Sumber: Peneliti (2023)
Gambar 3.1
Kerangka Proses Berpikir
41 Tinjauan Teoritis
Profitabilitas Sudarno (2022:91) Kasmir (2019:198) Ukuran Perusahaan
Tony dan Anggara (2021:13) Ratnaningsing,dkk (2021:229) Struktur Modal
Sulindawati (2018:112) I Made Sudana (2019:189) Nilai Perusahaan
Silvia Indrarini (2019:2) Husnan dan Pudjiastuti (2018:6)
Tinjauan Empiris
Muharramah dan Hakim (2021) “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Property, Real Estate dan Konstruksi yang terdaftar di BEI”.
Sintyana dan Artini (2019) “Pegaruh Profitabilitas, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014- 2016”.
Oktiwiati dan Nurhayati ( 2020) Pengaruh Profitabilitas, Struktur Modal, dan Keputusan Investasi terhadap Nilai Perusahaan (Pada Sektor Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2017)”.
Wardhani dkk (2021) “Pengaruh Profitabilitas, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, dan Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan pada sektor consumer goods industry yang terdaftar di BEI
Hipotesis
Bahwa variabel Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2018-2022.
Bahwa variabel Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2018-2022.
Bahwa variabel Profitabilitas berpengaruh dominan terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2018-2022.
Uji Statistik
Analisis Regresi Linear Berganda, R Square, Uji T, Uji F, dan Uji Dominan
Skripsi
Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada
tahun 202018-2022.
Keterangan:
Kerangka proses berfikir dalam penelitian ini digambarkan pada Gambar 3.1 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan ketergantungan antara variabel Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan berdasarkan tinjauan teoritis maupun tinjauan empiris. Teori-teori dari beberapa tinjauan ini dipelajari untuk membantu proses analisis. Dalam gambar 3.1 diatas pada studi empirik mengandung proses berfikir induktif, artinya peneliti akan menganalisis dan menjawab permasalahan serta mengambil kesimpulan berdasarkan atau bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus kearah hal-hal yang bersifat umum. Sehingga dalam suatu penelitian seorang peneliti tidak hanya dedukatif saja atau berfikir induktif saja, tetapi juga merupakan interaksi bolak- balik ( ) dari proses berfikir dedukatif (studi teoritis) dan proses berfikir induktif (studi empiris). Pada saat melakukan proses seperti ini maka ditentukan variabel yang baik dalam studi teoritis maupun studi empiris dengan hubungan kausalitasnya ( ), dan atas dasar tersebut disusunlah hipotesis penelitian.
Kerangka proses berfikir memperlihatkan bahwa tinjauan teoritik yang di dapat dari berbagai sumber studi empirik dari penelitian terdahulu yang menghasilkan hipotesis sebagai jawaban sementara dan harus diuiji kebenarannya berdasarkan tinjauan teoritik dan menghasilkan teori baru yang menghubungkan antara skripsi ke tinjauan teoritik dan empirik yang ada, sehingga memberikan kontribusi dan mengasilkan teori baru ( ) yang menghubungkan antara skripsi ke tinjauan teoritik dan empirik dapat diartikan bahwa skripsi ini diharapkan memberikan kontribusi berupa sanggahan atau menolak atau dukungan teori-teori dan peneliti.
3.2 Definisi Operasional dan Desain Instrumen Penelitian 3.2.1 Definisi Operasioanal
Menurut Yunus Abidin (2021:92) definisi operasional adalah definisi yang dibuat untuk membatasi suatu konsep atau kata secara operasional, hal yang membatasi definisi operasional adalah indikator atau parameter penelitian.
Dengan demikian, definisi operasional menunjukan apa yang ahrus dilakukan dan bagaimana melakukannya; apa yang akan diukur dan bagaimana mengukurnya.
Definisi ini kita perlukan terutama jika kita mengatakan penelitian sehubungan dengan hal-hal yang tidak dapat diamati atau diukur secara langsung seperti hasil belajar, kemampuan menular, dan intelegensi.
3.2.1.1 Variabel Independen
Menurut Rosanna Purba (2022:51) Variabel Independen ini sering disebut juga sebagai variabel bebas, variabel stimulus, variabel predictor, dan variabel anteseden. Variabel ini dinotasikan dengan huruf X. Variabel ini besar kecil nilainya tidak dipengaruhi oleh variabel lain, melainkan mempengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel yang lain. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas (Independen) pada penelitian ini adalah Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Modal.
