• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Konsep Menuju Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur'an

N/A
N/A
Salsabila Hasibuan

Academic year: 2024

Membagikan " Dari Konsep Menuju Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur'an"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN HMI DALAM REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS

PEMBENTUKAN KARAKTER:

Dari Konsep Menuju Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an

Diajukan untuk memenuhi persyaratan mengikuti

“Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional HMI Cabang Bungo”

OLEH :

SALSABILA HASIBUAN

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) KOMISARIAT TARBIYAH UINSU

CABANG MEDAN

(2)

PERAN KADER HMI DALAM REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER:

Dari Konsep Menuju Internalisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an

Salsabila Hasibuan, HMI Cabang Medan Email: [email protected] Tlpn. 082167044008

Abstrak:

Tulisan ini mengkaji tentang peran kader HMI dalam rekonstruksi pendidikan Islam yang sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah. Proses pendidikan Islam masih menitikberatkan dan memfokuskan pada capaian secara kognitif. Pelaksanaan pendidikan Islam masih dalam tataran konsep, belum pada internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yang merupakan dasar pokok pendidikan Islam.

Persoalan yang semakin mengkhawatirkan adalah mencuatnya kasus dekadensi akhlak. Berbagai peristiwa yang merendahkan harkat dan martabat manusia berkembang di masyarakat bahkan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik, seperti hancurnya nilai-nilai keislaman, merebaknya kasus bullying, dan meningkatnya kasus amoral. Fenomena ini seolah mempertanyakan kembali peranan pendidikan Islam dalam membentuk karakter peserta didik. Untuk itu, perlu adanya rekonstruksi pendidikan Islam berbasis pembentukkan karakter dengan konsep internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an. Hasil tulisan ini menjelaskan bahwa ada 3 hal yang bisa dilakukan dalam merekonstruksi pendidikan Islam berbasis pembentukan karakter dengan konsep internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yaitu: pertama, harus terlebih dahulu melakukan pengenalan pribadi. kedua, semua pihak yang terlibat di dalam lembaga pendidikan harus menampilkan diri sebagai suri tauladan. ketiga, menerapkan pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an dengan 4 tahapan yaitu pengalaman pembelajaran, refleksi, aksi, dan evaluasi.

Kata Kunci: Kader HMI, Pendidikan Islam, Pembentukan Karakter, Nilai- Nilai Al-Qur’an

(3)

Abstract

This paper examines the reconstruction of Islamic education which is still facing various problems. The process of Islamic education is still focused and focused on the achievements cognitively. Implementation of Islamic education is still in the level of concept, not on internalization of the Qur’anic values which is the basic foundation of Islamic education. The problem of increasingly worrying is the rise of cases of moral decadence. This phenomenon seems to re-question the role of Islamic education in shaping the character of learners. Therefore, it is necessary to reconstruct Islamic education based on character formation with the concept of internalization of Al-Qur’an values. The results of this paper explain that there are 3 things that can be done in reconstructing Islamic education-based character formation with the concept of internalization of Al-Qur’an values are: first, must first do personal recognitions. Secondly, all parties involved in educational institutions should present themselves as role models for learners. third, to apply character education based on Al-Qur’an with 4 stages of learning experience, reflection, action, and evaluation.

Keywords: Islamic Education, Character Building, Al- Qur’an ValuesI.

(4)

I. PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “Bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas/karakter bangsa (manusia) itu sendiri.1 Diakui atau tidak bahwa karakter generasi muda akhir- akhir ini banyak mengalami kelunturan yang sangat dahsyat. Generasi muda sekarang, baik di desa maupun di kota banyak menghabiskan waktunya hanya untuk bermain playstation, gadget, game online, dan sejenisnya, mereka hampa akan nilai-nilai budaya lokal serta asing terhadap istilah-istilah seperti budi pekerti, tata krama, gotong royong dan nilai-nilai luhur lainnya yang ada di bumi nusantara ini.

