• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dely Nurhayyuna Harahap 240703110228

N/A
N/A
Fica Merilian Cannavaro

Academic year: 2024

Membagikan "Dely Nurhayyuna Harahap 240703110228"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Kesadaran Bersama Dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular Menuju Kesehatan Masyarakat yang Lebih Baik

Pendahuluan

Perubahan gaya hidup masyarakat akibat dari urbansi, modernitas dan globalisasi telah meningkatkan jumlah penyakit tidak menular (PTM) (Trisnowati 2018).

Kesehatan termasuk kedalam hak asasi manusia. Cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah layanan kesehatan universal (Universal Health Coverage, UHC), yang berarti setiap orang dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas tinggi kapan pun dan di mana pun mereka membutuhkannya, tanpa masalah keuangan.

Indeks ini memberikan statistik deskriptif mengenai pelayanan penting salah satunya di penyakit tidak menular yang masuk dalam kategori pelayanan sedang (WHO, 2023).

Penyakit tidak menular merupakan penyakit yang tidak dapat disebarkan dari satu orang ke orang lain. Terdapat beberapa jenis penyakit tidak menular tersebut seperti penyakit jantung, kanker, penyakit pernafasan kronis, dan diabetes (Sudayasa et al.

2020). Penyakit tidak menular menjadi sebuah ironi karena beberapa penyakit, termasuk kanker leher rahim, kanker lambung dan hati, disebabkan oleh infeksi organisme. Tetapi, empat perilaku seperti merokok, minum minuman beralkohol, pola makan yang buruk, dan kurang aktivitas merupakan faktor risiko yang berkaitan erat dengan empat penyakit utama (penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes), hingga 80% menyebabkan meninggalnya pada kelompok penyakit tidak menular (Kusumaningrum, 2021).

Menurut data WHO angka kematian akibat penyakit tidak menular di bawah usia 70 tahun adalah penyakit jantung (39%), diikuti oleh kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit usus dan penyakit tidak menular lainnya secara bersama-sama mempengaruhi 30% kematian dan 4% karena diabetes

NAMA : DELY NURHAYYUNA HARAHAP NIM : 240703110228

KELOMPOK : KALMECO

(2)

(WHO, 2023). Tingginya angka kematian ini harus segera untuk ditangani.

Diperlukan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat meningkatkan pengendalian penyakit tidak menular. Pemantauan kasus dan faktor risiko dari penyakit tidak menular merupakan strategi pencegahan, penanganan yang efektif dan terkoordinasi oleh pihak berwenang, sektor swasta, dan masyarakat (Umayana, Haniek Try & Cahyati, 2019).

Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian dan diperkirakan akan terus meningkat. Penyakit kardiovaskular antara lain penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular, tekanan darah tinggi, penyakit arteri perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, dan gagal jantung. Penyebab utama penyakit jantung adalah merokok, kurang olahraga, dan pola makan yang buruk. Merokok, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Tekanan darah tinggi tidak memiliki gejala apa pun, namun dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke (Kemenkes, 2019).

Kanker

Kanker adalah penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung. Jenis kanker yang paling umum adalah kanker paru-paru, kanker lambung, kanker usus besar, kanker hati, dan kanker payudara. Lebih dari 70% kasus kanker terjadi di negara- negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Faktor risiko utama kanker adalah: merokok, minum alkohol, pola makan (termasuk asupan sayur dan buah yang tidak mencukupi), kurangnya aktivitas fisik, penyakit kronis Helicobacterpylori, hepatitis B, hepatitis C dan berbagai jenis Human Papilloma Virus (HPV) serta bahaya lingkungan dan pekerjaan yang terkait dengan ionisasi dan radiasi (Mulya, 2022).

Penyakit Pernafasan Kronis

Penyakit kronis pada sistem pernafasan dan struktur paru lainnya seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik, penyakit paru akibat kerja (kerusakan paru akibat

(3)

debu, uap atau udara berbahaya yang dihirup oleh pekerja di tempat kerja), sleep apnea syndrom dan pendarahan. Faktor risiko penyakit pernapasan kronis antara lain merokok (aktif dan pasif), paparan polusi udara, paparan alergen, seringnya infeksi saluran pernapasan pada anak, serta debu dan bahan kimia di tempat kerja (Kemenkes, 2019).

