• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Tentang Tajdid dan Tarjih

N/A
N/A
Riska Baso

Academic year: 2023

Membagikan "Dokumen Tentang Tajdid dan Tarjih"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

I. Pendahuluan A. Latar Belakang

Latar belakang "Tarjih dan Tajdid" mencakup konteks historis dan filosofis yang melatarbelakangi perkembangan konsep tersebut dalam pemikiran Islam. Pemahaman latar belakang ini penting untuk memahami relevansi dan evolusi konsep Tarjih dan Tajdid dalam menyikapi tantangan zaman. Menyoroti fase-fase kunci dalam sejarah pemikiran Islam yang menciptakan kebutuhan akan penilaian (tarjih) dan pembaharuan (tajdid). Paham seperti ilmu kalam, tasawuf, dan perkembangan mazhab dapat memberikan gambaran konteks historis.

Selanjutnya perkembangan fikih dan ijtihad (penalaran hukum) membuka ruang bagi konsep Tarjih dan Tajdid. Pergeseran dalam interpretasi hukum Islam seiring waktu menjadi landasan munculnya kebutuhan akan evaluasi dan pembaharuan. Perubahan-perubahan signifikan dalam masyarakat Islam yang mendorong pemikir-pemikir Islam untuk melakukan tarjih dan tajdid.

Misalnya, perkembangan teknologi, globalisasi, dan dinamika sosial yang memerlukan adaptasi dalam pemahaman agama.

II. Konsep Tarjih dan Tajdid A. Definisi Tarjih dan Tajdid

TARJIH

Tarjih merujuk pada proses penilaian atau pemilihan antara dua pendapat atau opsi dalam hukum Islam. Ini melibatkan penentuan prioritas atau keutamaan antara berbagai pendapat hukum yang mungkin bertentangan. Menurut Imam al-Shafi'i menggambarkan tarjih sebagai usaha untuk menetapkan hukum yang paling kuat secara dalil dan argumentasi.

Tarjih dilakukan oleh mujtahid (orang yang berkompeten dalam ijtihad) untuk mencapai penilaian yang paling tepat. Menegaskan bahwa tarjih dilakukan untuk mencari keadilan, dan ini melibatkan pemilihan opsi yang paling sesuai dengan tujuan syariah. Bagi al- Ghazali, tarjih tidak hanya mencari kenyamanan pribadi, tetapi lebih kepada pelayanan kepada keadilan dan syariah Islam. Sedangkan Menurut Muhammad Iqbal, seorang filsuf dan penyair Islam terkenal, memandang tarjih sebagai proses penting dalam memahami dan mengaplikasikan hukum Islam. Iqbal menekankan bahwa tarjih tidak hanya sekadar mengikuti tradisi tanpa pemahaman, tetapi melibatkan pemilihan opsi yang paling relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. Perspektif Kontemporer terhadap Tarjih bahwa Beberapa ulama kontemporer, seperti Yusuf al-Qaradawi, menekankan bahwa tarjih harus dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial dan budaya. Pemikiran ini mencerminkan pentingnya menghubungkan hukum Islam dengan kehidupan sehari-hari dan menyesuaikannya dengan realitas masyarakat modern.

TAJDID

Tajdid berarti pembaharuan atau penyegaran. Dalam konteks pemikiran Islam, tajdid melibatkan usaha untuk memperbaharui pemahaman, praktik, atau interpretasi dalam

(2)

rangka menjawab tuntutan zaman. Muhammad Abduh mengartikan tajdid sebagai keharusan untuk mengembalikan semangat orisinal Islam dengan memperbarui interpretasi agama agar tetap relevan dalam lingkungan modern. Tajdid tidak hanya sekadar perubahan, tetapi juga pembaharuan yang mendalam dan substansial. Dalam pemikirannya, tajdid adalah suatu keharusan untuk memperbaharui makna dan pemahaman ajaran Islam agar tetap relevan. Al-Ghazali meyakini bahwa Islam memiliki kemampuan untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman, dan tajdid adalah cara untuk memastikan keabadian nilai-nilai Islam dalam segala konteks. Tajdid sebagai pembaruan pemikiran dan spiritualitas dalam Islam. Menurutnya, tajdid tidak hanya terkait dengan hukum, tetapi juga dengan pemahaman lebih dalam terhadap esensi ajaran Islam, yang dapat membawa kemajuan bagi individu dan masyarakat. Di era kontemporer, tajdid tidak hanya terbatas pada aspek hukum dan doktrin, tetapi juga mencakup isu-isu sosial, ekonomi, dan ilmiah.

Tokoh-tokoh kontemporer cenderung menekankan perlunya adaptasi dan inovasi untuk menjawab tantangan masa kini.

Penting untuk dicatat bahwa definisi Tarjih dan Tajdid dapat bervariasi di antara berbagai aliran dan mazhab dalam Islam. Pendekatan tokoh-tokoh kunci dan pemikir Islam membentuk landasan pemahaman konsep-konsep ini, dan interpretasi mereka dapat memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana Tarjih dan Tajdid diterapkan dalam konteks keilmuan dan keagamaan.

B. Sejarah Perkembangan Konsep

Sejarah perkembangan Tarjih dan Tajdid mencakup evolusi konsep-konsep ini dalam pemikiran Islam sepanjang berbagai periode sejarah. Berikut adalah ikhtisar sejarah perkembangannya:

1. *Periode Awal Islam:*

- Pada masa awal Islam, fokus utama adalah penyampaian wahyu dan pembentukan fondasi ajaran Islam.

- Tidak terdapat pembahasan formal tentang Tarjih dan Tajdid, namun proses penilaian dan interpretasi sudah muncul dalam praktik ijtihad (penalaran hukum).

