• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dipasritas Pidana Korupsi (Politik Hukum Pidana)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Dipasritas Pidana Korupsi (Politik Hukum Pidana)"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

. Dipasritas Pidana Korupsi (Politik Hukum Pidana) D I S U S U N Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. 1. Dipasritas Pidana Korupsi (Politik Hukum Pidana). D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. Jenis-jenis dan hierarki peraturan perundang- undangan menurut Pasal 7 ayat (1) Undang- undang No.. 12 Tahun 2011, tentang pembentukanperaturan perundang-undangan yaitu sebagai berikut: 1. UUD 1945 2. Ketetapan MPR 3. Undang-undang atau peraturan. pemerintah pengganti undang-undang 4. Peraturan pemerintah 5. Peraturan presiden 6. Peraturan daerah provinsi 7. Peraturan daerah kabupaten/kota. Istilah politik dipakai dalam berbagai arti, yaitu: 1. Arti yang pertama dan perkataan. politiek dalam bahasa Belanda yaitu sesuatu yang berhubungan dengan negara. 2. Membicarakan masalah politik berarti membicarakan masalah kenegaraan atau yang berhubungan dengan negara. Politik kriminal itu dapat diberi arti sempit, lebih luas, dan paling luas:  Dalam arti sempit, politik kriminal di gambarkan. sebagai keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana.  Dalam arti yang lebih luas, ia merupakan keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum, termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi.  Dalam arti yang paling luas, ia merupakan keseluruhan kebijakan yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi, yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari masyarakat. Selanjutnya, Pasal 8 Undang-undang No. 13 Tahun 2011 menentukan bahwa: Ayat (1). jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh MPR, DPR, DPD, MA, MK, BPK, KY, BI, Menteri, badan, lembaga, atau komisis yang setingkat yang dibentuk dengan undang- undang atau pemerintah atas perintah undang-undang, DPRD Provinsi, Gubernur, DPRD Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat. Ayat (2) Peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Pengertian peraturan perundang- undangan menurut Pasal 1 angka 2 undang-undang No. 12 Tahun 2011. adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. A.Ketetapan MPR No: XI/MPR/1998, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. Konsiderans Ketetapan MPR No: XI/MPR/1998, menegaskan bahwa pertimbangan pokok lahirnya ketetapan tersebut adalah: 1. Bahwa dalam penyelenggara negara telah. terjadi praktik-praktik usaha yang lebih menguntungkan sekelompok tertentu yang menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang melibatkan para pejabat negara dengan para pengusaha sehingga merusak sendi-sendi penyelenggara negara dalam berbagai aspek kehidupan nasional. 2. Bahwa dalam rangka rehabilitasi seluruh aspek kehidupan nasional yang berkeadilan, dibutuhkan penyelenggara negara yang dapat dipercaya melalui usaha pemeriksaan harta kekayaan para pejabat negara dan mantan pejabat negara serta keluarganya yang diduga berasal dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan mampu membebaskan diri dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Tujuan dari ketetapan MPR No: IX/MPR/1998. untuk memfungsikan secara proporsional dan benar, lembaga-lembaga negara yang ada, sehingga penyelenggara negara dapat berlangsung sesuai dengan UUD 1945. Penyelenggara negara pada lembaga- lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus melaksanakan fungsinya dengan baik, bertanggung jawab kepada masyarakat bangsa dan negara dengan sikap jujur, adil, terbuka dan terpercaya serta mampu membebaskan diri dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. B.Undang-Undang No: 28 Tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,Kolusi, dan Nepotisme. Undang-undang No: 28 Tahun 1999, menjelaskan pengertian mengenai penyelenggara negara, penyelenggara negara yang bersih, korupsi, kolusi, dan nepotisme, sebagaimana terdapat dalam Pasal 1, yaitu:. Penyelenggara Negara: 1. Penyelenggara negara adalah pejabat negara yang. menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Penyelenggara negara yang bersih adalah penyelenggara negara yang mentaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta perbuatan tercela lainnya. 3. Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. 4. Kolusi adalah pemufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar- penyelenggara negara atau antara penyelenggara negara dari pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara. 5. Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan penggolonagn penyelenggara negara diatur dalam pasal yang menyebutkan penyelenggara negara meliputi: 1. Pejabat negara pada lembaga tertinggi. negara 2. Pejabat negara pada lembaga tinggi. negara 3. Menteri 4. Gubernur 5. Hakim 6. Pejabat negara lain yang sesuai dengan. ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku. 7. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggara negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 5 yang menetukan setiap penyelenggara negara berkewajiban untuk: 1. Mengucapkan sumpah atau janji sesuai. dengan agamanya sebelum memangku jabatannya. 2. Bersedia diperiksa kekayaannya sebelum, selama, dan setelah menjabat. 3. Melaporkan dan mengumumkan kekayaan sebelum dan setelah menjabat. Pasal 8 undang-undang No: 28 Tahun 1999, yang mengatur sebagai berikut: Pasal 8: (1) Peran serta masyrakat dalam penyelenggaraan. negara merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut mewujudkan penyelenggara negara yang bersih. (2) Hubungan antara penyelenggara negara dan masyarakat dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas umum penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. Pasal 8 ayat (1): Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diwujudkan dalam bentuk: a. Hak mencari, memperoleh, dan. memberikan informasi tentang penyelenggaraan negara. b. Hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara negara. c. Hak menyampaikan suatu saran dan pendapat secara bertanggungjawab terhadap kebijakan penyelenggara negara. d. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dalam hal:. 1. Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam bentuk a, b, dan c. 2. Diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan di sidang ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Pemerintah No; 68 Tahun 1999, tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara Pasal 10. peraturan pemerintah memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat dalam melaksanakan bentuk-bentuk peran serta masyarakat dengan ketentuan melakukan pemberitahuan secara tertulis maupun lisan kepada Polri atau instansi yang berwenang. Fungsi KPKPN diatur dalan pasal 12 ayat (1) undang-undang No: 28 Tahun 1999,. Bahwa KPKPN berfungsi untuk ,encegah praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam penyelenggaraan negara. Tugas dan wewenang KPKPN diatur dalam Pasal 17 Undang-undang No: 28 Tahun 1999: 1. Melakukan pemantauan dan klarifikasi. atas harta kekayaan penyelenggara negara. 