Diabetes

Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi cukup insulin, atau ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik. Gula darah tinggi disebabkan oleh diabetes yang tidak terkontrol, yang secara perlahan merusak jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf, sehingga memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup (Kemenkes, 2019).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung negara-negara anggota dalam mengembangkan dan menerapkan kebijakan yang komprehensif dan terintegrasi untuk mengatasi dan mengendalikan penyakit tidak menular (WHO, 2023).

Komponen program pengendalian dan pencegahan penyakit tidak menular adalah:

a) Pencegahan dan pengendalian penyakit kardiovaskular.

Solusi penyakit jantung adalah dengan makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok dan memahami risiko yang mungkin terjadi.

b) Pencegahan dan pengendalian kanker.

Strategi utama untuk mencegah kanker termasuk berhenti merokok, meningkatkan pola makan yang sehat dan aktivitas fisik yang teratur, perlindungan terhadap penyakit menular seperti vaksinasi, dan menghindari konsumsi alkohol.

Meningkatkan dan mengurangi paparan radiasi dan faktor lainnya (Mulya, 2022).

c) Pencegahan dan pengendalian penyakit pernapasan kronis

Fokus pencegahan penyakit pernafasan kronis adalah dengan berhenti merokok, deteksi dini kanker paru-paru, mengatur pola makan dan gizi, serta memperhatikan kualitas udara yang anda hirup, dan memperhatikan kualitas nafas.

d) Mengontrol Diabetes

Untuk mencegah diabetes tipe 2 dan komplikasinya dilakukan dengan mencapai dan menjaga berat badan ideal, olahraga fisik yang cukup, deteksi dini, pengobatan dan berhenti merokok. Pengendalian diabetes dilakukan melalui pemberian insulin,

(4)

pengendalian tekanan darah, perawatan kaki jika terjadi komplikasi, skrining dan pengobatan retinopati, serta pengendalian kadar lipid darah (Vilasari et al., 2024).

Perlu adanya kegiatan yang memotivasi dan menginspirasi masyarakat untuk hidup sehat dan mengubah gaya hidup untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hidup sehat. Mencegah lebih baik daripada mengobati ketika suatu penyakit terjadi.

Seiring dengan meningkatnya penyakit tidak menular, maka perlu adanya edukasi dan pendampingan masyarakat dalam melakukan deteksi dini atau skrining terhadap penyakit tidak menular, terutama pada kelompok yang beresiko (Umayana, Haniek Try & Cahyati, 2019). Masyarakat harus selalu diajak memahami penyakit tidak menular ini.

Strategi yang efektif dapat membantu masyarakat memahami bahaya penyakit tidak menular dan mendorong perubahan perilaku untuk hidup sehat. Konseling kooperatif dan kolaboratif terbukti meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko penyakit tidak menular dan mengubah perilakunya. Melibatkan masyarakat dalam diskusi dan kegiatan langsung, seperti lokakarya memasak sehat atau sesi olahraga kelompok, dapat meningkatkan partisipasi dan komitmen terhadap hidup sehat (Masitha et al., 2021). Era digital telah memungkinkan penggunaan media sosial sebagai alat yang efektif untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Strategi promosi kesehatan yang beragam dan terpadu sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tidak menular (Kusumaningrum, 2021).

Kesimpulan

Pencegahan dan pengendalian dari penyakit tidak menular ada berbagai macam, antara lain: pencegahan dan pengendalian penyakit jantung, pencegahan dan pengendalian penyakit kanker, pencegahan dan pengendalian penyakit pernafasan kronis, pengendalian penyakit gula. Masyarakat perlu pendekatan personal melalui komunikasi dan konseling interaktif dapat menciptakan perilaku kesehatan yang positif. Di sisi lain, penggunaan media sosial memungkinkan akses dan interaksi yang lebih besar dengan masyarakat.

