• Tidak ada hasil yang ditemukan

dampak terhadap menantu perempuan tinggal dirumah

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "dampak terhadap menantu perempuan tinggal dirumah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK TERHADAP MENANTU PEREMPUAN TINGGAL DIRUMAH MERTUA DI KELURAHAN SURAU GADANG

KECAMATAN NANGGALO KOTA PADANG

ARTIKEL

DENCI PRIMA SURY NPM : 12070126

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2017

(2)
(3)

DAMPAK TERHADAP MENANTU PEREMPUAN TINGGAL DIRUMAH MERTUA DI KELURAHAN SURAU GADANG

KECAMATAN NANGGALO KOTA PADANG

oleh

Denci Prima Sury¹, Maihasni², YenitaYatim³ Email: [email protected]

ABSTRACT

Denci Prima Sury (12070126) Impact on Women Live At home of Mother-in- law.Essay.Sociology of Education Studies Program (STKIP) PGRI West Sumatra. Padang.

2017.

This research is motivated by differences in Minangkabau. According to Minangkabau tradition that men after marriage settled in his wife's residence. But, in reality, it is not as expected, but encountered is the woman lived in her mother in law’s home. There were happened in the SurauGadangNanggalo District of the city of Padang. The purpose of this study is any problems that arise in the household and how it impacts the daughter-in-law living at home. The theory used in this research is the theory of Max Weber that is about social action. Weber defines that the study of sociology as a science that aims to understand human behavior through the interpretation and the way it develops and explain the consequences according to their causes.

This study used a qualitative approach to the type of descriptive. Selection of informants using purposive sampling technique with 20 informants. The data used are primary data and secondary data. Methods of data collection in three stages: (1) non-participant observation (2) In-depth interviews (3) study the document. The unit of analysis is the individual that is daughter-in-law living with in-laws. Analysis of data using interactive data analysis that consists of four stages: (1) The collection of data (2) Data reduction (3) Presentation of data (4) Conclusion. Based on the results of this study concluded that the problems that arise in the household is (1) Daughter Less Skilled Household Affairs (2) in-laws Participate Mixed Household Affairs (3) Absence of Matches Between Daughter-In-laws (4) Absence of Privileges wives In taking decision (5) In- laws Not Pleased With Daughter At home existence. The impact on the daughter-in-law who lived with (1) Felt uncomfortable with the law (2) Considered as a daughter who does not comply with the input of law (3) Individual freedom is limited.

Keywords: Daughter in-law, and Mother in-laws

(4)

1 PENDAHULUAN

Sepanjang hidupnya manusia mempunyai tugas-tugas perkembangan yang berbeda dalam masing-masing tahapannya, salah satunya adalah pada tahapan masa dewasa awal. Pada masa dewasa awal ini individu menghadapi berbagai macam tugas perkembangan, salah satunya adalah menikah (Yuliana, 2010:1). Pada masa menikah ini merupakan masa permulaan bagi seseorang melepaskan dirinya dari lingkungan kelompok keluarganya (Amir, 2011:9).

Pernikahan merupakan hal yang sakral, pernikahan adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga, perjanjian ini mencakup segala sesuatu yang meliputi perwujudan hak-hak suami dan istri untuk melahirkan dan membesarkan anak (Suhendi, 2001:118). Menikah adalah suatu peristiwa sakral dan memiliki arti penting dalam sejarah perjalanan hidup seseorang, bukan hanya saja sebatas masa hidupnya tetapi juga harapan menentukan kehidupan keturunan kedepannya (Ritongga, 2005:25).

Begitu menikah pasangan itu harus belajar menyesuaikan diri terhadap tuntutan dan tanggung jawab. Sementara pada saat ini tak jarang individu setelah menikah lalu memutuskan untuk tinggal bersama dirumah mertua dikarenakan belum memiliki tempat tinggal atau alasan lain (Charlie, 2006:11).

Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan bagaimanapun, perkawinan memerlukan penyesuaian dalam banyak hal.

Perkawinan menimbulkan hubungan baru tidak saja antara pribadi yang bersangkutan, antara marapulai dan anak daro, tetapi juga antara kedua keluarga. Latar belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda baik asal usul, kebiasaan hidup, pendidikan tingkat sosial, tata krama, bahasa, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, syarat utama yang harus dipenuhi dalam perkawinan adalah kesediaan dan kemampuan untuk menyesuaiakan diri dari masing-masing pihak.Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak masing-masing pribadi dan keluarganya penting sekali guna memperoleh keserasian dan keharmionisan dalam pergaulan antar keluarga kelak di kemudian hari (Amir, 2011:12).