2. Meneliti laporan atau pengaduan masyarakat, lembaga, swadaya masyarakat, atau instansi pemerintah tentang dugaan adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme dari para penyelenggara negara. 3. Melakukan penyelidikan atas inisiatif sendiri mengenai harta kekayaan penyelenggara negara berdasarkan petunjuk adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme terhadap penyelenggara negara yang bersangkutan. 4. Mencari dan memperoleh bukti-bukti, menghadirkan saksi-saksi untuk penyelidikan penyelenggara negara yang diduga melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme atau meminta dokumen- dokumen dari pihak-pihak yang terkait dengan penyidikan harta kekayaan penyelenggara negara yang bersangkutan. 5. Jika diangga perlu, selain meminta bukti kepemilikan sebagian atau seluruh harta kekayaan penyelenggara negara yang diduga diperoleh korupsi, kolusi, atau nepotisme selama menjabat sebagai penyelenggara negara, juga meminta pejabat yang berwenang membuktikan dugaan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari undang-undang No: 28Tahun 1999, lahirlah 4 peraturan pemetintah yakni: 1) Peraturan pemerintah No:65 Tahun 1999,. tentang Tata Cara Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara. 2) Peraturan Pemerintahan No: 66 Tahun 1999, tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengangkutan Serta Pemberhentian Anggota Komisi Pemeriksa. 3) Peraturan Pemerintah No: 67 Tahun 1999, tentang Tata Cara Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Tugas dan Wewenang komisi Pemeriksa. 4) Peraturan Pemerintah No: 68 Tahun 1999, tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara. C. Perumusan Tindak Pidana Korupsi. Tindak pidana korupsi dalam bentuk kerugian keuangan negara dirumuskan dalam pasal 2 ayat (1) sebagai berikut:. “setiap orang yang secara melawan ukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”. Dari Pasal 2 ayat (1) UU No: 31 Tahun 1999, tersebut dapat digambarkan adanya unsur tindak pidana korupsi, yakni: 1. Melawan hukum 2. Memperkaya diri sendiri, orang lain atau. suatu korporasi 3. Dapat merugikan keuangan negara atau. perekonomian negara. Melawan Hukum secara materiil dapat dilihat dari penjelasan Pasal 2 ayat (1) tersebut adalah berikut:. “yang dimaksud dengan “secara melawan hukum” dalam Pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namunapabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana”. Istilah “memperkaya” mengandung makna mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya), pengertian istilah “memperkaya” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah menjadikan orang yang belum kaya menjadi kaya, atau orang yang sudah kaya menjadi bertambah kaya. Unsur-unsur tindak pidana korupsi sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 3 adalah sebagai berikut: 1. Menguntungkan diri sendiri atau orang. lain atau suatu korporasi 2. Menyalahgunakan kewenangan,. kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan. 3. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Perbedaan perumusan dalam ketentuan Pasal 3 dengan perumusan dalam Pasal 2 ayat(1), yakni sebagai berikut: 1. Perbedaan pertama dalam Pasal 3 ini. adalah tidak mencantumkan unsur sifat melawan hukum secara eksplisit, unsur sifat melawan hukum dalam Pasal ini lebih bersifat implisit dimana apabila semua unsur dalam Pasal ini dapat di penuhi maka hal tersebut secara otomatis telah membuktikan adanya sifat melawan hukum. 2. Perbedaan kedua dalam perumusan Pasal 3 ini adalah pencantum unsur “menguntungkan”, berbeda dengan perumusan dalam Pasal 2 ayat(1) yang mencantumkan unsur “memperkaya”. Pengertian Korupsi dalam bentuk pemberian hadiah atau gratifikasi dirumuskan dalam Pasal 13 yang menyebutkan:. “setiap orang yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun dan atau denda paling banyak 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah)”. Unsur-unsur korupsi dalam bentuk pemberian hadiah atau gratifikasi yaitu sebagai berikut: 1. Setiap orang 2. Memberi hadiah atau janji 3. Kepada pegawai negeri 4. Dengan mengingan kekuasaan atau. wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukan pegawai negeri yang bersangkutan; atau oleh pemberi hadiah atau janji melekat pada jabatan atau kedudukan pegawai negeri tersebut. D.Peran Serta Masyarakat. Pasal 41 ayat (2) menyatakan bahwa peran serta masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi diwujudkan dalam bentuk: a. Hak mencari, memperoleh dan. memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi. b. Hak untuk memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi. c. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum dalam waktu paing lama 30 hari. d. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum dala hal:. 1. Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a,b, dan c. 2. Diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan di sidang pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi, atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Pasal 42 ayat (1): Pemerintah memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang telah berjasa membantu upaya pencegahan, pemberantasan, atau pengungkapan tindak pidana korupsi. E. Undang-Undang No: 20 Tahun 2001, tentang Perubahan atas Undang- undang No: 31 Tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. beberapa perubahan yang cukup mendasar dalam pemberantasan tindak pidana korupsi dapat dideskripsikan:. 1. Dalam Undang-Undang No: 31 tahun 1999, bentuk korupsi hanya disebutkan kerugian keuangan negara, sedangkan dalam undang-undang ini bentuk-bentuk korupsi selain kerugian keuangan negara adalah sebagai berikut:. a. Tindak pidana korupsi penyuapan, diatur dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2). b. Tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan pembangunan, leveransir dan rekanan. Diatur dalam Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2); tindak pidana korupsi penggelapan, diatur dalam pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 11, pasal 12 huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d. c. Tindak pidana korupsi kerakusan (knevelarij), diatur dalam pasal 12 huruf e, huruf f, huruf g dan huruf i. d. Tindak pidana korupsi tentang Gratifikasi, diatur dalam Pasal 12 b. 2. Pasal 12 huruf b. Ayat (1): Setiap gratifikasi pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:. a. Yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa grtifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi. b. Yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum. Pasal 37 huruf a: a. Terdakwa wajib memberikan keterangan. tentang seuruh harta bendanya dan harta istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan. b. Dalam hak terdakwa tidak dapat membuktikan tentang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya, maka keterangan sebagaimana penambahan kekayaannya, maka keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan pidana korupsi. 