1. Profitablitas (X1)
Profitabilitas yakni rasio yang digunakan untuk membandingkan kemampuan perusahaan untuk menyisihkan laba perusahaan yang digunakan untuk membiayai semua aktivitas operasional perusahaan dan investasi perusahaan dari pendapatan
dan dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan banyak laba dari kegiatan produksinya. Profitabilitas dalam penelitian ini dapat dilihat dari laba bersih sesudah pajak terhadap total ekuitas perusahaan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur Profitabilitas dalam penelitian ini yaitu Return On Equity.
Rumus Return On Equity (Nagian Toni, dkk.2021:25-29):
ROE = Laba Bersih Sesudah Pajak
TOTAL EKUITAS x 100%
2. Ukuran Perusahaan (X2)
Ukuran Perusahaan adalah skala yang digunakan untuk mengukur besar kecilnya suatu Perusahaan yang dapat dilihat dari total aktiva. Indikator yang digunakan untuk mengukur Ukuran Perusahaan dalam penelitian ini adalah Logaritma natural. Logaritma natural digunakan untuk menyederhanakan bentuk total aktiva yang memiliki ratusan hingga triliunan.
Rumus Ln (Total Aktiva) Saputra,dkk (2020):
Ukuran Perusahaan = Ln (Total Aktiva) 3. Struktur Modal (X3)
Struktur Modal adalah berkaitan dengan pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan perbandingan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Bila struktur modal suatu perusahaan besar, maka tingkat produktivitas akan meningkat sesuai dengan struktur modal yang dimiliki perusahaan tersebut dan akan berdampak positif bagi kelangsungan usahanya.
Struktur Modal dalam penelitian ini dapat dilihat dari total hutang terhadap total ekuitas.
Indikator Struktur Modal dalam penelitian ini yaitu Debt to Equity Ratio.
Rumus Debt to Equity Ratio (Kasmir:2019):
DER = TOTAL HUTANG TOTAL EKUITAS
3.2.1.2 Variabel Dependen
Menurut Rosanna Purba (2022:52) Variabel Dependen sering disebut sebagai variabel terikat, output, kriteria, konsekuen. Dalam Bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat (dependen) dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan pada perusahaan farmasi yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Nilai perusahaan adalah suatu kondisi yang dicapai manajer dalam mengelola sumber daya perusahaan yang dilihat dari harga saham yang diambil saat penutupan pada akhir tahun terhadap nilai buku saham. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun juga prospek perusahaan di masa depan. Pengembalian saham dapat digunakan untuk menentukan nilai suatu perusahaan karena tujuan investor berinvestasi adalah untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi atau untuk melakukan sesuatu dengan tingkat risiko tertentu.
Indikator Nilai Perusahaan dalam penelitian ini yaitu Price to Book Value.
Rumus Price to Book Value (Silvia Indrarini (2019:15-16):
Price to Book Value (PBV)= HARGA SAHAM NILAI BUKU SAHAM
3.2.2 Desain Instrumen Penelitian
Tabel 3.1
Desain Instrumen Penelitian
Variabel Indikator Skala Ukur
Profitabilitas (X1) ROE = Laba Bersih Sesudah Pajak TOTAL EKUITAS
x 100%
Rasio
Ukuran Perusahaan (X2) Ukuran Perusahaan = Ln (Total Aktiva)
Rasio Struktur Modal (X3)
DER = TOTAL HUTANG TOTAL EKUITAS
Rasio Nilai Perusahan (Y) Price to Book Value (PBV) =
HARGA SAHAM NILAI BUKU SAHAM
Rasio
Sumber: Peneliti (2023)
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 3.3.1 Populasi
Sebuah populasi di definisikan sebagai item atau set item yang diteliti.
