• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Tentang Analisis Artikel Ehrlichiosis (1)

N/A
N/A
Sheikhul Akbar Saputra

Academic year: 2023

Membagikan "Dokumen Tentang Analisis Artikel Ehrlichiosis (1)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Dina Khairina NIM : 2310912220002 Kelompok : 11 (Ehrlichiosis)

A. Pengantar

Infeksi Berulang Ehrlichia canis pada Monosit Anjing Peranakan Akita di Denpasar, Bali merupakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh I Putu Krisna Ardhia Pradnyandika, I Gede Soma, I Nyoman Suartha dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian ini ditulis pada 2 Bulan Juli Tahun 2022 sebanyak 11 halaman. Pokok pembahasan pada jurnal ini ialah untuk mengetahui lebih dalam mengenai Canine Monocytic Ehrlichiosis pada anjing.

Selain itu, laporan kasus ini diharapkan memperkaya referensi dalam melakukan penanganan Canine Monocytic Ehrlichiosis. Hal penting dari jurnal ini ialah bagaimana kita mengetahui fase apa yang sedang dialami anjing tersebut, apakah akut, kronis, dan subklinis. Dengan cara melihat gejala-gejala, serta melakukan tindakan yang benar dalam memberikan pengobatan anjing yang terjangkit Canine Monocytic Ehrlichiosis (CME). Secara umum kelebihan dalam jurnal ini adalah alat-alat skrining atau pengujian untuk melakukan tes seroji yang tentu saja memadai, hal ini tentu memudahkan dan memberikan hasil laboratorium, diagnosis yang akurat, dan memudahkan penyembuhan. Namun tak luput dari kekurangan, yaitu dalam jurnal ini tidak diberitahukan apa saja faktor-faktor penyebab penyakit Canine Monocytic Ehrlichiosis (CME) (1).

B. Ringkasan

Penulisan laporan kasus ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai Canine Monocytic Ehrlichiosis pada anjing yang bernama Moli, yang saat pemeriksaan berumur 3,5 tahun. Moli memiliki ciri khas berwarna krem, putih, dan hitam, dengan bobot badan mencapai 35,3 kg. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, yang merupakan bagian dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Diagnosa dan pengobatan yang tepat untuk kasus ini akan menjadi

(2)

penting, mengingat tingkat keparahan penyakit ini dapat bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk kondisi umum kesehatan, respons terhadap terapi, dan faktor lingkungan (1).

Kasus bermula saat pemilik anjing Moli mulai mengkhawatirkan kondisi kesehatan peliharaannya saat melihat gejala-gejala yang tidak lazim pada Moli.

Penurunan drastis dalam nafsu makan dan minum, bersamaan dengan konsistensi feses yang lembek sejak pagi, menjadi tanda-tanda yang memicu kekhawatiran tersebut. Pemilik telah memastikan bahwa Moli telah mendapatkan vaksinasi lengkap dan telah diberikan obat cacing, menjaga kesehatannya dengan sebaik mungkin. Namun, tidak bisa diabaikan bahwa tiga bulan sebelumnya, Moli pernah terinfeksi parasit darah. Kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan adanya kondisi yang lebih serius pada sistem kekebalan tubuh Moli.

Selanjutnya Moli akan dilakukan pemeriksaan bertahap mulai dari pemeriksaan Klinis dan pemeriksaan laboratorium, lalu dilanjutkan dengan hasil diagnosis berserta terapi atau tahap penyembuhannya (1).

Dalam pemeriksaan klinis, ditemukan tanda-tanda yang mengindikasikan adanya masalah pada saluran pencernaan. Salah satu temuan yang mencolok adalah adanya bekas feses berwarna hitam yang menempel pada rambut di sekitar anus. Namun, hasil uji untuk telur cacing dan protozoa saluran pencernaan menunjukkan hasil negatif. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh faktor lain, salah satunya adalah trombositopenia.

Selain itu, terdapat gejala lain yang mencolok yaitu anjing ini menunjukkan penolakan terhadap makanan saat diberikan pakan selama pemeriksaan. Hal ini merupakan indikasi bahwa ada gangguan pada sistem pencernaannya. Tak hanya itu, ditemukan juga melena, yang merupakan tanda khas dari perdarahan pada mukosa saluran gastrointestinal. Melena sendiri bisa menjadi hasil dari beberapa faktor, termasuk peradangan yang disebabkan oleh parasit pada saluran pencernaan atau kondisi trombositopenia yang mungkin juga terlibat dalam kasus ini (1).

Dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis, dilakukan berupa pemeriksaan hematologi, feses, apusan darah, dan test kit

(3)

antibody dengan empat parameter parasit darah. Sampel darah dikoleksi dalam tabung EDTA (Ethylene Diamine Tetra-acetic Acid) untuk pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi menunjukkan trombositopenia dan anemia mikrositik hiperkromik berdasarkan nilai total eritrosit, Packed Cell Volume (PCV), kadar hemoglobin, dan Mean Corpuscular Volume (MCV) yang menurun serta nilai Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) yang meningkat. Selain itu, anjing juga mengalami leukositosis dengan limfositosis dan granulositopenia. Pemeriksaan feses didapatkan hasil negatif terhadap telur cacing dan protozoa saluran pencernaan. Pada pemeriksaan apusan darah ditemukan adanya morula intrasitoplasma pada monosit yang menunjukkan hasil positif Ehrlichia canis.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan apusan darah dikonfirmasi dengan test kit antibodi dan didapatkan hasil positif terhadap antibody Ehrlichia canis (1).

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dapat di identifikasi dan di diagnosis penyakit yang dialami pada anjing Moli. Proses diagnostik ini melibatkan langkah-langkah yang menyeluruh, termasuk pengumpulan anamnesis dari pemilik, pemeriksaan klinis menyeluruh terhadap Moli, serta serangkaian uji laboratorium yang mencakup pemeriksaan darah dan tes penunjang khusus untuk mengkonfirmasi keberadaan penyakit. Berdasarkan hasil-hasil dari keseluruhan proses ini, anjing didiagnosis mengalami infeksi Ehrlichia pada monosit, atau yang lebih dikenal dengan Canine Monocytic Ehrlichiosis dengan prognosis fausta (1).

Anjing kasus yang didiagnosis CME diterapi dengan pemberian Antibiotik doksisiklin dengan dosis 10 mg/kg berat badan, PO setiap 24 jam, selama 14 hari.

Doksisiklin adalah antibiotik spektrum luas dari golongan tetrasiklin yang menjadi pilihan pertama untuk pengobatan CME. Doksisiklin dapat memasuki sel bakteri melalui difusi pasif, saluran hidrofilik dari porin, atau melalui proses transport aktif. Antibiotik ini bekerja dengan cara menghambat perlekatan aminoasil t-RNA ke ribosom bakteri selama sintesis protein. Durasi pengobatan penting untuk diperhatikan, karena beberapa anjing mungkin tidak toleran dengan pemberian doksisiklin dan dapat menyebabkan anoreksia, muntah, atau diare (1).

(4)

Obat anti radang prednisone yang diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg berat badan, PO setiap 24 jam, selama 14 hari. Obat prednisone adalah glukokortikoid anti inflamasi sintetis yang berasal dari kortison. Penggunaan obat glukokortikoid bukan merupakan komponen pengobatan yang utama karena pemberian doksisiklin sudah mampu dalam perbaikan klinis dan hematologis. Namun, terkadang pemberian glukokortikoid diperlukan, jika ditemukan tanda klinis yang dimediasi imun seperti uveitis atau trombositopenia (1).

Dan yang terakhir terapi suportif untuk anemia bertujuan untuk meningkatkan produksi sel darah merah dalam tubuh. Salah satu metode yang digunakan adalah pemberian suplemen hematopoietik seperti Sangobion.

Sangobion diberikan dalam bentuk kapsul dengan dosis satu kapsul per hari selama 14 hari. Sediaan hematopoietik ini telah terbukti efektif dalam mengatasi kondisi anemia pada anjing. Hal ini dikarenakan Sangobion mampu merangsang proses hematopoietik, yaitu pembentukan sel darah merah. Kandungan utama dalam Sangobion adalah ferrous gluconate (Fe), suatu senyawa yang merupakan sumber utama zat besi. Selain itu, Sangobion juga mengandung bahan-bahan lain yang sangat penting untuk kesehatan darah, seperti copper sulfate (Cu), asam folat, vitamin C, serta vitamin B6 dan B12 (1).

