• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI DOKUMEN Desa Kaenbaun

N/A
N/A
21-098 Yulia Rafika

Academic year: 2023

Membagikan " DESKRIPSI DOKUMEN Desa Kaenbaun"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

Akibat perang suku tersebut bermunculan desa-desa baru, yang pertama adalah kota Niufbanu, kota Fautkolo, kota Nunusaf, kota Besbobe, dan. Pasalnya Desa Kaenbaun termasuk dalam Kabupaten Timor Tengah Utara (TUU) yang merupakan sebuah kabupaten di pulau tersebut. Oleh karena itu, iklim di Kabupaten Timor Tengah Utara tergolong tipe A atau iklim khatulistiwa dengan suhu bulan.

Seperti seluruh wilayah di NTT, Timor Tengah Utara mempunyai 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Desa Kaenbaun terletak di kaki perbukitan yang mengelilingi hampir seluruh desa, dengan kata lain Desa Kaenbaun. 34;ARSITEKTUR HUNIAN LOKAL DALAM PERSPEKTIF PERTEMUAN BUDAYA: PENGETAHUAN KAENBAUN DAN PENEMPATAN SPASIAL SUKU DAWAN DI DESA KAENBAUN.

Pedoman lokal yang dikembangkan dari budaya lokal menjadi acuan perilaku dan penataan ruang di Desa Kaenbaun. 34;ARSITEKTUR PERMUKIMAN VERNAKULER DALAM PERSPEKTIF PERTEMUAN KEBUDAYAAN: KEBIJAKSANAAN KAENBAUN DAN RINGKASAN SPASIAL SUKU DAWAN DI DESA KAENBAUN. Status otonom ini berimplikasi pada aturan dan ritual adat, karena warga Desa Kaenbaun hanya membayar upeti.

34; PENGETAHUAN KAENBAUN SEBAGAI DASAR KONSEPTUAL DALAM KEPUTUSAN SPASIAL ARSITEKTUR SUKU DAWAN DI DESA KAENBAUN”.

TATA MASA BANGUNAN DAN SEJARAHNYA

TATANAN

KERUANGAN DESA KAENBAUN

Dari penelusuran dan analisa data di lapangan, maka tata ruang pemukiman suku Dawan di desa Kaenbaun mempunyai keunikan, penataannya didasarkan pada pengetahuan, pemikiran dan kearifan warga desa Kaenbaun sebagai suku Dawan yang sangat mentaati adat istiadat ( "bertindak dengan nenek moyang mereka") dan pada saat yang sama yakin.sebagai umat Katolik. Pemahaman mengenai luasan spasial permukiman di Desa Kaenbaun menjadi jelas jika didasarkan pada pemahaman dari sudut pandang lokal yang menitikberatkan pada hubungan antara arsitektur dan berbagai informasi tentang budaya suku Dawan yang tinggal di Kaenbaun. Budaya mereka juga unik, perpaduan budaya Dawan dengan nilai dan iman Katolik (Purbadi 2010).

DESA KAENBAUN

TATANAN KERUANGAN

Pertama, prinsip penghormatan terhadap rumah adat suku inti pemukiman Kaenbaun diwujudkan melalui tata letak umesuku-umesuku yang berada tepat di tengah desa dan memiliki akses jalan utama desa. Penempatan posisi di lapangan menunjukkan Foni umesuku berada paling depan, karena pada hakikatnya Suku Foni adalah suku penjaga desa Kaenbaun. Timo dan Taus umesuku berada di belakang Foni umesuku, keduanya merupakan suku penguasa (Timo) dan suku yang bertanggung jawab atas kesejahteraan desa Kaenbaun (suku Taus).

Umesuku Basan relatif berada di belakang ketiga umesuku sebagai ungkapan bahwa suku Basan sebagai raja (pemimpin) suku desa Kaenbaun berada di tengah dan dilindungi. Umesuku Nel sebagai perwakilan suku perempuan (pendatang = perempuan) terletak di dekat Umesuku Basan; wanita melihatnya setelah itu.

