• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOKUMEN PROPOSAL LENGKAP DAFTAR ISI DAN DAFTAR PUSTAKA

N/A
N/A
anjelika banase03

Academic year: 2025

Membagikan "DOKUMEN PROPOSAL LENGKAP DAFTAR ISI DAN DAFTAR PUSTAKA"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

SELF REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA BIMBINGAN KONSELING UNDANA DITINJAU DARI JARAK TEMPAT TINGGAL

PROPOSAL

Diajukan Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh :

Angelika Claudia Banase NIM . 2101160017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA 2025

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah... 4

1.3 Tujuan Penelitian...5

1.4 Manfaat Penelitian...5

1.5 Definisi Operasional...6

BAB II KAJIAN PUSTAKA...7

2.1 Self regulated Learning...7

2.1.1 Pengertian self Regulated Learning...7

2.1.2 Aspek-aspek Self Regulated Learning...8

2.1.3 Faktor yang mempengaruhi Self Regulated Learning...10

2.1.4 Karakteristik dalam Self regulated Learning...12

2.1.5 Strategi Self-Regulated Learning...13

2.2 Jarak Tempat Tinggal...14

2.3 Penelitian Relevan...16

2.4 Karangka Berpikir...16

2.5 Hipotesis... 17

BAB III METODE PENELITIAN...18

3.1 Lokasi dan Waktu penelitian...18

3.1.1 Lokasi...18

3.1.2 Waktu... 18

3.2 Instrumen Bahan penelitian...18

3.3 Jenis Penelitian dan Desain Penelitian...19

3.3.1 Jenis Penelitian...19

3.3.2 Desain Penelitian... 19

3.4 Populasi dan Sample...20

3.4.1 Populasi...20

3.4.2 Sampel... 21

3.5 Variabel Penelitian...22

(3)

3.6 Uji Coba instrumen... 22

3.6.1 Uji Validitas...22

3.6.2 Uji Reabilitas... 23

3.7 Teknik Analisis Data...25

3.7.1 Analisis Deskriptif...25

3.7.2 Uji Asumsi Klasik... 26

3.7.3 Uji Hipotesis Menggunakan Beda/t-Test...27

3.8 Skema Alur Penelitian... 28

DAFTAR PUSTAKA...29

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pendidikan Tinggi memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena menjadi wadah utama dalam pengembangan potensi akademik amupun non akademik mahasiswa (Halean et al., 2021). Melalui proses pendidikan yang terstruktur, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis tetapi juga keterampilan praktis yang relevan. Perguruan tinggi bertanggung jawab dalam membentuk individu yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, berinovasi serta adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mencapai tujuan tersebut, mahasiswa perlu dibekali dengan berbagai kemampuan dasar, seperti kemampuan belajar mandiri, kedisiplinan, pengolahan waktu dan tanggung jawab akademik. Kemampuan ini tidak hanya untuk keberhasilan studi di perguruan tinggi tetapi juga menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk memiliki kesadaran dan kemampuan dalam mengelola belajarnya secara mandiri dan terarah. Dalam hal ini mahasiswa menjadi subjek aktif yang harus mampu merancang strategi belajar, motivasi diri sendiri, serta evaluasi pencapaianya secara berkala (Johar et al., 2021).

Regulasi diri adalah upaya individu dalam mengatur dirinya selama menjalani suatu aktivitas, dengan melibatkan kemampuan metakognitif, motivasi internal, dan perilaku aktif (Yundani, 2022). Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam proses pembelajaran, khususnya dalam lingkungan pendidikan tinggi yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab belajar dari setiap mahasiswa. Regulasi diri tidak hanya membantu individu dalam merencanakan dan mengorganisasi aktivitas belajar, tetapi juga dalam mengatasi hambatan yang muncul selama proses tersebut. Mahasiswa yang memiliki regulasi diri yang baik akan lebih mampu mengendalikan emosinya, mempertahankan motivasi belajar, serta menyesuaikan strategi ketika

(5)

mengalami kesulitan akademik. Dengan kata lain, regulasi diri memungkinkan mahasiswa untuk menjadi pembelajar aktif yang tidak sekadar mengikuti arahan, tetapi mampu mengarahkan dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri. Oleh karena itu, regulasi diri sangat erat kaitannya dengan efektivitas self-regulated learning dalam mendukung pencapaian tujuan akademik yang optimal.

Self-regulated learning adalah sebuah usaha dari mahasiswa dalam menetapkan tujuan, merencanakan strategi belajar, melaksanakan, dan mengevaluasi untuk memperbaiki proses belajar dengan strategi yang dirasa paling tepat (Satrio et al., 2021). Dalam konteks pembelajaran di perguruan tinggi, kemampuan ini menjadi sangat penting karena mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam mengelola proses belajar, tanpa bergantung sepenuhnya pada dosen atau lingkungan formal kelas. Mahasiswa yang memiliki kemampuan regulasi diri yang baik cenderung lebih mampu menetapkan tujuan belajar, memilih strategi yang tepat, mengelola waktu, serta melakukan refleksi terhadap pencapaian akademiknya.Kemampuan ini memungkinkan mahasiswa untuk tetap fokus dan konsisten dalam proses belajar, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan akademik maupun lingkungan.

Salah satu tantangan lingkungan yang berpotensi memengaruhi efektivitas self-regulated learning adalah jarak tempat tinggal mahasiswa dari kampus.

Mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus cenderung menghadapi keterbatasan waktu, kelelahan fisik akibat perjalanan, serta akses yang lebih terbatas terhadap fasilitas akademik seperti perpustakaan, pusat belajar, atau layanan bimbingan dosen. Kondisi ini dapat menghambat kemampuan mahasiswa dalam merancang dan menjalankan strategi belajar secara mandiri, terutama dalam hal manajemen waktu dan konsistensi belajar. Sebaliknya, mahasiswa yang tinggal lebih dekat memiliki fleksibilitas waktu yang lebih tinggi, kemudahan akses terhadap sumber daya akademik, dan peluang lebih besar untuk terlibat aktif dalam kegiatan perkuliahan.

