PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Bertitik tolak daripada perlakuan nusyuz suami seperti yang dinyatakan dalam surah al-Nisa ayat 128,10 menyebabkan perbezaan antara pengertian nusyuz suami dengan pengertian nusyuz wanita dalam pemahaman ulama. Oleh itu, akan diteliti secara mendalam apakah sebenarnya maksud nusyuz yang harus dilekatkan pada tindakan nusyuz suami dan nusyuz isteri secara seimbang sebagaimana yang dibuktikan oleh nas al-Quran.
Permasalahan
Melalui tafsiran nusyuz yang betul, diharap tiada lagi keganasan rumah tangga berlaku berdasarkan kefahaman agama.
Tujuan Penelitian
Berusaha mengungkap makna nusyuz dalam surat al Nisa ayat 34 dan 128 agar dapat menemukan hakikat nusyuz yang bermanfaat.
Penelitian Terdahulu
Dengan demikian, upaya dekonstruksi makna nusyuza ini kami harapkan dapat memperjelas bentuk dan arah pemikiran hukum Islam yang selama ini didominasi oleh pemikiran berbasis teks. Selain itu, kami berharap dengan mendekonstruksi makna Nusyuza, akan membuka peluang untuk mengkaji kembali teks-teks kita lainnya yang selama ini dianggap aneh dan problematis.
Kerangka Teori
Wanita nusyuz seperti yang diterangkan dalam ayat 34 surat al Nisa' mengajarkan tiga jenis penyelesaian yang boleh dilakukan untuk mengurangkan dan memperbaikinya. Salah satu aspek penting yang perlu diteliti semula ialah pengertian nusyuz yang boleh dilakukan melalui dekonstruksi.
Metodologi
Teknik yang akan digunakan diantaranya adalah tafsir dinamis, yang akan menghubungkan ushul fiqh dengan ilmu tafsir, dengan tetap memperhatikan berbagai aspek sosial dan budaya yang hidup di masyarakat. Dengan demikian, analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini tidak terikat secara ketat pada kaidah-kaidah yang berlaku dalam kajian ushul al fiqh dan tafsir.
Sistematika Penulisan
Bab ini akan diawali dengan mengulas kondisi historis perempuan baik sebelum maupun sesudah masuknya Islam. Sejarah perempuan pada sub bab ini tidak hanya terfokus pada masyarakat Arab atau perempuan muslim saja, namun juga perempuan dari berbagai bangsa dan agama.
KAJIAN TEORITIK
Hukum Islam dan Maslahah
Kelompok yang membedakan pengertian syariat dengan hukum Islam mengatakan bahwa ruang lingkup hukum Islam lebih kecil dibandingkan dengan syariat. Artinya hukum Islam bersifat dinamis dan fleksibel karena selalu mengakomodasi berbagai perubahan dan konteks di sekitarnya.
Teori Dekonstruksi
Lihat Wacana LSF, Memahami Teori Dekonstruksi Jacques Derrida sebagai Hermeneutika Radikal, diakses dari https://lsfdiscourse.org/memahami-theory-deconstruction-jacques-derrida-as-radical-hermeneutics/. Artinya, teori dekonstruksi ini secara tidak langsung menjadi pembela berbagai pihak yang selama ini diabaikan.66.
PROBLEMATIKA PEREMPUAN
Perempuan dalam Lintas Sejarah
Terlepas dari permasalahan di atas, catatan sejarah telah menunjukkan gambaran buram dan kelam perjalanan hidup kaum perempuan. Sementara kaum perempuan tidak punya hak sama sekali dalam kehidupan sosial lantaran kelemahan fisik mereka.76. Kedua perlakuan dan sikap kesewenangan lainnya yang menimpa kaum perempuan Arab dihapus Islam melalui kedatangan Muhammad.
Meski tidak persis sama dengan keadaan pra-Islam, namun nasib perempuan pada generasi Tabi'in dan setelahnya kembali tidak jelas. Di hampir semua sektor, misalnya, perempuan Arab selalu diperlakukan berbeda dengan laki-laki. Partisipasi aktif perempuan dalam berbagai aspek masih tertinggal jauh dibandingkan jumlah masyarakat atau laki-laki.
Artinya dalam hal ini Islam sebenarnya telah dimanfaatkan oleh budaya dan masyarakat patriarki dalam melegalkan upaya diskriminatif mereka terhadap perempuan98.
