Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan
Indonesia
Imam Sujoko, Edwin Syarip, Aida Humaira, Nurul Adhha
PENERBIT KBM INDONESIA adalah penerbit dengan misi memudahkan proses penerbitan buku-buku penulis di tanah air Indonesia. Serta menjadi media sharing proses penerbitan buku.
Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Indonesia
Copyright@2021 All right reserved
Penulis : Imam Sujoko, Edwin Syarip, Aida Humaira, Nurul Adhha
Desain Sampul : Danillstr Tata Letak : Ainur Rochmah
Editor Naskah : Dr. Muh. Fudhail Rahman, M.A.
Dr. Imam Subchi, M.A.
Sumber Gambar : https://www.freepik.com/
Hak cipta dilindungi undang-undang Cetakan ke-1, Desember 2021 14 x 21 cm, xii + 181 halaman ISBN 978-623-5679-47-1 (PDF) Penerbit
PENERBIT KBM INDONESIA
Banguntapan, Bantul-Jogjakarta (Kantor I)
Balen, Bojonegoro-Jawa Timur, Indonesia (Kantor II) 081357517526 (Tlpn/WA)
Website: www.penerbitbukumurah.com Email: [email protected] Youtube: Penerbit Sastrabook
Instagram: @penerbit.sastrabook | @penerbitbukujogja Anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia)
Isi buku di luar tanggung jawab penerbit
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotocopy tanpa izin dari Penerbit.
Abstrak
Salah satu alternatif pembinaan bagi narapidana di Indonesia adalah pelaksanaan program pembinaan kepribadian spiritual. Selama ini, hampir di seluruh lembaga pemasyarakatan di Indonesia, program keagamaan yang dilaksanakan oleh petugas sipir adalah program ceramah dan aktivasi masjid maupun mushola lembaga pemasyarakatan.
Penelitian ini menganalisis model pembinaan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan dengan menggunakan pendekatan maqa>sid al-shari>‘ah. Konsep ini mengaktifasi kerjasama antara cendikiawan dan praktisi universitas, masyarakat, dan warga lembaga pemasyarakatan dalam mengayomi para warga binaan laki-laki dan perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum Islam dengan studi sosio legal yang bersifat interdisipliner. Penelitian ini menggunakan studi ilmu hukum Islam dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bimbingan Islam dan ilmu sosial lainnya dari perspektif kemasyarakatan. Tim Peneliti menggunakan model studi ini agar dapat mendeskripsikan persoalan sosial kemasyarakatan di Indonesia secara lebih bermakna baik dari sudut pandang teoretikal maupun praktikal. Penelitian ini juga menggunakan metodologi campuran yang terdiri dari kajian kualitatif atas kaidah fikiah dan maqa>s}id syari>’ah dalam hukum Islam. Sumber data penelitian adalah dokumen berupa undang-undang, peraturan
Kementerian Hukum dan HAM dan institusi di bawahnya, eksperimen tajhi>z jana>zah dan wawancara semi terstruktur.
Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Pelaksanaan dan optimalisasi pembinaan warga binaan pemasyarakatan di ketiga lembaga pemasyarakatan masih terhambat oleh beberapa kendala diantaranya, (1) persentasi bobot skoring indikator spiritual yang rendah, (2) over kapasitas sumber berbagai kemudaratan di lembaga pemasyarakatan, dan (3) dilema keterbatasan dan ketiadaan tenaga fungsional. Kedua, aktualisasi maqāṣid al-syarī’ah melalui tajhi>z jana>zah di lembaga pemasyarakatan Indonesia berorientasi pada peningkatan penerimaan diri narapida di tengah masyarakat, meningkatkan pendekatan diri kepada Allah, melatih kreativitas dan peran otak kanan warga binaan dengan pendekatan Kognitif-psikomotorik dan spiritualitas, memberikan pelatihan yang menunjang skill yang dapat digunakan sebagai mata pencaharian bagi warga binaan.
Daftar Isi
Abstrak ... v
Daftar Isi ... vii
Kata Pengantar ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Kajian Terdahulu yang Relevan ... 8
E. Metodologi Penelitian ... 20
1. Ruang Lingkup Penelitian ... 20
2. Pendekatan Penelitian ... 22
3. Sumber dan Jenis Data Penelitian ... 24
4. Teknik Pengumpulan Data ... 26
5. Teknik analisis Data ... 30
F. Sistematika Pembahasan ... 32
G. Jadwal Penelitian ... 33
BAB II MAQA>S}ID SYARI>’AH DAN PEMBINAAN NARAPIDANA . 35 A. Diskursus Maqa>s}id Syari>’ah ... 35
1. Makna dan Perkembangan Maqa>s}id Syari>’ah. ... 35
2. Maqa>s}id Syari>’ah dalam hukuman (uqubah). ... 53
B. Konsep Pemenjaraan dan Pembinaan Narapidana ... 62 BAB III
PEMBINAAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN
DI INDONESIA ... 71 A. Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan
Pemasyarakatan di Indonesia ... 72 B. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA
Bandar Lampung ... 83 C. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA
Jakarta ... 88 D. Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta 93 E. Program Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Kelas II A Bandar Lampung, Kelas II A Jakarta dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Salemba Jakarta... 96 a. Pembinaan Kepribadian ... 100 b. Pembinaan Kemandirian ... 111 BAB IV
ANALISIS MAQA>S}ID SYARI>’AH
DI DALAM PEMBINAAN MORAL-SPIRITUAL
DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ... 115 A. Hambatan dan Tantangan Pembinaan Warga Binaan
Pemasyarakatan Perspektif Hukum Islam ... 116 1. Persentasi Bobot Skoring Indikator Spiritual
yang Rendah ... 116 2. Over Kapasitas Sumber Berbagai Kemudaratan
di Lembaga pemasyarakatan ... 119 3. Dilema Keterbatasan dan Ketiadaan Tenaga
Fungsional ... 123 B. Aktualisasi Prinsip-prinsip Maqa>s}id Syari>’ah di dalam
Tajhiz Janazah ... 127
BAB V
PENUTUP ... 141
A. Kesimpulan ... 141
B. Saran ... 143
Daftar Pustaka ... 145
Glosarium dan Daftar Singkatan ... 161
Index ... 169
Lampiran Dokumentasi ... 173
Biografi Penulis ... 177
Kata Pengantar
Alhamdulillah, rasa syukur yang paling utama tim penulis ucapkan kepada Allah Swt. Karena Taufiq, Hidayah dan Inayah-Nya tim penulis dapat menyelesaikan Buku Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Indonesia ini.. Tidak kemampuan kecuali atas izin dan keagungan Allah Swt. La> H{aula Wala> Quwwata illa> Billa>h. Semoga tim penulis menjadi orang-orang yang selalu bersyukur, pantang menyerah, dan selalu dalam bimbingan Allah Swt. menuju jalan yang lurus. Amin. Salawat dan salam tim penulis haturkan kepada Rasulullah saw., Nabi akhir zaman, panutan bagi sekalian alam.
Teladan rasulullah tidak akan pernah tergantikan, akhlak rasulullah selalu menjadi yang utama bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Rasulullah merupakan Kekasih Allah yang menyampaikan Islam yang rahmah dan ramah. Semoga kita semua selalu meneladani rasulullah saw., agar kita mendapatkan syafaatnya. Amin.
Penulis menyadari bahwa buku yang telah ada di tangan anda saat ini adalah buku yang sederhana. semoga dikesempatan yang lain di masa depan, buku ini dapat tim penulis kembangkan lagi sehingga menjadi lebih matang dan
komprehensif untuk pembaca nikmati. Tidak lupa tim penulis sampaikan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, MA selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Imam Subchi, M.A.
selaku Ketua Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berserta jajarannya, Dr.
Kamarusdiana, M.H. selaku Ketua Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) LP2M UIN Syarif Hidayatullah beserta jajarannya, dan Jajang Jahroni, Ph.D selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya, Riza Mahdar Fauzi selaku Wakil Ketua satu Senat Mahasiswa UIN Jakarta serta seluruh civitas akademika dan Pustakawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan support kepada tim penulis untuk menyelesaikan buku ini.
Semoga Allah senantiasa memberikan pahala kepada mereka yang telah berkontribusi atas selesainya buku ini.
