• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dualisme Hukum Tanah di Indonesia

N/A
N/A
Lefina Namira

Academic year: 2024

Membagikan "Dualisme Hukum Tanah di Indonesia"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI TANAH-TANAH HAK BARAT DAN TANAH-TANAH HAK INDONESIA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Pendaftaran Hak Atas Tanah

Yang diampu oleh:

Dr. Iwan Permadi, S.H., M.Hum

Disusun Oleh:

Lefina Namira Amalia (236010200111002)

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2024

(2)

TANAH-TANAH HAK BARAT DAN TANAH-TANAH HAK INDONESIA

Dualisme dalam Hukum Tanah bukan karena para pemegang hak atas tanah berbeda Hukum Perdatanya, melainkan karena perbedaan hukum yang berlaku terhadap tanahnya.

Tanah dalam Hukum Indonesia mempunyai status atau kedudukan hukum sendiri, terlepas dari status hukum subyek yang mempunyainya. Ada tanah-tanah dengan hak-hak barat, seperti hak eigendom, hak erfpacht, hak opstal, yang disebut tanah-tanah hak barat atau tanah-tanah Eropa. Ada tanah-tanah dengan hak-hak Indonesia, seperti tanah-tanah dengan hak adat, yang disebut tanah-tanah hak adat. Ada tanah-tanah dengan hak-hak ciptaan Pemerintah Hindia Belanda, seperti hak agrarisch eigendom, landerijen bezitrecht. Juga dengan hak-hak ciptaan Pemerintah Swapraja, seperti grant sultan. Tanah-tanah dengan hak-hak adat dan hak-hak ciptaan Pemerintah Hindia Belanda dan Swapraja tersebut bisa kita sebut tanah-tanah hak Indonesia, yang cakupan pengertiannya lebih luas dari "tanah-tanah hak adat".1

Hak tanah adalah hak yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk memiliki, menguasai, dan memanfaatkan tanah secara sah. Hak tanah merupakan salah satu hak asasi manusia yang diakui dan dilindungi oleh hukum. Di Indonesia, Diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria.

TANAH-TANAH HAK BARAT 1. Hak Eigendom (Hak Milik)

Pengaturan mengenai hak eigendom terdapat pada Pasal 570 KUH Perdata yang berbunyi: “Hak milik adalah hak untuk menikmati suatu barang secara lebih leluasa dan untuk berbuat terhadap barang itu secara bebas sepenuhnya, asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh kuasa yang berwenang dan asal tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu tidak mengurangi kemungkinan pencabutan hak demi kepentingan umum dan penggantian kerugian yang pantas, berdasarkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan.”

Hak eigendom sebagai hak individu tertinggi, sekaligus juga merupakan hak penguasaan atas tanah yang tertinggi dalam hukum tanah barat.2 Jadi hak eigendom itu merupakan salah satu jenis hak atas tanah barat yang dikenal sebagai hak milik.

1 Harsono, Boedi, Hukum Agararia Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2020, hlm. 53

(3)

2. Hak Erfpacht

Menurut Pasal 720 dan Pasal 721 KUH Perdata, hak erfpacht merupakan hak kebendaan yang memberikan kewenangan yang paling luas kepada pemegang haknya untuk menikmati sepenuhnya akan kegunaan tanah kepunyaan pihak lain.3 Pemegang hak erfpacht boleh menggunakan kewenangan yang terkandung dalam hak eigendom atas tanah.4

Pasal 720 KUH Perdata berbunyi:

“Hak guna usaha adalah hak kebendaan untuk menikmati sepenuhnya barang tak bergerak milik orang lain, dengan kewajiban membayar upeti tahunan kepada pemilik tanah, sebagai pengakuan tentang pemilikannya, baik berupa uang maupun berupa hasil atau pendapatan. Alas hak lahirnya hak guna usaha harus diumumkan dengan cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 620.”

Dengan demikian, hak erfpacht merupakan hak guna usaha atau hak kebendaan untuk menikmati sepenuhnya tanah kepunyaan pihak lain.

3. Hak Opstal

Hak opstal atau dikenal juga dengan sebutan hak numpang karang diatur dalam Pasal 711 KUH Perdata yang berbunyi: “Hak numpang karang adalah hak kebendaan untuk mempunyai gedung bangunan atau tanaman di atas tanah orang lain.”

