• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOKUMEN RESUME VIDEO AGROFORESTRI

N/A
N/A
Gintan Fa

Academic year: 2024

Membagikan "DOKUMEN RESUME VIDEO AGROFORESTRI"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Gintan Fatimah NIM : E44190056

RESUME VIDEO AGROFORESTRI

Video 1 Alley Cropping (Tanaman lorong)

Dalam praktik Agroforestry, pohon dapat diintegrasikan dengan tanaman di wilayah pertanian. Sistemnya, baris pohon ditanam dengan jarak yang agak jauh sehingga menyisakan ruang atau lorong lebar diantaranya. Lorong ini dapat diisi dengan tanaman pertanian atau tanaman hortikultura. Praktik ini disebut dengan Alley Cropping.

Beberapa manfaat yang dapat dirasakan para petani ketika melakukan praktik Alley Cropping antara lain:

1. Meningkatkan pendapatan karena selain hasil panen tanaman yang berada di lorong, pohon juga terus tumbuh dan akan memberikan hasil produksi di masa depan yang dapat dijual;

2. Meningkatkan produksi tanaman;

3. Melindungi tanaman dari beberapa hal seperti erosi, hama, atau binatang lain yang cukup mengganggu; dan

4. Memperbanyak peluang manfaat konservasi hingga memaksimalkan segala sumber daya yang dimiliki

Alley Cropping tentunya memerlukan perencanaan agar manfaat-manfaat di atas dapat tercapai. Hal yang perlu direncanakan atau didesain antara lain:

1. Menentukan tujuan produksi, apakah kita lebih berfokus pada kayu pohon, tanaman di lorong seperti kacang atau produk lain, pengendalian erosi atau menyediakan lebih banyak habitat satwa. Perencanaan ini akan menentukan bagaimana praktik Alley Cropping yang kita lakukan;

2. Menentukan jarak baris tanam pohon;

a. Di dalam baris

Jika ingin mengendalikan erosi, pohon dalam baris harus berdekatan. Jarak yang dekat juga memberikan hasil kayu yang tumbuh lurus dengan sedikit percabangan.

Namun jika untuk tanaman penghasil kacang, maka jarak pohon yang lebih jauh merupakan pilihan yang tepat karena tanaman kacang yang dewasa akan menjalar lebih lebar.

b. Di antara baris

Jika ingin menanam tanaman atau makanan yang bergantung pada matahari maka jarak antara baris pohon harus lebih lebar untuk mengantisipasi tumbuhnya pohon dan tajuk yang terus membesar. Jika jarak sempit, maka tanaman di lorong yang memerlukan cahaya matahari akan cepat tertutup oleh pohon. Dan jika hal ini terjadi, maka diperlukan tindakan seperti mengganti tanaman yang lebih toleran di lorong.

3. Menentukan arah baris pohon beserta lorongnya dengan mempertimbangkan cahaya matahari; dan

4. Membuat rencana pemeliharaan, seperti:

a. Pengendalian gulma (weed control)

Pengendalian gulma dilakukan terutama pada tahap awal pembibitan yang memerlukan kesempatan untuk tumbuh dengan kualitas baik. Langkah yang paling

(2)

umum dilakukan adalah memberikan herbisida di pangkal pohon sebelum mematahkan kuncup dorminasi di musim semi.

b. Pemupukan (fertilization)

Pemupukan sangat penting dilakukan ketika tujuan difokuskan pada pertumbuhan tanaman di lorong. Namun, tidak terlalu diperlukan jika difokuskan pada hasil kayu dari pohon, tapi masih bermanfaat.

c. Pemangkasan (pruning)

Pohon perlu dipangkas hingga cukup tinggi, jika berfokus pada tanaman lorong seperti kacang-kacangan. Namun, jika tujuan utama terletak pada produksi kayu, maka pemangkasan pohon dilakukan hingga posisi yang lebih tinggi agar menghasilkan kayu gergajian berkualitas.