2. *Periode Penerapan Mazhab:*

- Abad ke-8 hingga 10 menjadi masa di mana mazhab-mazhab fikih mulai muncul, seperti Hanafi, Maliki, Shafi'i, dan Hanbali.

- Tarjih diterapkan dalam mazhab-mazhab ini untuk menentukan pendapat yang paling kuat dalam kasus-kasus kontroversial.

3. *Periode Pemikiran dan Filosofis:*

(3)

- Abad ke-9 hingga 12 melihat kebangkitan pemikiran dan filsafat Islam, terutama di bawah pengaruh tokoh seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan al-Ghazali.

- Al-Ghazali menekankan pentingnya tarjih dalam fikih untuk mencapai keadilan dan kesesuaian dengan tujuan syariah.

4. *Zaman Kejayaan Ilmu Pengetahuan Islam:*

- Abad ke-9 hingga 13 dikenal sebagai Zaman Kejayaan Ilmu Pengetahuan Islam di mana perpustakaan dan pusat-pusat pembelajaran seperti Baitul Hikmah di Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan.

- Tarjih dan Tajdid diterapkan dalam penelitian ilmiah dan filosofis, mengintegrasikan penemuan ilmiah dan kebijaksanaan Yunani dengan ajaran Islam.

5. *Pengaruh Tasawuf:*

- Abad ke-11 dan seterusnya menyaksikan pengaruh tasawuf (mistisisme Islam) yang memperkenalkan dimensi spiritual dan introspektif pada pemahaman agama.

- Tokoh-tokoh tasawuf seperti Jalaluddin al-Rumi menekankan tajdid sebagai upaya untuk menyegarkan hubungan spiritual dengan Tuhan.

6. *Era Klasik dan Pascaklasik:*

- Abad ke-14 hingga 19 menandai era klasik dan pascaklasik di mana mazhab-mazhab dan pemikiran hukum Islam berkembang pesat.

- Ulama seperti Ibn Taymiyyah menyoroti pentingnya tarjih dalam menghadapi tantangan dan perubahan dalam masyarakat.

7. *Reformasi Modern dan Kontemporer:*

- Abad ke-19 dan seterusnya menyaksikan reformasi dan pembaruan dalam pemikiran Islam, terutama dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Sayyid Qutb.

- Gerakan ini menekankan tajdid sebagai cara untuk menyegarkan interpretasi Islam dalam konteks modern dan menghadapi kolonialisme serta tantangan global.

Sejarah perkembangan Tarjih dan Tajdid mencerminkan adaptasi dan inovasi dalam pemikiran Islam sepanjang waktu, memungkinkan agama ini tetap relevan dan dinamis dalam menghadapi perubahan zaman.

C. Relevansi Konsep dalam Pemikiran Islam

Konsep Tarjih dan Tajdid memiliki relevansi yang mendalam dalam pemikiran Islam, khususnya dalam menjawab tuntutan zaman, mempertahankan esensi ajaran agama, dan memberikan pandangan yang kontekstual terhadap berbagai isu kontemporer. Berikut adalah beberapa aspek relevansi konsep-konsep ini dalam pemikiran Islam:

(4)

1. *Fleksibilitas Pemahaman Agama:*

- Tarjih dan Tajdid memungkinkan pemikir Islam untuk menjaga fleksibilitas dan keterbukaan dalam memahami ajaran agama. Ini penting agar Islam dapat dihayati dan diaplikasikan dalam berbagai konteks budaya dan sosial.

2. *Adaptasi terhadap Perubahan Zaman:*

- Dengan prinsip Tarjih, pemikir Islam dapat menyesuaikan hukum-hukum Islam dengan perubahan zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Ini memastikan bahwa Islam tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam masyarakat yang terus berubah.

3. *Pembaharuan Terhadap Metode Pengetahuan:*

- Tajdid dalam epistemologi Islam menciptakan pembaruan dalam metode pengetahuan. Ini memberikan ruang bagi integrasi ilmu pengetahuan modern tanpa mengorbankan akar nilai-nilai Islam, sehingga Islam dapat berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

4. *Penilaian Nilai dan Etika:*

- Dalam dimensi aksiologi, Tarjih dan Tajdid memungkinkan penilaian ulang terhadap nilai- nilai moral dan etika sesuai dengan perubahan sosial dan tuntutan kemanusiaan. Hal ini penting untuk mempertahankan moralitas dan etika Islam dalam konteks yang terus berubah.

5. *Pertahankan Keseimbangan Tradisi dan Pembaharuan:*

- Konsep Tarjih dan Tajdid membantu menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaharuan.

Pembaruan tidak harus menghilangkan tradisi, tetapi sebaliknya, dapat membantu menggali kembali nilai-nilai orisinal dan memberikan kehidupan baru pada tradisi.

6. *Menanggapi Tantangan Kontemporer:*

- Dalam menjawab tantangan seperti globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial, Tarjih dan Tajdid memberikan landasan bagi umat Islam untuk berpikir kritis dan menyesuaikan diri dengan realitas zaman.

7. *Keberlanjutan Pemikiran Islam:*

(5)

- Dengan menerapkan Tarjih dan Tajdid, pemikir Islam dapat memastikan keberlanjutan pemikiran dan relevansi Islam di masa depan. Ini adalah cara untuk memastikan bahwa Islam tetap menjadi sumber petunjuk dan inspirasi dalam berbagai situasi dan tantangan.

Secara keseluruhan, relevansi Tarjih dan Tajdid dalam pemikiran Islam mencerminkan semangat adaptasi dan pembaruan untuk menjawab perubahan zaman, sambil mempertahankan akar nilai- nilai Islam yang kokoh.

