Kementerian Pendidikan Nasional mengartikan partisipasi pendidikan sebagai suatu proses dimana warga sekolah dan masyarakat terlibat secara aktif baik secara individu maupun kolektif, baik langsung maupun tidak langsung, dalam pengambilan keputusan, pengambilan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan atau evaluasi pendidikan di bidang pendidikan. sekolah. Pemenuhan harapan yang tinggi terhadap mutu pendidikan tentunya memerlukan desentralisasi fungsi manajemen di sekolah untuk mengoptimalkan kebijakan di tingkat manajemen sekolah dalam pelaksanaan programnya. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa warga mempunyai peran baik langsung maupun tidak langsung dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pemantauan atau evaluasi pendidikan di sekolah.
Pendekatan segregatif yang dimaksud adalah pendidikan bagi anak yang dilaksanakan di sekolah luar biasa sesuai dengan peminatannya, (yaitu; SLB-A untuk sekolah bagi anak tunanetra, SLB-B untuk sekolah bagi anak tunarungu, SLB-C untuk sekolah bagi anak tuna grahita. , SLB -D untuk sekolah bagi anak cacat) ke integratif atau dikenal dengan pendidikan terpadu (yang mengintegrasikan anak luar biasa ke sekolah reguler namun masih terbatas pada anak yang dapat mengikuti kurikulum di sekolah tersebut) dan kemudian inklusif (yaitu konsep pendidikan yang tidak tidak membedakan keberagaman karakteristik individu) (Tarmansyah, 2007: 9). Pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai suatu sistem pelayanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus yang belajar bersama dengan anak seusianya di sekolah reguler yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas dan mempunyai potensi kecerdasan dan/atau bakat khusus pada pasal 3 menjelaskan hal tersebut.
Sekolah negeri/reguler yang melaksanakan program pendidikan inklusif akan mempunyai implikasi manajemen terhadap sekolah tersebut.
Tujuan Pendidikan Inklusif
Guru di sekolah pendidikan inklusif perlu berkolaborasi dengan profesi atau sumber daya lain dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru di sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif harus melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses pendidikan (Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Anak dapat belajar mandiri dengan berusaha memahami dan menerapkan pembelajaran di sekolah dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
Anak mampu berinteraksi secara aktif dengan temannya, dengan guru di lingkungan sekolah, dan dengan masyarakat setempat. Anak dapat belajar menerima perbedaan dan mampu beradaptasi untuk mengatasi perbedaan tersebut, sehingga pada umumnya anak menjadi kreatif dalam belajar. Mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi, mengembangkan dan menerapkan berbagai ide baru melalui komunikasi dengan anak di lingkungan sekolah dan masyarakat secara proaktif, kreatif dan kritis.
Orang tua dapat belajar lebih banyak tentang cara mendidik anak, cara membimbing anak dengan lebih baik di rumah, dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh guru di sekolah. Orang tua akan merasa dihargai, merasa menjadi mitra sejajar dalam memberikan kesempatan belajar yang berkualitas bagi anaknya. Orang tua mengetahui bahwa anaknya dan seluruh anak di sekolah memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
Masyarakat akan merasakan rasa bangga karena semakin banyak anak di daerahnya yang bersekolah. Seluruh anak di masyarakat akan dibina dan menjadi sumber daya yang potensial. Lebih penting lagi, keterlibatan masyarakat di sekolah untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara sekolah dan masyarakat (Tarmansyah. Menurut Raschke dan Bronson yang dikutip Marthan Lay Kokeh sekolah juga mempunyai tujuan dalam melaksanakan program pendidikan inklusif, yaitu .
Karakteristik Manajemen Pendidikan Inklusif
Melibatkan seluruh komponen pendidikan dalam keseluruhan proses mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan evaluasi, yaitu: guru, siswa, orang tua dan masyarakat. Partisipasi dan kerjasama seluruh komponen semakin ditingkatkan, terutama kerjasama antara orang tua dan guru mulai dari perencanaan, pembelajaran, hingga evaluasi dan tindak lanjut (Marthan Lay Kokeh.
Kurikulum Pendidikan Inklusif
Menurut Olive yang dikutip Hasbullah, kurikulum adalah keseluruhan program pendidikan pada suatu lembaga pendidikan yang meliputi (1) unsur program studi, (2) unsur pengalaman belajar, (3) unsur pelayanan, dan (4) unsur kurikulum tersembunyi. Sedangkan Sukamto yang dikutip Hasbullah mengatakan, kurikulum mencakup seluruh pengalaman belajar siswa, sedangkan mengajar adalah tentang strategi untuk menyampaikan berbagai pengalaman belajar. Kurikulum digunakan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang relevan, dengan mempertimbangkan banyaknya kebutuhan khusus individu setiap siswa.
Sebagai kerangka sistem untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi situasi pembelajaran bagi siswa secara individu, kelompok dan seluruh kelas.
Kendala atau Hambatan Pendidikan Inklusif
Sementara itu, Skjorten yang dikutip Tarmansyah menyatakan bahwa faktor-faktor kendala yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan keterampilan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang layak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. , dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab". Setiap penyandang disabilitas mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam semua bidang kehidupan dan kelangsungan hidup.”
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus dan berkemampuan intelektual dan/atau berbakat khusus.