3. Penjelasan Pasal 2 ayat (2) dengan “keadaan tertentu” yaitu:. “yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan ini adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi yaitu apa bila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana- dana yang diperuntukka bagi penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi”. 4. Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 188 ayat (2) Undang-undang No: 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh:. a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. b. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna. F. Undang-undang No: 7 Tahun 2006, tentang Pengesahan United Ntion Convention Against Corruption, 2003 (konvensi PBB Anti Korupsi, 2003). Arti penting dari gratifikasi Konvensi tersebut antara lain adalah: 1. Untuk meningkatkan kerja sama. internasional khususnya dalam melacak, membekukan, menyita, dan mengembalikan aset-aset basil tindak pidana korupsi yang ditempatkan di luar negeri. 2. Meningkatkan kerja sama internasional dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik. 3. Meningkatkan kerja sama internasional dalam pelaksanaan perjanjian ekstradisi, bantuan hukum timbal balik, penyerahan narapidana, pengalihan proses pidana, dan kerja sama penegakan hukum. 4. Mendorong terjalinnya kerja sama teknik dan pertukaran informasi dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di bawah payung kerja sama pembangunan ekonomi dan bantuan teknis pada lingkup bilateral, regional, dan multilateral. 5. Harmonisasi peraturan perundang- undangan nasional dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan konvensi ini. G. Tugas KPK Tugas KPK dirumuskan dalam Pasal 6 Undang-undang No: 30 Tahun 2002, yang menentukan Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas: 1. Koordinasi dengan instansi yang. berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. 2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. 3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. 4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. 5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. H. Wewenang KPK Pasal 7 menentukan bahwa dalam melaksanakan tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf (a) Komisi Pemberantasan Korupsi Berwenang: 1) Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan,. dan penuntutan tindak pidana korupsi 2) Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan. pemberantasan tindak pidana korupsi 3) Meminta informasi tentang kegiatan. pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait. 4) Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. 5) Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi. I. Undang-Undang No: 46 Tahun 2009, tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Pengadilan Tipikor). Pasal 5 Undang-Undang No: 46 Tahun 2009, yang berwenang memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara: 1. Tindak pidana korupsi 2. Tindak pidana pencucian uang yang. tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi. 3. Tindak pidana yang secara tegas dalam undang-undanglain ditentukan sebagai tindak pidana korupsi. Undang-undang No: 46 Tahun 2009, jangka waktu penyelesaian pemeriksaan untuk masing-masing tingkat pemeriksaan diatur dalam pasal 29 hingga pasal 32 1. Pasal 29 mengatur perkara tindak pidana. korupsi diperiksa, diadili dan diputus oleh pengadilantindak pidana korupsi tingkat pertama dalam waktu paling lama 120 hari kerja terhitung sejak tanggal perkara dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi (pengadilan tngkat pertama). 2. Pasal 30 menentukan jangka waktu untuk tingkat banding adalh paling lama 60 hari terhitung sejak tanggal perkara diterima ke pengadilan tinggi. 3. Pasal 31 menentukan jangka waktu untuktingkat kasasi adalah paling lama 120 hari terhitung sejak tanggal perkara diterima Mahkamah Agung. 4. Pasal 32 menentukan jangka waktu untuk permintaan peninjauan kembali adalah paling lama 60 hari terhitung sejak tanggal perkara diterima Mahkamah Agung. 50. Dipasritas Putusan Hakim Terhadap Tipikor. (Politik Hukum Pidana) D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH.  Disparitas dalam tindak pidana korupsi yang dimaksud adalah “penerapan pidana (disparity of sentencing) dalam hal ini adalah penerapan pidana yang tidak sama (same offence) atau terhadap tindak pidana yang sifat berbahayanya dapat diperbandingkan tanpa dasar pemberian yang jelas.  Melalui wacana perlu diaturnya ketentuan mengenai “pedoman pimidanaan” yang akan diatur dalam pasal 55 dan 56 Rancangan Kitab Undang-Undang Hakim Pidana Tahun 2012, pengaturan mengenai pedoman pemidanaan tersebut dapat dipandang sebagai sarana untuk mencegah disparatis pemidanaan dan inkonsistensi putusan hakim.  Dalam UU PTPK ketentuan atau rumusan ancaman pidana mati dalam Pasal 2 ayat (2) dijelaskan bahwa Pidana mati hanya dapat dijatuhkan kepada pelaku apabila tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana- dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi. A.Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK a. Pasal 2 ayat (1) menetukan:. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara ata perekonomian negara, dipidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000.00 (satu milyar rupiah). b. Pasal 3 menentukan: Setiap orang dengan tujuan menguntukkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapatmerugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).  Rumusan hukum di bidang hukum pidana dan dituangkan dalam bentuk Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor: 7 Tahun 2012 yang diharapkan menjadi pedoman bagi pengadilan untuk menangani isu hukum dalam kondisi faktual yang berisi ketentuan sebagai berikut: 1. Pasal 2 dan Pasal 3 diperuntukkan untuk. setiap orang baik swasta maupun pegawai negeri. 2. Apabila unsur “memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi” dalam Pasal 2 tidak terbukti, maka dikenakan Pasal 3 dengan ambang batas minimal Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Apabila penuntut umum hanya mendakwa dengan Pasal 3, Hakim mengadili dengan Pasal 3 namun pidana penjara dan dendanya dapat ditinggikan. 3. Apabila penuntut umum menyusun surat dakwaan dengan bentuk subsidiaritas yakni Pasal 2 ayat (1)sebagai dakwaan subsidair, Hakim tidak dapat membaca dakwaan tersebut sebagai dakwaan alternatif. B. Pasal 3 dan Pasal 8 UU Pemberantasan Tipikor a. Pasal 3 menentukan:. setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan dir sendiri ata orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipadana dengan pidana penjara singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). b. Pasal 8 menentukan: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp150. 