Dua prinsip penting terkait struktur ruang

Artinya masyarakat Kaenbaun telah menggunakan kearifan lokal dalam perencanaan lingkungan hidup (Dahliani 2015), (Siswanto 2009) dan perencanaan desa (Qodariah dan Armiyati 2013). Kedua, prinsip penghormatan terhadap Gereja Katolik diwujudkan dengan menempatkan bangunan gereja Katolik (dan Gua Santa Maria) relatif jauh pada zona belakang kompleks rumah adat (karena terletak di desa induk Niufbanu). Tata letak gereja sesuai dengan pemikiran struktural masyarakat Kaenbaun, semua elemen luar bersifat feminin dan perlu dilindungi sehingga ditempatkan di zona belakang.

Secara kronologis, pembangunan kompleks rumah adat di desa Kaenbaun sebenarnya relatif baru, dan hal ini otomatis mengakibatkan letak gereja tersebut berada di zona belakang gua Kaenbaun. Artinya tatanan ruang yang terbentuk (pasca kemerdekaan, pasca perang suku) selaras dengan pemikiran struktural masyarakat Kaenbaun. Artinya masyarakat Kaenbaun terbukti memanfaatkan kearifan lokal dalam pendidikan karakter manusia (Fajarini 2014) serta perencanaan lingkungan hidup (Dahliani 2015), (Siswanto 2009) dan perencanaan desa (Qodariah dan Armiyati 2013).

BENTUK BANGUNAN

UME KBUBU

Menurut Banamtuan (2015), rumah bundar atau Ume Kbu’bu’ adalah rumah yang atapnya dekat dengan permukaan tanah dengan pintu yang rendah. Atap Ume Kbu'bu' yang mendekati atau mencapai tanah terbuat dari daun alangalang atau gewang yang diikat dengan tali hutan. Ume Kbubu berasal dari kata Ume yang berarti rumah dan Kbubu yang berarti bulat sehingga Ume Kbubu berarti rumah yang bulat (Timo, 2005).

Ume kbubu di Desa Kaenbaun terdiri dari empat jenis, yaitu ume kbubu dapur keluarga, ume kbubu anak pertama, ume kbubu orang tua, dan ume kbubu kepala marga. Oleh karena itu, perlu diketahui konsep ruang ume kbubu yang ada guna mengkaji nilai-nilai kearifan lokal ume kbubu di Desa Kaenbaun.

Rumah Bulat ( UME KBUBU )

Dalam kehidupan sehari-hari, Ume Kbubu digunakan sebagai tempat tinggal dan melakukan aktivitas seperti memasak, tidur, dan lain-lain. Sebuah keluarga harus memiliki ume kbubu terlebih dahulu sebelum dapat membangun rumah jenis lain (Saunoah et. Al, 2006). Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Purbadi (2010) bahwa ume kbubu di desa Kaenbaun merupakan tempat pertama dimana ume kbubu merupakan tempat tinggal pertama keluarga sebelum dibangunnya bangunan lainnya.

Bentuk ume kbubu yang menjadi ciri khas rumah adat di Indonesia bagian timur, seperti yang telah disebutkan di atas, membuat ruangan ume kbubu juga berbentuk bulat. Ruangan ume kbubu dihias oleh masyarakat sesuai dengan tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang mereka. Berdasarkan fungsinya, kbubu ume ini digunakan sebagai dapur keluarga dan juga sebagai tempat tidur keluarga.

Ume kbubu tidak memiliki orientasi khusus dan lebih banyak berorientasi pada rumah modern agar lebih mudah diakses saat beraktivitas. Ruangan yang ada di kbubu ume ini hanya berupa satu ruangan tanpa sekat, tanpa jendela dan hanya dengan satu pintu.

