Diskursus Arsitektur Nusantara
Dalam Menjaga Keselarasan Alam dan Ruang Bersama Masyarakat Dari Tekanan Modernitas
Oleh: Titis S. Pitana
Diskursus dalam ilmu dan praktek sosial merupakan jaringan praktek pengetahuan dan kekuasaan.
Persoalan arsitektur bukan hanya berhenti pada persoalan geometris, penciptaan ruang dan menghuninya, melainkan lebih pada dimensi "kekinian"
yang dalam istilah Derrida disebut dengan "kemenjadian"
(becoming); bukan hanya ada (being), namun juga mengada (beings).
Rongrongan Modernisme
Modernisasi diarahkan dan
direncanakan untuk mengubah paradigma kehidupan masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Kuatnya pesona kehidupan modern telah menjadikan modernitas sebagai wacana
hegemonik yang merebut konsensus masyarakat dalam memaknai dan menjalani kehidupannya, termasuk dalam memaknai dan menciptakan ruang hidup materialnya (arsitektur).
Tekanan Rasionalitas Atas Moralitas Arsitektur Nusantara Dalam Modernisme
Kaum modernis berkeyakinan bahwa segala
permasalahan kehidupan di dunia dapat teratasi dengan kemajuan ilmu dan teknologi, namun apabila kemajuan tersebut tidak dibarengi dengan respons dan strategi yang tepat, maka tidak jarang keduanya justru mempunyai dampak yang sebaliknya, yaitu tragedi kemanusiaan yang bersifat universal yang merupakan krisis global serius yang bersifat kompleks dan
multidimensional, seperti pengenduran tradisi, norma-norma, hukum, dan tatanan yang telah mapan pada taraf yang mencengangkan.
• Dalam masyarakat modern seorang individu atau kelompok dengan mudah dapat meracik moralitasnya berdasarkan pengetahuan, selera, dan kepentingannya dengan mengikuti logika pasar.
• Fungsi dan makna esensial (moralitas) dari berarsitektur bukan lagi menjadi pertimbangan dominan untuk menjaga keselarasan alam dan ruang bersama masyarakatnya, tetapi digantikan oleh pertimbangan nilai tukar yang akan diperoleh.
Tekanan Rasionalitas...lanjutan
Pada titik seperti itulah
dipandang perlu untuk tetap mempertahankan dan
mengembangkan moralitas yang merupakan makna
esensial arsitektur Nusantara dalam konteks kekinian
sebagai wujud kesadaran
masyarakat Nusantara dalam membangun ruang hidup
materialnya dengan moralitas yang dibagi bersama.
Diskursus Kearifan Lokal dan Moralitas Arsitektur Nusantara Dalam Menjaga Kesalarasan Alam dan Ruang Bersama Masyarakat
Diskursus dalam ilmu dan praktek sosial merupakan jaringan praktek pengetahuan dan kekuasaan yang dibangun melalui bahasa. Dalam ruang kesadaran manusia, kehendak dan kekuasaan adalah refleksi dari hasrat manusia. Manusia dengan hasratnya telah mengembangkan arsitektur menjadi ilmu rancang bangun tidak hanya dibatasi oleh ruang dan gatra (sesuatu yang tampak terwujud) atau garis dan bidang, tetapi arsitektur telah berkembang menjelajahi ruang kesadaran manusia jauh ke relung-relung keindahan yang kemudian, diposisikan menjadi nilai ideal.
Dalam konteks arsitektur Nusantara, simbol kearifan lokal yang melekat lazimnya dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki nilai fungsional dan bersifat hidup yang merupakan bangun pengetahuan yang bersumber dari nilai-nilai dan potensi lokal yang diwacanakan secara lisan dari generasi ke generasi yang akhirnya disebut kebudayaan tradisional.
Harus diakui bahwa kebenaran tidak selalu terdapat pada yang baru (modern), tetapi juga pada yang tradisional, bahkan kebenaran tersebar pada sepanjang pengalaman manusia, terfragmentasi sesuai dengan ruang dan waktu realitas berada, dan bukan hanya ditentukan berdasarkan akal dan rasional.
Dalam konteks arsitektur, pengandaian perwujudan arsitektur Nusantara sebagai sarana komunikasi visual (bahasa) dalam membangun kesadaran kolektif masyarakatnya memerlukan bahasa yang dikuasai dan dipahami oleh masyarakat itu sendiri yang lazim disebut
“bahasa ibu”, yaitu bahasa yang bersumber pada lokalitas dan moralitas masyarakat pendukungnya.
SIMPULAN
Tekanan rasionalitas atas moralitas arsitektur
Nusantara dalam modernisme menjadikan fungsi dan makna esensial (moralitas) dari berarsitektur bukan lagi menjadi pertimbangan dominan
untuk menjaga keselarasan alam dan ruang bersama masyarakatnya, tetapi digantikan oleh pertimbangan nilai tukar yang akan diperoleh.
Oleh karenanya, moralitas yang dikandung arsitektur Nusantara hendaknya senantiasa
dipertahankan dan dikembangkan dalam konteks kekinian sehingga arsitektur Nusantara tidak lagi diposisikan sebagai produk budaya kuno yang eksistensinya begitu terikat pada masa lalu,
namun dimaknai sebagai arsitektur masa depan yang mampu menjaga keselarasan alam dan ruang bersama masyarakat.
Arsitektur Nusantara sebagai bahasa (sarana komunikasi visual) dalam membangun kesadaran kolektif masyarakatnya memerlukan bahasa yang dikuasai dan dipahami oleh masyarakat itu sendiri yang lazim disebut “bahasa ibu”, yaitu bahasa yang bersumber pada lokalitas dan moralitas masyarakat pendukungnya yang selanjutnya disebut dengan kearifan lokal. Oleh karenanya, kearifan lokal hendaknya dijadikan dasar pengembangan arsitektur Nusantara yang selalu berorientasi pada kebenaran, keindahan, dan kebaikan dalam menjaga keselarasan alam dan ruang hidup bersama masyarakat.