• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Remaja dan Kebutuhan Gizi Remaja

N/A
N/A
Indri Juliasari

Academic year: 2024

Membagikan "Definisi Remaja dan Kebutuhan Gizi Remaja"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja

2.1.1 Pengertian Remaja

Menurut WHO remaja merupakan seseorang usia antara 10-19 tahun. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 25 tahun 2014 remaja didefinisikan sebagai orang di antara 10 dan 18 tahun.

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), remaja berada diantara usia 10 dan 24 tahun dan belum menikah (Kemkes, 2014). Remaja putri adalah mereka yang sedang berkembang menjadi dewasa dalam rentang usia 10 hingga 19 tahun. Kebutuhan gizi remaja perempuan akan meningkat karena perubahan fisik dan psikologis tertentu, seperti masa pertumbuhan otot, jaringan lemak tubuh, dan hormon, serta mulai mencari identitas diri (Ariani, 2017) (Hardinsyah & Supariasa, 2016).

Perubahan ini terjadi dengan cepat dan memengaruhi pemikiran, perasaan, pengambilan keputusan, dan interaksi mereka dengan lingkungan sekitar tanpa kita sadari. Perubahan fisik yang terlihat termasuk munculnya ciri-ciri sekunder, seperti percepatan pertumbuhan, perkembangan payudara, menstruasi, perubahan perilaku, dan perubahan interaksi sosial dengan lingkungan. Perubahan dapat memiliki efek baik dan buruk jika tidak mendapatkan perhatian yang tepat (Lestari, 2018) (Sarwono, 2019).

(2)

2.1.2 Tahap-Tahap Remaja

Menurut Istiany (2013), tahapan perkembagan pada remaja secara umum ada 3 tahapan perkembagan pada remaja, yaitu:

1. Remaja awal (early adolescent) usia 11-13 tahun

Tahap ini adalah di mana seorang remaja banyak mengalami perubahan yang terjadi pada tubuhnya serta hasrat yang menyertai perubahan tersebut. Pada titik ini, remaja suka membandingkan diri dengan orang lain, mudah terpengaruh oleh teman sebayanya, dan lebih suka bergaul dengan orang-orang yang sebaya dengan mereka.

2. Remaja menengah—juga dikenal sebagai middle adolescent—

adalah remaja yang berusia antara empat belas dan enam belas tahun.

Mereka lebih nyaman dengan kondisi mereka saat ini, suka berbicara, mulai berteman dengan orang lain, dan memiliki rencana untuk masa depan.

3. Remaja akhir (late adolescent) adalah remaja yang berusia antara 17 dan 20 tahun dan telah mencapai perkembangan fisik dan maturitas seksual sepenuhnya seperti orang dewasa.

2.1.3 Karakteristik

Karakteristik remaja putri, antara lain (Ariani, 2017):

a. Bersifat konsumen aktif.

b. Memiliki motivasi untuk makan dan mempertimbangkan makanan secara kritis c.

c. Meningkatkan aktivitas fisik, bergabung dengan kelompok sosial, menerima banyak perhatian, dan melakukan aktivitas jauh dari rumah sehingga lupa tentang makanan.

d. Peningkatan asupan diet pembentukan sel darah merah disaat remaja putri mengalami kehilangan zat besi pada awal menarche.

e. Pada usia dewasa, postur tubuh dan performa dipengaruhioleh faktor nutrisi.

(3)

f. Remaja dengan pengaruhi semua faktor tersebut akan melakukan rencana diet mereka sendiri.

2.2 Pengetahuan Gizi

2.2.1 Pengertian Pengetahuan Gizi

Pengetahuan berasal dari penginderaan seseorang terhadap suatu objek melalui panca indranya. Panca indra manusia terdiri dari penciuman, rasa, pendengaran, penglihatan, dan perabaan. Hasil pengetahuan terhadap objek selama penginderaan sangat dipengaruhi oleh intensitas, perhatian, dan persepsi. Indra penglihatan dan indra pendengaran bertanggung jawab atas sebagian besar pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2014).

Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang didapat seseorang dari penginderaan terhadap suatu objek. Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan memperhatikan keadaan gizi dari setiap makanan yang mereka konsumsi, sehingga diharapkan memiliki status gizi yang baik (Sofiatun, 2017).

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Menurut Notoatmodjo (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pertumbuhan kepribadian dan kemampuan yang berlangsung sepanjang hidup, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Proses belajar dipengaruhi oleh pendidikan; semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah mereka memahami informasi. Pendidikan tinggi meningkatkan kemungkinan mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang diterima,

(4)

semakin banyak pengetahuan tentang kesehatan yang didapat.

Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan; seseorang yang memiliki pendidikan tinggi diharapkan memiliki pengetahuan yang lebih luas.

b. Media massa/Informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Dengan kemajuan teknologi, berbagai jenis media massa akan tersedia secara luas, dan ini dapat memengaruhi pemahaman masyarakat tentang inovasi baru.

Berbagai jenis media massa, seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain, berfungsi sebagai alat komunikasi dan, selain menyampaikan informasi, mereka juga mengirimkan pesan yang berisi saran yang dapat mengarahkan pendapat seseorang.

Adanya pemahaman baru tentang sesuatu memberikan basis kognitif baru untuk pembentukan pengetahuan tentang hal itu.

c. Sosial budaya dan ekonomi

Tradisi dan kebiasaan yang dilakukan orang-orang tanpa dinilai apakah itu baik atau buruk. Dengan demikian, bahkan tanpa melakukan, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Selain itu, status sosial ekonomi seseorang akan memengaruhi seberapa mudah mereka mendapatkan fasilitas yang diperlukan untuk melakukan kegiatan tertentu, sehingga pengetahuan mereka dipengaruhi oleh status sosial ekonomi mereka.

d. Lingkungan

Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar seseorang, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada di dalamnya, yang terjadi karena interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan mempengaruhi

(5)

bagaimana setiap individu merespon pengetahuan yang mereka terima.

e. Pengalaman

Ketika orang menggunakan pengalaman sebagai sumber pengetahuan, mereka belajar tentang sesuatu dengan mengulangi apa yang mereka ketahui tentang cara menyelesaikan masalah yang pernah mereka hadapi. Pengalaman belajar di tempat kerja juga dapat memberi mereka pengetahuan dan keterampilan profesional.

Mereka juga dapat membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik, yang merupakan hasil dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan logika.

f. Usia

Daya tangkap dan pola pikir seseorang dipengaruhi oleh usia mereka. Daya tangkap dan pola pikir seseorang akan berkembang seiring bertambahnya usia, yang berarti mereka akan mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Orang lebih muda akan lebih banyak menggunakan waktu untuk membaca, dan mereka akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial saat mereka lebih tua. Dilaporkan bahwa hampir tidak ada penurunan dalam kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal pada usia ini. Salah satu komponen yang memengaruhi pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan, menurut Notoatmodjo (2014). Pendidikan dapat memberikan wawasan atau pengetahuan yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan bertahan lebih lama daripada perilaku yang tidak (Notoadmojo, 2014).

2.2.3 Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan adalah seberapa jauh seseorang dapat menghadapi, mendalami, dan memperdalam pikiran seperti cara orang menyelesaikan masalah dengan ide-ide baru dan belajar di

(6)

kelas (Lestari, 2015). Terdapat enam tingkatan yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan individu:

1. Tahu (Know)

Mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya adalah bagian dari pengetahuan tingkat ini. Ini termasuk mengingat kembali (recall) aspek khusus dari materi yang diterima atau dipelajari. Menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya adalah beberapa contoh kata kerja yang dipelajari untuk mengukur pemahaman orang tentang apa yang dipelajari.

2. Memahami (Comprehension)

Kemampuan untuk mengartikulasikan dan menginterpretasikan materi dengan benar.

3. Aplikasi (Application)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi atau kondisi nyata disebut aplikasi.

4. Analisis (Analysis)

Kemampuan untuk membagi materi menjadi komponen-komponen yang berbeda, tetapi tetap terhubung satu sama lain di dalam struktur.

5. Sintesis (Synthesis)

Kemampuan untuk menggabungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk yang lebih besar atau membuat formulasi baru dari formulasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Kemampuan untuk menilai keberhasilan tindakan yang telah dilakukan dikenal sebagai evaluasi. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria yang sudah ada atau dengan cara yang dapat ditemukan sendiri. Sebagai contoh, seorang ibu

(7)

dapat mempertimbangkan atau menentukan apakah anaknya rajin, seorang ibu yang dapat mengevaluasi manfaat bersenam aerobik, seorang perawat yang membandingkan bayi yang lahir cukup bulan dengan bayi yang lahir kurang bulan, dll.

2.2.4 Pengukuran Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2017), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan melakukan wawancara dan angket yang menanyakan isi materi dari subjek penelitian atau responden. Selanjutnya, skala kualitatif dapat digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan seseorang. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Baik : Hasil Persentase 76 % - 100 % 2)

2. Cukup : Hasil Persentase 56 % - < 56 % (Wawan, 2018)

2.3 Pola Makan

2.3.1 Pengertian Pola Makan

Pola makan merupakan berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan adalah bagaimana cara suatu makanan diperoleh, jenis makanan yang dikonsumsi, atau frekuensi makan dari seseorang. Pola makan sering kali tidak teratur, jarang makan pagi maupun makan siang, akibatnya remaja putri sering lemas dan tidak semangat dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan pada usia remaja sering berpola makan yang salah atau pembatasan makanan tinggi Fe, pengetahuan ibu sebagai penyedia makanan di rumah tangga, pengetahuan remaja putri, pengaruh lingkungan, serta status gizi remaja tersebut (Suryani, 2015).

