SELF DISCLOSURE DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PADA REMAJA PUTRI DUSUN SELOREJO DESA TEMUREJO
BANYUWANGI
SKRIPSI
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah
Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam
Oleh:
MUTMAINNATUN CHOIRUN NISA NIM: D20173014
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS DAKWAH
JANUARI 2022
SKRIPSI
Diajukan kepadaUniversitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah
Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam
Oleh:
Mutmainnatun Choirun Nisa NIM. D20173014
Disetujui Pembimbing
Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag., M.Med.Kom NIP.197207152006042001
ucapkanlahperkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]:70).1
1Al-Qur’an dan Terjemahan Kementrian Agama RI, Jakarta: Dharma Art-Jakarta, 2015
v
PERSEMBAHAN
Dengan segala kerendahan hati, kupersembahkan karya kecil ini kepada orang-orang yang telah memberi arti dalam perjalanan sejarah hidupku. Sebentuk ungkapan kasih yang tulus kupersembahkan untuk yang tercinta:
1. Kedua orang tuaku Ibu Maswatih dan Bapak Zaini, Almarhum Engkong H.
Muchtar, Almarhumah Nyai Zahroh, dan adikku tersayang Khofiyatul Jannah dan Muhammad Sulton Ilzam Farobi. Tiada kata yang bisa dirangkai untuk menjelaskan betapa besar kasih sayang, perjuangan, dan pengorbanan yang telah diberikan. Kuucapkan terima kasih, semoga senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT.
2. Keluarga besar Ibu dan Bapak yang senantiasa memberikan dukungan, semangat, senyum, dando’anyauntuk keberhasilan ini. Terimakasih.
3. Guru-guruku MI NURUL HUDA, MTs NURUL HUDA, MAN 21 JAKARTA UTARA, Majelis AL-MUAFAH sampai PerguruanTinggi yang telah memberikan ilmu serta pengalamannya.
4. Sahabatku Putri Zahra, yang selalu memberikan semangat serta do’anya.
Kuucapkan terima kasih.
5. Tidak lupa juga kuucapkan terima kasih kepada Linda Ani Fatimah dan Keluarga yang telah memberikan tempat tinggal sementara selama penelitian.
6. Teman-teman mahasiswa BKI, terutama angkatan2017, dan khususnya kelas BK1, yang selalu menemani proses belajar dari awal hingga akhir. Aku sayang kalian, and so proud of you.
7. Keluarga Besar Asrama Putri Nusantara, yang selalu menghibur dan memberi semangat.
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Self Disclosure di Media Sosial Instagram Pada Remaja Putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi”.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, Keluarga, para Sahabat dan seluruh umatnya karena telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang ilmiah dengan ajaran Dinul Islam.
Dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari pihak-pihak yang turut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya, penulis ucapkan terima kasih yang tiada batas kepadanya:
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan fasilitas yang memadai selama kami menuntut ilmu.
2. Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah membimbing kami dalam proses perkuliahan.
3. Muhammad Muhib Alwi, M.A. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam yang telah memberikan arahan dalam program perkuliahan yang kami tempuh.
vii
4. Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag., M.Med.Kom. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi saya dengan sangat baik hingga selesai.
5. Seluruh Dosen beserta karyawan baik di lingkungan Fakultas Dakwah maupun di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah membantu dan memberikan arahan dan motivasi.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.
Akhirnya, semoga amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah SWT.
Jember, 10 Desember 2021
Penulis
Kata Kunci: Self Disclosure, Instagram, Remaja
Self Disclosure atau pengungkapan diri merupakan pemberian informasi tentang diri sendiri yang biasanya dirahasiakan kemudian diberitahukan kepada orang lain. Dengan perkembangan zaman yang semakin canggih self disclosure tidak hanya dilakukan secara tatap muka namun dapat juga dilakukan melalui instagram. Instagram menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat terutama remaja putri. Pengguna instagram dimanfaatkan oleh remaja untuk mencari informasi dan mengungkapkan siapa dirinya. Maka dari itu instagram mempunyai peran bagi setiap remaja yang menggunakannya untuk melakukan self disclosure.
Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana cara remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam memanfaatkan instagram sebagai media self disclosure? 2) Apa manfaat yang didapatkan remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam menggunakan instagram sebagai media self disclosure?
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui cara remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam memanfaatkan instagram sebagai media self disclosure. 2) Untuk mengetahui manfaat yang didapatkan remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam menggunakan instagram sebagai media self disclosure.
Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi non-partisipan, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan 1) Cara remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam memanfaatkan instagram sebagai media self disclosure berdasarkan dimensi self disclosure dari jumlah unggahan self disclosure di instagram pada remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi ialah 2-3 unggahan dalam sehari, mencapai lebih dari itu saat memiliki kondisi tertentu seperti bertemu dengan teman, merasa bosan saat di rumah, meminta pendapat dari followers.Valensi self disclosure di instagram terkait positif berupa membagikan moment kebersamaan bersama teman-teman, memposting quotes atau motivasi, menjual barang dagang, dan merepost video lucu. Negatif yang berupa menyindir, dan memposting kata-kata perasaan cinta secara berlebihan. 2) Manfaat yang didapatkan remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam menggunakan instagram sebagai media self disclosure berdasarkan dimensi self disclosure selanjutnya yaitu ketepatan self disclosure di instagram yakni remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dapat mengenal baik dirinya dan setiap yang diunggahnya sesuai dengan kondisinya saat itu dan juga sadar dengan apa yang diungkapkannya melalui instagram. Tujuannya melakukan self disclosure di instagram adalah untuk mendapatkan perhatian, sebagai wadah untuk meluapkan emosi, untuk memberikan rasa kesenangan tersendiri, menambah banyak pertemanan, sebagai wadah untuk menerima saran maupun pendapat dari pengguna lainnya, untuk memberikan rasa peka kepada orang yang dituju, dan sebagai tempat untuk mendapatkan motivasi diri dan juga dapat memberikan motivasi kepada pengguna instagram lainnya.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Fokus Penelitian ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Definisi Istilah ... 9
F. Sistematika Pembahasan ... 10
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 12
A. Penelitian Terdahulu ... 12
B. Kajian Teori ... 17
1. Sejarah Instagram... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Pendekatan dan Jenis penelitian... 29
B. Lokasi Penelitian... 30
C. Subyek Penelitian... 31
D. Teknik Pengumpulan Data... 34