Anggota populasi yang biasanya erat dikaitkan dengan unit analisis. Populasi adalah Kumpulan semua hal yang ingin kita ketahui. Populasi juga dapat diartikan sebagai totalitas kelompok yang datanya dikumpulkan. Populasi adalah seluruh subjek penelitian meliputi manusia, hewan, tumbuhan, gejala,nilai, peristiwa, dan sikap terhadap kehidupan (Aysyah Regganis, 2022:36). Keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai karakteristik tertentu yang
ditetapkan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan 12 populasi pada perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2022 3.3.2 Sampel
Menurut Aysyah Rengganis (2022:38) sampel dapat diartikan sebagai Sebagian atau perwakilan dari populasi yang diteliti. Sampel survei diambil dari seluruh subjek survei. Sampel dengan menggunakan metode tertentu dan dianggap mewakili seluruh populasi. Istilah “sampel” juga dapat merujuk pada sebgaian dari populasi yang diamati atau suatu kelompok tertentu. Oleh karenanya, data yang akan digunakan untuk sampel pada penelitian ini adalah 9 sampel pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2022.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dengan teknik sampel yang dipilih 9 perusahaan dengan masing-masing perusahaan yang diambil laporan keuangan pertahun dan didapat 45 sampel, sesuai kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Adapun kriteria-kriteria yang dipilih dalam penentuan sampel adalah kriteria perusahaan yang akan dijadikan sampel pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2018- 2022.
2. Perusahaan Farmasi yang menerbitkan laporan keuangan secara lengkap pada tahun 2018-2022. Data diperoleh dari www.idx.go.id. Data yang digunakan
adalah data laporan keuangan pada tahun 2018-2022 pada Bursa Efek Indonesia.
Tabel 3.2
Teknik Pengambilan Sampel
No. Keterangan Jumlah
1. Populasi 12
2. Kriteria:
1. Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2018- 2022
12 2. Perusahan yang menerbitkan laporan
keuangan secara lengkap pada tahun 2018- 2022
9
3. Sampel Penelitian 9
4. Total Observasi Data 9x5 = 45 sampel
Sumber: Peneliti (2023)
Dari proses seleksi sampel tersebut maka diperoleh Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Dibawah ini peneliti menyajikan table daftar nama perusahaan Farmasi yang telah memenuhi kriteria dalam proses seleksi sampe.
Tabel 3.3 Sampel Penelitian
No Kode Saham Nama Perusahaan Farmasi
1. DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
2. INAF Indofarma (Persero) Tbk
3. KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk
4. KLBF Kalbe Farma Tbk
5. MERK Merck Tbk
6. PYFA Pyridam Farma Tbk
7. SIDO Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
8. TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
9. SDPC Millennium Pharmacon International Tbk Sumber: Peneliti (2023)
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Lokasi dari objek penelitian ini adalah perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan data yang diambil secara online berupada data laporan keuangan pada tahun 2018-2022 melalui www.idx.go,id yang merupakan website resmi Bursa Efek Indonesia.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2023 hingga selesai untuk mengumpulkan data yang diperlukan oleh peneliti.
3.5 Tehnik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data laporan keuangan perusahaan. Data laporan keuangan diperoleh dari website://www.idx.co.id/id pada situs Bursa Efek
Indonesia.
3.6 Pengujian Data
Sebelum pengujian data, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang digunakan untuk mendapatkan model regresi yang baik dan benar-benar memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bisa dan konsisten. Uji asumsi klasik yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu uji Nomalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
3.6.1 Uji Asumsi Klasik 3.6.1.1 Uji Normalitas
Menurut Muhammad Yusuf & Lukman Daris (2019:65), Uji Normalitas data dilakukan untuk memenuhi syarat atau asumsi dari uji parametris yang akan dolakukan. Uji Normalitas juga disebut dengan istilah distribusi normal yang merupakan salah satu distribusi probabilitas yang penting dalam analisis statistika.
Distribusi normal memiliki parameter berupa mean (rata-rata) dan simpangan baku. Uji Normalitas data dilakukan untuk menilai sebaran data pada kelompok data atau variabel, apakah data terdistribusi normal atau tidak. Apabila data yang diuji tersebut memenuhi (terdistribusi normal) maka dapat dilakukan analisis lanjut statistika parametrik. Namun apabila tidak maka dapat dilakukan transformasi data terlebih dahulu atau dilakukan uji lanjut dengan statistic non- parametrik. Uji Normalitas data dilakukan dengan pendekatan Kolmogorov- Smirnov Test, dengan menguji residual dari data. Metode yang digunakan Uji Normalitas adalah uji statistic non-parametik Kolmogorov-Smirnow (K-S).