Pola makan ialah upaya untuk meningkatkan nafsu makan dengan aspek frekuensi dan jenis dengan tujuan menjaga kesehatan dan

(8)

mencegah berbagai penyakit. Pola makan adalah perilaku seseorang dalam memilih penggunaan komponen makanan dalam konsumsi makanan meliputi frekuensi, jenis makanan yang dikonsumsi dan ukuran porsi makan sehari (Uwa & Milwati, 2019). Pola makan adalah usaha dalam mengatur asupan makanan yang bermanfaat bagi tubuh untuk mempertahankan keseimabangan gizi dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Asupan makanan seimbang akan membantu kebiasaan pola makan yang baik seiring berjalannya waktu. Kebiasaan makan yaitu perilaku seseorang untuk mengatur pola makannya.

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Pola Makan

Faktor yang yang mempengaruhi pola makan menurut Hangraini (2021) terdapat 6 faktor diantaranya:

1. Faktor Kebiasaan makan

Cara makan yang ditetapkan seseorang atau kelompok orang dengan jumlah makan tiga kali setiap hari serta frekuensi dan jenis makan yang dikonsumsi dikenal sebagai kebiasaan makan.

2. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi adalah total pendapatan seluruh keluarga, yang ditunjukkan dalam bentuk upah, gaji, atau penghasilan dari usaha keluarga, yang dihitung dalam bentuk uang per bulan.

Pendapatan tinggi, jika tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi yang baik, dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat

konsumtif dalam pola makannya (Hangraini, 2021).

3. Faktor Lingkungan

Lingkungan berpengaruh pada pola makan seseorang karena lingkungan yang bersih dapat meningkatkan keinginan untuk makan, dan remaja dapat menikmati makanan yang akan mereka makan.

4. Faktor Sosial budaya

(9)

Untuk melarang makan makanan yang mungkin berdampak pada agama dan adat budaya lokal yang sudah menjadi kebiasaan.

Orang-orang di daerah ini memiliki kebiasaan makan yang unik.

5. Faktor Agama

Faktor agama biasanya memengaruhi pola makan seseorang; khususnya, dalam agama Islam, ada larangan untuk mengonsumsi makanan yang dianggap haram.

6. Faktor Pendidikan

Dalam pendidikan pola makan, ini berarti mengetahui apa yang akan dikonsumsi.

2.3.3 Gizi Seimbang Pada Remaja Putri

Untuk memenuhi kebutuhan remaja putri, penting untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan fisik, dan psikologis mereka.

Kebutuhan nutrisi remaja juga dipengaruhi oleh perubahan dalam pola makan dan gaya hidup mereka. Diet yang tepat harus dipertimbangkan untuk remaja yang memiliki masalah perilaku, masalah fisik, gestasi, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan, dan diet yang ketat

(Hardiansyah & Supariasa, 2016).

Remaja putri memerlukan lebih banyak makanan per kilogram berat badan daripada remaja pria. Kebutuhan makanan mereka meningkat lebih cepat pada remaja putri dibandingkan remaja pria dan mencapai puncaknya pada sekitar usia dua belas tahun. Remaja pria memerlukan lebih banyak makanan per kilogram berat badan daripada remaja putri.

Pada usia lima belas tahun, remaja pria memiliki kebutuhan makanan per kilogram berat badan yang lebih tinggi daripada remaja putri.

Namun, karena remaja putri memiliki menstruasi, mereka membutuhkan lebih banyak unsur besi daripada remaja pria. Akibatnya, kebutuhan zat besi remaja putri lebih besar daripada remaja pria, sehingga mereka memerlukan lebih banyak makanan yang mengandung

(10)

unsur besi, seperti hati, kuning telur, tempe, teri, bayam, papaya, dan

sebagainya (Pritasari et al., 2017).

Kebutuhan nutrisi remaja berbeda dari anak-anak. Dibutuhkan energi yang cukup untuk mendukung metabolisme tubuh dan fungsi sehari- hari. Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan terjadi lebih cepat daripada kebutuhan protein. Protein diubah menjadi energi ketika asupan energi dikurangi (Pritasari et al., 2017).

Berikut kecukupan kebutuhan asupan zat gizi makronutrien pada anak-anak dan remaja putri:

Kelompok umur

Energi (kkal)

Protein (g)

Lemak (g)

Karbohidrat (g)

10-12 tahun 1900 55 65 280

13-15 tahun 2050 65 70 300

16-18 tahun 2100 65 70 300

19-29 tahun 2250 60 65 360

Sumber : Angka Kecukupan Gizi 2019

2.4 Anemia 2.4.1 Definisi

Di seluruh dunia, anemia adalah masalah kesehatan masyarakat terbesar, terutama bagi wanita usia reproduktif (WUS).

