IMUNIS
ASI
DEFENISI
Imunisasi atau vaksinasi merupakan teknologi yang sangat berhasil di dunia kedokteran yang oleh Katz (1999) dikatakan sebagai “sumbangan ilmu
pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini”, satu upaya yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan upaya
kesehatan lainnya
MANFAAT IMUNISASI
Adapun keuntungan yang didapat dari vaksinasi :
pertahanan tubuh yang terbentuk oleh beberapa vaksin akan dibawa seumur hidup, cost-effective karena
murah dan efektif, dan tidak berbahaya (reaksi serius sangat jarang terjadi, jauh lebih jarang daripada
komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami).
JENIS VAKSIN
Secara garis besar vaksin dapat dibagi menjadi dua kelompok jenis vaksin yaitu :
1. vaksin dari mikroba hidup dilemahkan (vaksin hidup) 2. vaksin mikroba yang diinaktivasi (vaksin inaktivasi).
Vaksin hidup dibuat dengan memodifikasi virus atau bakteri patogen di
laboratorium.
Vaksin inaktivasi dapat berupa virus atau bakteri utuh (whole cell) atau
fraksi patogen, atau gabungan keduanya.
Vaksin fraksional dapat berbasis protein atau polisakarida. Vaksin berbasis protein dapat berupa toksoid (toksin bakteri inaktif), dan produk subunit atau subvirion.
Paling baik diberikan dalam waktu 12 jam
setelah lahir dan didahului pemberian injeksi vitamin K1. Hal tersebut penting untuk
mencegah terjadinya perdarahan akibat
defisiensi vitamin K. untuk mencegah infeksi perinatal yang beresiko tinggi untuk terjadinya hepatitis B kronik. Vaksinasi hepatitis B
selanjutnya dapat menggunakan vaksin hepatitis B monovalen atau vaksin kombinasi.
A. Vaksin Hepatitis B.
Pada saat bayi lahir atau saat dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral (OPV-0). Selanjutnya, untuk polio-1,
polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan vaksin polio oral (OPV) atau inaktivasi (IPV), namun sebaiknya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.
B. Vaksin Polio
C. Vaksin BCG.
Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum 3 bulan, optimal diberikan pada umur 2 bulan. Apabila diberikan sesudah
umur 3 bulan, perlu dilakukan uji antibodi.
D. Vaksin DTP
Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada umur 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTwP atau DtaP atau
kombinasi dengan vaksin lain. Untuk anak umur lebih dari 7 tahun DTP yang diberikan harus vaksin Td, di booster setiap 10 tahun.
E. Vaksin Campak
Imunisasi campak menurut Permenkes No.42 tahun
2013, diberikan 3 kali pada umur 9 bulan, 2 tahun, dan pada SD kelas 1 (program BIAS). Untuk anak yang telah mendapat imunisasi MMR umur 15 bulan, imunisasi
campak umur 2 tahun tidak diperlukan.
F. Vaksin Pneumokokus (PCV)
Apabila diberikan pada umur 7-12 bulan, PCV diberikan 3 kali dengan interval 2 bulan; pada umur lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu dosis booster 1 kali pada umur lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah
dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.
G. Vaksin Rotavirus.
Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, vaksin
rotavirus pentavalen diberikan 3 kali. Vaksin rotavirus
monovalen dosis I diberikan umur 6-14 minggu, dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Sebaiknya vaksin rotavirus monovalen selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan tidak melampaui umur 24 minggu.
Vaksin rotavirus pentavalen: dosis ke-1 diberikan umur 6- 14 minggu, interval dosis ke-2, dosis ke-3 diberikan pada umur kurang dari 32 minggu (interval minimal 4 minggu).
H. Vaksin Varisela.
Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan, namun terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar.
Bila diberikan pada umur lebih dari 12 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.
I. Vaksin Influenza.
Vaksin influenza diberikan pada umur minimal 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak umur kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu.
Untuk anak 6 – <36 bulan, dosis 0,25 mL.
J. Vaksin Human papiloma virus (HPV).
Vaksin HPV dapat diberikan mulai umur 10 tahun.
Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan interval 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV antibodi dengan interval 0, 2, 6 bulan.
