• Tidak ada hasil yang ditemukan

EDO KURNIA ILHAMI,S.Or 202000839133 MERANCANG PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)

N/A
N/A
Edo Kurnia Ilhami

Academic year: 2025

Membagikan "EDO KURNIA ILHAMI,S.Or 202000839133 MERANCANG PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

AKSI NYATA MODUL 2

“ MERANCANG PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE) PADA MATA PELAJARAN PJOK

KELAS VII ”

DISUSUN OLEH :

NAMA : EDO KURNIA ILHAMI, S.Or NO. UKG : 202000839133

BIDANG STUDI : PJOK

SEKOLAH : SMPN 3 PANTAI CERMIN

PPG DALAM JABATAN GURU TERTENTU UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2025

(2)

Pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Roger Weissberg yang dipublikan melalui Edutopia, disampaikan bahwa riset yang dilakukan oleh Durlak et.al (2011) menunjukkan bahwa pembelajaran sosial emosional: (1) tidak hanya meningkatkan prestasi rata-rata sebesar 11 poin persentil, namun juga meningkatkan perilaku prososial (seperti kebaikan, berbagi, dan empati). (2) meningkatkan sikap peserta didik terhadap sekolah, dan (3) mengurangi depresi dan stress di kalangan peserta didik. Pembelajaran sosial emosional membekali individu dengan alat untuk menavigasi kompleksitas emosi mereka, mengembangkan empati, dan membangun hubungan interpersonal yang kuat.Dengan mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional ke dalam kerangka pendidikan di sekolah, harapannya ada upaya meningkatkan pencapaian akademik yang dapat diimbangi dengan cara memelihara kesejahteraan emosional siswa dan para Guru.

Tumbuhnya kesadaran diri dan keterampilan regulasi emosi yang diajarkan lewat pembelajaran sosial emosional diharapkan dapat mengatasi akar penyebab stress dan keputusasaan peserta didik dan guru saat menghadapi tantangan di dalam kehidupannya.

Dengan memprioritaskan kesehatan emosional Siswa dan tenaga Pendidik, sekolah diharapkan dapat menciptakan lingkungan dimana setiap individu dapat berkembang secara emosional, akademis, dan pribadi. Sehingga pembelajara sosial emosional diharapkan bukan hanya sekedar respon terhadap krisis yang terjadi saat ini namun merupakan langkah proaktif menuju masa depan yang lebih resilien.

Berdasarkan Video 1 Aktivitas 3: Surat dari Instruktur Pembelajaran Sosial Emosional, Rusiati Yo, S.Psi, M.Pd mengatakan bahwa tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademik saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya.Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa k ompetensi sosial- emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan seseorang.Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial emosional secara optimal, peran guru sangatlah penting.

Sebelum Pendidik dapat membantu Peserta Didik. Mereka perlu mempelajari, mengelola dan menerapkan pembelajaran sosial emosional dalam dirinya. Pendidik belajar untuk mengembangkan aspek sosial dan emosional dalam dirinya melalui berbagai kegiatan praktikum, diskusi dan refleksi yang dilakukan dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness). Seluruh usaha, jerih payah dan ketulusan yang sudah dicurahkan diharapkan akan dapat membantu murid untuk tumbuh menjadi pribadi utuh baik secara akademik, sosial dan emosional.

(3)

Berdasarkan Video 2 Aktivitas 3: “Social-Emotinal Learning (What is SEL and Why SEL Matters”, pembelajarn sosial emosional merupakan proses mempelajari keterampilan sosial emosional sama pentingnya dengan belajar membaca/matematika. Proses pembelajaran sosial emosional paling efektif dan sangat penting. Dengan Social-Emotinal Learning (SEL) siswa belajar mengelola emosi dan perilakunya sendiri, memiliki empati, menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, memecahkan masalah secara efektif, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab, serta menjaga hubungan yang sehat.

Pada Aktivitas 4: Apa yang ditunjukkan Hasil Riset tentang Pembelajaran Sosial Emosional, pada artikel pembelajaran sosial emosional sebagai dasar pendidikan karakter anak usia dini (Hadi S, 2013). Sosial emosional Siswa akan berkembang secara berkelanjutan sejalan dengan proses pengembangan dan stimulasi yang diberikan kepada mereka.

