• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembentukan karakter beragama melalui tazkiyyatu al-nafs dalam perspektif Al-Ghozali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembentukan karakter beragama melalui tazkiyyatu al-nafs dalam perspektif Al-Ghozali"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

PERSPEKTIF AL- GHOZALI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam ( S.Pd.I )

Oleh

Siti Asyura Tri Rahayu NIM : 1810011000046

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PEMBENTUKAN KARAKTER BERAGAMA

MELALUI TAZKIYYATU AL-NAFS DALAM

PERSPEKTIF AL- GHOZALI

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam ( S.Pd.I )

Oleh

Siti Asyura Tri Rahayu NIM : 1810011000046

Di bawah bimbingan

Dr. H.Akhmad Sodiq,MA. NIP:197107091998031001

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAKS

Nama : Siti Asyura Tri Rahayu Nim : 1810011000046

Fk/Jur : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan / Pendidikan Agama Islam

Judul : Pembentukkan Karakter Beragama Melalui Tazkiyyah Al-Nafs Dalam Perspktif Al- Ghozali

Skripsi ini mengkaji tentang nilai-nilai pembentukkan karakter beragama yang berisikan tentang pembenahan, pengetahuan dan pelatihan melalui wawasan khikma dari Tazkiyyatu al-Nafs sebagai sumber pembentukan karakter beragama sesuai dengan keyakinan yang diimaninya.

Akhlak yang mulia dan akhlak yang buruk / tercela merupakan cerminan kepribadian seeorang, yang dibangun atas dasar dari pendidikan agama diKeluarga, Lembaga/ Sekolah dan Masyarakat lingkungan sekitarnya. Agama yang sempurna hanya didapat melalui pembelajaran dan pelatihan secara terus menerus dalam kehidupan sehari – hari, dengan berusaha memperbaiki dan menghapus serta meninggalkan hal-hal yang tercela.

Kesempurnaan beragama harus di bentuk dengan memiliki karakter beragama yang baik dan benar. Untuk itu diperlukan sebuah kajian yang membahas tentang baik –buruknya Akhlak/ tingkah laku manusia.

Dalam skripsi ini penulis mencoba mengulas tentang karya–karya Al-Ghazali dan buku-buku yang berkaitan dengan Karakter manusia pada umumnya. Guna mendapatkan sebuah perbaikan terhadap akhlak yang buruk menjadi baik dan lebih meningkatkan akhlak yang baik menjadi lebih sempurna dalam ibadahnya kepada sang pencipta Allah SWT.

Adapun hasil penelitian dari Pembentukan Karakter beragama melalui

Tazkiyyatu al-Nafs dalam Perspektif Al-Ghazali memiliki nilai semangat keislaman dalam jiwa, menumbuhkan rasa perjuangan dalam melatih dan mengendalikan nafsu yang menjadikan manusia baik dan buruk, berguna dan tidak berguna. Dengan Tazkiyyatu al-Nafs dalam perspektif Al-Ghozalil ini, manusia dapat menempatkan diri pada dasar kodrat dan irodatnya sesuai dengan ketentuan yang Allah berikan. memahami fungsi ibadah yang sempurna sebagai dasar keyakinan dalam beragama sehingga pembentukan karakter beragama yang baik dan benar dapat terwujud.

(7)

ii



















Pujisyukur kehadirat Allah SWT yang maha kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, dan para pengikut-Nya hingga akhir zaman. Amin.

Dengan hidayah, taufik dan inayah-Nya, Alhamdulillah penulis telah

menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dengan judul”Pembentukkan Karakter

Beragama Melalui Tazkiyyatu al-Nafs”. Karya tulis ini merupakan skripsi yang diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan S1 (Srata 1).

Penulis menyadari bahwa muatan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik penyusunan, penulisan maupun isinya. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan penulis miliki. Oleh karena itu, saran dan kritik untuk menuju perbaikan sangat penulis harapkan.

Dalam proses pembuatan skripsi ini, berbagai hambatan dan kesulitan penulis hadapi, namun berkat rahmat, taufik, dan hidayah Allah SAW dan berbagai dorongan, saran dan bimbingan dari semua pihak, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Oleh karena itu penulis mengucapkan kepada:

1. Ibu Nurlena Rifa’i, MA, ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(8)

iii

3. Bapak Dr. H. Akhmad Sodiq, MA selaku Dosen pembimbing yang dengan sabar telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Para Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis semasa kuliah.

5. Para Staf Akademik yang telah membantu penulis dalam berbagai hal khususnya dalam penyelesaian Transkrip Nilai.

6. Seluruh Staf Perpustakaan Umum dan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas semua bantuan untuk penulis dalam melengkapi literaturnya yang telah berkenan meminjamkan buku-buku perpustakaan kepada penulis dalam penyusunan.

7. Kedua orang tuaku tercinta Drs. Achmad Suratman D.a.s. BA (Alm), dan Thowiyah Asmawi yang selalu mendoakan dan memberikan semangat, serta kasih sayang tiada batas kepada penulis. Apapun yang penulis lakukan, tidak dapat membalas jasa-jasanya, hanya Allah SWT yang membalasnya.

8. Adik-adikuku yang telah banyak membantu memberikan semangat dan doanya untuk penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Muhammad Iskandar yang memberikan izin dan doa restunya dalam pekalsanaan Setudy ini.

10.Anakku Tercinta Sauma Ayu Fatmawaty yang sabar dan memotifasi untuk penulisan Skripsi ini.

11.Bapak H. Watma , beserta Staf Guru SDIT, Darul Falah yang memberi peluang dan kesempatanskripsi ini.

12.Bapak H. Ahmad Darusi berserta setaf Yayasan Darul Falah, yang memberi kebijakan dalam Penyelesaian Study ini.

13. Nur Afif, S.Pd.I, Yayasan TPQ Darul Mu’min

14.Wanda Abdilah Mahasiawa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komonukasi UIN Syarif Hidayahtulah Jakarta angkatan 2009

(9)

iv

penulis sampaikan semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka semua dengan kebaikan yang lebih baik di dunia ini dan kelak di akhirat nanti Amiin. Selain itu, penulis berharap semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya serta bagi para pembaca pada umumnya. Untuk itu penulis berharap saran dan kritik dari para pembaca sekalian agar skripsi ini menjadi lebih baik lagi.



















Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, 31Desember 2014

(10)

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 7

C. Perumusan Masalah ... 9

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Acuan Teori 1. Pembentukkan Karakter dalam Pandangan Islam ... 11

2. Pemahaman Mujahada dan Riyadha dalam Tazkiyyah al-nafs……… . 13

3. Tazkiyyah Al- Nafs (Penjiwaan hidup dengan nilai-nilai agama Islam)……… .. 15

B. Hasil Penelitian yang Relevan………. ... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek dan Waktu Penelitian ... 26

B. Metode Penulisan ... 26

C. Fokus Penelitian ... 26

(11)

vi

2. PendidikanAl-Ghazali………... . 29

3.Karya-karya Al- Ghazali……… . 32

4.Sejarah Pemikiran dan Budaya Umat Islam masa Al-Ghazali……… 36

5.Konsep-konsep Al- Ghazali dalam Pembentukan Karakter………. . 37

B. Temuan Hasil Analisis Kritis Komperatif 1. Konsep Al-Ghozali tentang pembentukan karakter dalam perkembangan zaman ……… 39

2. Tazkiyyah al-Nafs dalam kitab Ihya „Ulum al-Din Sebagai Pembentuk Karakter Beragama……….. .. 42

3.. Makna Tazkiyyatu al- nafs dalam Kitab Ihya „Ulum al-Din………. 43

4. Peranan Tazkyatu al-Nafs dalam Mujahada dan Riyadah 43

C. Interprestasi Hasil Analisis……… 45

D. Pembahasan 1. Konsep Dasar Pembentukan karakter Beragama…… ... 48

2. Tazkiyytu al-Nafs Perspektif Al-Ghozali dalam Kitab Ihya Ulum al-Din………. 61

3. Faktor –faktor Pembentukan Jiwa / karakter beragama . 75 4. Pembentukan Karakter Beragama melalui Tazkiyyatual- Nafs…….……… ... 89

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan………. .. 114

B. Implikasi ………... .. 114

C. Saran ……….. .. 115

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Arus Globalisasi Informatika tekhnologi menjadikan budaya bangsa memiliki perubahan yang pesaat, secara seni, bahasa dan prilaku yang setidaknya menjadikan prilaku manusia banyak meninggalkan kewajiban agamanya. Bangsa Indonesia memiliki UUD yang menjadikan ketentuan dalam berbudaya dan berbangsa, pada Pembukaan dan Pancasila terdapat konteks yang mengatakan bahwa ”bangsa Indonesia, adalah bangsa yang memiliki ketuhanan, oleh sebab itu dengan ketuhanan tersebut bangsa Indonesia memiliki keyakinan yang bisa disebut dengan Budaya Bangsa Indonesia berazaskan ketuhanan.