III. Tinjauan Ontologis

A. Pemahaman Islam terhadap Realitas dan Eksistensi

[18.09, 22/12/2023] Hadrawi: Konsep Tarjih dan Tajdid memiliki relevansi yang mendalam dalam pemikiran Islam, khususnya dalam menjawab tuntutan zaman, mempertahankan esensi ajaran agama, dan memberikan pandangan yang kontekstual terhadap berbagai isu kontemporer. Berikut adalah beberapa aspek relevansi konsep-konsep ini dalam pemikiran Islam:

1. *Fleksibilitas Pemahaman Agama:*

- Tarjih dan Tajdid memungkinkan pemikir Islam untuk menjaga fleksibilitas dan keterbukaan dalam memahami ajaran agama. Ini penting agar Islam dapat dihayati dan diaplikasikan dalam berbagai konteks budaya dan sosial.

2. *Adaptasi terhadap Perubahan Zaman:*

- Dengan prinsip Tarjih, pemikir Islam dapat menyesuaikan hukum-hukum Islam dengan perubahan zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Ini memastikan bahwa Islam tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam masyarakat yang terus berubah.

3. *Pembaharuan Terhadap Metode Pengetahuan:*

- Tajdid dalam epistemologi Islam menciptakan pembaruan dalam metode pengetahuan.

Ini memberikan ruang bagi integrasi ilmu pengetahuan modern tanpa mengorbankan akar nilai-nilai Islam, sehingga Islam dapat berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

4. *Penilaian Nilai dan Etika:*

- Dalam dimensi aksiologi, Tarjih dan Tajdid memungkinkan penilaian ulang terhadap nilai-nilai moral dan etika sesuai dengan perubahan sosial dan tuntutan kemanusiaan. Hal ini penting untuk mempertahankan moralitas dan etika Islam dalam konteks yang terus berubah.

5. *Pertahankan Keseimbangan Tradisi dan Pembaharuan:*

- Konsep Tarjih dan Tajdid membantu menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaharuan. Pembaruan tidak harus menghilangkan tradisi, tetapi sebaliknya, dapat

(6)

membantu menggali kembali nilai-nilai orisinal dan memberikan kehidupan baru pada tradisi.

6. *Menanggapi Tantangan Kontemporer:*

- Dalam menjawab tantangan seperti globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial, Tarjih dan Tajdid memberikan landasan bagi umat Islam untuk berpikir kritis dan menyesuaikan diri dengan realitas zaman.

7. *Keberlanjutan Pemikiran Islam:*

- Dengan menerapkan Tarjih dan Tajdid, pemikir Islam dapat memastikan keberlanjutan pemikiran dan relevansi Islam di masa depan. Ini adalah cara untuk memastikan bahwa Islam tetap menjadi sumber petunjuk dan inspirasi dalam berbagai situasi dan tantangan.

Secara keseluruhan, relevansi Tarjih dan Tajdid dalam pemikiran Islam mencerminkan semangat adaptasi dan pembaruan untuk menjawab perubahan zaman, sambil mempertahankan akar nilai-nilai Islam yang kokoh.

[18.11, 22/12/2023] Hadrawi: Tarjih dan Tajdid mencerminkan pemahaman Islam terhadap realitas dan eksistensi dengan memandangnya dari dua aspek yang saling terkait: penilaian terhadap realitas yang ada (Tarjih) dan upaya untuk memperbaharui pemahaman terhadap realitas tersebut (Tajdid).

1. *Tarjih: Penilaian Terhadap Realitas*

- *Eksplorasi Hakikat Keberadaan:* Melalui Tarjih, Islam mendorong penilaian yang mendalam terhadap hakikat keberadaan, baik itu hakikat Tuhan, alam semesta, atau makhluk. Tarjih melibatkan refleksi kritis terhadap realitas ini dalam kerangka keyakinan Islam.

- *Penentuan Prioritas:* Dalam konteks Tarjih, prioritas dan keutamaan diberikan kepada pemahaman yang paling sesuai dengan ajaran agama. Ini mencakup penilaian terhadap kebenaran dan keadilan dalam realitas yang dihadapi.

2. *Tajdid: Pembaruan Pemahaman Terhadap Realitas*

- *Adaptasi Terhadap Perubahan:* Tajdid menunjukkan semangat untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Pembaruan pemahaman terhadap realitas dihadapi sebagai respons terhadap dinamika dan tuntutan zaman yang terus berkembang.

- *Pemahaman yang Relevan dan Komprehensif:* Tajdid berupaya untuk memberikan pemahaman yang relevan dan komprehensif terhadap realitas yang terus berubah. Ini mencakup inovasi dalam metode penafsiran dan aplikasi ajaran agama.

3. *Keseimbangan antara Keteguhan dan Fleksibilitas:*

- *Keteguhan Pada Nilai-Nilai Abadi:* Meskipun melakukan penilaian dan pembaruan, Islam tetap menekankan keteguhan pada nilai-nilai abadi dan prinsip-prinsip fundamental.

Keberlanjutan nilai-nilai ini menjadi pijakan dalam melihat realitas dan eksistensi.

(7)

- *Fleksibilitas dalam Implementasi:* Pembaruan dalam pemahaman terhadap realitas memberikan Islam fleksibilitas untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran agama dalam berbagai konteks, menjawab berbagai persoalan yang muncul.

4. *Pandangan Holistik Terhadap Kehidupan:*

- *Ontologi Islam yang Holistik:* Islam memiliki pandangan ontologis yang holistik, melibatkan pemahaman yang menyeluruh terhadap hubungan antara Tuhan, alam semesta, dan manusia. Tarjih dan Tajdid merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan dan keterkaitan antara komponen-komponen ini.