1. Hipotesis yang akan diuji adalah:
a. H0:data residual berdistribusi normal b. H1: data residual tidak berdistribusi normal 2. Pengambilan Keputusan:
a. Jika Sig.(p) > 0,05 maka H0 diterima b. Jika Sig. (p) < 0,05 maka H0 ditolak
3.6.1.2 Uji Multikoleniaritas
Menurut Timotius (2020:55-56) Uji multikolinearitas merupakan bagian dari uji asumsi klasik dalam analisis regresi. Tujuan digunakannya uji multikolinearitas dalam penelitian inferensial adalah untuk menguji apakah model regresi yang ditentukan adanya korelasi (hubungan kuat) antar variabel bebas ataua variabel independent t. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas atau tidak terjadi gejala multikolinearitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya gejala multikolinearitas dalam model regresi, maka dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: (1) melihat nilai korelasi antar variabel independen t. (2) melihat nilai condition index dan eigenvalue. (3) melihat nilai tolerance dan variance inflating factor (VIF). Pada bagian ini kita akan melakukan uji multikolinearitas dengan melihat nilai tolerance dan VIF.
Adapun dasar pengambilan keputusan pada uji multikolinearitas dengan tolerance dan VIF adalah sebagai berikut:
Dasar keputusan berdasarkan nilai tolerance:
a. Jika nilai tolerance lebih besar dari 0,10 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi
b. Jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 maka artinya terjadi multikolinearitas dalam model regresi
Dasar keputusan berdasarkan nilai VIF (Variance Inflation Factor)
a. Jika nilai VIF < 10,00 maka artinya tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi
b. Jika nilai VIF > 10,00 maka artinya terjadi multikolinearitas dalam metode regresi
Kedua dasar pengambilan keputusan dalam uji multikolinearitas diatas akan menghasilkan kesimpulan yang sama (tidak akan saling bertentangan).
3.6.1.3 Uji Heteroskedastisitas
Menurut Muhammad Yusuf & Lukman Daris (2019:22) Uji heteroskedastisitas adalah uji menilai apakah terdapat ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi linear. Uji ini merupakan salah satu dari uji asumsi klasik yang harus dilakukan pada regresi linear. Apabila asumsi heteroskedastisitas tidak terpenuhi, model regresi dinyatakan tidak valid sebagai alat penduga (prediksi). Uji heteroskedastisitas perlu dilakukan agar diketahui apakah terdapat penyimpangan dari syarat-syarat asumsi klasik pada regresi linear, dimana dalam model regresi harus dipenuhi syarat tidak adanya heteroskedastisitas. Hasil residual selanjutnya dibuat absolut agar nilai residual tersebut tidak ada yang minus. Menurut Nikolaus (2019:122-123) model regresi yang memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Uji ini pada dasarnya bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan pada uji heteroskedastisitas yakni:
a. Jika nilai signifikan > α = 0.05, kesimpulannya adalah tidak terjadi heteroskedasitas.
b. Jika nilai signifikan < α = 0.05, kesimpulannya adalah terjadi heterokedastisitas.
3.6.1.4 Uji Autokorelasi
Menurut Slamet Riyanto & Aglis Andhita Hatmawan (2020:138), uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam metode regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (t-l). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson (DW Test). Kriteria pengambilan keputusannya adalah:
a. Jika 0 < d < dL, berarti autokorelasi positif b. Jika 4-dL <d, berarti ada autokorelasi negatif
c. Jika du < d < 4 – du, berarti tidak ada auotokorelasi positif atau negatif
d. Jika dL ≤ d < du atau 4 – du ≤ d ≤ 4 – dL, pengujian tidak meyakinkan.
Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.
Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Jika pada saat pengujian dengan Durbin Watson tidak dapat menghasilkan kesimpulan yang pasti maka dapat dilakukan Uji Run Test. Uji run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis).
Untuk mengatasi masalah autokorelasi dapat menggunakan run test dengan kriteria nilai Asymp Sig (2-tailed) > 0,05 maka tidak terjadi Autokorelasi (Diamonalisa, 2022:58).
Hipotesis yang akan diuji adalah:
a. H0: tidak ada autokorelasi (r = 0) b. H1: ada autokorelasi (r ≠ 0)
3.7 Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis 3.7.1 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kuantitatif, merupakan suatu teknik analisis data yang menggunakan angka-angka agar pemecahan masalah dapat dihitung secara pasti. Alat analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda yang menghasilkan nilai koefisien determinasi dan model persamaan regresi linear berganda. Jika bernilai positif (+), maka terjadi pengaruh searah dimana setiap kenaikan variabel independen akan mengakibatkan variabel dependen meningkat pula. Jika berniat negative (-), maka terjadi pengaruh tidak searah dimana setiap kenaikan variabel independen maka akan terjadi penurunan terhadap variabel dependen.
