• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Pandemi Pada Pertunjukan Seni Budaya di Kota Lain: Studi Kasus Surakarta

N/A
N/A
Muhammad Marzuki

Academic year: 2024

Membagikan "Dampak Pandemi Pada Pertunjukan Seni Budaya di Kota Lain: Studi Kasus Surakarta "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Dampak Pandemi Pada Pertunjukan Seni Budaya di Kota Lain:

Studi Kasus Surakarta

Solo sebagai Kota Seni Pertunjukan

Surakarta mempunyai slogan “Berseri” yang merupakan akronim dari “Bersih, Sehat, Rapi dan Indah”, slogan ini digunakan sebagai slogan untuk menjaga keindahan kota.

Sedangkan untuk tujuan pemasaran pariwisata, Surakarta mengadopsi slogan pariwisata Solo, Spirit of Java, dengan tujuan menjadikan Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Masyarakat kota Surakarta mempunyai julukan wong Solo dan putri Solo. Surakarta dijadikan sebagai destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dari kota-kota besar. Tempat wisata utama adalah Taman Budaya Jawa Tengah, Candi Mangkunegaran dan Wayang Sriwedari. Surakarta atau kota Solo dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa karena merupakan salah satu pusat perkembangan politik dan tradisional masyarakat Jawa.

Dalam perkembangannya, kebudayaan kota Solo mengakar hingga subur dan berkuasa. Hal ini diperkuat dengan masyarakat Solo yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional, sehingga pemerintah dan masyarakat berupaya lebih kreatif dalam menarik minat dan perhatian masyarakat dan wisatawan yang menganut potret kesejahteraan dan kemuliaan. Kerajaan Mataram khususnya dengan menyelenggarakan acara kebudayaan seperti festival dan festival. Kota mempunyai potensi untuk mengembangkan dan memanfaatkan aset warisan budaya menjadi daya tarik wisata yang mendorong perkembangan sastra, tari, seni kuliner, fesyen, arsitektur dan banyak ekspresi budaya masyarakat Jawa lainnya.

Surakarta memiliki 111 ruang publik dengan bermacam jenis. Ketersediaan area publik ini dimanfaatkan untuk menyelenggarakan berbagai acara pertunjukan seni. Sejak 2019, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengakui Surakarta sebagai kota kreatif di bidang seni pertunjukan di Indonesia. Ini disebabkan oleh berbagai acara dan

(2)

festival yang berkaitan dengan bidang seni pertunjukan. Tari tradisional, musik keroncong, wayang kulit, wayang orang, dan ketoprak adalah beberapa jenis seni pertunjukan yang ada di Surakarta. Sanggar "Semarak Candra Kirana", Komunitas

"Keroncong Pandhawa", Sanggar Seni "Pawiyatan Pedhalangan", "Sanggar Kemasan", dan Komunitas "Wayang Orang Sriwedari" adalah beberapa contoh dari kelas kreatif atau pelaku ekonomi kreatif yang terlibat dalam berbagai sektor kreatif. Kegiatan ini diadakan di berbagai tempat umum di Surakarta sebagai bagian dari lingkungan kreatif atau lingkungan kreatif (Khofifah dkk, 2022).

Dampak Pandemi terhadap Seni Pertunjukan

Pandemi COVID-19 memengaruhi aktivitas manusia, terutama sektor seni pertunjukan.

Karakter kegiatan seni pertunjukan yang digunakan harus diperhatikan saat memilih ruang publik untuk kegiatan tersebut. Sebagai ilustrasi, berikut disampaikan penelitian mengenai dampat pandemi pada pertunjukan seni di Taman Budaya Pura Mangkunegaran.

1. Dampak terhadap Acara.

Jumlah pengunjung di tempat wisata mengalami penurunan sebagai akibat dari pandemi COVID-19. Berdasarkan peraturan pemerintah untuk tetap di rumah, Taman Budaya Jawa Tengah mengalami penurunan pengunjung hingga 50%, Pura Mangkunegaran mengalami penurunan pengunjung juga, tetapi tidak jelas seberapa besar. Wayang Orang Sriwedari juga mengalami penurunan pengunjung (Mahmudah, 2021).

2. Dampak terhadap Ekonomi

Sebelum pandemi COVID-19, acara yang sudah direncanakan terpaksa ditunda atau dibatalkan karena peraturan pemerintah yang melarang kerumunan. Karena seniman dan pengelola wisata menentukan jadwal acara di tempat wisata, hal ini berdampak pada semua pihak yang terlibat. Dampak ini menerpa pedagang dan penyedia jasa karena mereka bergantung pada jumlah pengunjung.

3. Dampak terhadap Pelaku Seni

(3)

Sebagai contoh, Wayang Orang Sriwedari terpaksa menunda seluruh acara yang sudah dijadwalkan sehingga mengakibatkan jumlah pendapatan seniman mengalami penurunan serta menjadi ancaman tersendiri bagi para seniman.

Upaya Mitigasi

Upaya mitigasi yang dilakukan pada tulisan ini mengambil contoh pada obyek wisata Taman Bundaya Jawa Tengah, W.O Sriwedari, Pura Mangkunegaran. Mitigasi dilakukan oleh stakeholders yang terdiri dari para pengelola wisata, seniman, pedagang serta penyedia jasa yang ada di sekitar wisata budaya Kota Surakarta (Mahmudah, 2021).

- Strategi untuk menentukan produk yang dijual belikan di sekitar lokasi wisata dalam penelitian ini adalah dengan mengurangi jumlah produksi. Ini akan membantu pedagang menghindari kerugian. Selain itu, penjual buku di sekitar tempat wisata Wayang Orang Sriwedari menggunakan taktik ini untuk memperbarui buku yang mereka jual.

