18
JPPNu (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Nusantara) Vol. 3 ● No. 1 ● Juli-2021 E-ISSN: 2685-3884, P-ISSN: 2685-4783 Available online at http://journal.unublitar.ac.id/jppnu
DETEKSI DINI MASALAH PSIKOLOGIS DAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI
Defi Astriani¹, Alaiya Choiril Mufidah², Dessy Farantika³
1,2 Prodi Psikologi Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia
3 Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia
1 [email protected], 2[email protected], 3 [email protected]
ABSTRAK
Anak usia dini mengalami tahapan tumbuh kembang yang meliputi aspek fisik, sosial emosi, kognitif, dan perilaku.
Pada tahapan ini diketahui berhasil tidaknya tumbuh kembang anak salah satunya dipengaruhi oleh peran orang tua karena ditahapan ini menjadi awal mula perkembangan potensi yang dimiliki oleh anak, sehingga semua aspek harus berjalan beriringan. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada orang tua dan guru serta memberikan bekal berupa skill untuk melakukan deteksi dini pada permasalahan-permasalahan anak selama tahap pertumbuhan dan perkembangan. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan meliputi psikoedukasi, diskusi, role play dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan skill orang tua maupun guru dalam melakukan deteksi dini tumbuh kembang anak secara fisik dan psikologis.
Kata Kunci: deteksi dini, masalah psikologis, tumbuh kembang, anak usia dini
PENDAHULUAN
Orang tua pasti menginginkan memiliki anak yang cerdas, sehat dan mempunyai akhlak mulia. Agar anak dapat menjadi seperti yang diidamkan oleh orang tua, harus memenuhi kriteria pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor genetic. Dimana cerdas tidaknya seorang anak dipengaruhi oleh gen bawaan anak tersebut. Sedangkan faktor eksternal meliputi stimulus dari luar, misalnya gizi, stimulus yang diberikan lingkungan kepada anak, keadaan psikologis, dan status sosial ekonomi.
Berdasarkan hasil penelitian kegagalan pertumbuhan pada anak yang paling banyak terjadi pada usia 6 sampai 8 bulan. Dimana pada usia ini, anak menunjukkan tahapan pertumbuhan yang lambat dari usia seharusnya. Salah satu kasus yang banyak dijumpai adalah gizi buruk pada anak. Penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi ibu hamil, pola makan bayi yang salah dan adanya penyakit atau infeksi (Soedjatmiko, 2001).
Selain pertumbuhan, perkembangan anak juga sangat penting. Karena pertumbuhan dan perkembangan adalah aspek yang saling berkaitan. Perkembangan anak dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis. Stimulasi atau rangsangan biasanya didapatkan dari lingkungan anak yaitu, keluarga, teman atau orang terdekat anak. Stimulasi dalam keluarga berupa tersedianya mainan anak, komunikasi anak dengan keluarga, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain juga akan berpengaruh pada perkembangan anak yang optimal (Narendra, 2003). Anak akan merasa tertekan dan terhambat perkembangannya jika kehadirannya tidak dikehendaki Anak tersebut hadir dalam keluarga namun tidak mendapatkan perlakuan yang baik dalam keluarga, misal tidak ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang tua atau diabaikan.
19
Faktor eksternal lain yang dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak yaitu faktor sosial ekonomi. Rendahnya status ekonomi masyarakat berpengaruh pada pemenuhan gizi yang diberikan orang tua kepada anak. Sehingga, asupan makan yang diberikan kepada anak tidak memenuhi standart gizi yang semestinya. Selain masalah gizi, orang tua dengan ekonomi yang rendah juga berpengaruh pada tersedianya lingkungan tempat tinggal dengan kesehatan yang jelek. Status gizi yang buruk dan kesehatan lingkungan yang jelek kemudian ditambah dengan kurangnya pengetahuan akan kesehatan anak, maka akan sulit untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak (Tanuwijaya, 2003).
Fase golden age pada anak terjadi pada usia 0 sampai 5 tahun. Pada fase ini seorang anak akan mengalami peningkatan pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.
Sehingga di fase ini orang tua perlu memperhatikan secara cermat agar dapat terdeteksi sedini mungkin kelainan atau masalah yang terjadi pada anak. Deteksi dini ini berfungsi untuk mencegah munculnya kelainan yang bersifat permanen, karena ketika terdekteksi adanya kelainan maka akan segera mendapatkan penanganan (Cameron, 2002).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang dapat membantu anak berproses di masa tumbuh kembangnya. Ketika PAUD anak akan belajar untuk bersosialisasi, dari belajar mereka dapat mengelola stress dan menyelesaikan masalah yang timbul akibat berinteraksi dengan teman sebayanya.