Pengobatan pada anjing kasus menunjukkan hasil yang baik. Setelah menjalani satu minggu pengobatan intensif, perkembangan pada anjing menunjukkan hasil yang sangat positif. Anjing yang sebelumnya lemah dan lesu kini telah kembali menjadi aktif dan penuh semangat. Tidak hanya itu, nafsu makan dan minumnya juga sudah kembali normal. Bahkan, perubahan yang paling mencolok terlihat pada konsistensi dan warna feses anjing, yang kini sudah mulai membaik. Anjing menunjukkan nafsu makan dan minum yang stabil.

Bahkan konsistensi dan warna fesesnya sudah mencapai tingkat normal, mengindikasikan pemulihan yang positif dalam sistem pencernaannya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan terapeutik yang tepat dan perawatan intensif telah membawa dampak positif bagi kesehatan dan kesejahteraan anjing tersebut (1).

(5)

C. Kritik

Dari Laporan kasus anjing Bernama Moli, kita mengetahui Anjing yang bergejala yang terinfeksi oleh Ehrlichia spp. memiliki risiko peningkatan penyakit multisistemik. E. canis adalah agen penyebab Ehrlichiosis monositotropik anjing dan tetap menjadi patogen penting yang bertanggung jawab atas penyakit yang parah dan mengancam jiwa. Lalu metode pengobatan yang sudah dilaksanakan sudah sangat benar, dimulai dengan pemeriksaan klinis dan laboratorium untuk menunjang diagnosis, dilakukan berupa pemeriksaan hematologi, feses, apusan darah, dan test kit antibody, serta terapi dan obat yang diberikan kepada anjing Bernama Moli yang membuat pasien sudah pulih Kembali (1,2).

Di dalam tahap pemulihannya, Pasien diberi beberapa obat yaitu pemberian antibiotik doksisiklin, obat anti radang prednisone, dan terapi suportif untuk anemia diberikan suplemen hematopoietic (sangobion). Namun dalam kasus anjing lain Pemberian obat antibiotic doksisiklin kurang efektif, mengapa? Karena pemberian obat doksisiklin pada fase kritis membuat respons terhadap terapi antibiotik buruk.

Laporan beberapa kasus juga menyatakan anjing mati karena perdarahan masif dan kelemahan parah. Doksisiklin juga tidak efektif pada anjing dengan pansitopenia aplastik berat dengan komplikasi septikemia dan perdarahan hebat.

Hal ini dapat membuat anjing yang sedang diobati mati (1,3).

Pada bagian pendahuluan dijelaskan bahwa Penularan bakteri Ehrlichia dilakukan oleh dua genus caplak yaitu Rhipicephalus dan Amblyomma. caplak bertindak sebagai vektor transmisi dari anjing satu ke anjing lainnya. Penularan penyakit Ehrlichiosis pada manusia dapat terjadi melalui gigitan caplak sebagai vektor, yang secara tidak langsung caplak dapat menggigit manusia melalui hewan

peliharaan anjing. Didalam laporan ini difokuskan terhadap kasus anjing saja, akan tetapi tidak dijelaskan dipendahuluan, apakah penyakit Ehrlichiosis dapat terjangkit pada hewan lain seperti kucing. Ehrlichiosis pada kucing dilaporkan pertama kali pada tahun 1989 oleh Bouro dan rekannya saat mendiskripsikan adanya inklusi intrasitoplasmik monosit dan limfosit dari tiga ekor kucing di

(6)

Kenya, walau memang Kejadian Ehrlichiosis sangat jarang ditemukan pada kucing, bersifat mul-

tisistemik dengan gejala klinis yang bervariasi tergantung pada stadium penyakit dan imunitas hospes, namun bisa saja ditambahkan sedikit informasi hewan lain yang dapat terjangkit Ehrlichiosis selain pada anjing (1,2,5).