Pembelajaran sosial emosional pada Siswa akan melahirkan kemampuan adaptasi secara kognitif maupun sosial. Kompetensi-kompetensi sosial seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab yang menjadi fokus pengembangan dalam proses pembelajaran juga berimplikasi pada tertanamnya karakter-karakter unggul dalam konteks sosial maupun konteks lainnya.

Metode bermain, modeling, story telling dan drama bisa digunakan untuk mengembangkan sosial emosional anak. Pada akhirnya akan bangkit rasa percaya diri, penghargaan pada diri sendiri dan orang lain, berempati pada orang lain dan mampu mengkomunikasikan perasaannya secara tepat. Dan berimplikasi pada tertanam dan terbentuknya karakter-karakter unggul seperti mengenal diri, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, berkepribadian menarik, mengikuti perubahan, dan mengambil resiko, mengendalikan diri, bersemangat, kerjasama, adil dan lain sebagainya.

A. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE): Apa dan Bagaimana Menerapkannya?

1. Apa yang dimaksud dengan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)?

Daniel Goleman (Perintis Konsep Kecerdasan Emosional) mendefinisikan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) adalah proses dimana anak dan orang dewasa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk mengembangkan identitas yang sehat, mengelola emosi, mencapai tujuan pribadi dan kolektif, merasakan dan menunjukkan empati terhadap orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab dan penuh rasa kepedulian. Jika dikaitkan dengan konteks sekolah, Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) sebenarnya adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkin bukan hanya peserta didik, namun juga pendidik

(4)

dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

2. Lima Kompetensi Sosial Emosional Menurut CASEL

Lima kompetensi sosial emosional menurut CASEL sebagai berikut:

a. Self-awareness (Kesadaran Diri)

Adalah kemampuan untuk memahami emosi, pemikiran, dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku dalam berbagai konteks situasi.

b. Self-management (Manajemen Diri)

Adalah kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.

c. Social awareness (Kesadaran Sosial)

Adalah kemampuan untuk memahami perspektif dan berempati dengan orang lain, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda.

d. Relationship skills (Keterampilan Sosial)

Adalah kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan mendukung serta menavigasi situasi dengan individu dan kelompok yang beragam secara efektif.

e. Responsible decision making (Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab)

Adalah kemampuan membuat pilihan yang tepat dan konstruktif tentang perilaku pribadi dan interaksi sosial dalam berbagai situasi.

3. Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) di Sekolah

Di dalam penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) di sekolah, guru dapat menggunakan hal-hal sebagai berikut:

WholeChild Whole

Day

Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) di Sekolah

Whole

School

(5)

a. Pendekatan Peserta Didik Seutuhnya (Whole Child)

Sebagai guru kita akan selalu menyadari bahwa fokus pembelajaran bukan hanya soal akademik, tetapi juga penting mengembangkan aspek-aspek lainnya, termasuk keterampilan sosial emosional peserta didik. Dengan demikian kita akan memastikan bahwa setiap anak dapat berkembang secara utuh dan mencapai potensi penuh mereka.

b. Pendekatan Sepanjang Hari (Whole Day)

Saat kita menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), maka kita perlu berupaya untuk melakukan praktik Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang terintegrasi sepanjang hari, dan dalam semua area kurikuler. Kata kuncinya adalah ‘selalu’ dan ‘berkelanjutan’.

c. Pendekatan Seluruh Anggota Komunitas Sekolah (Whole School)

Saat kita menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) ini, akan mensyaratkan kita sebagai anggota komunitas sekolah untuk senantiasa menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, saling menghormati, yang diatur dengan baik, suportif, dan melibatkan. Konsistestensi, keteladanan, berlaku

‘SAMA’ pada semua anggota komunitas sekolah.

4. Strategi Implementasi Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai 5 (lima) Kompetensi Sosial Emosional (KSE). Oleh karena itu terdapat 3 (tiga) lingkup area penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yaitu kelas, sekolah, keluarga dan masyarakat.

Adapun indikator yang sangat berkaitan dengan praktik Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) di sekolah, yaitu:

Pengajaran Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) secara eksplisit.

Integrasi Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik.

Pelibatan suara peserta didik.

Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah.

Penguatan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.