Setiap orang yang mempunyai hak numpang karang atas sebidang pekarangan, boleh mengalihkannya kepada orang lain atau memberikannya dengan hipotek. Ia juga boleh membebani pekarangan tadi dengan pengabdian pekarangan tetapi hanya untuk jangka waktu selama ia boleh menikmati haknya.5

4. Hak Gebruik (recht van gebruik)

Sedangkan hak gebruik seperti yang telah kami sebutkan di awal, termasuk jenis hak eigendom (hak milik). hak gebruik adalah hak kebendaan atas benda orang lain 2 Harsono, Boedi, Hukum Agararia Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok

Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2020, hlm. 59 3 Ibid., hlm. 37

4 Ibid.

5 Pasal 712 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(4)

bagi seseorang tertentu untuk mengambil benda sendiri dan memakai apabila ada hasilnya, sekedar buat keperluannya sendiri beserta keluarganya.6 Hak gebruik dikonversi menjadi hak pakai.7 Hak gebruik ini diatur dalam Pasal 818 KUH Perdata yang berbunyi: “Hak pakai dan hak mendiami, diperoleh dan berakhir dengan cara yang sama seperti hak pakai hasil.” Dengan demikian, hak gebruik merupakan hak pakai, yaitu hak pakai atas sebidang tanah pekarangan, yang kepada pemakainya hanya boleh mengambil hasil-hasilnya, sebanyak yang diperlukan untuk diri sendiri dan seisi rumahnya.8

TANAH-TANAH HAK INDONESIA

Tanah-tanah dengan hak-hak Indonesia, seperti tanah-tanah dengan hak adat, yang disebut tanah-tanah hak adat. Ada tanah-tanah dengan hak-hak ciptaan Pemerintah Hindia Belanda, serta terdapat juga dengan hak-hak ciptaan Pemerintah Swapraja.

TANAH-TANAH HAK ADAT

1. Hak Tanah Yasan atau Hak Andarbeni adalah hak yang diberikan oleh negara kepada masyarakat adat atau masyarakat hukum adat untuk memiliki, menguasai, dan memanfaatkan tanah yang mereka tempati secara turun temurun. Hak tersebut diakui dan dilindungi oleh negara sesuai dengan kebiasaan hukum adat yang berlaku di daerah tersebut. Hak tanah yasan memiliki peran yang penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat adat. Tanah merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat adat, karena di atas tanah mereka dapat bercocok tanam, membangun rumah, dan menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan adanya hak tersebut, masyarakat adat dapat menjaga keberlanjutan budaya dan tradisi mereka, serta mempertahankan keberadaan mereka sebagai kelompok yang memiliki identitas dan keunikan tersendiri.

Dalam kesimpulan, hak tanah yasan merupakan hak yang diberikan oleh negara kepada masyarakat adat untuk memiliki, menguasai, dan memanfaatkan tanah yang mereka tempati secara turun temurun. Hak itu juga memiliki peran yang penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat adat. Hak Tanah Yasan juga dikenal oleh 6 Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2004, hlm. 104

7 Ibid., hlm. 106

8 Pasal 821 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(5)

masyarakat Jawa Timur sebagai Petok D. Pada dasarnya, Petok D merupakan bukti pajak atas suatu lahan. 9

2. Hak Gogolan adalah hak seorang Gogol (kuli) atas komunal desa. Hak gogolan juga sering disebut hak sanggao atau hak pekulen. Tanah gogolan yang telah dilekati hak gogolan mengikuti pola penguasaan tanah yang bersifat komunal, yakni pemilikan tanah yang dilakukan dengan bagian-bagian tetap dan pemilikan tanah dengan bagian-bagian tertentu yang pada waktu tertentu berganti-ganti. Sehingga Hak Gogolan tersebut dikenal dengan adanya 2 (dua) hak, yaitu:10

 Hak gogolan yang bersifat tetap: hak gogolan tetap terjadi kalau gogol (kuli) terus menerus mempunyai tanah gogolan yang sama dan apabila si Gogol meninggal dunia, dapat diwariskan kepada ahli warisnya untuk melanjutkannya, seperti istri dan anak-anaknya.11

 Hak gogolan yang bersifat tidak tetap: hak gogolan yang tidak tetap terjadi apabila para Gogol tersebut tidak terus menerus mempunyai tanah gogolan yang sama atau apabila si Gogol meninggal dunia, maka tanah gogolan tersebut kembali kepada desa. Sejatinya tanah gogolan yang tidak tetap diberikan kepada petani penggarap dengan tujuan untuk kesetaraan dan memeratakan hasil pertanian, maka digarap atau dikerjakan secara bergilir.12

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa untuk dapat disebut Hak Gogolan ada 2 (dua) syarat, yaitu tanah yang dikuasainya tetap pada tanah yang sama dan apabila si Gogol meninggal dunia, maka hak gogolnya dapat dilanjutkan oleh salah seorang ahli waris tertentu. Apabila tidak ada, maka yang menjadi ahli warisnya adalah jandanya. Sedangkan Hak gogolan bersifat tidak tetap, ada dua unsur yang harus diperhatikan yaitu apabila tanah yang digarap/dikuasai berganti ganti atau apabila si

9 Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2023, Hak Yasan, (Online) https://mh.uma.ac.id/pahami-apa-itu-hak-tanah/, (04 Mei 2024).

10 Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2023, Pahami Hak Atas Tanah Gogolan Berdasarkan UUPA, (Online ) https://mh.uma.ac.id/pahami-hak-atas-tanah-gogolan-berdasarkan-uupa/, (04 Mei 2024).

11 Ibid.

12 Ibid.

(6)

Gogol meninggal dunia, maka tanah gogolan dimaksud tidak dapat diwariskan pada ahli warisnya.

3. Hak Pesini

Merupakan Istilah dan lembaga-lembaga hak atas tanah ini, merupakan istilah lokal yang terdapat di Jawa.

HAK-HAK ATAS TANAH YANG MERUPAKAN CIPTAAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA

Hak-hak atas tanah yang merupakan ciptaan pemerintah Hindia Belanda, misalnya hak Agrarische Eigendom (tanah hak milik adat yang ditundukan diri pada Hukum Agraria Barat, Landerijen Bezitrecht (tanah-tanah yang subjek hukumnya terbatas pada orang-orang dari golongan Timur Asing (Tionghoa).

1. Hak Agrarische Eigendom merupakan hak buatan semasa pemerintahan kolonial Belanda yang memberikan kaum bumiputera suatu hak baru yang kuat atas sebidang tanah.13Hak agrarische eigendom juga dapat dikonversi menjadi hak milik, hak guna usaha atau hak guna bangunan, sesuai dengan subyek hak dan peruntukannya.14 Eigendom merupakan istilah yang ada sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Eigendom diartikan sebagai hak kepemilikan seseorang atas sebidang tanah.

Eigendom dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu eigendom biasa dan eigendom verponding. Eigendom biasa adalah tanah yang memiliki status hak milik pada zaman kolonial Belanda, dimana eigendom ini hanya dapat dimiliki oleh orang Eropa dan Timur Asing, terhadap orang pribumi juga dapat memiliki eigendom dengan status agrarische eigendom. Agrarische eigendom yaitu hak kepemilikan tanah khusus untuk pribumi disertai dengan syarat pembatasan mengenai kewajiban kepada negara atau desa sebagaimana ketentuan dalam Pasal 51 ayat 7 Indische Staatregeling (selanjutnya disebut IS).15

13 Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2004, hlm. 115

14 Ibid., hlm. 118

15 Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2022, Pengertian Eigendom dan Konversinya, (Online), https://mh.uma.ac.id/pengertian-eigendom-dan-konversinya/, (04 Mei 2024).

(7)

2. Landerijen Bezitrecht (LB), Landerijenbezitsrecht diatur di dalam S. 1926-121.

Sudargo Gautama (Gouw Giok Siong) menyatakan bahwa tanah-tanah landerijenbezitsrecht adalah tanah-tanah Tionghoa karena subyeknya terbatas pada golongan Timur Asing Tionghoa (Cina). Ditegaskan oleh Sudargo Gautama bahwa landerijenbezitsrecht adalah suatu hak istimewa yang diperoleh oleh orang-orang Timur Asing, terutama Tionghoa, yang memiliki hak usaha atas tanah-tanah partikelir yang telah dibeli kembali oleh Pemerintah (Pasal 5 S. 1913-702). Landerijenbezitsrecht merupakan suatu pengganti dari lembaga “altijddurende erfpacht” yang tadinya disediakan oleh pembuat undang-undang bagi orang-orang Timur Asing (perubahan diadakan dengan S. 1926-121.12). 16 Dengan demikian, hakikat dari landerijenbezitsrecht sama dengan tanah usaha yang dipegang oleh orang-orang pribumi di atas tanah partikelir. Keduanya sama-sama “tanah usaha”. Perbedaannya, terletak pada subyek. Tanah usaha dipegang oleh orang pribumi, sedangkan landerijenbezitsrecht dipegang oleh orang Timur Asing Tionghoa.17

HAK-HAK CIPTAAN PEMERINTAH SWAPRAJA

Adapun yang dimaksud dengan Hukum Tanah Swapraja adalah keseluruhan peraturan tentang pertanahan yang khusus berlaku di daerah Swapraja. Daerah swapraja adalah daerah raja-raja semasa pemerintahan kolonial Belanda.18 Contohnya, kesultanan Yogyakarta, Surakarta, Cirebon dan Deli. Dalam daerah Swapraja tersebut hukum tanah diciptakan oleh Pemerintah Swapraja dan sebagian oleh Belanda. Kesultanan Deli merupakan daerah yang memiliki suatu pemerintahan tersendiri termasuk ketentuan tersendiri tentang pertanahan dengan menggunakan Hukum Tanah swapraja. Peraturan pertanahan yang terdapat di kesultanan Deli menggunakan peraturan pertanahan di Sumatera Timur. Itulah sebabnya Kesultanan Deli merupakan salah satu wilayah daerah Swapraja.” Terdapat beberapa jenis hak swapraja atas tanah:

16 Gautama, Sudargo (Gouw Giok Siong), Hukum Agraria Antar Golongan, Jakarta: UI Press, 1959, hlm. 22 17 Harsono, Boedi, Hukum Agararia Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2020, hlm. 54-55

18 Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2004, hlm. 128

(8)

1. Hak hanggaduh, adalah hak untuk memakai tanah kepunyaan raja. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, semua tanah adalah kepunyaan raja. sedangkan rakyat hanya menggaduh saja. 19Hak hanggaduh dapat dikonversi menjadi hak pakai.20

2. Hak grant, adalah hak atas tanah atas pemberian hak raja kepada bangsa asing.

Hak grant juga disebut geran datuk, geran sultan atau geran raja. 21 Yang mana seperti dikatakan Prof. Boedi Harsono, Hak Grant tersebut berlaku di Sumatera bagian timur, yaitu di wilayah Kesultanan Deli. Hak Grant di Sumatera Timur, dimana hak grant adalah hak atas tanah, yaitu berdasarkan pemberian raja-raja atau Sultan kepada kaulanya, maupun kepada bangsa asing. Penggunaan istilah “grant” yang berasal dari bahasa inggris ini diperkirakan karena latar belakang historis dimana terdapat hubungan kekeluargaan yang erat antara Sultan Sumatra Timur dengan Sultan di Malaysia yang dulunya merupakan tanah jajahan Inggris. Hak grant terdiri dari tiga macam, yaitu:

Grant Controleur (Grant C), yaitu grant yang diberikan Sultan kepada bangsa asing (bukan kaula swapraja) , yang mana hak ini dapat dikonversi menjadi hak Pakai.22

Grant Deli Maatschappij (Grant D), yaitu grant yang diberikan Sultan kepada deli maatschappy yang berwenang untuk memberikan bagian-bagian tanah kepada pihak lain.23 yang mana terhadap konversi grant ini tidak terdapat ketentuan yang mengaturnya, namun menurut Prof. Boedi Harsono dapat dikonversi menjadi Hak Pakai karena difatnya sama dengan Grant Controleur (Grant C). 24

Grant Sultan, yaitu grant yang diberikan Sultan kepada kaulanya, yang mana merupakan perwujudan tentang penetuan hak-hak pribumi atas tanah. Hak ini dapat dikonversikan menjadi Hak Milik, Hak Guna Usaha ataupun Hak Guna Bangunan, sesuai dengan subjek hak dan peruntukannya. Hak Grant

19 Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2004, hlm. 130

20 Ibid., Hlm. 132 21 Ibid., Hlm. 133 22 Ibid.

23 Ibid., hlm.134 24 Ibid., hlm.137

(9)

Sultan merupakan Salah satu hak milik adat adalah tanah-tanah yang berstatus Grant, yang mana seperti dikatakan Prof. Boedi Harsono, Hak Grant tersebut berlaku di Sumatera bagian timur, yaitu di wilayah Kesultanan Deli. Hak Grant di Sumatera Timur, dimana hak grant adalah hak atas tanah, yaitu berdasarkan pemberian raja-raja atau Sultan kepada kaulanya, maupun kepada bangsa asing. Penggunaan istilah “grant” yang berasal dari bahasa inggris ini diperkirakan karena latar belakang historis dimana terdapat hubungan kekeluargaan yang erat antara Sultan Sumatra Timur dengan Sultan di Malaysia yang dulunya merupakan tanah jajahan Inggris.25

3. Hak konsesi dan sewa untuk perusahaan kebun besar

Hak konsesi untuk perusahaan kebun besar adalah hak-hak untuk mengusahakan tanah swapraja yang diberikan oleh kepala swapraja. Sedangkan hak sewa untuk perusahaan kebun besar adalah hak sewa atas tanah negara, termasuk tanah bekas swapraja untuk dipergunakan sebagai perkebunan yang luasnya 25 Ha atau lebih.26 Hak-hak ini dapat dikonversi menjadi hak guna usaha.27

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta:

Prestasi Pustaka, 2004.

Gautama, Sudargo (Gouw Giok Siong), Hukum Agraria Antar Golongan, Jakarta: UI Press, 1959.

25 Harsono, Boedi, Hukum Agararia Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2020, hlm. 53

26 Chomzah, H. Ali Achmad, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia) Jilid 1, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2004, hlm. 141

27 Ibid., hlm. 142

(10)

Harsono, Boedi, Hukum Agararia Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2020.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria

WEBSITE ONLINE

Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2022, Pengertian Eigendom dan Konversinya, (Online), https://mh.uma.ac.id/pengertian-eigendom-dan- konversinya/, (04 Mei 2024).

Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2023, Hak Yasan, (Online) https://mh.uma.ac.id/pahami-apa-itu-hak-tanah/, (04 Mei 2024).

Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Medan Area, 2023, Pahami Hak Atas Tanah Gogolan Berdasarkan UUPA, (Online ) https://mh.uma.ac.id/pahami-hak-atas-tanah- gogolan-berdasarkan-uupa/, (04 Mei 2024).

Referensi

Dokumen terkait

Naskah Undang-Undang Minangkabau mengandung teks yang berisi aturan-aturan mengenai adat, hukum, lembaga adat dan lembaga hukum, dan manusia sebagai makhluk Tuhan,

tanah adat bagi masyarakat hukum adat di Indonesia dalam sistem

Arti fungsi sosial menurut hukum Adat Puyang, yaitu apabila tanah tidak berfungsi baik bagi pemilik atau anggota masyarakat hukum adat tersebut, maka hak milik akan dicabut

Ketentuan yang diatur dalam UUPA mengakibatkan peralihan hak atas tanah melalui jual beli bersumber pada hukum adat. Hukum adat menyebutkan bahwa dengan jual beli, hak

Timbulnya sengketa hukum mengenai tanah tersebut berawal dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan hukum) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas

Undang-Undang Pokok Agaria (UUPA) terhadap hak ulayat, yaitu UU no 5 tahun 1960 (LN 1960 no 104) mengakui berlakunya hukum adat mengenai tanah, sebagaimana dicantumkan dalam pasal

Penyerahan pelaksanaan hak menguasai negara atas tanah kepada masyarakat hukum adat dalam UUPA mendapatkan penamaan hak ulayat sesuai apa yang telah dinyatakan oleh

Macam-macam hak penguasaan atas tanah  Hak bangsa Indonesia atas tanah  Hak menguasai negara atas tanah  Hak ulayat masyarakat hukum adat  Hak-hak perorangan/individual atas