E. Analisis Data ... 36
F. Keabsahan Data... 38
G. Tahap-tahap Penelitian... 39
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 40
A. Gambaran Objek Penelitian ... 40
B. Penyajian Data/ Analisis ... 41
C. Pembahasan Temuan... 69
BAB V PENUTUP... 81
A. Kesimpulan... 81
B. Saran... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 85 LAMPIRAN-LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL No Uraian
2.1 Kajian Terdahulu Persamaan dan Perbedaan ... 13
4.1 Tatat Pemerintahan Kepala Dusun Desa Temurejo ... 38
4.2 Data Warga Desa Temurejo ... 39
4.3 Data Remaja Usia 17–21 Tahun di Dusun Selorejo... 39
4.2 Screenshoot Instagram Story Eka ... 43
4.3 Screenshoot Instagram Story Yuli ... 44
4.4 Screenshoot Instagram Story Rani ... 45
4.5 Screenshoot Instagram Story Liza ... 46
4.6 Screenshoot Instagram Story Ririn ... 48
4.7 Screenshoot Instagram Story Ririn ... 49
4.8 Screenshoot Instagram Story Yuli ... 50
4.9 Screenshoot Instagram Story Yuli ... 51
4.10 Screenshoot Instagram Story Liza ... 52
4.11 Screenshoot Instagram Story Eka ... 53
4.12 Screenshoot Instagram Story Rani ... 54
4.13 Screenshoot Instagram Story Ririn ... 55
4.14 Screenshoot Instagram Story Yuli ... 56
4.15 Screenshoot Instagram Story Liza ... 57
4.16 Screenshoot Instagram Story Ririn ... 60
4.17 Screenshoot Instagram Story Ririn ... 62
4.18 Screenshoot Instagram Story Yuli ... 63
4.19 Screenshoot Instagram Story Eka ... 64
4.20 Screenshoot Instagram Story Eka ... 65
4.21 Screenshoot Instagram Story Liza ... 66
4.22 Screenshoot Instagram Story Liza ... 67
4.23 Screenshoot Instagram Story Rani ... 68
4.24 Screenshoot Instagram Story Rani ... 69
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia ialah makhluk sosial yang akan selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain di dalam hidupnya. Sebagai makhluk sosial, manusia dalam bertingkah laku selalu berhubungan dengan lingkungan tempat di mana ia tinggal.1 Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu hidup bermasyarakat dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Untuk itu, menjalin interaksi dengan individu lain dan lingkungan sekitar tidak pernah lepas dari segala aktivitas hidup seseorang. Misalnya, di lingkungan keluarga, kemudian pada lingkungan masyarakat yang lebih luas kita mampu menjalin suatu hubungan antara individu dengan teman, rekan kerja, kekasih, bahkan penjual sekalipun. manusia juga dituntut untuk mampu hidup bermasyarakat dan mampu bekerja sama dengan individu lainnya. Oleh sebab itu, manusia tidak akan terlepas dari adanya interaksi serta komunikasi dengan manusia lainnya.
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Tanpa adanya interaksi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama yang saling terikat satu sama lain.2 Dalam berinteraksi seseorang akan menyampaikan informasi kepada orang lain mengenai dirinya. Hal tersebut berkaitan dengan adanya
1 Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), 29
2 Mila Saraswati dan Ida Widaningsih, Be Smart Ilmu Pengetahuan Sosial (Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) Untuk Kelas VII Sekolah Menengah Pertama, (Bandung: Grafindo Media Pratama, 2008), 17
self disclosure pada individu. Self disclosure atau pengungkapan diri menurut Joseph A. Devito merupakan jenis komunikasi di mana individu mengungkapkan informasi tentang dirinya sendiri; mengenai pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang; atau mengenai orang lain yang sangat dekat yang sangat dipikirkannya.3
Self disclosure akan terjadi, jika ada seseorang dengan kemauannya sendiri menceritakan terkait dirinya kepada orang lain. Menurut Morton, dalam buku Psikologi Sosial mengatakan bahwa pengungkapan diri dapat bersifat baik deskriptif maupun evaluatif.4
“Dalam pengungkapan diri deskriptif, individu menjelaskan berbagai fakta mengenai dirinya yang mungkin belum di ketahui oleh pendengar seperti pekerjaan, tempat tinggal dan sebagainya.
Sedangkan dalam pengungkapan diri evaluatif, individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadi, bahwa individu menyukai orang-orang tertentu.”5
Erat kaitannya dengan komunikasi, self disclosure adalah suatu aspek komunikasi hubungan (intimacy) yang saling berbagi pikiran satu sama lain kemudian menghasilkan keterkaitan dan kehangatan.6
Dalam kehidupan sehari-hari seseorang biasa melakukan self disclosure dengan kerabatnya secara langsung atau face to face (tatap muka).
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi self disclosure dapat juga dilakukan di berbagai media, salah satunya adalah melalui media sosial. Media sosial ialah sebuah media online yang memungkinkan penggunanya untuk mengekspresikan dirinya serta untuk
3 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Tanggerang Selatan: KARISMA Publishing Group, 2011), 64
4 David O Sears & Jonathan L Freedman, dkk., Psikologi Sosial Edisi Kelima Jilid 1, (Jakarta:
Erlangga, 1985), 254
5 Ibid, 254
6 B.Aubery Fisher, Teori-Teori Komunikasi, (Bandung: Remedja Karya, 1978), 261-262
3
berbagi, berinteraksi, dan juga untuk berkomunikasi dengan para pengguna lainnya, dan dapat membentuk ikatan sosial secara virtual diantara para penggunanya.7
Kondisi self disclosure yang dilakukan melalui media sosial, umumnya terletak pada cara seseorang berbagi informasi mengenai diri pada berbagai situs media sosial berupa status, foto/video, chatting, komentar dan lain sebagainya sebagai suatu hal agar diketahui oleh sesama pengguna akun.
Terlebih lagi pada individu yang senang melakukan curahan hati terkait permasalahan hidupnya lewat media sosial. Mengenai soal perasaan, isi hati atau hal pribadi biasanya individu cenderung berbagi pada orang yang dipercaya atau pada orang-orang tertentu saja seperti keluarga dan sahabat terdekat. Namun, hal ini justru dipublikasikan melalui akun media sosial.8 Itu tandanya secara tidak langsung banyak informasi mengenai dirinya yang tidak seharusnya di publikasikan justru diketahui oleh orang lain.
Dalam Islam manusia tidak akan pernah terlepas dengan berbagai macam permasalahan dalam hidup atau ujian dari Allah SWT. Hal tersebut dijelaskan oleh Al-Qur’an bahwa Allah SWT. berfirman:
7 Raydista Febyantari, “Instagram Story Sebagai Bentuk Self Disclosure Bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jember”, Ilmu Komunikasi MEDIAKOM. Vol. 02 No. 02 Tahun 2019, 161
8 Widiyana Ningsih, Skripsi: “Self Disclosure Pada Media Sosial (Studi Deskriptif Pada Media Sosial Anonim LegaTalk)” (Banten: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2015), 4
Artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit kekuatan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.” (QS. Al- Baqarah [2]: 155-156).
Surah di atas menjelaskan bahwa Allah senantiasa memberikan ujian pada umat-Nya, akan tetapi jika seseorang ditimpa musibah hendaklah mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun serta menunjukkan bahwa hendaklah manusia jika ditimpa musibah atau ujian maka menilainya sebagai hal yang positif dan menyelesaikan dengan hal-hal yang baik seperti kebersamaan menyadarkan individu membutuhkan individu lainnya dan keselamatan yakni menyelamatkan seseorang dari perbuatan negatif dan meningatkan seseorang bahwa semua akan kembali kepada Allah SWT.