Semoga Allah membimbing kita kepada jalan hidup yang penuh keridhoanNya, menempatkan kita dalam taman-taman yang indah di surga, serta selalu menaungi kita dalam kedamaian dan hikmah. Amin.
Ciputat Timur, 5 Desember 2021
Tim penulis
A. Latar Belakang
embaga Pemasyarakatan dahulu dipandang sebelah mata sebagai Institusi yang memfasilitasi pemberian hukuman serta penangguhan kemerdekaan tersangka kejahatan (Drake, 2012: 5). Lembaga publik dan hukum harus memandang narapidana secara berbeda. Narapidana yang dipenjara mungkin saja adalah penjahat di mata hukum, namun narapidana juga merupakan manusia yang pantas mendapatkan pertimbangan yang manusiawi dan perlakuan dengan tepat. Meskipun sifat kejahatan yang dilakukan oleh narapidana merupakan tindakan melanggar norma dan hukum, hukuman yang ditegakkan pada narapidana harus berada dalam tingkat parameter hak asasi manusia yang dapat diterima akal sehat. Lembaga pemasyarakatan seharusnya berfungsi sebagai lembaga yang fokus mengayomi para warga binaan hingga siap dikembalikan
ke masyarakat (Soedjono,1972: 86). Para narapidana juga manusia, dan mereka berhak diperlakukan dengan bermartabat dan diberikan hak-hak mereka (Al-Fijawi, et al., 2019: 455- 474).
Oleh karena itu, sudah selayaknya narapidana yang aktif dan berkelakuan baik selama masa pemidanaannya mendapatkan pengurangan masa hukuman. (Yanto et al., 2019:
1-13). Pengurangan masa tahanan atau remisi bagi narapidana bisa diupayakan dengan merangsang keaktifan narapidana melalui keikutsertanyaan di berbagai program dukungan sosial yang diberikan oleh petugas lapas atau sipir maupun masyarakat. Lapas harus melaksanakan dukungan sosial dengan melibatkan tokoh masyarakat, cendikiawan kampus, narapidana, petugas sipir, serta masyarakat. Pelaksanaan dukungan sosial yang rutin akan meningkatkan kualitas hidup dan psikologis warga binaan pemasyarakatan agar mampu pulih dengan menyadari kesalahan dan kejahatan yang pernah dilakukan, memperbaiki diri, serta tidak mengulangi tindak pidana (Pettus-Davis et al., 2011: 479-488). Pembinaan narapidana melalui program-program dukungan social merupakan salah satu upaya rehabilitatif di penjara. (Zwick:
2018, 8). Pembinaan ini bertujuan agar warga binaan siap kembali kemasyarakat, dapat diterima kembali oleh masyarakat dan lingkungannya (Sumpter et al., 2021: 473- 494). Setelah menjalani masa tahanannya narapidana harus mampu berperan aktif dalam pembangunan lingkungan, serta dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab (Undang-undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan).
Masyarakat internasional telah membuat undang-undang dan peraturan dengan tujuan untuk melindungi hak-hak
narapidana. Berbagai badan dan sistem internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB kemudian membuat Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang menyuarakan pelarangan penyiksaan, perlakuan kejam tidak manusiawi, atau merendahkan martabat narapidana tanpa pengecualian atau penghinaan. Aturan tersebut tertulis di dalam pasal 10 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang mengatur bahwa mengamanatkan bahwa
"Semua orang yang dirampas kebebasannya harus diperlakukan dengan kemanusiaan dan dengan menghormati martabat yang melekat dari pribadi manusia." Selain itu, hak-hak narapidana juga dilindungi melalui terbitnya buku saku bagi petugas Lapas dengan judul Human Rights and Prisons pada tahun 2005 (UN, 2005).
Kondisi Lembaga pemasyarakatan dan Rumah tahanan di Indonesia hingga saat ini masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Secara administratif, Indonesia masih menyisakan keterbatasan fasilitas ruang tahanan. Padahal jumlah krininalitas terus meningkat, dan berdampak pada meningkatanya jumlah narapidana dan tahanan setiap tahunnya (Roy, 2018: 2). Akibatnya Lapas mengalami over kapasitas.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementrian Hukum dan HAM tahun 2019, menunjukan, dari sejumlah 522 Lapas dan Rumah Tahanan Negara yang ada pada tahun 2019, hanya 113 lembaga yang mampu menampung narapidana sesuai dengan kapasitas yang tersedia. Sedangkan 407 lembaga lainnya menampung narapidana dengan jumlah yang melebihi beban kapasistas ruang tahanan. Bahkan dengan tingkat kepadatan yang beragam. Idealnya lapas maupun rutan hanya dapat menampung 126.837 narapidana dan tahanan, namun pada Februari 2019 setiap lapas dan rutan harus menampung narapidana dan tahanan hingga 257.851 orang. Jika dianalisis
pada setiap wilayah di Indonesia, dari 33 wilayah provinsi hanya 3 wilayah provinsi yang tidak mengalami over kapasitas, yaitu wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Maluku dan Maluku Utara. Ruitan maupun lapas di 30 provinsi lainnya semua mengalami over kapasitas (Usman, et al., 2020: 436- 444).
Di Indonesia pemahaman lapas sebagai penjara untuk menyiksa narapidana sudah lama ditinggalkan. Tahun 1962 Menteri Kehakiman mempertegas bahwasanya konsep pemasyarakatan yang ada di Lembaga pemasyarakatan berfungsi sebagai sarana untuk mengayomi para warga binaan hingga siap dikembalikan ke masyarakat (Soedjono, 1972: 86).
Warga binaan laki-laki dan perempuan mempunyai hak atas perlindungan dan pembinaan yang sama (Juklia dan Wibowo, 2021: 185-193). Meskipun telah melakukan kejahatan atau kriminalistas. Narapidana yang ada di lembaga pemasyarakatan pada pasal 14 Undang-Undang No .12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan mengatur tentang pemberian hak-hak yang harus diterima narapidana tanpa terkecuali, meliputi pelayanan kesehatan, pendidikan perawatan serta pemberian remisi.
Menurut hukum Islam, Islam melindungi lima hak esensial setiap manusia berdasarkan prinsip maqāṣid al- syarī’ah. Maqa>s}id syari>’ah merupakan hak asasi manusia yang harus dipertahankan oleh masyarakat bagi para narapidana di lapas. Hak tersebut adalah; pelestarian agama (al-di>n), pelestarian hidup atau jiwa (al-nafs), pelestarian keluarga dan kehormatan (al-nasl), pemeliharaan harta (al-ma>l), dan perlindungan intelektual (al ‘aql) (Al-Syâthibî, 2003: 47).
Inilah hak fundamental yang harus dilindungi oleh masyarakat tanpa memandang ras, agama, dan jenis kelamin (Al-Qur'an, 4:29). Kesucian hidup manusia dilindungi dalam Islam terlepas dari apakah mereka seorang Muslim atau non-Muslim. Hukum
ini dianggap sebagai prinsip universal (Hathout, 2006). Pada kesempatan lain, Al-quran menerangkan di dalam Surat al- Maidah ayat 32 bahwa pelestarian kehidupan manusia menyiratkan keamanan hidup dari serangan apa pun, yang menyebabkan kematian, tetapi juga perlindungan kehidupan dari kerusakan mental dan fisik seperti pelecehan dan penyiksaan.
ْنِم ِرْيَغِب ۢا ًسْفَن َلَتَق ْنَم ٗهَ نَا َلْيِءۤاَرْسِا ْ ىِنَب ىٰلَع اَنْبَتَك ۛ َكِلٰذ ِلْجَا اَهاَيْحَا ْنَمَو ۗاًعْيِمَج َساَ نلا َلَتَق اَمَ نَاَكَف ِضْرَاْلا ىِف ٍداَسَف ْوَا ٍسْفَن
َنُلُسُر ْمُهْتَءۤاَج ْدَقَلَوۗ اًعْيِمَج َساَ نلا اَيْحَا اَمَ نَاَكَف َ نِا َ مُث ِتٰنِ يَب ْ
لاِب ا
َنْوُفِرْسُم َل ِضْرَاْلا ىِف َكِلٰذ َدْعَب ْمُهْنِ م اًرْيِثَك
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi (Kemenag RI: 2021).