Mayoritas orang di seluruh dunia berada dalam kelompok sosial ekonomi Risiko terkena anemia rendah, terutama di negara-negara berkembang (developing countries) (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2014).

Anemia gizi besi….

Jika konsentrasi hemoglobin di bawah normal, kemampuan darah untuk membawa oksigen menurun, yang menyebabkan kelelahan, kelemahan, lesu, pusing, dan sesak nafas. Ini adalah gejala anemia gizi

(11)

besi, di mana molekul anti hemoglobin berfungsi sebagai sumber utama sel darah merah. (Amaliya, et al., 2022)

Kekurangan zat besi adalah salah satu jenis kekurangan gizi yang paling umum. Ini karena tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk mendukung produksi sel darah merah dan heme di sumsum tulang (Katsilambors et al., 2016). Jumlah hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) yang diukur menunjukkan bahwa ada sedikit bahan isi.

Pada kasus malnutrisi berat, kadar hemoglobin dapat menunjukkan status protein. Untuk mengukur hematokrit, satuan persen digunakan, sedangkan hemoglobin diukur dalam gram/desiliter. Untuk wanita, hemoglobin normal adalah 12-15 gr/dL, dan hematokrit normal adalah 37–47%. Kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, dan piridoksin (vitamin B6) menyebabkan penurunan Hb dan Ht. Selain itu, kehilangan darah yang berkelanjutan dan dehidrasi yang berlebihan (Jauhari & Nasution, 2015). Output laboratorium hemoglobin normal spesifik

a. 13.5-18.0 g/dL untuk pria b. 12.0-15.0 g/dL untuk wanita c. 11.0-16.0 g/dL untuk anak-anak

d. Variasi antara kehamilan biasanya lebih tinggi dari 10,0 g/dL, tergantung pada trimester

Anemia merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan berkurangnya hemoglobin dalam tubuh. Hemoglobin adalah suatu metalprotein yaitu protein yang mengandung zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan besi yang digunakan untuk sintesis hemoglobin (Özdemir, 2015).

Anemia merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam tubuh lebih rendah daripada nilai normal. Sekitar 80-90%

(12)

anemia sering terjadi pada anak-anak prasekolah, remaja, ibu hamil dan ibu menyusui (Kalsum & Halim, 2016).

Di Indonesia, anemia kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah gizi yang sampai sekarang belum selesai diatasi, baik pada ibu hamil maupun pada remaja. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 terjadi peningkatan anemia pada ibu hamil sebesar 11,8% dibanding tahun 2013. Sebesar 37,1% ibu hamil menderita anemia pada tahun 2013 dan pada tahun 2018 sebesar 48,9% (Kemenkes RI, 2018). Hal ini terjadi karena tingginya prevalensi anemia pada remaja putri yaitu sebesar 25% dan 17% pada WUS (Wanita Usia Subur).

Remaja putri dapat dikatakan anemia jika kadar Hb <12 g/dl (Syahwal & Dewi, 2018). Remaja putri berisiko lebih tinggi terkena anemia dibandingkan dengan remaja laki-laki, karena remaja perempuan setiap bulan mengalami siklus menstruasi danmemiliki kebiasaan makan yang salah. Remaja putri juga biasanya sangat memperhatikan bentuk tubuh, sehingga banyak membatasi konsumsi makanan dan banyak pantangan terhadap makanan (Ayudinanti S, 2021; Nasruddin et al., 2021).

2.4.2 Tanda dan Gejala Anemia

Sel darah merah yang rendah mengurangi transportasi oksigen ke semua jaringan tubuh, yang menyebabkan berbagai gejala dan efek samping. Tanda dan gejala yang umum seperti

Tampilan pucat pada wajah, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan menunjukkan kelelahan, kelelahan, kelelahan, dan lalai. (Kemenkes RI, 2019).

Anemia ringan menunjukkan kelemahan, sesak napas ringan, kelelahan, dan penurunan energi. Anemia berat menunjukkan tinja menjadi hitam atau merah marun, lengket, dan berbau busuk, peningkatan denyut jantung dan frekuensi napas, penurunan tekanan darah, pucat atau kulit dingin, kulit kuning atau jaundice jika anemia karena kerusakan sel darah merah, pembesaran limpa, nyeri dada, pusing atau kepala terasa ringan (terutama ketika berdiri), kelelahan atau kekurangan energi, sakit kepala, tidak bisa berkonsentrasi, sesak napas, nyeri dada, angina atau serangan jantung, dan pingsan (Proverawati, 2015).