(6)

5. Penerapan 3 (Tiga) Praktik Khas (3 Signature Practices) Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam Pembelajaran di Kelas

Tiga Praktik Khas (3 Signature Practices)Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam Pembelajaran di Kelas adalah sebagai berikut:

a. Melakukan pembukaan hangat dan inklusif.

Pembukaan yang hangat dan inklusif bisa dilakukan dengan cara memberikan sapaan, memanggil setiap orang dengan nama mereka, menanyakan perasaan mereka saat itu dan meminta siswa menjelaskan alasannya. Melakukan pembukaan yang hangat dan inklusif akan membantu komunitas, perasaan diterima dan didengar, membawa suara setiap peserta dalam ruangan, membuat koneksi satu sama lain dan/atau dengan pelajaran yang akan dipelajari.

b. Melakukan kegiatan pembelajaran yang menantang dan melibatkan.

Kegiatan yang menantang dan melibatkan ini juga mencakup kegiatan yang dapat membangun keseimbangan antara pengalaman interaktif fan reflektif, untuk memenuhi kebutuhan semua peserta.

c. Praktik penutupan yang optimik.

Penutupan yang optimis tidak selalu menjadi ‘akhir yang ceria’, tetapi lebih mementingkan pemahaman perorangan dan pemahaman bersama mengenai pentingnya apa yang telah dipelajari, sehingga dapat memberikan pencapaian dan mendukung pemikiran ke depan. Contoh: dengan melakukan refleksi tentang hal- hal yang dipelajari hari itu dan apa yang perlu diantisipasi untuk hari berikutnya.

Melakukan pembukaan hangat dan

inklusif

Melakukan kegiatan pembelajaran yang

menantang dan melibatkan

(3 Signature Practices) Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dalam Pembelajaran di Kelas

Praktik penutupan yang

optimik

(7)

B. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE): Bagaimana Mewujudkan Kesejahteraan Psikologis Warga Sekolah?

1. Pengertian Well-being dan Wellbeing Peserta Didik

Pada modul Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), Well-being adalah kesejahteraan psikologis. Menurut Kamus Merriam Webster, Well-being artinya sebagai keadaan bahagia, sehat, atau sejahtera. Sementara itu, UNESCO mengatakan bahwa Well-being sebagai keadaan positif yang dialami individu dan masyarakat.Well-being mencakup kualitas hidup dan kemampuan manusia dan masyarakat untuk berkontribusi pada dunia dengan makna dan tujuan.

Pengertian Well-being peserta didik terdapat 3 sumber yang menyebutkan istilah student well-being atau kesejahteraan psikologis peserta didik, yaitu:

a. Engel et al, 2004, p. 128 mengatakan bahwa Well-being peserta didik adalah keadaan emosi positif yang merupakan hasil keselarasan antara jumah faktor konteks tertentu di satu sisi dan kebutuhan serta harapan pribadi terhadap sekolah di sisi lain.

b. De Fraine et al. 2005 menjelaskan bahwa Well-being peserta didik sebagai sejauh mana seorang peserta didik merasa nyaman di lingkungan sekolah.

c. Fraillon, 2004 mengungkapkan bahwa Well-being peserta didik sebagai mana seseorang peserta didik berfungsi secara efektif dalam komunitas sekolah.

2. Pengertian Well-being Sekolah

School well-being adalah kondisi dimana individu dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik materi maupun non-materi di sekolah.

3. Dimensi School well-being

Konu dan Rimpela (2002) menjelaskan ada empat dimensi School well-being, yaitu:

Having, adalah bagaimana persepsi dan perasaan individu terhadap kondisi sekolah.

Loving, adalah iklim atau suasana di sekolah.

Being, adalah bagaimana individu di sekolah menghargai keberadaaan mereka.

Health, adalah kesehatan fisik dan mental peserta didik dan guru.