Stelesel matrilineal dengan sistem kehidupan yang komunal menempatkan perkawinan menjadi persoalan dan urusan kaum kerabat, mulai dari mencari pasangan, membuat persetujuan, pertunangan, perkawinan dan bahkan sampai kepada segala urusan akibat perkawinan itu.

Perkawinan bukanlah sepasang insan yang hendak membentuk keluarga atau membentuk rumah tangga saja. “Oleh karena falsafah Minangkabau telah menjadikan semua orang hidup bersama-sama, maka rumah tangga menjadi urusan bersama, sehingga masalah pribadi dalam hubungan suami istri tidak terlepas dari masalah bersama” (Navis, 1984:193).

Sistem kekerabatan matrilineal sering ditemukan di daerah Minangkabau dengan tingkat variasi yang berbeda-beda.

Perkawinan dilakukan dengan sistem eksogami, yaitu perkawinan yang pihak melakukan perkawinan harus mempunyai anggota yang tidak sama. Dalam hal ini terkandung larangan perkawinan dalam satu clan/suku/marga. Bentuk perkawinan sistem kekeluargaan matrilineal adalah kawin semendo, yaitu bentuk perkawinan yang bertujuan untuk secara konsekuen melanjutkan keturunan pihak ibu (Suhendi, 2001:115).

Menurut tradisi Adat Minangkabau setelah seluruh prosesi upacara pernikahan selesai baik secara adat dan agama selesai, mempelai pria tinggal dikediaman istrinya (matrilokal). Selama suami tinggal dirumah istrinya suami hanya di anggap sebagai orang sumando, dalam adat Minangkabau sifat sumando dianalogikan (diumpamakan) seperti abu di ateh tungku. Kedudukan atau posisi suami dalam keluarga istri telah diatur dalam adat, suami tidak bisa mencampuri setiap urusan keluarga istri dia hanya mengurusi kewajiban sebagai suami yaitu menafkahi istri dan anaknya (Amir, 2011:174).

Perkembangan zaman dan lunturnya suatu tradisi yang mengharuskan menantu laki-laki tinggal dirumah keluarga

“matrilineal” istri, namun kenyataan sekarang ditemui bahwa bukan saja menantu laki-laki yang tinggal di rumah keluarga istri, akan tetapi pada saat sekarang menantu perempuanyang tinggal dirumah keluarga suami. Adat Minangkabau juga menganut paham yang mendalam dalam istilah

(5)

2 antropologi yang disebut dengan sistem uxirilokal yang menetapkan bahwa marapulai atau suami bermukim atau menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat istri atau di dalam lingkungan kerabat istri. Secara kultural, suku bangsa Minangkabau menganut sistem matrilineal, garis keturunan yang menganut prinsip silsilah keturunan yang diperhitungkan melalui garis ibu. Atas dasar itu, sistem kekebaratan di Minangkabau dikatakan bersifat unilinial atau unilateral yaitu menghitung garis keturunan hanya mengakui satu pihak orang tua saja sebagai penghubung keturunan yakni “ibu”. Oleh karena itu sistem “materilinial” disebut dengan garis keturunan “ibu” atau sako-indu (Amir, 2006:11-12). Dalam masyarakat yang susunannya matrilineal, keturunan menurut garis ibu dipandang lebih penting sehingga menimbulkan hubungan dan pergaulan keluarga yang jauh lebih erat di antara para anggotanya.

Tinggal serumah dengan mertua, yang trend disebut 'Di Pondok Mertua Indah', bagi sebagian pasangan menganggap merupakan hal yang menguntungkan. Di sisi lain, tidak sedikit pula pasangan yang justru menganggap hal itu akan menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga (Yuliana, 2010:3). Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan pada tanggal 18 April 2016, di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo terdapat 5 orang menantu perempuan yang tinggal dengan mertuanya :

Tabel 1

Berikut nama-nama menantu perempuan tinggal dengan mertuanya N

O

Nama Ket Usia (th)

Asal Daerah

Lama Menikah 1

.

Adri Usman

Sua mi

36 Surantih 2

.

Derika Gartika

Istri 35 Muaro

Aie Pesisir Selatan

7th

3 .