Pemasangan materi iklan seperti spanduk dan poster di tempat umum juga diperlukan untuk menyampaikan informasi kesehatan. Peningkatan kesadaran

(5)

masyarakat terhadap faktor risiko penyakit tidak menular melalui program promosi kesehatan merupakan langkah penting dalam pencegahan penyakit ini. Tinjauan sistematis membantu memastikan bahwa program ini efektif dalam mengubah perilaku masyarakat untuk hidup lebih sehat.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes. 2019. “Buku Pedoman Manajemen Penyakit Tidak Menular.” no, 2.

Kusumaningrum, Anggraeni Endah. 2021. “Optimizing Community Participation In Regulation Of Community Activities Limitations To Prevent The Spread Of Covid 19.” Jurnal USM Law Review 4(2):714–27.

Masitha, Irja Sriani, Nabila Media, Novi Wulandari, and Mohammad Amin Tohari.

2021. “Sosialisasi Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Di Kampung Tidar.” Jurnal.Umj.Ac.Id, no. 3, pp. 1–8.

Mulya, Faradisa. 2022. “Analisis Kesiapan Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Di Indonesia Berdasarkan Sistem Kesehatan Nasional.” no. 6, pp.1–19.

Sudayasa, I. Putu, Muhammad Fathur Rahman, Amiruddin Eso, Jamaluddin Jamaluddin, Parawansah Parawansah, La Ode Alifariki, Arimaswati Arimaswati, and Andi Noor Kholidha. 2020. “Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Pada Masyarakat Desa Andepali Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe.” Journal of Community Engagement in Health vol. 3, no, 1, pp. 60–66. doi: 10.30994/jceh.v3i1.37.

Trisnowati, Heni. 2018. “Community Empowerment to Prevent Risk Factors of Non Communicable Diseases ( Case in A Rural Communities of Yogyakarta ).”

Jurnal MKMI, vol. 14, no. 1, pp.17–25.

Umayana, Haniek Try & Cahyati, Widya Hary. 2019. “Dukungan Keluarga Dan Tokok Masyarakat Terhadap Keaktifan Penduduk Ke Posbindu PTM.” Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 11, no. 1, pp. 96–101.

Vilasari, Dwi, Anggun Nabila Ode, Rizka Sahilla, Nola Febriani, and Sri Hajijah Purba. 2024. “Studi Literatur The Role of Health Promotion in Increasing Community Awareness of Non Communicable Diseases ( NCDs ).” vol. 7, no.

7, pp. 2635–48. doi: 10.56338/jks.v7i7.5626.

WHO. Tracking Universal Health Coverage: 2023 Global Monitoring Report.

Referensi

Dokumen terkait

Harga Diri dan Konformitas Terhadap Kelompok dengan Perilaku Minum Minuman Beralkohol pada Remaja.. Liputan Bincang “Tatalaksana Risiko Kesehatan Terkait Lingkungan

(sedentary) dan kurang aktivitas/gerak ditambah dengan adanya faktor risiko berupa merokok, pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit

Faktor risiko kesehatan meliputi BMI, aktivitas merokok, konsumsi alkohol, pola makan (asupan garam dan komsumsi makanan berlemak), aktivitas fisik (olahraga) dan

Empat jalur tersebut paling menonjol telah diusulkan: perilaku kesehatan melalui resep diet tertentu dan atau mengecilkan penyalahgunaan minuman beralkohol, merokok, dll, agama dapat

Berbagai penyakit saluran cerna juga lebih sulit disembuhkan asalkan orang tersebut tidak berhenti merokok.17 Konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan gastritis karena minuman

Faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi adalah kebiasaan merokok, konsumsi garam, minuman beralkohol, konsumsi lemak jenuh, obesitas, kurang aktifitas fisik, konsumsi kopi,

Hal ini membuat saya berpikir bahwa kebiasaan buruk siswa-siswa seperti merokok dibawah umur,minum-minuman berakohol dibawah umur,dll.Menjadi sebuah gambaran buruk dari pendidikan bebas

Faktor perilaku dapat berupa kurangnya aktivitas fisik, tidur yang tidak teratur, pola makan yang buruk, mengkonsumsi alkohol, merokok Khaerunnisa, 2010 Pola makan atau asupan makanan