) sehingga lebih memilih pengobatan alternatif, menjaga pola hidup sehat, mengkonsumsi jamu, dan menerapkan protokol kesehatan. Kesehatan berpengaruh terhadap pendapatan karena sebagai pelaku industri jamu akan mempengaruhi kepercayaan responden terhadap kualitas jamu dan berkurangnya frekuensi hari kerja. Hal ini sesuai dengan Syamsurijal (2008) yang menyatakan bahwa hubungan antara kekayaan dan kesehatan adalah uniderectional yaitu perbaikan kondisi ekonomi akan membawa perubahan pada perbaikan tingkat kesehatan.
Sedangkan dilihat dari jawaban responden pada pertanyaan indikator pendidikan yaitu tanggapan responden terhadap kualitas pendidikan. Faktor-faktor tersebut yaitu pembelajaran jarak jauh atau daring tidak efektif baik waktu, tenaga, dan biaya. Selanjutnya dilihat dari jawaban responden pada pertanyaan indikator pendapatan. Faktor yang mempengaruhi pendapatan sesudah pandemi covid-19 bagi pelaku usaha jamu meliputi terjadinya peningkatan minat masyarakat terhadap konsumsi jamu, kenaikan harga bahan baku jamu, dan kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial atau lokcdown lokal.
Responden yang mengalami peningkatan dipengaruhi oleh faktor modal, pengalaman berusaha, frekuensi hari kerja, dan cita rasa. Menanggulangi permasalahan kenaikan harga bahan baku responden memilih tidak mengurangi volume penjualan hanya mengurangi ukuran volume penjualan jamu per gelas ataupun per botol. Sedangkan responden yang mengalami penurunan pendapatan sejumlah 9 responden atau 31 %. Hal ini dipengaruhi oleh faktor yaitu modal, pengalaman berusaha, cita rasa jamu, dan hari kerja. Pengurangan volume penjualan dilakukan responden untuk mengatasi permasalahan kenaikan harga bahan baku jamu karena terbatasnya modal dan berkurangnnya pelanggan jamu di wilayah distribusi jamu reponden akibat lockdown lokal.
Hasil penelitian ini didukung oleh teori Spencer bahwa gerakan evolusi dari masyarakat sederhana menuju masyarakat perkumpulan ganda dan masyarakat perkumpulan atau penggabungan tripel menghasilkan suatu proses peningkatan kemampuan menyesuaikan diri masyarakat secara keseluruhan. Perspektif Spencer dalam teori evolusi menjelaskan bahwa perubahan sosial dalam suatu masyarakat merupakan kemajuan
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani)9 (progress), kondisi masyarakat tradisional ke masyarakat yang modern. Kaitannya dengan hasil penelitian ini bahwa IKM Jamu Bima Sejahtera dapat melakukan adaptasi dengan perubahan sosial ekonomi sebagai akibat dari adanya pandemi covid-19.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan analisis penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa kondisi sosial ekonomi IKM Jamu Bima Sejahtera sesudah pandemi covid-19 lebih baik sama dengan dibandingkan sebelum pandemi covid-19
2. Variabel sosial ekonomi pada indikator kesehatan, pendidikan, dan pendapatan mengalami perubahan sesudah pandemi covid-19.
3. Faktor yang mempengaruhi indikator kesehatan sesudah pandemi covid-19 meliputi kekhawatiran resiko tertular covid-19 di tempat berobat (rumah sakit, klinik, bidan, dan puskesmas) sehingga lebih memilih pengobatan alternatif, menjaga pola hidup sehat, mengkonsumsi jamu, dan menerapkan protokol kesehatan.
4. Faktor yang mempengaruhi indikator pendidikan sesudah pandemi covid-19 meliputi pembelajaran jarak jauh atau daring tidak efektif baik waktu, tenaga, dan biaya.
5. Faktor yang mempengaruhi indikator pendapatan sesudah pandemi covid-19 meliputi terjadinya peningkatan minat masyarakat terhadap konsumsi jamu, kenaikan harga bahan baku jamu, dan kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial atau lokcdown lokal.
6. Faktor yang mempengaruhi perbedaan pendapatan reponden sesudah pandemi covid- 19 yaitu modal, pengalaman berusaha, cita rasa jamu, dan hari kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Antaranews. 2020. 30 Pelaku Jamu Gendong di Yogyakarta Peroleh Sertifikasi dari BPOM.
https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/16644450/30-pelaku- jamu-gendong-di-yogyakarta-peroleh-sertifikasi-dari-bpom diakses pada 20 Desember 2020.
Aziz, I.R., D. Armita, Hajrah, dan K. Makmur. 2020. Gen Regulasi Tanaman Lokal Indonesia: Imunomodulator Covid-19. Jurnal Teknosains 14(2): 238-246.
Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sosial Ekonomi (Khaerunnimah, Astuti, Maharani) 10 Blokbojonegoro.com. 2020. “Efek Corona Omset Pedagang Jamu Tradisional dan Rempah-
Rempah Meroket” https://blokbojonegoro.com/2020/04/05/efek-corona-omzet- pedagang-jamu-tradisional-dan-rempah-meroket/?m=1. Diakses pada tanggal 18 November 2020.
Dinnata, R. dan Yanuar Widhia. 2020. Geger Covid-19 Jadi Peluang Usaha Penjual Empon- Empon Corona. https://m.ayoyogya.com/read/2020/03/04/38761/geger-covid-19- jadi-peluang-usaha-penjual-empon-empon-corona. Diakses pada tanggal 20 Desember 2020.
Kontan.co.id. 2020. Gara-Gara Corona, Penjual Jamu Keluhkan Harga Bahan Baku Meroket. https://www.google.com/amp/s/amp.kontan.co.id/news/gara-gara-corona- penjual-jamu-keluhkan-harga-bahan-baku-meroket. Diakses pada tanggal 18 November 2020.
Sindonews.com. 2020. 30% Karyawan Industri Jamu Dirumahkan Imbas Pandemi Covid- 19. https://ekbis.sindonews.com/read/9027/34/30-karyawan-industri-jamu- dirumahkan-imbas-pandemi-covid-19-1587978253. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2020.
Syahrir, A. Rahem, A. dan A. Prayoga. 2020. Religiositas Mahasiswa Farmasi UIN Malang Selama Pandemi Covid-19. Journal of Halal Product and Research 3(1): 25-34.
Wirartha, I.M. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. CV. Andi Offset. Yogyakarta.