(13)

Rasa lelah, sesak napas, dan vertigo adalah gejala utama defisiensi besi (Katsilambors, et al., 2016). Peningkatan, mual, pusing, photopsia, kantuk, kelelahan, dan kurang fokus biasanya disertai dengan gejala 5L (Lesu, Letih, Lemak, Lelah, Lalai). Pasien anemia menunjukkan "pucat" di wajah, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan, menurut definisi klinisnya (Kemenkes RI, 2018).

2.4.3 Penyebab Anemia

Anemia dapat disebabkan oleh dua sumber (Khairani, 2019).

Yang pertama adalah penyebab langsung, yang disebabkan oleh penyakit infeksi dan asupan zat besi yang tidak cukup.

Dua faktor utama yang menyebabkan asupan zat besi yang rendah pada manusia adalah mengonsumsi makanan yang menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi dan mengurangi makanan yang mengandung zat besi. Cacing dan malaria adalah penyakit menular yang biasanya meningkatkan kemungkinan anemia.

1. Adanya penyakit infeksi: Penyakit infeksi mempengaruhi metabolisme zat besi yang diperlukan untuk membuat hemoglobin dalam darah. Beberapa penyakit menular juga dapat memengaruhi pembuatan sel darah merah dan cara makanan dicerna. Cacingan adalah salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan anemia. Meskipun tidak mematikan, cacingan dapat memperburuk gejala, bahkan menyebabkan anemia dan kebidihan. WHO menyatakan bahwa lebih dari satu miliar orang

(14)

di seluruh dunia mengidap cacingan, termasuk 40–60% penduduk Indonesia.

2. Menstruasi: Kehilangan darah setiap bulan sering menyebabkan anemia pada remaja putri yang sedang menstruasi. Remaja putri tidak memiliki cadangan zat besi yang cukup, sehingga tubuh mereka tidak dapat menyerap cukup zat besi untuk mengganti zat besi yang hilang selama menstruasi. Kehilangan darah adalah salah satu dari banyak alas an yang dapat menyebabkan anemia.

3. Pendarahan yang mendadak, seperti akibat kecelakaan, mimisan, atau luka akibat jatuh 4. Asupan makanan yang tidak terserap dengan

baik Salah satu penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi tidak mungkin terjadi pada remaja yang mengonsumsi makanan sehat secara teratur.

Namun, banyak remaja yang dibesarkan dalam keluarga berpenghasilan rendah tidak mengonsumsi makanan bergizi yang cukup, yang menyebabkan anemia dan gejala lain yang terkait dengan kekurangan zat gizi. Remaja dengan gangguan makan keluarga yang mampu juga dapat mengalami anemia. (Lestari, 2018).

b. Sebab tidak langsung: tingkat pendidikan yang rendah, tingkat ekonomi yang rendah, dan lokasi yang tidak ramah.

Faktor-faktor berikut berdampak tidak langsung pada kadar hemoglobin seseorang: 1. Tingkat pengetahuan: Seseorang dapat mencoba

(15)

mencegah anemia dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mencegahnya.

2. Sosial ekonomi: Keluarga berpenghasilan tinggi mudah memenuhi kebutuhan gizi mereka.

Dampak

Anemia adalah masalah umum bagi remaja putri yang akan menjadi ibu di masa depan. Anemia terkait erat dengan tingkat kematian ibu yang tinggi. Anemia juga dapat melemahkan pertahanan tubuh remaja, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit menular.

Anemia juga berdampak pada kebugaran karena membuat tubuh lelah lebih cepat saat beraktivitas, yang mengurangi produktivitas. Anemia juga mempengaruhi kemampuan belajar karena mengganggu kemampuan sistem saraf untuk menyerap zat besi dengan mencegah asupan zat besi yang ideal (Famelia et al., 2020).

Anemia memengaruhi kesehatan anak, termasuk gangguan pertumbuhan, kurangnya daya tahan tubuh fokus, kemampuan belajar, dan prestasi akademik. Anemia bisa fatal, meskipun tidak menular.

Remaja sangat rentan terhadap anemia dan kekurangan zat besi karena pertumbuhannya yang cepat. Tubuh mereka membutuhkan banyak nutrisi untuk pertumbuhan, termasuk zat besi (Lestari, 2018). Dengan cara yang serupa (Sandy, et al., 2020), anemia mempengaruhi waktu tumbuh dan berkembangnya sel-sel otak, merusak sistem kekebalan tubuh, menyebabkan lemas dan lapar, mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan prestasi akademik, dan menurunkan produktivitas kerja.

pada remaja putri. Untuk menghindari anemia, remaja harus makan makanan sehat dalam jumlah yang cukup dan secara teratur.