Erdiansyah Sua mi

33 Pesisir Selatan 4

.

Ernita Yushendri Nursilawati

Istri 33 Nagari Tanah Kareh Pesisr Selatan

3Th

5 .

Salman Affandi

Sua mi

40 Pariaman 6

.

Lisa Anggraini

Istri 36 Pariaman 15Th

7 .

Maisondra Sua mi

37 Pesisir Selatan 8

.

Yulia Yasmin

Istri 33 Painan 8Th

9 .

Hendrik Sua mi

40 Batu

Sangkar 1

0 .

Yunita Sari Istri 38 Solok Selatan

3Th

Sumber : Data Primer 2016

Suami yang membawa istri untuk tinggal dikediaman orangtuanya merupakan hal yang tidak lazim di dalam Adat Minangkabau, hal ini akan menimbulkan dampak terhadap penyesuaian yang harus dijalani istri dengan keluarga suami seperti penyesuaian dengan mertua, penyesuaian dengan saudara serta penyesuaian dengan orang-orang yang berada disekitar lingkungan tempat tinggal suami. Tidak jarang permasalahan timbul dari proses penyesuaian dengan keluarga suami, dan bukan perkara yang mudah bagi menantu perempuan untuk menyesuaikan diri dengan mertuanya. Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan tanggal 18 April 2016 yang terjadi di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo, permasalahan yang timbul seperti kurang terjalinnya hubungan komunikasi antara menantu dan mertua, orang tua suami yang sudah sakit-sakitan yang membuat menantu perempuan harus tinggal dengan keluarga suami, dan masih adanya rasa memiliki yang tinggi dari mertua terhadap anak laki-lakinya.

Seseorang yang memutuskan untuk menikah pastinya akan menghadapi kehidupan baru, lingkungan baru dan keluarga baru,

(6)

3 semuanya itu membutuhkan suatu penyesuaian diri. Menantu yang tinggal dengan mertuanya setidaknya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menantu yang tinggal dengan mertua diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan barunya sekarang, dimana individu harus berusaha agar dapat mendapat hasil yang diharapkan yang lebih sesuai untuk mengatasi ketegangan, frustasi, konflik tuntutan dari diri maupun lingkungan, sehingga terjalin hubungan yang baik dengan lingkungan. Walaupun banyak alasan yang menjadi pemicu kenapa menantu perempuan tinggal dengan mertuanya, sehingga terjalin hubungan yang baik dengan lingkungan.

METODOLOGI

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu sebuah pendekatan penelitian yang datanya dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka (Afrizal, 2005:14).

Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena untuk melihat apa alasan menantu perempuan untuk tinggal dengan mertuanya setelah menikah. Selain itu, pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada dimasyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu. (Bungin, 2011:68).

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, yang mengembangkan konsep dan mengumpulkan fakta-fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.

Sebagaimana diketahui bahwa penelitian deskriptif mencoba untuk mencari data seluasnya dalam rangka mencari kondisi sosial dari sekelompok manusia (Moleong, 2010:3). Tipe penelitian deskriptif ini digunakan karena untuk melihat suatu fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk mengungkapkan kondisi sosial tentang “Dampak Menantu Perempuan Tinggal di Rumah Mertua di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang”.

Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dipakai adalah dengan menggunakan metode:

a. Observasi

Menurut Narbuko (2009:70) observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan, cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki.

Observasi atau pengamatan merupakan sebuah proses untuk mendapatkan informasi atau data menggunakan panca indra. Observasi merupakan salah satu metode paling penting dari pengumpulan data. Ini menuntut kehadiran peneliti dalam situasi sosial yang diamati dan membuat catatan mengenai apa yang sedang terjadi. Dalam pengamatan, instrumen penelitian utama adalah diri (peneliti) yang secara sadar mengumpulkan data indrawi melalui penglihatan, pendengaran, rasa, bau, dan sentuhan (Martono, 2015:239).

b. Wawancara

Wawancaraadalahmetode pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan yang diwawancarai (Noor, 2011:138). Jenis wawancara ada dua yaitu wawancara tidak terstruktur dan wawancara mendalam.

Wawancara tidak terstruktur adalah suatu wawancara dimana orang yang diwawancarai (informan) bebas menjawab pertanyaan peneliti sebagai pewawancara sedangkan wawancara mendalam adalah suatu wawancara tanpa alternatif pilihan jawaban dan dilakukan untuk mendalami informasi dari seorang informan, maka wawancara perlu dilakukan berulang-ulang kali antara pewawancara dengan informan (Afrizal, 2014:136).

c. Studi Dokumen

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen. Dalam penelitian sosial, fungsi data yang berasal dari dokumentasi lebih banyak digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam (Basrowi dan Suwandi, 2008:158).