Semakin dini anak dikenalkan dengan hal-hal tersebut maka akan semakin bermaanfaat pula bagi perkembangan anak terutama pada aspek psikologis (Santrock, 2010).
Aspek psikologis juga memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang anak.
Namun biasanya aspek ini sering diabaikan oleh para orang tua dan lebih focus pada kesehatan fisik. Padahal sebenarnya banyak sekali permasalahan psikologis yang mungkin dialami oleh anak dan itu berdampak pada kehidupan sehari-hari mereka.
Permasalahan psikologis pada anak dapat berupa gangguan pada bahasa, emosi, dan sosial perilaku (Widyastuti, 2001). Kemampuan bahasa anak dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu motoric, psikologis, emosi dan perilaku. Keempat aspek ini harus berfungsi secara penuh agar anak memiliki kemampuan bahasa yang baik.
Gangguan bahasa yang terjadi pada anak disebabkan oleh faktor genetik dan fisik.
Secara genetic gangguan ini diperoleh dari bawaan lahir, misalnya adanya gangguan pendengaran sehingga anak tidak dapat menerima stimulus berupa suara dengan baik, intelegensi rendah, anak kurang berinteraksi dengan lingkungan sosial, kematangan terhambat dan faktor keluarga. Sedangkan faktor fisik, misalnya anak mempunyai kelainan bibir sumbing dan cerebral palsy. Kemudian gagap juga termasuk salah satu gangguan bahasa. Biasanya anak yang gagap ini mengalami tekanan dari orang tua agar anak dapat bicara dengan jelas (Soetjingsih, 2003).
Selain gangguan bahasa, kecemasan juga menjadi salah satu ganggaun psikologis yang muncul pada masa tumbuh kembang anak. Gangguan kecemasan ini membutuhkan penanganan segera jika berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial anak. Apabila gangguan kecemasan ini tidak segera mendapatkan penanganan maka akan berdampak pada aktifitas sehari-hari anak. Masalah yang ditimbulkan dari kecemasan ini antara lain, fobia sekolah, fobia sosial dan trauma (Meadow & Newll, 2002).
Autism dan gangguan perilaku juga muncul pada tahap tumbuh kembang anak. Anak dengan gangguan autism akan menunjukkan gejala-gejala yang khas yaitu, adanya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar, melompat-lompat atau tantrum. Autism ini jika tidak terdeteksi dari awal dan tidak segera mendapatkan penanganan dari professional maka akan berdampak pada kemampuan bahasa, kemampuan interaksi dan perilaku mereka (Widyastuti, 2001).
Pemantauan permasalahan tumbuh kembang anak baik secara fisik ataupun psikologis dapat dilakukan oleh orang tua, masyarakat melalui kegiatan posyandu dan guru
20
disekolah. Monitoring sejak dini ini berfungsi untuk mendeteksi adanya masalah psikologis pada kemampuan bahasa, perkembangan emosi dan perkembangan sosial.
Hal ini berfungsi untuk mencegah agar masalah yang dialami oleh anak dapat segera ditangani dan tidak terbawa hingga dewasa. Namun kenyataannya orang tua, guru dan masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup terkait permasalahan psikologis yang akan muncul selama tahap perkembangan anak.
Kurangnya pengetahuan orang tua ataupun guru terkait permasalahan psikologis selama tumbuh kembang anak menyebabkan anak tidak dapat berkembang secara optimal karena permasalahan yang mereka alami tidak segera mendapatkan penanganan yang semestinya sehingga menjadi lebih parah. Oleh karena itu, pengetahuan tentang deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dimiliki oleh orang tua, guru, dan masyarakat. Program ini betujuan untuk memberikan edukasi kepada orang tua dan guru serta memberikan bekal berupa skill untuk melakukan deteksi dini pada permasalahan-permasalahan anak selama tahap pertumbuhan dan perkembangan.
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini adalah menggunakan pendekatan preventif. Preventif adalah pencegahan dari hal buruk yang mungkin dapat terjadi. Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, maka orang tua harus memperhatikan aspek fisik hingga psikologis. Kedua aspek ini harus sejalan beriringan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal seperti yang diharapkan oleh kebanyakan orang tua. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini berlangsung dalam empat sesi. Tujuan utamanya yaitu untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dan guru tentang bagaimana mendeteksi dini masalah psikologis dan tumbuh kembang anak usia dini.
