• Tidak ada hasil yang ditemukan

Donor darah dalam perspektif hukum islam kelompok 5

N/A
N/A
Adila Nurhaliza (Dila)

Academic year: 2025

Membagikan "Donor darah dalam perspektif hukum islam kelompok 5"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

DONOR DARAH DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Dosen Pengampu: Ahmad Fauzi Sudirman, S.H, M.H

Disusun Oleh:

Adila Nurhaliza (2221609049) Rival Octaparda Perkasa

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS SAMARINDA 2024

(2)

BAB I PEMBUKAAN A. Latar Belakang

Donor darah merupakan salah satu bentuk kontribusi kemanusiaan yang memiliki manfaat besar bagi kesehatan masyarakat. Dalam berbagai situasi, seperti kondisi darurat medis, bencana, atau kebutuhan transfusi darah untuk pasien tertentu, donor darah dapat menjadi penyelamat nyawa. Namun, dalam praktiknya, terdapat beberapa pertanyaan yang muncul terkait hukum dan pandangan agama Islam terhadap tindakan donor darah ini.

Islam sebagai agama yang sempurna memberikan panduan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal medis dan kemanusiaan. Dalam perspektif Islam, segala tindakan yang membawa manfaat bagi umat manusia dan tidak melanggar syariat dianggap sebagai perbuatan yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana Islam memandang donor darah, baik dari segi hukum, etika, maupun nilai kemanusiaan.

B. Rumusan Masalah

1. Donor darah menurut pandangan Ulama terdahulu dan Ulama sekarang 2. Landasan hukum dari Al-Qur’an dan Hadis

3. Sebab-sebab yang bisa mengharamkan donor darah

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Donor darah menurut pandangan Ulama terdahulu dan Ulama sekarang

Menurut para ulama fikih, meskipun darah memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, proses transfusi darah dari satu orang ke orang lain tidak memiliki implikasi hukum tertentu dalam Islam. Transfusi darah tidak memengaruhi aspek-aspek seperti hubungan pernikahan atau hak waris. Dalam konteks pernikahan, hal-hal yang dapat menyebabkan larangan menikah hanya mencakup tiga jenis hubungan: hubungan nasab (kekerabatan melalui keturunan), hubungan musaharah (ikatan pernikahan, seperti mertua atau menantu), dan hubungan rada'ah (persusuan).

a. Pandangan ulama terdahulu (Klasik)

Para ulama terdahulu tidak secara spesifik membahas hukum donor darah karena praktik medis modern seperti transfusi darah belum dikenal pada masa itu. Namun, prinsip-prinsip dasar syariat Islam yang membahas perlindungan nyawa dan tolong-menolong dalam kebaikan tetap relevan. Ulama klasik cenderung berlandaskan pada:

1. Prinsip Darurat (Dharurat)

Dalam ajaran Islam, terdapat prinsip penting yang dikenal sebagai prinsip darurat (dharurat). Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu yang pada dasarnya dilarang dapat menjadi diperbolehkan ketika berada dalam situasi darurat yang mengancam keselamatan jiwa manusia. Kaidah ini dirumuskan dalam ungkapan: ad-dharurat tubihu al-mahzurat (keadaan darurat membolehkan hal-hal yang terlarang). 1Prinsip ini menjadi salah satu dasar fleksibilitas syariat Islam dalam menghadapi kondisi ekstrem, dengan tujuan utama untuk menjaga lima hal pokok dalam maqashid syariah, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Salah satu dalil yang menjadi landasan prinsip ini adalah firman Allah dalam Surah Al- Baqarah ayat 173, di mana Allah membolehkan konsumsi makanan yang haram dalam keadaan darurat. Ayat tersebut berbunyi:

1 Ibn Qudamah, Al-Mughni, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Beirut, 1983, vol. 9.

(4)

نِمَفَ هِلَّلا رِيْغَل هِبِ لَّهِأُ امَوَ رِيزِنخِلا مَحْلوَ مَدَّلاوَ ةَتَيْمَلا مَكُيْلَّعَ مَرِحَ امَنَّإِ

&مَيْحَرَ &رَوفُغَ هِلَّلا نَّإِ هِيْلَّعَ مَثْإِ لَافَ .دٍاعَ لَاوَ .غٍابِ رِيْغَ رِطُضْا

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa, dengan tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.

Al-Baqarah: 173)

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat, seperti kelaparan ekstrem yang dapat mengancam nyawa, seseorang diperbolehkan mengonsumsi makanan yang diharamkan, selama memenuhi syarat yaitu tidak ada niat untuk melanggar hukum Allah dan tidak berlebihan. Prinsip ini tidak hanya berlaku pada makanan, tetapi juga pada berbagai aspek lain, seperti penggunaan obat-obatan yang mengandung bahan terlarang jika tidak ada alternatif lain.

Dengan demikian, prinsip darurat memberikan kelonggaran dalam syariat Islam untuk memastikan bahwa kehidupan manusia dapat dijaga dan dipertahankan dalam kondisi-kondisi sulit, tanpa melanggar tujuan utama dari aturan agama.