Jika masalah menghampiri jangan pernah mencari pertolongan selain pada Allah SWT. Seperti firman-Nya yang berbunyi:
Artinya: “jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu lebih berat, kecuali bagi orang- orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45)
Ayat di atas dapat diberi kesimpulan bahwa setiap masalah atau ujian pasti ada obatnya, bagi mereka yang selalu berprasangka baik pada Allah SWT. Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa segeralah melakukan hal-hal
5
positif seperti sholat dan sabar karena sesungguhnya hal itu mengandung segala kebaikan dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Selain itu sholat dan sabar memberikan rasa ketenangan dan kedamaian dalam hidup.
Maka dari itu, dalam melakukan pengungkapan diri ataupun melakukan curahan hati yang bersifat pribadi seperti mendapatkan ujian dari Allah SWT. alangkah baiknya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya mencurahkan isi hati dan meminta pertolongan hanya pada Allah SWT. dan segeralah melaksanakan sholat dan sabar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan di era sekarang kita dapat melakukan pengungkapan diri di media sosial.
Saat ini media sosial menjadi alat komunikasi yang banyak dipilih oleh masyarakat untuk mengungkapkan perasaan. Sebagai sarana komunikasi yang efektif, media sosial sangat berperan dalam aktivitas keseharian bersosial di masyarakat. Salah satu alasan sehingga media sosial diterima oleh masyarakat adalah karena media sosial telah banyak membantu untuk menghubungkan orang satu sama lain dengan cara yang sangat mudah.9 Media sosial juga berperan penting untuk memperoleh informasi dan menyampaikan informasi, dan membantu dalam penyebaran informasi ke semua orang.
Salah satu media sosial yang sedang banyak digunakan oleh pengguna smartphone saat ini adalah instagram. Berdasarkan platforms media sosial yang banyak digunakan di Indonesia tahun 2021 instagram menjadi urutan
9 Sabaruddin, “Self Disclosure Pada Mahasiswa Pengguna Instagram”, Journal of Communication Sciences (JCoS). Vol.01 No.02, 112
ketiga. Pada urutan pertama ada YouTube sebanyak 93,8%, urutan kedua yaitu pengguna WhatsApp sebanyak 87,7% dan urutan ketiga ada instagram sebanyak 86,6% dari jumlah populasi.10 Berdasarkan data Napoleon Cat, terdapat 91,01 juta pengguna instagram di Indonesia pada kuartal IV-2021.
Instagram menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat terutama remaja putri. Pada kuartal IV-2021, tercatat mayoritas pengguna instagram di Indonesia adalah dari kelompok usia 18-24 tahun, yakni sebanyak 33,90 juta. Rinciannya, sebanyak 20% penggunanya adalah perempuan, sedangkan 17,2% merupakan laki-laki.11
Masyarakat di Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi yang minimnya kegiatan atau aktivitas untuk remaja putri. Adapun, kegiatan remaja masjid yang jarang sekali aktif sehingga remaja putri Dusun Selorejo tidak mempunyai ruang lingkup yang cukup untuk bersosialisasi serta melakukan self disclosure atau berbagi informasi satu sama lain dengan temannya secara tatap muka dan pada akhirnya remaja putri tersebut memilih menggunakan instagram untuk memperbanyak teman.12
Hal tersebut didukung oleh pernyataan Ida Ruwaida seorang Sosiolog dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa :
“Tempat sosial yang makin terbatas dan ikatan emosional yang rendah terutama di kota-kota kecil menimbulkan perubahan dalam pola interaksi masyarakat. Akhirnya, teknologi digital menjadi alat
10 Andi Dwi Riyanto https://andi.link/hootsuite-we-are-social-indonesian-digital-report-2021/
11 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/10/pengguna-instagram-di-indonesia- bertambah-39-juta-pada-kuartal-iv-2021
12 Mujib Slamet Widodo, Wawancara, Dusun Selorejo, 8 Maret 2021
7
untuk menyalurkan emosi alias pelepasan emosi lewat media sosial.”13
Penggunaan instagram sebagai new media tidak hanya sebagai saluran tetapi lingkungan baru, sehingga instagram dimanfaatkan oleh remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi untuk mencari informasi dan mengungkapkan siapa dirinya serta menjadi suatu eksistensi di era sekarang. Perbedaan self disclosure pada laki-laki dan wanita dijelaskan oleh Jourard, bahwa wanita telah terbiasa dalam mengungkapkan diri. Itu berarti, wanita lebih banyak bicara dari laki-laki, ini menunjukkan bahwa wanita pada dasarnya menyenangi pembicaraan dengan orang lain. Wanita dapat memanfaatkan waktu dengan berbincang-bincang bersama orang lain yang mana perbincangan tersebut juga menyampaikan pendapat, perasaan, keinginan, dan ketakutan terhadap sesuatu.14
Remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi yang terbiasa dengan instagram, mereka terus berkomunikasi melalui instagram bahkan pada saat makan, berjalan, dan di mana pun, kapanpun mereka beraktivitas. Waktu yang dihabiskan untuk bermain media sosial instagram lebih banyak dibanding dengan waktu untuk mereka belajar dan berkumpul dengan keluarga.
Tanpa memikirkan sesuatu yang negatif, remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi pengguna instagram tersebut tidak malu-malu bahkan tidak takut jika harus mempublikasikan permasalahnya di instagram,
13https://tekno.kompas.com/read/2012/06/01/23174881/mengapa.orang.gemar.curhat.lewat.media.
sosial diakses 29 Januari 2014 pukul 10:48
14 Usman Kharis Abdurrahman, “Self Disclosure Pada Perempuan Pengguna Sosial Media (Studi Kasus Pada Video Youtube Marshanda)”, (Depok: Universitas Indonesia, 2014), 4
seakan-akan orang lain harus mengetahui aktivitas dan masalah mereka.15 Mengapa mereka terlihat nyaman saat mengungkapkan diri mereka di media sosial instagram dibandingkan dengan face to face dengan seseorang dari lingkungan rumahnya. Dengan demikian peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : “Self Disclosure di Media Sosial Instagram Pada Remaja Putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana cara remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam memanfaatkan instagram sebagai media self disclosure?
2. Apa manfaat yang didapatkan remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam menggunakan instagram sebagai media self disclosure?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui cara remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam memanfaatkan instagram sebagai media self disclosure
2. Untuk mengetahui manfaat yang didapatkan remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi dalam menggunakan instagram sebagai media self disclosure
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dilakukan ini, peneliti berharap hasilnya dapat diaplikasikan secara teoritis dan praktis.
