• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of EFEKTIFITAS BEHAVIOR CONTRACT UNTUK MENGURANGI PERILAKU TERLAMBAT PESERTA DIDIK KELAS XI BDP SMK NEGERI 1 METRO

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of EFEKTIFITAS BEHAVIOR CONTRACT UNTUK MENGURANGI PERILAKU TERLAMBAT PESERTA DIDIK KELAS XI BDP SMK NEGERI 1 METRO"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

280 | P a g e

EFEKTIFITAS BEHAVIOR CONTRACT UNTUK MENGURANGI PERILAKU TERLAMBAT PESERTA DIDIK KELAS XI BDP SMK NEGERI 1 METRO

Arsewenda Rachma Yunita SMK Negeri 1 Metro

ABSTRAK

Late behavior is behavior that does not correspond to the time or exceeds a predetermined time. This habit of being late for students will result in less smooth learning activities and can reduce student learning outcomes. To help students reduce their late habits, researchers are trying to apply behavior contract techniques. Behavior contract is a technique of agreement between counselor and counselor to change certain behaviors in counselors and to receive rewards for that behavior. This contract confirms the expectations and responsibilities that must be fulfilled and their consequences. The purpose of this study was to reduce the late behavior of students coming to school and find factors that cause students to be late for school and obtain problem solving to reduce the habit of late behavior of students at SMK Negeri 1 Metro This study used a type of case study in class XI BDP students which was carried out at SMK Negeri 1 Metro with 6 research subjects. In research, the methods used are interview and observation methods. The data is analyzed descriptively qualitatively by looking at the results after using the behavior contract. The results of the calculation of the average late behavior score of students coming to school before being given action using the behavior contract technique the frequency of delay reached 57, after being given the first treatment with the behavior contract technique the frequency of delays decreased to 22 and in the second treatment the frequency of delays decreased to 5. Thus, it can be concluded that the behavior contract is very effectively used to reduce the late behavior of students of SMK Negeri 1 Metro for the 2019/2020 Academic Year.

Kata Kunci : behavior contract, late behavior

Article History:

Published: -

This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4.0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.

* Corresponding Author: * Corresponding Author: Arsewenda Rachma Yunita; SMK Negeri 1 Metro, Kota Metro, Lampung.

Email: [email protected]

PENDAHULUAN

Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran peserta didik yang mempunyai kedudukan sangat penting dalam dunia pendidikan. Melalui sekolah dapat menciptakan kehidupan manusia yang lebih baik melalui proses pendidikan tentunya. Untuk mencapai keberhasilan di masa yang akan datang, pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk menggali potensi yang ada dalam diri manusia, tidak hanya itu saja ada beberapa aspek yang dapat berkembang melalui proses pendidikan yaitu aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif.

Begitu pentingnya pendidikan, sehingga tujuan pendidikan telah diatur dengan jelas dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yakni Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 mengatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban

(2)

281 | P a g e

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Meskipun pendidikan bukan satu-satunya penentu keberhasilan masa depan, tetapi dengan adanya pendidikan yang baik keberhasilan akan lebih mudah tercapai. Pendidikan memiliki peran penting dalam upaya peningkatan sumber daya manusia ke arah yang lebih baik. Pendidikan diharapkan mampu membentuk peserta didik yang dapat mengembangkan sikap, keterampilan dan kecerdasan intelektualnya agar menjadi manusia yang terampil, cerdas, serta berakhlak mulia.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, tentunya memiliki visi dan misi yang mulia, dan tentunya antara sekolah satu dengan yang lain memiliki keunikan/ ciri khas tersendiri dalam merumuskan visi dan misi. Sekolah diharapkan menjadi tempat dimana peserta didik tidak hanya mampu unggul secara akademis, lebih dari itu sekolah diharapkan mampu membentuk pribadi peserta didik yang berkarakter yaitu bertanggung jawab, mandiri, kreatif, menghargai orang lain, bekerja sama serta disiplin. Oleh sebab itu sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, dalam prosesnya peserta didik akan belajar banyak hal di sekolah, mulai dari berinteraksi, disiplin menjalankan tata tertib dan mengasah kemampuan dirinya secara maksimal.

Tata tertib dibuat dengan tujuan sebagai dasar dan pedoman dalam mengatur segala hal di sekolah. Pelanggaran tata tertib memang banyak di jumpai di berbagai sekolah yang umumnya dilakukan oleh peserta didik.

Pelanggaran adalah tindakan menyalahi aturan yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja. Menurut Tarmidzi (2008) pelanggaran adalah “tidak terlaksananya peraturan tata tertib secara konsisten akan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya berbagai bentuk dan kenakalan yang dilakukan peserta didik, baik di dalam maupun di luar sekolah”. Beberapa peraturan di sekolah harus ditaati oleh peserta didik, seperti memakai seragam dengan rapi, mengikuti kegiatan pembelajaran serta datang tepat waktu, artinya peserta didik harus berada di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB.