Laporan-laporan dalam jurnal ini tidak hanya memberikan penjelasan rinci tentang penyebaran penyakit Ehrlichiosis yang disebabkan oleh replikasi E. canis pada sel mononuklear, terutama monosit. Namun, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi terjadinya Ehrlichiosis. Faktor lingkungan, musim yang memengaruhi peningkatan kasus, genetika, kekebalan tubuh, dan perilaku hewan juga memainkan peran kunci dalam pemahaman menyeluruh tentang bagaimana penyakit ini dapat berkembang dan menyebar di populasi hewan. Dengan memperluas wawasan terhadap elemen- elemen ini, langkah-langkah preventif yang lebih efektif dan strategi pengendalian yang lebih baik dapat diambil untuk masa depan (1).

D. Kesimpulan dan Saran

Jurnal laporan ini sudah sangat bagus, sudah sesusai dengan judul dan tujuan dari dibuatnya jurnal laporan yaitu untuk mengetahui lebih dalam mengenai Canine Monocytic Ehrlichiosis pada anjing dan diharapkan memperkaya referensi dalam melakukan penanganan Canine Monocytic Ehrlichiosis. Dari urutan metode penanganan, terapi dan pemberian obat yang diberikan dalam masa pemulihan anjing juga terbukti membuat kondisi anjing moli pulih. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu ditambahkan di dalam pendahuluan laporan ini, seperti faktor-faktor penyebab Ehrlichiosis, dan mungkin bisa diberitahukan sedikit tentang hewan apa saja yang bisa terjangkit Canine Monocytic Ehrlichiosis.

(7)

E. Referensi

1. Pradnyandika IPKA, Soma IG, Suartha IN. Laporan Kasus: Infeksi Berulang Ehrlichia canis pada Monosit Anjing Peranakan Akita di Denpasar, Bali. Indonesia Medicus Veterinus. 31 Juli 2022;11(4):519–29.

2. Burton W, et all. Association Between Exposure to Ehrlichia spp. and Risk of Developing Chronic Kidney Disease in Dogs. J Am Anim Hosp Assoc. 1 Mei 2020;56(3):159–64.

3. Pratiwi DA, Widyastuti SK, Suartha IN. Laporan Kasus: Infeksi Anaplasmosis dan Ehrlichiosis yang Kambuh Bersifat Fatal pada Anjing Pomeranian. Indonesia Medicus Veterinus. 31 Juli 2022;11(4):555–65.

4. Kurnia K, dkk. Ehrlichiosis pada kucing yang mengalami anemia dan indikasi gagal ginjal. ARSHI Veterinary Letters. 31 Mei 2020;4(2):23–4.

5. Ria Nesti D, dkk, Penyakit Zoonosis Ehrlichiosis pada Pasien Anjing di Klinik Hewan Jogja D, Studi Kesehatan Hewan P, dkk. Deteksi Penyakit Zoonosis Ehrlichiosis Pada Pasien Anjing Di Klinik Hewan Jogja

Referensi

Dokumen terkait

Tidak semua pasien dispepsia dilakukan pemeriksaan endoskopi dan banyak pasien yang dapat ditatalaksana dengan baik tanpa pengobatan sehingga diagnosis secara klinis agak

Bila pasien memerlukan tambahan pemeriksaan bisa berupa pemeriksaan laboratorium dan atau radiologi untuk mendapakan diagnosis pasti atau diagnosis akhir yang

Tindakan pelayanan penunjang medik, berupa pemeriksaan laboratorium diagnosis sederhana, pemberian alat bantu, dan berbagai peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan kesehatan

Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa perhitungan unit cost pelayanan laboratorium dengan metode ABC pada pemeriksaan hematologi rutin dan waktu pembekuan &

Metode yang dilakukan adalah dengan cara identitas pasien pemeriksaan secara laboratorium, pemeriksaan tanda vital pasien, profil pengobatan pasien dan analisa

Komponen penanganan kasus IMS harus dilakukan secara paripurna meliputi: anamnesis, pemeriksaan klinis, diagnosis yang tepat, pengobatan dini dan efektif, edukasi pasien,

Komponen penanganan kasus IMS harus dilakukan secara paripurna meliputi: anamnesis, pemeriksaan klinis, diagnosis yang tepat, pengobatan dini dan efektif, edukasi pasien,

Metode yang dilakukan adalah dengan cara identitas pasien pemeriksaan secara laboratorium, pemeriksaan tanda vital pasien, profil pengobatan pasien dan analisa