000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah), pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut. Permasalahan yang dapat ditimbulkan oleh perumusan ktentuan Pasal 3 dan Pasal 8 UU PTPK dapat diilustrasikan sebagai berikut: 1) Seorang bendahara suatu instansi. pemerintahan menggelapkan uang kas internal tersebut sebanyaj Rp 100 juta. 2) Seorang pegawai negeri yang mendapatkan jatah mobil dinas senilai Rp 200 juta melakukan penggelapan dengan cara menjual mobil tersebut seharga Rp 10 juta. C. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 12 huruf a dan b UU PTPK. a. Pasal 5 menentukan: (1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah dan paling banya Rp 250.000.000, 00 (dua ratus setiap) setiap orang. a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelanggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentengan dengan kewajibannya. b. Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya. (2) Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. Pasal 12 menentukan: Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). a. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. b. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. Kekeliruan penafsiran mengenai pengertian suap dapat dilihat dalam dua putusan sebagai berikut: 1. Dalam Putusan Nomor: 367K/PID/2007.. Ir. Munful Hamid menerima suap sebesar Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) dan Rudy Anggono untuk melakukan operasi ke beberapa toko hewan (petshop) berkaitan dengan dugaan penyelundupan kura-kura ilegal, diadilinya dengan menggunakan Pasal 5 ayat (2) jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a UU PTPK dan di hukum dengan pidana penjara selama 1 tahun. 2. Akan tetapi Roy Yuliandri yang menerima suap sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)dari PT.Bank Jabar (melalui Dedy Suwardi atau Eddi Setiadi) untuk melakukan koreksi/penurunan kewajiban pembayaran pajak terhadap semua Tim Pemeriksaan Pajak mengenai jumlah pajak kurang bayar untuk Tahun Pajak 2001, diadili dengan menggunakan pasal 2 huruf a UU PTPK dan dihukum dengan pidana penjara selama 5 tahun 6 bulan dan pidana denda sebesar Rp200 juta subsider 2 bulan kurungan. Kasus ini terdapat dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor: 112K/PID/2001.. Tugas hakim secara normatif diatur dalam UU No: 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu: 1. Mengadili menurut hukum dengan tidak. membeda-bedakan orang (Pasal 5 ayat (1)). 2. Membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan (Pasal 5 ayat (2)). 3. Tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya (Pasal 16 ayat (1)). 4. Memberi keterangan, pertimbangan, dan nasihat masalah hukum kepada lembaga negara dan lembaga pemerintahan apabila diminta (Pasal 27 ayat (1)). 5. Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1)). 6. Dalam pertimbangan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa (Pasal 28 ayat (2)). 68. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Politik Hukum Pidana) D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH.  Korupsi merupakan suatu perbuatan dilarang oleh hukum pidana, atau merupakan suatu delik dalam hukum pidana, dengan demikian melakukan perbuatan korupsi dapat dikategorikan melakukan perbuatan krimnal.  Politik kriminal (criminal policy) merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas yakni kebijkan sosial (social policy) yang terdiri dari kebjikan kesejahteraan sosial (social welfare policy) dan kebijakan perlindungan masyarakat (social difence policy). Politik kriminal yang merupakan bagian yng tidak terpisahkan dari politik sosial menimbulkan dua konsekuensi logis terhadap pelaksanaan upaya penal dan upaya non penal, konsekuensi logis tersebut terkait dengan integralitas pelaksanaan politik kriminal terhadap politik sosial. Menurut Barda Nawawi Arief, dua konsekuensi logis tersebut adalah, yaitu: 1. Penggunaan sarana penal dan sarana non. penal harus menunjang goal yakni kesejahteraan sosial dan perlindungan sosial. 2. Penggunaan sarana penal dan sarana non penal harus dilakukan dengan pendekatan integral yang menunjukkan keseimbangan. Upaya penal merupakan upaya penanggulangan terhadap kejahatan yang mempergunakan sarana pidana, agar dapat dioperasionalkan dengan baik maka upaya tersebut dilakukan melalui tahapan berikutnya:  Penetapan kebijakan perundang-undangan. (dapat juga disebut kebijakan legislasi) yang didalamnya berisikan penetapan kebijakan mengenai: a. Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan. tindak pidana (kebijakan kriminalisasi) b. Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau. dikenakan kepada si pelanggar (kebijakan penalisasi atau kebijakan pemidanaan). Penerapan tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tahapan pertama penerapan Undang-. Undang Nomor: 28 Tahun 1999: a) Kolusi yang dilakukan oleh. penyelenggara negara atau anggota komisi pemeriksa dalam Pasal 21 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah). b) Nepotisme yang dilakukan oleh penyelenggara negara atau anggota komisi pemeriksa dalam Pasal 22 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp200.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 2. Tahapan kedua penerapan Undang-undang Nomor: 31 Tahun 1999 juncto Undang- Undang Nomor: 20 Tahun 2001. a) Korupsi jenis kerugian keuangan negara karena memperkaya diri dalam Pasal 2 di pidana dengan pidanapenjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun dan denda minimal Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan denda maksimal Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), dalam hal tertentu, dipidana dengan pidana mati. Kemudian korupsi jenis kerugian keuangan negara karena menyalahgunakan kewenangan dalam Pasal 3 dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahhun dan atau denda palig sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). b) Korupsi jenis suap kepada pegawai negeri atau penyelenggaraan negara dalam pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan ata pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Kemudian korupsi jenis suap kepada kepada hakim atau advocat dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). c) Korupsi jenis tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan pembangunan, leveransi, dan rekanan atau perbuatan curang dalam Pasal 7 dipidana dengan penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 7 tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp100.000.000,oo (seratus juta rupiah) dam paling banyak Rp350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu juta rupiah). d) Korupsi jenis penggelapan dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 belas tahun dan pidana denda paling sedikit Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta) dan paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). f) Korupsi jenis kerakusan dalam Pasal 12 huruf e, f, g, h, dan i dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). g) Korupsi jenis gratifikasi dalam Pasal 12 B dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kesalahan menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief mengakibatkan tidak terkendalinya perkembangan kriminalitas yang semakin meningkat karena kesalahan inilah yang menjadi faktor timnul dan berkembangnya kriminalitas 1. Penerapan pidana oleh badan pengadilan. (disebut juga kebijakan yudikasi). Penerapan kebijakan ini dilakukan melalui Undang-Undang Nomor: 46 Tahun 2009, tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi termasuk yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia di luar wilayah negara Republik indonesia. 2. Pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana pidana (disebut juga kebijakan eksekusi). Penerapannya dilakukan oleh lembaga Pemasyarakatan dan Balai Pemasyarakatan dengan didasarkan pada Undang-Undang Nomor: 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. 80. Keputusan Pengadilan Dalam Perkara Tipikor Mengandung. Disparitas D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. A. Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi 1. Pertimbangan Majelis Hakim. Menimbang, bahwa terdakwa diajukan dipersidangan dengan dakwaan sebagai berikut: Pertama: diatur dan diancam pidana dalam Pasal 5 ayat (2) jo. Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang- Undang Nomor: 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor: 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor: 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Kedua: Diatur dan diancam pidana dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor: 31 tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 20 tahun 2001, tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor: 31 tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat ke-1 KUHPidana. Pasal 55 ayat (1) ke-1 yang unsur-unsurnya sebagai berikut: 1. Pegawai Negeri atau Penyelenggara. Negara 2. Menerima hadiah atau janji 3. Diketahui atau patut diduga. B. Unsur Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana  Menimbang bahwa dari rangkaian-rangkaian. pertimbangan hukum sebagaimana yang telah diuraikan dalam kaitannya satu sama lain, maka Majelis Hakim berpendapat Terdakwa telah terbukti menurut hukum melakukan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan kedua.  Menimbang bahwa Terdakwa dan Tim Penasehat Hukum Terdakwa sebagaimana yang telah diuraikan dalam kaitannya satu sama lain, maka Majelis Hakim berpendapat Terdakwa telah terbukti menurut hukum melakukan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan kedua.  Menimbang, bahwa Terdakwa dan Tim Penasehat hukum Terdakwa dalam pembelaannya pada pokoknya mohon kepada Majelis Hakim agar Terdakwa dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Dakwaannya dan membebaskan Terdakwa dari segala Dakwaan dan Tuntutan Hakim.  Menimbang, bahwa oleh karena Majelis Hakim tidak sependapat dengan Nota Pembelaan Terdakwa dan Penasihat Hukumnya, maka Pembelaan Terdakwa maupun Penasihat Hukumnya haruslah dikesampingkan. C. Pertimbangan Majelis Hakim Adapun unsur-unsur dari Pasal 11 Undang- Undang Nomor: 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2001, adalah sebagai berikut: a. Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara. Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) menjelaskan pengertian Pegawai Negeri sebagai berikut:. 1) Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tentang Kepegawaian. 2) Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 3) Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah. 4) Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah. 5) Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat. Kemudian pada pasal 2 Undang-Undang Nomor: 28 Tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, menyebutkan bahwa penyelenggara Negara meliputi: 1. Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi. Negara 2. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara 3. Menteri 4. Gubernur 5. Hakim 6. Pejabat negara yang lain sesuai dengan. ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku. 7. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku. D. Menerima Hadiah atau Janji Berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 77K/KR.?1973, tanggal 19 November 1974, yang menegaskan bahwa “tidaklah perlu bahwa pemberian atau janji yang bersangkutan harus diterima secara langsung oleh pelaku sebagai seorang Pegawai Negeri, melainkan juga dapat dilakukan oleh isteri pelaku atau anak-anak pelaku. E. Analisis Terjadinya Disparitas Terhadap Putusan Hakim. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor: 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor:20 Tahun 2001, yang didakwakan dalam dakwaan pertama rumusannya berbunyi:. “Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”. Sedangkan Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor: 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2001 rumusannya berbunyi:. “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah), setiap orang yang memberi sesuatu kepada pegawai negara atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya”.  Dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor: 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 20 tahun 2001 yang didakwakan kedua, rumusannya berbunyi: “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana paling sedikit Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah), pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan dan kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberi hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. 93. Pengaruh Judical Diskresi D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. Faktor-faktor yang mempengaruhi judicial diskresi hakim dalam perkara tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut: 1. Faktor eksternal yang membuat hakim. bebas menjatuhkan pidana bersumber pada undang-undang. ketentuan pasal 24 ayat (1) UUD 1945 memberikan landasan hukum bagi kekuasaan hakim dimana kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. 2. Faktor Internal yang Bersumber dari Hakim Hasil temun penelitian yang dilakukan Komisi Yudisial tersebut meliputi kriteria penilaian sebagai berikut:. 1) Hakim dalam memutuskan perkara tidak kreatif dan tidak berimprovasi. 2) Kekuatan interprestasi hakim tidak memadai. 3) Pola logika formal hakim sangat mendomis-asi putusan. 4) Hakim salah menerapkan hukum. 5) Putusan hakim hanya memenuhi aspek legal belaka. 6) Hakim berfikir sangat linier. Mornatif dan tidak progresif, sehingga salah menafsirkan unusur-unsur pidana. 7) Hakim menderita kekalahan intelektual sehingga tidak msmpu membuat putusan yang cerdas dan tidak berani menembus ide-ide baru. 8) Putusan hakim singkat kaku dan terperangkap pada struktur yang sudah baku. 9) Putusan hakim hanya mengopi putusan sebelumnya. 10) Hakim tidak mau belajar membuat analisis hukum yang cerdas dan tajam. 11) Hakim tidak kreatif dalam menemukan konstruksi hukum. 12) Putusan hakim melukai rasa keadilan masyarakat. 