Nilai anemia (Hb < 4 g/dl) memiliki hubungan dengan peningkatan mortalitas, umumnya dalam kondisi stress pasca melahirkan karena rendahnya kadar Hb yang memengaruhi fungsi

(16)

jantung dan pengiriman oksigen. Konsentrasi Hb pada wanita hamil dapat memengaruhi berat lahir atau waktu kelahiran bayi. Ini juga dapat memengaruhi kemampuan kerja, kelahiran, dan kematian.

Wanita dengan anemia mengalami gangguan oksigenasi dan masalah otot karena kekurangan zat besi, sehingga mereka kurang produktif dibandingkan wanita tanpa anemia. Untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka, intervensi suplementasi zat besi dapat dilakukan. Anemia dikaitkan dengan masalah perilaku dan perkembangan kecerdasan bayi dan anak (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2014).

Berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian anemia gizi besi pada remaja secara tidak langsung yaitu pengetahuan tentang anemia, pengetahuan tentang TTD (Tablet Tambah Darah), serta pola makan.

Anemia pada remaja putri disebabkan oleh faktor kurangnya asupan zat besi melalui makanan, kehilangan zat besi basal, kurangnya pengetahuan mengenai anemia gizi besi dan penyakit infeksi. Darah yang dikeluarkan pada saat menstruasi pada remaja putri rata-rata 16-33,2 cc. sedangkan pada wanita yang lebih tua dan wanita yang defisiensi zat besi jumlah darah saat haid yang dikeluarkan lebih banyak (Wiknjosastro, 2010).

Remaja putri mudah terkena anemia karena masyarakat Indonesia (termasuk remaja putri) lebih banyak mengonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh akan zat besi tidak terpenuhi, remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasi asupan makanan, setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diekskresi, khususnya melalui feses dan remaja putri mengalami haid setiap bulan, dimana kehilangan zat besi ± 1,3 mg per hari, sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak dari pada laki-laki. Tanda-tanda anemia pada remaja putri adalah lesu, lemah, letih, lelah, dan lunglai (5L), sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang dan gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat (Proverawati dan Kusumawati, 2010).

(17)

Kejadian anemia pada remaja berdampak pada berbagai hal seperti sulit untuk konsentrasi, kognitif rendah, produktivitas rendah, dan menurunnya prestasi. Bahkan remaja dengan riwayat anemia memiliki peluang lebih besar tidak hadir di sekolah dibandingkan dengan remaja tidak anemia. Anemia pada remaja putri dapat memicu masalah gizi kronik dan anemia saat dewasa prakonsepsi pada saat hamil.

Salah satu penyebab anemia pada remaja putri menstruasi yang bisa terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja, Volume darah yamg keluar saat menstruasi mengakibatkan kehilangan zat besi sebanyak 12-15 mg per bulan, atau 0,4-0,5 mg/hari (Retno, 2017).

Pada saat menstruasi wanita tidak hanya mengalami kehilangan zat besi tetapi juga mengalami kehilangan basal, jadi apabila ditotal wanita perhari mengalami kehilangan zat besi sebanyak 1,25 mg. Volume darah yang keluar setiap bulannya berkisar antara 30-50 cc. Kondisi tersebut akan menyebabkan wanita mengalami anemia.

2.4.4 Pencegahan Anemia

Menjaga keseimbangan antara asupan zat besi dan hilangnya zat besi dapat membantu mencegah anemia kekurangan zat besi.

Konsumsi zat besi yang mengandung heme iron meningkatkan non- heme iron, dan asupan makanan yang mengandung faktor penghambat absorpsi zat besi (inhibitor) dikurangi. Jika diet Anda tidak cukup mengandung zat besi, Anda dapat menambahkan suplemen besi (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2014).

Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 memprioritaskan upaya kesehatan dan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mendukung tumbuh kembang anak. Pada tahun 2011, Organisasi

(18)

Kesehatan Dunia menyarankan pengobatan dan pencegahan anemia pada remaja putri dengan menambah zat besi dan asam folat ke makanan (Kemenkes RI, 2018).

Salah satu cara untuk mencegah dan menghentikan anemia adalah dengan memastikan bahwa tubuh menerima jumlah zat besi yang cukup. Ini dapat dicapai dengan meningkatkan asupan makanan zumber yang mengandung zat besi. Menurut Kemenkes RI (2018), ada upaya tambahan yang dapat dilakukan:

a. Mengonsumsi lebih banyak makanan yang kaya zat besi: Pola makan yang sehat harus termasuk mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung zat besi heme tinggi, yang merupakan sumber zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin. Meskipun penyerapan zat besi hewani lebih rendah daripada hewani, seperti ikan, daging, dan unggas, sumber zat besi nabati tinggi juga perlu ditingkatkan. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati, Anda harus makan buah-buahan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk dan jambu bihi. Selain itu, zat lain seperti tanin, fosfor, serat, kalsium, fitat, dan kalsium dapat menghambat penyerapan zat besi.

b. Makanan yang telah difortifikasi zat besi dapat ditambahkan untuk meningkatkan nilai nutrisi mereka.

atau menambahkan lebih banyak nutrisi ke makanannya.