Berkembangnya pendidikan yang mencanangkan Pembentukan Karakter diseluruh Bidang pembelajaran, menjadikan sebuah pengamatan yang harus dihasilkan dari Pembelajaran yang bersifat perubahan dengan konsep dan metode yang perlu dicoba dan diImplementasikan serta diRealisasikan dalam kehidupan sehari- hari.

Penampilan seni teknilogi melaluli Telivisi, Internet dan alat penghubung Hp, banyak mencontohkan prilaku yang tidak terpuji bagi pembentukan karakter pada jenjang anak-anak sampai tingkat orang dewasa, tidak berfungsinya lembaga sosial sesuai dengan latarbelakang menjadikan penyimpangan – penyimpangan yang tidak amanat pada

ketentuan yang ada.” Salah satu contoh tidak amannatnya dalam

(13)

lembaga pendidikna dan Ulama yang bergerak dalam penbinaan Akhlak moral bangsa.

Tazkiyyatu AL- Nafs merupakkan metode dan konsep dalam pembentukan Karakter beragama. Konsep dan metode menurut pakar Islam ini dapat dipelajari melalui konsep dan metode AL-Gozali sebagai pakar dalam pembentukan karakter/ kepribadian yang baik sesuai dengan konsep agama Islam.

Selain dari pada Itu menurut keyakinan agama Islam,bahwa Islam adalah agama penyempurna dari agama sebelum agama Islam. Untuk itu Islam memiliki konsep dan metode Pembentukan Karakter yang baik ini dapat dicontohkan oleh para nabinya, Konsep dan metote ini sebagai penyempurna akhlak adalah Nabi Muhammad S.a.w seperti yang terdapat dalam Surat Al- Ahzab 33:21







21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang

baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah

4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

( Qs.Al –Qalam /68:4)





4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

(14)

3

psikologi disebut pontensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi disebut behaviourisme disebut propetence reflexes kemampuan dasar yang secara otomatis dapat .berkembang. 1

Dalam terminologi Islam, karakter memiliki kata Syakhsiyyah

merupakan interprestasi dari pengertian karakter secara komplek.

syakhsiyyah berasal dari bahasa Arab dari kata Syakhsun, yang artinya pribadi atau orang. Dalam kitab al-Mu’jan al-Wasith, kata Sayakhsiyyah

secara bahasa bermakna “Shifatu tu mayyizu al- syakhsiyah min ghairihi“

yaitu sifat atau karakter yang membedakan satu orang dengan lainnya.2 Dalam pandangan Tasawuf, kata akhlak menjadi gambaran dari pribadi seseorang, yang menyangkuat hubungan dengan tuhan, dengan dirinya dan dengan sesama manusia lainnya, akhlalk dalam Islam ternbagi menjadi dua yaitu akhlak mahmudah (krakter yang terpuji), dan

akhlak madzmumah ( kartakter yang tercela) .

Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai berikut :

“….. gambaran tentang kondisi yang menetap di dalam jiwa semua prilaku bersumber darinya dengan penuh kemudahan tanpa memerlukan proses berfikir dan merenung. Jika kondisi yang menjadi sumber berbagai prilaku yang indah dan terpuji bersifat syar’i, maka kondisi tersebut disebut akhlak yang baik. Sebaliknya jika berbagai parilaku yang bersumber darinya buruk, maka kondisi yang menjadi sumber itu disebut yang buruk.3

Dalam kitab Ihya Ulum al-Din memerangkan tentang pembentukan Karakter atau jiwa yang didasarkan adanya kehidupan yang dihidupkan dengan semangat jiwa keagamaan akan menghasilkan akhlak terpuji. Pembentukan karakter merupakan bagian dari

1

.HM. Arifin, lmu PEndidikan Islam, Tujuan Teoritis dn Praktis berdasarkan

pendekatan Interdisipliner ….hl. 42

2

. Terjemahan Kitab Al-Mujan Al-Wasith, Artikel Sepiritualisasi Islam oleh Perpustakaan Nasional Katalok dalam terbitan ( KDT) oleh Yahya Jaya, Th.1993

3

(15)

kesempurnaan dalam beragama, oleh sebab itu kita perlu mempelajari tentang apa itu karakter dan bagaimana Karakter itu di bentuk . 4

Berdasarkan latar belakang tersebut maka salah satu kajian yang sangat mendukung dari hasil analisis ini adalah bagaimana kita memahami karakter yang ada didalam jiwa dan karakter yang terbentuk karena diri sendiri dan hasil pendidikan lingkungan, keterkaitan agama sebagai hukum dan batasan moral dalam bertingkah laku .





137. (agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.

(.S. Al-Syu’ara /26:137).

Untuk itu Karakter merupakan bagian dari kehidupan prilaku seseorang yang berkaitan dengan budi pekerti, didalam Islam disebut dengan akhlak, Melihat perkembangan akhlak sangatlah memprihatinkankarena banyak orang yang beragama namun masih sedikit yang menjiwai agamanya, sehingga banyak kita temukan kalangan politik berlebelkan agama melanggar hukum, pelajar yang bersetatus pendidikan keagamaan banyak menyimpang dari hasil belajarnya, dan lembaga keagamaan hanya sekedar lebelnya saja.

Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut maka penulis mencoba memberikan sebuah solusi dalam perubahan yang berbentuk kajian yang didapat dalam bentuk analisis Deskriptif dan analisis komperatif dalam sebuah pempebalajar dan pemahaman serta penelitia melalui buku-buku pustaka (Library Research) yang berkenaan dengan permasalahan yang di hadapi dengan membandingkan dan mengungkapkan tentang akkhlah baik dan tercela sesuai dengan prespektif Al-Ghozali dalam kitab Ihya Ulum „al-Din, kitab Arbain dalam terjemahan yang telah diringkas oleh pengarang buku dan di aplikasikan oleh penulis kedalam permasalahan yang terjadi serta artikel danfenomena fenomena yang diamati oleh

4

(16)

5

penulis sehingga menjadikan inspirasi penulis untuk menulis kajian tersebut..

Mengingat pentingnya pembentukan karakter beragama dalam kehidupan sehari hari dan pentingnya pembentukan moral yang baik, maka penulis berpendapat sesuai hasil kajiannya bahwa harus adanya keseimbangan antara kecerdasan ruhania (Transcendeta Intelligence) yaitu membentuk kepribadian / karakter yang bertanggung jawab dengan hadirnya rasa cinta (Mahabbah) kepada kebenanran, kejujuran, rela berkorban dan kepedulian yang sangat kuat terhadap moral.

Alternatif yang dapat dicapai dalam pembentukan karakter adalah bidang pendidikan agama. “Menurut teori Fakulti ( faculty theory ) tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain: memegang peranan fungsi cipta ( reason ) rasa (emotion ) dan karsa ( Will). Ketiga sumber inilah yang akan menjadikan potensi moral yang secara ensensial dan esksistensial sebagai makhluk religious (homo religious)

Dari ketiga potensial tersebut, bukanlah sesuatu yang bersifat telah jadi (state of being ), tetapi merupakan keadaan natural ( state of becomi ) dalam konteks budaya secara makro maupun mikro melalui pendidikan.