2. Qiyas (Analogi)

Dalam tradisi hukum Islam, qiyas adalah salah satu metode ijtihad yang digunakan untuk menetapkan hukum terhadap suatu perkara baru yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an atau Hadis. Qiyas dilakukan dengan membandingkan perkara baru tersebut dengan perkara lain yang memiliki kemiripan sifat, sebab, atau hikmah hukumnya. Dalam konteks transfusi darah, ulama klasik yang hidup sebelum adanya teknologi medis modern belum secara langsung membahas praktik ini. Namun, mereka menerapkan qiyas dengan merujuk pada konsep-konsep lain yang relevan, seperti pemberian manfaat tubuh, misalnya menyusui ( rada’ah) atau donor organ tubuh non-vital.

1) Menyusui sebagai Analogi

(5)

Dalam Islam, menyusui tidak hanya memberikan manfaat fisik berupa nutrisi bagi bayi, tetapi juga menciptakan hubungan hukum tertentu, seperti hubungan persusuan yang memengaruhi status pernikahan. Ulama menilai bahwa tindakan menyusui adalah bentuk pemberian manfaat dari tubuh seseorang kepada orang lain dengan tujuan menjaga kehidupan dan kesehatan. Dengan analogi ini, transfusi darah dianggap sejalan, karena juga melibatkan pemberian manfaat dari tubuh (darah) seseorang untuk menyelamatkan atau meningkatkan kesehatan orang lain. Bedanya, transfusi darah tidak menyebabkan hubungan hukum seperti rada’ah.

2) Donor Organ Non-Vital:

Donor organ non-vital, seperti donor ginjal, juga sering dijadikan analogi dalam diskusi ulama modern tentang transfusi darah. Donor organ dianggap sah dalam Islam jika memenuhi syarat, seperti tidak membahayakan pendonor secara serius dan bertujuan untuk menyelamatkan jiwa atau meningkatkan kualitas hidup penerima. Prinsip ini dapat diterapkan pada transfusi darah, mengingat darah adalah komponen tubuh yang dapat diperbarui secara alami dan donor darah biasanya tidak menyebabkan kerusakan permanen pada pendonor.

Dalil Qiyas dalam Islam berakar pada firman Allah yang mendorong manusia untuk memahami dan merenungkan hukum-hukum syariat secara mendalam. Misalnya, dalam QS.

An-Nisa: 59, Allah berfirman:

نَّإِفَ مَكُنمَ رِمَلْأَا يلوَأُوَ لَوسُرِلا اوعُيْطِأُوَ هِلَّلا اوعُيْطِأُ اونمَآ نِيذِلا اهَ>يأُ اي مَويْلاوَ هِلَّلابِ نَّونمَؤْتُ مَتَنكُ نَّإِ لَوسُرِلاوَ هِلَّلا ىلإِ هُوَ>دٍرِفَ .ءٍيشَ يفَ مَتَعَزَانتُ

رِخِلْآا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisa: 59)

(6)

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mencari penyelesaian hukum yang sejalan dengan prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an dan Sunnah, bahkan untuk masalah yang tidak disebutkan secara langsung.

Dengan menggunakan qiyas, ulama menyimpulkan bahwa transfusi darah dapat dianggap sah dalam Islam, selama memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti dilakukan dengan niat membantu atau menyelamatkan nyawa tanpa merugikan pihak donor. Pendekatan ini menunjukkan fleksibilitas hukum Islam dalam menghadapi perkembangan zaman dan teknologi medis, serta bagaimana syariat selalu relevan dalam situasi modern. 2

b. Pandangan Ulama sekarang (Kontemporer)

Dengan kemajuan ilmu kedokteran, praktik donor darah telah menjadi topik yang secara khusus dibahas oleh para ulama kontemporer. Sebagian besar ulama dan lembaga fatwa modern sepakat bahwa donor darah hukumnya mubah (diperbolehkan) dalam Islam, selama memenuhi syarat-syarat tertentu. Bahkan, dalam situasi darurat di mana donor darah dapat menyelamatkan nyawa seseorang, tindakan ini bisa berubah hukumnya menjadi wajib.

1. Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang bahwa donor darah adalah perbuatan yang mulia dan memiliki nilai ibadah, terutama karena tujuannya untuk menolong sesama dan menyelamatkan nyawa. MUI menegaskan bahwa donor darah merupakan amal kebaikan yang dianjurkan dalam Islam, karena sejalan dengan prinsip dasar syariat yang sangat menjunjung tinggi nilai kehidupan manusia.3 Dalam Islam, menjaga kehidupan seseorang adalah salah satu tujuan utama (maqashid syariah), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, QS. Al-Maidah:

32:

ۖاJعُيْمَجَسَانللَّتَقَامَنَّأَكُفَ ضِرَلْأَيفَ .دٍاسَفَوَأُ.سٍفُنَّرِيْغَبِاJسَفُنَّ لَّتَقَنِمَ

ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ ۖ

اعً يمِ جَ جَ اجَ لٱ ايجَحْ جَ اآجَ جَ اجَجَ جَ اجَ ايجَحْ جَ حْ جَ جَ

2 Ibn Qudamah, Al-Mughni, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Beirut, 1983, vol. 9.

3 Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 6 Tahun 2006.