Y = α + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + e Keterangan:
Y = Nilai Perusahaan α = Konstanta
b = Koefisien Garis Regresi
X1 = Profitabilitas X2 = Ukuran Perusahaan X3 = Struktur Modal e = Standar Eror 3.7.2 Uji Hipotesis
3.7.2.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Menurut Uswatun Khasanah (2022:52) Koefisien Determinasi adalah salah satu nilai statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan pengaruh antara dua variabel. Nilai koefisien Determinasi menunjukkan persentase variasi nilai variabel terikat Y yang dapat dijelaskan oleh garis regresi yang dihasilkan. Misalnya, nilai r2 pada suatu persamaan regresi yang menunjukan hubungan pengaruh variabel terikat Y dengan variabel bebas X adalah 0,85. Ini artinya variasi nilai Y yang dapat dijelaskna oleh garis regresi yang diperoleh adalah 85%. Sisanya, variasi variabel Y dipengaruhi oleh variabel lain yang berada diluar persamaan (model).
3.7.2.2 Uji t (Parsial)
Menurut Mulyono (2018:113) Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. Uji statistik t, pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen secara parsial dalam menerangkan variabel dependen. Menurut Dwi Priyatno (2021:124) Uji t digunakan untuk mengetahui atau menguji seberapa besar untuk mempengaruhi
apakah model regresi variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen..
1. Rumus Hipotesis:
a. H0: β 1 ¿ 0, artinya secara parsial Profitabilitas (X1) tidak ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y).
H1: β 1 ≠ 0, artinya secara parsial Profitabilitas (X1) ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y)
b. H0: β 2 ¿ 0, artinya secara parsial Ukuran Perusahaan (X2) tidak ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y)
H1: β 2 ≠ 0, artinya secara parsial Ukuran Perusahaan (X2) ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y)
c. H0: β 3 ¿ 0, artinya secara parsial Struktur Modal (X3) tidak ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y)
H1: β 3 ≠ 0, artinya secara parsial Struktur Modal (X3) ada pengaruh terhadap Nilai Perusahaan (Y)
2. Kriteria Pengujian berdasarkan signifikan sebagai berikut:
a. Jika signifikan t ≥ 0,05, maka H0 diterima dan H1, ditolak.
b. Jika signifikan t ¿ 0,05, maka H0 ditolak dan H1, diterima.
3.7.2.3 Uji F (Simultan)
Menurut Mulyono (2018:113) Uji F atau Uji Simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai F hasil perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut
tabel maka hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Jika terjadi penerimaan H0, maka dapat diartikan sebagai tidak signifikannya model regresi multiple yang diperoleh sehingga mengakibatkan tidak signifikan pula pengaruh dari variabel-variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.
1. Rumus Hipotesis
a. H0: β 1 = β 2 = β 3 = 0,
Variabel Profitabilitas (X1), Ukuran Perusahaan (X2), Struktur Modal (X3) secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel Nilai Perusahaan (Y) b. H1: β 1 ≠ β 2 ≠ β 3 ≠ 0,
Variabel Profitabilitas (X1), Ukuran Perusahaan (X2), Struktur Modal (X3) secara simultan berpengaruh terhadap variabel Nilai Perusahaan (Y)
2. Kriteria pengujian
Kriteria pengujian berdasarkan signifikan sebagai berikut:
a. Jika signifikan F ≥ 0,05, maka H0 diterima dan H1, ditolak b. Jika signifikan F < 0,05, maka H0 ditolak dan H1, diterima 3.7.2.4 Penentuan Variabel Dominan
Untuk mengetahui mana yang paling dominan antara variabel bebas yang terdiri dari Profitabilitas (X1), Ukuran Perusahaan (X2), dan Struktur Modal (X3) terhadap variabel terikat yaitu Nilai Perusahaan (Y) pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2022, maka dilakukan dengan melihat rangking koefisien regresi yang dapat dilihat dari nilai standardized
coefisient ( β ) dari masing-masing variabel bebas yang signifikan. Variabel yang memiliki standardized coefisient ( β ) terbesar merupakan salah satu variabel bebas (X) yang mempunyai pengaruh dominan terhadap variabel terikat (Birusman Nuryadin, 126:2022)