1. Secara Teoritis
15 Mujib Slamet Widodo, Wawancara, Dusun Selorejo, 8 Maret 2021
9
Dengan penelitian ini maka hasil yang dicapai dapat digunakan sebagai tambahan wawasan dan sebagai referensi bagi peneliti berikutnya.
2. Secara praktis
a. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian secara langsung dan dapat membawa wawasan pengetahuan tentang self disclosure pada remaja putri melalui media sosial instagram.
b. Bagi Fakultas Dakwah, dapat digunakan sebagai tambahan referensi penelitian bagi perguruan tinggi dalam rangka penelitian yang lebih mendalam dan dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau refrensi untuk penelitian selanjutnya terutama terkait peran media sosial instagram sebagai saluran self disclosure pada remaja putri.
c. Bagi Program Studi Bimbingan dan Konseling, penelitian ini dapat memberi pemahaman terkait media sosial instagram yang digunakan remaja putri dalam melakukan self disclosure yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh konselor untuk melakukan pendampingan atau bimbingan kepada konseli.
d. Bagi remaja putri sebagai bahan bacaan yang menambah pengetahuan mereka tentang peran media sosial instagram sebagai media pengungkapan diri sehingga para remaja tersebut dapat menggunakan media sosial instagram untuk hal-hal yang positif.
E. Definisi Istilah
Agar mudah dipahami dan untuk memudahkan pembahasan berikutnya, maka terlebih dahulu peneliti akan mengemukakan beberapa istilah kata kunci dalam penelitian ini, sebagai berikut :
11
1. Instagram
Instagram merupakan aplikasi yang sedang hits dalam kalangan pengguna smartphone. Nama instagram diambil dari kata “insta” yang asalnya “instan”, dan “gram” dari kata “telegram”. Jadi instagram merupakan gabungan dari kata instan-telegram.16 Dari penggunaan kata tersebut dapat diartikan sebagai aplikasi untuk mengirimkan informasi dengan cepat, yakni dalam bentuk foto yang berupa mengelola foto, mengedit foto, dan berbagi (share) ke sesama pengguna instagram atau jejaring sosial yang lain.17
2. Self discloure
Self disclosure menurut Joseph A. DeVito, pengungkapan diri atau self disclosure tentang diri sendiri yang biasanya dirahasiakan kemudian diberitahukan kepada orang lain. Informasi tersebut berupa pikiran, perasaan, dan perilaku.18
3. Remaja
Remaja ialah masa peralihan disertai perubahan secara fisik dan psikologis dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Perubahan fisik yang dimaksud yakni perkembangan tanda-tanda seks skunder dan primer, sedangkan perubahan psikis yakni perubahan perilaku serta hubungan sosial dengan lingkungannya.19
16 Miliza Ghazali, Buat Duit Dengan Facebook dan Instagram : Panduan Menjana Pendapatan dengan Facebook dan Instagram, (Malaysia: Publishing House, 2016), 8
17 Meutia puspita sari. “Fenomena Pengguna Media Sosial Instagram Sebagai Komunikasi Pembelajaran Agama Islam Oleh Mahasiswa FISIPUniversitas Riau”, JOM FISIP. Vol.4 N0. 2, Oktober 2017, 6
18 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Tanggerang Selatan: KARISMA Publishing Group, 2011), 64
19 Elizabeth B. Hurlock, Pikologi Perkembangan Edisi Kelima, (Jakarta: Erlangga), 75
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan yang dimulai dari bab pendahuluan sampai bab penutup, dengan format tulisan deskriptif.20 Dalam penelitian ini, berikut sistematika pembahasan yang diuraikan:
Bab satu, berisi pendahuluan dalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika pembahasan.
Bab dua, berisi kajian kepustakaan yang di dalamnya mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.
Bab tiga, berisi metode penelitian yang mana membahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi pnelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
Bab empat, berisi tentang penyajian data dan analisis, bab ini juga dijelaskan tentang gambaran objek penelitian, penyajian data dan analisis serta pembahasan temuan.
Bab lima, berisi tentang kesimpulan dan saran dari peneliti. Bab lima merupakan bab terakhir dari skripsi, dan berfungsi untuk mendapatkan gambaran umum dari hasil penelitian yang disebut dengan kesimpulan.
Dengan adanya hasil kesimpulan penelitian, mampu membantu memberikan saran yang membangun terkait dengan penelitian yang telah dilakukan.
20 Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: IAIN Press, 2015), 58
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu
Untuk lebih memudahkan pembaca, peneliti meringkas perbedaan dan persamaan pada uraian di bawah ini :
1. Skripsi oleh Widiyana Ningsih, mahasiswa Program Studi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, judul penelitian “SELF DISCLOSURE PADA MEDIA SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Media Sosial Anonim Legatalk)”.
Menggunakan pendekatan kualitatif studi deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Menentukan subyek menggunakan teknik sampling kebetulan. penelitian ini menggunakan teori self disclosure Johari Window. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana self disclosure pengguna, dimensi, fungsi, dan faktor-faktor, yang terjadi pada media sosial anonim Legatalk. Self disclosure pada media anonim menjadikan seseorang lebih nyaman untuk membuka diri. Dimensi atau aturan dalam pengungkapan diri yang terjadi oleh informan LegaTalk ini berkaitan dengan frekuensi (tingkat keseringan) dan rentang waktu yang dibutuhkan oleh informan untuk mengungkapkan diri sangat tidak menentu dan tidak dapat diprediksi. Fungsi self disclosure yang terjadi di LegaTalk ini, diantaranya sebagai bentuk ekspresi, faktor-faktornya sebagian kelompok mempengaruhi pengungkapan diri di LegaTalk, serta
13
tidak ditemukannya teori yang berhubungan dengan self disclosure di Legatalk.21
2. Skripsi oleh David Mahendra, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun, judul penelitian “MEDIA JEJARING SOSIAL DALAM DIMENSI SELF DISCLOSURE (Studi Deskriptif Kualitatif Penggunaan Twitter Pada Suporter PSS Sleman
“Brigata Curva Sud”). Jenis penelitian kualitatif dengan metode studi deskriptif. Menentukan subyek dengan teknik sampling purposive.
Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis datanya mengunakan model Miles &
Huberman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dimensi keterbukaan diri anggota Brigata Curva Sud dalam berinteraksi menggunakan jejaring sosial twitter. Self disclosure pada media sosial twitter menjadikan individu lebih eksis, memperluas jaringan pertemanan serta mengungkapkan diri melalui tweet lebih lepas dan bebas. Dimensi self disclosure pada jejaring sosial twitter, mengenai waktu dan jumlah tweet setiap harinya rata-rata terdapat 5-10 tweet di waktu malam hari, self disclosure yang positif berupa motivasi diri dan memotivasi orang lain serta pengungkapan kesenangan ketika mendapatkan sesuatu.22 3. Jurnal oleh Raydista Febyantari, mahasiswa Program Studi Ilmu
Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politisk, Universitas Muhammadiyah Jember, dengan judul Penelitian “INSTAGRAM
21 Widiya Ningsih, “Self Disclosure Pada Media Sosial (Studi Deskriptif Pada Media Sosial Anonim Legatalk)” (Skripsi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, 2015)
22 David Mahendra, “Media Jejaring Sosial Dalam Dimensi Self Disclosure (Studi Deskriptif Kualitatif Penggunaan Twitter Pada Suporter PSS Sleman “Brigata Curva Sud”)” (Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2014)
15
STORY SEBAGAI BENTUK SELF DISCLOSURE BAGI MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER”.