Dengan memahami Tarjih dan Tajdid sebagai elemen-elemen yang memandu penilaian dan pembaruan terhadap realitas, Islam menawarkan kerangka pemikiran yang dinamis dan responsif terhadap perubahan zaman. Konsep-konsep ini menegaskan pentingnya menggali pemahaman yang lebih dalam, relevan, dan kontekstual terhadap realitas dan eksistensi dalam kerangka nilai-nilai Islam.

B. Peran Tarjih dalam Evaluasi Konsep Ontologis

Tarjih memiliki peran sentral dalam evolusi konsep ontologis dalam pemikiran Islam.

Konsep ontologis berkaitan dengan pemahaman tentang hakikat eksistensi, termasuk pandangan terhadap Tuhan, alam semesta, dan makhluk. Berikut adalah peran Tarjih dalam evolusi konsep ontologis:

1. *Penilaian Terhadap Konsep-Konsep Ontologis Tradisional:*

- Tarjih mendorong penilaian kritis terhadap konsep-konsep ontologis yang telah berkembang dalam tradisi Islam. Ulama yang melakukan Tarjih mengevaluasi pemahaman tradisional terhadap realitas dan eksistensi untuk memastikan konsistensi dengan ajaran agama.

2. *Fleksibilitas Dalam Penafsiran Ajaran Keagamaan:*

- Dalam konteks ontologis, Tarjih memungkinkan fleksibilitas dalam penafsiran ajaran keagamaan yang berkaitan dengan eksistensi. Ini mencakup kemampuan untuk menghadapi isu-isu ontologis kontemporer dan mengajukan interpretasi yang lebih sesuai dengan pemahaman modern.

3. *Pembaharuan Konsep-Konsep Ontologis:*

- Konsep-konsep ontologis dapat mengalami pembaharuan melalui proses Tarjih. Ulama yang terlibat dalam penilaian ini dapat memperbarui konsep-konsep seperti sifat-sifat Tuhan, penciptaan alam semesta, dan makna eksistensi manusia sesuai dengan konteks zaman dan perkembangan pemikiran.

4. *Adaptasi Terhadap Perubahan Ilmu Pengetahuan:*

- Dalam merespons perkembangan ilmu pengetahuan, Tarjih memainkan peran penting dalam menilai bagaimana konsep-konsep ontologis Islam dapat berinteraksi dengan temuan

(8)

ilmiah modern. Ini melibatkan harmonisasi antara keyakinan agama dan pengetahuan ilmiah untuk memahami realitas secara holistik.

5. *Penggalian Aspek-Aspek Mendalam dari Ajaran Agama:*

- Proses Tarjih mendorong penggalian lebih mendalam terhadap aspek-aspek ontologis dalam ajaran agama. Ini dapat melibatkan reinterpretasi terhadap ayat-ayat Al-Qur'an atau hadis-hadis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan eksistensi.

6. *Penentuan Prioritas Ajaran-Ajaran Ontologis:*

- Tarjih membantu dalam penentuan prioritas antara ajaran-ajaran ontologis yang mungkin saling bertentangan atau memerlukan penekanan lebih dalam. Ini menciptakan kerangka prioritas yang membimbing umat Islam dalam memahami esensi eksistensi.

Dengan demikian, Tarjih berperan sebagai instrumen penilaian dan pembaharuan dalam konsep-konsep ontologis dalam Islam. Proses ini memungkinkan agama untuk tetap relevan dan bersesuaian dengan perubahan zaman, sambil menjaga akar nilai-nilai ontologis yang mendasar.

C. Tajdid Ontologis dalam Menghadapi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Tajdid Ontologis dalam Menghadapi Perkembangan Ilmu Pengetahuan*

Tajdid ontologis adalah konsep pembaruan dalam pemahaman tentang realitas dan eksistensi, terutama dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan. Ini melibatkan usaha untuk memperbaharui konsep-konsep ontologis dalam pemikiran Islam agar tetap relevan dan sejalan dengan temuan dan perkembangan ilmiah. Berikut adalah uraian lengkap tentang tajdid ontologis:

*1. Keterbukaan terhadap Temuan Ilmiah:*

- Tajdid ontologis mencerminkan keterbukaan Islam terhadap temuan ilmiah modern. Hal ini melibatkan upaya untuk memahami dan menyelaraskan konsep-konsep ontologis dengan pengetahuan ilmiah baru yang muncul.

*2. Harmonisasi Agama dan Ilmu Pengetahuan:*

- Konsep tajdid ontologis mengajak untuk menyelaraskan pemahaman agama dengan temuan ilmiah. Ini bukan sekadar adaptasi, tetapi harmonisasi yang mendalam, menciptakan keseimbangan antara keyakinan agama dan pengetahuan ilmiah.

*3. Kajian Ulang terhadap Konsep Penciptaan:*

- Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, tajdid ontologis dapat melibatkan kajian ulang terhadap konsep penciptaan. Bagaimana Allah menciptakan alam semesta dan bagaimana manusia menafsirkan proses penciptaan menjadi pertanyaan relevan dalam konteks ini.

(9)

*4. Pembaruan Konsep Sifat Tuhan:*

- Tajdid ontologis dapat membawa pembaruan dalam konsep sifat Tuhan. Bagaimana sifat-sifat Tuhan dipahami dan diterapkan dalam realitas dapat diupayakan ulang untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam dan sesuai dengan pengetahuan baru.

*5. Penilaian terhadap Realitas Kuantum dan Dimensi Baru:*

- Konsep tajdid ontologis harus merespons penemuan dalam ilmu fisika kuantum atau dimensi-dimensi baru yang mungkin menantang pemahaman ontologis tradisional. Ini menciptakan kebutuhan untuk menilai dan membarui pemahaman tentang realitas dan eksistensi.