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi yang dibutuhkan tentang situasi serta permasalahan yang berhubungan dengan penelitian, berguna untuk penelitian dalam

(7)

4 menjelaskan permasalahan yang diteliti.

Artinya informan adalah orang-orang yang mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi dan bersedia meluangkan waktu agar kita sebagai peneliti bisa mendapatkan informasi yang valid dan faktual (Moleong, 2005:132).

Terkait dengan penelitian, yang menjadi informan adalah menantu perempuan yang tinggal dirumah mertua.

Untuk mendapatkan informasi dari informan menggunakan teknik penelitian informan yang bersifat purposive sampling yaitu penarikan informan yang dipilih secara sengaja oleh peneliti dengan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau karakteristik tertentu sesuai dengan penelitian dan keberadaan mereka yang diketahui oleh peneliti (Afrizal, 2014:140- 141).

Analisi data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Surau Gadang karena hanya di Kelurahan Surau Gadang lah yang terdapat menantu perempuan yang tinggal dengan mertuanya sebanyak 5 pasang, berbeda dengan di Kelurahan lainnya menantu perempuan yang telah menikah tetap tinggal dengan orang tuanya.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Masalah-masalah yang Muncul Dalam Rumah Tangga

Menantu Kurang Terampil Dakam Urusan Rumah Tangga

Hal yang sering menjadi masalah dalam rumah tangga adalah ketidak mampuan istri dalam mengurus rumah tangga, seperti istri yang tidak bisa memasak, mencuci baju, menyetrika, mengepel, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Hal ini akan menjadi masalah apalagi istri tinggal dengan mertua. Seorang mertua pasti menginginkan menantu yang bisa dalam segala hal khusus nya dalam mengurus kehidupan rumah tangganya.

Lain hal nya yang terjadi dengan Buk Derika yang tinggal bersama dengan mertuanya bernama buk Siti. Setelah tinggal bersama dalam satu rumah Buk Siti melihat bahwa Buk Derika kurang mahir dalam memasak, dan kadang masih mengandalkan masakan dari Buk Siti atau membeli masakan yang siap saji diluar. Ini

membuat Buk Siti merasa jengkel terhadap menantunya tersebut, sudah lama menikah Buk Derika masih belum mahir juga dalam hal memasak, dan membersihkan rumah pun Buk Derika kurang pandai dari sinilah masalah pun muncul antara Buk Derika dengan Buk Siti.

Dari penjelesan Buk Siti diatas disimpulkan bahwa beliau sudah menasehati Buk Derika agar belajar lagi dalam hal memasak. Seorang istri seharusnya jago memasak agar suami betah dirumah dan tidak sering untuk makan diluar, selain itu masakan dirumah bisa terjaga kebersihannya dari pada diluar. Itulah yang diinginkan dari buk Siti.

Mertua Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Tidak diragukan lagi bahwa mertua yang ikut campur dalam urusan rumah tangga akan terjadi pada setiap pasangan yang sudah menikah. Itu terjadi karena sang mertua menganggap bahwa anak yang baru berumah tangga masih perlu bimbingan atau masukan dari orangtuanya karna sudah berpengalaman. Dalam suatu hubungan rumah tangga seharus nya mertua tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Namun kenyataan nya mertua ikut berperan dalam urusan rumah tangga seperti mengatur keuangan dan masalah pribadi yang seharus nya tidak perlu di campuri oleh mertua.

Dari penjelesan Buk Yunita dan Buk Wenita diatas, memang mertua dari Buk Yunita menginginkan dia untuk tidak bekerja lagi, sedangkan dapat kita lihat disini bahwa pada zaman sekarang tidak bisa hanya mengandalkan laki-laki saja yang bekerja tetapi kita wanita juga bisa memperlihatkan kita bisa melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri paling tidak, lagian disini Buk Yunita sudah bekerja jauh dari sebelum dia menikah.