Penelitian ini berupaya untuk mengetahui bagaimana penggunaan instagram story pada kalangan mahasiswa dan untuk mengetahui bagaimana open, blind, hidden, serta unknown area mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jember. Persamaan dalam penelitian ini sama-sama menggunakan metode kuliatatif deskriptif dan membahas mengenai self disclosure di instagram. Perbedaan dari penelitian ini ialah tujuan penelitian, di mana dalam penelitian tersebut membahas penggunan instagram story sedangkan peneliti membahas peran instagram, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori self disclosure Johari Window, menentuan subyek di penelitian ini dengan teknik snowball sampling.23
Tabel 2.1
kajian terdahulu persamaan dan perbedaan
No Penelitian Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian 1 Widiyana Ningsih
Program Studi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten Tahun 2015, dengan judul penelitian “SELF
DISCLOSURE PADA MEDIA SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Media Sosial Anonim Legatalk)”
1. Metode penelitian 2. Teknik
pengumpul an data 3. Membahas
self disclosure
1. Fokus peneliti an 2. Media
sosial 3. Fokus pembah asan 4. Teori
self disclosu re 5. Teknik
menent
Self disclosure pada media anonim menjadikan seseorang lebih nyaman untuk membuka diri.
Dimensi atau aturan dalam pengungkapan diri yang terjadi oleh informan LegaTalk ini berkaitan dengan frekuensi (tingkat keseringan) dan rentang waktu yang
23 Raydista Febyantari, “Instagram Story Sebagai Bentuk Self Disclosure Bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Muhammadiyah Jember” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Jember, 2019)
ukan subyek
dibutuhkan oleh informan untuk mengungkapkan diri sangat tidak menentu dan tidak dapat diprediksi. Fungsi self disclosure yang terjadi di LegaTalk ini, diantaranya sebagai bentuk ekspresi, faktor- faktornyasebagian kelompok
mempengaruhi pengungkapan diri di LegaTalk, serta tidak ditemukannya teori yang berhubungan dengan self disclosure di Legatalk 2 David Mahendra
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan
Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun 2014, dengan judul penelitian “MEDIA JEJARING SOSIAL DALAM DIMENSI SELF DISCLOSURE (Studi Deskriptif Kualitatif Penggunaan Twitter Pada Suporter PSS Sleman
“Brigata Curva Sud”)
1. Metode Penelitian 2. Teknik
pengumpul an data
1. Fokus peneliti a 2. Fokus
pembah asan 3. Media
sosial
Self disclosure pada media sosial twitter menjadikan individu lebih eksis,
memperluas jaringan pertemanan serta mengungkapkan diri melalui tweet lebih lepas dan bebas.
Dimensi self disclosure pada jejaring sosial twitter, mengenai waktu dan jumlah tweet setiap harinya rata-rata terdapat 5-10 tweet di waktu malam hari, self disclosure yang positif berupa motivasi diri dan memotivasi orang lain serta
pengungkapan kesenangan ketika mendapatkan sesuatu.
3 Raydista Febyantari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
1. Metode penelitian 2. Teknik
pengumpul
1. Fokus peneliti an 2. Fokus
Penggunaan instagram story digunakan untuk membagikan foto
17
Politisk, Universitas Muhammadiyah Jember 2019, dengan judul Penelitian “INSTAGRAM STORY SEBAGAI BENTUK SELF DISCLOSURE BAGI MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JEMBER”
an data 3. Self
disclosure
pembah asan 3. Teori
self disclosu re 4. Teknik
menent ukan subyek 5. Lebih
fokus ke instagra m story
atau video serta teks setiap hari agar akun instagramnya terlihat aktif. Apa yang sedang dilakukan, sedang berada di mana mereka, kapan waktu yang tepat untuk membagikan konten tersebut, serta perasaannya setelah membagikan konten tersebut. Adapun mereka tidak menyadari tetapi justru orang lain bahkan peneliti menyadarinya dari konten Instagram Story yang mereka bagikan, seperti kemampuan diri atau bakat terpendam dari para informan
B. Kajian Teori
1. Sejarah Instagram
Instagram berasal dari dua kata yakni “insta” dan “gram”. Insta berart “instan” seperti kamera polaroid yang lebih dikenal dengan sebutan
“foto instan”. Instagram dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan kata “gram” berasal dari kata “telegram” cara kerja telegram adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Instagram juga dapat
mengupload foto maupun video dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat.24
Aplikasi instagram merupakan media sosial yang memungkinkan pengguna untuk mengambil foto, mengenakan filter, dan memposting ke berbagai layanan jejaring sosial lainnya, termasuk instagram milik pribadi.
Berdiri pada tahun 2010 perusahaan Burbn, Inc., merupakan sebuah teknologi startup yang hanya berfokus kepada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam.
Pada awalnya Burbn, Inc. sendiri memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 mobile, namun kedua CEO, Kevin Systrom dan juga Mike Krieger, memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja. Setelah satu minggu membuat ide yang bagus, pada akhirnya mereka membuat sebuah versi pertama dari Burbn, tetapi masih ada beberapa hal yang belum sempurna.Versi Burbn yang sudah final, adalah aplikasi yang sudah dapat digunakan di dalam iPhone, yang di mana isinya terlalu banyak dengan fitur-fitur. Sulit bagi Kevin Systrom dan Mike Krieger untuk mengurangi fitur-fitur yang ada, dan memulai lagi dari awal, namun akhirnya mereka hanya memfokuskan pada bagian foto, komentar, dan juga kemampuan untuk menyukai sebuah foto. Itulah yang akhirnya menjadi instagram.
Pada tanggal 9 April 2012, diumumkan bahwa Facebook setuju mengambil alih Instagram dengan nilai sekitar $1 miliar.25
24 Rangga Aditya, “Pengaruh Media Sosial Instagram Terhadap Minat Fotografi Pada Komunitas Fotografi Pekan Baru”, Vol.2 No.2, Oktober 2015, 3
19
a) Tujuan Instagram
Secara umum tujuan instagram yaitu memenuhi kesenangan dirinya dengan cara membagikan foto dan video ke instagram dengan maksud dapat bebas berekspresi. Adapun tujuan khusus instagram yaitu sebagai sarana kesenangan dari penggunanya yang ingin membagikan kegiatan, tempat, bahkan dirinya sendiri dalam bentuk foto atau video.
b) Fitur Instagram
Pengguna media sosial instagram dapat dilihat dengan pemilihan pengguna pada fitur-fitur yang tersedia. Adapun fitur-fitur instagram sebagai berikut :
(1) Pengikut, bertujuan untuk mengikuti akun instagram pengguna akun lainnya ataupun akun instagram individu yang diikuti seseorang. Semakin banyak followers individu di instagram, maka akun instagram anda akan dikenal banyak orang.