Sasaran dari program pengabdian ini adalah orang tua dan guru PAUD berjumlah 20 orang. Subjek berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Dalam pelaksanaan program ini, tim dibantu oleh guru PAUD dalam mengkondisikan para orang tua selama proses penyuluhan berlangsung.
Sesi pertama adalah pembukaan dan membangun rapport kepada para peserta. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian psikoedukasi. Pada sesi pertama ini, fasilitator melakukan pre test terlebih dahulu untuk melihat sejauh mana pengetahuan para peserta terkait tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikologis. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan materi tentang tumbung kembang anak secara fisik dan psikologis.
Sesi kedua adalah diskusi. Di sesi diskusi ini fasilitator memberikan beberapa kasus kepada para peserta untuk dianalisis dan memberikan solusi agar kasus tersebut dapat ditangani. Kasus yang diberikan berupa kasus sehari-hari yang sering ditemui oleh para peserta dikehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan anak.
Sesi ketiga adalah role play. Pada sesi role play ini peserta diminta untuk memainkan peran. Sebelumnya mereka dibagi kelompok kemudian diberikan kasus utnuk memainkan perannya. Ada yang menjadi anak dan orang tua. Sesi ini bertujuan untuk menanamkan skill para peserta untuk melakukan deteksi ini terhadap permasalahan anak.
Sesi keempat adalah evaluasi. Diakhir sesi para peserta diberikan posttest untuk mengukur tingkat pemahaman peserta atas materi yang telah disampaikan dan untuk mengetahui sejauh mana ketrampilan dalam mendeteksi dini masalah psikologis dan tumbuh kembang anak usia dini.
21 HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah keseluruhan tahapan dilakukan, maka di peroleh hasil bahwa pengetahuan para peserta terkait bagaimana mendeteksi dini masalah psikologis dan tumbuh kembang anak usia dini. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman tersebut terlihat dari hasil evaluasi pre test dan post test yang telah dilakukan antara sebelum dan sesudah dilakukannya kegiatan
Skor pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan (pretest) pada rentang angka 3-6, setelah diberikan penyuluhan skornya meningkat menjadi terletak pada rentang angka 7- 10. Perubahan skor yang semakin meningkat menunjukan adanya peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta. Peningkatan skor para peserta dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Uji Beda Skor Pre Test dan Post Test
Kelompok Mean N Sig. p
Pre test 4.65 20
0.000
Post test 6.3 20
Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa tedapat peningkatan nilai rata-rata skor post- test. Dimana nilai rata-rata skor pre-test sebesar 4.65 dan rata-rata skor post-test 6.3. Hal ini berarti setelah diadakannya penyuluhan terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 1.65.
Jika dilihat dari angka probabilitas (p= 0.000 < 0,05) dengan nilai t -6.492, artinya skor tersebut signifikan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan para peserta terkait masalah psikologis dan tumbuh kembang anak usia dini dan bagaimana mendeteksinya secara signifikan. Selain dari perolehan nilai, peningkatan kemampuan yang dimiliki oleh para peserta juga terlihat dari peningkatan kemampuan pada setiap sesi.
Sesi pertama yaitu psikoedukasi, para peserta terlihat sangat kooperatif dan antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Hal tersebut terlihat dari umpan balik yang diberikan oleh para peserta kepada fasilitator. Para peserta memberikan beberapa pertanyaan kepada fasilitator sehingga diskusi berjalan dengan cukup baik. Dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan oleh para peserta menunjukkan bahwa peserta menerima dengan baik penjelasan yang telah disampaikan.
Gambar 1. Psikoedukasi
Sesi pertama ini, fasilitator memberikan materi terkait proses tumbuh kembang anak usia dini, kelainan atau masalah yang kemungkinan muncul pada fase ini, dan bagaimana cara mencegah agar anak tidak mengalami kelainan, serta jika anak mengalami kelainan pada fase ini apa yang perlu dilakukan oleh orang tua. Dari semua
22
rangkaian materi yang diberikan, para peserta dapat memahami dengan baik. Sehingga sesi pertama dapat berjalan sesuai dengan rencana awal.
Sesi kedua yaitu diskusi kasus. Sesi ini berjalan dengan lancar dan peserta sangat antusias dalam memecahkan masalah yang diberikan. Beberapa peserta ditunjuk untuk menjawab atau memberikan solusi atas masalah yang diberikan. Diawal peserta masih agak ragu dan kebingungan menjawab, namun di kasus ke tiga peserta sudah lancar memberikan pemecahan masalahnya.