Anak yang Membutuhkan Layanan Pendidikan Khusus 1. Anak Kesulitan Belajar
- Anak dengan Problema Pemusatan Perhatian Marthan Lay Kokeh (2007
- Anak dengan Gangguan Memori
- Anak dengan Gangguan Komunikasi
- Anak yang Mengalami Gangguan Perilaku
Penglihatan dikatakan benar-benar terganggu bila ketajamannya kurang dari atau sama dengan 20/200, yaitu kemampuan melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang dapat dilihat oleh orang dengan ketajaman normal pada jarak 200 kaki. Anak dengan gangguan perhatian dikenal dalam dunia medis dengan sebutan ADD (Attention Deficit Disorder). Selain ADD, dalam dunia medis juga ada yang disebut dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Anak yang mempunyai gangguan ingatan tidak mau menggunakan metode yang berbeda untuk mengingat berbagai informasi yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Misalnya, guru kelas bekerja sama dengan terapis untuk menangani anak tuna wicara (Marthan Lay Kokeh, 2007: 65). Anak berkebutuhan khusus tetap dapat belajar dengan menggunakan seluruh indranya, namun akan mengalami kesulitan jika harus belajar dengan melakukan aktivitas yang memerlukan keterampilan fisik, seperti memegang pensil untuk menulis, bermain, berolahraga dan mobilitas, sehingga anak tidak dapat bersekolah. ke sekolah – sekolah biasa pada umumnya.
Pada umumnya anak penyandang disabilitas tidak dapat beradaptasi dengan tuntutan lingkungan dan menunjukkan perilaku yang jarang diapresiasi oleh siapapun baik itu teman, guru, saudara atau orang tuanya, dan terlebih lagi terkadang mereka tidak menyukai dirinya sendiri.
Penelitian yang Relevan
41. partisipasi, bagi orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya ke madrasah karena motivasi pendidikan agama Islam, partisipasinya hanya untuk ibadah dan bagi orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya karena biaya murah dan nilai siswa yang buruk, maka keikutsertaannya hanya sekedar memenuhi kewajibannya sebagai orang tua peserta didik, 4) kendala yang dihadapi orang tua peserta didik untuk berpartisipasi biasanya berupa rendahnya tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan pengetahuan akan keberagaman, 5) persepsi orang tua sikap siswa terhadap MTs Negeri Yogyakarta II positif sebagai sekolah agama Islam negeri berbiaya rendah dengan hasil kelulusan UNAS yang baik, cukup tinggi dan dapat diandalkan sebagai tempat pendidikan yang memadai bagi siswa dengan nilai rendah, 6) komunikasi antara orang tua siswa dengan pihak madrasah dilakukan baik secara langsung maupun melalui surat, 7) strategi Mts Negeri Yogyakarta II dalam meningkatkan partisipasi orang tua siswa, pihak sekolah membentuk persepsi positif yaitu aktif dan harmonis antara orang tua siswa dan madrasah, demikian pula peran pihak sekolah. panitia lebih efektif menjadi wadah penyalur aspirasi dan melibatkan langsung orang tua siswa dalam pelaksanaan berbagai program madrasah. Temuan penelitian ini adalah (1) dalam perencanaan pembelajaran pengelolaan kelas, hakikatnya sama dengan yang lain, selama anak berkebutuhan khusus dapat berpartisipasi maka siswa tersebut hendaknya masuk ke dalam kelas dan mengikuti semua kegiatan yang ada. Sedangkan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum reguler dengan sedikit penyesuaian tergantung kebutuhan siswa yang terlibat dan pihak yang terlibat dalam pembuatan perencanaannya adalah guru kelas dengan GPK. (2) Keterlaksanaan pembelajaran terlihat pada pengelolaan kelas yang kondusif, menarik, nyaman dan rapi. , pengaturan tempat duduk antara ABK dan siswa normal adalah satu dan strategi pengajaran yang digunakan adalah memberikan waktu lebih banyak dan memperbolehkan ABK keluar kelas jika keadaan psikologisnya tidak stabil; (3) Bentuk penilaian kelas kecil dan kelas besar ada dua.
Penelitian yang dilakukan oleh Winda Try Listyaningrum pada tahun 2009 berjudul “Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif (Studi Pola Pembelajaran Inklusif di Madrasah Aliyah Negri Maguwoharjo)”. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif terhadap peningkatan kecakapan hidup siswa dalam lingkungan yang majemuk. Penelitian ini tidak akan membahas hal-hal yang telah diteliti, namun akan mengkaji tentang partisipasi warga sekolah dalam pelaksanaan program pendidikan inklusif di SD Negeri Gejayan.
Program wajib belajar yang telah lama dicanangkan oleh pemerintah, hendaknya disambut dengan peningkatan pelayanan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas baik secara kuantitas maupun kualitas, hal ini tertuang dalam UUD 1945 pada pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. , juga dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang memberikan warna baru terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas, dalam penjelasannya disebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas atau kecerdasan luar biasa dilaksanakan secara komprehensif atau dalam bentuk sekolah luar biasa. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas dan berpotensi memiliki kecerdasan dan/atau bakat khusus pada pasal 2 menyatakan bahwa: “Pendidikan inklusif bertujuan untuk: a) memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi dirinya. . peserta didik yang mempunyai kelainan jasmani, emosi, mental, dan sosial, atau mempunyai potensi kemampuan dan/atau bakat khusus untuk memperoleh pendidikan bermutu sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Perhatian ini diberikan pada pentingnya partisipasi berbagai pihak dalam berbagai permasalahan dalam pelaksanaan program pendidikan inklusif.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu dari beberapa provinsi di Indonesia yang telah menerapkan pendidikan inklusif. Penelitian tentang partisipasi warga sekolah dalam pelaksanaan program pendidikan inklusif menitikberatkan pada partisipasi warga sekolah dalam pelaksanaan, pengambilan keputusan dan bentuk pengambilan keputusan, perencanaan, pemantauan dan/atau evaluasi pendidikan sekolah, serta pelaksanaan program pendidikan inklusif. dukungan atau hambatan yang dihadapi. dalam implementasinya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas dan mempunyai potensi kecerdasan dan/atau bakat.