Industri makanan bertanggung jawab atas penambahan nutrisi ini; sebaiknya periksa label produk untuk mengetahui apakah makanan tersebut telah diperkaya dengan zat besi. Makanan ringan, beras, mentega, tepung terigu, minyak goreng, dan beras lainnya adalah contoh produk yang sudah difortifikasi yang mengandung zat besi dan mineral lainnya.

c. Sumplementasi zat besi: Jika seseorang tidak mendapatkan cukup zat besi dari makanan mereka, sumplementasi adalah cara

(19)

terbaik untuk memenuhi kebutuhan zat besi mereka.

Suplementasi berkala meningkatkan simpanan zat besi tubuh Pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan asupan zat gizi dengan memberikan tablet tambah darah (TTD) kepada remaja putri dalam takaran yang tepat untuk mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi tubuh. TTD harus dikonsumsi bersama dengan: a. Buah dan hewan yang kaya vitamin C, seperti jeruk, papaya, jambu biji, dan lain-lain; b. Protein hewani, seperti daging, unggas, ikan, dan hati; dan c.

TTD tidak boleh dikonsumsi dengan: a. Senyawa fitat dan tannin yang ditemukan pada teh dan kopi karena dapat mengikat zat

besi menjadi zat yang sulit diserap.

b. Suplemen kalsium dosis tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi. Karena kandungan kalsium susu hewani yang biasanya tinggi, kemampuan mukosa usus untuk menyerap zat besi menurun.

c. Obat sakit maag akan melapisi permukaan lambung, menghambat penyerapan zat besi. Jika Anda menggunakan obat maag yang mengandung kalsium, penyerapan zat besi akan semakin terganggu.

Sesuai dengan rekomendasi WHO tahun 2011, upaya pencegahan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur difokuskan pada kegiatan promosi dan pencegahan, yaitu seperti peningkatan makanan tinggi zat besi, suplemen tablet tambah darah, serta peningkatan fortifikasi bahan pangan dengan zat besi dan asam folat. Suplementasi TTD pada remaja putri dan wanita usia subur merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan asupan zat besi dengan cukup.

Pemberian TTD dengan dosis yang tepat dapat mencegah anemia dan meningkatkan cadangan zat besi di dalam tubuh (…..).

Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia telah banyak dilakukan seperti program pemberian tablet tambah darah, fortifikasi

(20)

pangan, pemberian obat cacing (pencegahan infeksi), dan perubahan perilaku (edukasi gizi dan konsumsi pangan). Untuk mengantisipasi terjadi anemia zat besi adalah dengan cara pemberian tablet zat besi, pendidikan dan upaya yang berkaitan dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanan, pengawasan penyakit infeksi dan fortifikasi makanan pokok dengan zat besi (Arisman, 2009).

2.5 Zat Besi

2.5.1 Definisi, Fungsi, dan Sumber Zat besi Komponen yang digunakan dalam mengangkut oksigen (O2 ) dan karbondioksida (CO2 ) serta pembentukan darah (hemopoesis) dan mengedarkannya ke seluruh jaringan tubuh adalah zat besi (Rusilanti et al., 2015). Besi umumnya disimpan dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Zat Besi berperan penting dalam mengangkut oksigen ke janin. Selama kehamilan, peningkatan zat besi ekstra dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin, pertumbuhan plasenta, perluasan massa sel darah merah ibu atau mencegah anemia, dan untuk menutupi besi hilang dalam darah saat melahirkan (Susilowati & Kuspriyanto, 2016). Besi diperlukan untuk

meningkatkan daya tahan tubuh ibu dan kekebalan janin terhadap penyakit infeksi, serta membantu pertumbuhan dan perkembangan otak janin. Dalam

(21)

2.6 Keterkaitan Antar Variabel dan Penelitian Terdahulu yang Relevan

Tabel 1 Keterkaitan Antar Variabel dan Penelitian Terdahulu yang Relevan Peneliti Judul penelitian Metode

penelitian

Variabel Hasil Lusyana

Gloria Doloksarib u (2019)

Gambaran Pola

Makan dan Status Gizi Remaja di SMP Advent Lubuk Pakam,

Cross Sectional

Variabel independen:

Pola makan, status gizi

Variabel dependen:

anemia remaja putri

Pola makan

baik pada

remaja di SMP Advent Lubuk Pakam adalah 44,4% dan pola makan tidak baik adalah 55,5%.