Tidak Adanya Kecocokan Antara Menantu dan Mertua

Biasanya masalah anak baik tentang pendidikannya, atau kewajiban mengurus anak juga menjadi permasalahan. Ada sebagian pria yang tidak mau sama sekali direpotkan dengan urusan anak. Padahal seorang istri terutama yang baru saja melahirkan, secara hormon sungguh amat sensitif. Hal ini bisa saja menimbulkan

(8)

5 ketegangan dalam rumah tangga jika tidak segera diperbaiki. Itu merupakan masalah anak yang secara umum terjadi. Lain hal yang terjadi di keluarga Buk Ernita yang sudah memiliki satu orang anak yang bernama Muhammad Zidan Erdiansyah berusia 4th yang mana anak nya ini sedang aktif-aktif nya dan sedang lincah nya dalam tumbuh kembang. Mertua dari buk Ernita ini juga pernah memberikan masukan bahwa kalau anak kecil itu dikalungkan dengan bawang putih ataupun bahan-bahan yang lainnya, mendengar hal yang demikian buk Ernita kurang setuju sebab itu merupakan pemahaman atau pemikiran dari orang yang terdahulu dan tidak sesuai dengan keadaan pada zaman sekarang. Kadang Buk Ernita tidak terlalu mengabaikan omongan dari mertuanya tersebut. Sehingga kadang Buk Ernita pernh berselisih paham dengan mertuanya.

Buk Ernita bekerja sebagai guru SMP Angkasa yang lebih banyak memiliki waktu diluar dirumah dan begitu juga suaminya yang sering pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Karna buk Ernita tinggal dengan mertua, jadi apabila buk Ernita pergi bekerja sang anak akan dititipkan dengan mertua.

Permasalahan yang lain pun muncul dengan di titipkan nya sang anak kepada mertua. Mertua dari buk Ernita ini sudah berusia sekitar 67 Tahun sudah mulai sakit-sakitan dan beliau pun mengurus suaminya yang hanya bisa berbaring di tempat tidur, adapun sesekali keluar harus dibantu dulu untuk berjalan, belum lagi mengurus cucu. Dengan keadaan yang seperti itu mulai timbullah keluhan dari mertua buk Ernita yang bernama Maini.

Dari permasalahan diatas, dapat dilihat bahwa masalah yang terjadi yaitu tidak sependapatnya antara menantu dengan mertua, masalah nya yaitu omongan dari mertua tidak didengarkan oleh buk Ernita perbedaan paham antara orang dulu dengan yang sekarang, dan dalam mengurus anak yang tidak belum ditemukan orang dalam mengurus anak tersebut.

Tidak Adanya Wewenang Istri Dalam Pengambilan Keputusan

Di dalam suatu hubungan rumah tangga hendaknya adanya wewenang atau hak dalam pengambilan keputusan baik sedang

dalam ada masalah ataupun tidak. Baik suami, istri ataupun mertua. Tapi tidak seperti yang terjadi dengan ibuk Lisa.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Buk Lisma yang mengatakan bahwa beliau menganggap dengan kehadirannya Sinta dirumah tidak membawa dampak apa-apa bagi hubungan rumah tangga anaknya. Sinta cuman minta tolong untuk di ajarkan bagaimana cara bawa mobil, nanti kalau misalkan dia sudah mahir dari Pariaman kesini bisa membawa kendaraan yang lebih nyaman lagi.

Beda hal dengan penjelasan Buk Lisa di atas dapat disimpulkan bahwa perempuan yang tinggal dirumah Buk Lisma tersebut dapat menganggu hubungan rumah tangga nya dengan suami. Sebab semenjak kehadirannya, membuat Buk Lisa menjadi tekanan batin dengan kelakuan dari perempuan tersebut dan dari kelakuan dari suami nya pun. Seperti yang diutarakan Buk Lisa pada saat wawancara pada tanggal 11 November 2016 perempuan yang bernama Sinta ini diam-diam minta tolong di ajarkan bawa mobil dengan suami Buk Lisa tanpa meminta izin kepada Buk Lisa, dan yang lebih menyakitkan lagi suami nya pun tidak memberi tahu kan kepada Buk Lisma tentang kejadian hal itu.

Selain itu, yang membuat Buk Lisa menjadi sakit hati adalah mertua nya yang membiarkan hal itu terjadi dan tidak menenggang hati dari Buk Lisma tersebut.

Lalu diperkuat dengan pernyataan Indah (25th) yang mengatakan bahwa Buk Lisa pun sering bercerita kepadanya tentang bagaimana sikap mertuanya kepada Buk Lisa.