Seseorang yang dibekali dengan akhlak dan pengalaman hidup dengan baik, ia akan tumbuh menjadi anak yang berbudi, bernilai, kreatif, dan mandiri. Sebaliknya jika anak itu selalu disuguhi dengan kesibukan yang tidak jelas, permainan yang melalaikan, serta berbagai tontonan yang tidak bermutu, maka bisa dipastikan ia akan cenderung berperilaku tidak sesuai dengan karakter bangsa. Hal ini tentu akan merugikan terhadap dirinya sendiri juga lingkungan sekitar. Maka diperlukan sebuah solusi untuk menjadikan generasi muda ini agar menjadi generasi yang berkarakter kuat, unggul, beriman dan beradab.2

Pandangan simplistik menganggap, bahwa kemerosotan akhlak, moral, dan etika mahasiswa disebabkan gagalnya pendidikan agama di perguruan tinggi. Harus diakui, dalam batas tertentu, pendidikan agama memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, sejak dari jumlah jam yang minim, materi pendidikan agama yang terlalu banyak teoritis, sampai kepada pendekatan pendidikan agama yang cenderung bertumpu pada aspek kognisi daripada afeksi dan psikomotorik peserta didik.

1 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 2

2 Muthoifin dan Mutohharun Jinan, “Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara: Studi Kritis Pemikiran Karakter dan Budi Pekerti dalam Tinjauan Is- lam”, Jurnal Profetika, Jurnal Studi Islam, Volume 16, No. 2, Desember 2015, hlm. 167-168.

(5)

Berhadapan dengan berbagai kendala, constraints, dan masalah- masalah seperti ini, pendidikan agama tidak atau kurang fungsional dalam membentuk akhlak, moral, dan bahkan kepribadian mahasiswa.3

Dapat dipahami bahwa pendidikan Islam saat ini masih menghadapi berbagai masalah. Capaian hasil pendidikan masih belum memenuhi tujuan pendidikan Islam yang diharapkan. Pembelajaran di perguruan tinggi juga belum mampu membentuk pribadi lulusan yang mencerminkan karakter muslim yang bernilai. Proses pendidikan Islam masih menitikberatkan dan memfokuskan pada capaian secara kognitif belum pada aspek afektif yang merupakan bekal kuat untuk hidup berdampingan dengan masyarakat dan dapat menjadi agent of change bagi lingkungan masyarakat yang sedang menghadapi kemerosotan karakter/akhlak.

Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat dengan sebutan HMI adalah salah satu organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi yang bersifat independent. Sesuai yang telah tertulis pada mukaddimah pada anggaran dasar bahwa sebagai bagian umat Islam di dunia, maka umat Islam Indonesia memiliki kewajiban berperan aktif dalam menciptakan ukhuwah islamiyah sesama umat Islam sedunia menuju masyarakat adil makmur yang diridhoii Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Adapun peran mahasiswa islam sebagai generasi muda yang sadar akan haq dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan Dharma Bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai Keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.

Menyikapi fenomena tersebut, organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam dunia pendidikan harus memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral bangsa, dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik.

Rumusan masalah dari penulisan jurnal tersebut yaitu :

3 Muthoifin dan Mutohharun Jinan, “Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara...”, hlm.

168.

(6)

a) Apa pengertian dari gerakan islam Himpunan Mahasiswa Islam?

b) Apa peran organisasi HMI dalam rekonstruksi pendidikan islam berbasis pembentukan karakter dari konsep menuju internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an?

Tujuan dari penulisan jurnal :

a) Mengetahui pengertian dari gerakan islam Himpunan Mahasiwa Islam

b) Mengetahui peran organisasi HMI dalam rekonstruksi pendidikan islam berbasis pembentukan karakter dari konsep menuju internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an

Tujuan khusus dari pembuatan jurnal ini

a) Untuk memenuhi persyaratan mengikuti (INTERMEDIATE TRAINING) LK II CABANG BUNGO

Manfaaat dari penulisan jurnal:

a) Agar pembaca mengetahui pengertian gerakan Himpunan Mahasiswa Islam, b) agar pemabaca mengetahui awal munculnya gerakan Himpunan Mahasiwa