(7)

Artinya: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia tanpa alasan yang dibenarkan, atau karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa yang menjaga kehidupan seseorang, maka seakan-akan dia telah menjaga kehidupan seluruh manusia” (QS. Al-Maidah: 32)

Ayat ini menjadi dasar yang sangat kuat untuk membenarkan donor darah sebagai tindakan yang berpahala, karena donor darah secara langsung dapat membantu menyelamatkan jiwa seseorang. Dalam beberapa situasi, misalnya ketika seorang pasien membutuhkan transfusi darah segera untuk menghindari kematian, donor darah bahkan dapat dianggap sebagai kewajiban bagi umat Islam yang mampu melakukannya tanpa membahayakan dirinya sendiri.

Fatwa MUI mengenai donor darah juga mengacu pada prinsip-prinsip fikih, seperti kaidah:

ad-dharurat tubihu al-mahzurat (kondisi darurat membolehkan sesuatu yang dilarang) dan ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib (sesuatu yang menjadi sarana untuk melaksanakan kewajiban maka hukumnya menjadi wajib). Dalam hal ini, menyelamatkan nyawa adalah kewajiban, sehingga donor darah menjadi sarana yang mendukung kewajiban tersebut itu, donor darah dianggap tidak bertentangan dengan hukum Islam selama memenuhi beberapa syarat berikut:

1) Dilakukan secara sukarela, tanpa unsur paksaan.

2) Tidak menyebabkan bahaya atau kerugian serius pada pendonor.

3) Bertujuan untuk membantu orang yang membutuhkan, tanpa adanya maksud yang dilarang syariat.

2. Fatwa Dar Al-Ifta Mesir

Dar Al-Ifta Mesir, lembaga yang memiliki otoritas dalam memberikan fatwa di Mesir, mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa donor darah dapat dianggap sebagai sadaqah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir) dalam Islam, asalkan memenuhi beberapa syarat tertentu.4 Konsep sadaqah jariyah adalah bentuk amal yang pahalanya terus mengalir

4 Fatwa Dar Al-Ifta Mesir dapat ditemukan dalam dokumen fatwa mereka yang menyangkut masalah kesehatan dan amal kemanusiaan, seperti yang tertuang dalam Fatwa No. 3497 Tahun 2014 tentang Donor Darah. diakses melalui www.dar-alifta.org, diakses pada 17 november 2024 pukul 22.27 WITA.

(8)

meskipun orang yang melakukannya sudah meninggal dunia, karena manfaat dari amal tersebut masih dirasakan oleh orang lain dalam jangka panjang. Dalam konteks donor darah, pahalanya dianggap terus mengalir selama darah yang disumbangkan dapat menyelamatkan nyawa orang lain.

Namun, agar donor darah dianggap sebagai sadaqah jariyah, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

1) Tidak membahayakan pendonor: Donor darah harus dilakukan dengan cara yang aman bagi kesehatan pendonor. Ini berarti bahwa donor darah tidak boleh mengancam nyawa atau kesehatan pendonor, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Oleh karena itu, prosedur donor darah harus mematuhi standar medis yang ketat untuk memastikan bahwa pendonor tidak akan mengalami kerugian fisik atau gangguan kesehatan akibat tindakan tersebut.

2) Tidak dilakukan untuk tujuan komersial atau keuntungan pribadi: Donor darah harus dilakukan dengan niat yang ikhlas untuk menolong sesama, bukan untuk tujuan mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan pribadi lainnya. Artinya, donor darah tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial, seperti menjual darah untuk mendapatkan uang. Tujuan utama dari donor darah adalah untuk kemaslahatan umat manusia dan untuk menyelamatkan nyawa.

3) Bertujuan untuk kemaslahatan manusia: Donor darah harus dilakukan untuk tujuan yang mulia, yaitu untuk kemaslahatan umat manusia, seperti menyelamatkan nyawa orang lain atau memberikan manfaat kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh pasien. Pemberian darah yang bertujuan untuk kepentingan kemanusiaan ini dianggap sebagai amal yang sangat dihargai dalam Islam, karena membantu menjaga kehidupan, yang merupakan salah satu tujuan utama syariat Islam.

Fatwa dari Dar Al-Ifta Mesir ini menggarisbawahi bahwa donor darah, ketika dilakukan dengan niat yang benar dan memenuhi syarat-syarat yang disebutkan, dapat menjadi bentuk sadaqah jariyah. Ini berarti pahalanya akan terus mengalir selama darah yang disumbangkan memberikan manfaat bagi penerima. Dengan demikian, donor darah tidak hanya dilihat sebagai tindakan medis, tetapi juga sebagai bentuk amal yang mulia dalam Islam, yang mendatangkan pahala bagi pelakunya.

(9)

3. Pendapat Yusuf Al-Qaradawi

Dalam bukunya yang terkenal, Fiqh Al-Awlawiyyat (Fikih Prioritas), Dr. Yusuf Al- Qaradawi menekankan pentingnya donor darah, terutama dalam situasi darurat. Menurutnya, donor darah bisa dianggap sebagai bagian dari kewajiban kolektif (fardhu kifayah) dalam Islam, terutama ketika kebutuhan mendesak muncul dan hanya bisa dipenuhi jika masyarakat berperan serta.

