• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Tentang Identitas Pasien

N/A
N/A
Intan Saphira Prapesti

Academic year: 2023

Membagikan "Dokumen Tentang Identitas Pasien"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

 Identitas Pasien

Nama : An. R

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 22 bulan

Tanggal Lahir : 23 Juli 2012

Agama : Islam

Alamat : Ragunan, Pasar Minggu Tanggal MRS : 20 Mei 2014

Tanggal KRS : 25 Mei 2014

Keluhan Utama : Kejang 2 kali sejak pagi

Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan kejang 2x sejak pagi.

Kejang I saat dilakukan EEG. Saat itu pasien sedang tidur, tiba-tiba kejang selama 5 detik, kejang terjadi pada seluruh badan pasien dengan tangan tegak lurus ke bawah, kemudian kejang kelojotan selama 15-20 detik lalu kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti pasien sadar dalam 5 menit.

Kejang II terjadi saat pasien sedang digendong oleh ayahnya.

Bentuk kejang yang dialami sama seperti kejang yang pertama, berlangsung selama 10 detik, kejang kelojotan selama 20 detik dan sadar dalam 10 menit.

Usia 20 bulan pasien MRS karena kejang demam sebanyak 2 kali, yang terjadi saat pasien demam. Pasien dirawat 1 minggu yang lalu karena kejang demam sebanyak 5 kali dalam sehari. Saat dirawat di RS kejang sebanyak 1 kali. Setelah KRS pasien kejang di rumah selama 4 hari. Serangan terjadi 2-3 kali sehari, demam disangkal, kejang sering terjadi saat pasien bangun tidur, lalu terdiam selama 5 menit, kemudian terjadi kejang. Saat kejang dirumah ibu pasien tidak memberikan obat, karena setiap kali kejang hanya berlangsung 5-10 detik dan berhenti dengan sendirinya. Dari setiap kejang yang terjadi, pasien dapat kembali sadar dan berespon dalam waktu < 5 menit. Riwayat trauma kepala, mual dan muntah disangkal.

• Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat epilepsi. Kakak kedua pasien pernah mengalami kejang demam sebanyak 2 kali saat usia 3 tahun.

Riwayat darah tinggi, diabetes ataupun asma disangkal.

• Riwayat sosial, ekonomi dan lingkungan.

Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayah pasien bekerja sebagai karyawan di kantor, sedangkan ibu pasien tidak bekerja. Kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah.

(2)

• Riwayat lahir

Pasien dilahirkan cukup bulan secara sesar, karena sungsang. Tidak ada penyulit saat kehamilan. Tidak ada kelainan yang ditemukan saat pasien lahir.

• Pemeriksaan Fisik (20/5/2014)

Keadaan Umum : Sakit Ringan

Kesadaran : Compos Mentis (E4 M6 V5) Tanda vital

- Tekanan darah : 120/80 mmHg - Nadi (HR) : 78 x/menit

- RR : 12 x/menit

- Suhu : 36,4 °C

• Hasil EEG ditemukan kesan EEG abnormal dengan general seizure.

• Status generalis dbn (dalam batas normal)

• Kesan neurologis dbn (dalam batas normal)

• Riwayat tumbuh kembang

Imunisasi lengkap. Duduk saat usia 9 bulan. Jalan saat usia 1 tahun 7 bulan, pasien saat ini berbicara 2-3 kata.

Inj Fenitoin 30mg/12jam Depakene syr 2cc/12jam Stesolid 10mg supp (k/p) Asam Folat 1tab/24jam

Lakukan assesment terhadap terapi yang diterima pasien dan berikan rekomendasi anda disertai bukti Evidence Based Medicine terbaru.

(3)

1. Problem Medik Beserta Etiologi Yang Dialami Pasien :

 Problem medik : Myoclonic seizure

 Etiologi : Kelainan Kongenital, terdiri dari trauma lahir. Kelainan kongenial ini dapat terjadi karena kromosom yang abnormal, radiasi, atau obat-obatan teratogenetik (Kemenkes RI, 2017)

2. Gejala Yang Dialami Pasien : Kejang 2 kali sejak pagi

 Kejang I : saat dilakukan EEG. Saat itu pasien sedang tidur, tiba- tiba kejang selama 5 detik, kejang terjadi pada seluruh badan pasien dengan tangan tegak lurus ke bawah, kemudian kejang kelojotan selama 15-20 detik lalu kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti pasien sadar dalam 5 menit.

 Kejang II : terjadi saat pasien sedang digendong oleh ayahnya.

Bentuk kejang yang dialami sama seperti kejang yang pertama, berlangsung selama 10 detik, kejang kelojotan selama 20 detik dan sadar dalam 10 menit.