Islam,

c) Agar pembaca mengetahui pengaruh dan peran gerakan islam Himpunan Mahasiswa Islam di Indonesia, sebagai informasi untuk mahasiswa dalam menghadapi kemerosotan karakter yang ada di perguruan tinggi.

d) Semoga dengan adanya jurnal ini maka akan memberi pengetahuan dari gerakan islam yang ada di perguruan tinggi yaitu Himpunan Mahasiswa Islam.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE A. Himpunan Mahasiswa Islam

Sejarah berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam tidak bisa dilepaskan dengan nama yang sangat populer dikalangan HMI yaitu Lafran Pane sebagai inisiator berdrinya HMI. Pada hari Rabu Pon, 14 Rabiulawal 1366 H atau bertepatan dengan 5 Februari 1947 M pukul 16.00 WIB, Lafran Pane mendeklarasikan berdirinya organisasi mahasiswa Islam dengan memanfaatkan

(7)

jam perkuliahan Prof. Husein Yahya dihadapan 20 mahasiswa lainnya diantaranya Kartono, Dahlan Husein, Anton Timur Djaelani, Yusdi Ghozali dll. Acara deklarasi tersebut bertempat di salah satu ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam/STI (sekarang UII), Jl. Setyodiningratan 30 (Sekarang P. Senopati 30). Berawal dari tempat itulah HMI berdiri dengan deklarasi singkat Lafran Pane berikut ini: “Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi mahasiswa Islam, karena seluruh persiapan maupun perlengkapan yang diperlukan sudah siap”.

Sejak berdirinya, HMI mengidentifikasi dirinya sebagai organisasi independen yang berbasis kemahasiswaan dengan mengutamakan kebebasan berpikir dan bertindak sesuai hati nurani masing-masing. Prinsip dan komitmen pada perjuangan Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah 101 idealisme yang selalu dipegang teguh dan utuh oleh para kader HMI, hal tersebut disebutkan secara padat dalam tujuan awal pembentukan HMI yaitu (1) mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, (2) menegakkan dan mengembangkan Agama Islam. Tujuan tersebut dikembangkan menjadi lebih universal yaitu pada bab 3 pasal 4 anggaran dasar HMI yang berbunyi ”terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala”. Selain hal tersebut, ada yang melatar belakangi berdirinya HMI. Setelah menelisik lebih jauh, ada 3 faktor yang dijadikan sebagai alasan didirikannya organisasi mahasiswa berbasis Islam tersebut yaitu,

1. Situasi kebangsaan terdiri dari 2 yaitu internal dan eksternal, internal ditandai dengan kehadiran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dengan terang-terangan ingin mengganti ideologi pancasila menjadi ideologi komunis, sedangkan eskternal ditandai dengan ancaman dan agresi militer belanda II pada kisaran tahun 1948.

2. Pergolakan umat islam di tanah air juga menjadi tanda kelahiran HMI dimana pada fase tersebut tepat pasca kemerdekaan Republik Indonesia organisasi bernafaskan Islam muncul dengan kepentingan yang berbeda- beda, terutama golongan Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah yang

(8)

berselisih paham. Oleh karena itu, masyarakat menjadi bingung memilih aliran yang paling tepat.

3. Situasi kampus dan kemahasiswaan di Indonesia khususnya di Yogyakarta ditandai dengan menyebarnya virus-virus sosialisme dan komunisme dikalangan masyarakat dan mahasiswa. Sehingga pada perjalanannya HMI berhasil membentuk beberapa cabang di Indonesia.