*6. Pengkajian Ulang Terhadap Makna Hidup dan Tujuan Kehidupan:*

- Tajdid ontologis dapat mencakup pengkajian ulang terhadap makna hidup dan tujuan kehidupan dalam konteks ilmu pengetahuan. Bagaimana manusia memahami tujuan eksistensinya dan bagaimana ilmu pengetahuan memberikan wawasan baru menjadi perhatian dalam tajdid ontologis.

*7. Pencarian Keseimbangan Antara Materi dan Spiritualitas:*

- Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih terfokus pada aspek materi, tajdid ontologis menyoroti kebutuhan untuk mencari keseimbangan antara pemahaman materi dan spiritualitas. Ini menciptakan pemahaman holistik tentang eksistensi manusia dan alam semesta.

*8. Dialog Antarilmu dan Interdisipliner:*

- Tajdid ontologis mendorong dialog antarailmu dan pendekatan interdisipliner.

Melibatkan ahli-ahli berbagai disiplin ilmu untuk menyelidiki dan memahami implikasi ontologis dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks tajdid ontologis, penting untuk mempertahankan esensi nilai-nilai Islam sambil mengakomodasi dan merespons dinamika ilmu pengetahuan modern. Ini adalah bentuk keterbukaan Islam untuk terus belajar, berevolusi, dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

IV. Tinjauan Epistemologi

A. Metode Pengetahuan dalam Islam

Tajdid Ontologis dalam Menghadapi Perkembangan Ilmu Pengetahuan*

Tajdid ontologis adalah konsep pembaruan dalam pemahaman tentang realitas dan eksistensi, terutama dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan. Ini melibatkan usaha untuk memperbaharui konsep-konsep ontologis dalam pemikiran Islam agar tetap

(10)

relevan dan sejalan dengan temuan dan perkembangan ilmiah. Berikut adalah uraian lengkap tentang tajdid ontologis:

*1. Keterbukaan terhadap Temuan Ilmiah:*

- Tajdid ontologis mencerminkan keterbukaan Islam terhadap temuan ilmiah modern. Hal ini melibatkan upaya untuk memahami dan menyelaraskan konsep-konsep ontologis dengan pengetahuan ilmiah baru yang muncul.

*2. Harmonisasi Agama dan Ilmu Pengetahuan:*

- Konsep tajdid ontologis mengajak untuk menyelaraskan pemahaman agama dengan temuan ilmiah. Ini bukan sekadar adaptasi, tetapi harmonisasi yang mendalam, menciptakan keseimbangan antara keyakinan agama dan pengetahuan ilmiah.

*3. Kajian Ulang terhadap Konsep Penciptaan:*

- Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, tajdid ontologis dapat melibatkan kajian ulang terhadap konsep penciptaan. Bagaimana Allah menciptakan alam semesta dan bagaimana manusia menafsirkan proses penciptaan menjadi pertanyaan relevan dalam konteks ini.

*4. Pembaruan Konsep Sifat Tuhan:*

- Tajdid ontologis dapat membawa pembaruan dalam konsep sifat Tuhan. Bagaimana sifat-sifat Tuhan dipahami dan diterapkan dalam realitas dapat diupayakan ulang untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam dan sesuai dengan pengetahuan baru.

*5. Penilaian terhadap Realitas Kuantum dan Dimensi Baru:*

- Konsep tajdid ontologis harus merespons penemuan dalam ilmu fisika kuantum atau dimensi-dimensi baru yang mungkin menantang pemahaman ontologis tradisional. Ini menciptakan kebutuhan untuk menilai dan membarui pemahaman tentang realitas dan eksistensi.

*6. Pengkajian Ulang Terhadap Makna Hidup dan Tujuan Kehidupan:*

- Tajdid ontologis dapat mencakup pengkajian ulang terhadap makna hidup dan tujuan kehidupan dalam konteks ilmu pengetahuan. Bagaimana manusia memahami tujuan eksistensinya dan bagaimana ilmu pengetahuan memberikan wawasan baru menjadi perhatian dalam tajdid ontologis.

*7. Pencarian Keseimbangan Antara Materi dan Spiritualitas:*

- Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih terfokus pada aspek materi, tajdid ontologis menyoroti kebutuhan untuk mencari keseimbangan antara pemahaman materi dan spiritualitas. Ini menciptakan pemahaman holistik tentang eksistensi manusia dan alam semesta.

*8. Dialog Antarilmu dan Interdisipliner:*

(11)

- Tajdid ontologis mendorong dialog antarailmu dan pendekatan interdisipliner.

Melibatkan ahli-ahli berbagai disiplin ilmu untuk menyelidiki dan memahami implikasi ontologis dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks tajdid ontologis, penting untuk mempertahankan esensi nilai-nilai Islam sambil mengakomodasi dan merespons dinamika ilmu pengetahuan modern. Ini adalah bentuk keterbukaan Islam untuk terus belajar, berevolusi, dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

B. Peran Tarjih dalam Penentuan Prioritas Pendekatan Pengetahuan

Pera Tarjih dalam penentuan prioritas pendekatan pengetahuan memainkan peran sentral dalam menilai, memilih, dan memberi keutamaan terhadap berbagai pendekatan pengetahuan. Berikut adalah beberapa aspek peran Tarjih dalam penentuan prioritas pendekatan pengetahuan:

1. *Evaluasi Keabsahan dan Kekuatan Pendekatan:*

- Tarjih memungkinkan penilaian terhadap keabsahan dan kekuatan berbagai pendekatan pengetahuan. Ini melibatkan pengukuran validitas, konsistensi, dan relevansi setiap pendekatan untuk menentukan prioritas.

2. *Kontekstualisasi Pengetahuan:*

- Tarjih membantu dalam kontekstualisasi pengetahuan, mempertimbangkan kondisi waktu dan tempat. Prioritas diberikan pada pendekatan yang lebih relevan dan bermanfaat dalam konteks spesifik masyarakat atau situasi.