Pelestarian berupa penyelamatan seseorang dari pembunuhan dan upaya agar tidak dirugikan, disiksa dan dianiaya secara tidak adil juga merupakan pelestarian hidup. Di dalam Surat al-Baqarah ayat 190 Al-quran dengan tegas
menasihati umat manusia untuk tidak melampaui batas bahkan dalam konteks perang.
َٰ للّا َ نِا ۗ اْوُدَتْعَت اَلَو ْمُكَنْوُلِتاَقُي َنْيِذ َ
لا ِٰ للّا ِلْيِبَس ْىِف اْو ُلِتاَقَو ُ ُ ِبُي اَل
َنْيِدَتْعُم ْ لا
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Kemenag RI: 2021).
Islam datang membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia agar menghiasi diri dengannya serta memerintahkan manusia agar memperjuangkan Islam hingga mengalahkan kebatilan, namun dengan rambu-rambu kebaikan (Shihab: 1996, 501). Narapidana yang dijatuhi hukuman merupakan salah satu upaya untuk memerangi kenbatilan, namun selama menjalani hukumannya narapidana merupakan manusia yang sedang berada di jalan taubat dan harus dibimbing, bukan disiksa hingga melampui batas kewajaran atau melanggar hak asasi manusia. Maka dari itu segala praktek penyiksaan dan pelecehan atau yang dapat melukai dan mencederai psikologis narapidana di lapas dianggap sebagai pelanggaran dalam pandangan sistem hukum Islam (Malekian, 2014: 1-6).
Salah satu alternatif pembinaan bagi narapidana di Indonesia adalah pelaksanaan program religious keagamaan.
PPenelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa program pembinaan narapidana yang menggunakan pendekatan keagamaan yang religious merrubah perilaku narapidana
menjadi positif (Jodi et al., (2014): 146-153), mengurangi kecemasan dan depresi narapidana (Allen, 2013; Rezaei &
Mousavi, 2019, Prabowo et al., 2020), berpengaruh untuk menekan keinginan bunuh diri narapidana (Suto et al., 2010:
288-312). Selama ini, hampir di seluruh lembaga pemasyarakatan di Indonesia menggunakan program keagamaan ceramah dan aktivasi masjid maupun mushola lembaga pemasyarakatan. Salah satu kegiatan keagamaan religious di dalam Islam adalah Fiqh Jenazah. Salah satu bagian terpenting dari fiqh jenazah yaitu pelatihan penyelenggaraan jenazah yang biasa dikenal sebagai tajhiz jana>zah. tajhiz jana>zah memiliki prinsip yang sangat sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan manusia untuk siap akan kematian, mampu menyelenggarakan jenazah muslim yang lain, serta selalu ingat akan mati (Abidin, 2020). Sebagaimana Islam juga menganjurkan ummatnya untuk mengunjungi orang yang sedang sakit menghibur mendo’akan. Islam juga mewajibkan seorang muslim untuk mampu menyelenggarakan jenazah muslim yang lain. Apabila seseorang telah meninggal dunia, hendaklah seorang dari mahramnya yang paling dekat dan sama jenis kelaminnya melakukan kewajiban yang mesti dilakukan terhadap jenazah, yaitu memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan menguburkannya (Sholikhin, 2010).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada permasalahan diatas, permasalah dalam penelitian ini adalah bagaimana model pembinaan spiritual narapidana di lembaga pemasyarakatan Indonesia.
Secara spesifik beberapa rumusan dari permasalahan utama tersebut sebagai berikut:
1. Bagaimana model pembinaan spiritual warga binaan di lembaga pemasyarakatan?
2. Bagaimana hambatan dan tantangan implementasi pembinaan spiritual bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan?
3. Bagaimana aktualisasi maqāṣid al-syarī’ah melalui tajhi>z jana>zah di lembaga pemasyarakatan Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan penelitian ini adalah mengetahui model pembinaan spiritual narapidana di lembaga pemasyarakatan Indonesia. Secara khusus tujuan penelitian ialah:
1. Untuk menganalisis model pembinaan spiritual warga binaan di lembaga pemasyarakatan
2. Untuk menganalisis hambatan dan tantangan implementasi pembinaan spiritual bagi narapidana di lembaga pemasyarakatan
3. Untuk menganalisis aktualisasi maqāṣid al-syarī’ah melalui tajhi>z jana>zah di lembaga pemasyarakatan Indonesia
D. Kajian Terdahulu yang Relevan
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang relevan yang terkait dengan topic penelitian Tim Penelitidiantaranya,
Pertama, penelitian Jacoby dan Kozie‐Peak tahun 1997 yang bertajuk The benefits of social support for mentally ill offenders: prison‐to‐community transitions menunjukan bahwa 27 orang narapidana Penjara Negara Bagian Ohio yang mendapat dukungan sosial lebih baik selama masa tahanan akan mengalami penyesuaian sosial yang lebih positif, kualitas hidup yang lebih tinggi, dan residivisme yang lebih rendah. Di dalam penelitian ini, para narapidana diidentifikasi oleh sipir
penjara, diwawancarai dan diberikan evaluasi psikologis independen tidak lama sebelum masa pembebasan mereka.
Mereka kemudian diwawancarai berulang kali selama tahun pertama setelah dibebaskan dari penjara tentang banyak aspek terkait penyesuaian social (Jacoby dan Kozie‐Peak, 1997: 483- 501). Perbedaan penelitian Tim Penelitidengan penelitian Jacob yaitu bentuk dukungan sosial yang akan Tim Penelitianalisis adalah dukungan dalam bimbingan dengan pendekatan keagamaan dan literasi melalui tajhiz jana>zah. Selain itu jumlah subjek penelitian dalam penelitian ini adalah 50 orang santri dengan jenis kelamin perempuan saja.
Persamaan warga binaan yang menjadi subjek penelitian Tim Penelitidengan Jacob salah satunya adalah warga binaan sedang berada dalam masa yang dekat dengan habis masa tahanannya.
Kedua, Al-Fijawi et al., pada tahun 2019 melalui penelitiannya bertajuk Violations of Basic Rights of Prisoners In Conventional and Islamic Law: Theory and Practice menyampaikan bahwa meskipun sudah terdapat banyak undang-undang yang menjunjung tinggi hak-hak narapidana di seluruh dunia. Masih ditemukan narapidana yang sering dianiaya oleh otoritas penjara. Narapidana dilecehkan, dan hak- hak fundamental mereka sebagai manusia sering dilanggar.
Padahal pelecehan seksual terhadap para narapidana, penyiksaan mental dan fisik terhadap mereka tidak boleh terjadi. Menurut Al-Fijawi hal ini masih terjadi secara berulang dikarenakan beberapa faktor diantaranya kepadatan di penjara, fasilitas pendidikan yang tidak memadai untuk narapidana, dan fasilitas perawatan kesehatan penjara yang buruk. Oleh karenanya pengawasan untuk narapidana butuh landasan Hukum Islam, karena Islam dengan jelas menjamin hak-hak terdakwa di dalam syariatnya. Dalam hukum Islam, terdakwa
berhak atas kebebasan berekspresi tanpa rasa takut akan pembalasan. Dalam hukum Islam, tiga elemen fundamental harus dimasukkan dalam membuktikan sebuah kejahatan. Jika salah satu dari unsur-unsur ini kurang, terdakwa tidak akan dikenakan hukuman (Anwarullah, 1997). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Tim Penelitiyang akan menganalisis kegiatan bimbingan keagamaan di Lapas, namun perbedaannya Tim Penelititidak mengamati berbagai tindakan pelecehan maupun tindakan kekerasan yang mungkin dialami oleh warga binaan di Lapas (Al-Fijawi, et al. 2019: 455-474).