(8)

4. Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Warga Sekolah

CASEL menjelaskan bahwa pengembangan keterampilan sosial emosional oleh orang dewasa di sekolah dapat dilakukan melalui 3 upaya yaitu:

5. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Berbasis Kesadaran Penuh

Rusiati Yo, S.Psi, M.Pd mengatakan bahwa Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Berbasis Kesadaran Penuh (Mindfulness) dalam mewujudkan kesejahteraan psikologis atau well-being dapat digambarkan melalui piramida berikut ini:

Menjadi Teladan Berkolaborasi CASEL

Belajar

Well-being

Kesejahteraan Psikologis

Kompetensi Sosial Emosional

Keterampilan Relasi Kerjasama dan Resolusi Konflik

Pengembalian Keputusan yang Bertanggung Jawab

Kesadaran Diri Pengenalan Emosi

Pengelolaan Diri Pengelolaan Emosi

dan Fokus

Kesadaran Sosial Empati

Kesadaran Penuh (Mindfulness)

(9)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Berbasis Kesadaran Penuh (Mindfulness) adalah pendekatan yang memadukan praktik kesadaran penuh sebagai landasan untuk membiasakan pengembangan keterampilan sosial dan emosional.Tujuannya adalah membantu diri kita (guru/pendidik) dan peserta didik untuk memahami dan mengelola dunia di dalam diri (emosi) dan merespon dunia di luar diri (berempati, berelasi, beradab, berperilaku) dengan lebih bijaksana. Praktik ini melibatkan latihan bernapas secara sadar, menyimak apa yang ada di dalam diri dan di sekeliling atau dihadapan kita.

C. Rancangan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)Pada Mata Pelajaran PJOK Kelas VIII

Saya akan mencoba merancang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas VIII.

PENYUSUN EDO KURNIA ILHAMI, S.Or

FASE D

SATUAN PENDIDIKAN SMPN 3 PANTAI CERMIN

MATA PELAJARAN Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan KELAS/SEMESTER VIII/ Ganjil

TAHUN PELAJARAN 2025/2026 ALOKSI WAKTU 2 JP @ 40 Menit ELEMEN

Kebugaran Jasmani

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Capaian Pembelajaran Umum:

Peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengevaluasi aktivitas kebugaran jasmani yang sesuai dengan prinsip latihan dan kebutuhan kesehatan jasmani serta dapat menunjukkan sikap sportivitas, tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama dalam kegiatan pembelajaran.

Capaian Pembelajaran Khusus (Materi Kebugaran Jasmani):

1) Pengetahuan (Kognitif):

Memahami konsep dasar kebugaran jasmani dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Mengidentifikasi komponen-komponen kebugaran jasmani (kekuatan, daya tahan, kelincahan, kecepatan, kelenturan, dan koordinasi).

2) Keterampilan (Psikomotor):

Mampu melakukan berbagai bentuk latihan kebugaran jasmani sesuai dengan prinsip latihan yang benar (pemanasan, inti, pendinginan). Menunjukkan keterampilan dasar dalam latihan kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas secara aman dan bertahap.

(10)

3) Sikap (Afektif):

Menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, percaya diri, dan kerja sama dalam melakukan aktivitas kebugaran jasmani. Menunjukkan gaya hidup sehat dan aktif sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pembelajaran

- Menjelaskan pengertian kebugaran jasmani.

- Menyebutkan komponen-komponen kebugaran jasmani.

- Menunjukkan keterampilan dalam melakukan latihan kebugaran jasmani.

- Menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam menjaga kebugaran tubuh.

Kriteria Tercapainya Tujuan Pembelajaran

1. Siswa mampu menjelaskan pengertian kebugaran jasmani.

2. Siswa mampu menyebutkan komponen-komponen kebugaran jasmani.

3. Siswa bisa menunjukkan keterampilan dalam melakukan latihan kebugaran jasmani.

4. Siswa menunjukkan sikap disiplin dan tanggung jawab dalam menjaga kebugaran.

Profil Pelajar Pancasila

1. Beriman,BertaqwaKepadaTuhanyangMahaEsadanBerakhlak Mulia 2. Gotongroyong

3. Mandiri 4. Bernalar kritis.

Pertanyaan Pemantik

1. Apa yang akan terjadi pada tubuh kita jika jarang bergerak atau berolahraga?

2. Mengapa orang yang bugar terlihat lebih segar dan percaya diri?

3. Apakah kalian pernah merasa lebih semangat dan segar setelah melakukan aktivitas fisik? Mengapa bisa begitu?

4. Menurut kamu, kebugaran jasmani lebih penting untuk atlet saja, atau semua orang?

Jelaskan alasannya!