(2) Mengunggah foto. Fitur tersebut akan digunakan oleh penggunanya untuk mempresentasikan dirinya di depan pengguna lain.
(3) Tanda suka, berguna untuk menyukai foto atau video yang terdapat di akun instagram anda maupun diakun instagram followers atau akun instagram yang anda ikuti.
(4) Hastag, berupa suatu kata yang diberi awalan simbol bertanda pagar (#). Digunakan untuk mengelompokkan tema atau topik yang lebih khusus dan mempermudah pengguna untuk mencari topik yang saling berhubungan.26
25E-Bussineshttps://sites.google.com/a/student.unsika.ac.id/asep-saeful-bachri/media- sosial/sejarah-instagram
26 Wikipedia, “Fitur-fitur Instagram”, ( https://id.wikipedia.org/wiki/instagram ), diakses pada 24 April 2018
Tidak hanya yang telah disebutkan di atas, sekarang terdapat fitur- fitur baru di instagram, yaitu :
(1) Insta story atau snapgram. Fitur ini dapat berbagi cerita dan ketika penggunanya berbagi cerita pengguna juga dapat menggunakan emotikon pada wajah, berbagi lokasi, menambahkan lagu pada cerita, menambahkan suhu lokasi di mana pengguna tersebut berada, menggunakan gift, menandai atau mention orang lain, dapat mengajukan pertanyaan serta melakukan polling dan dapat berbagi tautan melalui insta story.
(2) Siaran langsung, yakni menyiarkan video secara realtime dan juga akan menerima pertanyaan. Kemudian dapat diketahui oleh pengguna terkait siapa saja yang menyaksikan siaran langsungnya.
(3) Panggilan video dengan pengguna lainnya.27 2. Self Disclosure
Secara bahasa, self berarti diri sendiri, dan disclosure berarti terbuka atau keterbukaan. Self disclosure adalah pengungkapan diri atau keterbukaan diri. Dalam Ensiklopedi Psikologi self disclosure, diartikan sebagai mengungkapkan kenyataan tentang diri sendiri kepada orang lain yang memiliki kaitan dengan proses penting dalam pertumbuhan hubungan.28
Joseph A. DeVito mengartikan pengungkapan diri ialah suatu komunikasi dalam mengungkapkan informasi terkait diri sendiri yang
27 Sakinah Adinda dan Edriana Pangestuti, “Pengaruh Media Sosial Instagram @exploremalang Terhadap Minat Berkunjung Followers Ke Suatu Destinasi (Survei Pada Followers
@exploremalang)”, Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.72 No.1, Juli 2019
28 Rom Harre dan Roger Lamb, Ensiklopedi Psikologi, Terjemahan Ediati Kamil, (Jakarta: Arcan, 1996), 273
21
disembunyikan kemudian secara aktif kita infromasikan kepada orang lain.29
Menurut Marton, pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi pengungkapan diri ini bersifat deskriptif dan evaluatif. Deskriptif artinya individu melukiskan berbagai fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti jenis pekerjaan, alamat, dan usia.
Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang disukai atau hal-hal yang tidak disukai atau dibenci.30
a) Manfaat Self Disclosure
Menurut Joseph A. DeVito terdapat beberapa manfaat dari self disclosure diantaranya adalah sebagai berikut:
(1) Pengetahuan diri yakni seseorang akan mendapatkan pandangan baru tentang diri sendiri dan pemahaman yang mendalam mengenai perilaku kita sendiri.
(2) Kemampuan mengatasi kesulitan yaitu seseorang akan dapat mengatasi masalah atau kesulitan, khususnya perasaan bersalah yakni melalui pengungkapan diri. Ketika seseorang mengungkapan diri dan menerima support maka ia akan lebih siap untuk mengendalikan perasaan bersalah dan mengurangi bahkan menghilangkannya.
29 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Tanggerang Selatan: KARISMA Publishing Group, 2011), 64
30 Asriyani Sugiyanto & Nina Ardiyanti, “Self Disclosure melalui Media Sosial Instagram (Studi Kasus pada Anggota Galeri Quote)”, Journal of Communication, Vol.2 No.1, April 2018, 84
(3) Tepat dalam berkomunikasi sehingga individu mengerti pesan- pesan dari individu lainnya.
(4) Kedalaman hubungan. Pengungkapan diri secara tidak langsung memberitahu kepada orang lain bahwa kita mempercayai mereka, menghargai, dan peduli terhadap meraka.31
Calhoun mengungkapkan tiga manfaat self disclosure, yaitu : (1) Pengungkapan diri mempererat kasih sayang.
(2) Dapat melepaskan perasaan bersalah dan kecemasan, makin lama individu menyembunyikan sesuatu dalam dirinya maka akan semakin tertekan dan makin terus bergejolak dipikiran. Sekali mengungkapkan hal tersebut dirasa tidak lagi mengancam.
(3) Menjadi sarana eksistensi manusia yang selalu membutuhkan wadah untuk bercerita.32
b) Fungsi Self Disclosure
Self disclosure atau pengungkapan diri memiliki beberapa fungsi.
Menurut Derlega & Gizelak, yaitu :
(1) Ekspresi. Pengungkapan diri melalui ekspresi, seseorang dapat berkesempatan untuk menunjukkan perasaannya secara bebas.
(2) Klarifikasi diri. Dengan mengatakan permasalahan yang sedang individu hadapi kepada seseorang, pikiran individu akan lebih terang sehingga individu dapat melihat dan menilai persoalannya dengan baik.
31 Lisa Mardiana dan Anida Fa’zia Zi’ni, “Pengungkapan Diri Pengguna Akun Autobase Twitter
@Subtanyarl”, Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol.03 No.01, April Tahun 202, 34-54
32 Karyanti, Dance Counseling, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2018), 19-22
23
(3) Keabsahan sosial. Dengan memperhatikan bagaimana reaksi pendengar sewaktu individu sedang mengungkapkan diri, individu memperoleh informasi tentang ketepatan tentang diri individu.
(4) Kendali sosial yakni seorang individu dapat menjelaskan dengan jelas atau menyembunyikan informasi tentang diri individu sebagai perantara kendala sosial.