13) Putusan hakim mencerminkan keadilan formal 14) Putusan hakim dalam perkara korupsi,. hukumannya terlalu ringan 15) Ratio decidendi hakim dalam putusan lemah,. sehingga termasuk bad law 16) Hakim hanya berperan seperti moderator 17) Hakim hanya berperan corong undang-undang 18) Haki tidak menyelesaikan sengketa justru. menciptakan sengketa baru 19) Hakim kurang memerhatikan kepentingan. umum 20) Pertimbangan hakim sangat kering. Undang-undang Nomor: 20 Tahun 2001 Pasal 2 ayat (1) menentukan:. “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan panjang seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”. Selanjutnya Pasal 3 menentukan: “setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”. Menurut Barda Nawawi Arief, makna atau pengertian sifat melawan hukum formal dan sifatnya melawan hukum material sebagai berikut: 1. Sifat melawan hukum formal identik dengan. melawan atau bertentangan dengan UU atau kepentingan hukum (perbuatan atau akibat) yang disebut dalam undang-undang tertuls (hukum diartikan sama dengan UU). 2. Sifat melawan hukum materil identik dengan melawan/bertentangan dengan asas-asas kepatutan atau nilai-nilai dan norma kehidupan sosial dalam masyarakat (termasuk tata susila dan hukum kebiasaan/adat). 101. Dampak Negatif Disparitas Putusan Hakim. D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. Menurut Harkristuti Harkrisnowo disparitas pidana dapat terjadi dalam beberapa kategori, yaitu: 1. Disparitas antara tindak pidana yang sama 2. Disparitas antara tindak pidana yang. mempunyai tingkat keseriusan yang sama 3. Disparitas pidana yang dijatuhkan oleh satu. majelis hakim 4. Disparitas antara pidana yang dijatuhkan oleh. majelis hakim yang berbeda untuk tindak pidana yang sama. Pengertian “pidana” dari para sarjana sebagaimana dikutip oleh Muladi dan Barda Nawawi: 1. Menurut Prof. Sudarto, yang dimaksud. dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. 2. Menurut Prof. Ruslan Saleh, Pidana adalah reaksi delik dan ini berujud suatu nestapa yang sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik itu. 3. Menurut Fitzgerald, pidana adalah penderitaan yang dijatuhkan oleh pemerintah terhadap suatu pelanggaran atau kesalahan. Berdasarkan pengertian dan ruang lingkup pidana tersebut di atas, Muladi menyimpulkan bahwa pidana selalu mengundang unsur-unsur sebagai berikut: 1. Pidana pada hakekatnya merupakan suatu. pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat lain yang tidak menyenangkan. 2. Pidana diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang menyampai kekuasaan (oleh yang berwenang). 3. Pidana dikenakan pada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. Adapun penggolongan subyek hukum tindak pidana korupsi menurut Pasal 1 Ayat (3) undang-undang korupsi, meliputi: setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi. Subyek hukum disini adalah orang yang dibebani hak dan kewajiban hukum. Untuk sanksi pidana minimum diatur dalam Pasal 12 ayat (2) KUHP yang menentukan: “Pidana penjara selama waktu tertentu paling pendek adalah satu hari dan paling lama lima belas tahun berturut-turut. Dan juga dalam Pasal 12 ayat (4) KUHP menentukan: “Pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh dari dua puluh tahun”. Dikenai juga sanksi pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam Pasal 12 Ayat (3) KUHP sebagai berikut: “Pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dau puluh tahun berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidananya hakim boleh memilih antara pidana mati, pidana seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu atau antara pidana penjara selama waktu tertentu; boleh juga hal batas lima belas tahun dapat dilampaui karena berbarengan (concursus) dan pengulangan (residivis)”. Dalam Ketentuan hukum pidana dikenal hukum pidana umum dan hukum pidana khusus, pengertian hukum pidana umum dan hukum pidana khusus, yaitu: a. Hukum pidana umum adalah ketentuan. hukum pidana yang berlaku secara umum bagi semua orang. b. Hukum pidana khusus adalah karena peraturannya yang secara khusus yang ada kalanya bertitik berat kepada kekhususan suatu golongan tertentu (militer dan yang dipersamakan) atau suatu tindak pidana tertentu seperti pemberantasan tindak pidana ekonomi, korupsi, dan lain sebagainya. Tugas hakim secara normatif diatur dalam Undang-Undang Nomor: 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yaitu: 1) Mengadili menurut hukum dengan tidak. membeda-bedakan orang (Pasal 5 ayat (1)). 2) Membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan (Pasal 5 ayat (2)). 3) Tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya (Pasal 16 ayat (1)). 4) Memberikan keterangan, pertimbnagan, dan nasihat masalah hukum kepada lembaga negara dan lembaga pemerintahan apabila diminta (Pasal 27 ayat (1)). 5) Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat (Pasal 28 ayat (1)). 6) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana. Hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa (Pasal 28 ayat (1)). Disamping tugas hakim secara normatif, hakim juga mempunyai tugas secara konkrit dalam memeriksa dan mengadili suara perkara melalui tindakan secara bertahap yaitu: 1. Mengkonstatir yaitu menetapkan atau. merumuskan konkrit 2. Mengkualifisir yaitu menetapkan atau. merumuskan peristiwa hukumnya 3. Mengkonstituir atau memberikan. konstitusinya, yaitu hakim menetapkan hukumnya dan memberi keadilan kepada para pihak yang bersangkutan. Menurut undang-undang tentang kekuasaan kehakiman Nomor 4 Tahun 2004 Pasal 28 disebutkan: 1) Hakim wajib menggali, mengikuti dan. memehami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 2) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memerhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. Dampak negative dari disparitas pidana, menurut Edward M. Kennedy, sebagaimana juga dikutip Barda Nawawi yaitu: 1. Dapar memelihara tumbuhnya atau. berkembangnya perasaan sinis masyarakat terhadap sistem pidana yang ada. 2. Gagal mencegah terjadinya tindak pidana 3. Mendorong terjadinya tindak pidana 4. Merintangi tindakan-tindakan perbaikan. terhadap para pelanggar. 113. Minimalisasi Disparitas Putusan Hakim. D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kasus korupsi di Indonesia yaitu antara lain: 1. Meluasnya praktek korupsi adalah karena. mengabaikan adanya konflik kepentingan 2. Konsentrasi kekuasaan dan tidak efektifnya. control 3. Pengambilan keputusan yang ternyata tidak. hanya dilakukan oleh pejabat yang berwenang 4. Kebutuhan partai-partai politik untuk. mendanai pemilu. Bertolak dari konsep pemikiran dan kebijakan yang bersifat integral, ada 2 (dua) hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sanksi pidana, yaitu: 1. Perlu ada pendekatan integral antara. kebijaksanaan penal dan non penal 2. Perlu pendekatan kebijakan dan. pendekatan nilai dalam penggunaan sanksi khususnya sanksi pidana. Menurut Harkrisnowo disparitas pidana dapat terjadi dalam beberapa kategori, yaitu: 1. Disparitas antara tindak pidana yang. sama 2. Disparitas antara tindak pidana yang. mempunyai tingkat keseriusan yang sama 3. Disparitas pidana yang dijatuhkan oleh. satu majelis hakim 4. Disparitas antara pidana yang dijatuhkan. oleh majelis hakim yang berbeda, untuk tindak pidana yang sama. Adapun sebab-sebab terjadinya disparitas pemindanaan yaitu antara lain oleh: 1. Falsafah pemidanaan yang dianut dalam. rumusan peraturan pidana, mauoun yang diyakini oleh hakim itu sendiri. 