3. Assasment kasus :

 Pasien telah mengalami gejala 22 bulan. Gejala klinis yang ada pada pasien mengakibatkan kejang yang terjadi pada pagi hari, setelah bangun tidur. Pasien juga mengalami sentakan yang tiba- tiba. Berdasarkan hal tersebut diagnosis Myoclonic seizure pada pasien dapat ditegakkan.

 Terdapat Drp, karena pada pemberian obat terjadi interaksi Moderat antara obat yang diberikan. Pemerian Fenitoin dan Depakene (Valvroic Acid) terjadi interaksi Moderat dimana Depakene dapat meningkatkan efek farmakologis fenitoin. Hal ini bisa terjadi meskipun kadar fenitoin dalam darah tetap dalam rentang normal. Mekanisme yang mungkin terlibat adalah perpindahan fenitoin dari protein plasma. Fenitoin secara normal terikat pada protein dalam darah. Asam valproat dapat

(4)

mengganggu ikatan fenitoin ke protein plasma, menyebabkan peningkatan ketersediaan fenitoin yang bebas untuk beraksi dalam tubuh. Akibatnya, efek fenitoin pada tubuh bisa lebih kuat daripada yang diharapkan (drug.com).

Pemerian Fenitoin dan Stesolid juga terjadi interaksi moderat dimana pemberian bersamaan dengan beberapa benzodiazepin (stesolid) dapat mengubah konsentrasi serum fenitoin (drug.com).

4. Terdapat Drp pada kasus ini

 Terapi Farmakologi :

a) Myoclonic seizure : Inj Fenitoin 30mg/12jam, Depakene syr 2cc/12jam, Stesolid 10mg supp (k/p), Asam Folat 1tab/24jam

b) Stabilitas : Penyesuaian dosis obat sesuai respon pasien c) Pemeliharaan : Terapi kejang lama dan berulang dapat

diberikan benzodiazepine rektal (Kemenkes RI, 2017)

 Terapi Non Farmakologi :

a) Suplementasi multivitamin bebas gula, kalsium dan vitamin D, serta garam sitrat (Kemenkes RI, 2017)

b) EBM (Evidance Based Medicine): Fenitoin, Depakene (asam valproat), dan Stesolid (diazepam) merupakan obat antikejang yang umum digunakan. Dalam EBM, penggunaan obat pada anak balita membutuhkan pertimbangan khusus terkait dosis, keamanan, dan efektivitasnya, karena respon tubuh anak balita bisa berbeda dengan orang dewasa. Monitoring efek samping obat sangat penting, dan dosis harus disesuaikan dengan berat badan dan kondisi pasien secara tepat.

(5)

5. Monitoring yang diperlukan :

 Evaluasi respon terhadap terapi farmakologi, termasuk efek samping.

 Penting untuk melakukan follow-up secara teratur untuk memantau respons pasien terhadap pengobatan dan memodifikasi rencana terapi jika diperlukan.

 Monitoring efek samping obat sangat penting, dan dosis harus disesuaikan dengan berat badan dan kondisi pasien secara tepat.

6. Tabel SOAP : Problem medic

Subjective Objective Assessmen t

Planning Myocloni

c seizure

Pasien kejang dua kali sejak pagi.

Pasien

menunjukkan gejala kejang kelojotan selama 15-20 detik lalu kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti pasien sadar dalam 5 menit.

Pasien di Diagnosis Myoclonic seizure

Terapi farmakologi , Terapi non farmakologi , Monitoring Pasien Serta EBM yang digunakan

Referensi :

https://www.drugs.com/drug_interactions.html

Kementerian Republik Indonesia. 2017. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Epilepsi Pada Anak. Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kualitas tidur yang Buruk dapat berisiko 10 kali dalam mempengaruhi frekuensi kejang pada pasien

Pada latihan ini siswa melakukan gerakan secara keseluruhan, sikap awal (kaki rapat, badan tegak, kedua tangan lurus menyudut ke atas, pandangan mata lurus ke depan),

Pada latihan ini siswa melakukan gerakan secara keseluruhan, sikap awal (kaki rapat, badan tegak, kedua tangan lurus menyudut ke atas, pandangan mata lurus ke depan),

Peneliti lain mendapatkan pasien yang mempunyai keluarga dengan riwayat pernah menderita kejang demam bukan merupakan faktor risiko untuk terjadi bangkitan kejang demam

Rekurensi dapat terjadi pada pasien-pa- sien dengan awitan dini KD sebelum usia 15 bulan, kejang terjadi pada peningkatan suhu badan yang rendah, interval yang pendek (ku- rang dari

a) Setelah aba-aba pelaksanaan, tangan kiri memegang hulu popor. b) Senjata diturunkan tegak lurus di depan badan posisi magazen mengarah ke depan, tangan kanan

Untuk pasien laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter

Dari pemeriksaan pasien didiagnosa dengan epilepsi serangan umum karena ada beberapa kali kejang sebelum serangan kejang terahir, terjadi penurunan kesaradan dan kaku pada kedua