Ketiga, penelitian Hidayati dkk yang bertajuk Aspek Spiritual Terhadap Resiko Bunuh Diri Narapidana juga melaporkan bahwasanya dari penelusuran secara sistematik review pencegahan perilaku bunuh diri pada narapidana dapat ditanggulangi dengan dengan pembinaan menggunakan pendekatan aspek spiritual. Beberapa penelitan terdahulu menurut Hidayati telah membuktikan bahwa dukungan spiritual dapat menurunkan tingkat depresi dan mencegah perilaku bunuh diri narapidana secqara umum. Kesimpulan penelitian ini yaitu semakin tinggi kepercayaan narapidana kepada Tuhan maka semakin rendah tingkat kekambuhan depresi, menunrunnya kecemasan dan berkurangnya stress yang dirasakan yang juga berakibat pada menurunnya angka bunuh diri narapidana. Hal ini menunjukan bahwa aspek spiritual merupakan aspek yang saangat perlu diperhatikan terkait dalam mengatasi depresi yang berakibat resiko terjadinya bunuh diri pada individu (Hidayati et al., 2021: 703-710).
Keempat, penelitian Pambhudi yang bertajuk Analisis Yuridis Sosiologis Faktor-Faktor Penyebab Residivis Wanita (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Malang pada tahun 2011. Penelitian ini mengangkat permasalahan residivisme yang terjadi di kalangan warga binaan perempuan
yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang, menurut Panbhudi meningkatnya jumlah warga binaan residivis di Indonesia dilator belakangi oleh overkapasitas di lingkungan lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan sosio legal dengan teknik pengumpulan data interview bersama responden/sampel yang didapatkan dari warga binaan serta petugas Lapas. Pambhudi melakukan observasi langsung untuk melakukan pengambilan data primer. Hasil studi ini kemudian dianalisis secara deskriptif. Studi ini melaporkan bahwa tingkat penghasilan ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, kesadaran beragama yang rendah, latar belakang keluarga, serta factor lingkungan kehidupan warga binaan menjadi beberapa tantangan bagi warga binaan yang menyebabkan mereka melakukan kejahatan kembali. Perbedaan antara studi ini dengan studi Tim Penelitidiantaranya, Tim Penelititidak hanya melakukan penelitian di satu lembaga pemasyarakatan perempuan, namun dua lembaga pemasyaraakatan perempuan di dua provinsi berbeda, yaitu Lampung dan DKI Jakarta, kemudian satu lembaga pemasyarakatan Salemba Jakarta dengan keseluruhan peserta eksperimen tajhiz jana>zah laki-laki.
Selain itu di dalam penelitian ini Tim Penelitimelakukan analisis data dengan dua teknik yaitu analisis tematik dan analisis mengguanakan kaidah-kaidah fikiah. Tim Penelitijuga menambahkan metode eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah yang melibatkan narapidana yang sudah ditentukan sebagai sumber pengambilan data primer. Tim Penelitijuga tidak hanya berfokus kepada warga binaan residivis dan tidak terbatas pada narapidana dengan latar belakang pemidanaan kasus tertentu saja. Meski demikian persamaan anatara studi ini dengan penelitian Tim Penelitiyaitu penggunaan jenis penelitian hukum yuridis sosiologis untuk mendeskripsikan persoalan
sosial kemasyarakatan di Indonesia secara lebih bermakna baik dari sudut pandang teoretikal maupun praktikal. Meskipun secara khusus pada penelitian penulis, Tim Penelitimenggunakan pendekatan interdisipliner interdisipliner yaitu melibbatkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bimbingan Islam dan ilmu sosial lainnya dari perspektif kemasyarakatan untuk menganalisis data secara komprehensif.
Kelima, studi Chilimboyi ada tahun 2015 yang berjudul Prisons and Education Provision in Zambia: a Historical Perspective, 1964-2011. Studi ini membahas sistem penyediaan pendidikan pemasyarakatan bagi narapidana di penjara Zambia.
Penelitian ini juga ikut mengamati proses rehabilitasi serta reformasi yang dijalani dan dialami oleh narapidana selama 47 tahun yaitu sejak 1964 hingga 2011. Penelitian ini juga ikut menyelidiki asal-usul kemunculan beserta perkembangan pendidikan pemasyarakatan. Chilimboyi menggunakan metode kualitatif dalam studi ini untuk menelusuri pendidikan penjara sejak zaman kolonial di Zambia, yaitu ketika pertama kali pendidikan dasar diperkenalkan kepada semua tahanan di daerah bagian Rhodesia Utara. Perhatian khusus pendidikan diberikan kepada orang kulit putih dan sebaliknya warga binaan yang tidak berkulit putih tidak diberi kesempatan untuk mengakses pendidikan dasar penjara pada tahap awal kemunculannya. Fokus pendidikan penjara di Zambia saat itu adalah membaca buku dengan kegiatan rekreasi. Namun sejak tahun 1974 pendidikan penjara dibentuk kembali menjadi pendidikan pemasyarakatan. Pendidikan pemasyarakatan sebagian besar bertanggung jawab untuk mengubah perilaku narapidana dengan pendekatan sosial dan psikologis tertentu yang terkait dengan pemenjaraan. Studi ini mengungkapkan bahwa pendidikan akademik dan kejuruan, pendidikan politik,
spiritual, moral, dan jenis pendidikan lainnya ditawarkan kepada narapidana.
Lebih lanjut, studi juga mengungkapkan tantangan yang menghambat perkembangan pendidikan pemasyarakatan di Zambia dari zaman perjuangan kemerdekaan hingga 2011.
Tantangan tersebut diantaranya pendanaan yang tidak memadai dan tidak menentu jumlahnya dan waktu pencairannya, kurangnya koordinasi antara Layanan Pemasyarakatan Zambia dan masyarakat untuk bekerja sama mengembangkan pendidikan kemasyarakatan, kurangnya pengembangan sumber daya manusia yang bertugas dan kurangnya arah kebijakan pendidikan pemasyarakatan dari pemerintah beserta jajarannya. Tantangan tersebut menghambat penyelenggaraan pendidikan pemasyarakatan yang efektif bagi narapidana. Studi ini juga melakukan evaluasi dampak pendidikan pemasyarakatan terhadap narapidana dan mantan narapidana. Studi menunjukkan bahwa pendidikan pemasyarakatan membantu mengubah warga binaan menjadi warga negara yang taat hukum melalui pengamatan ada kondisi ekonomi, social, politik, bisnis dan pekerjaan keagamaan mereka setelah keluar dari penjara. Sampai tahun 2011 pengadaan pendidikan ini juga mengurangi tingkat residivisme diantara para tahanan di Zambia. Studi menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, pendidikan pemasyarakatan memiliki dampak positif pada narapidana. Perilaku sebagian besar mantan narapidana berubah karena pendidikan yang mereka terima di penjara. Sebagian besar dari mereka menjadi individu yang mandiri secara ekonomi dan sejahtera yang memberikan nilai tambah bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat pada umumnya. Studi ini mencakup periode 1964 hingga 2011 yang berlangsung pada masa pemerintahan dua pemerintahan, Partai Persatuan Kemerdekaan Nasional (UNIP) dari 1964 hingga
1991 dan Gerakan Demokrasi Multipartai (MMD) dari 1991 hingga 2011.
Perbedaan studi ini dengan penelitian Tim Penelitidianataranya, penelitian Tim Penelitidi laksanakan hanya di tiga lembaga pemasyarakatan di dua daerah provinsi di Indonesia yang berbeda yaitu DKI Jakarta dan Lampung.
Ketiga lembaga ini juga merupakan lembaga kelas IIA, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Sedangkan studi ini dilakukan di banyak lokasi seperti Arsip Nasional Zambia (NAZ) Markas Besar Penjara Zambia, Daily Mail dan Times of Zambia, Penjara Keamanan Maksimum Mukobeko, kantor Dewan Pembebasan Bersyarat Nasional (NPB), kantor Asosiasi Perawatan dan Konseling Penjara (PRISCCA) di Lusaka, Penjara Mazabuka, Mumbwa, Penjara Udara Terbuka Mwembeshi, Lusaka Central, Penjara Kamwala dan penjara Monze, serta Sekolah Reformasi Katombora di Kazungula. Selain itu, yang paling mencolok adalah penelitian ini merupakan penelitian hukum Islam dengan pendekatan interdisipliner menggunakan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bimbingan Islam dan ilmu sosial lainnya dari perspektif kemasyarakatan. Sedangkan pendekatan pada penelitian ini adalah ilmu pendidikan saja. Selain itu penelitian di juga membatasi informasi dari kalangan narapidana dan petugas sipir saja, tidak melipatkan narasumber dari luar ketiga lembaga pemasyarakatan.