Mertua Tidak Senang Dengan Keberadaan Menantu Dirumah

Dengan tinggalnya menantu dirumah orang tua suami merupakan suatu hal yang tidak lazim di Minangkabau, dan di sebabkan oleh faktor-faktor tertentu.

Seperti orangtua suami yang sudah tua sehingga tidak ada yang akan mengurus, suami yang tempat kerjanya tidak jauh dirumah, orangtua suami yang tidak memilki anak perempuan sehingga dengan adanya menantu lalu dibawa untuk tinggal bersama, atau pihak keluarga istri yang tidak menyetujui anaknya menikah dengan suami, lalu suami yang bertanggung jawab

(9)

6 membawa istri untuk tinggal bersama dengan keluarganya serta faktor-faktor lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan akan adanya selisih paham antara menantu dan mertua tersebut.

Dari penuturan Buk Yulia di atas hubungan yang terjadi dengan mertuanya bisa dikatakan kurang baik, sebab permasalahan yang terjadi adalah Buk Yulia tinggal serumah dengan Buk Syamsinar mertua dari suami Buk Yulia, padahal rumah orangtua Buk Yulia tersebut tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Sebelumnya Buk Syamsinar tidak mempermasalahkan nya tapi lama-kelamaan dengan seiring berjalan nya waktu bila terjadi pertengkaran di antara mereka hal itulah yang selalu di ucapkan oleh Buk Syamsinar. Ditambah dengan anak dari Buk Yulia selalu bikin kacau dirumah tersebut membuat Buk Syamsinar menjadi kesal dengan tingkah laku cucunya di umur beliau yang sudah tua.

Dampak Terhadap Menantu Perempuan Tinggal Dengan Mertua.

Merasa Tidak Nyaman Dengan Mertua Dari permasalahan yang di hadapi buk Derika, beliau merasakan ketidaknyamanan dengan mertua, dimana Buk Derika yang tidak mahir dalam memasak menjadikan itu masalah antara beliau dengan mertuanya.

Dari penjelasan informan diatas dapat disimpulkan bahwa buk Siti ingin menantu nya mahir dalam memasak, tapi ternyata tidak sesuai dengan harapan nya. Buk Derika pun masih terus belajar memasak agar mertua nya tidak protes lagi.

Menantu merasa tidak nyaman karena adanya sindiran-sindiran yang diberikan oleh mertua sehingga membuat menantu merasa terbebani dengan sindiran yang diberikan oleh mertua.

buk Yulia merasa tidak nyaman dengan tinggal bersama mertuanya karena seharus nya dia tinggal bersama orangtua nya, namun karena pernikahan nya dengan suami tidak direstui dari pihak keluarga Buk Yulia maka dari itu dia dibawa oleh suami untuk tinggal bersama keluarga nya. Merasa tidak nyaman dengan mertua juga dirasakan oleh buk Yunita, dari permasalahan yang di hadapi oleh Buk Yunita, dampak yang beliau rasakan adalah adanya ketidaknyamanan antara beliau dengan ibu

mertuanya. Maksudnya disini adalah beliau tidak suka dengan sikap mertuanya yang melarang-larang Buk Yunita untuk berhenti bekerja agar seperti dirinya.

Di anggap Sebagai Menantu yang Tidak Mematuhi Nasehat Dari Orang Tua

Perbedaan pendapat memang sering terjadi, ntah antara kakak dengan adik, suami dengan istri, ataupun mertua dengan menantunya. Adanya perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dan justru menjadikan rumah tangga semakin bewarna, menjadi tidak wajar ketika perbedaan ini dibesar-besarkan dan tumbuh dengan kebencian. Rumah tangga yang dijalani Buk Ernita memiliki pandangan-pandangan yang berbeda didalamnya, terutama antara Buk Ernita dengan mertuanya, yang mana beliau merasakan ada beberapa hal yang tidak sepaham atau sependapat dengan mertuanya.

Yaitu tentang paham yang masih digunakan oleh mertua nya tentang pemasangan kalung dari bawang putih untuk menghindarkan sang anak dari makhluk gaib, dari sini kurang setuju nya buk Ernita dengan hal yang demikian, dia menganggap di zaman seperti ini sudah tidak usah dipakai cara yang seperti itu, tidak semua paham orang zaman dulu digunakan untuk zaman sekarang.

