• Tidak ada hasil yang ditemukan

Download (174kB)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Download (174kB)"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Dalam agama Islam ajaran moral, akhlak atau ihsan bersumberkan pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih. Al-Qur’an merupakan dasar dan pedoman umat manusia dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai dasar akhlak Al-Qur’an menjelaskan Kriteria baik buruknya suatu perbuatan dan mengatur pola hidup manusia secara keseluruhan.

Dengan Al-Qur’an sebagai sumber akhlak bagi kaum muslimin yang taat tidak akan keluar dari rel-rel yang telah ditentukan olehnya. Adapun sunnah menjadi dasar akhlak yang kedua setelah Al-Qur’an dalam pembentukan akhlak manusia.14 Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qur’an dan sunnah Rasul adalah ajaran yang paling mulia dari ajaran manapun hasil renungan dan ciptaan manusia.

Sebab, tidak ada ciptaan manusia yang dapat menandingi keagungan daripada Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

Macam-macam dan Ruang Lingkup Kajian Akhlak

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.(QS. Pemaaf adalah sifat yang melekat pada diri seseorang yang tidak menaruh dendam tehadap orang yang telah menyakitinya. Artinya: “Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar- benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap. Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. Artinya: ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.

Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada.

هْيَلَعىّلَصُا

لاَق

لاَق

يِبَأنَع

عَن ْصاَف

ةّوُبّنلا

ساّنلا

كَرْدَأ اصّمصِم

Allah SWT menyukai orang-orang yang senantiasa beramal sholeh (berbuat kebaikan) disamping ia beriman kepada-Nya. Artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni- penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”. Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Artinya: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan- Ku.

Artinya: “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Sifat ini sangat tidak disukai oleh Allah SWT, dan Allah lebih menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan salah satunya dengan menahan atau mengontrol amarahnya dan lebih memaafkan kesalahan orang. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Allah SWT menentang keras orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini, disamping orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dengan hukuman baik didunia maupun diakhirat. Artinya: “Dan Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata”. Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu”.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang- orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.(QS.

Rasulullah adalah orang yang paling istimewa di kalangan manusia, ia dimuliakan oleh Allah dan seluruh malaikat serta orang-orang beriman.

ىَعاَدَت

هْنِمىَكَتْش

دَسَجْلا

مِهِفُطاَعَتَو

مِهِمُحاَرَتَو

مِهّداَوَتيِف

نيِنِم ْؤُمْلا

رِئاَس

Kedudukan Anak dalam Islam

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa anak adalah tanggung jawab berupa amanat yang dititipkan Allah SWT kepada para orang tua untuk dijaga dan dididik dengan bimbingan dan pengarahan agar ia dapat taqorruf kepada Allah. Anak bukanlah benda yang tiada bernyawa dan bukan pula miniatur orang dewasa, ia memiliki hak yang mesti ia dapatkan secara penuh dan layak yang berupa hak-hak azazi manusia yang berupa kebutuhan baik kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi dan ditunaikan oleh para orang tua. Kebutuhan jasmani seperti makan, minum, pakaian dan perumahan, dan kebutuhan rohani seperti pendidikan, bimbingan, dan pengarahan dari orang tua dan orang dewasa lainnya.

Orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anaknya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak-anaknya dari segala bahaya atau kemungkinan-kemungkinan yang dapat mengancam anaknya. Setiap anak yang terlahir kedunia ini butuh dan membutuhkan akan rasa kasih sayang dari orang-arang yang ada disekitarnya terlebih lagi dari kedua orang tuanya. Untuk menciptakan kondisi keluarga yang seperti itu hendaknya orang tua mencintai anak-anaknya seperti ia mencintai dirinya sendiri tanpa adanya pilih kasih antara anak yang satu dengan anak-anak yang lainnya atau dengan istilah lain tidak ada anak yang diemaskan.

Penghargaan adalah bentuk daripada apresiasi yang diberikan orang tua kepada anaknya yang telah berhasil dalam hal-hal tertentu, baik berupa pujian, tepuk tangan, senyuman, hadiah dan lain- lain. Penghargaan hendaknya diberikan oleh orang tua kepada anaknya, jika orang tua mendapati anak-anaknya mengalami kemajuan dalam hal kebaikan yang mengarah kepada kemajuan (progresif), maka orang harusnya memberikan penghargaan kepada anaknya. Sebab, jika keinginan dan kemauan seorang anak selalu dikekang oleh orang tuanya akan berdampak buruk dan fatal bagi perkembangan psikis sang anak.

Karena itu perlakuan yang diberikan orang tua kepada anak tanpa memperhatikan aturan yang ada akan menjadikan anak murung, sering melamun dan lain-lain, hal ini tentunya dapat memicu sang anak untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tindakan seperti ini harus dihindari oleh para orang tua dengan cara memberikan kebebasan dalam arti positif. Seorang anak memerlukan kebutuhan akan rasa sukses dari orang-orang yang ada disekitarnya terutama orang tua, untuk memenuhi kebutuhannya tersebut para orang tua hendaknya mengajarkan sang anak untuk selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dan selalu optimis serta bekerja keras dengan diiringi do’a demi mencapai gerbang dan mengetuk pintu kesuksesan itu.