Berdasarkan fenomena yang terjadi pada hasil Pra penelitian pada mahasiswa prodi Bimbingan Konseling Universitas Nusa Undana, terlihat

(6)

bahwa mahasiswa yang jarak tempat tinggal dekat dengan kampus berinisial F.K yang tidak memiliki kendaraan, karena tempat tinggalnya hanya berjarak 550 meter dapat dengan mudah berjalan kaki ke kampus. Kemudahan akses ini membuat F.K tidak memiliki kendala dalam kehadiran perkuliahan, tetapi di sisi lain, F.K mengakui sering mengalami kesulitan dalam mengatur jadwal belajar secara mandiri. F.K cenderung sering menunda belajar karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan organisasi daerah, hal ini berdampak pada kurangnya disiplin dalam menetapkan prioritas yang berkaitan kegiatan akademik. F.K mengakui belajar hanya pada saat mendekati Ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Meskipun jarak tempat tinggal dengan kampus dekat, namun F.K kurang dapat mengatur jadwal belajar yang teratur .F.K sering menunda karena sibuk dengan kegiatan organisasi. walaupun jaraknya dekat dengan kampus.

Berbeda dengan F.K., mahasiswa lain berinisial D.I. yang memiliki jarak tempat tinggal 4,3 kilometer dari kampus menghadapi tantangan tersendiri.

Perjalanan panjang tanpa kendaraan sering kali membuatnya kelelahan, sehingga berdampak pada konsentrasi di kelas dan mengurangi waktu belajar mandiri. Selain itu, keterbatasan transportasi memaksanya bergantung pada layanan ojek online seperti maxim, yang tidak hanya memakan waktu tetapi juga menambah beban ekonomi akibat biaya perjalanan yang terus meningkat.

Meskipun awalnya terbiasa, kelelahan ini semakin mengganggu pemahaman materi, terutama saat mengikuti kuliah siang. Waktu perjalanan yang menguras energi menyebabkan D.I. lebih sering belajar di malam hari, terutama menjelang ujian ujian semester atau tenggat pengumpulan tugas. Untuk tetap memahami materi, D.I berusaha memanfaatkan waktu sela perkuliahan dengan meninjau materi dan berdiskusi dengan teman-teman yang tinggal dekat kampus. Namun, tantangan terbesar yang masih dihadapinya adalah manajemen waktu yang belum optimal.

Penelitian terdahulu yang dilakukan (Fasikhah et al., 2013) dengan judul

Self-Regulated Learning  Dalam Meningkatkan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelompok yang diberi

(7)

pelatihan Self regulated learning memiliki prestasi akademik lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak diberi pelatihan Self- Regulated Learning dalam meningkatkan prestasi akademik pada mahasiswa dengan nilai p< 0,003.

Penelitian mengenai self-regulated learning telah banyak dilakukan dan terbukti berpengaruh terhadap peningkatan prestasi akademik mahasiswa, sebagian besar masih berfokus pada aspek internal mahasiswa. Belum banyak penelitian yang secara khusus meninjau bagaimana faktor eksternal seperti jarak tempat tinggal dari kampus memengaruhi kemampuan self-regulated learning, t erutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan.. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik melakukan penelitian tentang tentang ‘’Self Regulated Learning Pada Mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Ditinjau Dari Jarak Tempat Tinggal’’

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana gambaran self regulated learning pada mahasiswa program Studi Bimbingan Dan Konseling ditinjau dari jarak tempat tinggal dekat 2. Bagaimana gambaran self regulated learning pada mahasiswa program

Studi Bimbingan Dan Konseling ditinjau dari jarak tempat tinggal jauh 3. Apakah ada perbedaan self regulated learning pada mahasiswa berdasarkan

jarak tempat tinggal jauh dan dekat

(8)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Untuk mengetahui gambaran self regulated learning pada mahasiswa program Studi Bimbingan Dan Konseling ditinjau dari jarak tempat tinggal dekat

2. Untuk mengetahui gambaran self regulated learning pada mahasiswa program Studi Bimbingan Dan Konseling ditinjau dari jarak tempat tinggal jauh

3. Mengetahui perbedaan self regulated learning pada mahasiswa berdasarkan jarak tempat tinggal jauh dan dekat.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Memberikan tambahan referensi dan pengetahuan berkaitan dengan bagaimana bagaimana gambaran self regulated learning pada mahasiswa , Tentu saja akan menjadi bahan juga untuk dapat dilakukan kajian yang lebih dalam dengan topik yang sama

2. Manfaat Praktis a. Bagi Mahasiswa

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman self regulated learning dan mengembangkan strategi belajar mandiri yang efektif,terutama bagi mahasiswa yang tinggal dekat dari kampus maupun jauh dari kampus tanpa kendaraan

b. Bagi Prodi Bimbingan dan konseling

Dengan adanya penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi program studi dalam merancang layanan bimbingan yang lebih tepat sasaran untuk membantu mahasiswa mengatasi tantangan akademik akibat keterbatasan akses ke kampus.

(9)

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan penelitian yang lebih dalam dan komprehensif dengan mempelajari penelitian yang telah ada.

1.5 Definisi Operasional

Self regulated learning ialah suatu kemampuan dimana seseorang dapat mengaktifkan dan mendorong pemikiran (kognisi), perasaan (afeksi), dan tindakan (aksi) yang telah direncanakan secara sistematis dan berulang yang berorientasi untuk mencapai suatu tujuan dalam belajarnya. Aspek dari Self regulated Learning antara lain kognitf, afektif, motivasi, dan perilaku.

(10)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1.6 Self regulated Learning

1.6.1 Pengertian self Regulated Learning

Self-Regulated Learning merupakan proses aktif dan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakan mereka dalam mencapai tujuan belajar. Menurut Zimemerman (Rahmawati et al. 2024) Self-Regulated Learning merupakan proses aktif dan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakan mereka dalam mencapai tujuan belajar. Self-Regulated Learning terdiri dari tiga fase utama, yaitu perencanaan (forethought), pelaksanaan (performance), dan refleksi diri (self-reflection). Dalam setiap fase tersebut, siswa menerapkan strategi tertentu untuk merancang tujuan, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajar. Model ini menekankan pentingnya kontrol diri dalam mencapai hasil belajar yang optimal, serta mengintegrasikan aspek kognitif, metakognitif, dan motivasional. terdiri dari tiga fase utama, yaitu perencanaan (forethought), pelaksanaan (performance), dan refleksi diri (self- reflection). Dalam setiap fase tersebut, individu menerapkan strategi tertentu untuk merancang tujuan, memantau kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajar.

Model ini menekankan pentingnya kontrol diri dalam mencapai hasil belajar yang optimal, serta mengintegrasikan aspek kognitif, metakognitif, dan motivasional.