Kehadiran peserta didik tepat waktu saat masuk sekolah sangat penting bagi proses pembelajaran, karena dengan tepat waktu dapat membantu proses belajar peserta didik dengan perasaan tenang, nyaman dan membiasakan peserta didik untuk disiplin. Tu’u (2004: 2) mengatakan bahwa membudayakan disiplin dalam kehidupan sekolah pada peserta didik dapat memberikan dampak yang positif bagi kehidupan peserta didik di luar sekolah.

Disiplin yang baik dapat membuat seseorang menjadi lebih tertib dan teratur

(3)

282 | P a g e

dalam kehidupannya. Kedisiplinan merupakan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, terutama di lingkungan sekolah (Hurlock, 1980: 82). Setiap peserta didik diharapkan memiliki kebiasaan datang ke sekolah tepat waktu, artinya tidak terlambat. Akan tetapi pada kenyataanya fenomena peserta didik terlambat datang ke sekolah bisa ditemukan di beberapa sekolah.

Fenomena terlambat ini juga dijumpai oleh sebagian peserta didik di SMK Negeri 1 Metro. Berdasarkan tahap perkembangannya, peserta didik SMK ini termasuk dalam masa remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Elizabeth B. Hurlock (1980: 207) menjelaskan bahwa salah satu ciri remaja yaitu berada pada masa periode peralihan, dimana mereka cenderung menginginkan dan menuntut kebebasan, serta kurang mampu mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan seperti halnya terlambat datang ke sekolah.

SMK Negeri 1 Metro membiasakan peserta didiknya untuk dapat berperilaku disiplin dalam kehidupannya. Pada sekolah ini aturan yang diberlakukan sudah tergolong ketat terhadap jam masuk sekolah. Namun sayangnya, berdasarkan hasil pengamatan masih ditemukan peserta didik yang datang terlambat ke sekolah setiap harinya dan hal tersebut sering dialami oleh peserta didik yang sama. Peserta didik yang datang terlambat ini dengan berbagai alasan, seperti ban motor bocor, sakit perut, bangun kesiangan, jarak rumah antara sekolah jauh, kesulitan kendaraan dan lainnya. Kebiasaan terlambat peserta didik ini akan memberikan dampak yang tidak baik bagi proses pembelajaran peserta didik, yaitu peserta didik tidak dapat mengikuti pelajaran pada jam pertama atau kedua selama beberapa menit atau bahkan beberapa jam pelajaran. Hal ini pun akan berdampak bagi peserta didik yang lain yaitu mengganggu konsentrasi peserta didik terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Menurut Prayitno dan Emran (2013: 62) menyebutkan ada tiga indikator dalam perilaku terlambat datang sekolah yaitu: a) sering tiba di sekolah setengah jam pelajaran dimulai, b) memakai waktu istirahat melebihi waktu yang ditentukan; dan c) sengaja melambat-lambatkan dari masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah mulai. Perilaku terlambat peserta didik datang ke sekolah mendapat perlakuan serius oleh pihak guru bimbingan dan konseling. Hal tersebut dibuktikan dengan guru bimbingan dan konseling memanggil peserta didik yang terlambat, meminta keterangan dari orang tua peserta didik, namun peserta didik tersebut justru tidak merasa jera, artinya hari berikutnya peserta didik tersebut masih mengulangi kesalahan yang sama.

Datang terlambat ke sekolah memang bukan termasuk pelanggaran yang sangat berat seperti mencuri atau membunuh, namun jika tidak segera diatasi dan ditindak lanjuti akan berdampak negatif bagi perkembangan dan prestasi

(4)

283 | P a g e

belajar peserta didik. Kehadiran peserta didik tepat waktu sangat penting dalam proses pembelajaran, karena proses pembelajaran tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien. Untuk mengurangi perilaku terlambat pada peserta didik dibutuhkan beberapa cara atau teknik yang tepat. Salah satunya adalah dengan menggunakan model konseling behavior contract yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku terlambat datang ke sekolah pada peserta didik kelas XI BDP SMK Negeri 1 Metro.

Teknik behavior contract dapat digunakan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan rencana untuk memperkuat perilaku adaptif atau perilaku yang baik dan bermanfaat bagi peserta didik dan menghilangkan perilaku maladaptif atau perilaku yang kurang baik. Teknik ini digunakan untuk mengatur kondisi peserta didik dalam menampilkan tingkah laku yang diharapkan (Yuyun Nuriyah Muslih, JUBK6(1) 2017).

Elford, Brandley T (2016: 405) mengatakan bahwa kontrak perilaku adalah kesepakatan tertulis antara dua orang individu atau lebih dimana salah satu atau kedua orang sepakat untuk terlibat dalam sebuah perilaku terget.