2. Tiadanya pedoman pemidanaan yang jelas dalam peraturan pidana. 3. Tiadanya patokan pidana yang jelas dalam peraturan pidana. 4. Faktor yang bersumber dari hakim, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Politik Hukum pidana dalam meminimalisasi terjadinya disparitas pemidanaan dalam putusan hakim pada perkara Tindak Pidana Korupsi dapat ditempuh melalui: Pertama:. Formulasi hukum pidana dalam merumuskan peraturan pidana untuk meminimalisasi disparitas pemidanaan putusan hakim dalam perkara tindak pidana korupsi. Kedua: Formulasi hukum pidana dalam merumuskan falsafah pemidanaan dalam peraturan pidana terdapat beberapa bentuk atau macam falsafah atau tujuan pemidanaan yaitu berupa pembalasan (aliran klasik) dan berupa pembinaan dan perbaikan terpidana menurut aliran modern. Teori-teori tentang tujuan pemidanaan menjadi 3 kelompok, menurut Muladi: a) Teori Absolut. Teori absolut memandang bahwa pemidanaan merupakan pemabalasan atas kesalahan yang telah dilakukan sehingga berorientasi pada perbuatan dan terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri. b) Teori Teleologis Teori teleologis memandang bahwa pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku tetapi sarana mencapai tujuan yang bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat. Mengenai masalah pemidanaan, dapat dijumpai dalam Pasal 54 RUU KUHP tahun 2012 yang menentukan pemidanaan dengan tujuan sebagaimana berikut 1. Mencegah dilakukannya tindak pidana. dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. 2. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. 3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. 4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana 5. Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk. menderitakan dan merendahkan martabat manusia. Dalam rangka usaha untuk mengurangi disparitas pidana, telah diatur dalam Pasal 55 dan Pasal 56, sebagai berikut:. Pasal 55 1. Dalam pemindanaan wajib. dipertimbangkan: (a) Kesalahan si pembuat pidana (b) Motif dan tujuan melakukan tindak pidana (c) Sikap batin pembuat pidana (d) Tindak pidana yang dilakukan. direncanakan atau tidak direncanakan (e) Cara melakukan tindak pidana (f) Sikap dan tindakan pembuat sesudah. melakukan tindak pidana. (g) Riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pembuat pidana. (h) Pengaruh tindak pidana terhadap masa depan pembuat pidana. (i) Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. (j) Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya (k) Pandangan masyarakat terhadap tindak. pidana yang dilakukan (l) Ringannya perbuatan, keadaan pribadi. pembuat atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian, dapat dijadikan pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi kemanusiaan dan keadilan. Pasal 56 “Seseorang yang melakukan tindak pidana tidak dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana berdasarkan alasan peniadaan pidana, jika orang tersebut telah dengan sengaja menyebabkan terjadinya keadaan yang dapat menjadi alasan peniadaan pidana tersebut”. Ide atau pokok pemikiran “individualisasi pidana” ini antara lain terlihat dalam aturan umum RUU tersebut sebagai berikut: 1. Seperti telah dikemukakan di atas, RUU. telah menegaskan di dalam Pasal 37 bahwa “tiada pidana tanpa kesalahan” merupakan asas yang sangat fundamental. 2. Dalam ketentuan alasan penghapus pidana, khususnya alasan pemaaf, dimasukkan masalah “error”, daya paksa, pembelaan terpaksa yang melampaui batas, tidak mampu bertanggungjawab dan masalah anak dibawah 12 tahun. 3. Di dalam “pedoman pemidanaan” (Pasal 52) hakim diwajibkan mempertimbangkan beberapa faktor antara lain: motif, sikap batin dan kesalahan si pembuat, era si pembuat melakukan tindak pidana, riwayat hidup dan keadaan sosial ekonominya serta bagaimana pengaruh pidana terhadap masa depan si pembuat. 4. Di dalam pedoman “pemberian maaf/pengampunan” oleh hakim (lihat kutipan Pasal 52 ayat (2) di atas), antara lain juga dipertimbangkan faktor keadaan pribadi si pembuat dan pertimbangan kemanusiaan. 5. Didalam ketentuan mengenai “peringanan dan pemberatan pidana” (Pasal 132,123,133, dan 134) dipertimbangkan beberapa faktor, antara lain:. 1) Apakah ada kesukarelaan terdakwa menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. 2) Apakah ada kesukarelaan terdakwa memberi ganti rugi atau memperbaiki kerusakan yang timbul. 3) Apakah ada kegoncangan jiwa yang sangat hebat. 4) Apakah si pelaku adalah wanita hamil muda. 5) Apakah ada kekurangmampuan bertanggung jawab. 6) Apakah sipelaku adalah pegawai negeri yang melanggar kewajiban jabatannya/menyalahgunakan kekuasaannya. 7) Apakah ia menyalahgunakan keahlian/profesinya. 8) Apakah ia seorang residivis. 127. Faktor Disparitas Pemidanaan D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. A. Falsafah Pemidanaan  Bagi hakim yang konservatif (klasik) dengan. falsafah pemidanaan menganggap hukum pidana sebagai “pembalasan atau denda masyarakat atau pemberian nestapa”, maka akan cenderung memberi hukuman berat kepada terdakwa.  Sebaliknya bagi hakim yang progresif (modern) dengan falsafah pemidanaan menganggap hukum pidana sebagai “pembinaan atau perlindungan”, maka akan cenderung memberikan hukuman ringan kepada terdakwa”. B. Pedoman Pemidanaan  Sudarto mengatakan bahwa pedoman. pemberian pidana akan memudahkan hakim dalam menetapkan pemidanaannya, setelah terbukti bahwa terdakwa telah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya.  Pedoman pemberian pidana itu memuat hal-hal yang berkaitan dengan sipelaku tindak pidana sehinga dengan memperhatikan hal-hal tersebut penjatuhan pidana lebih proposional dan lebih dipahami mengapa pidananya seperti hasil putusan yang dijatuhkan oleh hakim. C. Patokan Pemidanaan 1. Pengaturan Perumusan Tindak Pidana. Korupis dan Perumusan Ancaman Pidana Rumusan delik dan ancaman pidana yang secara eksternal berpotensi menimbulkan disparitas pemidanaan antara lain dapat dilihat dalam ketentuan:. 1) Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK (Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), dalam pasal 2 dengan inti deliknya berupa “secara melawan hukum” dan pasal 3 yang inti deliknya berupa penyalahgunaan wewenang” sering ditafsirkan tidak tepat oleh hakim, dan dalam hubungan kedua pasal ini seringkali hakim membuat korelasi tidak tepat. 2) Pasal 3 (penyalahgunaan wewenang) dan Pasal 8 (penggelapan uang negara) UU Pemberantasan Tindak pidana korupsi. 3) Pasal 5 ayat (2) dam Pasal 12 huruf a dan b UU PTPK, yang sama-sama mengatur ketentuan mengenai tindak pidana suap, dimana batas maksimum dan minimum hukuman penjara serta besar dan kecilnya hukuman denda yang diancaman dalam kedua pasal tersebut sangat berbeda. 