Selanjutnya (John, 2021) mengatakan bahwa self-regulated learning tidak hanya mencakup merencanakan dan mengendalikan aktivitas belajar tetapi juga bagaimana individu menggunakan teknologi untuk mendukung lingkungan belajar mereka. Dalam konteks lingkungan belajar pintar, self-regulated learning menekankan penggunaan strategi belajar yang fleksibel, seperti menggunakan teknologi untuk memonitor dan mengevaluasi diri secara real- time.

(11)

Selain itu menurut (Minxia, 2023) Self-Regulated Learning sangat penting untuk pendidikan jarak jauh, terutama untuk membangun keterampilan pada abad ke-21 seperti kreativitas, berpikir kritis, dan kemandirian. Ini memungkinkan untuk tetap fokus dan termotivasi meskipun belajar dalam lingkungan yang tidak terstruktur. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan individu untuk mengatur waktu, menetapkan tujuan, dan menilai kemajuan  secara berkala sangat berpengaruh pada keberhasilan indivudu dalam pembelajaran online.

Berdasarkan pemaparan teori dari para tokoh diatas, dapat disimpulkan Self-Regulated Learning yaitu proses aktif dan konstruktif di mana seseorang secara sadar mengatur pikiran, perasaan, dan tindakannya untuk mencapai tujuan belajarnya. Self-Regulated Learning terdiri dari tiga tahap utama:

perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi diri. Masing-masing tahap memerlukan strategi untuk merancang tujuan, melacak kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajar. Model ini menggabungkan elemen motivasional, kognitif, dan metakognitif. Ini juga menekankan betapa pentingnya memiliki kontrol diri untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Dalam era teknologi dan pembelajaran jarak jauh, Self-Regulated Learning juga mencakup pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses belajar yang mandiri, fleksibel, dan real- time. Ini sangat penting untuk membangun keterampilan abad ke-21 seperti pengelolaan waktu, kreativitas, dan berpikir kritis.

1.6.2 Aspek-aspek Self Regulated Learning

Self-Regulated Learning terdiri atas beberapa aspek utama yang saling terkait dan berperan penting dalam membentuk kemampuan individu dalam mengelola pembelajarannya secara mandiri. Menurut (Zubaidah, 2020), terdapat tiga aspek fundamental dalam Self-Regulated Learning , yaitu aspek kognitif, metakognitif, dan motivasional.

1. Aspek Kognitif

(12)

Aspek ini berkaitan dengan kemampuan individu dalam menggunakan strategi belajar untuk memahami, mengorganisasi, dan menyimpan informasi. Strategi kognitif mencakup teknik-teknik seperti mencatat, menyoroti, membuat peta konsep, dan latihan pengulangan. Tujuannya adalah untuk memperkuat daya serap dan pemahaman terhadap materi.

Dalam pembelajaran, aspek ini sering dikaitkan dengan penggunaan alat bantu atau media pembelajaran yang mampu menstimulasi aktivitas berpikir seperti diskusi kelompok, lembar kerja, atau visualisasi informasi. Individu yang menguasai strategi kognitif mampu memilih dan menerapkan teknik belajar yang sesuai dengan kebutuhan tugas dan karakteristik materi.

2. Aspek Metakognitif

Aspek metakognitif mencakup kesadaran dan pengendalian terhadap proses berpikir seseorang dalam belajar. Ini mencakup tiga proses penting:

a. perencanaan (planning) – kemampuan merancang tujuan belajar, memilih strategi, dan mengalokasikan waktu serta sumber daya;

b. pemantauan (monitoring) – memeriksa kemajuan belajar secara berkala, serta

c. evaluasi – menilai keberhasilan strategi yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai.

Menurut (Zubaidah, 2020), individu yang memiliki kemampuan metakognitif tinggi akan cenderung lebih reflektif dan fleksibel dalam mengelola kesulitan belajar karena mereka terbiasa mengevaluasi strategi dan memperbaikinya secara mandiri.

3. Aspek Motivasi

Motivasi adalah motor penggerak dari keseluruhan proses Self- Regulated Learning. Tanpa adanya motivasi, baik intrinsik maupun ekstrinsik, strategi kognitif dan metakognitif tidak akan diterapkan

(13)

secara optimal. Aspek ini berkaitan dengan keyakinan diri (self-efficacy ), harapan akan hasil belajar (outcome expectations), serta nilai yang diberikan individu terhadap pembelajaran. Individu dengan motivasi belajar yang tinggi akan lebih gigih, antusias, dan tahan terhadap kegagalan dalam proses pembelajaran.motivasi yang tinggi juga mendorong seseorang untuk menetapkan tujuan yang menantang dan mencari umpan balik secara aktif.

Berdasarkan penjelasan diatas peneliti mengambil kesimpulan Self- Regulated Learning mencakup tiga aspek penting kognitif, metakognitif, dan motivasional—yang saling mendukung dan berkontribusi dalam kemampuan mahasiswa mengatur proses belajarnya secara mandiri. Aspek kognitif menitikberatkan pada penggunaan strategi untuk memahami dan menyimpan informasi, aspek metakognitif melibatkan aktivitas merencanakan, memantau, dan menilai proses belajar, sedangkan aspek motivasional berperan sebagai penggerak utama yang menentukan keberlanjutan dan efektivitas penerapan strategi pembelajaran tersebut.

1.6.3 Faktor yang mempengaruhi Self Regulated Learning

Self-Regulated Learning tidak terjadi secara alami, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor utama yaitu individu (self-efficacy), perilaku dan lingkungan. Menurut Zimemerman (Navyola, 2022), terdapat beberapa faktor penting yang menentukan sejauh mana individu mampu mengelola pembelajarannya secara mandiri yakni .

1. Faktor Individu

Faktor individu menyoroti karakteristik internal yang dimiliki oleh individu, khususnya yang berkaitan dengan self-efficacy atau efikasi diri. Efikasi diri mengacu pada keyakinan seseorang akan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan tertentu. Hal ini sangat penting karena mempengaruhi cara individu menghadapi tantangan, kesulitan, dan kegagalan dalam proses

(14)

pembelajaran. Individu dengan tingkat efikasi diri yang tinggi cenderung lebih optimis, tidak mudah menyerah, dan lebih gigih dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sulit. Sebaliknya,seseorang yang memiliki efikasi diri rendah sering kali menghindar dari tantangan, cepat merasa putus asa, dan meragukan kemampuan sendiri. Efikasi diri tidak muncul secara tiba-tiba; berkembang dari pengalaman sebelumnya, pengaruh sosial (seperti dukungan dan umpan balik dari guru atau teman), serta refleksi terhadap keberhasilan dan kegagalan yang dialami. Oleh karena itu, penguatan efikasi diri menjadi elemen krusial dalam membentuk kemandirian belajar individu.