Keenam, penelitian Nichols yang bertajuk An inquiry into adult male prisoners' experiences of education pada 2016.
Studi ini mengekplorasi kebijakan pembelajaran bagi narapidana di Inggris dan Wales. Studi ini juga berfokus pada pembinaan kejuruan atau vokasional yang bertujuan untuk
mendidik narapidana untuk meningkatkan kemampuan kerja mereka setelah bebas dari masa tahanan. Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis terhadap surat-surat yang ditulis oleh narapidana serta wawancara dengan narapidana yang menjalani masa tahanan, mantan narapidana dan staf penjara.
Studi ini merupakan studi kualitatif ini menyelidiki pengalaman pendidikan vokasional narapidana untuk mengeksplorasi berbagai cara bagaimana pengalaman tersebut diinterpretasikan. Interpretasi berulang melibatkan pengembangan pribadi narapidana. Studi ini menunjukkan bahwa berbagai perubahan dan transformasi pribadi dapat dikaitkan dengan pengalaman pendidikan vokasional yang diterima narapidana di penjara. Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi narapidana tentang pengalaman pendidikan mereka sering melampaui kemampuan kerja mereka sendiri. Studi ini juga memberikan pemahaman yang lebih besar tentang identitas narapidana. Dimana sesungguhnya mereka mengambil pelajaran dari seluruh elemen perjalanan hidup dan menemukan dampak dari pengalaman pendidikan dalam narasi surat-surat mereka.
Studi ini berusaha untuk mengedepankan konteks kemanusiaan yang mendalam pada diri narapidana. Studi ini juga dengan demikian, menyatakan bahwa pengalaman pendidikan vokasional bagi narapidana dapat dipahami lebih baik dalam konteks aspek kisah hidup mereka setelah bebas.
Studi ini mengungkapkan bahwa narapidana yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman pendidikan yang positif seringkali mengalami kekurangan dalam pengembangan pribadi dan kematangan emosional dan oleh karena itu pembelajaran bagi narapidana harus diperhatikan dengan model pengembangan 'manusia seutuhnya' selain dari pada memberikan keterampilan vokasional kepada narapidana untuk bekerja setelah bebas dari
amsa tahanan. Dengan demikian, nilai kemanusiaan dapat berasal dari perkembangan pribadi yang tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan kerja, seperti kemampuan untuk mengatasi pengalaman pemenjaraan dan pengembangan hubungan keluarga yang lebih baik. Dengan memasukkan temuan tersebut, studi nichols ini juga menunjukkan bagaimana pemahaman pengalaman pendidikan narapidana berkontribusi untuk memahami tema-tema kunci dalam sosiologi penjara diantaranya mengatasi masalah, maskulinitas, identitas dan rasa sakit di penjara.
Persamaan studi ini dengan penelitian Tim Penelitidi anataranya, sama sama menganalisis bagaiaman pembinaan yang di lakukan di lembaga pemasyarakatan kepada narapidana menggunakan pendekatan interdisipliner. Jika penelitian Tim Penelitimenggunakan ilmu hukum Islam, kaidah-kaidah fikiah dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bimbingan Islam dan ilmu sosial lainnya dari perspektif kemasyarakatan, maka studi ini khusus menggunakan berbagai disiplin ilmu kriminologi, sosiologi dan pendidikan. Kemudian, studi disertasi ini dan penelitain Tim Penelitijuga bertujuan untuk menarik perhatian berbagai akademisi di bidang studi tersebut di atas, peneliti penjara, praktisi penjara, staf penjara, profesional dalam peradilan pidana, dan siapa pun yang memiliki minat dalam pemenjaraan kontemporer untuk kembali mengembangkan tema penelitian ini agar menciptakan pembinaan yang lebih baik ke depannya bagis eluruh warga binaan. Perbedaanya di anataranya penelitain Tim Penelitidilaksanakan di tiga lembaga pemasyarakatan di dua daerah provinsi yang berbeda.
Selain itu, penelitian peneliti juga focus pada pembinaan spiritual yang kemudian dianalisis dengan perspektif hukum Islam, maqāṣid al- syarī’ah, dan serta kebijakan yang berlaku di Indonesia. Penelitian Tim Penelitijuga melaksanakan
eksperimen tajhiz jana>zah yang dilengkapi dengan pre-test maupun post-test sebagai metode pengumpulan data utama.
Ketujuh, penelitian yang diselesaikan oleh Raddon pada 2015 yang bertajuk A Prisoners’ Project in Emergent Ethics.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeskplorasi hubungan antara proses etika intersubjektif yang muncul di antara narapidana, sistem moral apa yang melandasi rehabilitasi narapidana di dalam sistem peradilan pidana, serta bagaimana sistem dan proses etika serta moral rehabilitasi narapidana ini dapat diekspresikan dalam pengalaman hidup para narapidana setelah bebas. Untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini, Raddon membentuk kelompok kerja di dalam penelitiannya yang melibatkan empat mantan tahanan di Kingston. Raddon melakukan pengujian model filosofis moral tertentu untuk menganalisis dampak dorongan rehabilitasi dalam pengalaman hidup narapidana, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada bidang intersubjektif, etika dekonstruktivis dan menegaskan perbaikan di dalam diri narapidana sebagai subjek etis. Studi ini mencoba menyampaikan m eksplorasi praktis dan analitis tentang etika yang muncul di dalam dan di luar pengalaman kontrol penjara. Hal ini diharapkan bekerja sebagai kritik terhadap rehabilitasi yang berlansung dan dialami oleh narapidana.
Studi ini mengungkap kecenderungan demoralisasi rehabilitasi berdasarkan ketergantungan pada subjek yang ditentukan oleh interioritas mereka yang dapat diketahui dan ditempa. Raddon di dalam studinya mempertimbangkan petualangan intra-subjektif bahwa subjek rehabilitasi ini bertahan di bawah naungan teknik rehabilitatif psikoanalitik dan hambatan yang dihadirkan untuk kebebasan, kreativitas, dan perubahan. Raddon menggambarkan empat karakteristik program rehabilitative yang dijalani oleh narapidana di
Kingstone yaitu, pengulangan, standardisasi atau universalisme, ketergantungan pada seperangkat pengetahuan individu dan kekuasaan diskresioner. Studi ini juga mengeskplorasi seputar kekerasan yang terjadi di lingkungan tahanan, Raddon melihat bahwa kekerasan merupakan bagian dari penindasan sistemik. Studi ini snagat berbeda dari penelitian penulis, dikarenakan studi ini focus dalam kajian norma dan etika di dalam rehabilitasi saja. Studi ini juga bukan penelitian hukum. Namun demikian penelitian ini menganggap bahwa narapidana yang ditahan berhak atas rehabilitasi, dan bukan hanya sekedar pembinaan. Pada hakikatnya rehabilitasi sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan pembinaan.
Selain itu, teori yang digunakan oleh studi ini adalah teori seputar intersubjektif dan etika dekonstruktivis. Berbeda dengan penelitian Tim Penelitiyang mengguanakan maqāṣid al- syarī’ah dan kaidah-kaidah fikiah di dalam Hukum Islam.