IMUNISASI PROGRAM NASIONAL
1,4Imunisasi program nasional meliputi BCG, polio, hepatitis B, DTP, Hib, campak,
BCG
Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandungMycobacterium bovis hidup yang
dilemahkan (Bacillus Calmette Guerin), strain Paris (vaksin hidup). Oleh karena itu, tidak diberikan pada pasien imunokompromais (leukemia, anak yang sedang mendapatkan pengobatan steroid jangka panjang, atau bayi yang telah diketahui atau dicurigai menderita HIV
Hepatitis B
Vaksin inaktif, vaksin hepatitis B rekombinan. Vaksin Hepatitis B rekombinan mengandung antigen virus Hepatitis B, HBsAg, yang tidak menginfeksi yang dihasilkan dari
biakan sel ragi dengan teknologi rekayasa DNA. Vaksin Hepatitis B
rekombinan berbentuk suspensi steril berwarna keputihan dalam prefill injection device, yang dikemas
dalam aluminum foil pouch, and vial.
Jadwal
Diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir (HepB-1). Imunisasi HepB-2 diberikan setelah 1 bulan dari
imunisasi HepB-1 yaitu saat usia 1 bulan. Untuk mendapat
respon imun optimal, interval imunisasi HepB-2 dengan HepB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi HepB-3
diberikan pada umur 3-6 bulan . Apabila diketahui HbsAg ibu positif maka ditambahkan hepatitis B immunoglobulin (HBIg) 0,5mL sebelum bayi berumur 7 hari. Pemberian vaksin HepB-1 dan HBIg 0,5mL diberikan secara bersamaan pada bagian tubuh yang berbeda dalam waktu 12 jam setelah lahir.
POLIO
Jenis vaksin
(1) OPV (oral polio vaccine)
adalah vaksin trivalen merupakan cairan berwarna kuning kemerahan dikemas dalam vial gelas yang mengandung suspensi dari tipe 1,2, dan 3 virus Polio hidup (strain Sabin) yang telah dilemahkan.
Vaksin Polio Oral ini merupakan suspensi “drops”
untuk diteteskan melalui droper (secara oral).
(2) IPV (inactivated polio vaccine), virus inaktif (salk), injeksi
Jadwal
Polio-0 diberikan saat bayi lahir atau pada kunjungan pertama. Mengingat OPV berisi virus polio hidup maka diberikan saat bayi dipulangkan dari rumah
sakit/rumah bersalin untuk menghindari tranmisi virus vaksin kepada bayi lain yang sakit/imunokompromais karena virus polio vaksin dapat dieksresi melalui tinja.
Selanjutnya dapat diberikan vaksin OPV atau IPV.
Untuk imunisasi dasar (polio-1,2,3) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.
3 DTwP (whole-cell pertussis) dan DTaP (acelullar pertussis)
Vaksin DTP merupakan suspensi koloidal homogen berwarna putih susu dalam vial gelas, mengandung toksoid tetanus murni, toksoid
difteri murni, dan bakteri pertusis yang diinaktivasi, yang teradsorbsi kedalam aluminium fosfat. Vaksin DTP merupakan jenis vaksin bakteri yang inaktif.
Jadwal
Imunisasi dasar DTP diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DTP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan, dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP-4 diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan (pada usia 18 bulan sesuai ketentuan WHO) dan DTP-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun. Vaksinasi
penguat Td diberikan 2 kali sesuai program BIAS (SD kelas 2 dan 3)
4 CAMPAK
Vaksin campak adalah vaksin aktif yaitu vaksin virus hidup yang
dilemahkan, merupakan vaksin beku kering berwarna kekuningan pada vial gelas, yang harus dilarutkan hanya
dengan pelarut yang telah disediakan secara terpisah. Vaksin campak ini berupa serbuk injeksi.
Jadwal
Usia 9 bulan, 24 bulan, dan 6 tahun (SD kelas 1 dalam program BIAS). Apabila telah mendapat imunisasi MMR pada usia 15-18 bulan dan ulangan umur 6 tahun;
ulangan campak SD kelas 1 tidak diperlukan.
5 HAEMOPHILLUS INFLUENZA TIPE B (HIB)
Jenis vaksin : Vaksin Hib yang berisi PRP-T (capsular polysaccharide polyribosyl ribitol phosphate-konjugasi dengan protein tetanus
Jadwal : Pada usia 2,4,dan 6 bulan.
Dapat diberikan dalam bentuk komninasi (DTwP/Hib, DTap/Hib, DTap/Hib,IPV)
KESIMPULAN
Imunisasi merupakan bagian yang penting dalam tahap
kehidupan seorang anak karena berfungsi sebagai pencegahan primer terhadap penyakit infeksi. Dalam imunisasi aktif atau vaksinasi, sistem imunitas tubuh dirangsang untuk mengenali dan memproduksi antibodi terhadap suatu bakteri atau virus penyebab penyakit tertentu sehingga tubuh memiliki
pertahanan yang lebih baik jika sewaktu-waktu terinfeksi. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua dan petugas
kesehatan untuk memastikan seorang anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwalnya.