Narasi : Ini adalah pagi yang cerah. Zika dan Cesa, dua orang siswa kelas XI sedang asyik membaca-baca buku dan belajar kimia di dalam kelas. Pasalnya nanti siang akan ada ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Ashyla, sahabat mereka. Ia ikut belajar kimia bersama.
Ashyla: “Zik, Ce, rajin sekali kalian berdua.”
Zika: “Iya dong, soalnya diulangan kali ini aku ingin mendapat nilai yang bagus.”
Cesa: “Iya juga sih. Eh ngomong-ngomong kalian tahu tidak? ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”
Zika: “Oh ya, siapa namanya? cowo atau cewe?”
Cesa: “Cewe, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”
[Bel sekolah berbunyi]
Ashyla: “Eh belnya udah bunyi. Ayo balik ke bangku kita.”
[Ketiganya kembali ke bangku masing masing. Ibu guru masuk bersama seorang murid baru.]
Ibu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Bandung, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Jea : “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Jea Anindya. Saya berasal dari Bandung. Kalian bias memanggilku Jea.”
Zika [berbisik pada Cesa]: “Jauh sekali ya, dari Bandung pindah ke Surabaya!”
[Cesa hanya mengangguk tanda setuju]
Ibu Guru: “Jea, kamu duduk di belakang Ashyla ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”
[Jea segera duduk di kursi yang disediakan]
Ibu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”
[Pelajaran pun dimulai]
Tiba saatnya jam istirahat. Jea, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih dahulu.
Zika: “Psst, Ce, Shyl, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya kasian.” [berbisik pada Ashyla dan Cesa saat mereka baru kembali dari kantin]
Cesa: “Ayo kita dekati dan kita ajak ngobrol.” [Ketiganya menghampiri Jea]
Zika: “Hai Je. Kenalkan, aku Zika, ini Cesa dan Ashyla [menunjuk kedua temannya].”
[Ketiganya duduk di samping Jea]
Jea: “Hai, salam kenal.”
Cesa: “Kamu kok ga ke kantin?”
Jea: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”
Zika: “Oh begitu, rajin sekali kamu. Apa yang kamu bawa Je?”
Jea: “Nasi goreng.”
[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Jea merasa ditemani]
Saat jam pulang sekolah, Ibu Guru memanggil Zika dan Cesa yang hendak pulang ke rumah.
Ibu Guru: “Zika, Cesa! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”
[Zika dan Cesa menghampiri Ibu Guru]
Zika: “Ada apa, Bu?”
Ibu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Jea di kelas? Apakah ia bisa membaur?”
Cesa: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”
Zika: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Ashyla berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri.”
Ibu Guru: “Hmm… begitu ya, Jea adalah anak yatim piatu. Beberapa bulan yang lalu kedua orang tuanya tewas kecelakaan. Kini hanya tinggal ia dan adik laki-lakinya, Raka. Raka masih duduk di kelas 4 SD, di SD Al-Hikmah.”
Cesa: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”
Ibu Guru: “Iya. Untungnya, neneknya tinggal di Surabaya sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Jea benar-benar harus berhemat.
Neneknya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Jea sehingga Jea harus membawa bekal setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”
Zika: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”
Ibu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Zika dan Cesa pamit kemudian pulang]
Di rumahnya, Zika terus menerus memikirkan teman barunya. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Cesa dan Ashyla melalui pesan. Keesokan harinya di jam istirahat….
Zika: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”
Ashyla: “Bawa dong. Ayo kita ketemu Jea.”
[Mereka berjalan mendekati Jea]
Zika: “Hai Je, bolehkah kami bertiga makan bersamamu?”
Jea: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh ayo kemari”
Zika, Cesa, dan Ashyla mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya juga membawa makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Jea juga kebagian. Dengan makan bersama setiap hari, mereka berharap bisa membuat Jea lebih ceria. Setelah makan…
Jea: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku, maaf ya jadi merepotkan.”
Zika: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman wajar saja.”
Semenjak itu Jea, Cesa, Zika dan Ashyla menjadi sahabat. Mereka menghabiskan waktu tiap jam istirahat untuk memakan bekal bawan mereka bersama. Jea juga menjadi siswi yang ceria dan kuat karena dukungan teman-teman barunya. Siswa-siswa lain di kelas itu pun banyak yang bergabung membawa bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Suasana menjadi semakin menyenangkan.