2. Faktor Perilaku

Faktor perilaku dalam pembelajaran yang teratur mengacu pada bagaimana individu mengelola tindakan selama proses belajar.

Terdapat tiga komponen utama dalam faktor ini yakni observasi diri (self-observation), penilaian diri (self-judgment), dan reaksi diri (self- reaction). Observasi diri adalah kemampuan individu untuk memantau dan mencatat apa yang dilakukan selama belajar, termasuk memperhatikan waktu yang digunakan, metode yang diterapkan, serta sejauh mana mereka memahami materi. Penilaian diri melibatkan evaluasi terhadap sejauh mana seseorang berhasil mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, dengan membandingkan hasil aktual dengan standar atau harapan yang ingin dicapai. Di sisi lain, reaksi diri merupakan respons individu terhadap hasil evaluasi tersebut, yang bisa berupa rasa puas, kekecewaan, dorongan untuk mencoba lagi, atau penyesuaian strategi belajar. Ketiga proses ini berlangsung secara berkala dalam siklus belajar, yang memungkinkan individu untuk terus meningkatkan dan mengelola proses pembelajaran secara mandiri. Dengan mengembangkan keterampilan ini, individu akan menjadi lebih menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta mampu mengambil keputusan belajar yang lebih tepat dan efektif.

(15)

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan mencakup semua elemen eksternal yang memengaruhi proses belajar individu, baik dalam bentuk lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik mencakup tempat belajar yang nyaman, akses terhadap sumber belajar (seperti buku atau internet), serta waktu yang cukup untuk belajar. Lingkungan fisik yang mendukung dapat membantu berkonsentrasi dan fokus dalam belajar.

Sementara itu, lingkungan sosial meliputi hubungan interpersonal yang terjalin dengan orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga, guru, teman sebaya, dan komunitas belajar. Salah satu aspek penting dari lingkungan sosial adalah dukungan sosial, yang dapat berwujud motivasi, dorongan emosional, atau bantuan langsung dari orang lain.

Dukungan yang diberikan oleh orang tua dan guru, misalnya, memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan rasa percaya diri serta komitmen terhadap proses belajar. Interaksi yang positif dan keberadaan panutan yang baik dalam lingkungan sosial juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi individu untuk mengembangkan kemandirian dalam belajar. Dengan demikian, lingkungan yang kondusif berfungsi sebagai pendorong eksternal yang memperkuat niat dan usaha individu dalam mengatur serta mengelola proses belajar mereka sendiri.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Self-Regulated Learning dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu individu, perilaku, dan lingkungan.

Faktor individu mencakup efikasi diri, yang menentukan sejauh mana seseorang percaya pada kemampuannya dalam belajar. Faktor perilaku mencakup kemampuan mengamati, menilai, dan merespons proses belajar secara mandiri. Sementara itu, faktor lingkungan meliputi dukungan fisik dan sosial yang menunjang motivasi serta konsistensi belajar. Ketiganya saling berinteraksi dalam membentuk kemandirian dan efektivitas belajar seseorang.

(16)

1.6.4 Karakteristik dalam Self regulated Learning

Karakteristik Self-Regulated Learning menurut Rochester Institut Of Technology (Sihaloho, 2016) mengemukakan karakteristik individu yang memiliki Self Regulated Learning adalah

1. Memiliki kemandirian dalam tugas yang diberikan kepada seseorang dan membuat perencanaan dalam mengatur pengguanaan waktu serta sumber-sumber yang dimiliki baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun dari luar pada saat menyelesaikan tugas

2. Memiliki need for challenge, artinya individu memilki kecenderungan untuk menyesuaikan diri terhadap kesulitan yang dihadapinya pada saat mengerjakan tugas dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan pada suatu hal yang menarik dan menyenangkan.

3. Mengetahui bagaimana menggunakan sumber-sumber yang ada, baik yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya serta melakukan pemantauan terhadap proses belajar. disamping itu individu juga melakukan evaluasi terhadap performasi dalam belajar.

4. memiliki kegigihan dalam belajar dan mempunyai strategi tertentu yang membantunya dalam belajar.

5. Individu yang melakukan Self Regulated Learning pada saat melakukan aktivitas membaca, menulis maupun berdiskusi dengan orang lain,mempunyai kecenderungan untuk membuat suatu pengertian atau maknadari apa yang dibaca, ditulis maupun didiskusikannya.

6. Menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki bukanlah satu- satunya faktoryang mendukung kesuksesan dalam meraih

(17)

prestasi belajar, melainkanjuga dibutuhkan strategi dan upaya gigih dalam belajar.

Dari penjelasan diatas peneliti mengambil kesimpulan yaitu Individu yang memiliki Self-Regulated Learning ditandai dengan kemandirian, kemampuan merencanakan dan mengelola sumber daya, serta kegigihan dalam belajar.

Individu mampu melihat tantangan sebagai peluang, menggunakan strategi yang tepat, melakukan pemantauan dan evaluasi diri, serta memahami bahwa keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada kemampuan, tetapi juga pada usaha dan strategi yang konsisten.

1.6.5 Strategi Self-Regulated Learning

Strategi self-regulated learning merupakan pendekatan belajar yang menekankan pada keterlibatan aktif individu dalam mengatur proses belajarnya sendiri, yang terdiri dari tiga fase utama, yaitu fase forethought, performance, dan self-reflection Menurut Zimmerman (Ulum, 2016). Pada fase forethought, strategi yang digunakan adalah penetapan tujuan dan perencanaan strategi.

Dalam tahap ini, peserta didik menetapkan tujuan belajar yang jelas dan spesifik serta merancang langkah-langkah atau metode yang tepat untuk mencapainya.

Proses ini menjadi dasar motivasional yang kuat dalam memandu kegiatan belajar berikutnya.

Selanjutnya, pada fase performance, terdapat beberapa strategi yang digunakan dalam pelaksanaan proses belajar. Pertama, penggunaan strategi yang ampuh, yaitu penerapan teknik kognitif dan metakognitif yang sesuai untuk memahami, mengorganisasi, dan mengingat informasi secara efektif. Kedua, pengaturan konteks lingkungan fisik dan sosial, yang mencakup kemampuan peserta didik dalam mengelola kondisi lingkungan agar mendukung konsentrasi dan efektivitas belajar. Ketiga, pengelolaan penggunaan waktu yang berfokus pada kemampuan individu dalam mengalokasikan waktu belajar secara efisien dan terstruktur. Keempat, pengawasan selektif atau self-monitoring, yaitu proses

(18)

pemantauan secara sadar terhadap kemajuan belajar dan efektivitas strategi yang digunakan selama pelaksanaan.