Dari pernyataan Buk Ernita diatas disimpulkan bahwa beliau kurang setuju dengan masukan yang diberikan oleh mertuanya tentang pemakaian kalung kepada anaknya. Sebab pada zaman sekarang kebiasaan seperti itu sudah banyak masyarakat yang tidak menggunakannya lagi. Agar tidak menyinggung mertuanya Buk Ernita sudah pernah mengatakan secara baik-baik kepada mertuanya bahwa hal yang seperti itu lebih baik tidak usah digunakan, karna Buk Ernita tetap dengan pendiriannya dari situlah permasalahan mucul dan mertuanya pun menganggap bahwa Buk Ernita tidak mematuhi perkataan dari mertuanya.

Kebebasan Individu Terbatas

Kebebasan individu yang terbatas biasanya dapat menganggu aktivitas sehari- hari, yang biasanya kita bebas dalam melakukan sesuatu atau mengutarakan suatu pendapat akan terhalangi apabila dalam berpendapat kita akan dihalangi atau tidak didengarkan. Berdasarkan wawancara yang

(10)

7 dilakukan dengan Buk Lisa disimpulkan bahwa beliau tidak bisa mengeluarkan pendapat atas kejadian yang dialaminya.

Sesuai dengan permasalahan diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya ruang atau tempat bagi Buk Lisa untuk mengutarakan apa yang di rasakannya kepada suami ataupun mertuanya.

KESIMPULAN

Dalam Adat Budaya Minangkabau, perkawinan merupakan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru. Yakni pihak keluarga istrinya. Sedangkan bagi pihak keluarga istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas rumah gadang mereka. Setelah menikah, kedua mempelai tidak tinggal dirumah mempelai pria, teteapi tinggal dirumah ibu mempelai wanita.

Permasalahan yang terjadi di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo adalah seorang suami tidak lagi tinggal dirumah istri akan tetapi tinggal dirumah orangtuanya sehingga istri melakukan interaksi sosial dengan mertua. Dan penyesuaian diri yang dilakukan pun cukup baik walaupun ada selisih paham antara menantu dan mertua.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal.2014. Metode Penelitian Kualitatif.

Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada.

Amir, MS. 2011. Adat Minangkabau : Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.

Jakarta : Citra Harta Prima.

Bungin. Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif.

Jakarta: Kencana.

Charlie, L. 2006. Jurus Merebut Hati Mertua. Bandung : Nexx Media.

Ritongga, M. 2005. Akidah Merakit Hubungan Manusia dengan Khaliknyamelalui Pendidikan Akidah Usia Dini. Surabaya.

Navis, AA. 1984. “Alam Terkembang Menjadi Guru” : Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta : PT Grafiti Pers.

Ritzer, George. 2011. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Suhendi, Hendi dan Rahmadini Wahyu.

2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung : CV Pustaka Setia.

Moleong J, Lexy.2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

PT. Remaja Rosda Karya.

Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 2009.

Metodologi Penelitian. Jakarta:

Bumi Aksara.

Noor, Juliansyah. 2012. Metodologi Penelitian Skripsi, Tesis Disertasi dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Martono, Nanang. 2015.

MotodePenelitianSosialKonse p-KonsepKunci.Jakarta:

Rajawali Pers.

Referensi

Dokumen terkait

mengingat banyaknya fenomena menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua, memperbanyak jumlah subjek, mengawasi jalannya pengisian guna menghindari

Dari hasil tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan penyesuaian diri terhadap mertua pada menantu laki- laki dan perempuan usia dewasa awal yang tinggal satu

Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan di lingkungan Pemerintah Kota Bandar Lampung khususnya Instansi Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Pasca penandatanganan

Dari hasil observasi awal yang peneliti lakukan di Kelompok B TK Islam Nurussalam Kabupaten Maros pada tanggal 8 April 2019 beberapa anak-anak menunjukkan keterlambatan

Penyesuaian diri yang harus dilakukan oleh ibu mertua mengacu pada lima aspek yaitu memiliki persepsi terhadap realitas yang ada, kemampuan seseorang dalam

Penyesuaian diri yang harus dilakukan oleh ibu mertua mengacu pada lima aspek yaitu memiliki persepsi terhadap realitas yang ada, kemampuan seseorang dalam

Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di RW 07 Kelurahan Cakung, Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur peneliti mengamati keadaan Posko Vaksin yang diselenggarakan dari pihak RW

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, fakta yang didapat yaitu kinerja Kelurahan Nologaten Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo dinilai masih kurang efektif, hal