Setelah perencanaan dan desain telah siap, maka tahap berikutnya adalah menentukan spesies pohon yang sesuai dengan tujuan serta kondisi lokasi praktik Alley Cropping.

Pertimbangan spesies pohon yang ditentukan antara lain:

1. Pohon apa yang sesuai dengan kondisi lokasi seperti tanah, iklim, serta potensi pasar;

2. Permintaan cukup tinggi dan diminati di pasar (marketable);

3. Kompatibel dengan tanaman pendamping atau tanaman di lorong yang dipilih karena beberapa pohon menghasilkan bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman pendamping;

4. Kualitas yang tinggi (high quality) dan pertumbuhan yang cukup cepat atau memiliki nilai tinggi;

5. Akar pohon harus kuat (deep-rooted) agar tidak bersaing dengan tanaman pendamping untuk mencari makan;

6. Toleransi kelembaban atau tingkat kesesuaian pohon dengan kelembaban yang ada di lokasi penanaman; dan

7. Memiliki daun yang masih menghasilkan bayangan yang terang agar saat dewasa tidak menutupi tanaman pendamping dari sinar matahari sehingga dapat mengganggu pertumbuhannya.

Pencangkokan pohon diperlukan jika tanaman pendamping berupa kenari, kemiri, dan sejenisnya, atau tanaman lain yang relevan. Kemudian, jika tujuan Alley Cropping berfokus pada kayu pohon, maka penting untuk mengetahui karakteristik spesies tumbuhan. Namun sebenarnya, pertimbangan kombinasi antara pohon dan tanaman merupakan inti dari Alley Cropping.

Video 2 Shiitake Mushroom Farming

Ozark Forest Mushroom Big Springs adalah bisnis rumah tangga yang mempraktikkan budidaya penanaman jamur shiitake pada 18.000 kayu log di wilayah Missouri (Public House Brewing, 2022). Walau praktik dilakukan di kawasan hutan, mereka tetap memiliki program kehutanan secara kontinu sehingga hutan tetap terjaga dan memiliki ekologis yang baik.

Penanaman jamur ini cukup dengan memanfaatkan kayu bermutu rendah (semakin tinggi kualitas semakin panjang umur simpan) seperti pada cabang kayu yang tidak terlalu tebal dari puncak pohon (Bruhn & Hall, 2008). Kayu log “bekas” dapat digiling dan didaur ulang sebagai pupuk organik atau juga dapat digunakan untuk produksi jamur lagi. Jamur shiitake dapat dipanen dalam jangka pendek sehingga cukup cepat menghasilkan return untuk pengelolaan hutan dalam jangka panjang.

(3)

Jamur shiitake dapat ditanam baik di dalam atau di luar ruangan di hampir semua kayu gugur (Bruhn & Hall, 2008). Dalam video yang disajikan oleh University of Missouri Center for Agroforestry (UMCA), keluarga ini melakukan budidaya jamur di luar ruangan di kawasan hutan, metode ini dapat disebut dengan pertanian hutan (forest farming). Walaupun forest farming terlihat menarik dan cukup sederhana, tapi diperlukan pengetahuan dan perencanaan yang baik dalam rangka budidaya dan pengelolaan hutan.

Sama halnya dengan budidaya tanaman pada umumnya, budidaya jamur shiitake juga memiliki tahapan-tahapan dan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Tahap awal budidaya jamur ini, yaitu mempersiapkan media tanam yaitu kayu log. Kayu log yang telah disediakan, kemudian dilubangi menggunakan alat tertentu seperti bor atau sejenisnya untuk dilakukan inokulasi. Lubang harus memiliki kedalaman 1-inch dengan jarak 6-inch disusun selang seling (Bruhn & Hall, 2008). Kayu log yang telah di-inokulasi selanjutnya ditata secara bertumpuk dan menyilang.