B. Pendidikan Islam

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari manusia sebagai makhluk berpikir. Dengan pembinaan olah pikir, manusia diharapkan semakin meningkat kecerdasannya dan meningkat pula kedewasaan berpikirnya, terutama memiliki kecerdasan memecahkan permasalahan dalam kehidupannya. Pendidikan pada hakikatnya juga merupakan pelatihan keterampilan setelah manusia memperoleh ilmu pengetahuan yang memadai dari hasil olah pikirnya. Keterampilan yang dimaksudkan adalah suatu objek tertentu yang meembantu kehidupan manusia karena dengan keterampilan tersebut, manusia mencari rezeki dan mempertahankan kehidupannya. Pendidikan Islam dapat diartikan secara praktis sebagai hakikat pengajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berdasarkan firman Allah SWT. dalam surat Asy-Syura ayat 52 sebagai berikut:4

اًرْوُن ُهٰنْلَعَج ْنِكٰلَو ُناَمْيِ ْلا َلَو ُبٰتِكْلا اَم ْيِرْدَت َتْنُك اَمۗ اَنِرْمَا ْنّم اًحْوُر َكْيَلِا اَنْيَحْوَا َكِل ٰذَكَو

ٍۙمْيِقَتْسّم ٍطاَرِص ىٰلِا ْٓيِدْهَتَل َكّنِاَوۗ اَنِداَبِع ْنِم ُءۤاَشّن ْنَم ٖهِب ْيِدْهّن

Artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al- Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba- hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (Q.S. Asy-Syura:52)

4 Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 56-57.

(9)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang memberi petunjuk kehidupan. Dengan demikian, hakikat pendidikan Islam adalah upaya tanpa putus asa untuk menggali hidayah yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hidayah yang dimaksudkan adalah hidayah iman, hidayah ilmu, dan hidayah amal. Hidayah iman artinya semua orang yang menggali kandungan Al-Qur’an hendaknya beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW. serta beriman kepada kitab Al- Qur’an. Hidayah ilmu artinya penggalian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi informasi dan idea dasar semua ilmu pengetahuan manusia, sedangkan hidayah amal artinya kita diberi kekuatan fisik dan mental untuk mengamalkan seluruh ilmu yang yang telah digali dalam Al-Qur’an.

Sedangkan pendidikan Islam yaitu bimbingan secara sadar dan pendidik (orang dewasa) kepada anak yang masih dalam proses pertumbuhannya berdasarkan norma-norma yang Islami agar berbentuk kepribadiannya menjadi kepribadian muslim.5 Pendidikan Islam juga diartikan sebagai usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.6

Jadi, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam merupakan usaha sadar membina dan membimbing peserta didik dalam memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Pendidik secara sadar mengarahkan pada pembentukan karakter peserta didik menjadi kepribadian muslim dan muslimah berdasarkan norma-norma Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis.

C. Karakter

Watak atau karakter berasal dari kata Yunani “charassein”, yang berarti barang atau alat untuk menggores, yang di kemudian hari

5 Nur Uhbiyati, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2013), hlm. 163.

6 H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasa - kan Pendekatan Interdisipliner, Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 22.

(10)

dipahami sebagai stempel/cap. Jadi, watak itu sebuah stempel atau cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang. Watak sebagai sifat seseorang dapat dibentuk, artinya watak seseorang dapat berubah, kendati watak mengandung unsur bawaan (potensi internal), yang setiap orang dapat berbeda. Namun, watak amat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan pergaulan, dan lain-lain.7

Istilah “watak” itu terkandung makna adanya sifat- sifat baik yang melekat pada diri seseorang sehingga tercermin dalam pola pikir dan pola tingkah lakunya. Watak seseorang dapat dibentuk, dapat dikembangkan dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai akan membawa pada proses internalisasi nilai, dan proses internalisasi nilai akan mendorong seseorang untuk mewujudkannya dalam tingkah laku, dan akhirnya pengulangan tingkah laku yang sama akan menghasilkan watak seseorang.

III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Proses pendidikan Islam masih menitikberatkan dan memfokuskan pada capaian secara kognitif. Pelaksanaan pendidikan Islam masih dalam tataran konsep, belum pada internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yang merupakan dasar pokok pendidikan Islam. Persoalan yang semakin mengkhawatirkan adalah mencuatnya kasus dekadensi akhlak. Berbagai peristiwa yang merendahkan harkat dan martabat manusia berkembang di masyarakat bahkan dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik, seperti hancurnya nilai-nilai keislaman, merebaknya kasus bullying, dan meningkatnya kasus amoral. Fenomena ini seolah mempertanyakan kembali peranan pendidikan Islam dalam membentuk karakter peserta didik.

Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”.

Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Mengingat

7 Sutarjo Adisusilo, J.R., Pembelajaran Nil[ CITATION JRS13 \l 1057 ]ai Karakter:

Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, (Jakarta: PT.

Rajawali Pers, 2013), hlm. 76-77.

(11)

begitu urgennya karakter, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkannya melalui proses pembelajaran.8

Secara historis pendidikan karakter merupakan misi utama para nabi. Muhammad Rasulullah sedari awal tugasnya memiliki suatu pernyataan unik, bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan karakter (akhlak). Manifesto Muhammad Rasulullah ini mengindikasikan bahwa pembentukan karakter merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat menciptakan peradaban.

Pada sisi lain, juga menunjukkan bahwa masing-masing manusia telah memiliki karakter tertentu, namun perlu disempurnakan.

Islam hadir sebagai jalan untuk menyempurnakan karakter. Al-Qur’an adalah buku ajar yang menghadapi peserta didik masyarakat Arab yang berkarakter belum sempurna. Pembentukan karakter begitu memenuhi materi-materi awal Al-Qur’an, bahkan perintah ritual ibadah (shalat, zakat, puasa, dan haji) dikaitkan dengan tumbuhnya karakter yang baik.

pada banyak ayat, ritual ibadah dianggap sia- sia (wayl) bila tidak muncul dalam wujud karakter yang baik dan memperbaiki (amal saleh).

Berbicara masalah pembentukan karakter/akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak:

a) Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan Islam.

b) Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada- Nya dengan memeluk agama Islam.

Dalam proses perkembangan dan pembentukannya, karakter seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan

8 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 1.

(12)

(nurture) dan faktor bawaan (nature). Secara psikologis perilaku berkarakter merupakan perwujudan dari potensi

1. Intelligence Quotient (IQ), 2. Emotional Quotient (EQ), 3. Spiritual Quotient (SQ), dan

4. Adverse Quotient (AQ) yang dimiliki oleh seseorang.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio-kultural pada akhirnya dapat dikelompokkan dalam empat kategori, yakni:

(a) olah hati (spiritual and emotional development);

(b) olah pikir (intellectual development),

(c) olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development);

(d) olah rasa dan karsa (affective and creativity development).

Keempat proses psiko-sosial ini secara holistik dan koheren saling terkait dan saling melengkapi dalam rangka pembentukan karakter dan perwujudan nilai-nilai luhur dalam diri seseorang.

Sebagai bangsa yang penduduknya mayoritas beragama Islam, tentu tidak salah jika menjadikan kitab suci umat Al- Qur’an sebagai inspirasi dalam membangun karakter bangsa. Sebagai kitab suci, Al- Qur’an sarat dengan konsep dan nilai-nilai moral yang sangat relevan untuk dijadikan sebagai rujukan utama dalam pembinaan karakter masarakat, khususnya generasi muda. Hal ini sangat beralasan, sebab Al-Qur’an telah terbukti berhasil dalam merubah karakter bangsa Arab yang sebelumnya diwarnai dengan berbagai macam bentuk penyimpangan. Sejak hadirnya Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat Arab, terjadi suatu transformasi budaya dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang berperadaban.

Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat dengan sebutan HMI adalah salah satu organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi yang bersifat independent. Sesuai yang telah tertulis pada mukaddimah pada anggaran dasar bahwa sebagai bagian umat Islam di dunia, maka

(13)

umat Islam Indonesia memiliki kewajiban berperan aktif dalam menciptakan ukhuwah islamiyah sesama umat Islam sedunia menuju masyarakat adil makmur yang diridhoii Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Adapun peran mahasiswa islam sebagai generasi muda yang sadar akan haq dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan Dharma Bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai Keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.

Organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam dunia pendidikan pastinya memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral bangsa, dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik. Adapun salah satu usaha HMI dalam membentuk karakter pribadi muslim sudah tertera di dalam Hasil-Hasil Kongres XXXI Surabaya Bab IV Usaha, Peran, dan Fungsi Pasal 7 Point 1 yang berbunyi “Membina pribadi muslim untuk mencapai Akhlakul Karimah”. Dapat dipahami bahwa organisasi Himpinan Mahasiswa Islam menjadi salah satu organisasi gerakan islam Indonesia di perguruan tinggi yang dapat membentuk kepribadian/karekter mahasiswa muslim untuk mencapai Akhlakul Karimah.

Ada 3 hal yang bisa dilakukan HMI dalam merekontruksi pendidikan Islam berbasis pembentukan karakter dengan konsep internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yaitu: pertama, kader harus terlebih dahulu melakukan pengenalan pribadi dengan diri sendiri dan mahasiswa, dengan kata lain mengenali perbedaan karakteristik dan kematangan mahasiswa, sehingga terjalin komunikasi yang baik antara kader dan mahasiswa. Kedua, semua pihak yang terlibat di dalam organisasi HMI harus menampilkan diri sebagai suri tauladan bagi mahasiswa. Ketiga, menerapkan pendidikan karakter berbasis Al- Qur’an dengan 4 tahapan yaitu pengalaman pembelajaran, refleksi, aksi, dan evaluasi.

(14)

IV. KESIMPULAN

Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat dengan sebutan HMI adalah salah satu organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi yang bersifat independent. Sesuai yang telah tertulis pada mukaddimah pada anggaran dasar bahwa sebagai bagian umat Islam di dunia, maka umat Islam Indonesia memiliki kewajiban berperan aktif dalam menciptakan ukhuwah islamiyah sesama umat Islam sedunia menuju masyarakat adil makmur yang diridhoii Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Adapun peran mahasiswa islam sebagai generasi muda yang sadar akan haq dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada umat manusia, umat muslim dan Bangsa Indonesia bertekad memberikan Dharma Bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai Keislaman demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.

Organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam dunia pendidikan memberi peran penting dalam menangkal dekadensi moral bangsa, dalam upaya menyiapkan generasi muda masa depan yang lebih baik. Untuk itu, perlu adanya rekonstruksi pendidikan Islam berbasis pembentukkan karakter dengan konsep internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an. Ada 3 hal yang bisa dilakukan dalam merekonstruksi pendidikan Islam berbasis pembentukan karakter dengan konsep internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yaitu:

a) Pertama, kader harus terlebih dahulu melakukan pengenalan pribadi dengan dirinya sendiri dan mahasiswa.

b) Kedua, semua pihak yang terlibat di dalam organisasi HMI harus menampilkan diri sebagai suri tauladan bagi mahasiswa.

c) Ketiga, menerapkan pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an dengan 4 tahapan yaitu pengalaman pembelajaran, refleksi, aksi, dan evaluasi.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, H.M. 2011. Ilmu Pendidikan Islam : Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner . Jakarta: Bumi Aksara.

Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

J.R, Sutarjo Adisusilo. 2013. Pembelajaran Nilai Karakter : Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT.

Rajawali Pers.

Majid, Abdul, and Dian Andayani. 2012. Pendidikan Karakter Perspektif Islam.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Majid, Nurcholis. 2008. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

Muthoifin, and Mutohharun Jinan. 2015. "Pendidikan Karakter KI. Hajar Dewantara: Studi Kritis Pemikiran Karakter dan Budi Pekerti dalam Tinjauan Islam." Jurnal Studi Islam 167-168.

Uhhiyati, Nur. 2013. Dasar- Dasar Pendidikan Islam . Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

(16)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Salsabila Hasibuan Asal Komisariat : Tarbiyah UIN-SU Medan Asal Cabang : Medan

Dengan ini menyatakan bahwa jurnal ini merupakan karya ilmiah saya sendiri dan bukan merupakan tiruan. Salinan atau duplikasi dari jurnal orang lain serta belum pernah dipublikasikan.

Pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab serta bersedia menerima segala resiko jika ternyata pernyataan saya diatas tidak benar.

Medan, 13 Juli 2022

Salsabila Hasibuan

(17)

FORMULIR PENDAFTARAN PESERTA LATIHAN KADER II (LK II)

TINGKAT NASIONAL

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM CABANG BUNGO

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, bahwa apa yang saya isi dalam formulir ini adalah benar adanya.”

A. INFORMASI DIRI

Nama Lengkap : Salsabila Hasibuan

Nama Panggilan : Sabil

Tempat dan Tanggal Lahir : P. Brandan, 08 Agustus 2001

Jenis Kelamin : Perempuan

Golongan Darah : O

Anak Ke/Dari : 2 dari 3 besaudara

Tinggi Badan dan Berat Badan

: 163 cm dan 54 kg

Alamat Asal : Medan

Riwayat/sakit yang

sedang diderita :

Tidak ada

No. Hp/E-mail : 082167044008

Hobby : Membaca

(18)

Cabang/Badko : Medan / Sumatera Utara

Jenis buku favorit : La Tahzan

Judul buku yang terakhir dibaca

: Hajar (Rahasia hati sang ratu zam-zam

B. JENJANG PENDIDIKAN

Pendidikan Sekarang

Perguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Fakultas : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Tahun Masuk : 2018

Riwayat Pendidikan Nama Institusi Tahun

Masuk Tahun

Tamat

SD/Sederajat : SDN. 050756 Alur Dua 2006 2012

SMP/Sederajat : MTs. Negeri 2 Langkat 2012 2015

SMA/Sederajat : SMA Negeri 1 Babalan 2015 2018

C. PENGALAMAN ORGANISASI INTERNALHMI

Lembaga Jabatan Masa

Jabatan 1

.

Departemen Pembinaan Anggota 2019-2020 2

.

Wakil Sekertaris Umum Bidang Pembinaan Anggota 2021-2022 3.

Resufle Wakil Sekertaris Umum Bidang Litbang 2021-2022

PENGALAMAN ORGANISASI EKTERNAL HMI

(19)

Lembaga Jabatan Masa Jabatan

1. Bendahara umum HMJ PGMI 2020-2021

2. Bendahara Umum DEMA FITK

UINSU

2021-2022 3.

PENGALAMAN KERJA

Nama Perusahaan Jabatan Tahun

1. Ear Sound Pusat Alat Bantu Dengar Audiolog 2.

PENGALAMAN PELATIHAN

Nama Pelatihan Nama Penyelenggara Bulan/Tahun 1.

2.

3.

4.

5.

Pas Foto

Tanggal : 13 Juli 2021 Nama lengkap : Salsabila Hasibuan

Tanda tangan :

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Nilai Tauhid pada Kisah Nabi Ibrahim AS di dalam al- Qur‟an. Pada

Dan dengan cara meningkatkan karakter peserta didik melalui strategi penanaman nilai pendidikan karakter siswa berbasis multiple intelegensi, sehingga dalam internalisasi

Jika didefenisikan dengan mengaitkan pengertian sosialisasi dengan politik, maka sosialisasi politik dapat diartikan sebagai suatu proses melakukan internalisasi konsep, nilai –

Melalui peran strategis dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan mendorong penelitian dengan judul “Dosen sebagai Driving Force internalisasi nilai-nilai Al Islam Dan

Internalisasi delapan nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran materi akhlak bagi santri di Pondok Pesantren Salafiyah Sentot Alibasya telah sesuai dengan kriteria-kriteria

Internalisasi Nilai-Nilai Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Arab Secara Daring di Madrasah Ibtidaiyah DDI Tani Aman Loa Janan Ilir Adapun tantangan dalam internalisasi nilai-nilai

Aplikasi internalisasi nilai-nilai karakter terhadap upaya pen- ingkatkan karakter ustadz dan ustadzah di pondok pesantren modern darussalam kepahiang, amati dampak dari adanya

Adapun fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1 Bagaimana Nilai Aqidah pada Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Islam melalui Kegiatan Kopi Dakwah dalam membentuk karakter Religius