Fardhu Kifayah adalah kewajiban yang berlaku untuk umat Islam secara kolektif, yang artinya jika sebagian orang melaksanakannya, maka kewajiban tersebut dianggap sudah terpenuhi, tetapi jika tidak ada yang melakukannya, maka seluruh masyarakat akan menanggung dosa. Dalam konteks donor darah, Al-Qaradawi berpendapat bahwa jika ada kebutuhan mendesak untuk darah yang tidak bisa dipenuhi kecuali dengan kontribusi dari masyarakat, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah bagi umat Islam yang mampu untuk melaksanakan donor darah.

Al-Qaradawi menyatakan bahwa dalam situasi seperti bencana alam, kecelakaan besar, atau saat ada wabah penyakit yang membutuhkan transfusi darah dalam jumlah banyak, donor darah menjadi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Oleh karena itu, kontribusi dari individu-individu dalam masyarakat untuk mendonorkan darah mereka menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan, bahkan bisa dianggap sebagai kewajiban moral dan sosial yang harus dipenuhi.

Namun, Al-Qaradawi juga mengingatkan bahwa meskipun donor darah itu sangat dianjurkan, hal tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip, seperti tidak membahayakan pendonor dan memastikan bahwa donor darah dilakukan dengan niat yang tulus untuk menyelamatkan nyawa orang lain.5

B. Landasan Hukum dari Al-Qur’an dan Hadis

Dalam Islam, setiap tindakan yang dilakukan harus didasarkan pada prinsip-prinsip hukum yang jelas, baik dari Al-Qur'an maupun hadis. Donor darah, sebagai tindakan medis yang

5 Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh Al-Awlawiyyat, Dar Al-Shorouq, 1996.

(10)

berkaitan dengan penyelamatan nyawa, dapat dianalisis menggunakan beberapa prinsip dan ayat dalam Al-Qur'an serta hadis Nabi Muhammad SAW.

a. Al-Qur’an 1. Menjaga nyawa QS. Al-Maidah: 32

اعً يمِ جَ جَ اجَ لٱ ايجَحْ جَ اآجَ جَ اجَجَ جَ اجَ ايجَحْ جَ حْ جَ جَ ۖاعً يمِ جَ جَ اجَ لٱ جَ جَجَ اجَ جَ اجَجَ جَ مِ حْ!جَ"حْٱ يمِ $دٍا&جَجَ حْجَ 'دٍ(حْجَ )مِيحْ*جَ+مِ ا&عً(حْجَ جَ جَجَ حْ جَ

Artinya: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia tanpa alasan yang dibenarkan, atau karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa yang menjaga kehidupan seseorang, maka seakan-akan dia telah menjaga kehidupan seluruh manusia” (QS. Al-Maidah: 32)

QS. Al-Maidah: 32 memberikan penekanan yang kuat terhadap pentingnya menjaga dan melindungi kehidupan manusia. Allah SWT mengaitkan tindakan menyelamatkan satu nyawa dengan tindakan yang setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Hal ini menunjukkan betapa besar nilai kemanusiaan dalam perspektif Islam. Dalam konteks donor darah, yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa orang lain, ayat ini menjadi dasar yang mendukung tindakan tersebut. Donor darah dapat dianggap sebagai salah satu bentuk amal yang mulia, karena dapat memberikan kesempatan hidup bagi mereka yang membutuhkan darah untuk bertahan hidup, terutama dalam kondisi darurat atau penyakit tertentu.

Melalui ayat ini, Islam menegaskan bahwa tindakan yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan manusia dianggap sangat terpuji. Oleh karena itu, donor darah yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa seseorang akan sangat dihargai dalam syariat Islam, karena selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam Al-Qur'an. Islam tidak hanya menganjurkan umatnya untuk menjaga nyawa sendiri, tetapi juga mengajak untuk turut menjaga dan melindungi nyawa orang lain. Dalam perspektif ini, donor darah menjadi salah satu bentuk solidaritas sosial yang sejalan dengan prinsip syariat yang mengedepankan kemaslahatan umat.6

6 Syarif, Azmi. "Donor Darah dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Fikih Kesehatan." Jurnal Fikih Islam 13, no. 2 (2015): 231-246.

(11)

Tindakan ini juga mencerminkan prinsip "maslahah" (kemanfaatan) yang menjadi salah satu pertimbangan dalam hukum Islam, di mana segala sesuatu yang membawa manfaat dan kebaikan bagi umat manusia akan dianggap sah dan dibolehkan, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat yang lebih tinggi. Dengan demikian, donor darah bukan hanya dibolehkan, tetapi juga dapat dilihat sebagai tindakan yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama jika hal tersebut bertujuan untuk menyelamatkan nyawa sesama manusia.

2. Kewajiban tolong-menolong

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Hal ini tercermin dalam ayat QS. Al-Ma'idah: 2, yang berbunyi:

بِاقَعُل دَّيدَّشَ هِلَّل نَّإِ ۖهِلَّل اوقَتُوَ ۖ نَّTوَدَّعُلوَ مَثْلْإِ ىلَّعَ اونَّوَاعُتُلَاوَ ٱ ٱ ۖ ٱ ا۟ ٱ ۚ ٱٱا۟

Artinya: "… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong- menolong dalam dosa dan permusuhan…".