Terkait dengan hal tersebut pendidikan berdasarkan filosofis terpadu dalam pembentukan karakter, yang secara dialekti–tranformatif.

Pembentukan Karakter Beragama dapat di bentuk dengan Mujahadah dan Riyadhah, yang terdapat dalam konsep Al-quran dan hadits Nabi, kitab – kitab salafiyah sebagai rujukan, memgingat para ulama adalah pewaris Nabi .

(17)

1128) merupakan tokoh Islam yang sangat popular dalam bidang filsafat, Tasawuf, Kalam, Fiqih, Pendidikkan, dan dakwah, yang lahir pada tahun 450 H/1058 M. Di daerah Ghazala, kabupaten Thus, propinsi Khurasan, Wilayah Persi (sekarang Iran).

Pembentukan karakter beragama melalui Tazkiyyatu al- Nafs dalamperspektif Al-Ghozali ini dikarenakan Al-Ghazali dikenal sebagai seorang Teolog, dan sufi dari aliran sunni, terutama dalam permasalahan akhlak. Karya beliau antara lain adalah: Ihya Ulum Din, Maqosid al-Falasifah, Tahafut al-falasifah, al-Munqizminad Dalal, Kimiya

as-Sa’adah, Jawabir al-Quran dan Al-Arba’in fi Usul ad-Din.

Sehingga Tazkyiatun al-Nafs dalam prespektif Al-Ghozali ini

memiliki fungsi sebagai berikut :

1. sebagai pelatihan diri dalam pengendalian nafsunya. Maka hanya para kaum Ulama dan Nabi yang dapat dijadikan contoh pembelajaran ini. Berkaitan dengan hal tersebut maka Sauritauladan yang baik bagi umat Islam adalah Nabi Muhamamad Saw, sebagai manusia yang berbudi pekerti yang mulia .

2. Berkaittan dengan permasalahan yang ada maka penulis mempunyai pandangan untuk mengukapkan makna dan arti Tazkiyatun al-nafs dalam pembenahan akhlak yang terdapat pada kitab karangan Al-Ghozali yaitu kitabnya Ihya „Ulum al-Din, sebagai pondasi pembentukan karakter Islam dalam Bab Pembersihan hati dan Bab Akhlak tercela dalam

kitab Arba’In Al-Ghazali.

3. Mernjadikan wawasan bermanfat untuk para pembaca sebagai bentuk pendidikan danperubahan dalam membentukkarakter yang Islami.

Melihat dan mengamati serta mempeajari dari permasalahan yang ada maka penulisan Sekripsi ini diberi judul

(18)

7

B.Pembatasan Masalah dan perumusan masalah

1.Pembatasan Masalah

Sesuai dengan apa yang menjadikan uraian penulis di atas,

permasalahan ini dibatasi dalam hal: ”Konsep Pembentukan Karakter

dalam Islam, yang dimaksud dengan Pembentukan Karakter dalam Islam adalah bagaimana manusia menjalankan ibadahnya dengan sempurna. Hal ini diperluka pelatihan yang terus menerus dalam usaha memperbaik diri dan mengendalikan nafsunya yang disebut dengan Tazkyiah al - Nafs).5

Adapun “ karakter” merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri

seseorang melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan yang menjadi nilai Instrintik dalam diri yang akan melandasi sikap dan prilaku. Tentu karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk, dibangun dan ditumbuh kembang. 6

Untuk mendapatkan hasil pembentukan karakter rmaka diperlukan adanya pengetahuan tentang Mujahada dan

RiyadahsebagaiTazkyih al-Nafs. Mujahada adalah memerangi hawa nafsu yang didasarkan atas keyakinan rasa yang tinggi akan ketentuan yang telah Allah berikan kepada makhluknya sebagaimana Allah menciptakan Makhluknya untuk beribadah dan taat hanya kepadanya.7

Dimana Riyadha, adalah bagaimana mencari keridhohan Allah atas perbuatan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Sedangkan Karakter terbentuk atas dasar pelatihan dan pembiasaan dalam usaha perbaikan diri dan membentuk jati diri dalam Rasa keyakinan (Mujahada)dan keridhohan atas kehendak Allah (Riyadha) yang tertbentuk dalam pengendalian nafsu.

5

.Dr. Yahya Jaya. Spiritualisasi Islam dalam menumbuh kembangkan kepribadian dan kesehatan mental ( Jakarta :Ruhana, 1994) hal: 36

6

Kementrian Agama RI, Tafsir Al-Quran Tematik, Pendidikan. Pengembangan Karakter dan Perkembangan SumberDaya Manusia.(Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Quran Balitbang Diklat, 2010).hl.43

7

(19)

Oleh sebab itu Mujahada dan Riyadha perlu ditanamkan dalam

Tazyiyatun al-Nafsnya. Sebagai pembentukan akhlak baik atau buruk Sedangkan Mujahada (memerangi hawa Nafsu) dapat membentuk karakter terpuji.

Konsep dasar dari pembentukan karakter dalam Islam adalah bagaimana kita dapat menhindari perbuatan yang dilarang, menjalankan perbuatan yang baik. Hal ini perlu penjiwaan atau rasa keyakinan (Musyahada) yang tinggi terhadap sesuatu yang allah perlihatkan dan berikan kepada manusia yang senantiasa menjaga kebersihan hati dan dan selalu ingat kepada Allah.

Untuk itu diperlukan pendidikan karakter sebagai pengetahun. contoh karakter tersebut terdapat dalam pribadi Rasulullah s.a.w, yaitu :

a. Shiddiq/Honesty (Kejujuran). Memupuk nilai pembentukan rasa tidak berbohong atau berdusta pada diri sendiri dan orang lain.

b. Amanah/Trustabl (Bertanggung jawab) Memupuk pembentukan Karakter keadilan dan kepemimpinan yang baik,intergritas disiplin, tagungjawab yang tinggi terhadap kepercayaan yang diberikan

c. Tabliqh/Reliabliq(menyampaikan) mempuyai nilai–nilai pembentukkan karakter percaya diri, bijaksana, toleransi, cinta damai dan saling menghargai pendapat orang lain.

d. Fthona/Smart (Cerdas) memupuk nilai-nilai pembentukan karakter keberanian, mandiri, kreatif, arif, rendah hati.

Keempat konsep ini hendaklah terlaksana dalam bentuk Riyadha (pelatihan secara terus menerus), untuk mencari Ridha Allah. Dalam perjalannya manusia memiliki kecenderungan terhadap kelezatan dan manisnya kehidupan dunia. Bagi segolongan umat yang mencari Ridha Allah, maka ia bertentangan dengan nafsunya. Untuk menjadikan ridha terhadap Allah maka manusia diharapkan dapat memilliki rasaQodhadalam hal :

a. Seseorang yang terpesona dengan cinta maka ia akan merasa sakit yang dirasa.

(20)

9

c. Yakin bahwa Allah ada dibalik semua keajaiban yang halus,bahkan sangat halus , tentang segala kejadian yang ada.

d. Menjalankan yang baik dan meninggalkan segala dilarangnya.dalam perjalanan mencari Ridhanya.

2.Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalahyang penulis kaji dalam penelitian iniantara lain:

a. Bagaimana Konsep Pembentukan Karakter Beragama dalam Pandangan Islam.

b. Bagaimana pelaksanaan Implementasi Mujahada dan Riyadhah dalam

Tazkiyyah al-Nafs dalam pembentukkan karakter beragama.

Agar tidak, menjadi sebuah kekeliruan dalam soal penafsiran masalah tersebut, penulis perlu merumuskan masalah penelitian ini, yaitu:

“Bagaimana Tazkiyyah al-Nafs dalam Perspektif Al-Ghozalil dapat menjadikan Pembentuk Karakter Beragama.

3.Tujuan dan Manfaat Penelitian

a. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui Konsep Pembentukkan Karakter Beragama dalam bentuk akhlak Tazkyiyatu al-Nafs

b. Manfaat Penelitian.