Fase terakhir adalah self-reflection, yang mencakup tiga strategi utama.

Evaluasi diri merupakan proses menilai keberhasilan belajar berdasarkan pencapaian tujuan dan efektivitas strategi yang diterapkan. Setelah itu, atribusi penyebab dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan, baik yang bersumber dari dalam diri seperti usaha dan strategi, maupun dari luar seperti kondisi lingkungan atau materi pembelajaran. Terakhir, adaptasi metode selanjutnya merupakan proses perbaikan dan penyesuaian terhadap strategi belajar yang akan digunakan pada kesempatan berikutnya berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi sebelumnya.

Ketiga fase dan delapan strategi tersebut membentuk satu siklus belajar yang berkelanjutan, yang mendukung peserta didik menjadi pembelajar yang mandiri dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.

Dari penjabaran strategi self regulated learning diatas peneliti mengambil kesimpulan Strategi Self-Regulated Learning terdiri dari tiga fase utama forethought, performance, dan self-reflection yang membentuk siklus belajar berkelanjutan. Setiap fase melibatkan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, serta evaluasi dan penyesuaian strategi belajar. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk belajar secara mandiri, terstruktur, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.

1.7 Jarak Tempat Tinggal

Jarak tempat tinggal merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi efektivitas belajar mahasiswa, terutama dalam hal pengelolaan waktu, tingkat kelelahan fisik, dan akses terhadap fasilitas akademik. Menurut (Libunelo et al., 2018), jarak adalah ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat. Dalam konteks pendidikan tinggi, jarak tempat tinggal merujuk pada sejauh mana lokasi tempat tinggal mahasiswa dari kampus sebagai pusat kegiatan akademik. (Floristia et al., 2020)menjelaskan bahwa tempat tinggal mencakup berbagai bentuk seperti rumah sendiri, kos, kontrakan, atau menumpang di rumah keluarga. Jarak tempuh yang jauh atau dekat dapat

(19)

menimbulkan konsekuensi yang berbeda terhadap aktivitas akademik mahasiswa. Mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus cenderung membutuhkan waktu dan energi lebih untuk mencapai lokasi perkuliahan, sedangkan mahasiswa yang tinggal dekat umumnya memiliki waktu yang lebih fleksibel dan kemudahan akses terhadap sumber-sumber belajar di kampus.

Dalam penelitian ini, jarak tempat tinggal mahasiswa dikategorikan menjadi dua, yaitu:

1. Jarak tempat tinggal dekat, yaitu mahasiswa yang tinggal ,<1,5 kilometer dari kampus.

2. Jarak tempat tinggal jauh, yaitu mahasiswa yang tinggal > 1.5 kilometer dari kampus atau lebih jauh dari kampus.

Klasifikasi ini digunakan untuk melihat perbedaan pengaruh jarak tempat tinggal terhadap kemampuan Self-Regulated Learning pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Nusa Cendana, khususnya mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus dan tidak memiliki kendaraan umumnya harus berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, yang dapat mengurangi waktu belajar dan meningkatkan kelelahan. Hal ini berpotensi menjadi hambatan dalam menerapkan regulasi diri dalam belajar secara optimal. Di sisi lain, mahasiswa yang tinggal dekat dengan kampus memiliki keunggulan dari segi efisiensi waktu dan akses langsung terhadap fasilitas pembelajaran seperti perpustakaan, ruang diskusi, dan layanan akademik. Namun demikian, kedekatan jarak belum tentu menjamin tingkat Self-Regulated Learning yang tinggi. Faktor seperti motivasi pribadi, manajemen waktu, dan kebiasaan belajar juga turut memengaruhi efektivitas belajar mandiri mahasiswa.Dengan demikian, jarak tempat tinggal merupakan salah satu faktor lingkungan yang perlu dikaji dalam hubungannya dengan kemampuan Self-Regulated Learning, terutama dalam konteks mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan sebagai alat mobilitas utama.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa jarak tempat tinggal merupakan faktor eksternal yang dapat memengaruhi efektivitas Self Regulated Learning mahasiswa. Mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus (≥ 1 km)

(20)

cenderung menghadapi tantangan seperti keterbatasan waktu dan kelelahan fisik yang dapat menghambat proses belajar mandiri, terutama bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Sementara itu, mahasiswa yang tinggal dekat dari kampus (< 1 km) memiliki akses waktu dan sumber belajar yang lebih baik, namun belum tentu menunjukkan regulasi diri yang optimal karena dipengaruhi oleh faktor lain seperti motivasi dan kedisiplinan.

1.8 Penelitian Relevan

Untuk mendukung penelitian ini, maka penulis mengemukakan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian ini, diantaranya yaitu:

1. Hasil penelitian yang dilakukan (Tsusayya et al., 2021) yang berjudul

"Motivasi Belajar dan Self Regulated Learning pada Mahasiswa dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh" Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Self Regulated Learning pada mahasiswa yang mengikuti pembelajaran jarak jauh. Hasil analisis menunjukkan bahwa motivasi belajar menyumbang 41,1% terhadap variabilitas Self Regulated Learning, dengan nilai signifikansi 0,000 (p <

0,05).

2. Penelitian yang dilakukan oleh Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Musdalizah Dewantari, 2023) yang berjudul “Hubungan Self-Regulated Learning dan Resiliensi Akademik pada Mahasiswa yang Bekerja”

menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat self-regulated learning tinggi cenderung memiliki resiliensi akademik yang tinggi pula.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara self-regulated learning dan resiliensi akademik mahasiswa. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Self-Regulated Learning menyumbang sebesar 36,8% terhadap variabel resiliensi akademik, dengan nilai signifikansi 0,002 (p < 0,05).

1.9 Karangka Berpikir

Sugiyono (Akbar & Subariyanti, 2023) mengemukakan bahwa kerangka berpikir diartikan sebagai teori yang berhubungan dengan berbagai faktor yang di identifikasi sebagai masalah dalam penelitian. Berdasarkan kajian teori di

(21)

atas dapat dirumuskan tentang Self Regulated Learning mahasiswa bimbingan konseling undana di tinjau dari jarak tempat tinggal. Kerangka berpikir sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Dari skema kerangka berpikir di atas di jelaskan bahwa Jarak tempat tinggal mahasiswa (jauh atau dekat dari kampus) dapat memengaruhi tingkat self-regulated learning mereka. Dari perbedaan pengaruh ini kemudian dianalisis dalam tiga aspek utama: kognisi, motivasi, dan perilaku.