Ayat ini menekankan pentingnya kerjasama dalam kebaikan, yaitu segala bentuk bantuan yang memberikan manfaat bagi umat manusia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tolong-menolong dalam Islam bukan hanya sebatas bantuan material, tetapi juga mencakup bantuan dalam bentuk amal jariyah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti membantu orang yang kesulitan, memberi makan orang yang lapar, dan menyelamatkan nyawa seseorang. Oleh karena itu, donor darah dapat dipandang sebagai bentuk ta'awun (tolong- menolong) yang sejalan dengan prinsip kebaikan dalam Islam.7

Donor darah bukan hanya sekedar tindakan medis, tetapi juga merupakan bentuk amal yang memberikan kebaikan yang besar bagi sesama. Dengan memberikan darah kepada yang membutuhkan, seorang pendonor berpartisipasi dalam menyelamatkan nyawa orang lain, yang tentunya termasuk dalam kategori tolong-menolong dalam kebaikan sebagaimana yang dimaksud dalam QS. Al-Ma'idah: 2. Tindakan ini tidak hanya mendatangkan manfaat langsung bagi penerima darah, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan solidaritas sosial dan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar sesama Muslim). Dalam konteks ini, donor darah

7 Nasution, Harun. Hukum Islam: Prinsip dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers, 2007

(12)

dapat dilihat sebagai perbuatan yang sangat sesuai dengan ajaran Islam, karena ia membantu seseorang untuk tetap hidup, yang pada gilirannya memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat dan mendorong umat Islam untuk hidup saling peduli dan berbagi.8

Selain itu, tindakan tolong-menolong dalam Islam harus selalu dilandasi dengan niat yang baik, yaitu niat untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bukan untuk tujuan yang merugikan orang lain atau bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Oleh karena itu, donor darah yang dilakukan dengan tujuan yang ikhlas untuk membantu sesama dan menyelamatkan nyawa akan dipandang sebagai perbuatan yang mulia dan sangat dihargai dalam Islam.9

b. Hadis Nabi Muhammad SAW 1. Menolong Orang Lain

Hadis Nabi Muhammad SAW memberikan dasar yang kuat mengenai perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda:

اعً يمِ جَ جَ اجَ ل ايجَحْ جَ اجَ جَ اجَجَ جَ ا&عً(حْجَ ايجَحْ جَ حْ جَ ايعً.مِا&جَ/جَ حْجَ اعً 0مِاجَ 1جَجَ 2حْجَ جَ

( ملسم هاور ) .

Artinya: "Siapa yang memberi makan kepada orang yang lapar, atau memberikan pakaian kepada orang yang telanjang, atau menyelamatkan nyawa seseorang, maka dia seolah-olah telah menyelamatkan seluruh umat manusia." (HR. Muslim)

Hadis ini menggarisbawahi bahwa perbuatan yang dapat menyelamatkan nyawa, seperti donor darah, adalah tindakan yang sangat dihargai dalam Islam. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menekankan pentingnya amal yang bisa memberikan manfaat besar bagi orang lain, terutama yang berkaitan dengan menyelamatkan hidup. Menyumbangkan darah untuk menyelamatkan kehidupan seseorang juga termasuk dalam kategori perbuatan yang sangat mulia ini. Oleh karena itu, tindakan donor darah dianggap sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk peduli terhadap keselamatan dan kehidupan sesama, serta memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi orang lain. Donor darah bukan hanya sebagai

8 Syarif, Azmi. "Donor Darah dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Fikih Kesehatan." Jurnal Fikih Islam 13, no. 2 (2015): 231-246.

9 Munir, Abdul. "Konsep Ta'awun dalam Islam dan Implementasinya dalam Kehidupan Sosial." Jurnal Ilmu Sosial dan Politik 8, no. 1 (2017): 15-30.

(13)

tindakan medis, tetapi juga sebagai amal jariyah yang membawa kebaikan bagi umat manusia.

10

Dengan dasar hadis ini, dapat dipahami bahwa donor darah sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan kehidupan seseorang adalah perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena ia berkontribusi langsung pada upaya menjaga kehidupan dan kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, segala usaha untuk menyelamatkan nyawa dianggap sangat mulia dan berharga di hadapan Allah SWT.

C. Sebab-sebab yang bisa mengharamkan donor darah

Dalam Islam, setiap tindakan medis, termasuk donor darah, pada dasarnya diperbolehkan dengan syarat memenuhi ketentuan syariat yang ada. Namun, ada beberapa kondisi atau alasan yang dapat membuat donor darah menjadi haram. Berikut adalah beberapa sebab yang dapat mengharamkan donor darah:

1. Membahayakn Kesehatan pendonor

Islam sangat menjaga keselamatan tubuh umatnya, sebagaimana tertulis dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadis. Dalam konteks ini, Islam mengajarkan agar setiap tindakan yang dilakukan oleh umatnya harus memperhatikan keselamatan tubuh dan kesehatan. Jika donor darah dilakukan dengan cara yang dapat membahayakan kesehatan pendonor, maka tindakan tersebut dapat dianggap haram. Hal ini karena Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat merusak tubuh atau mengancam nyawa seseorang, meskipun dilakukan dengan niat baik.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah:

رارَضِ لَاو ررَضِ لَا

( هِجَامَ نِبِا هُاوَرَ ) .

Artinya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain." (HR. Ibn Majah)

10 Syarif, Azmi. "Donor Darah dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Fikih Kesehatan." Jurnal Fikih Islam 13, no. 2 (2015): 231-246.