3. *Keseimbangan Antara Akal dan Wahyu:*

- Dalam penentuan prioritas, Tarjih menciptakan keseimbangan antara akal dan wahyu.

Pendekatan pengetahuan yang sejalan dengan akal sehat dan tetap konsisten dengan ajaran wahyu mendapatkan keutamaan.

4. *Mengakomodasi Perkembangan Ilmu Pengetahuan:*

- Tarjih melibatkan penyesuaian dan pengakomodasian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Prioritas diberikan kepada pendekatan yang dapat menggabungkan penemuan ilmiah baru dan mempertahankan keabsahan ajaran agama.

5. *Kriteria Kebermanfaatan untuk Masyarakat:*

- Tarjih menetapkan kriteria kebermanfaatan untuk masyarakat. Pendekatan pengetahuan yang dapat memberikan manfaat positif, moral, dan sosial kepada masyarakat mendapatkan prioritas lebih tinggi.

6. *Pentingnya Tujuan Agama:*

(12)

- Dalam Tarjih, prioritas diberikan pada pendekatan yang sesuai dengan tujuan agama.

Pemahaman dan penggunaan pengetahuan harus sejalan dengan prinsip-prinsip agama dan membawa kebaikan kepada umat.

7. *Pertimbangan Etika dan Moral:*

- Tarjih mempertimbangkan aspek etika dan moral dalam penentuan prioritas. Pendekatan pengetahuan yang konsisten dengan nilai-nilai etika dan moral Islam mendapatkan prioritas yang lebih tinggi.

8. *Kesesuaian dengan Kondisi Sosial:*

- Tarjih memperhitungkan kesesuaian pendekatan dengan kondisi sosial masyarakat.

Prioritas diberikan kepada pengetahuan yang dapat merespon dan memecahkan masalah aktual yang dihadapi oleh masyarakat.

Melalui Tarjih, Islam menciptakan kerangka kerja penilaian yang mendalam dan holistik terhadap berbagai pendekatan pengetahuan. Ini membantu memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dan diaplikasikan sesuai dengan nilai-nilai agama, relevan dalam konteks sosial, dan memberikan manfaat positif kepada masyarakat.

C. Tajdid Epistemologis dan Adaptasi terhadap Perkembangan Ilmu

"Tajdid epistemologis" merujuk pada upaya pembaruan dan adaptasi dalam pemahaman epistemologi, terutama dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Ini mencakup penyesuaian cara-cara pandang dan metode-metode pengetahuan agar tetap relevan dan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut:

1. *Pembaruan Pemahaman Epistemologi:*

- Tajdid epistemologis melibatkan pembaruan pemahaman terhadap epistemologi, yaitu cabang filsafat yang mempertanyakan sumber, batas, dan validitas pengetahuan. Pembaruan ini melibatkan peninjauan kembali konsep-konsep seperti kebenaran, keyakinan, dan metode-metode pengetahuan.

2. *Relevansi dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan:*

- Tajdid epistemologis menciptakan relevansi dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ini termasuk penyesuaian pandangan Islam terhadap temuan dan metodologi ilmiah baru, sehingga epistemologi Islam dapat tetap relevan dalam konteks pengetahuan yang berkembang pesat.

3. *Interaksi Antara Ilmu Pengetahuan dan Ajaran Agama:*

- Tajdid epistemologis menyoroti pentingnya interaksi antara ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Ini melibatkan pencarian cara agar pemahaman kebenaran ilmiah tidak

(13)

bertentangan dengan nilai-nilai agama, dan sebaliknya, bagaimana nilai-nilai agama dapat memberikan panduan dalam menafsirkan pengetahuan.

4. *Pengembangan Metodologi Islami:*

- Tajdid epistemologis mencakup pengembangan metodologi pengetahuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Ini bisa melibatkan penyusunan kembali metode-metode ilmiah, penelitian, dan pendekatan-pendekatan epistemologis agar sejalan dengan nilai-nilai Islam.

5. *Dialog Antarbudaya dan Antarpemikiran:*

- Tajdid epistemologis mendorong dialog antarbudaya dan antarpemikiran. Ini melibatkan pertukaran ide dan pandangan antara pemikir Muslim dan non-Muslim guna memahami dan menghargai berbagai kerangka epistemologis.

6. *Penyelarasan Dengan Nilai-Nilai Agama:*

- Tajdid epistemologis menciptakan upaya penyelarasan antara nilai-nilai agama dan temuan ilmiah. Pemikiran ini bertujuan untuk meminimalkan potensi konflik antara pengetahuan dan keyakinan agama serta membangun keselarasan di antara keduanya.

7. *Pembaharuan Pemikiran Keislaman:*

- Tajdid epistemologis merupakan bagian dari upaya pembaharuan pemikiran keislaman secara umum. Ini mencakup pembaruan dalam konsep-konsep intelektual dan epistemologis agar tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Melalui tajdid epistemologis, Islam berusaha untuk tetap dinamis dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sambil memastikan bahwa prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama tetap menjadi panduan dalam mencari pengetahuan dan pemahaman tentang alam semesta dan kehidupan.

V. Tinjauan Aksiologi

A. Nilai-Nilai Moral dan Etika dalam Islam

Tinjauan aksiologi nilai-nilai moral dan etika dalam Islam mencakup prinsip-prinsip moral dan etika yang membimbing perilaku individu dan masyarakat. Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai dan moral. Dalam konteks Islam, nilai-nilai moral dan etika sangat penting dan bersumber dari ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Berikut adalah beberapa poin kunci dalam tinjauan ini:

1. *Taqwa sebagai Dasar Moral:*

(14)

- Nilai moral dan etika dalam Islam sering kali ditekankan dalam konsep taqwa, yaitu kesalehan dan ketakwaan kepada Allah. Taqwa menjadi dasar moralitas Islam, membimbing individu untuk bertindak sesuai dengan norma-norma agama.