Penulis berharap bahwa penelitian ini akan sangat bermanfaat dan membantu dalam perbaikan akhlak dalam pembentukan karakter beragama yang dilaksanakan melalui pemahaman tentang Musyahada,Mujahada, RiyadhadalamTazkiyatun al-Nafs, dengan mempelajari bentuk akhlak terpuji dan akhlak yang buruk.

(21)

beragama Islam. Bagi umat Islam penelitian ini dapat menuntun kejalan menuju Ridha Allah sesuai dengan Qadha yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan Allah.

(22)

11

BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Acuan Teori

1. Pembentukan Karakter dalam Pandangan Islam

Menurut Harun Nasution “Pengertian agama berasal dari al-Din

yang merupakan Religi (relegare, religare) dan agama al-Din (semit)

berarti mengumpulkan dan membaca. Jadi Religare artinya mengikat, Adapun kata agama terdiri dari A= tidak, Gam = pergi jadi tidak pergi, tetap diwarisi turun temurun.1

Keterkaitannya dengan Karakter, agama merupakan hasil dari Jiwa atau krakter yang dibangun, dengan adanya pola fikir, jiwa yang kuat yang diwarisi turun temurun dan pembiasaan keseharian sehingga agama dapat dikatakan budaya yaitu kebiasaan yang dilakukan seeorang dalam ibadahnya kepada sang pencipta .

Pandangan Al- Ghozali tentang “Pembentukan Karakter Beragama yang bernilai kuat dan baik, maka harus ada pengetahuan yang menjadikan pengendalian nafs (Tazkiyatul Nafs) sebagai pembentukan karakter beragama .2

Tazkiyah al-Nafs perspektif Al-Ghazali dapat dikatakan sebagai usaha membentuk Karakter beragama yang baik sesuai dengan pandangan Islam. Selain itu dalam Penginplementasiannya maka

Tazkiyyatu Al- Nafs dilengkapi dengan pelaksana musyahada dan

riyadah dalam mencapai kesempurnaan beragama. Untuk itu diperlukan

pengetahuan tentang Nafs, memerangi Nafs, dan Unsur–unsur Nafs

pembentukan karakter terkait dengan Akhlak yang baik dan Buruk. Dalam buku Ringkasan Ihya’Ulum al-Din menerangkan bahwa “Nafs sebagai pembentukan karakter dalam jiwa dan semangat keislaman

1

Jalaluddin.Psikologi Agama. Memahami Prilaku dan mengaplikasikan prinsipprinsip psikologi( PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta 2012 ) h.12

2

(23)

dapat terbentuk dalam Tazkiyyatu al-Nafs. Dalam kitab Arba’in al -Ghazali diterangkan karakter dapat terbentuk baik dan buruk tergantung bagaimana kita meningkatkan jiwa ibadah-Nya terhadap

keyakinan dalam agamaannya.

Ajaran Islam memiliki hubungan yang erat dan mendalam dengan Ilmu Jiwa dalam soal pendidikan akhlak sebagai pembentukkan karakter. Untuk mencapai kesejahteraan jiwa dan ketinggian akhlak menusia, kerasulan Nabi Muhammad S.a.w merupakan pendidikan yang berisikan kejiwaan dengan tujuan untuk mendidik dan mengajarkan

manusia, membersihkan dan mensucikan jiwanya, memperbaiki dan

menyempurnakan akhlaknya, serta membina kehidupan mental

sepiritualnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila ajaran agama Islam banyak terdapat petunjuk dan ketentuan yang berhubungan dengan soal pendidikan akhlak sebagai pembentukan karakter. Al-Quran sebagai Sumber utama ajaran Islam adalah petujuk (huda), obat (Syifa), rahmat, dan pengajaran (Mau’izhah) bagi manusia dalam membangun kehidupan yang berbahagia didunia dan akherat.3

Dengan sendirinya dapat dikatakan bahwa semua misi dari ajaran Islam yang bertitikkan pada ajaran aqidah, ibadat, syariat, dan akhlak

pada dasarnya adalah mengacu kepada pendidikan akhlak dan

pembinanaan karakter jiwa. Itulah sebabnya Agama Islam terdapat hubungan yang erat serta mendalam antara agama Islam dengan Ilmu Jiwa dan pembinaan karakter.

Dilihat dari sudut pandang agama dan peradaban budaya, maka pembentukan karakter merupakan bagian dari akhlakul karimah yang menjadikan perubahan bagi diri seseorang maupun lingkungan disekitarnya sebagai indentitas berbudaya dan berbangsa. Berkaitan dengan hal tersebut maka tidak terlepas dari persoalan yang berkaitan

3

(24)

13

dengan tingkah laku manusia sebagai barometer didalam melaksanakan ibadahnya.

Konsep Pandangan Islam dalam pembentukan Karakter Beragama maka harus ada sebuah latihan yang terus menerus didalam pembentukan karakter beragama yang relevan dengan agama yang dianutnya. Semangat beribadat dapat membentuk karakter beragama yang sempurna dalam Ibadahnya. Ibadat yang sempurna hanya dapat tercapai dengan Ibadah secara murni yang berasal dari ibadat badaniah dan ibadat maliah (harta) dimana tujuan ibadat untuk mengabdi kepada sang pencipta sesuai dengan surat al-Dzariyat : 564







56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

dan sebagai penyerahan diri kepada sang pencipta maka dalam doanya teketika beribadah terdapat dalam surat Al’an am : 162 sebagai berikut :













162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Berkaitan dengan hal tersebut konsep pembentukan karakter beragama secara pandangan Islam merupakan keikhlasan, Penghambaan dan Penerimaan dari seorang hamba terhadap ketentuan dan kodratnya

sebagai makhluk ciptaan sang penguasa kehidupan yaitu Allah Aja

Wajalla. Hal tersebut dapat tertanam dan terbentuk dalam Mujahada dan

Riyadah. maka akan dijelaskan dalam Pemahaman Mujahada dan Riyadha.

4

(25)

2 . Pemahaman Mujahada dan Riyadha dalam Tazkiyyatu al-Nafs

Setiap manusia berharap untuk menjadi yang terbaik dalam hidupnya baik didunia maupun di akherat. Adapun jembatan untuk menjadikan hidup lebih baik dari hari ini dari pada hari kemarin dan hari yang akan datang maka diperlukan suatu usaha dalam diri maupun dalam perjuangan untuk menuju harapan yang di inginkan oleh sebab itu diperlukan kesungguhan yang tidak hanya sekali namun membutuhkan proses pelatihan yang terus menerus dalam mewujutkannya.

Mujahada dan Riyadha adalah suatu bentuk usaha menjadikan manusia lebih baik dari hari ini, kemarin dan yang akan datang dengan kententuan dan pemahaman sebagai berikut:

a) Mujahada, adalah pola bentuk usaha perbaikan diri,

memperhatikan rasa didalam jiwa dan diri manusia dalam bentuk fana, sehingga manusia dapat membedakan yang baik dan mana yang buruk, dan dapat merasakan kenikmatan dalam merasakan segala rasa secara langsung.

b) Mujahada memiliki arti rasa dalam tauhid, guna mendapatkan kabar kejelasan dalam menyaksikan langsung atas penjelasan kebenaran.

c) Mujahada dapat dapat meningkatkan keimanan dalam keyakinan yang kuat atas ketentuan yang diperlihatkan kepadanya.5

Sedangkan Riyadha adalah :

a) Riyadha adalah perjalanan dalam menempuh kesempurnaan dalam beribadah kepada sang pencipta melalui pelatihan keimanan. b) Riyadha bentuk penjelmaan dalam hal Ridha, dimana menurut para ahli tasawuf merupakan Perpaduan antara Shabar dan Tawakkal melahirkan sikap mental yang merasa tenang dan senang menerima segala sesuatu, situasi dan kondisi. Setiap yang terjadi disambutnya dengan hati baik dan terbuka, bahkan dengan rasa

5

(26)

15

nikmat dan bahagia walau yang datang tersebut merupakan bencana, suka dan duka diterima dengan gembira, sebab semua itu ketentuan dari allah yang maha kuasa.

c) Menurut para Ulama Riyadah (Ridha) adalah Maqam yang merupakan hasil perjuangan yang secara berantai.

d) Menurut Harun Nasutiaon Riyadha adalah perjalanan seorang sufi dalam taraf pensucian diri.6

Berkaitan dengan hal ini maka Tazkiyyatu al-Nafs sebuah konsep dasar dalam pengendalian nafsu dengan cara Mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang didapatkan melalui pelatihan terus menerus (Riyadha). Keseimbangan antara amal dan Ibadah merupakan hasil dari proses Mujahada dan Riyadah dalam pembentukan karakter beragama secara ideal , dimana berfirman Allah swt mengatakan :













2. dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.