(14)

Hadis ini mengajarkan bahwa Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan bahaya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam konteks donor darah, jika prosedur tersebut berisiko menyebabkan pendarahan berlebihan, infeksi, atau komplikasi medis lainnya yang dapat merugikan pendonor, maka donor darah tersebut menjadi haram.

Oleh karena itu, prosedur donor darah harus dilakukan dengan pengawasan medis yang memadai, memastikan bahwa pendonor berada dalam kondisi sehat dan proses tersebut tidak membahayakan kesehatannya. Dalam Islam, tindakan medis seperti donor darah diperbolehkan selama tidak menimbulkan kerusakan atau bahaya pada tubuh pendonor.

2. Donor darah dengan tujuan yang tidak diperbolehkan dalam islam

Donor darah dapat menjadi haram jika dilakukan dengan tujuan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti tujuan komersial atau untuk keuntungan pribadi. Islam mengajarkan bahwa setiap amal perbuatan harus dilakukan dengan niat yang ikhlas, dan tidak boleh dilakukan untuk tujuan yang bertentangan dengan syariat Islam atau untuk keuntungan yang tidak sah. Dalam konteks donor darah, jika darah didonorkan dengan tujuan untuk diperjualbelikan atau digunakan dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama, maka tindakan tersebut menjadi haram.

Sebagaimana Allah SWT mengingatkan umat-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 267-268:

نَم مكُلَ انَجْرَخْأَ امَّمو متُبْسكَ ام تِابْيِّطَ نَم اوقُفِنأَ اونَمآ نَيذِلَا اهَ)يأَ اي

اونَمؤْتُ نْأَ لَاإِ نْولئِاتُ لَا متُنأَو نْوقُفِنَتُ هُنَم ثَيِّبْخَلَا اومَّمَّيِّتُ لَاو ضِرلْأَا رَخْلْآا مِويو هُللَابِ نْونَمؤْيو هُبِ نْونَمؤْيو رَخْلْآا مِويو هُللَابِ.

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan untukmu dari bumi..." (QS. Al- Baqarah: 267)

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan umat-Nya untuk memberikan sesuatu yang baik dan halal, bukan yang buruk, sebagai sedekah atau amal. Demikian pula, jika donor darah dilakukan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan syariat, seperti untuk dijual dengan tujuan komersial atau untuk memperoleh keuntungan pribadi, maka perbuatan tersebut menjadi

(15)

haram karena bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan niat baik, keikhlasan, dan tidak mencari keuntungan yang tidak sah.

Islam mengajarkan bahwa setiap amal perbuatan harus dilandasi dengan niat yang tulus dan tidak melanggar prinsip-prinsip moral dan agama. Oleh karena itu, donor darah yang dilakukan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti untuk kepentingan pribadi atau tujuan yang tidak sah, jelas menjadi haram. Sebaliknya, donor darah yang dilakukan dengan niat untuk menyelamatkan nyawa orang lain dan bukan untuk keuntungan pribadi atau tujuan yang bertentangan dengan ajaran Islam akan dipandang sebagai perbuatan yang mulia dan sah menurut hukum Islam.

3. Donor Darah yang Mengandung Unsur Paksaan atau Tanpa Persetujuan

Islam menekankan pentingnya persetujuan dalam setiap tindakan, terutama yang melibatkan orang lain. Dalam konteks donor darah, tindakan ini harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan persetujuan sukarela dari pendonor. Jika donor darah dilakukan dengan paksaan atau tanpa persetujuan pendonor, maka tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan dan kehendak dalam Islam, dan oleh karena itu menjadi haram.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim:

" ىون ام 8ئٍرَما لِّكُلَ امَّنإِو تِايِّنَلَابِ لُامَّعلْأَا امَّنإِ

يرَاخِبلا هُاوَرَ )

(مَلَّسَمَوَ.

Artinya: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa niat adalah dasar yang sangat penting dalam setiap amal perbuatan. Jika donor darah dilakukan dengan niat yang tidak ikhlas atau tanpa persetujuan sadar dari pendonor, maka amal tersebut tidak akan diterima dalam Islam. Oleh karena itu, donor darah yang dilakukan secara sukarela dan dengan niat yang tulus sesuai dengan prinsip kebebasan dalam Islam akan dianggap sah dan dihargai. Sebaliknya, donor darah yang

(16)

dilakukan dengan paksaan atau tanpa persetujuan pendonor tidak sesuai dengan ajaran Islam dan tidak dapat dianggap sebagai amal yang sah.

4. Donor Darah untuk Praktik yang Dilarang dalam Islam

Donor darah, yang secara prinsip dimaksudkan untuk tujuan yang baik, dapat menjadi haram jika digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti digunakan dalam praktik sihir, penyembahan, atau kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan hukum Islam. Penggunaan darah untuk tujuan yang melanggar hukum Allah seperti ini jelas akan membuat tindakan tersebut menjadi haram. Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain secara sengaja dan tidak sah, akan dilarang.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 195:

"

نِيْنسَحْمَلا >بُّحْي هُ لَالا نَّإِ اونسَحَأُوَ ةَكُلَّهَتَلا ىلإِ مَكُيدَّيأَبِ اوقَلَّتُ لَاوَ "

Artinya: "Dan janganlah kamu mencampakkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al- Baqarah: 195)

Ayat ini mengingatkan umat Islam agar tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, termasuk dalam hal ini penggunaan darah untuk tujuan yang salah.

Jika darah digunakan untuk tujuan yang dapat merusak atau membahayakan orang lain, seperti untuk sihir, penyembahan, atau praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka tindakan tersebut jelas menjadi haram. Dalam Islam, menjaga kesejahteraan dan nyawa manusia adalah salah satu prinsip yang sangat dihargai, sehingga penggunaan darah untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama sangat dilarang.

5. Donor Darah yang Melibatkan Ketidakjujuran atau Penipuan

Donor darah dapat menjadi haram jika dilakukan dengan cara yang tidak jujur atau melibatkan penipuan, seperti mendonorkan darah palsu atau jika tujuannya untuk mendapatkan

(17)

manfaat yang tidak sah. Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam hubungan antar sesama manusia maupun dalam melaksanakan amal ibadah. Tindakan yang mengandung kebohongan atau penipuan, seperti memberikan darah yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh pendonor, akan merusak integritas dari perbuatan tersebut dan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 12:

=مثْإِ نَظَّلَا ضَعْبِ نْإِ نَظَّلَا نَم ا Bرَيِّثِكَ اوبْنَتُجْا اونَمآ نَيذِلَا اهَ)يأَ اي لِّكَأْي نْأَ مكَدُحَأَ )بُّحِيأَ اBضًعْبِ مكُضًعْبِ بُّتُغْي لَاو اوسسجَتُ لَاو

=ميِّحَر =بٌاوتُ لَّالَا نْإِ ه لَّالَا اوقُتُاو هومَّتُهْرَكُفَ اBتُيِّم هُيِّخْأَ محِلَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu saling mengintip dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk menjauhi prasangka buruk dan segala bentuk penipuan atau kebohongan yang dapat merugikan orang lain. Dalam konteks donor darah, memberikan darah yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh pendonor atau melakukan penipuan dalam proses tersebut merupakan bentuk ketidakjujuran yang dapat merugikan orang lain.

Selain itu, penipuan seperti ini juga bertentangan dengan prinsip tolong-menolong yang diajarkan dalam Islam, yang harus dilakukan dengan cara yang jujur dan penuh tanggung jawab.

Jika donor darah dilakukan dengan cara yang tidak jujur atau melibatkan penipuan, maka perbuatan tersebut tidak dapat dianggap sah dalam Islam dan menjadi haram. Islam mengajarkan bahwa amal yang baik harus didasarkan pada niat yang ikhlas dan kejujuran, tanpa adanya unsur penipuan atau manipulasi.

6. Donor darah yang dilakukan oleh orang yang tidak sehat atau tidak memenuhi syarat medis

(18)

Dalam Islam, salah satu syarat utama untuk melakukan donor darah adalah bahwa pendonor harus berada dalam kondisi fisik yang sehat. Jika seseorang tidak memenuhi syarat medis untuk mendonorkan darah, seperti memiliki penyakit tertentu atau kondisi tubuh yang lemah, maka donor darah ini bisa menjadi haram. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dapat membahayakan kesehatan pendonor, yang mana dalam Islam sangat ditekankan untuk menjaga kesehatan tubuh. Melakukan donor darah dalam keadaan yang tidak memenuhi standar medis atau jika hal tersebut dapat membahayakan kesehatan pendonor bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan pentingnya menjaga tubuh dan kesehatan.

Islam mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan baik, dan setiap tindakan yang dapat merusak tubuh atau menurunkan kualitas hidup seseorang harus dihindari. Oleh karena itu, jika donor darah dilakukan oleh seseorang yang tidak memenuhi syarat medis, tindakan tersebut bisa diharamkan. Jika donor darah dilakukan dalam kondisi yang dapat membahayakan tubuh atau kesehatan, maka perbuatan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan keselamatan jiwa dan kesehatan tubuh.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 195:

ةِكُلهَتُلَا ىلَإِ مكُيدُيأْبِ اوقُلتُ لَاو لَّالَا لِّيِّبْسَ يفَ اوقُفِنأَو نَيِّنَسحِمَّلَا )بُّحِي لَّالَا نْإِ اونَسحَأَو

Artinya: "Dan belanjakanlah (harta) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat ini mengingatkan umat Islam agar tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, termasuk dalam hal ini tindakan donor darah yang dapat merusak kesehatan pendonor. Jika donor darah dilakukan tanpa mempertimbangkan kesehatan pendonor, maka hal tersebut bisa dianggap sebagai perbuatan yang dapat mencelakai diri sendiri dan bertentangan dengan prinsip Islam untuk menjaga kesehatan tubuh. Oleh karena itu, sebelum mendonorkan darah, pendonor harus dipastikan dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat medis yang ditetapkan.