2. *Keadilan dan Kesetaraan:*

- Islam menekankan prinsip keadilan dan kesetaraan sebagai nilai-nilai moral yang mendasar.

Semua individu, tanpa memandang ras, suku, atau status sosial, diharapkan diperlakukan secara adil dan setara dalam Islam.

3. *Kasih Sayang dan Kepedulian Sosial:*

- Nilai-nilai moral dan etika dalam Islam mencakup kasih sayang, kepedulian sosial, dan berbagi dengan sesama. Keberadaan zakat (sumbangan wajib) dan konsep infaq menunjukkan komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

4. *Larangan Perbuatan Mungkar:*

- Islam menegaskan larangan terhadap perbuatan mungkar (kemungkaran) dan mendorong umatnya untuk memerangi kejahatan. Prinsip ini menciptakan lingkungan yang bersih dari moralitas yang merugikan individu dan masyarakat.

5. *Akhlak Mulia (Adab):*

- Adab atau akhlak mulia merupakan nilai-nilai etika yang ditekankan dalam Islam.

Kesopanan, kejujuran, kesetiaan, dan sopan santun adalah beberapa contoh dari prinsip-prinsip ini.

6. *Kesucian Diri dan Kemandirian:*

- Islam menekankan kesucian diri dan kemandirian sebagai nilai-nilai moral dan etika.

Pemeliharaan kesucian diri, baik secara fisik maupun spiritual, dianggap sebagai tanggung jawab individu terhadap dirinya sendiri dan Tuhan.

7. *Pentingnya Ihsan:*

(15)

- Prinsip Ihsan, yang mencakup kebaikan dan kesempurnaan dalam semua tindakan, memandu individu untuk melakukan yang terbaik dan memberikan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan.

8. *Pentingnya Akad Nikah:*

- Dalam konteks hubungan antar-individu, Islam menekankan pentingnya akad nikah sebagai langkah etis dan moral dalam membentuk keluarga.

9. *Kepatuhan terhadap Hukum Allah:*

- Kepatuhan terhadap hukum-hukum Allah dan norma-norma yang ditetapkan oleh Islam adalah nilai fundamental dalam aksiologi Islam. Hal ini menciptakan kerangka kerja etika dan moral yang kuat.

10. *Tanggung Jawab Sosial:*

- Islam menanamkan nilai tanggung jawab sosial, termasuk keberpihakan kepada kaum miskin dan perlindungan terhadap hak-hak individu.

Tinjauan aksiologi terhadap nilai-nilai moral dan etika dalam Islam menunjukkan betapa pentingnya prinsip-prinsip ini sebagai panduan bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan berinteraksi dengan masyarakat. Ini menciptakan landasan etika yang kokoh yang mencerminkan visi kehidupan yang seimbang dan bermakna dalam Islam.

C. Tarjih dalam Penilaian Nilai dan Etika

Konsep Tarjih dalam penilaian nilai dan etika dalam Islam mencerminkan usaha untuk memberikan prioritas atau penilaian terhadap pilihan atau tindakan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai agama dan etika Islam. Ini melibatkan kebijaksanaan dan pertimbangan seorang ahli agama (mujtahid) dalam menilai dan memberikan bobot pada berbagai nilai dan etika dalam situasi tertentu. Berikut adalah cara konsep Tarjih memengaruhi penilaian nilai dan etika:

1. *Penekanan pada Prioritas Nilai:*

- Tarjih menekankan prioritas nilai-nilai dalam Islam. Ketika dihadapkan pada situasi yang kompleks atau bersifat ambigu, Tarjih membantu menentukan nilai-nilai yang harus ditekankan atau diberikan prioritas berdasarkan urgensi dan kepentingannya.

2. *Kontekstualisasi dalam Situasi Khusus:*

(16)

- Konsep Tarjih memungkinkan kontekstualisasi nilai-nilai dan etika. Terkadang, nilai- nilai tertentu dapat menjadi lebih penting atau lebih berat dibandingkan yang lain berdasarkan situasi atau kondisi khusus yang dihadapi.

3. *Fleksibilitas dalam Penerapan Etika:*

- Dengan Tarjih, terdapat tingkat fleksibilitas dalam penerapan etika Islam. Pilihan atau keputusan yang diambil oleh seorang mujtahid mungkin mencerminkan adaptasi terhadap kondisi atau perubahan tertentu dalam masyarakat.

4. *Pertimbangan Antara Keuntungan dan Kerugian:*

- Konsep Tarjih dapat melibatkan pertimbangan antara keuntungan dan kerugian. Dalam menilai nilai dan etika, seorang mujtahid harus mempertimbangkan dampak dari tindakan tertentu terhadap masyarakat dan individu serta apakah itu akan mendatangkan manfaat atau merugikan.

5. *Relevansi dengan Zaman dan Tempat:*

- Tarjih mencerminkan relevansi nilai-nilai dan etika Islam dengan zaman dan tempat.

Terkadang, nilai-nilai yang mungkin lebih relevan atau lebih diterima dalam satu konteks masyarakat tidak selalu sama dalam konteks yang berbeda.

6. *Menghormati Prinsip-Prinsip Dasar:*

- Meskipun Tarjih memberikan ruang bagi penilaian yang lebih kontekstual, konsep ini tetap menghormati prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai inti Islam. Hal ini memastikan bahwa kebijaksanaan yang diterapkan tetap sejalan dengan ajaran agama secara umum.