KONSEP RUANG UME KBUBU

Walaupun hanya terdapat satu ruangan dan tidak mempunyai sekat, namun keberadaan ruang pada ume kbubu dapat dirasakan melalui aktivitas-aktivitas yang berlangsung di dalamnya sehingga membentuk suatu wilayah spasial. Selain kedua fungsi tersebut, ume kbubu juga sebagai tempat melaksanakan upacara adat karena anak laki-laki dianggap sebagai penghubung dengan leluhur (Purbadi, 2010). Ume kbubu anak laki-laki pertama hanya memiliki satu bilik di dalam ume kbubu dengan diameter bilik 5-6 meter.

Selain ruangan dalam, terdapat juga ruangan luar yang terbentuk karena adanya hau monef yang berada di depan ume kbubu. Ume kbubu orang tua adalah ume kbubu yang dibuat untuk menghormati dan mengenang orang tua. Ume kbubu digunakan oleh sekelompok keluarga suatu suku untuk berkumpul dan melakukan upacara adat.

Ruang di ume kbubu hanya berupa ruangan dengan diameter 5-6 meter dan tidak ada sekat. Sumber kutipan: Dima, Thomas Kurniawan dkk. “KONSEP RUANG KBUBU UME DESA KAENBAUN KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA”. Meski hanya satu ruangan, namun berdasarkan kegiatan di ume kbubu terdapat beberapa wilayah tata ruang.

Area ruang yang terbentuk adalah dapur sebagai tempat memasak yang terletak di bagian belakang ruangan, ditandai dengan adanya tungku batu untuk memasak dan tempat istirahat di sisi kiri ruangan ume kbubu yang terdapat hala. Selain kedua ruangan tersebut, di depan ume kbubu terdapat ruang peralihan berupa teras yang disebut maun sembilan. Ume kbubu adalah ume kbubu tempat seluruh anggota setiap suku berkumpul untuk melakukan upacara adat.

Ume kbubu mempunyai tiga jenis ruang pada suku ume kbubu, yaitu ruang dalam, ruang luar, dan ruang transit. Meski hanya satu ruangan, namun terdapat wilayah spasial yang bisa dirasakan dari aktivitas yang berlangsung di ume kbubu. Area yang terbentuk pada ume kbubu adalah area memasak yang terdapat tungku batu pada bagian belakang ruangan ume kbubu, area keramat yang berada pada bagian tengah, kiri, kanan dan depan ruangan ume kbubu yang ditandai dengan adanya dari altar batu suci di ruang tengah.

Terdapat juga ruang outdoor di depan ume kbubu yang dibentuk oleh hau monef. Ume kbubu suku laki-laki memiliki aturan bahwa setiap perempuan yang belis (mas kawinnya) belum selesai tidak boleh memasuki ume kbubu pada saat upacara adat.

DARI KONSEP RUANG KE-EMPAT JENIS UME KBUBU INI TERDAPAT BEBERAPA

Ruang transisi Ruang ini merupakan ruang di depan ume kbubu sebagai teras ume kbubu yang disebut maun sembilan. Di ruangan ini terdapat empat tiang yang disebut ni maun sembilan yang memiliki ukiran dan merupakan tanda rumah adat. Luar Angkasa Kawasan ini selalu berada di depan ume kbubu yang ditandai dengan hadirnya hau monef.

Pada saat upacara adat, seluruh anggota keluarga masing-masing suku mengelilingi hau monef dan kemudian melakukan upacara adat. Hau monef selalu berada di depan ume kbubu sebagai lambang bahwa hau monef (tiang laki-laki) sebagai lambang laki-laki melindungi ni enaf (tiang perempuan) sebagai lambang perempuan yang berada di dalam ume kbubu. Hau monef selalu berada di depan ume kbubu sebagai lambang bahwa hau monef (tiang laki-laki) sebagai lambang laki-laki melindungi ni enaf (tiang perempuan) sebagai lambang perempuan yang berada di dalam ume kbubu.