1.10 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap suatu masalah, jika peneliti telah mendalami permasalahan suatu penelitiannya dengan akurat serta menetapkan anggapan dasar , kemudian membuat sebuah teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran).

Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha = Terdapat perbedaan self regulated learning mahasiswa bimbingan dan konseling undana ditinjau dari jarak tempat tinggal .

Self regulated learning

1. Metakognisi 2. Motivasi 3. perilaku

Mahasiswa jarak tempat tinggal yang dekat dengan kampus Mahasiswa jarak tempat tinggal yang jauh dari kampuskampus

(22)

H0 = Tidak terdapat perbedaan self regulated learning mahasiswa bimbingan dan konseling undana ditinjau dari jarak tempat tinggal

(23)

BAB III

METODE PENELITIAN

1.11 Lokasi dan Waktu penelitian 1.11.1 Lokasi

Lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah di Kampus B UNDANA, JI. S.K Lerik - Kelapa Lima-Kota Kupang

1.11.2 Waktu

Penelitian ini memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan setelah seminar proposal

1.12 Instrumen Bahan penelitian

Teknik pengumpulan data merupakan salah satu cara yang digunakan dalam mendapatkan data di lapangan. Sugiyono (2019), menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian, sebagai goal utama dari penelitian ialah memperoleh informasi.

Dalam pengumpulan data ini penulis harus mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan dengan mengenali cara pengumpulan data sebelumnya. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala psikologis. Pengambilan data yang dilakukan dengan meminta responden untuk menilai pernyataan dengan beberapa tingkat persetujuan atau ketidak setujuan. Pertanyaan atau pernyataan dalam penelitian ini berbentuk tertutup yang dimana responden memberikan jawaban singkat dan cepat atau responden dapat memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Skala psikologis dalam penelitian ini menggunakan model skala Likert.

Dengan model skala Likert responden memilih jawaban dari variabel yang telah menjadi bagian dari indikator variabel dan indikator variabel tersebut mempunyai masing-masing item instrumen yang menjadi tolak ukur dalam setiap pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan

(24)

model skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Artinya bahwa pernyataan yang digunakan bersifat favourabel (pertanyaan yang mendukung) dan unfavourabel (pertanyaan yang tidak mendukung), sehingga pilihan jawaban dari pertanyaan seperti sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Peneliti tidak menggunakan pilihan jawaban ragu-ragu agar mahasiswa akan memilih jawaban yang lebih pasti sesuai dengan keadaan dirinya.

Tabel 3.1 Tabel Skala Likert

No. Favourabel Skor Unfavourabel Skor

1. Sangat Sesuai (SS) 4 Sangat Sesuai (SS) 1

2. Sesuai (S) 3 Sesuai (S) 2

3. Tidak Sesuai (TS) 2 Tidak Sesuai (TS) 3

4. Sangat Tidak Sesuai (STS)

1 Sangat Tidak Sesuai (STS)

4

1.13 Jenis Penelitian dan Desain Penelitian 1.13.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan merupakan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan suatu metode penelitian yang menggunakan banyak angka yang kemudian di analisis. Penelitian kuantitatif ini digunakan oleh penulis untuk mengetahui perbedaan self regulated learning Mahasiswa bimbingan konseling undana ditinjau dari jarak tempat tinggal.

1.13.2 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian komparatif, karena tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan Self Regulated Learning ditinjau dari jarak tempat tinggal.

Menurut Sugiyono (2016), penelitian komparatif merupakan jenis

(25)

penelitian yang membandingkan keadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau dua waktu yang berbeda.

1.14 Populasi dan Sample 1.14.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2010) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penilai untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulanya. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa bimbingan konseling Universitas nusa cendana kupang alasan dipilih terkait Self-Regulated Learning karena keterampilan penting yang harus dikuasai untuk mendukung peran mereka sebagai calon konselor.

Memahami bagaimana faktor jarak tempat tinggal tanpa kendaraan memengaruhi SRL mereka dapat memberikan wawasan berharga dalam pengembangan strategi belajar yang lebih efektif serta bimbingan akademik yang lebih tepat sasaran.

Tabel 3.2

Populasi Mahasiswa Bimbingan konseling undana terkait self regulated learning ditinjau dari jarak tempat tinggal

No Sem/Kelas Tidak Mempunyai Kendaraan

Jumlah Jarak dekat

dibawah 1,5 km

Jarak jauh diatas 1,5

km

1. Semester II 30 24 54

2. Semester IV 35 27 62

3. Semester VI 32 23 55

Total Populasi

97 74 171

1.4.

(26)

1.14.2 Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik proportionate Stratified Random Sampling (PSRS), Proportionate Stratified Random Sampling adalah teknik pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proposional dengan setiap angkatan diambil 25% atau lebih tergantung pada:

1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana 2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek 3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti

Untuk itu peneliti mengambil 25 %. Adapun pengamabilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini berjumlah 171 mahaswa/i bimningan konseling Universitas Nusa Cendana Kupang Semester II,IV, dan VI yang jarak tempat tinggal dekat kampus <1,5 km dan Jarak jauh dari kampus >1,5 km. Dimana jumlah sampel Mahasiwa yang jarak tempat tinggal dekat kampus dibawah 1,5 km akan menyesuaikan dengan jumlah sampel mahasiswa yang tinggal Jarak jauh dari kampus diatas 1,5 km dan disajikan dalam tabel di bawah ini

Tabel 3.3

Sampel Mahasiswa Bimbingan konseling undana terkait self regulated learning ditinjau jarak tempat tinggal No Sem/Kelas Populasi Tidak Mempunyai

Kendaraan

Presentas e

Sampel Jarak

dekat dibawah

1,5 km

Jarak jauh diatas 1,5 km

Jarak dekat dibawah

1,5 km

Jarak jauh diatas 1,5 km

1. Semester II 54 30 24 25% 6 6

2. Semester IV

62 35 27 25% 7 7

3. Semester VI

55 32 23 25% 6 6

Total 38

(27)

Dengan demikian, jumlah total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 mahasiswa, yang terdiri dari:

 19 mahasiswa yang Jarak dekat kampus (<1,5 km)

 19 mahasiswa yang tinggal Jarak Jauh dari kampus (>1,5 km) 1.15 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini antara lain, variabel terikat yaitu self regulated learning dan variabel control dari penelitian ini adalah jarak tempat tinggal. Variabel terikat adalah variabel terikat adalah komponen penelitian yang sifatnya atau nilainya di pengaruhi oleh variabel bebas. Variabael control merupakan variabel yang dikendalikan sehingga pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. 