7. *Keseimbangan Antara Hukum dan Etika:*

- Dalam penilaian nilai dan etika, Tarjih menciptakan keseimbangan antara hukum dan etika. Meskipun suatu tindakan mungkin sah dari segi hukum, Tarjih mempertimbangkan apakah tindakan tersebut juga etis dan sesuai dengan nilai-nilai moral Islam.

8. *Penilaian yang Mendalam dan Kontekstual:*

- Tarjih melibatkan penilaian yang mendalam dan kontekstual terhadap situasi atau isu yang dihadapi. Ini menciptakan kebijaksanaan yang diperlukan dalam memahami nuansa dan kompleksitas nilai dan etika tertentu.

Dengan demikian, konsep Tarjih dalam penilaian nilai dan etika memainkan peran penting dalam menyelaraskan prinsip-prinsip Islam dengan realitas kontemporer dan situasi yang kompleks. Ini menciptakan kerangka kerja yang bijaksana dan kontekstual untuk membuat keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan etika Islam.

D. Tajdid Aksiologis dan Penyesuaian terhadap Perubahan Sosial

Konsep tajdid aksiologis mencerminkan upaya pembaruan dan penyesuaian nilai-nilai aksiologis atau nilai-nilai etika dalam Islam untuk tetap relevan dan responsif terhadap perubahan sosial. Ini mencakup proses peninjauan kembali, pembaharuan, dan penyesuaian

(17)

terhadap nilai-nilai moral dan etika dalam konteks perubahan masyarakat. Berikut adalah beberapa cara bagaimana konsep tajdid aksiologis dan penyesuaian terhadap perubahan sosial dapat dijelaskan:

1. *Pembaruan Pemahaman Terhadap Nilai-Nilai Islam:*

- Tajdid aksiologis melibatkan pembaruan pemahaman terhadap nilai-nilai Islam. Ini mencakup peninjauan ulang terhadap nilai-nilai etika dan moral dalam ajaran Islam agar tetap relevan dan dapat diterapkan dalam konteks sosial yang berubah.

2. *Penyesuaian Terhadap Dinamika Sosial:*

- Konsep ini memungkinkan penyesuaian terhadap dinamika sosial yang berkembang.

Nilai-nilai Islam harus mampu merespons dan memberikan pedoman dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat seiring waktu.

3. *Pemberdayaan Nilai-Nilai Fundamental:*

- Meskipun ada penyesuaian, tajdid aksiologis tetap memperkuat nilai-nilai fundamental Islam. Hal ini mencakup nilai-nilai seperti keadilan, kesetaraan, kasih sayang, dan integritas, yang tetap menjadi pijakan utama dalam menyusun sistem etika Islam.

4. *Inklusivitas dan Toleransi:*

- Tajdid aksiologis dapat menciptakan inklusivitas dan toleransi dalam nilai-nilai Islam.

Dalam menghadapi perubahan sosial, nilai-nilai etika harus mengakomodasi keberagaman dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip toleransi.

5. *Peninjauan Ulang Hukum dan Kebijakan:*

- Penyesuaian nilai-nilai aksiologis dapat mencakup peninjauan ulang terhadap hukum dan kebijakan Islam. Ini memastikan bahwa nilai-nilai moral dan etika mencerminkan kebutuhan dan kondisi aktual masyarakat.

6. *Pembaruan dalam Pendidikan dan Penyuluhan:*

- Tajdid aksiologis mencakup pembaruan dalam pendidikan dan penyuluhan. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan ini memerlukan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan sosial.

7. *Respons terhadap Tantangan Moral:*

- Konsep ini menciptakan respons yang lebih efektif terhadap tantangan moral yang baru muncul. Misalnya, dampak teknologi dan globalisasi pada nilai-nilai sosial dapat menjadi fokus peninjauan ulang nilai-nilai aksiologis.

8. *Keteladanan dalam Perilaku Individu dan Pemimpin:*

(18)

- Tajdid aksiologis memperkuat pentingnya keteladanan dalam perilaku individu dan pemimpin. Kepatuhan terhadap nilai-nilai etika Islam harus tercermin dalam tindakan dan keputusan sehari-hari, memberikan contoh bagi masyarakat.

Dengan konsep tajdid aksiologis dan penyesuaian terhadap perubahan sosial, Islam dapat menjaga relevansi nilai-nilai etika dan moralnya dalam menghadapi dinamika kompleks masyarakat modern. Hal ini menciptakan kerangka kerja yang responsif dan mendalam untuk membimbing individu dan masyarakat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama.

VI. Implikasi Tarjih dan Tajdid dalam Kehidupan Kontemporer A. Ontologis: Dialog dengan Ilmu Pengetahuan Modern B. Epistemologis: Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Kritis C. Aksiologis: Keberlanjutan Nilai-Nilai Moral dan Keadilan

VII. Tantangan dan Jalan ke Depan

A. Kontroversi dalam Proses Tarjih dan Tajdid

B. Ketidakpastian dalam Menjawab Pertanyaan Kontemporer C. Perlunya Komunikasi Terbuka dan Dialog

VIII. Kesimpulan

A. Pemahaman Keseluruhan terhadap Tarjih dan Tajdid B. Relevansi dan Pentingnya Konsep dalam Konteks Modern C. Tantangan dan Peluang untuk Masa Depan

IX. Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini kami menilai tesis tersebut dapat disetujui untuk diajukan dalam sidang ujian tesis pada Program studi Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta..

Berdasarkan hisab hakiki yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hasil hisab awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Zulhijjah

Lalu mungkinkah akan terjadi perbedaan lagi, apa yang telah ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah berdasarkan hisab dengan penetapan

Majelis Tarjih dan Tajdid memiliki rencana strategis untuk: Menghidupkan trjih, tajdid, dan pemikiran Islam dalam Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan yang kritis-dinamis