Ume kbubu Desa Kaenbaun juga mempunyai arah orientasi, hal ini terlihat pada ume kbubu suku induk yang mempunyai orientasi terhadap sumber atau tempat asalnya, seperti sumber mata air suci, daerah asal. , atau gunung berbatu. Selain itu, orientasi ini juga bertujuan agar para leluhur tidak dihalangi memasuki ume kbubu saat melakukan upacara adat.

Konsep ruang ume kbubu dibentuk oleh aktifitas yang ada pada ume kbubu

Selain konsep teritori ruang pada ume kbubu tersebut, ume kbubu juga memiliki arah orientasi ke arah asal setiap suku atau ke arah sumber mata air suci

UME KBUBU )

LOPO DESA KAENBAUN

LOPO DI KAMPUNG LAMA

LOPO NIKOLAS KOLO

LOPO TOLAS KAENBAUN

PUSTAKA MUTIARA INDONESIA, 2009

UMESUKU DESA KAENBAUN

Teori tata spasial Kaenbaun

MASYARAKAT DAN

Pekerjaan utama warga Kaenbaun adalah petani lahan kering, yang menanam jagung sebagai tanaman utama yang disakralkan melalui upacara adat yang ketat mulai dari penanaman hingga pemetikan. Jagung yang dipetik di kebun disimpan di rumah bundar (umebubu), bangunan keramat keluarga karena di dalamnya terdapat batu keramat keluarga untuk melaksanakan sembahyang keluarga. Gabah upeti masing-masing keluarga atau suku disimpan sebagai benih suci di rumah suku (umesuku) karena peraturan leluhur mewajibkannya.

Sistem pertanian di Kaenbaun adalah perladangan berpindah, berpindah secara teratur dalam lingkungan terestrial normal agar tanah menjadi subur kembali dan menghasilkan tanaman dalam jumlah besar.

Relasi dengan nenek-moyang (beinai) penting di desa Kaenbaun

Relasi manusia dengan alam penting bagi orang Kaenbaun

Relasi antar manusia sesama saudara (atoni) menjadi sendi kehidupan penting di desa

Relasi manusia (atoni) dengan Tuhan menyempurnakan relasi lainnya dan sangat penting dalam kehidupan

Kebudayaan di desa Kaenbaun

ISU ALAM DAN TATA MASSA BANGUNAN

Referensi

Dokumen terkait

untuk belajar lebih jauh mengenai kebudayaan Jawa yang kaya akan nilai – nilai moral dan keindahan dengan mengunjungi Desa Wisata TeMBI..

Manfaat dari penelitian ini agar memberi pengetahuan bagi pembaca mengenai bagaimana bentuk pola kontur sumur penduduk di Desa Bulurejo dan Desa Tuban

Permukiman Desa Adat Sukawana berada pada perbukitan dengan pola ruang membentuk huruf “ n ” kecil atau lebih sering disebut dengan pola linier, dengan

Pada penelitian pengelolaan lumbung pangan masyarakat desa (LPMD) di Kabupaten Boyolali ini fokus penelitian berada pada pola pengelolaan kelembagaan cadangan pangan

Penelitian ini memberikan informasi mengenai pola hubungan antara petani dan koperasi dalam pengusahaan hutan di Desa Cihowe dan Desa Cogreg BP3K, Kabupaten Bogor dengan pengaruh

Program ini direncanakan dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Besan khususnya anak-anak sekolah dasar mengenai perilaku hidup bersih

Dalam kegiatan MMD 3 ini presentator menjelaskan hasil implementasi dari kegiatan yang telah dilakukan oleh mahasiswa STIKES BHAMADA SLAWI selama  berada di RT 1,2,3 di

PENGEMBANGAN POTENSI KEBUDAYAAN MELALUI SENI KARAWITAN JAWA SEBAGAI POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA MOJOAGUNG PATI JAWA TENGAH Priska Nur Safitri1, Alfian Muhaiminan2 Jurusan