(5) Perkembangan hubungan. Saling berbagi informasi dan saling mempercayai merupakan hal paling penting dalam berkmunikasi dan semakin meningkatkan keakraban.33
c) Faktor yang Mempengaruhi Self Disclosure
Tidak semua individu mampu melakukan self disclosure begitu saja, karena tingkat kepribadian yang dimiliki seseorang cenderung berbeda-beda. Joseph A. DeVito mengemukakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi self disclosure, yaitu:
(1) Besaran kelompok. Pengungkapan diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil daripada kelompok besar. Diad (kelompok yang terdiri atas dua orang) merupakan lingkungan yang paling cocok untuk pengungkapan diri. Bila, ada lebih dari 1 orang pendengar, pemantauan seperti ini menjadi sulit, karena tanggapan yang muncul pasti berbeda dari pendengar yang berbeda.
33 Alfi Arifian, 72 Trik Membaca Karakter, (Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia, 2018), 37-38
(2) Perasaan menyukai. Kita membuka diri kepada orang-orang yang kita sukai atau cintai, dan kita tidak akan membuka diri kepada orang yang tidak kita sukai.
(3) Efek diadik. Seseorang melakukan pengungkapan diri apabila orang yang bersama kita juga melakukan pengungkapan diri. Efek diadik mungkin membuat seseorang merasa lebih aman dan nyatanya memperkuat perilaku pengungkapan diri.
(4) Kompetensi. Orang yang kompeten lebih banyak melakukan dalam pengungkapan diri daripada orang yang kurang kompetensi.
(5) Kepribadian. Orang yang pandai bergaul (sociable) dan extrovet melakukan pengungkapan diri lebih banyak daripada mereka yang kurang pandai bergaul dan lebih introvet. Orang yang kurang berani bicara pada umumnya juga kurang mengungkapkan diri daripada mereka yang merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi.
(6) Topik. Kecenderungan memiliki topik tertentu daripada topik yang lain. Seseorang lebih cenderung membuka diri tentang topik pekerjaan atau hobi daripada tentang kehidupan atau situasi keuangan. Umumnya, makin pribadi dan makin negatif suatu topik, makin kecil kita mengungkapkannya.
(7) Jenis kelamin. Faktor terpenting yang mempengaruhi pengungkapan diri adalah jenis kelamin. Wanita lebih terbuka daripada laki-laki dan wanita kan lebih terbuka kepada orang yang
25
disukainya. Sedangkan laki-laki lebih terbuka pada orang yang dipercayai.34
d) Bahaya Self Disclosure
Menurut Derlega, biarpun self disclosure dapat memperkuat dan mengembangkan hubungan, namun juga membawa resiko.
Menungkapkan informasi personal akan membuat kita berada dalam kondisi rawan. Beberapa resiko yang dapat terjadi saat mengungkapkan diri, antara lain:
(1) Pengabaian. Kita mungkin berbagi sedikit informasi dengan orang lain saat mengawali suatu hubungan. Terkadang pengungkapan diri kita dibalas dengan pengungkapan diri orang lain dan hubungan pun berkembang. Tetapi, terkadang kita menyadari bahwa orang lain tidak peduli pada pengungkaan diri kita dan sama sekali tidak tertarik untuk mengenal kita.
(2) Hilangnya kontrol. Terkadang orang lain memanfaatkan informasi yang kita berikan kepada mereka untuk menyakiti atau untuk mengontrol perilaku kita.
(3) Pengkhianatan. Ketika kita mengungkapkan informasi personal kepada seseorang kita sering berasumsi atau bahkan secara tegas meminta agar informasi itu dirahasiakan, sayangnya terkadang orang itu berkhianat.35
34 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia: Edisi Kelima, (Tanggerang Selatan: KARISMA Publishing Group, 2011), 62
35 Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), 334
e) Dimensi Self Disclosure
Menurut Joseph A. Devito dimensi dalam self disclosure ini dibagi menjadi empat bagian:
(1) Jumlah self disclosure, berkaitan dengan seberapa banyak jumlah informasi diri yang diungkapkan. Jumlah tersebut dapat dilihat dari frekuensi dalam menyampaikan pesan-pesan self disclosure atau dapat juga dengan menggunakan dimensi waktu yaitu berapa lama dalam menyampaikan pesan-pesan yang terdapat self disclosure nya pada keseluruhan kegiatan komunikasi kita dengan lawan komunikasi.
(2) Valensi self disclosure, valensi merupakan hal positif atau negatif dari pengungkapan diri. Individu dapat mengungkapkan diri mengenai sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan mengenai dirinya. Hal ini akan menimbulkan dampak yang berbeda, baik itu diri sendiri maupun yang mendengarkannya.
(3) Ketepatan self disclosure, ketepatan dari pengungkapan diri akan dibatasi sejauh mana individu mengetahui atau mengenal dirinya.
(4) Tujuan self disclosure, dalam melakukan self disclosure, satu hal yang harus dipertimbangkan adalah tujuannya. Dengan menyadari tujuannya saat melakukan self disclosure, maka perlu melakukan kontrol emosional atas self disclosure yang dilakukan supaya self disclosurenya mencapai tujuan yang diinginkannya.36
36 Fionna Almira Pohan dan Hairul Anwar Dalimunthe, “Hubungan Intimate Frienship Dengan Self Disclosure Pada Mahasiswa Psikologi Pengguna Media Sosial Facebook”, Jurnal Diversita, Vol.3 No.2, Desember 2017, 19
27
3. Remaja
Masa remaja atau adolescene yang berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja menurut Hurlock diartikan sebagai masa peralihan yaitu perubahan diri individu secara fisik maupun psikis dari masa anak-anak menuju masa dewasa.
Perubahan fisik yang dimaksud yakni perkembangan tanda-tanda seks skunder dan primer, sedangkan perubahan psikis yakni perubahan perilaku serta hubungan sosial dengan lingkungannya.37
Perilaku remaja terdiri atas perilaku kognitif dan sosioemosional.
Perilaku kognitif merupakan perilaku remaja yang ditandai dengan pola pikir dari remaja, sedangkan perilaku sosioemosional merupakan perilaku yang berkaitan erat dengan emosi remaja dan berinteraksi dengan kehidupan sosialnya. Perilaku-perilaku tersebut berkaitan erat dengan masa tumbuh kembang yang dialami oleh semua remaja.38
Usia remaja terbagi menjadi tiga kelompok yaitu remaja awal berusia 12-15 tahun, remaja pertengahan berusia 15-18 tahun dan remaja akhir berusia 18-21 tahun.
4. Karakteristik Emosi Remaja
Remaja pada umumnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga seringkali remaja ingin mencoba-coba, mengkhayal, dan merasa gelisah serta berani melakukan pertentangan jika dirinya tidak dianggap
37 Miftahul Jannah, “Remaja dan Tugas-Tugas Perkembangannya Dalam Islam”, Jurnal Psikoislamedia, Vol.1 No.1, April 2016, 243
38 Rosleny Marliani, Psikologi Perkembangan, (Bandung : Pustaka Setia, 2015), 153
atau disepelekan.39 Karakteristik emosi remaja menurut Hurlock dibagi menjadi 3 periode:
a) Remaja awal 12-15 tahun
Pada periode ini perkembangan fisik yang semakin terlihat jelas seringkali membuat remaja mengalami kesulitan dalam menyesuaian diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya para remaja cenderung menyendiri, dan merasa tidak ada orang yang memperdulikannya.