4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

( Qs.Al –Qalam /68:4)







137. (agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang

dahulu (.S. Al-Syu’ara /26:137).

6

(27)

Keterkaitan ayat–ayat tersebut merupakan penekanan kepada manusia bahwa manusia adalah pada dasarnya makhluk yang mulia dan agung dan agama adalah suatu hal kebiasaan yang selalu dikerjakan. Jadi Pembentukan karakter beragama dapat terbentuk dengan pola kebiasaan yang terdidik dalam keseharian.

Untuk mengimplementasikan Mujahada dan Riyadah maka diperlukan Pendidikan Karakter dan konsep serta Sauritauladan dalam realisasinya. Untuk itu Pembentukan Karakter beragama dalam pandangan Islam ini dapat dilaksanakan dengan konsep dan metode yang yang terdapat dalam Tazkiyyatu al-Nafs perspekktif al-Ghazali. Yang merupakan konsep dan metode penunjang pembentukan karakter beragama. Pendidikan yang merupakan wadah pelatihan dan pembelajaran baik dirumah, disekolah dan di masyarakat menjadi peranan yang penting dalam hal tersebut.

Melalui pendidikan dan Sauritauladan, manusia memiliki jiwa/ karakter yang baik dan buruk sesuai dengan pengalaman dan penghayatannya didalam beragama. Mengingat pentingnya pendidikan dalam pembentukan karakter beragama, maka harus adanya keseimbangan antara kecerdasan ruhania (Transcendeta Intelligence) yaitu membentuk kepribadian/ karakter yang bertanggung jawab dengan hadirnya rasa cinta (Mahabbah) kepada kebenanran, kejujuran, rela berkorban dan kepedulian yang sangat kuat terhadap moral.

(28)

17

being ), tetapi merupakan keadaan natural( state of becomi ) dalam konteks budaya secara makro maupun mikro melalui pendidikan.

Maka untuk membentuk karakter beragama yang terkait dengan Mujahada dan Riyadha diperlukan tazkyiyatu al-Naf., Berdasarkan al-Quran sebagai sumber petunjuk umat Islam, dimana kurang lebih dua puluh tujuh ayat yang berkenaan dengan kata dan masalah Tazkiyah al-nafs sebagai pembentukan karakter beragama yang kuat dan sempurna dan tujuan hidup yang utama bagi orang yang bertaqwa, dan padanya bergantung keselamatan dan kesengsaraan manusia di dunia dan akherat dalam pandangan Allah. Hal ini sudah menjadi kenyataan dalam sejarah, ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 164:



































164. sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Berdasarkan keterangan tersebut Tazkyiatun al-Nafs, merupakan pelatihan diri dalam pengendalian nafsunya. Maka hanya para kaum Ulama dan Nabi yang dapat dijadikan contoh pembelajaran ini. Berkaitan dengan hal tersebut maka Sauritauladan yang baik bagi umat Islam adalah Nabi Muhamamad Saw, sebagai manusia yang berbudi pekerti yang mulia seperti yang terdapat dalam surat al-Qolam, 68:4





(29)

Untuk merelisasikan mujahada dan Riyadah kita harus mengetahui dan memahami makna yang terkandung dalam Tazkiyyatu al- Nafs tersebut.

3. Tazkiyyatu al-Nafs Sebagai Penjiwaan Hidup Dengan Nilai-nilai

Agama Islam

Dalam Tafsir al-Kabir Fakkr al- Razi, Tazkiyyatu al-Nafs

“ Merupakan ungkapan tentang Tathir dan tathmiyah yang berfungsi dalam dirinya dengan isu-isu moral dan agama7.

Pandangan Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al- Din, bahwa Tazkiyyatu al-Nafs adalah :

“Konsep pembinaan Mental Sepiritual, pembentukkan jiwa, atau penjiwaan hidup dengan nilai nilai agama Islam. dimana konsep tersebut merupakan pembentukan kualitas kepribadian individu menuju kekhusyuan dalam hal kematangan, kedewasaan sebagai motivasi seseorang dalam beriman dan beramal saleh.8

Musafir Muhammad Abduh mengartikan Taziyyah al-Nafs

“Dengan tarbiyah al-nafs (pendidikan Jiwa) manusia dapat dibentuk dengan kesempurnaan jiwa dengan kesempurnaan aqal (tazkiyah al-aqal), dimana kesempurnaan aqal tersebut dapat dikembangkan dan disucikan. Sedangkan tazkiyah al-aqal hanya dapat dicapai dengan kesempurnaan tauhid murni. 9

Pendapat para ahli pendidikan dan ilmu jiwa bahwa Tazkiyyatu al-Nafs

menurut pendapat Zainuddin Sadar, Muhammad Fazl-Ur, Rahman Ansari,dalam Spiritualisasi Islam yang menumbuh kembangkan kepribadian dan kesehatan mental karangan Yayah Jaya Th 1994, pada buku The Qur’anic Faundations of Islamic Mission, 1973) mengemukakan :

“Tazkiyyah al-Nafs sebagai konsep pendidikan dalam pembentukkan karakter (watak) dan tranformasi dari personalitas manusia, dimana seluruh aspek kehidupan memainkan peranan penting dalam prosesnya (Zainuddin Sadar ).

Tazkiyyah al-Nafs merupakan konsep pendidikan dan pengajaran, tidak hanya membatasi dirinya pada proses pengetahuan yang sadar, tetapi agaknya lebih merupakan tugas untuk memberi bentuk pada tindakan

7

. Yayah Jaya. Spiritualisasi Islam dalam Menumbuh Kembangkan Kepribadian

& Kesehatan mental. (Penerbit.CV Ruhama. Yayasan Pendidikan Islam Ruhama .

Th.1994) hl. 51

8

.Op.Cit. Yayah Jaya. Hl. 52

9

(30)

19

hidup taat bagi individu yang melakukannya, dan mukmin adalah karya seni yang di bentuk oleh Tazkiyyatu al-Nafs Pandangan Fazl-UR .10 Tazkiyyah al-nafs adalah upaya Psikologis dari si agen moral untuk membasmi kecenderungan jahat yang ada dalam jiwa untuk mengatasi konflik batin antara al-nafs al-lauwamat dan al-nafs al-ammarat, dengan harapan dapat berkemampuan dalam mengatasi konflik, tumbuh sebagai pribadi yang kuat, dan mampu melakukan aksi sesuai dengan moral. ( Rahman Anasari ).11

Pendapat al-Ghazali mengenai tazkiyyah al-nafs banyak menyimpulkan dari berbagai sudut pandang secara Ilmu, aqidah, dan taharah serta segi kejiwaan (al-qalb). Adapun pendapatnya sebagai berikut:

a. Segi Ilmu ; mengatakan tazkiyyah al-nafs merupakan sebuah ilmu terpuji yang wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap musllim , karena tazkiyah al-nafs merupakan ilmu muamalat (Praktis), dan fardu’l-ain hukum mempelajari karena dalam misinya terdapat ajaran –ajaran dasar islam, seperti Ilmu aqidah, muamalat(adat), dan akhlak.

b. Dalam pandangan aqidah ; tazkiyyah al-nafs sebagai makrifat kepada Allah dan tanzih kepada-nya. Dimana makrifat memiliki pengertian mengetahui dan meyakini adanya zat,sifat, afal Allah, dan ajaran

al-sam’iyat (yang berhubungan dengan kehidupan akhirat atau hal yang gaib). Sedangkan Tanzih dalam pengertiannya mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tak pantas bagi kesucian dan kemahaagungan-nya.

c. Dari pandangan Taharah ; Ghazali memandang dari kebersihan al-qalb (taharah al-al-qalb), atau tathir al-qalb, dimana terbagi menjadi empat tingatkan yaitu :

1 ) Pertama: membersihkan badan lahir dari segala hadas, kotoran dan benda-benda yang menjijikan

2) Kedua: mensucikan anggota badan dari segala perbuatan dosa dan salah.