(22)

Novan Hariyanto, Iis

Fatimawati, Puji

Hastuti, Astrida Budiarti, , 2022

Hubungan Pola

Makan dengan

Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMA Giki 1 Surabaya

Cross Sectional

Variabel independen:

Pola makan

Variabel dependen:

anemia remaja putri

Berdasarkan

hasil uji

statistik Spearman’s Rho diperoleh nilai = 0,003, =

0,05 yang

menunjukkan bahwa pola makan

mempunyai hubungan dengan kejadian

anemia pada remaja putri di SMA GIKI 1 Surabaya. Dari 53 responden yang memiliki pola makan kurang baik dan mengalami anemia

sebanyak 23 responden (43,4%).

Anis Muhayati, Diah Ratnawati,

Hubungan Antara Status Gizi dan Pola

Makan dengan

Kejadian Anemia

Cross Sectional

Variabel independen:

Status gizi, Pola makan

Dari hasil uji Continuity Correction diperoleh nilai

(23)

2019 Pada Remaja Putri, 2

Variabel dependen:

anemia remaja putri

p= 0,004 (p value. Remaja dengan pola makan tidak teratur yang mengalami anemia

sebanyak 63 responden (63,6%).

Hartati Deri Manila, Aprimayon a Amir, 2021

Hubungan Pola

Makan Dengan

Kejadian Anemia pada Remaja Putri Kelas X Sma Murni Padang,

Cross Sectional

Variabel independen:

Pola makan

Variabel dependen:

anemia remaja putri

Terdapat

hubungan pola makan dengan kejadian

anemia pada remaja putri dengan nilai signifikansi sebesar 0,028 (p<0,05).

Sebanyak 21%

siswa yang memiliki pola makan tidak baik mengalami anemia.

(24)

Nia Musniati, Fitria, 2022

Gambaran

Pengetahuan Dan

Sikap Tentang

Anemia Pada Remaja Puteri,

Cross Sectional

Variabel independen:

Pengetahuan, ikap

Variabel dependen:

anemia remaja putri

Hasilnya menunjukkan gambaran tingkat pengetahuan siswi adalah sebagian besar memiliki

pengetahuan rendah (58,7%).

(25)

2.6 Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka teori penelitian Sumber : modifikasi

Peer group Paparan media

sosial Pengetahuan gizi

remaja putri Pola makan yang salah:

- Jenis makanan - Frekuensi makan - Jumlah makanan

Tingkat Sosial Ekonomi : - Pendidikan Orang Tua - Pekerjaan Orang Tua - Pendapatan Orang Tua - Pengeluaran dan Pemenuhan

Kebutuhan Daya beli Ketersediaan bahan

makanan

Anemia pada remaja putri

Asupan zat gizi:

- Vitamin A, C, B12, B6, asam folat, zat besi - Zar makro (karbohidrat,

lemak, protein)

Kehilangan darah:

- penyakit infeksi - Penyakit

kronik

(26)

2.7 Kerangka Konsep

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis gambaran pengetahuan gizi dan pola makan pada remaja putri anemia di SMA Negeri 11 Pandeglang.

Bagan 2.2 Kerangka Konsep

Variabel Dependen Variabel Independen

Tingkat Pengetahuan

Kejadian anemia pada remaja putri Pola Makan

Gambar

Tabel 1 Keterkaitan Antar Variabel dan Penelitian Terdahulu yang Relevan Peneliti  Judul penelitian Metode
Gambar 2.1 Kerangka teori penelitian Sumber : modifikasi

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : Ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi remaja dengan nilai (p= 0,005) pada remaja putri di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam

yang mempengaruhi perbedaan status gizi remaja putri di daerah perkotaan. dan pedesaan di Jombang menunjukkan tingkat pengetahuan gizi

Masalah gizi lain yang banyak terjadi pada remaja khususnya remaja putri adalah kurang zat gizi besi atau anemiab. Body Masa

Menurut Garrison yang dikutip oleh Andi Mapiare (1982) remaja memiliki kebutuhan paling sedikit ada tujuh kebutuhan khas remaja. Kebutuhan itu adalah:1) kebutuhan akan kasih sayang,

Variabel independen adalah asupan gizi pada remaja putri yaitu total asupan energi, asupan lemak, asupan protein, asupan karbohidrat, dan asupan serat yang

Diharapkan kegiatan edukasi gizi interaktif serta pemantauan status gizi dan body image pada remaja lebih rutin untuk dilakukan karena remaja, terutama remaja putri, merupakan salah

Remaja putri di kelas XI di SMAN 2 Majalaya Kabupaten Bandung mengalami masalah status gizi akibat kebiasaan makan yang buruk dan pemahaman gizi yang

Penelitian tentang hubungan status gizi dan pengetahuan gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Triyasa Ujung Berung