Kedelapan, studi pada 2020 yang dilakukan oleh Montasevee yang bertajuk Examining The Nature of Aggressive Behaviour in Thai Male Prisoners And Factors That Contribute to its Aetiology. Studi ini secara ekslusif menyelidiki sifat dan perilaku agresif pada narapidana laki-laki di Thailand dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap etiologinya. Tinjauan literatur studi ini dilakukan pada ruang lingkup faktor risiko yang terkait dengan agresi yang terjadi di antara narapidana laki-laki dewasa di seluruh dunia, yaitu sekitar dua puluh satu penelitian terdahulu dimasukkan ke dalam tinjauan pustaka studi ini. Narapidana laki-laki yang menjadi sample studi ini berjumlah dua puluh enam narapidana dewasa yang agresif dan 26 narapidana non-agresif. Pemilihan narapidana dilakukan dengan menggunakan pemilihan pada daftar periksa perilaku agresif langsung narapidana. Berkas- berkas narapidana yang berpartisipasi ini dinilai karakteristik
umumnya, dan kemudian narapidana dari kedua kelompok diwawancarai menggunakan wawancara terstruktur dan semi- terstruktur. Kemudian data yang didapatkan dianalisis mengguankan analisis konsekuensi respons stimuli organisme dan analisis fenomenologis interpretatif untuk mengidentifikasi karakteristik agresivitas narapidana lebih lanjut. Hasil analisis menghasilkan berbagai temuan yang berbeda dan bervariasi antara kelompok agresif dan non-agresif. Temuan studi ini menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan terkait dengan agresi penjara di antara narapidana laki-laki dewasa di Thailand berada di berbagai tingkat Model Ekologis. (1) Di tingkat individu, usia muda, riwayat pelecehan anak, riwayat afiliasi geng sebelum penjara, variabel psikologis, penyalahgunaan zat, tingkat pendidikan rendah, riwayat kriminal dan memiliki tato ditemukan menjadi faktor risiko agresi penjara, (2) pada tingkat hubungan, keanggotaan geng penjara dan menjadi pemimpin kelompok secara signifikan berhubungan dengan agresi narapidana di penjara. Kemudian (3) di tingkat masyarakat, lingkungan penjara yang buruk, penilaian narapidana yang buruk dan sikap staf penjara yang buruk menjadi faktor risiko agresi penjara selanjutnya.
Perbedaan antara penelitian Tim Penelitidengan studi ini, studi ini berfokus pada standar perilaku narapidana untuk mengukur dan menemukan faktor yang berpengaruh pada perilaku agresif narapidana saja. Dengan kata lain studi ini foku pada perilaku narapidana selama berada di penjara saja.
Sedangkan penelitian Tim Penelitilebih berfokus kepada pelaksanan pembinaan spiritual di tiga lembaga pemasyaraakatan dengan pemilihan peserta eksperimen tajhiz jana>zah ditentukan dengan standard sebagai berikut, di lembaga pemasyarakatan perempuan Kelas IIA Bandar Lampung dan Salemba Jakarta, peserta ditentukan berdasarkan
bidang ekstrakurikuler atau peminatan vokasional yang dipilih oleh narapidana selama menjalani masa tahanan yaitu peminatan kegamaan atau santri. Lalu di lapas perempuan Kelas IIA Jakarata, pemilihan narapidana dilakukan secara langsung oleh petugas lapas. Selain itu, penelitian Tim Penelitijuga menggunakan pendekatan interdisipliner mengguankan cabang ilmu lainnya untuk menganalisis pelaksanaan pembinaan. Jumlah narapidana yang menjadi objek pengamatan di dlaam penelitian Tim Penelitijuga lebih banyak, dengan detail 80 orang narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, 32 narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 45 orang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung.
E. Metodologi Penelitian
1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum Islam dengan studi sosio legal yang bersifat interdisipliner.
Penelitian ini menggunakan studi besar tentang ilmu hukum Islam dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bimbingan Islam dan ilmu sosial lainnya dari perspektif kemasyarakatan. Tim Penelitimenggunakan model studi ini agar dapat mendeskripsikan persoalan sosial kemasyarakatan di Indonesia secara lebih bermakna baik dari sudut pandang teoretikal maupun praktikal (Banakar, Reza, and Max Travers, 2005). Tujuannya adalah agar penelitian ini dapat menjelaskan bagaimana hukum Islam dapat menganalisis pelaksanaan pemulihan narapidana di dalam kehidupan keseharian mereka di Lembaga Pemasyarakatan (Haq, 2020: 132-150). Dalam konteks penelitian ini, kehidupan warga binaan yang
akan diperhatikan adalah dalam ruang lingkup Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Tim Penelitimemilih ketiga lembaga pemasyarakatan lembaga karena lembaga ini merupakan lembaga dengan levelisasi kelas menengah yaitu kelas IIA di bawah jajaran Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang ada di Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Lampung. Ketiga lembaga ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas hipotesis bahwa ketiga lembaga telah berkontribusi besar dalam keberhasilan pemulihan narapidana jika dianalisis dengan perspektif hukum Islam, maqāṣid al- syarī’ah, serta kebijakan yang berlaku di Indonesia.
Sebagaimana Carothers (2006) memaparkan bahwa seharusnya banyak sekali persoalan masyarakat yang termarginalkan yang harus dapat dipecahkan dan dijawab secara kontekstual dan dengan bantuan berbagai pendekatan keilmuan interdisipliner. Sehingga masyarakat akademik dapat menjelaskan bagaiama hubungan antara hukum dan masyarakat untuk mencapai keadilan (Carothers, 2006: 15-30). Juga sebagaimana Otto (2007) menawarkan cara untuk mengetahui efektivitas hukum dan hubungannya dengan konteks empiris di lapangan maupun ekologisnya, akademisi membutuhkan pendekatan interdisipliner yang baik berupa konsep maupun teori dari berbagai disiplin ilmu.
Kemudian ilmu-ilmu ini dapat digabungkan lalu dikombinasikan untuk mengkaji fenomena hukum di Indonesia. Dalam konteks penelitian, Tim Penelitiakan menganalisis fenomena pembinaan warga binaan di
ketiga lembaga pemasyarakatan yang tidak Tim Penelitiisolasi dari konteks Islam, psikologi, sosial, politik, budaya dan lain-lain (Otto, 2007: 15).
2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini juga menggunakan metodologi campuran yang terdiri dari kajian kualitatif atas kaidah fiqhiyah di dalam hukum Islam dan kebijakan undang- undang di Indoensia, Kementerian Hukum dan HAM dan institusi di bawahnya, eksperimen tajhiz jana>zah dan wawancara semi terstruktur (Flick, 2007: 2-16). Studi ini juga menggunakan metode kualitatif terintegrasi, yaitu menggunakan metode kualitatif yang terhubung menuju akses ke perspektif praktisi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta (Bouma, 2000: 23), dan menawarkan wawasan berbasis empiris ke dalam interpretasi (Patton,1999: 1189-1208).
dan makna yang diberikan para praktisi pada pelaksanaan pembinaan kepada narapidana di lembaga pemasyarakatan (Rudestam, Kjell, and Rae Newton, 1992: 6).
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan analisis isi fenomena yang mengacu kepada penggunaan metode, prosedur, dan teknik terpadu untuk menemukan, mengidentifikasi, mengambil, dan menganalisis dokumen aturan beserta kebijakan untuk relevansi, signifikansi, dan pemaknaan fenomena pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta (Altheide, David L., and Christopher J. Schneider, 1996: 23-41).
Tim Penelitimenggunakan pendekatan ini agar dapat melaksanakan prosedur pengambilan sampel melalui informasi dari lembaga kemudian dibandingkan dengan teori dan penemuan terdahulu. Hal ini dilakukan agar data yang didapatkan bisa digunakan kembali untuk menggambarkan kategori tertentu dari informan secara deskripsi naratif, untuk menggambarkan situasi, pengaturan, gaya, gambar, makna dan nuansa pembinaan warga binaan di ketiga lembaga secara mendalam.
Karena elemen-elemen tersebut merupakan topik kunci dalam analisis isi fenomena (Altheide, 1987: 65-77).
Metode ini digunakan dengan alasan bahwa analisis dokumen aturan maupun kebijakan sebagian besarnya harus dilakukan dengan cara mengonfirmasikan tata laksananya dalam diskusi bersama penerima layanan dan wawancara individu semi terstruktur. Persepsi seluruh informan wawancara tentang pelaksanaan aturan dan kebijakan pembinaan narapidana di ketiga lembaga akan diamati, dilaksanakan oleh peneliti, dicatat dan kemudian digunakan dalam menganalisis dokumen lainnya. Tim Penelitikemudian melakukan pengatagorian tema-tema yang berkaitan dengan tema penelitian di dalam daftar pertanyaan wawancara untuk dikonfirmasikan dengan seluruh informan dan partisipan dari kalangan narapidana di ketiga lembaga pemasyarakatan. Hal ini bertujuan untuk menegaskan kembali bahwa konteks budaya dan konteks situasional (implementasi pembinaan yang dilaksanakan dalam wujud tajhiz jana>zah) dapat digambarkan dengan tepat dalam proses analisis.
3. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Data Penelitian ini dikumpulkan dari beberapa sumber. Pertama, bersumber dari hasil eksperimen tajhiz jana>zah melibatkan peserta dari warga binaan yang sudah ditentukan dan wawancara individu semi terstruktur bersama informan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Kedua data penelitian juga berasal dari hasil dokumentasi naskah secara online menggunakan internet yang diakses dengan menggunakan jaringan internet umum dan juga menggunakan akses akun Scopus Universitas Indonesia. Data penelitian ini juga terbagi menjadi dua jenis,
a. Data primer merupakan, data hasil pengambilan video dan foto wawancara semi terstruktur, notulensi hasil pelaksanaan eksperimen tajhiz jana>zah melibatkan peserta dari warga binaan yang sudah ditentukan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, dan dokumentasi naskah berupa Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 atas Perubahan PP Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
58 Tahun 1999 tentang Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas, dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan, Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH- 05.OT.01.01 Tahun 2010 Tanggal 30 Desember 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor 7 Tahun 2013 Tentang Pengangkatan Dan Pemberhentian Pemuka Dan Tamping Pada Lembaga Pemasyarakatan, Kepmenkeh Rl Nomor M.02-PK.04.10 tahun 1990 tanggal 10 April 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana dan Tahanan, Undang undang Pemasyarakatan nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan, Surat Edaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nomor KP.10.13/3/1 tanggal 10 Mei 1973 tentang Wali sebagai ganti orang tua dan kawan bagi anak didik dalam lembaga, dan online document tentang Panduan Modul Pembinaan di Rumah Tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan yang diakses melalui http://sdp.ditjenpas.go.id/manual/3.6.1/
PanduanModulPembinaan.html, dan annual report pembinaan warga binaan pemasyarakatan dari ketiga Lembaga yang diakses melalui situs website masing-masing.
b. Data Sekunder merupakan data penunjang seperti jurnal, artikel, makalah, serta pendapat para ahli terkait pembinaan warga binaan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pengumpulan data secara langsung di lapangan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta melalui beberapa cara.
Pertama, eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah, yang bertujuan untuk mengajari warga binaan tentang penyelenggaraan jenazah dengan mengikut sertakan mereka sebagai partisipan pelatihan secara aktif. Praktek ini mengikut sertakan Tim Peneliti dan peserta dari kalangan warga binaan di ketiga lembaga pemasyarakatan yang dilaksanakan oleh peneliti pada 10 April 2021 di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, dan Tanggal 18 November di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, dan Tanggal 19 November 2021 Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Partisipan dari kalangan warga binaan terdiri dari 80 orang narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, 32 narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 45 orang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Sebelum mengikuti pelatihan partisipan dari dua lembaga 80 orang narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, 32 narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta.
Peserta mengerjakan pre-test seputar tema pelatihan selama 20 menit, dengan rincian soal pilihan ganda sebanyak 20 soal. Karakteristik pre-test ini adalah untuk
mengidentifikasi pengetahuan umum keagamaan narapidana dari dua lembaga pemasyarakatan seputar tema penelitian yaitu tajhiz jana>zah secara garis besar umum terstruktur (Kahan, 2001: 129-146). Kemudian setelah mengikuti pelatihan, narapidana akan kembali mengerjakan post-test dengan karakteristik soal yang sama (Zientek, dkk., 2016: 638-659) Metode ini secara umum tampak sederhana namun efektif untuk mengumpulkan data kualitatif yang pada dasarnya melibatkan warga binaan dalam perspektif Hukum Islam dan maqāṣid al-syarī’ah. Eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah ini dilaksanakan dalam kelompok warga binaan yang interaktif untuk memberikan informasi yang mendalam dan memungkinkan Tim Peneliti mengetahui perkembangan pengetahuan peserta seputar pembinaan spiritual di lembaga pemasyarakatan. Kemudian informasi yang berhasil didokumentasikan ini dikonfirmasikan kembali kepada petugas lembaga pemasyarakatan masing-masing warga binaan dari kalangan. Hal ini dilakukan untuk menyimpan beberapa informasi yang sepenuhnya harus dirahasiakan dari publik atas dasar kode etik pembinaan warga binaan.
Kedua, wawancara individu semi terstruktur.
Metode ini merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk menghasilkan data dalam ilmu- ilmu social (Holstein, 2002: 4). Tim Peneliti memilih wawancara individu semi terstruktur ini agar dapat memperoleh pengalaman subjektif dari masing-masing partisipan baik dari kalangan narapidana dan petugas lembaga pemasyarakatan. Tim Peneliti memilih metode semi terstruktur agar wawancara dapat dilaksanakan secara in-dept interview dengan tujuan menemukan
permasalahan yang dihadapi informan secara terbuka.
Informan yang berpartisipasi di dalam wawancara ini diajak membagikan ide dan dimintai pendapat mereka seputar pembinaan spiritual di masing-masing lembaga pemasyarakatan. Sebagai catatan, peneliti tidak mengenal semua partisipan dan tidak memiliki hubungan dalam bentuk apapun sebelumnya. Tim Peneliti sudah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis yang akan diajukan dalam wawancara semi-terstruktur. Tim Peneliti juga lebih fleksibel untuk mengajukan pertanyaan terbuka kepada partisipan dan berkesempatan untuk melakukan pertanyaan dengan berbagai variasi dan mengajukan pertanyaan yang lebih spontan seiring berkembangnya tanya jawab.
Meskipun wawancara semi-terstruktur digunakan, informasi latar belakang dan berita terkini dan perubahan peraturan maupun program Panduan Modul Pembinaan di Rumah Tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan yang diakses melalui http://sdp.ditjen pas.go.id/manual/3.6.1/PanduanModulPembinaan.html telah di observasi dan didokumentasikan oleh peneliti sebelum melaksanakan wawancara dengan masing- masing informan. Persiapan ini diperlukan karena wawancara semi terstruktur bertujuan agar peneliti dapat mengejar masalah dan siap berimprovisasi di saat proses wawancara berlangsung (Wengraf, 2001: 2). Dalam wawancara semi terstruktur, informasi mengenai judul penelitian, tujuan penelitian, prosedur penelitian, masalah kerahasiaan informan, tanggung jawab peneliti, dan penjelasan seputar hak informan dari kalangan warga binaan dan petugas lembaga pemasyarakatan disampaikan oleh peneliti pada bagian pendahuluan.
Seluruh informan memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan risiko anonimitas mereka dan masalah lain yang dapat terangkat sebelum mengonfirmasi persetujuan mereka secara tertulis.
Informan penelitian terdiri dari 3 sipir lembaga pemasyarakatan. Rinciannya yaitu 1 orang sipir yang berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, 1 orang sipir yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 1 orang sipir dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Adapun informan dari kalangan warga binaan atau narapidana berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 orang narapidana kasus terorisme yang berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, 1 orang narapidana kasus penipuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 1 orang narapidana penyalahgunaan narkotika dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta.
Wawancara individual semi terstruktur bersama 6 orang informan berlangung kurang lebih 3 jam. Di mana masing-masing peserta, menjalani proses wawancara bersama Tim Peneliti selama 30 menit yang berlokasi di masing-masing lembaga pemasyarakatan asal. Pada sesi ini Tim Peneliti mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan dan pertanyaan yang berkembang sesuai dengan jalannya tanya jawab bersama informan.
Sebagian besar pertanyaan yang berasal dari perkembangan wawancara secara spontan banyak membahas kasus yang sering muncul, langka, tidak terduga, serta bagaimana indikator pendukung pembinaan, dan berbagai kritik, dan saran yang
diharapkan oleh masing-masing informan untuk diadakan agar dapat meningkatkan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Hasil wawancara ini sangat membantu Tim Penelitimelalui proses analisis dokumen aturan dan kebijakan pembinaan spiritual di dalam ketiga lembaga.
Ketiga, dokumentasi pelaksanaan pengumpulan data penelitian ini dimulai pada pertengahan Maret 2021 dengan pengajuan surat yang dikirimkan ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, kemudian dilanjutkan pada pelaksanaan eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah pada Sabtu, 10 April 2021.
Pengajuan surat izin penelitian kepada Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta berlangsung pada pertengahan akhir Oktober 2021, dan pelasanaan eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah pada Sabtu, 18 dan 19 November 2021. Peneliti secara pribadi melakukan transkrip/ringkasan dan notulensi kegiatan sesuai dengan persetujuan etik dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta.