10

. Spiritualisasi Islam dalam menumbuh kembangkan kepribadian dan

kesehatan mental. Yahyah Jaya dalam Ringkasan buku: The Qur’anic Faundations of

Islamic Mission, 1973), hal.300 .(CV Ruhama 1994)

11

(31)

3) Ketiga : mensucikan jiwa (al-Qalb)dari segala akhlak tercela.

4) Keempat : Mensucikan sir dari segala sesuatu, selain Allah. Dari keempat tingkatan ini yang keempatlah yang dimiliki Rasulullah dan para Nabi serta al-shiddikin.12

Tazkiyyatu al-Nafs sebagai pembenahan diri yang bersumber pada Nafs itu sendiri, dimana Nafs dapat dibentuk karena :

a) Nafs bersumber dari apa yang masuk kedalam tubuh kita, dan menjadikan unsur tersebut membentuk karakter yang baik dan yang baru.

b) Halal dan tidaknya suatu yang kita gunakankan membawa karakter yang kuat terhadap pembentukan jiwa

c) Perut merupakan Nafs syahwat yang sulit di kendalikan kecuali dengan ketegasan dan kearifan yang ada.

d) Keindahan dunia dan kelezatan yang ada merupakan sumber Nafs yang sangat dominan.

e) Kehidupan yang layaknya kehidupan binatang adalah sumber Nafs yang sulit di kalahkan, yang menjadikan manusia Fasik, dan tidak bisa membedakan yang halal dan haram.13

Maka tazkiyyatu al-nafs ini dapat dilakukan melalui Pengendalilan Nafsu dalam diri dengan cara :

1) Mengurangi makan, makanlah ketika lapar berhentilah sebelum kenyang terdapat dalam S. Al-Araf :31







Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

12

. Ibid. Ringkasan Spiritualisasi Islam Yahya Jaya: hal.302-303

13

(32)

21

2. Mengurangi tidur yang berlebihan

3. Berbicaralah yang baik, atau lebih baik diam ( sedikit berbicara) 4. Menghindari hal-hal yang tidak berguna

5. Memperbanyak mengingat Allah dengan berzikir, bersyukur dan bertafakur serta menghisap diri.

Dalam kitab Arba’in al-Ghazali diterangkan katrakter terbentuk

baik dan buruk tergantung bagaimana kita meningkatkan jiwa ibadah dalam keagamaannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka akhlak terpuji dan akhlak tercela bagian dari pembentukkan karakter diri seseorang.

B. Hasil Penelitian yang Releven

Dalam kajian teoritik ini penulis mengambil pemahaman bahwa Hubungan Pembentukan Karakter Beragama melalui Tazkiyyatu al-Nafs dalam perspektif Al- Ghazali menghasilkan pengetahuan tentang Pensucian Diri (Tazkiyyatu al-Nafs) sebagai Realisasi dari penghambaan kepada sang pencipta ( Allah ).

Sebuah keyakinan hanya dapat dipertunjukkan dengan pembersihan dan penghambaan makhluk kepada sang pencipta, untuk menumbuh kembangkannya maka diperlukan suatu proses pendidikan dan pelatihan serta pembinaan yang terarah sesuai ayat–ayat Allah yang menerangkan tentang kehidupan dan fungsi hidup pada manusia.

(33)













242. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya

(hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya.

Keetapan-ketetapan yang Allah berikan merupakan landasan manusia dalam menjalani kehidupan, jika kita padukan dengan ilmu pengetahuan maka proses berfikir merupakan perubahan dan perkembangan kecerdasan, disini diperlukan kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence) yang terdapat dalam Qalbu untuk membentuk rasa cinta (Mahabbah),dengan dasar cinta ini diharapkan pembentukan karakter beragama dapat di sentuh dan di miliki setiap manusia, sehingga penghambaan kepada sang pencipta merupakan sebuah keinginan untuk memberi dan tidak pamrih untuk memperoleh imbalan, menumbuhkan rasa cinta yang bukan komoditas , tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusian.

Qalbu (hati) memliki potentsi fikir yang berasal dari kesucian jiwa dalam bentuk fu’ad yaitu kemampuan untuk mengolah, memilih dan mememutuskan segala informasi yang dibawa oleh sentuhan indra, hal ini ditekankan dalam S. al-Israa :36











(34)

23

Fu’ad memberikan ruang untuk akal, berfikir, bertafakur, memilih dan mengelolah seluruh data yang masuk dalam Qalbu manusia. Sehingga, lahirlah ilmu pengetahuan yang bermuatan moral.14

Dalam kitab Arnba’in Al-Ghazali, 40 Dasar Agama menurut Hujjah Al-Islam menerangkan bahwa ilmu merupakan Qodim dan Azali. “ Allah Maha mengetahui segala objek pengetahuan, meliputi semua yang berlaku di pelosok bumi hingga yang di langit paling atas. Tidak sebutir debu pun di langit maupun di bumi yang luput dari pengetahuan-Nya. Ia bahkan dapat mengetahui semut hitam yang merangka diatas padang sahara luas pada kegelapan malam, menangkap gerak atom (Zarrah) di udara serta mengetahui yang samar dan terselubung. Dengan pengetahuannya yang Qodim dan Azali, ia dapat mengetahui getaran getaran jiwa, gerakan- gerakan hati dan selubung –selubung rahasia. Ia senantiasa memiliki sifat memiliki sifat Qadim dan Azali, bukan pengetahuan yang dipengaruhi sebagai hasil transformasi dan perubahan zat-Nya. 15

Bersandarkan konteks ayat 36, surat al-Israa maka hasil penelitian yang didapat sebagai berikut :

1. Memperbanyak mengingat allah dengan mempertinggi Ibadah.

Ketika manusia belum dekat sang pencipta hidupnya tidak teratur dan memikili jiwa yang kasar, setelah mengalami kegiatan tazkiyyatu al nafs dengan banyak melaksanakan ibadah sholat menjadi melikiki jiwa yang sabar dan arif bijaksana. Seperti yang terjadi pada saidina Umar. Dikalangan dunia modern adalah dengan memperbanyak mengingat allah maka ketenangan jiwa di dapat, hal ini terjadi perubahan pada seorang pecandu Narkoba yang mampu mengatasi dirinya dalam mengatasi penyakit yang diderita dengan banyak berzikir dan berselawat secara terus menerus dalam pembersihan dan mengosongkan pikirannya dengan memingat kebutuhan fisiknya yang menuntut untuk dia mengkongsumsinya, sehingga dapat kembali normal seperti manusia biasa.

14. Kh.Toto Tasmaran, kecerdasan Ruhania, membentuk Kepribadian yang berakhlak dan bertanggung jawab, Frofesional dan berakhlak. (Gema Insani Press, Anggota Ikapi. 2001)hl. 96

15

(35)

2. Hasil dari mengurangi tidur dan makan

Bagi para Tasawuf Supi ketenangan jiwa dan kebahagiann batin dapat dirasa ketika rasa lapar itu hilang dan dapat membukakan mata batinnya. Sedangkan Hal tersebut disaat ini dapat dirasakan menjadi sebuah pelatihan diri untuk lebih merasakan yang dirasakan dari rasa kekurangan tersebut menjadikan tumbuhnya rasa social kepada sesama manusia dan ketekunan dengan banyak mengurangi tidur menghasilkan pemikiran yang jernih ketika manusia terbangun pada malam hari dan untuk berkhawalat memecahkanpermasalahan yang dihadapinya, menurut para sufi fikiran yang jernih hanya didapat dengan cara berkhawalat memgosongkan fikiran dari unsur unsur kehidupan dunia yang kurang bermanfaat.