(19)

BAB III PENUTUP

(20)

A. Kesimpulan

Donor darah dalam Islam merupakan perbuatan yang diperbolehkan (mubah), bahkan dapat menjadi wajib dalam situasi darurat yang mengancam nyawa. Hal ini didasarkan pada prinsip syariat seperti ad-dharurat tubihu al-mahzurat (kondisi darurat membolehkan hal yang terlarang) yang menunjukkan fleksibilitas hukum Islam dalam menjaga kehidupan manusia. Para ulama klasik maupun kontemporer sepakat bahwa donor darah adalah tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam, asalkan dilakukan dengan niat yang baik, tanpa membahayakan kesehatan pendonor, dan untuk tujuan kemanusiaan. Dalam Al-Qur'an, QS.

Al-Maidah: 32 menekankan pentingnya menjaga kehidupan manusia, sementara QS. Al- Maidah: 2 mendorong umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kedua ayat ini menjadi landasan kuat untuk mendukung donor darah sebagai amal mulia yang sejalan dengan prinsip kemaslahatan dalam Islam. Namun, donor darah dapat menjadi haram jika dilakukan dengan cara yang melanggar syariat, seperti membahayakan pendonor, dilakukan tanpa persetujuan, untuk tujuan komersial, atau jika pendonor tidak memenuhi syarat kesehatan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa donor darah merupakan perbuatan mulia yang bernilai ibadah karena bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, sesuai dengan tujuan utama syariat Islam. Bahkan, lembaga seperti Dar Al-Ifta Mesir menyebut donor darah sebagai bentuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama darah yang didonorkan memberikan manfaat. Dengan demikian, donor darah bukan hanya tindakan medis, tetapi juga amal kebaikan yang sangat dianjurkan dalam Islam, selama dilakukan dengan niat tulus dan sesuai dengan syariat.

B. Saran

Untuk meningkatkan partisipasi dalam donor darah, masyarakat perlu lebih diedukasi tentang pentingnya donor darah sebagai bentuk amal dan ibadah dalam Islam. Sosialisasi dapat dilakukan melalui masjid, sekolah, dan lembaga keagamaan untuk menanamkan pemahaman bahwa donor darah tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga mendatangkan pahala. Lembaga donor darah perlu menyediakan pelatihan dan pemeriksaan kesehatan bagi calon pendonor untuk memastikan proses donor dilakukan secara aman dan sesuai standar. Selain itu, ulama dan tokoh agama diharapkan berperan aktif dalam

(21)

memberikan ceramah yang mendorong umat Islam untuk mendonorkan darah mereka secara sukarela. Pemerintah dan lembaga terkait juga harus memastikan ketersediaan fasilitas donor darah yang nyaman dan aman untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Pendekatan religius melalui kerja sama antara lembaga kesehatan dan organisasi keagamaan juga dapat menjadi langkah strategis untuk menjangkau lebih banyak pendonor serta memperkuat solidaritas sosial. Dengan langkah ini, donor darah diharapkan dapat terus dilakukan secara aman, sesuai syariat Islam, dan memberikan manfaat besar bagi kemanusiaan.

DAFTAR PUSTAKA Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 6 Tahun 2006.

(22)

Fatwa Dar Al-Ifta Mesir dapat ditemukan dalam dokumen fatwa mereka yang menyangkut masalah kesehatan dan amal kemanusiaan, seperti yang tertuang dalam Fatwa No. 3497 Tahun 2014 tentang Donor Darah. diakses melalui www.dar-alifta.org, diakses pada 17 november 2024 pukul 22.27 WITA.

Ibn Qudamah, Al-Mughni, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Beirut, 1983, vol. 9.

Munir, Abdul. "Konsep Ta'awun dalam Islam dan Implementasinya dalam Kehidupan Sosial."

Jurnal Ilmu Sosial dan Politik 8, no. 1 (2017).

Nasution, Harun. Hukum Islam: Prinsip dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers, 2007

Syarif, Azmi. "Donor Darah dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Fikih Kesehatan." Jurnal Fikih Islam 13, no. 2 (2015)

Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh Al-Awlawiyyat, Dar Al-Shorouq, 1996.

Referensi

Dokumen terkait

Mengemis tidak dilarang dalam Islam, namun dikatakan perbuatan yang tidak baik, tetapi jika dilihat pengemis yang ada di pusat perbelanjaan Ramayana, Simpur dan Masjid al- Furqon

  Keywords: PENCURIAN, HUKUM ISLAM 

Islam sebagai hasil hubungan sosial bukan berarti menjauhkan manusia dari ajaran dasarnya. Ajaran dasar yang dimaksudkan adalah menunjuk pada nilai-nilai teologis maupun

Jika dilihat dari ketentuan Hukum Islam, maka anak tersebut merupakan anak dari ibu yang melahirkannya dan hanya mempunyai hubungan nasab dengan yang melahirkannya tersebut baik

Hubungan sosial atau hubungan antar manusia yang didasari dengan ajaran-ajaran Islam. akan membuat keharmonisan dan ketentraman satu sama

Islam dan negara sejatinya memiliki hubungan yang begitu erat, hal ini terlihat pada beberapa sarjana orientalis yang meyakini bahwa ajaran Islam tidak hanya mengenai

Sekalipun hal itu tidak merugikan orang lain, namun tetap dilarang dalam Islam karena orang yang melakukan perbuatan itu tetap akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak,

Sanksi Bagi Penistaan Penodaan Terhadap Agama menurut Perspektif Hukum Pidana Islam Dalam hukum pidana Islam penistaan agama merupakan perbuatan yang dapat dikategorikan perbuatan