Tingkat kelembaban kayu log harus tetap dijaga untuk tetap stabil dan memiliki 35%

kadar air. Tujuannya adalah memanjakan mikroorganisme jamur yang telah di-inokulasi sehingga jamur dapat menumbuhkan miselium untuk tumbuh dengan baik. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih selama satu tahun. Apabila cuaca cukup baik dan hasil inokulasi telah terlihat, maka beberapa kayu itu dibawa ke greenhouse agar proses pertumbuhan lebih maksimal.

Setelah jamur tumbuh, maka perlu dipetik dari kayu log 2 hari sekali dengan cara yang benar. Hal ini dilakukan agar jamur yang dipetik masih memiliki kualitas yang tinggi. Jika pemetikan telat dengan cara yang keliru, maka sangat mungkin kualitas menjadi turun ditandai dengan jamur yang terlalu terbuka dan memiliki bidang yang rata di bagian atasnya. Perlu diketahui juga bahwa kondisi cuaca dapat mempengaruhi kualitas dan kecepatan pertumbuhan jamur shiitake. Oleh karena itu, diperlukan ketekunan untuk pengecekan dan pemetikan jamur shiitake.

Jamur shiitake berkualitas baik yang telah dipetik, kemudian siap dijual ke pasar.

Keluarga ini biasanya menjual ke restoran atau kepada chef secara personal. Selain itu, mereka juga menjual jamur shiitake ke perusahaan katering, toko makanan, hingga supermarket. Satu hal yang menarik, beberapa perusahaan yang bekerjasama itu tidak hanya menuliskan jenis jamur saja, tapi juga menyertakan nama Ozark Forest Mushroom Big Springs. Ini menandakan bahwa jamur shiitake cukup diminati dan dihargai, apalagi dengan kualitas yang baik dengan proses-proses pengelolaan yang baik juga.

Daftar Pustaka

Bruhn, J., & Hall, M. (2008). Growing Shiitake Mushrooms in an Agroforestry Practice.

Agroforestry in Action, 1(2), 1–12. www.centerforagroforestry.org

Public House Brewing, 2022. Public House Brewing. [Online]

Available at: https://www.publichousebrewery.com/portfolio-item/ozark-forest- mushroom/

[Accessed 29 Agustus 2022].

Referensi

Dokumen terkait

Pertumbuhan tanaman pokok pada pola AF 2 yang terhambat diduga dari rendahnya rata-rata panjang dan lebar tajuk serta LCR sehingga dapat mengurangi luasan penyerapan

Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi tanaman, lebar tajuk, berat umbi, diameter umbi, dan tebal umbi pada ketiga perlakuan jarak tanam berbeda nyata pada

Intensitas cahaya matahari terbaik untuk tanaman pala yaitu intensitas cahaya matahari sedang dengan hasil rendemen atsiri sebanyak 198,2 ml/kg, jarak rata-rata pohon terbaik yaitu

Tinggi dan lebar tajuk antar tanaman yang ditumpangsarikan akan berpengaruh terhadap penerimaan cahaya matahari, lebih lanjut akan mempengaruhi hasil sintesa (glukosa) dan..

Pada cara tanam legowo 2:1, setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak barisan, namun jarak tanam dalam barisan. dipersempit menjadi

adalah masa dari bagian vegetasi yang masih hidup yaitu batang, ranting dan tajuk pohon (berikut akar atau estimasinya), tumbuhan bawah atau gulma dan tanaman semusim.. Kedua ,

Pemanfaatan areal hutan yang dilakukan kelompok tani Desa Sumber Agung dengan menanam tanaman agroforestri dan pohon serba guna/MPTS (Multi Purpose Trees Species) yang dikelola

Hamidah 2012 menjelaskan bahwa perlakuan kerapatan tanaman berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan diameter tajuk tanaman, diduga dengan jarak tanam yang lebih lebar memberikan