3. Keterkaitan dengan uraian diatas maka dapat kit abaca beberapa buku yang terkait dengan pembahasan sebagai hasil penelitian yang releven antara laian seperti dibawah ini :

a. Piskologi Agama, Memahami Prilaku dan mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi, Prof. Dr.H.Jalaludin (PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta 2012)

b. Spiritualisasi Islam, Dalam menumbuh kembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental. Dr. Yahya Jaya. M.A (Cv.Ruhama, Bidang niaga Yayasan Pendidikan Islam Ruhama , Jakarta 1994)

c. Risalah Tasawuf, Kitap Suci Para Pesuluk . Ibrahim Amini (Islamic Center Jakarta 1994)

d. Ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali ( PenerbitPustaka Amani Jakarta 2007 )

e. Psikologi Agama, Memahami Pengaruh Agama terhadap Prilaku manusia. Gazi, S. Psi.,M.SI dan Dra. Faojah. MA (Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010)

f. Akhlak – Tasawuf, Nilai-nilai/ Budipekerti dalam Ibadat dan Tasawuf. Prof. Dr. Moh.Ardani(CV. Karya Mulia,Anggota IKAPI, Jakarta 2005)

g. Arba’in Al- Ghazali, 40 Dasar Agama Menurut Hujah

Al-Islam(Penerbit Pustaka Sufi, Yogyakarta 2003)

(36)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

Untuk mencapai tujuan penelitian maka digunakan Penelitian Pustaka (Library Research) yang bersifat Analisis Kritis Deskriptif dan Analisis Kritis Komparatif dengan uraian metodologi sebagai berikut:

A. Objek dan Waktu penelitian

Sesuai kebutuhan penelitian maka penulis menggunakan objek penelitian berupa sumber data Primer dan data sekunder, adapaun waktu penelitain adalah dimulai bulan Januari sampai waktu yang tidak ditentukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. penulisan skripsi ini bersumber dari : Buku Al – Ghazali Ihya „Ulum al-Din, Al- Ghazali Arba’in al-Gazali 40 Dasar Agama menurut Hujjah Al-Islam, Risalah Tasawuf Kitab Suci Para Pesuluk, Ibrahim Amini , Sri Mulyati ed. Buku ajar keIslaman berprespektif Gender ( Pusat Studi Wanit) PSW UIN Syarif Hidayahtullah Jakarta. Th2005, Mo.Ardani, Akhlak –Tasawuf, Jakarta :CV. Karya Mulia,Cet.II, 2005 dan Yahya Jaya. Spiritualisasi Islam ( Cv. Ruhama. Yayasan Pendidikan Islam Ruhama. Jakarta 1993).

B. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah berbentuk Analisis Deskriptifdan Komperatif sebagai hasil penelitian Kepustakaan (Library Research) yang mengacu pada buku-buku, artikel dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Pembentukan karakter beragama dan pemahaman mengenai Tazkiyyatu al-Nafs dan Pembentukan Karakter dalam sudut pandang agama Islam.

C. Fokus Penelitian.

(37)

1. Data primer

Data primer adalah literature-literatur yang membahas secara langsung objek permasalahan pada penelitian ini, yaitu berupa karya dari al-Ghazoali sebagai konsep Pembentukan karakter beragama dengan pemahamannya tentang Tazkiyyatu al-Nafs dalam kitab Al-Ghozali yaitu Ihya „Ulum al-Din dan kitab Arbai’in.

2. Data sekunder

Sumber data sekunder berupa data-data tertulis baik itu buku-buku maupun sumber lain yang berkaitan dengan karya al-Ghazali, tentang Pembentukan Karakter Beragama dan pemahaman Tzkiyyatu al-Nafs

D. Prosedur Penelitian

(38)

27

BAB IV

TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Temuan Hasil Analisis Kritis Deskriptif

1. Riwayat Hidup Al-Ghazali

Masa hidup al-Ghozali adalah masa muculnya aliran – aliran, paham agama dan aspirasi-aspirasi pemikiran yang saling berlawanan. Dari satu segi lahir pula ahli ilmu kalam dan kebatinan yang menganggap bahwa mereka itu diberi keistimewaan dapat mengikuti imam yang mas’sum (tidak pernah salah) dan muncul juga para filosof dan tasawuf. Al-Ghozali sejak kecilnya dikenal sebagai seorang anak pencinta ilmu pengetahuan dan penggandrung pencari kebenaran.1

Al-Ghozali lengkapanya bernama Abu Hmid Muhammad bin

Muhammad bin Muhammad bin Ta’us al Thusi al –Syafii dan secara

singkat Al-Ghozali atau Abu Hamid. Dalam bahasa latin, namanya sering ditulis dengan Algazel atau Abuhamet.

Al-Ghozali lahir pada tahun 445 H/1058 M. (tidakdikethui bulan dan tanggalnya), disuatu kampung kecil yang bernama Ghazala, kabupaten Thus Propinsai Khurasanm wilayah yang Persi (sekarang Iran), dari keluarga yang miskin. Ayahnya Muhammad seorang penenun dan mempunyai toko tenun di kampungnya, tetapi panghasilannya yang kecil tidaklah menutupi kebutuhan keluarganya. Walaupun hidup sangat miskin, ayahnya seorang pencinta ilmu yang bercita - cita besar. Dia selalu berdoa semoga Allah mengetahuinya putra- putra yang alim, yang berpengetahuan luas dan mempunyai ilmu yang banyak. Alangkah gembira hati keluarga itu, sewaktu mendapatkan dua orang putra, yang kemudian hari memenuhi harapan yang besar itu, yaitu :

1

Fhatiyah Hasan Sulaiman, Sistem pendidikan Versi al –Ghozali, (terj.) Fathur Rahman May dan Syamsudin Asyarafi, dari judul asli Al-Mazhabut Tarbawi

Inda al –Ghozali, ( Bandung : Al- Ma’ arif, 1986), Cet. I,hal:16

(39)

a. Anak tertua bernama Muhammad yang kemudian digelarkan “Abu

Hamid”, dan setelah besar terkrnal dengan Al-Ghozli.

b. Anak ke dua dan terakhir dinamakannya Ahmad yang kemudian digelarkan “Abu Futuh” dan dia adalah seorang juru dakwah yang besar, yang kemudian hari terkenal dengan“Mujiddudien“2Sebutan Al–Ghozali bagi Hujjatul Islam, bukanlah namanya yang asli. Adapun namanya sejak dari kecil ialah Muhammmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. Kemudian sesudah itu berumah tangga dan mendapat seorang putra laki-laki yang bernama

Hamid, maka dipanggilkan “Abu Hamid” (bapak si Hamid), tetapi

sayang sekali anaknya itu meninggal pada waktu masih kecil.

Tiga nama Muhammad berturut-turut, yaitu namanya sendiri, nama ayahnya, dan nama kakeknya, dan barulah diatasnya lagi bernama Ahmad. Maka kebiasaan orang Arab menghubungkan nama seseorang kepada ayahnya atau keluarganya dengan menyebut

Ibnu”, tidaklah dilakukan pada diri al-Ghozali, misalnya nama Ibnu

Siena, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dan nama lainnya lagi. Dalam hal ini Ghozali bersamaan dengan Kindi, Farabi, l-Qaffal, al-Qayyam dan seterusnya.

Mengenai sebutan al-Ghozali, diperoleh dua pendapat dikalangan para ahli sejarah terhadapnya.

