Kutipan Tidak Langsung
Menurut Dewa Gede Atmaja (2018), asas hukum merupakan ukuran-ukuran hukum etis yang memberikan arah kepada pembentukan hukum dan dapat dianggap sebagai jembatan antara peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat. Satjipto Rahardjo (2012) mengemukakan gagasan tentang asas kepastian hukum, yang merupakan asas utama dalam pembentukan aturan hukum. Radbruch, dalam karyanya "einführung in die rechtswissenschaften," memperkenalkan tiga nilai dasar dalam hukum, yakni keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Keberadaan kepastian hukum, seperti yang dijelaskan oleh R. Tony Prayogo (2016), sangat penting karena tanpa kepastian hukum, masyarakat akan mengalami ketidakpastian dan ketidaktegasan dalam sistem hukum, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kekerasan dan kekacauan. Sahya Anggara (2018) menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan negara, diperlukan lembaga negara dan kewenangan yang diatur oleh hukum administrasi negara, yang merupakan bagian dari hukum publik yang mengatur tindakan pemerintah dan hubungan antara pemerintah dan warga negara serta organ pemerintah. Hukum administrasi negara mencakup semua peraturan yang berhubungan dengan cara organ pemerintahan melaksanakan tugasnya.
Kutipan Langsung
Asas hukum memiliki peran sentral dalam pembentukan hukum, karena asas hukum merupakan ukuran-ukuran hukum etis yang memberikan arah kepada proses pembentukan peraturan hukum.
Dewa Gede Atmaja (2018) menjelaskan bahwa asas hukum dapat dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat.
Dalam konteks pembentukan aturan hukum, asas yang menjadi fokus utama adalah kepastian hukum. Satjipto Rahardjo (2012) memperkenalkan gagasan mengenai asas kepastian hukum yang awalnya diperkenalkan oleh Gustav Radbruch dalam bukunya "einführung in die rechtswissenschaften". Radbruch mengidentifikasi tiga nilai dasar dalam hukum, yaitu keadilan (Gerechtigkeit), kemanfaatan (Zweckmassig-keit), dan kepastian hukum (Rechtssicherheit).
Kepastian hukum memiliki peran krusial dalam sistem hukum, seperti yang disoroti oleh R.
Tony Prayogo (2016). Tanpa adanya kepastian hukum, masyarakat akan mengalami ketidakpastian dan ketidaktegasan dalam sistem hukum, yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketidakstabilan dan kekacauan. Oleh karena itu, kepastian hukum diperlukan untuk menjamin pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, dan konsisten, di mana pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh pertimbangan subjektif.
Selain itu, untuk mencapai tujuan negara, diperlukan lembaga negara dan pengaturan kewenangan. Hukum administrasi negara, yang merupakan bagian dari hukum publik, memegang peran penting dalam mengatur tindakan pemerintah dan hubungan antara pemerintah dan warga negara, serta hubungan antara organ-organ pemerintah. Sahya Anggara (2018) menjelaskan bahwa hukum administrasi negara mencakup semua peraturan yang berhubungan dengan cara organ pemerintahan melaksanakan tugasnya. Dengan demikian, hukum negara
mengatur aturan main yang berhubungan dengan fungsi organ-organ pemerintahan guna mencapai tujuan negara yang telah ditetapkan..
Daftar Pustaka
R. Tony Prayogo. (2016). Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Hal Uji Materiil Dan Dalam Peraturan Mahkamah
Konstitusi Nomor 06/Pmk/2005 Tentang Pedoman Beracara Dalam Pengujian Undang-Undang.
Jurnal Legislasi Indonesia, Volume 13, Nomor 2.
Sahya Anggara. (2018). Hukum Administrasi Negara. Bandung: Pustaka Setia.
Satjipto Rahardjo. (2014). Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.