Dalam memenuhi kebutuhan akan satu kekuatan pembimbing atau pengendali seorang anak membutuhkan suntikan semangat semangat berupa support dari orang-orang terdekatnya yaitu ayah dan ibunya, hal ini ia butuhkan karena ia butuh bimbingan dan pengarahan dari orang-orang terdekatnya tersebut. Keadaan yang demikian ini merupakan permulaan dari kepercayaan diri.95 Artinya kondisi psikis sang anak terpenuhi dengan adanya berbagai kebutuhan yang telah ia dapatkan dari orang tuanya.

Urgensi Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Menurut Konsep Islam

Dengan demikian dapat diketahui bahwa hak-hak anak adalah kebutuhan- kebutuhan yang harus anak dapatkan dan dipenuhi oleh orang tuanya. Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa. Hal ini mengisyaratkan bahwa begitu pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia, baik kehidupan dilingkup yang lebih kecil (pribadi), maupun dalam lingkup yang lebih besar (masyarakat dan bangsa), yang menjadi tonggak dalam suatu peradaban disuatu bangsa yang beradab baik secara lahir maupun batin.

Kejayaaan seseorang terletak pada akhlaknya yang baik, akhlak yang baik selalu membuat seseorang menjadi aman, tenang, dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Dia melakukan terhadap dirinya sendiri yang menjadi hak dirinya, terhadap Tuhan yang menjadi hak Tuhannya, terhadap makhluk lain, dan terhadap sesama manusia.97 Jadi, kesuksesan seseorang tidak hanya terletak pada IQnya yang tinggi, akan tetapi terletak juga pada keluhuran akhlaknya yang menjadikan dirinya menjadi pribadi yang baik dan senantiasa menjalankan kewajibannya baik secara vertikal maupun horizontal. Mendidik anak dalam lingkungan keluarga merupakan amanat yang mesti harus dijaga dan ditunaikan oleh para orang tua dan semua elemen keluarga, sebab.

Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan paling utama yang dikenal oleh anak dalam kehidupannya semenjak ia dilahirkan dan dibesarkan. Orang tua terutama ibu adalah pendidik awal yang sangat besar pengaruhnya dalam penanaman nilai-nilai keagamaan dan akhlak kepada anak-anaknya. Oleh karena itulah keluarga disebut sekolah pertama (Al-madrasah ula) bagi anak, sebab keluarga merupakan peletak fondasi awal dalam membentuk dan mengembangkan akhlak anak.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan mendidik anak sangat penting dan sungguh menjadi prioritas utama bagi tenaga pendidik dan orang tua. Mendidik anak menurutnya merupakan suatu tugas mulia, karena anak adalah amanah dari Allah, juga untuk menyiapkan generasi selanjutnya yang berkualitas. Bahkan, pada zaman dahulu para orang tua dan wali memilihkan guru-guru yang terbaik dalam didikan dan ajarannya untuk anak-anaknya, agar mereka dapat melaksanakan tugas.

Mendidik anak artinya membimbing sang anak kepada jalan yang telah diajarkan Islam dengan cara memberikan contoh yang baik terlebih dahulu, memelihara dan menjaga, serta membiasakan anak untuk menjalankan perintah agama salah satunya dengan menghiasi anak dengan akhlak yang baik. Pertama yang harus diperhatikan adalah penyelamatan hubungan ibu bapak, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya, terutama anak-anak yang masih belum berumur 6 tahun, dimana mereka belum memahami kata-kata dan simbol yang abstrak.101 Dan dalam perspektif Islam, keluarga merupakan tempat yang strategis dalam pembinaan akhlak anak.

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan cara menghayati nilai- nilai dan

Akhlak berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, dari pengertian ini akhlak bukan saja norma yang mengatur hubungan antara sesama manusia, tetapi juga norma

a. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam secara terus menerus di dalam jiwa seseorang sehingga kuat dan mengakar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang

Akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang secara etimologi berati budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Akhlak bisa berarti positif dan bisa pula

Akhlak berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, dari pengertian ini akhlak bukan saja norma yang mengatur hubungan antara sesama manusia, tetapi juga norma

1) Perbuatan akhlak merupakan suatu perbuatan yang udah tertanam kuat di dalam jiwa manusia sehingga bisa disebut sebagai kepribadianya.. 2) Perbuatan akhlak

hlm.. dan akal pikiran, maka dinamakan budi pekerti mulia. Dan sebaliknya, apabila yang lahir perbuatan yang buruk, maka dinamakan budi pekerti yang tercela. Adapun

Kalau Nurul Zuriah memberi pengertian bahwa pendidikan moral dan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau