Penerapan pembelajaran PJOK di sekolah diharapkan dapat menjadi pionir dalam upaya meningkatkan kebugaran jasmani siswa. Menulis Buku Model Aktivitas Fisik untuk Siswa Sekolah Dasar merupakan buku hasil penelitian penulis dengan judul yang sama. Keberadaan buku ini sangat penting dikalangan masyarakat, karena masih kurangnya buku model latihan jasmani bagi siswa sekolah dasar.
DUMMY
Menurut Erick Burhaein (2017), anak usia dini memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi karena rasa ingin tahunya yang berlebihan terutama pada anak usia dini. Perkembangan anak usia dini bersifat holistik, yaitu dapat berkembang secara optimal bila tubuhnya sehat, tercukupi gizinya, dan dididik dengan baik dan benar. Padahal, anggapan bahwa perkembangan motorik kasar akan berkembang secara otomatis seiring bertambahnya usia adalah anggapan yang salah.
ANAK USIA SEKOLAH DASAR
- Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
- Anak Usia 6–9 Tahun
- Anak Usia 10–12 Tahun
- Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
- Perilaku Siswa Sekolah Dasar
- Pentingnya Aktivitas Fisik bagi Anak
- Aktivitas Fisik Sesuai Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah Dasar
- Pengertian Kebugaran Jasmani
Oleh karena itu, perkembangan motorik kasar sama pentingnya dengan aspek perkembangan anak usia dini lainnya. Karakteristik anak usia 6–9 tahun Jenjang kelas di sekolah dasar dapat dibedakan menjadi kelas rendah dan kelas tinggi. Sebagai anak yang berada pada tahap berpikir operasional konkrit, anak usia sekolah dasar akan memahami segala sesuatu yang bersifat abstrak dengan penafsiran yang konkrit.
KEBUGARAN JASMANI
Manfaat Kebugaran Jasmani
Hal ini disebabkan adanya peningkatan ukuran serat otot dan peningkatan sistem suplai energi pada otot. Berolahraga secara teratur akan meningkatkan fungsi hormon dalam tubuh dimana hormon tersebut dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Sangat membantu tubuh untuk tetap bugar dan mengurangi risiko tekanan darah tinggi, stroke, obesitas, dan penyakit jantung.
Bentuk Kebugaran Jasmani
Reaksi merupakan kemampuan seseorang untuk segera bertindak dan merespon rangsangan yang ditangkap oleh inderanya. Saat ini masyarakat sudah sangat sadar akan manfaat kebugaran jasmani, terbukti dengan banyaknya pusat kebugaran dan kegiatan olah raga yang marak di masyarakat. Dari sini diketahui bahwa kebugaran jasmani sangat penting bagi setiap manusia untuk dapat berlari.
KEBUGARAN JASMANI DAN PEMBELAJARAN
- Pengertian Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
- Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani
- Tujuan Pendidikan Jasmani
- Ciri-ciri Kebugaran Jasmani
Pendidikan jasmani pada anak hendaknya diberikan seoptimal mungkin agar terjadi keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Pendidikan jasmani dan olahraga memberikan dampak positif terhadap anak usia sekolah dasar, seperti kesehatan, kebugaran, pertumbuhan, kecerdasan dan perkembangan psikologis. Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian integral dari pendidikan melalui pengalaman gerak yang meningkatkan keterampilan fisik, keterampilan motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial-emosional dan spiritual.
Melalui pendidikan jasmani yang dikelola dengan baik, anak akan mengembangkan keterampilan yang berguna untuk mengisi waktu luangnya, berpartisipasi dalam kegiatan yang kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial dan berkontribusi terhadap kesehatan fisik dan mentalnya (Husdarta, 2009). Menurut uraian Pangrazi dan Dauer dalam Adang Suherman, latihan jasmani merupakan bagian dari program pendidikan umum yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan. Menurut Samsudin (2008), latihan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang dirancang untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku untuk pola hidup sehat dan aktif, sportivitas dan kecerdasan emosional.
Pendidikan jasmani dan olah raga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani (jasmani) dan olah raga untuk mewujudkan perubahan kualitas individu secara holistik, baik jasmani, mental, dan emosional. Artinya pendidikan jasmani tidak hanya menitikberatkan pada aspek jasmani saja, tetapi juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual. Menurut Samsudin (2008:7), pendidikan jasmani mempunyai fokus, salah satunya fokus pada kelas IV-VI sekolah dasar.
Karena tujuan pendidikan jasmani adalah untuk meningkatkan perkembangan individu secara menyeluruh dalam aspek jasmani dan rohani seperti mental, emosional dan spiritual.
CIRI-CIRI DAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI
Faktor-faktor yang Memengaruhi Kebugaran Jasmani
Dengan adanya kebugaran jasmani pada diri seseorang maka akan memungkinkan orang tersebut dapat melakukan apapun yang diinginkannya seperti belajar, bekerja, berolahraga atau aktivitas fisik lainnya. Menurut Wiarto dalam Rizky, dkk., (2020), faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani dibagi menjadi lima, yaitu: usia, jenis kelamin, genetika, makanan dan merokok. Sampai masa pubertas, kebugaran jasmani anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan, namun setelah masa pubertas anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi.
Selain itu gizi akan mencerminkan rendahnya kualitas jasmani dan berdampak pada tingkat kebugaran jasmani sehingga mengakibatkan rendahnya kapasitas kerja. Secara teori, tingkat kebugaran setiap orang berbeda-beda, artinya tidak setiap orang mempunyai kebugaran jasmani yang masuk dalam kategori cukup. Aktivitas jasmani merupakan salah satu fungsi kebugaran jasmani, sehingga seseorang yang tidak mempunyai kebugaran jasmani yang cukup juga tidak akan mempunyai produktivitas yang baik dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai kategori kebugaran baik.
Sesuai prinsip peningkatan kebugaran jasmani, idealnya pada saat berolahraga di sekolah yaitu tiga kali pertemuan sesuai prinsip frekuensi latihan minimal 3 sampai 4 kali dalam seminggu. Aktivitas jasmani dan olah raga yang benar, teratur dan berkesinambungan bermanfaat untuk mencapai kebugaran jasmani yang optimal. 55 Secara umum komponen kebugaran yang terkandung dalam kebugaran jasmani berkaitan dengan nilai kesehatan dan keterampilan motorik.
Unsur-unsur kebugaran jasmani yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan jasmani anak sekolah dasar dalam buku Harrisu (2003) adalah daya tahan, kekuatan, kecepatan, kecepatan, kelincahan, kelenturan, koordinasi, kecepatan reaksi dan keseimbangan.
Daya Tahan
KOMPONEN-KOMPONEN KEBUGARAN JASMANI
- Kekuatan
- Kecepatan
- Kelincahan
- Kelentukan
- Koordinasi
- Kecepatan Reaksi
- Keseimbangan
- Pendahuluan
Daya tahan otot adalah kapasitas atau kemampuan sekelompok otot untuk melakukan kontraksi berturut-turut atau berulang-ulang terhadap suatu beban dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kekuatan adalah kemampuan otot seseorang dalam menghasilkan gaya ketika otot berkontraksi dalam jangka waktu tertentu. Menurut Corbin dalam Arsil, “kecepatan adalah kemampuan berlari dari suatu tempat ke tempat lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”.
Menurut Arsil, kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk bergerak cepat dan terampil mengubah arah. Menurut Ismaryat, kelincahan adalah kemampuan mengubah arah dan posisi tubuh atau bagian-bagiannya dengan cepat dan tepat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketangkasan adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secepat dan seakurat mungkin dari suatu tempat ke tempat lain.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa koordinasi adalah kemampuan melakukan keterampilan gerak dan keterampilan motorik secara cepat dan terarah yang ditentukan oleh proses pengendalian dan pengaturan gerak. Keseimbangan dinamis adalah kemampuan menjaga keseimbangan tubuh ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan posisi tubuh yang benar ketika melakukan gerakan.
Menurut Arifin (2018), kelincahan adalah kemampuan bergerak dengan cepat dan tepat dalam mengubah arah tanpa kehilangan keseimbangan.
MODEL LATIHAN KEBUGARAN JASMANI
Model Latihan Kebugaran Jasmani bagi Siswa Sekolah Dasar Berbasis Permainan
- Permainan “Tantangan dan Rintangan”
- Permainan “Lempar dan Tangkap Bola Tenis”
- Permainan “Zig-Zag Run with the Ball”
- Permainan “Ikan dan Burung Bangau”
- Permainan “O” Sircuit
- Permainan “Lompat Katak”
- Permainan “Question and Answer”
- Permainan “Touch Me”
- Permainan “Jangan Bertabrakan”
- Permainan “Dikali 2 Berlawanan”
- Permainan “Angkat dan Langkahkan Kaki Mu”
- Permainan “Go and Run”
- Permainan “Pesawat dan Putaran Topan”
- Permainan “Ayo Bergabung”
- Permainan “Sirkuit dan Matematika”
- Permainan “Empat Posko”
Pada isyarat start, siswa yang duduk paling depan dari kedua tim berlari secepat mungkin menuju garis finis sambil memegang bola tenis. Pada aba-aba “mulai”, siswa yang berada di barisan depan kedua tim berlari secepat mungkin secara zig-zag sesuai jadwal menuju garis finis sambil membawa bola. Model permainan ini adalah siswa melakukan gerakan sesuai aba-aba dengan bentuk aba-aba yang berlawanan dan jumlah gerakannya dikalikan 2.
Misal: pada aba-aba anda diminta untuk melompat ke depan sebanyak 5 kali dan kemudian anda harus melompat mundur sebanyak 10 kali. Dalam melaksanakan perintah sesuai petunjuk, siswa tidak boleh keluar dari lingkaran dan tidak boleh bertabrakan dengan temannya. Siswa melakukan gerakan sesuai perintah dengan bentuk gerakan yang berlawanan dengan isyarat dan mengalikan jumlah gerakan dengan 2.
Misal: jika guru memberi perintah “Lompat 3 ke Kanan”, maka siswa harus melompat ke kiri sebanyak 6 kali, begitu pula sebaliknya. Dan sebelum aba-aba, siswa harus berdiri atau diangkat (berdiri dengan satu kaki). Model permainan ini adalah siswa berlari di bawah aba-aba guru dan sebelum aba-aba siswa harus berlari di tempat.
Model permainan ini adalah siswa membuat kelompok dan jumlah anggota kelompok sesuai isyarat peluit. Pada aba-aba mulai, siswa bergerak sesuai posisi yang didudukinya sampai ada isyarat berhenti dengan selang waktu paling lama 30 detik pada setiap posisi. Ketika ada isyarat untuk berpindah antar posisi dengan rumus matematika, siswa segera menuju ke posisi yang seharusnya ditempati.
TES KEBUGARAN JASMANI BAGI SISWA
- Rangkaian Tes
- Kegunaan Tes
- Alat dan Fasilitas
- Ketentuan Tes
- Petunjuk Umum
- Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 30/40 Meter
- Tes Gantung Siku Tekuk untuk a. Tujuan
- Tes Baring Duduk (Sit Up) Selama 30 detik a. Tujuan
- Tes Loncat Tegak (Vertical Jump) a. Tujuan
97 Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) merupakan tolak ukur pengukuran tingkat kebugaran jasmani berupa serangkaian soal tes yang menjadi salah satu standar dalam mengenali tingkat kebugaran jasmani anak yang diklasifikasikan berdasarkan umur anak. (Permana, 2016). Oleh karena itu, Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi menyusun serangkaian tes yang dinamakan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia yang kategorinya dikelompokkan dalam empat kelompok umur. Selain perbedaan berdasarkan kelompok umur, TKJI juga membedakan berdasarkan kategori gender, dimana norma kategori laki-laki dan perempuan berbeda pada setiap soal tes (Depdiknas, 2003).
Tes Kebugaran Jasmani Indonesia digunakan untuk mengukur dan mengetahui tingkat kebugaran jasmani generasi muda (menurut kelompok umurnya). TKJI merupakan rangkaian tes, sehingga semua tugas tes harus dilakukan secara berurutan, terus menerus dan berkesinambungan dengan memperhatikan kecepatan perpindahan tugas tes ke soal tes berikutnya dalam waktu 3 menit. Memperhatikan kecepatan perpindahan pelaksanaan tugas tes ke tugas tes berikutnya dengan kecepatan sesingkat-singkatnya dan tanpa penundaan waktu. e.
Dengan bantuan tolakan kedua kaki, peserta melompat hingga mencapai posisi bergantung pada tekukan siku, dagu berada di atas palang tunggal (lihat foto). Postur ini dipertahankan selama mungkin (dalam hitungan detik). Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai peserta untuk mempertahankan postur tersebut di atas, dalam hitungan detik.
Peserta yang tidak dapat melakukan jurus di atas akan dinyatakan gagal dan diberi skor nol (0).
Tes Lari 600 meter a. Tujuan
Tabel Nilai TKJI 1. Usia 6 – 9 Tahun
- Usia 10 – 12 Tahun
Norma TKJI
- Formulir TKJI
Pengaruh Latihan Kesegaran Jasmani (PFT) Terhadap Tingkat Kebugaran Siswa Kelas V MIN Donomulyo Kabupaten Malang. Survei Tingkat Kebugaran Jasmani Sekolah Dasar Kelas IV dan V Gugus Selatan Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban.
DAFTAR PUSTAKA
Peningkatan kebugaran jasmani melalui metode Circuit Training dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SMA Negeri 1 Lubuklinggau. Perbedaan Pengaruh Latihan Interval dan Fartlek Terhadap Daya Tahan Kardiovaskular Pada Atlet Junior Putra Taekwondo Wild Club Medan Tahun 2006/2007. Pendidikan jasmani berkontribusi terhadap tingkat aktivitas fisik secara keseluruhan dan terutama pada kategori aktivitas fisik intensitas tinggi.
Perbandingan tingkat kebugaran jasmani antara siswa pada kelas unggul dengan siswa pada kelas tidak unggul (siswa kelas X SMA Negeri 1 Kertosono). Pengaruh program berbasis pendidikan jasmani terhadap kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan dan pemeliharaannya pada siswa sekolah menengah. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SLTP) 1 Tembilahan dan lulus pada tahun 2004.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Program Studi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang dan lulus pada tahun 2011 dengan lulus sebagai wisudawan terbaik. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Padang pada tahun 2011 dan lulus pada tahun 2013, kembali menjadi Wisudawan Terbaik. Pengalaman berorganisasi adalah menjadi pengurus KONI Padang Pariaman, pengurus Provinsi Woodball Sumbar, pengurus Soft Tennis Provinsi Sumbar, dan pengurus Provinsi Petanque Sumbar.
BIODATA PENULIS
119 Sepriadi, S.Si., M.Pd., lahir pada tanggal 1 September 1989 di Padang Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.