Sehingga remaja merasa bingung, cemas dan gelisah.
b) Remaja pertengahan 15-18 tahun
Pada masa ini remaja menginginkan dan mencari-cari sesuatu, merasa sunyi dan merasa tidak dapat dipahami oleh orang lain.
c) Remaja akhir 18-21 tahun
Pada masa remaja akhir, individu mulai stabil dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, dan perilaku yang makin dewasa serta mereka mulai menyadari tujuan hidupnya.
Secara biologis dan psikologis memiliki perbedaan antara pengelolaan emosi remaja laki-laki dan perempuan. Termasuk adanya perbedaan dalam cara berpikir, berperasaan dan berperilaku. Dalam jurnal Harum Hasmarlin dan Hirmaningsih menemukan adanya perbedaan emosional remaja laki-laki dan perempuan. Remaja perempuan memiliki kemampuan emosional yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki.
Perbedaan jenis kelamin dalam pengekspresian emosi dikaitkan dengan perbedaan dalam tujuan perempuan dan laki-laki mengontrol emosinya.
39 Nurul Azmi, “Potensi Emosi Remaja dan Pengembangannya”, SOSIAL HORIZON: Jurnal Pendidikan Sosial, Vol.2 No.1, Juni 2015, 36
29
Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal dan juga lebih memiliki keleluasaan dalam mengungkapkan emosinya. Sedangkan laki-laki dituntut untuk memendam emosinya.
Gratz dan Roemer menjelaskan bahwa remaja perempuan begitu fokus dengan kejadian negatif yang dialaminya maka ia menjadi berlarut- larut dalam emosi yang dirasakan dan tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik sehingga pengelolaan emosinya menjadi buruk daripada laki- laki.40
40 Hanum Hasmarlin, Hirmaningsih, “Regulasi Emosi Pada Remaja Laki-laki dan Perempuan”, MARWAH: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender, Vol.18 No.1, 2009, 87-95
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode deskriptif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.41
Haris Herdiansyah mengartikan bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah yang memiliki tujuan untuk memahami suatu fenomena dalam hal sosial secara alamiah dengan proses interaksi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.42 Penelitian deskriptif ialah penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai fenomena yang sedang diteliti dan menggunakan data yang bersifat fakta bukan opini.43
Peneliti menggunakan jenis penelitian metode deskriptif kualitatif karena penelitiannya dilakukan pada kondisi situasi permasalahan penelitian secara jelas. Peneliti berusaha mendeskripsikan serta menggambarkan keadaan yang diamati di lapangan dengan secara mendalam dan detail
41 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2019), 17-20
42 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: Salembva Humanika, 2012), 9
43 Muhammad Ramadhan, Metode Penelitian, (Surabaya: Cipta Media Nusantara, 2021), 8
31
mengenai peran instagram sebagai saluran saluran self diclosure bagi remaja putri di Dusun Selorejo. Peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi penelitian, ataupun melakukan intervensi terhadap aktivitas subjek penelitian dengan memberikan perlakuan tertentu. Namun, peneliti berusaha memahami fenomena yang dirasakan oleh subjek sebagaimana adanya.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan di mana penelitian tersebut hendak dilakukan. Adapun lokasi yang dijadikan tempat penelitian adalah Instagram remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi. Peneliti memilih lokasi tersebut karena di Dusun Selorejo minimnya kegiatan atau aktivitas untuk remaja putri, adapun kegiatan remaja masjid yang jarang sekali aktif sehingga remaja putri di sana tidak mempunyai ruang lingkup yang cukup untuk bersosialisasi serta melakukan self disclosure atau berbagi informasi satu sama lain dengan temannya secara tatap muka dan pada akhirnya remaja putri tersebut memilih menggunakan instagram untuk memperbanyak teman.
Dusun Selorejo salah satu Dusun yang terdapat di Desa Temurejo.
Dusun Selorejo merupakan pusatnya buah waluh, selain itu Dusun Selorejo diberi julukan oleh masyarakat sekitar yakni Kota Santrinya Desa Temurejo, yang mana masyarakatnya rukun dan kebanyakan dari masyarakatnya seorang santriwan dan santriwati. Di lokasi ini juga belum pernah diadakan penelitian yang serupa sebagaimana yang dijelaskan pada latar belakang tentang “Self Disclosure di Media Sosial Instagram Pada Remaja Putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi”.44
44 Mujib Slamet Widodo, Wawancara, Dusun Selorejo, 8 Maret 2021
C. Subyek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah remaja putri di Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi. Kemudian, untuk menentukan subyek atau informan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan purposive yakni penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Teknik purposive adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu misalnya orang tersebut yang dianggap paling tau tentang apa yang peneliti harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial.45
Melihat pendekatan penelitian yang digunakan, maka subyek penelitian akan ditentukan berdasarkan ciri dan karakteristik tertentu. Adapun ciri dan karakteristik yang digunakan yaitu :
1. Remaja putri Dusun Selorejo Desa Temurejo Banyuwangi yang berusia 17-21 tahun
2. Memiliki akun instagram
3. Aktif menggunakan instagram dengan frekuensi sehari 2 kali upload sampai perorang mencapai 10 unggahan
Kriteria ini dipilih untuk lebih memudahkan dan memfokuskan penelitian pada suatu daerah atau lokasi. Peneliti memilih 5 (lima) remaja putri dari masing-masing usia yang telah ditentukan untuk dijadikan sebagai informan, sesuai dengan kriteria yang sudah dijelaskan ke lima remaja putri
45 Sugiono, 289
33
tersebut aktif menggunakan instagram dan dalam kesehariannya setiap melakukan kegiatan atau sekedar bercerita mereka membagikannya di instagram termasuk dalam melakukan self disclosure. Kemudian, dalam menentukan informan peneliti menggunakan teknik purposive, selain itu peneliti juga mendapatkan data dari remaja masjid sehingga peneliti dapat melakukan survey lanjutan kepada remaja yang aktif melakukan self disclosure di media sosial instagram.
Adapun subyek dalam penelitian sebagai berikut:
1. Subyek pertama
Ririn Fatmasari, seorang gadis berusia 21 tahun yang sedang melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswi. Ia menggunakan media sosial instagram sudah 6 tahun. Awal mula menggunakan instagram karena ikut-ikut teman, dan ketika Ririn sedang bosan di rumah, ia melampiaskan suasana hatinya dengan memposting kata-kata serta foto- foto di instagram story. Ririn suka membagikan moment saat bersama teman-temannya. Ririn juga memanfaatkan fitur-fitur instagram untuk mengungkapkan dirinya. Seperti fitur instagram story yang ia gunakan untuk memposting foto dan video, siaran langsung untuk menyiarkan video ke followers secara realtime, merepost, memberi caption pada postingannya dan membalas komentar.