1.16 Uji Coba instrumen 1.16.1 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keaslian suatu tes. Suatu tes di katakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak di ukur. Mahasiswa Undana prodi pendidikan anak usia dini yang memiliki perbedaan jarak tempat tinggal (dekat dan jaut dari kampus tanpa kendaraan) dipilih untuk melakukan uji coba instrumen dalam mengukur tingkat Self-Regulated Learning. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria (Sugiyono, 2016). Dengan kriteria pengujian jika r hitung > r tabel dengan α = 0,05 (5%), dengan dua arah, derajat kebebasan/dk = N-2 maka alat ukur tersebut dinyatakan valid, dan sebaliknya apabila r hitung < r tabel maka alat ukur tersebut tidak valid.

Dalam menghitung validitas suatu item instrument peneliti menggunakan aplikasi excel dan IMB SPSS statistics 25. Cara mencari validitas suatu tes instrumen dengan menggunakan rumus korelasi Bivariate Pearson (product moment pearson) sebagai berikut:

(28)

Keterangan:

= koefisien validitas

N = jumlah subjek atau responden = jumlah skor butir pertanyaan = jumlah skor total pertanyaan

= jumlah perkalian skor butir dengan skor total

= total kuadrat skor butir pertanyaan

= total kuadrat skor total pertanyaan

Untuk menentukan valid atau tidaknya data dibuat dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Jika r hitung > dari r tabel dengan taraf signifikan 0,05, maka instrumen tersebut dikatakan valid.

2) Jika r hitung < dari r tabel dengan taraf signifikan 0,05, maka instrument tersebut dikatakan tidak valid.

1.16.2 Uji Reabilitas

Arikunto (2013), menjelaskan bahwa reliabel adalah instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Demikian halnya untuk mengetahui reliabilitas instrumen dihitung menggunakan rumus Cronbach’s Alpha dalam Suharsaputra (2018) sebagai berikut:

(29)

α=

[

KK−1

] [

1−

SD tSD b2 2

]

Keterangan :

α : Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach K : Jumlah item pernyataan yang diuji SDb2: Jumlah varins skor item

SDt2 : Varians skor-skor total (seluruh item)

Syarat untuk mengukur reliabilitas instrumen dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha sebagai berikut:

a. Jika nilai α > atau = r tabel maka instrumen penelitian dikatakan reliabel.

b. Jika nilai α < r tabel maka instrumen dikatakan tidak reliabel.

Adapun interpretasi nilai reliabilitas Alpha Cronbach dapat dilihat pada tabel berikut:s

Tabel 3.4

Interpretasi Nilai Reliabilitas Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,800 – 1,000 Sangat Tinggi

0,600 – 0,799 Tinggi

0,400 – 0,599 Agak Rendah

0,200 – 0,399 Rendah

0,000 – 0,19 Sangat Rendah

Sumber : (Arikunto, 2013)

(30)

1.17 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2019), analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Teknik analisis data merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengelola data penelitian agar memperoleh suatu kesimpulan.

1.17.1 Analisis Deskriptif

Teknik Analisis deskriptif merupakan teknik yang bertujuan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data mengenai subjek yang diteliti berdasarkan dari data yang telah terkumpul (Azwar, 2016). Dalam penelitian ini analisis deskriptif digunakan untuk Analisis deskriptif ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat Self-Regulated Learning mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Nusa Cendana berdasarkan jarak tempat tinggal mereka dari kampus (dekat dan jauh tanpa kendaraan). Data yang diperoleh pada penelitian melalui angket kemudian dihitung nilai responden masing-masing aspek. Sebelum menganalisa data hasil angket yang disebarkan masing-masing pernyataan diukur dengan skor 1 sampai 4 untuk peryataan unfavorable dan 4 sampai 1 untuk peryataan favorable.

Selanjutnya mencari nilai tertinggi dan nilai terendah dari skor tersebut dibuat panjang kelas interval. Dalam penyajian data peneliti Menghitung nilai rata- rata dan menghitung persentase (riduwan, 2017) dengan rumus sebagai berikut :

P = f n 100%

Keterangan:

P = Presentase yang dicari (frekuensi Relatif) F = Frekuensi Tiap Hasil

N = Jumlah Keseluruhan sampel.

(31)

Untuk mempermudah pembaca dibuat dalam bentuk tabel yang terdiri dari kategori, interval, frekuensi dan persentase. Dari tabel yang di buat peneliti menyakinkan data dalam bentuk grafik yang yang dapat di lihat secara visual sehingga perbedaan antara setiap data dapat dilihat lebih jelas dan lebih mudah dipahami.

1.17.2 Uji Asumsi Klasik

Sebelum melalukan uji hipotesis maka terlebih dahulu harus melakukan uji coba asumsi dasar sebagai persyaratan untuk dapat menggunakan analisis korelasi sebagai teknik analisis datanya. Uji asumsi dasar yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah setiap variabel berdistribusi normal atau tidak. Salah satu cara untuk mengetahui nilai normalitas adalah menggunakan uji Shapiro-Wilk menggunakan program bantu SPSS versi 26. Dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:

a. Jika nilai signifikan > 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal.

b. Jika nilai signifikan < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki varian yang sama. Adapun ketentuan homogenitas data sebagai berikut:

a. Jika nilai signifikan > 0,05 maka kelompok data berasal dari populasi yang memiliki varians yang sama (homogen)

b. Jika nilai signifikan < 0,05 maka kelompok data berasal dari populasi dengan varians yang berbeda (tidak homogen).

(32)

1.17.3 Uji Hipotesis Menggunakan Beda/t-Test

Uji hipotesis dilakukan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan dalam penelitian dapat diterima atau tidak. Pengujian hipotesis pada penelitian komparatif menggunakan uji beda/t-test yang bertujuan untuk melihat perbedaan diantara dua kelompok yang dibandingkan. Apakah kelompok tersebut berbeda satu sama lain ataukah sama dalam suatu variabel. Selain itu, uji beda atau t-test digunakan pada penelitian ini karena merupakan statistik parametrik dan sampel yang digunakan lebih dari 30. Pengujian ini akan dilakukan pada program komputer dengan menggunakan independent sample t-test melalui software SPSS versi 26.