5. Bagaimana caranya menjaga kebugaran tubuh jika tidak punya banyak waktu atau fasilitas olahraga.

6. Apakah latihan kebugaran harus selalu berat dan melelahkan? Bisa tidak kita buat menyenangkan?

(11)

Langkah-langkah Pembelajaran

Pendahuluan 10 menit

a. Memulai pembelajaran, memeriksa persiapan siswa, dan menugaskan salah seorang peserta didik untuk memimpin do’a.

b. Melakukan kuis atautanya jawab (assesmen awal) melalui lembar periksa diri.

N o .

Pernyataan Y

a (1)

Tida k (0) 1 Saya dapat menjelaskan pengertian latihan

Komponen kebugaran jasmani terkait dengan kesehatan dengan benar.

2 Saya bisa menjelaskan konsep latihan kebugaran jasmani terkait kesehatan dengan lancar.

3 Saya dapat menjelaskan apa itu pengukuran komponen kebugaran jasmani mengenai kesehatan dengan baik dan benar.

Jumlah

SangatMenguasai Menguasai BelumMenguasai Jikajawaban“Ya”ada 3 Jikajawaban“Ya”

ada 2

Jika jawaban“Ya”ada 1

Keterangan: Guru boleh menggunakan banyak strategi dalam pembelajaran berdiferensiasi berdasarakan hasil yang didapat dari asesmen awal, misal peserta didik yang sudah penguasaannya sangat baik atau lebih dari cukup untuk pembelajaran melanjutkan pembelajaran selanjutnya, sementara peserta didik yang belum mencapai masih di damping oleh guru.

c. Menjelaskan tujuan pembelajaran.

d. Menjelaskan skenario pembelajaran.

e. Manfaat pembelajaran/kebermaknaan/kontekstual/meaningfull.

f. Menjelaskan asesmen/proses penilaian.

Inti 55 Menit Pertemuan pertama

a. Menyampaikan permasalahan yang harus dipecahkan dalam pembelajaran yaitu cara untuk meningkatkan kebugaran jasmani terkait kesehatan (komposisi tubuh, daya tahan, kekuatan, dan kelentukan).

b. Peserta didik melakukan pemanasan dengan permainan elang dan anak ayam.

Cara bermain:

1. Bagi siswa beberapa kelompok berbanjar dengan jarak antar kelompok 50 cm, dan antar kelompok yang saling berhadapan jaraknya 1 m (sesuaikan menurut kondisi lapangan yang dipakai).

2. melakukan undian kelompok yang menjadi elang dan anak ayam dengan permainan aba-aba atau komando. Contoh jika pagi menepuk tangan 1 kali,

(12)

siang B Langkah-langkah Pembelajaran dan Pemanfaatan Media Pendahuluan:

10 menit Inti: 55 menit 2 kali, sore 3 kali, dan malam tidak bertepuk tangan, siswa yang salah tepuk tangan ketika ada aba-aba maka ia yang menjadi elang atau ayam.

3. Tugas elang mengejar anak ayam, jika anak ayam berhasil tersetuh oleh elang maka anak ayam dan elang berganti posisi, begitu seterusnya.

4. Jika anak ayam ingin selamat dari kejaran elang ia harus hinggap di depan kelompok, peserta didik paling akhir yang kelompoknya dihinggapi anak ayam harus keluar menjadi anak ayam dan menghindari kejaran musang.

c. Siswa dibagi 4 kelompok, dan setiap kelompok menempati posnya masing-masing.

d. Pada setiap kelompok siswa menganalisa dan mendiskusikan jenis-jenis latihan yang tepat untuk komponen kebugaran jasmani (kelompok 1 komposisi tubuh, kelompok 2 daya tahan kardiorespiratori, kelompok 3 kekuatan, dan kelompok 4 kelentukan).

e. Setiap kelompok siswa secara bergantian mempresentasikan dan menjelaskan hasil analisa dan diskusinya.

f. Setiap kelompok melakukan latihan yang disepakati pada waktu diskusi.

g. Memberikan umpan balik dan tanya jawab.

h. Asesmen formatif dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan melakukan observasi terhadap unjuk kerja keterampilan peserta didik.

Refleksi 7 menit

a. Merefleksi penerimaan pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran.

b. Merefleksi bagian yang telah dikuasai peserta didik.

c. Merefleksi bagian yang belum dikuasai peserta didik.