2. Faktor Internal Yang Bersumber Dari Diri Hakim Sendiri Menyangkut faktor yang bersumber pada diri hakim terutama yang menyangkut profesionalitas dan integritas untuk menaruh perhatian terhadap perkara yang ditangani dengan mengingat tujuan pemidanaan yang hendak dicapai, maka terhadap perbuatan pidana yang sama pun akan dijatuhkan pidana yang berbeda-beda. Baik dari faktor internal maupun faktor eksternal, maka untuk meminimalisasi terjadinya disparitas tersebut, perlu dirumuskan dalam politik hukum pidana berupa: 1. Peraturan perundang-undangan pidana. yang berisi ketentuan antara lain mengenai pola pemidanaan, pedoman pemidanaan, patokan pemidanaan. 2. Peraturan perundang-undangan pidana yang berisi ketentuan rumusan delik korupsi yang tidak multi tafsir. 3. Peraturan perundang-undangan pidana yang berisi ketentuan rumusan ancaman pidana yang serasi dengan tindak pidana yang dilakukan. 4. Peraturan perundang-undangan pidana yang berisi ketentuan rentang antara ancaman minimum dan maksimum yang tidak terlalu longgar. 5. Peruturan perundang-undangan pidana yang berisi ketentuan mengenai kode etik yang ketat. 6. Peraturan Mahkamah Agung mengenai kemudahan akses informasi publik dalam mempublikasikan putusan hakim. 7. Peraturan Mahkamah Agung mengenai penyusunan data based yang lengkap dan valid mengenai putusan pengadilan, sebagai sarana standarisasi kualitas putusan pengadilan. Akibat dari disparitas pidana yang menyolok ini, menurut Edward M. Kennedy, sebagaimana juga dikutip Barda Nawawi ialah: 1. Dapat memelihara tumbuhnya atau. berkembangnya perasaan sinis masyarakat terhadap sistem pidana yang ada. 2. Gagal mencegah terjadinya tindak pidana 3. Mendorong terjadinya tindak pidana 4. Merintangi tindakan-tindakan perbaikan. terhadap para pelanggar. 136. Pedoman Pemidanaan Dan Sistem Pemidanaan. D I S U S U N. Dr. Rizkan Zulyadi Amri, SH, MH. A. Pedoman Pemidanaan “Pedoman pemidanan adalah acuan/pola bagi pembuat undang-undang dalam membuat /menyusun peraturan perundang-undangan yang mengandung sanksi pidana”. Secara kualitatif, menurut doktrin Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana, delik-delik tertentu yang dapat ditentukan pidana minimum khususnya adalah yang berkarakter berikut: 1. Delik-delik yang dipandang sangat. merugikan dan membahayakan atau meresahkan masyarakat. 2. Delik-delik yang dikualifisir atau diperberat oleh akibatnya (erflogsqualifizierter delikte). Penegakan hukum pidana, secara fungsional akan melibatkan minimal 3 (tiga) faktor yang saling terkait, yaitu: 1) Faktor perundang-undangan 2) Faktor aparat/badan penegak hukum 3) Faktor kesadaran hukum. Secara umum dapat dikatakan, bahwa dilihat dari sumbernya, maka faktor penyebab disparitas pidana selain berasal dari hakim (yang menjatuhkan putusan pidana), juga utamanya berasal dari kelemahan hukum positif (peraturan perundang-undangan), yang dilatar belakangi oleh faktor-faktor: 1. Adanya fakta disparitas pidana yang. sangat mencolok untuk delik-delik yang secara hakiki tidak berbeda kualitasnya. 2. Adanya keinginan untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang menghendaki adanya standar minimal objektif untuk delik-delik tertentu yang sangat dicela dan merugikan/membahayakan masyarakat/ negara. 3. Demi untuk lebih mengefektifkan pengaruh prevensi umum (general prevention) terhadap delik-delik tertentu yang dipandang membahayakan dan meresahkan masyarakat, maka lembaga pembuat undang-undang kemudian menentukan, bahwa untuk delik-delik tertentu tersebut, disamping ada pidana maksimum khususnya, juga sekaligus ditentukan pidana minimum khususnya. B. Sistem Pidanaan Minimum Khusus Dari formulasi sistem pemidanaan yang diatur dalam undang-undang, utamanya yang menyangkut rumusan pidana minimum khusus, maka tampak hal-hal berikut: 1) Tidak ada keseragaman ukuran kuantitatif. tentang kapan atau pada maksimum pidana(penjara, kurungan dan denda) berapa dapat mulai di cantumkan minimum khususnya. 2) Tidak ada keseragaman rentang-kisaran untuk pidana penjara minimum, pidana kurungan minimum khusus dan pidana denda minimum. 3) Tidak ada kesebandingan/kesetaraan rasio antara maksimum khusus dengan minimum khususnya, baik untuk pidana penjara, pidana kurungan maupun pidana denda. 4) Beragamnya rumusan strafmaat dalam undang-undang yang mencantumkan pidana minimum khusus, adalah bersumber pada belum adanya ‘pola pemidanaan’ yang dapat dipedomani oleh pemegang kebijakan legislasi. Dalam rangka usaha untuk mengurangi disparitas pidana, pedoman pemberian pidana itu diperinci sebagai berikut: dalam pemidanaan hakim mempertimbangkan: 1. Kesalahan pembuat 2. Motif dan tujuan tindak pidana 3. Cara melakukan tindak pidana 4. Sikap batin pembuat 5. Riwayat hidup dan keadaan social ekonomi. pembuat 6. Sikap dan tindakan pembuat sesudah. melakukan tindak pidana 7. Pengaruh pidana terhadap masa depan. pembuat 8. Pandangan masyarakat terhadap tindak. pidana yang dilakukan. Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5 Slide 6 Slide 7 Slide 8 Slide 9 Slide 10 Slide 11 Slide 12 Slide 13 Slide 14 Slide 15 Slide 16 Slide 17 Slide 18 Slide 19 Slide 20 Slide 21 Slide 22 Slide 23 C. Perumusan Tindak Pidana Korupsi Slide 25 Slide 26 Slide 27 Slide 28 Slide 29 Slide 30 Slide 31 D. Peran Serta Masyarakat Slide 33 Slide 34 Slide 35 Slide 36 Slide 37 Slide 38 Slide 39 Slide 40 Slide 41 Slide 42 Slide 43 Slide 44 G. Tugas KPK H. Wewenang KPK Slide 47 Slide 48 Slide 49 Slide 50 Slide 51 Slide 52 A. Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK Slide 54 Slide 55 Slide 56 B. Pasal 3 dan Pasal 8 UU Pemberantasan Tipikor Slide 58 Slide 59 C. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 12 huruf a dan b UU PTPK Slide 61 Slide 62 Slide 63 Slide 64 Slide 65 Slide 66 Slide 67 Slide 68 Slide 69 Slide 70 Slide 71 Slide 72 Slide 73 Slide 74 Slide 75 Slide 76 Slide 77 Slide 78 Slide 79 Slide 80 A. Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Slide 82 Slide 83 B. Unsur Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana Slide 85 C. Pertimbangan Majelis Hakim Slide 87 Slide 88 D. Menerima Hadiah atau Janji E. Analisis Terjadinya Disparitas Terhadap Putusan Hakim Slide 91 Slide 92 Slide 93 Slide 94 Slide 95 Slide 96 Slide 97 Slide 98 Slide 99 Slide 100 Slide 101 Slide 102 Slide 103 Slide 104 Slide 105 Slide 106 Slide 107 Slide 108 Slide 109 Slide 110 Slide 111 Slide 112 Slide 113 Slide 114 Slide 115 Slide 116 Slide 117 Slide 118 Slide 119 Slide 120 Slide 121 Slide 122 Slide 123 Slide 124 Slide 125 Slide 126 Slide 127 A. Falsafah Pemidanaan B. Pedoman Pemidanaan C. Patokan Pemidanaan Slide 131 Slide 132 Slide 133 Slide 134 Slide 135 Slide 136 A. Pedoman Pemidanaan Slide 138 Slide 139 Slide 140 Slide 141 B. Sistem Pidanaan Minimum Khusus Slide 143 Slide 144.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pasal 12 B ayat 1 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatakan bahwa setiap