- Karena tidak ada pengunjung yang berdatangan selama pandemic, strategi harga yang digunakan para stakeholder (pedagang) mayoritas tidak dapat menurunkan harga. Namun, beberapa menurunkan harga. Selain itu, pengelola wisata menaikkan harga tiket untuk wisatawan yang ingin memasuki Pura Mangkunegaran, dari sebelumnya Rp. 10.000 menjadi Rp. 20.000.

- Dalam mencari penumpang, penyedia jasa sering menetapkan tempat dengan berpindah tempat, yaitu tempat yang dituju adalah tempat yang masih sering didatangi oleh orang, seperti pusat perbelanjaan. Selama pandemi, strategi tempat yang digunakan berguna. Pedagang juga dapat berpindah tempat, tetapi mayoritas tetap berada di tempat yang sama seperti sebelum pandemi.

- Promosi dilakukan oleh pedagang yang berlokasi di sekitar lokasi wisata dan menggunakan metode antar mulut ke mulut untuk menarik pembeli. Strategi antar mulut ke mulut mungkin kurang efektif, tetapi pedagang dapat memberi tahu tukang parkir yang ada agar mereka terdengar oleh pengunjung yang ada.

(4)

- Semua upaya dilakukan untuk memberikan produk atau layanan terbaik dengan strategi ini. Strategi yang digunakan oleh pihak berwenang di lokasi penelitian sesuai dengan protokol yang direkomendasikan oleh pemerintah. Pedagang juga menggunakan strategi ini dengan menarik pelanggan melalui banner dan toko buku memperbarui barang. Namun, ada juga yang tidak melakukan apa-apa karena dianggap upaya yang dilakukan tidak menghasilkan hasil yang optimal.

Akibatnya, banyak pedagang lebih memilih untuk tetap bekerja seperti sebelum pandemic ini terjadi. Selanjutnya, pengelola membuat rencana dengan menggunakan media sosial.

Peran Pemkot Surakarta 1. Respon darurat

Vaksinasi termasuk untuk para pelaku seni. Panggung hiburan turut terdampak pandemi, berbagai pertunjukan harus ‘mati suri’. Dengan dikebutnya vaksinasi demi pemulihan kesehatan, tak hanya sektor ekonomi saja yang jadi fokus pemulihan, namun geliat panggung hiburan harus mulai dibangkitkan, karena para seniman butuh ruang untuk berkarya dan berekspresi. Para seniman mengaku merasa lebih aman dan percaya diri usai mendapat vaksinasi dalam bekerja dan beraktivitas sehari-hari.

2. Pemulihan pertunjukan seni budaya - Solo Menari.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengajak kolaborasi pelaku seni kedalam acara yang diselenggarakan pemerintah kota Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta menggelar event Solo Menari dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia (World Dance Day) yang jatuh setiap 29 Maret secara serentak melalui virtual dari 54 kelurahan di Kota Surakarta, berpusat di Rumah Kabudayan nDalem Joyosuman, Kamis (29/4/2021). Mengusung tema “Menari di Tengah Pandemi”, kegiatan tersebut diramaikan lebih dari 400 orang penari dari berbagai sanggar dan komunitas di Kota Surakarta.

(5)

Pekan Seni Budaya dan Pameran Produk Unggulan Surakarta merupakan event yang diselenggarakan oleh Lembaga dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta dalam rangka memperingati ulang tahun ke-60 Paguyuban Kawula Surakarta (Pakasa). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30 November-5 Desember 2021 dengan melibatkan masyarakat lokal maupun pelaku UMKM di sekitar Jawa Tengah serta Jawa Timur dan memiliki tujuan utama untuk melestarikan kearifan lokal. Pada tanggal 5 Desember 2021 dilaksanakan Kirab Budaya Karaton Surakarta sebagai salah satu rangkaian kegiatan Pekan Seni Budaya dan Pameran Produk Unggulan.

Referensi

Dokumen terkait

APRESIASI MASYARAKAT SURAKARTA TERHADAP PERTUNJUKAN SENI WAYANG ORANG DI SRIWEDARI Skripsi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi Dan Informatika, Universitas

Pengaruh apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan seni kebudayaan wayang orang di Gedung Wayang Orang Sriwedari Surakarta terhadap para pelaku seni Wayang Orang itu sendiri

Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: (1) Obyek wisata budaya di Kota Surakarta berjumlah 16 obyek dan tersebar di 2 wilayah budaya, meliputi wilayah Kasunanan dan

Hasil dari penelitian ini adalah WebGIS Industri Kreatif Berbasis Budaya Kota Surakarta yang menyajikan informasi mengenai lokasi, atribut, serta industri kreatif

Trend pengembangan ruang publik diperlukan untuk melakukan inovasi dalam perspektif perencanaan kota dan dalam konteks architecture sociology, di mana fenomena

Hasil dari penelitian ini adalah WebGIS Industri Kreatif Berbasis Budaya Kota Surakarta yang menyajikan informasi mengenai lokasi, atribut, serta industri kreatif

Spiritualitas Kejawen Dalam Seni Tari Klasik Di Istana Kasunanan Surakarta Tari keraton itu pada hakikatnya meru- pakan suatu pernyataan budaya dalam bentuk tari yang memiliki sifat,

Kecerdasan Budaya Dalam Seni Pertunjukan Nusantara Yulinis Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar [email protected] Tujuan dari penulisan ini adalah melihat