Gambar 2. Diskusi Kasus
Sesi ketiga yaitu roleplay. Pada sesi role play, peserta diberikan sebuah kasus kemudian diminta untuk memainkan peran. Sebelum bermain peran para peserta membagi peran yang akan dimainkannya sesuai kasus yang diberikan. Di sesini ini para peserta tidak mengalami kesulitan dalam bermain peran dan terlihat dapat memahami peran yang diberikan kepadanya. Dari sini nampak bahwa para peserta sudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mendeteksi masalah tumbuh kembang anak.
Sesi keempat yaitu evaluasi. Diakhir sesi para peserta diberikan posttest untuk mengukur tingkat pemahaman peserta atas materi yang telah disampaikan dan untuk mengetahui sejauh mana ketrampilan dalam mendeteksi dini masalah psikologis dan tumbuh kembang anak usia dini.
Gambar 3. Evaluasi
Anak usia 3 sampai 6 tahun sudah bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Periode usia ini ditandai dengan anak kemampuan bahasa yang cukup lancar karena telah menguasi banyak kosakata, kecerdasan cukup dan menjadi lebih individual. Sehingga diusia ini anak sudah mampu untuk memasuki masa sekolah (Davies, 2011).
23
Permasalahan psikologis yang dialami oleh anak dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu bawaan dan lingkungan. Faktor bawaan membuat anak berkembang sesuai dengan potensi bawaannya. Artinya kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak merupakan bawaan dari lahir dan tidak ada kaitannya dengan lingkungan. Sedangkan tokoh psikologi yang mengatakan bahwa kemampuan anak dipengerahui oleh lingkungan mengatakan bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan inilah yang membuat jiwa atau karakter seorang anak (Crain, 2007).
Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan tempat dimana seorang anak tinggal sangat berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak, baik secara fisik maupun psikologis (Santrock, 2010). Orang tua merupakan lingkungan pertama yang dapat memberikan bimbingan dan support terhadap perkembangan anak. Selain orang tua, sekolah dan lingkungan rumah juga mempunyai peranan penting. Oleh karena itu, perlu menciptakan lingkungan yang baik untuk proses tumbuh kembang anak sehingga bisa berjalan secara optimal.
Keterbatasan akan pengetahuan dan wawasan mengenai tumbuh kembang anak dan masalah psikologis anak yang dimiliki oleh orang tua dan guru menjadi salah satu pemicu rendahnya tingkat pengetahuan peserta mendeteksi dini masalah psikologis anak.
Orang tua dan guru memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang baik untuk anak.
Peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta akan sangat dapat digunakan untuk menangani permasalahan yang dialami seorang anak terutama permasalahan psikologis. Para peserta dapat menerapkan wawasan dan skill nya ketika mengasuh anak sehingga dapat mendeteksi dini adanya masalah psikologis dalam tumbuh kembang anak. Deteksi dini ini merupakan upaya mengurangi gejala pada gangguan mental. Deteksi dini ini bermanfaat untuk memberikan pertolongan awal kepada anak sehingga permasalahan pada anak segera mendapatkan penanganan.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penyuluhan dapat disimpulkan bahwa para peserta mengalami peningkatan pemahaman terkait masalah psikologis dan tumbuh kembang anak secara signifikan. Hal tersebut terlihat dari peningkatan skor pre test dan post test serta dari hasil pengamatan selama proses penyuluhan berlangsung. Dimana para peserta sangat aktif dan antusias mengikuti setiap sesinya.
Selain itu, para peserta juga menunjukkan adanya peningkatan skill dalam melakukan deteksi dini masalah atau kelainan yang muncul pada anak diusia golden age. Hal ini terlihat dari kemampuan para peserta dalam memecahkan masalah untuk setiap kasus yang diberikan pada sesi diskusi dan role play.
DAFTAR RUJUKAN
Cameron, N. (2002). Human Growth and Development. California: Academic Press.
Crain, W. (2007). Theories of Development, Concept and Application, Terj. Yudi Santoso, Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Davies, D. (2011). Child development: A Practitioner’s Guide, third edition. USA: The Guilford Press
Meadow, R & Newll, S. (2002). Lecture Notes Pediatrica. Jakarta: Erlangga.
Narendra, M. B. (2003). Penilaian Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jakarta:
EGC.
24
Soedjatmiko (2001). Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita. Sari Pediatri, 3(3), 175 – 188.
Santrock, J. W. (2010). Child Development. Boston: Pearson Education.
Soetjiningsih. (2003). Perkembangan Anak dan Permasalahannya. Jakarta: EGC.
Tanuwijaya, S. (2003). Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC
Widyastuti, D. (2001). Panduan Perkembangan Anak 0 Sampai 1 Tahun. Jakarta: Puspa Swara.