Independent sampel t-test yaitu untuk mengamati perbedaan antara rata-rata dua kelompok sampel yang tidak berhubungan satu sama lain (Purwanto dalam Setiawan, 2014). Syarat utama dari uji tersebut adalah hanya ada satu variabel yang akan dibandingkan dan datanya berdistribusi normal. Adapun syarat pengambilan keputusan dalam uji independent t-test sebagai berikut:

1. Jika nilai Signifikansi (2-tailed) > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan Self regulated Learning

2. Jika nilai Signifikansi (2-tailed) < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada perbedaan Self regulated Learnin

(33)

1.18 Skema Alur Penelitian

Tahap Persiapan Penelitian -Menyiapkan Instrumen

-Melakukan Uji Coba Instrumen -Mengurus surat ijin penelitian

Tahap Pelaksanaan Penelitian

-Mengantar surat ijin penelitian ke lokasi -Menyebarkan instrumen penelitian -Pengisian instrumen oleh sampel penelitian

Tahap Laporan Penelitian

-Menganalis data

-Pembahasan hasil analisis data -Kesimpulan dan saran

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, R. V., & Subariyanti, H. (2023). Pengembangan Sumber Daya Manusia Berdasarkan Pengaruh Reward dan Motivasi Kerja Terhadap Produktivitas Kerja. Journal of Trends Economics and Accounting Research, 4(1), 84–97.

Fasikhah, S. S., & Fatimah, S. (2013). Self-regulated learning (SRL) dalam meningkatkan prestasi akademik pada mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(1), 145–155.

Floristia, S., Andhika, S., & Alawiyah, T. (2020). Pengaruh jarak tempat tinggal dengan kampus terhadap kosentrasi belajar mahasiswa di kelas. Natural Science: Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA, 6(1), 22–28.

Halean, S., Kandowangko, N., & Goni, S. Y. V. I. (2021). Peranan pendidikan dalam meningkatkan sumber daya manusia di SMA Negeri 1 Tampan Amma di Talaud. HOLISTIK, Journal of Social and Culture.

Johar, R., & Hanum, L. (2021). Strategi belajar mengajar: untuk menjadi guru yang profesional. Syiah Kuala University Press.

John, T. and others. (2021). Review on self-regulated learning in smart learning environment. Smart Learning Environments, 8.

https://doi.org/10.1186/s40561-021-00157-8

Libunelo, E., Paramata, Y., & Rahmawati, R. (2018). Hubungan karakteristik ibu dan jarak pelayanan kesehatan dengan kelengkapan imunisasi dasar di Puskesmas Dulukapa. Gorontalo Journal of Public Health, 1(1), 8–14.

Minxia, N. W. S. M. and N. K. A. S. and G. R. D. and P. D. S. and Z. (2023).

Self-Regulated Learning in Distance Education to Foster Twenty-First Century Skills. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 10, 1--26.

https://doi.org/10. 15408/tjems.v10i2 . 37797

Musdalizah Dewantari. (2023). Hubungan Self Regulated Learning Dan Resiliensi Akademik Pada Mahasiswa Yang Bekerja. In At-Tawassuth: Jurnal Ekonomi Islam: Vol. VIII (Issue I). Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Navyola, V. (2022). Literature Review: Self Regulated Learning dalam

Pembelajaran Matematika. J-PiMat: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(2),

(35)

497–506.

Rahmawati, E. E., Wardhani, N. W., Kristiono, N. N., Azzikra, A. A., Insani, H.

N., & Rahayu, S. S. (2024). Penguatan profil pelajar pancasila melalui self- regulated learning (SRL) pada siswa sekolah luar biasa (SLB). Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 10(2), 200–206.

Satrio, Y. D., & Wibawanta, B. (2021). Penerapan Self-Regulated Learning Dalam Manajemen Perilaku Siswa Pada Pembelajaran Online Kelas Xi.

KAIROS: Jurnal Ilmiah, I(2), 101–124.

Sihaloho, L. H. (2016). Hubungan Iklim Sekolah dan Kematangan Emosional dengan Self Regulated Learning pada Siswa SMA Negeri I Stabat.

Universitas Medan Area.

Tsusayya, T. D., Umaroh, S. K., & Imawati, D. (2021). Motivasi Belajar dan Self Regulated Learning pada Mahasiswa dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh. Jurnal Psikologi Terapan (JPT), 4(1), 1–12.

Ulum, M. I. (2016). Strategi Self-Regulated Learning untuk Menurunkan Tingkat Prokrastinasi Akademik Siswa. Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 3(2), 153–170. https://doi.org/10.15575/psy.v3i2.1107

Yundani, Y. C. (2022). Regulasi diri dalam membangun motivasi. Jurnal Ilmu Dakwah Dan Tasawuf, 4(1), 21–35.

Zubaidah, S. (2020). Self Regulated Learning : Pembelajaran dan Tantangan pada Era Revolusi Industri 4 .0. Publikasi Ilmiah, 5(April), 1–19.

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/12234/p.1-19 siti zubaidah.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Tabel 3.1 Tabel Skala Likert

Referensi

Dokumen terkait

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui variabel-variabel apakah yang termasuk faktor kecerdasan verbal dan variabel- variabel

Tabel 4.1 Definsi operasional variabel penelitian 36 Tabel 4.2 Blueprint instumen dukungan suami 38 Tabel 5.1 Distribusi data demografi responden 46 Tabel 5.2 Distribusi

DAFTAR TABEL 1 Indikator pada variabel eksogen 16 2 Indikator pada variabel endogen 17 3 Ringkasan model pengukuran SEM PLS 21 4 Hipotesis penelitian 23 5 Karakteristik penyebaran

Analisis Kesulitan Mahasiswa Pendidikan Matematika dalam Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi COVID-19.. Paedagoria: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan, 112,

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar Nama Perusahaan Sampel Penelitian di BEI tahun 2011-2013 Lampiran 2 Tabel Tabulasi Data Lampiran 3 Tabel Critical Values Lampiran 4 Output

Hubungan Antara Loneliness dan Perceived Social Support dan Intensitas Penggunaan Social Media Pada Mahasiswa.. Seminar Nasional Hasil Penelitian Universitas Kanjuruhan Malang,

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Item-item Pengungkapan Corporate Social Responsibility Lampiran 2 Data Variabel Penelitian Lampiran 3 Hasil Olah Data

Hubungan antara adversity quotient dengan career adaptability pada mahasiswa tingkat akhir regular 1 di Universitas Mercu Buana kampus meruya.. Hubungan antara kecerdasan emosi dan