Penutup 8 Menit a. Peserta didik melakukan pelemasan/pendinginan.

b. Tanya jawab dan kuis sebagai bentuk asesmen formatif dan koreksi jawaban sebagai bentuk kesimpulan.

c. Guru memberikan apresiasi kepada siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan menyampaikan motivasi untuk selalu menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani.

d. Menginformasikan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya, berdo’a, membubarkan diri dengan tertib, dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.

Rencana Asesmen

ASESMEN PENGETAHUAN (KOGNITIF)

Tujuan: Mengukur pemahaman peserta didik terhadap konsep kebugaran jasmani, komponen, dan manfaatnya.

Bentuk: Tes tertulis (Pilihan Ganda, Isian, Uraian) Contoh Soal:

A. Pilihan Ganda

1. Di bawah ini yang merupakan komponen kebugaran jasmani adalah …

(13)

a. Makan teratur b. Kelincahan c. Berpakaian rapi d. Tidur cukup

2. Latihan push-up bertujuan untuk melatih ...

a. Kekuatan otot lengan b. Kelincahan

c. Kelenturan d. Kecepatan B. Isian Singkat

1. Sebutkan tiga manfaat dari latihan kebugaran jasmani!

Jawaban: Meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki postur tubuh, menjaga kesehatan jantung.

C. Uraian

2. Jelaskan perbedaan antara daya tahan dan kekuatan dalam kebugaran jasmani!

Kriteria Jawaban:

 Daya tahan: kemampuan tubuh manusia melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama.

 Kekuatan: kemampuan otot manusia dalam menahan dan mengangkat beban.

2. ASESMEN KETERAMPILAN (PSIKOMOTOR)

Tujuan: Menilai kemampuan siswa dalam mempraktikkan gerakan kebugaran jasmani secara tepat dan aman.

Bentuk: Praktik langsung + Rubrik Penilaian Contoh Kegiatan Praktik:

Push-up: 30 detik

Sit-up: 30 detik

Shuttle run (lari bolak-balik): 3 kali

Stretching (gerakan peregangan statis dan dinamis)

Contoh Rubrik Penilaian Praktik:

Aspek Penilaian

Skor 4 (Kategori Sangat

Baik)

Skor 3 (Kategori Baik)

Skor 2 (Kategori

Cukup)

Skor 1 (Kategori

Kurang) Ketepatan

Gerakan

Gerakan benar &

konsisten

Gerakan benar sebagian besar

Beberapa kesalahan

Banyak kesalahan

(14)

Kesiapan &

Sikap Latihan

Seragam lengkap,

disiplin Hampir selalu siap Kurang siap Tidak siap Ketahanan

Fisik

Mampu

menyelesaikan semua gerakan

Menyelesaikan sebagian besar

Sering berhenti

Tidak

menyelesaikan

3. ASESMEN SIKAP (AFEKTIF)

Tujuan: Untuk menilai sikap peserta didik selama pembelajaran seperti melaksanakan tanggung jawab, disiplin, kerja sama dan sportivitas.

Contoh Lembar Observasi Sikap:

Nama Siswa

Disipli n

Tanggung Jawab

Kerja Sama

Sportivita

s Catatan Guru

Rafi ✔️ ✔️ ✔️ ✔️ Aktif dan membantu teman

Azani ❌ ✔️ ❌ ✔️ Sering terlambat

Keterangan:

✔️ = Baik, ❌ = Perlu Bimbingan

Guru mengamati dan mencatat selama kegiatan berlangsung 4. ASESMEN REFLEKTIF (Opsional)

Tujuan: Mendorong siswa mengevaluasi kebiasaan dan peningkatan fisik mereka.

Contoh Pertanyaan Refleksi:

Apa manfaat yang kamu rasakan setelah latihan kebugaran minggu ini?

Apa tantangan terbesar saat melakukan gerakan kebugaran jasmani?

Apa rencana kamu agar selalu tetap bugar di rumah?

(15)

D. Dokumentasi Pemahaman Merancang Pembelajaran Sosial Emosional

dengan Teman Sejawat

(16)

E. Umpan Balik Teman Sejawat

(17)
(18)

Referensi

Dokumen terkait