5. Teknik analisis Data
Data yang diperoleh dari dokumentasi beberapa dokumen hukum, berupa undang-undang dan kebijakan pemerintahan berserta institusi di bawahnya, hasil pengambilan data eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah, dan wawancara individu semi terstruktur dianalisis menggunakan analisis tematik, kaidah-kaidah fikih (Parray, 2012: 88-107), dan analisis maqa>s}id syari>’ah
oleh Syatibi dan Ibnu Asyur . Analisis tematik dijelaskan oleh Kitzinger dan Barbour (1999) sebagai teknik analisis yang berfungsi menggambar secara komprehensif berbagai data dan membandingkan data hasil diskusi tentang tema yang sudah ditentukan dan memeriksa kembali bagaimana hasil pengambilan data dengan berbagai jenis tenik yang digunakan dapat menghasilakn hubungan dan keterkaitan dengan variasi karakteristik data antar individu dan atau antar kelompok (Barbour, Rosaline, and Jenny Kitzinger, 1999: 1-20). Analisis tematik ini akan dijalankan dengan empat langkah tahapan analisis. Langkah pertama melibatkan pengumpulan data, menyalin data dan mengidentifikasi tema penelitian. Langkah kedua melibatkan pengkategorian semua ekstrak dari transkrip yang terkait dengan setiap tema. Tema-tema yang telah diidentifikasi kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan mengelompokkan tema-tema tertentu secara konseptual sehingga dapat menggali tumpang tindih isu dan berbagai sinergi lainnya. Langkah ketiga dilakukan dengan cara menggabungkan dan membuat katalog pola terkait ke dalam sub-tema baru yang muncul dari ide atau pengalaman yang dialami warga binaan dalam sesi eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah, dan wawancara individu semi terstruktur, atau dicatat oleh peneliti setelah sesi pengumpulan data selesai. Langkah terakhir dilanjutkan untuk membangun interpretasi atau argumen keseluruhan berdasarkan tema dan kaidah-kaidah fikih dan maqa>s}id syari>’ah untuk mengasilkan kesimpulan penelitian (Aronson, 1995: 1-3).
F. Sistematika Pembahasan
Bab I merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian terdahulu yang relevan, metodologi penelitian, rencana pembahasan, dan jadwal penelitian.
Bab II membahas landasan teori tentang konsep maqa>s}id syari>’ah dalam hukuman dan pembinaan narapidana di dalam hukum Islam. Kemudian bab ini juga memaparkan bentuk tujuan-tujuan dalam penerapan hukum dan sanksi, seperti prepentif, represif dan rehabilitative. Selanjutnya bagian ini memaparkan diskursus pemenjaraan dan pemidanaan narapidana.
Bab III menyajikan konsep pembinaan dan pembimbingan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan di Inodnesia, dan menyajikan profil serta program pembinaan yang ada di ketiga lembaga yang menjadi lokasi penelitian, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Kemudian pada bagian ini juga dibahas bagaimana ketiga lembaga melaksanakan pembinaan bagi warga binaan.
Bab IV Menyajikan analisis program pembinaan warga lapas dengan pendekatan Kaidah Fiqih dan maqa>s}id syari>’ah di dalam tajhiz janazah yang dilaksanakan sebagai salah satu model pembinaan narapidana di tiga lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Kemudian dilakukan juga analisis menggunakan kaidah-kaidah fikiah untuk mengetahui sejauh mana aktualisasi pembinaan spiritual, tantangan dan hambatan pembinaan spiritual yang dihadapi oleh narapidana maupun ketiga lembaga.
Bab V menyajikan kesimpulan dan rekomendasi bagi penelitian selanjutnya.
G. Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 9 bulan dengan rincian tahapan sebagai berikut:
Waktu Kegiatan Keterangan
April-
November Pengumpulan data Sumber data primer dan sekunder
Agustus-
September Penelitian lapangan Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara November Pengolahan data Penggabungan sumber
data dan analisis data
Desember Laporan hasil
penelitian Editing dan finishing
Adapun jadwal pelaksanaan penelitian ini dirancang sebagai berikut:
1. Pengumpulan data dan referensi tambahan di bulan Maret 2021
2. Pengolahan Data di Bulan April 2021 3. Penyusunan Bab 2 di Bulan Mei 2021 4. Penyusunan Bab 3 di Bulan Juni 2021 5. Penyusunan Bab 4 di Bulan Juli 2021 6. Penyusunan Bab 5 di bulan November 2021
7. Editing, Finishing, dan Submit Laporan Hasil Penelitian di bulan November 2021
8. Penyerahan Laporan Bentuk Buku ber-ISBN di bulan Desember 2021
MAQA>S}ID SYARI>’AH
ab ini membahas landasan teori tentang konsep maqa>s}id syari>’ah dalam hukuman dan pembinaan narapidana di dalam hukum Islam, dan juga memaparkan bentuk tujuan-tujuan dalam penerapan hukum dan sanksi, seperti prepentif, represif dan rehabilitative, serta mendiskripsikan diskursus pemenjaraan dan pemidanaan narapidana.
A. Diskursus Maqa>s}id Syari>’ah
1. Makna dan Perkembangan Maqa>s}id Syari>’ah.
Secara etimologis kata maqaṣid merupakan bentuk plural (lebih dari dua) dari maqṣad, sedangkan bentuk regulernya ialah qasd. Kata ini mengandung arti salah satu dari empat kelompok makna, yaitu: menginginkan,
menuju kepada, mendatangi, lurusnya suatu jalan (wa’alallahi qashdus sabil)(Q.S. al-Naḥl: 09). dan Allah- lah (menunjukkan) jalan yang lurus (Abu al-Fidā, 1999:
560) adil, bersikap pertengahan, seimbang, tidak berlebih-lebihan (waqsid fi masyyika, dan sederhakanlah cara berjalanmu/jangan seperti jalan orang yang sombong); dan membelah sesuatu (qasadtu al-‘ud, saya membelah gaharu) (Ibnu Manẓūr, 1999: 179-180; Al- Fairūz Ābādiy, 1998: 310; al-Rāzi, 2005: 314). Ada pula yang menyatakan bahwa al-qasd adalah tujuan yang paling utama. Makna inilah yang sering kali digunakan dan dimaksud oleh ulama fiqh dan ulama ushul fiqh.
Tujuan (al-maqa>s}id) adalah acuan dalam setiap perbuatan mukallaf dan hukum berubah seiring dengan perubahan tujuan (al-maqa>s}id). Ia adalah elemen yang terdalam yang menjadikan landasan dalam setiap perbuatan seseorang. Tujuan dan niat dalam hal ini tidak ada perbedaan yang mendasar (al-Kaila>ni, 200: 44; ibn H}irz Allah, 2007: 25; Ibn al-Manz}u>r, 1990: 96). Lalu pemakaian kata serapan oleh bahasa Indonesia, dipakai kata ‘maksud’ (isim maf’ūl) yang diartikan sebagai yang dikendaki; tujuan; niat; kehendak; arti, dan; makna dari suatu perbuatan, perkataan peristiwa dan sebagainya (Sugono, 2008: 865).
Adapun kata shari‘ah secara etimologi berarti tepian telaga tempat hewan maupun manusia meminum air. Penamaan shari‘ah khusus untuk telaga yang memiliki sumber mata air yang jernih, bersih, dan tidak pernah mengalami kekeringan (Ibn al-Manz}u>r, 1990: 86).
Jika dikaitkan dengan makna ini, maka syariat Islam merupakan ketentuan yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi acuan keyakinan, sikap dan perbuatan manusia
ab ini menyajikan aturan seputar pembinaan dan pembimbingan warga binaan di Indonesia, profil kelembagaan lembaga pemasyarakatan dan program pembinaan yang ada di ketiga lembaga yang menjadi lokasi penelitian, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Kemudian pada bagian ini juga menjelaskan bagaiamana ketiga lembaga melaksanakan model pembinaan dan pembimbingan bagi warga binaan dari berbagai latar belakang kasus untuk mendapatkan gambaran secara general mengenai pembinaan Moral-Spiritual Warga Binaan di Indonesia.