Pertama : Berasal dari nama desa tempat lahirnya, yaitu Gazalah, sebab itu sebutannya adalah al-Ghazali (dengan satu”z)

Kedua : Berasal dari pekerjaan sehari- hari yang dikerjakan ayahnya yaitu seorang penenun dan penjual kain tenun dinamakan “Gazzal”, sebab itu panggilannya al-Ghozali (dengan dua“z”)3

2. Pendidikan Al-Ghozali

Al-Ghozali memulai pendidikan dasarnya di negeri asalnya, Thus,

dia belajar ilmu agama secara mendalam dari Razakani Ahmad bin

2

Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam Al-Ghozali.(Jakarta: Bulan bintang, 1975) Cet.I.hal 29

3

(40)

29

Muhammmad, kemudian dipelajarinya ilmu thasawuf dari Yusuf en Nassaj, seorang sufi yang terkenal . Pada thun 476 H, Al-Ghozali berpindah ke Jurjan melanjutkan pelajarannya, ia belajar kepada

Nashar el Isma’ili. Tidak puas dengan pelajaran yang diterimanya di

Jurjan, maka ia kembali ke Thus selama 3 tahun lamanya.4

Diceritakan bahwa dalam perjalanan pulangnya beliau dan kawan-kawannya dihadang sekawanan pembegal yang kemudian merampas harta dan kebutuhan – kebutuhan yang mereka bawa. Pada pembegalan tersebut merebut tas Al–Ghozali yang berisikan buku-buku filasafat dan ilmu pengetahuan yang beliau senangi, kemudian al-Ghozali berharap kepada mereka agar sudi ilmu pengetahuan yang terdapat dalam buku itu. Kawasan perampok merasa ibah hati dan kasihan kepadanya, akhirnya mereka mengembalikan buku-buku itu kepadanya.

Diceritakan pula bahwa setelah kejadian itu beliau menjadi rajin mempelajari buku-bukunya, mempelajari ilmu yang terkandung di dalamnya dan berusaha mengamalkannya. Bahkan beliau selain menaruh bukku-bukunya, di situ tempat khusus yang aman.5

Kemudian timbul fikirannya untuk mencari sekolah yang lebih tinggi. Pada tahun 471 H. Al-Ghozali berangkat menuju kota Nishapur (Neisabur) ia tertarik dengan sekolah tingginya “Nizamiyah” disinilah (w.478 H/1085 M), yang diberi gelar

kehormatan “Imam Haramain” (Imam dari dua kota suci Mekkah

dan Madinah).

Kepada imam yang serba ahlil inilah, al-Ghozali belajar langsung sebagai mahasiswa. Dia pelajari ilmu agamna, ilmu-ilmu falsafah, keahlian al-Ghozali diakui dapat mengimbangi keahlian guru yang sangat dihormatinya itu. Dengan tidak ragu sedikitpun Imam Hawamain mengangkat al-Ghozali sebagai dosen

4Ibid …., hal

31

5

(41)

diberbagai fakultas dari Nizamiyah itu. Bahkan dia mewakilinya memimpin maupun untuk menggantikannya pada setiap kali berhalangan, baik untuk mewakilinya memimpin maupun untuk menggantikannya mengajar.6

Al-Gozali memang orang yang Cerdas dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih hingga imam al-Juawini sempat memberi predikat beliau itu sebagai orang yang memiliki ilmu yang sangat luas bagaikan“laut dalam nan menenggelamkan (Bahrun mughariq).” Ketika gurunya ini

meninggal dunia, al-Ghozali meninggalkan Naisabur menuju istana Nizam al-Mulk yang menjadi perdana mentri Sultan Bani Saljuk.

Keikut sertaan al-Ghozali dalam diskusi bersama kelompok ulam dan para intelektual dihadapan Nizam al–Mulk membawa kemenangan baginya. Hal itu tidak lain berkat ketinggian ilmu falsafahnya, kekayaan ilmu pengetahuannya, kefasihan lidahnya dan kejituan argumentasinya, Nidzam al-Mulk benar-benar kagum melihat kehebatan beliau ini dan berjanji akan mengangkatnya sebagai guru besar di Universita yang didirikannya di Bagdad. Peristiwa ini terjadi pada thun 484 H atau 1091 M.-7

Ditengah- tengah kesibukan mengajar di Bagdad beliau masih sempat mengarang sejumlah kitab seperti Al–Basith, al-Wasih, Al-Wajiz, Khulashah ilmu Fiqih, al-Mumqil Fi Ilm al-Jaddal, Ma’Khdz al-khalaf, Lubah an-Nadzar, Tashin al-Ma’akhiz dan al-Mabadi Wa al-Ghayat fi Fann al Khalaf.

Namun kesibukan dalam karangan mengarang ini tidaklah mengganggu perhatian beliau terhadap ilmu metafisika dan beliau menegakkan kebenaran adat istiadat warisan nenek moyang di mana belum ada seorangpun yang memperderbatkan soal kebenarannya atau menggali asal-usul dari timbulnya istiadat tersebut.

6

Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam Al-Ghozali...., hal. 32-35

7

(42)

31

Begitu juga ditengah-tegah kesibukkannya ini, beliau juga belajar berbagai ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, sebagaimana terkenal diwaktu itu. Belaiau mendalami berbagai aliran agama yang beraneka ragam yang harapan agar dapaat menolongnya mencapai ilmu pengetahuan sejati yang sangat didambakan.

Setelah empat tahun beliau memutuskan untuk berhenti mengajar di Bagdad. Lalu ditingggalkannya di kota tersebut untuk menunaikan ibadah haji. Setelah itu beliau menuju ke Syam, dan menetap beberapa tahun di kota Jami’ untuk melakukan kontemplasi dan merenungkan kembali berbagai ilmu yang selama ini di pelajarinnya.

Setelah berlangsung cukup lama tingal di masjid Jami’, beliau pindah ke baitul Mqdis dan di tempat baru ini waktunya banyak dihabiskan untuk beribadah dan menziarahi majelis–majelis pertemuan, kemudian beliau pergi ke Mesir dan memetap di Iskandariyah dalam waktu cukup lama. Sehabis di Mesir, beliau kembali banyak menyusun kitab-kitab yang sangat bermanfaaat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan

Demiklian al-Ghozali mempersiapkan dirinya dengan persiapan agama yang benar dan mensucikan jiwanya dari noda-noda keduniaan, pembela agama Islam yang besar serta salah seorng pemimpin yang menonjol dizamannya.8

Setelah mengabdikan diri untuk pengetahuan berpindah tahun lamanya. Dan sesudah memperoleh kebenaran yang sejati pada akhir hayatnya, maka al-Ghozali meninggalkan dunia di Thus pada hari senin tanggal 4 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111M.

Dengan dihadapi oleh saudaranya Abu Ahmad berdampingan dengan makam penyair besar yang terkenal, Firdaus.Dia wafat meninggalkan 3 orang anak perempuan, sedangkan anak laki-lakinya

8

(43)

yang bernama Hamid sudah meninggal sebel

Referensi

Dokumen terkait

Data lalu lintas memegang peranan terpenting pada perencanaan tebal perkerasan karena data lalu lintas ini dibutuhkan untuk menghitung beban lalu lintas rencana yang akan dipikul

Busana yang digunakan dalam tari Mayang Madu adalah Kerudung. Polos dan kerudung biasa, Hiasan Kerudung, Anting-anting, Baju

Dari kajian tersebut, maka diharapkan akan dikembangkan sebuah aplikasi pengolahan data siswa dalam bentuk sistem informasi pengisian rapor untuk para guru tingkat

Siswa siswi SDN 02 Krandon dalam perkembangan akademis (nilai akademik/kognitif) 80% dapat mengikuti dengan baik sesuai KKM. Hambatan yang relatif menonjol adalah

Hasil penelitian pada tabel 6 hasil diagnosa keperawatan pada kedua klien bahwa mengalami ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan,

Al-„urf al amali (kebiasaan yang berbentuk perbuatan) adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan biasa.. Yang dimaksud “perbuatan biasa‟ adalah

D’Alembert, Analisis gaya statis pada partikel dan mekanika mesin, Analisis gaya gesekan dan inersia, Perhitungan roda daya, Perhitungan bobot balans, Giroskop..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Kualitas Produk, Kualtas Website dan Harga berpengaruh terhadap Kepuasan Konsumen dalam Berbelanja di Online shop