Pandangan Inferioritas Perempuan dalam Studi Keislaman
Namun, ada juga berbagai tokoh dan ulama Islam yang mencoba memberikan penafsiran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Sebuah penelitian menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita dalam kemampuan intelektual mereka sebelum masa pubertas. Sedangkan ulama Syafiiyyah menyatakan hukum shalat berjamaah adalah fardu kifayah bagi manusia yang merdeka dan hidup.
Jadi salat berjamaah yang dilakukan oleh sekelompok orang bebas dianggap mewakili laki-laki lain di daerah tersebut. Namun, dalam kasus tertentu, kesaksian dua orang perempuan dianggap setara dengan kesaksian satu orang laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) satu laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu periksa kembali.
Begitu juga dalam perkara hudud dan kisas, alim ulama selain Zhairiyyah tidak membenarkan wanita menjadi saksi sama ada bersendirian atau bersama saksi lelaki yang lain.
Kemitrasejajaran dalam Alquran
Dalam konteks ini, Khaled M Abou el Fadl dengan tegas menyatakan bahwa sebenarnya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan hukum Islam didasarkan pada prinsip keadilan. Hal ini terlihat dari teks Al-Quran dan hadis yang tidak membedakan antara syarat-syarat, baik berupa perintah maupun larangan, bagi laki-laki dan perempuan. Hukuman hukum bagi pencuri adalah potong tangan dan bagi perzinahan berupa cambuk, yang diperlakukan sama terhadap laki-laki dan perempuan. 145 Tidak ada keistimewaan dalam hal ini.
Artinya pernyataan-pernyataan tersebut tidak boleh dikaitkan dengan kewajiban untuk patuh dan taat kepada pasangan. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah ketika berhadapan dengan orang yang mengaku telah berzina. Sebab, makna ini tidak bisa dilekatkan pada laki-laki atau perempuan, dan juga tidak tepat.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran dan beberapa hadis dimana tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan.
DEKONSTRUKSI PEMAKNAAN NUSYUZ
Nusyuz Isteri dan Suami
Berdasarkan huraian ayat di atas, terdapat tiga cara anda boleh berhadapan dengan wanita nusyuz. Sekiranya kedua-dua kaedah di atas tidak dapat menyedarkan wanita nusyuz, kaedah ketiga perlu diterapkan iaitu pukul. Walaupun ayat ini mengizinkan memukul wanita nusyuz, sebahagian ulama menyarankan untuk mengelakkannya kerana ia dianggap lebih utama.
Dalam erti kata lain, kaedah ketiga ini hanya dikhaskan untuk isteri yang degil dan suami yang dera. Selain tiga jenis sanksi di atas, ulama mazhab juga menambah jenis sanksi lain yang boleh dikenakan kepada isteri-isteri nusyuz. Isteri yang nusyuz bermakna dia telah melakukan perbuatan derhaka yang menyebabkan dia tidak layak menerima nafkah.
Berbeda dengan nusyuz istri yang bisa diatasi dengan tiga cara, solusi yang Allah tetapkan untuk menyelesaikan masalah nusyuz suami hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu dengan berdamai.
Nusyuz dan Kekerasan
Meski tidak bisa dipungkiri bahwa kekerasan dalam rumah tangga (DVD) nyatanya juga bisa dilakukan oleh istri. Sebelum membahas lebih dalam keterkaitan nusyuz dengan kekerasan, ada baiknya kita mengulas sekilas apa dan apa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga. Secara umum kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga meliputi empat bentuk, yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual, dan finansial.
Meskipun hampir semua negara memiliki peraturan atau undang-undang yang mengatur kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga masih sedikit yang muncul ke permukaan di sebagian besar negara-negara Muslim. Negara Tunisia melaporkan bahwa 77% perempuan berusia antara 12 dan 55 tahun menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. 195 Sebuah penelitian di Yordania menemukan bahwa 356 perempuan Yordania membenarkan pemukulan yang dilakukan suami terhadap istri mereka karena mereka yakin hal itu ada manfaatnya. . 193 “Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT): Masalah Pribadi Menjadi Masalah Publik,” pasal hukum pidana, dapat diakses di https://ditjenpp.kemenkumham.go.id.
Sang istri beranggapan bahwa kekerasan tersebut terjadi karena kesalahannya sendiri dan tekanan lingkungan, sehingga ia membela rumah tangganya 199.
Dekonstruksi Makna Nusyuz
Hak anda ke atas isteri anda ialah dia tidak membenarkan orang yang anda benci masuk ke dalam rumah. Sebutan ini merujuk kepada perbuatan wanita membawa orang yang dibenci lelaki itu ke dalam rumah dan ke katil. 220 “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi selain dia, maka persaksiannya itu empat kali lipat dengan bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa dia termasuk orang-orang yang baik.
Ketiga, alasan al Qurtubi menafsirkan nusyuz dengan fahishah mubayyinah yang merujuk kepada dosa yang diketahui atau perbuatan seksual adalah matan hadis sahih ketika haji Wada'.224 Kata-kata hak kamu ke atas isteri kamu ialah tidak boleh membenarkannya. orang yang kamu benci di dalam rumah untuk menunjukkan bahawa perbuatan wanita yang membawa lelaki terutamanya ke dalam rumah akan dikira fahishah mubayyinah kerana lelaki itu tidak menyukainya. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina) padahal mereka tidak mempunyai saksi selain dirinya sendiri, maka persaksiannya ialah empat kali bersumpah dengan (nama) Allah. Dan yang kelima (sumpah); sesungguhnya laknat Allah atasnya jika (suaminya) termasuk orang-orang yang saleh” (QS al Nur: 6-9).
Kerana cinta lelaki itu lebih besar, tindakan perempuan itu membawa orang yang tidak disukai lelaki itu ke dalam rumah dianggap satu kesilapan dan dimaafkan olehnya.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa nusyuz tidak dapat diartikan sebagai kesombongan atau pembangkangan yang selama ini dianut dan diyakini oleh sebagian besar ulama. Hal ini disebabkan karena standar dan barometer yang dijadikan acuan dalam mengukur bentuk-bentuk kewajiban suami istri dalam keluarga bersifat kabur, tidak terukur dan tidak ada kepastiannya dari Al-Qur'an dan hadis. Semua orang adalah sama dan akan menerima pahala berdasarkan semua amal yang telah mereka lakukan di dunia.
Tuntutan ibadah, pahala sesuatu dan penentuan hukuman jenayah antara lelaki dan perempuan adalah sama. Percubaan untuk mendekonstruksi nusyuz membawa kepada maksud kederhakaan suami atau isteri terhadap pasangannya akibat perbuatan fahishah mubayyinah yang agak serupa dengan perbuatan zina, tetapi bukan zina. Walaupun zina sebenarnya berlaku, namun disebabkan kehadiran kurang daripada empat orang saksi atau saksi yang tidak langsung melihat zakar memasuki faraj, perbuatan tersebut termasuk dalam kategori zina mubayyinah.
Justeru, setiap suami isteri berpeluang melakukan sesuatu perbuatan supaya mereka layak dianggap menderhaka kepada pasangan atau nusyuz.
Saran
Shifa' al Ghalἷl fἷ Bayān al Shabbab wa al Mukhayyal wa al Masālik al Ta'lil. Perempuan Islam dan Patriarkalisme”, dalam Mai Yamani (ed), Feminis dan Islam: Perspektif Hukum dan Sastra, (Bandung: Nuansa, 2007). Hermeneutika Maqashidi (Studi Kasus Teori Tafsir Imam al Syatibi)', dalam Syafa'atun Almirzanah dan Sahiron Syamsuddin (ed), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Al-Qur'an dan Hadits, Teori dan Penerapannya (Yogyakarta: UIN Lembaga Penelitian Sunan Kalija, 2012).
Kontroversi Kesaksian Perempuan dalam QS al Baqarah: 282 Antara Makna Normatif dan Substantif dengan Pendekatan Hukum Islam”, dalam Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Judisia, Vol. Fauzan kesal karena tak dimasak, sang suami memotong kuping istri hingga patah. Diakses dari https://www.liputan6.com. 10 Fakta Tersembunyi Tentang Wanita Purba Yang Tak Pernah Diceritakan Sejarah, diakses dari https://www.tribunnews.com.
Syarifatul Hayati, “Analisis Nusyuz Manusia Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia”, dalam Jurnal Moefty Perbandingan Mazhab Agama dan Hukum, Vol.