Sedangkan menurut Fauzan (2009) Behavior contract merupakan suatu tindakan perjanjian yang dilakukan antara konselor dan konseli untuk mengubah suatu perilaku tertentu dengan memberikan suatu tanggung jawab yang merupakan sebuah konsekuensi ketika hal tersebut tidak berubah.

Teknik kontrak perilaku merupakan teknik utama yang digunakan untuk menangani permasalahan peserta didik yaitu masalah sering terlambat masuk sekolah. Dimana pada teknik ini tingkah laku peserta didik dapat diatur dan dikondisikan sehingga peserta didik dapat mengurangi perilaku bermasalah sering terlambat masuk sekolah berdasarkan kontrak yang telah disepakati bersama guru bimbingan dan konseling.

Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Efektifitas Behavior Contract Untuk Mengurangi Perilaku Terlambat Peserta Didik Kelas XI BDP SMK Negeri 1 Metro”. Alasan pentingnya penelitian ini adalah agar kita semua dapat mencari solusi guna menyelesaikan permasalahan yang sering dianggap sepele oleh banyak orang, padahal akibat buruknya sangat besar yaitu dapat merusak prestasi belajar peserta didik di sekolah.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Menurut Sugiyono (2016: 9) metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana

(5)

284 | P a g e

peneliti adalah sebagai instrument kunci teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Jenis penelitian deskriptif kualitatif menampilkan hasil data apa adanya tanpa proses manipulasi atau perlakuan lain, sehingga dapat menggambarkan perubahan tingkah laku yang di alami oleh peserta didik sebelum dan sesudah adanya behavior contract tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November – Januari 2020, dilaksanakan dalam 2 siklus dengan subjek dari penelitian adalah 6 peserta didik kelas XI BDP SMK Negeri 1 Metro. Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara kepada peserta didik serta dokumentasi sebagai teknik pendukung. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, analisis data dan lembar dokumentasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Kegiatan penelitian tindakan kelas dilakukan melalui empat tahapan dan dilaksanakan dengan dua siklus. Penelitian ini difokuskan kepada efektifitas behavior contract yang dilakukan pada awal layanan terhadap perilaku terlambat peserta didik saat datang ke sekolah. Menurut Prayitno (2004) pemberian layanan dapat dilaksanakan dalam bentuk klasikal, kelompok dengan metode ceramah, diskusi dan dapat didukung dengan peragaan, serta pemberian contoh. Salah satu teknik mengurangi perilaku terlambat peserta didik yaitu dengan menggunakan teknik behavior contract. Teknik ini merupakan suatu cara untuk membantu peserta didik membentuk perilaku tertentu yang diinginkan dan memperoleh ganjaran tertentu sesuai dengan kontrak yang disepakati.

Pada dasarnya peserta didik yang terlambat berkisar antara 5-10 menit setelah gerbang ditutup. Namun masih saja ada peserta didik yang terlambat lebih dari waktu tersebut, bahkan ada peserta didik yang tiba sampai 20 menit setelah gerbang ditutup. Peserta didik yang terlambat pada umumnya ada yang membawa kendaraan sendiri, diantar oleh orang tua bahkan ada yang menggunakan jasa angkutan umum.

Peneliti memperoleh data awal mengenai kebiasaan datang terlambat pada ke-enam subyek melalui catatan guru piket dan wawancara dengan wali kelas XI BDP. Berdasarkan hasil wawancara dan catatan guru piket mulai dari 17 Juli sampai 30 September 2019, jumlah keterlambatan ke-enam subyek

(6)

285 | P a g e

mencapai 57. Jumlah keterlambatan ke-enam subyek dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1. Jumlah Keterlambatan Ke-enam Subyek Pra Tindakan

Nama Jumlah Keterlambatan

AA 7

SA 7

RF 17

AAI 7

SF 9

RAS 10

Sumber: Data Guru Piket

Pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa jumlah keterlambatan peserta didik sebelum diberikan tindakan yaitu sebanyak 57. Selanjutnya, untuk mengetahui jumlah frekuensi setelah diberikan tindakan pada siklus pertama, disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Keterlambatan Peserta Didik Siklus I

Nama Jumlah Keterlambatan

AA 4

SA 4

RF 5

AAI 2

SF 3

RAS 4

Pada layanan siklus pertama behavior contract dilakukan dengan lisan tanpa ada penekanan. Data hasil observasi dalam penelitian diatas diperoleh berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti secara langsung. Pada siklus I peneliti melakukan observasi pada peserta didik dengan menchecklist pada lembar observasi kehadiran subyek sebelum pukul 07.00 WIB. Berdasarkan hasil tabel diatas diketahui bahwa terjadi penurunan keterlambatan peserta didik menjadi 22. Melihat dari hasil observasi dan refleksi pada siklus I, perubahan perilaku terlambat peserta didik belum efektif maka peneliti membutuhkan siklus II untuk memaksimalkan penelitian dengan teknik behavior contract.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan teknik behavior contract pada saat sebelum dilakukan tindakan, setelah diberikan tindakan pada siklus I dan siklus II, disajikan dalam diagram grafik sebagai berikut:

(7)

286 | P a g e

Gambar 1. Diagram Jumlah Keterlambatan Peserta Didik, Sebelum Maupun Sesudah Mendapatkan Tindakan Dengan Teknik Behavior Contract.

Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui diketahui bahwa behavior contract dapat digunakan untuk mengajarkan perilaku baru, mengurangi perilaku yang diinginkan dan meningkatkan perilaku yang diharapkan. Dengan demikian teknik behavior contract sangat efektif dalam mengurangi perilaku terlambat peserta didik.

Pembahasan

Peserta didik yang datang terlambat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Prayitno dan Erman Amti (2013:

62) menyatakan bahwa peserta didik terlambat masuk sekolah disebabkan karena jarak antara sekolah dan rumah jauh, kesulitan kendaraaan, terlalu banyak kegiatan dirumah (membantu orang tua), terlambat bangun, gangguan kesehatan, tidak menyukai suasana sekolah, tidak menyukai satu atau lebih mata pelajaran, tidak menyiapkan pekerjaan rumah, kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas, dan terlalu asyik dengan kegiatan di luar sekolah.

Sebagian besar peserta didik terlambat disebabkan oleh kesalahan yang berasal dari diri mereka sendiri yaitu beberapa dari peserta didik bengun kesiangan karena pada malam harinya mereka bermain game atau menonton film sampai larut malam. Ada pula peserta didik yang setelah melaksanakan shalat subuh justru tidur kembali padahal jarak rumah ke sekolah cukup jauh.

Faktor yang berasal dari diri peserta didik itu sebenarnya dapat dirubah apabila

AA SA RF AAI SF RAS

Jumlah Pra Tindakan 7 7 17 7 9 10

Jumlah Setelah Siklus I 4 4 5 2 3 4

Jumlah Setelah Siklus II 2 2 1 0 0 0

02 46 108 1214 16 18

Hasil Penelitian Sebelum dan Sesudah Tindakan

Jumlah Pra Tindakan Jumlah Setelah Siklus I Jumlah Setelah Siklus II

(8)

287 | P a g e

ada kesadaran dari diri peserta didik bahwa kedisiplinan itu berperan dalam keberhasilan peserta didik di pendidikan.

Sedangkan penyebab lainnya adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Ketika peserta didik harus tinggal berjauhan dengan orang tua karena orang tua bekerja di luar negeri seehingga membuat peserta didik harus mengurusi dan mengantarkan adik-adiknya terlebih dahulu yang masih duduk di bangku skolah dasar. Ketika wali dari peserta didi tersebut diundang ke sekolah, wali peserta didik membenarkan hal yang disampaikan oleh peserta didik tersebut.

Guru bimbingan dan konseling di SMK Negeri 1 Metro selalu mencari teknik yang tepat agar dapat meminimalisir keterlambatan pada peserta didik. Guru bimbingan dan konseling bekerja sama dengan bagian ketertiban sekolah dalm menangani peserta didik yang terlambat. Penerapan behavior contract dimaksudkan untuk mengurangi perilaku datang terlambat ke sekolah pada peserta didik SMK Negeri 1 Metro. Behavior contract merupakan suatu teknik persetujuan antara konselor dan konseli untuk mengubah perilaku tertentu pada konseli dan untuk menerima hadiah bagi tingkah laku itu. Kontrak ini menegaskan harapan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi dan konsekuensinya.

Berdasarkan catatan kasus dan hasil wawancara sebelum diberikan tindakan terdapat enam peserta didik yang memiliki perilaku terlambat masuk ke sekolah hal ini dapat dilihat pada buku catatan kasus, yaitu mulai tanggal 17 Juli sampai dengan tanggal 30 September 2019, jumlah keterlambatan sebanyak 57. Setelah melakukan wawancara pada salah satu subyek diperoleh bahwa “saya terlambat karena bangun kesiangan, karena selepas maghrib saya membantu orang tua saya berjualan nasi uduk hingga pukul 01.00 WIB dini hari”. Hal ini pun dibenarkan oleh orang tua ketika orang tua diundang ke sekolah, bahwa orang tua meminta sang anak untuk membantu kegiatan orang tuanya. Namun saat ini telah ditemukan solusi permasalahannya, yaitu peserta didik diperbolehkan membantu hanya sampai pukul 21.00 WIB saja.

Hasil wawancara kepada peserta didik setelah diberikan tindakan pada siklus I dan II menunjukkan bahwa ketika dilakukan behavior contract, peserta didik memiliki motivasi dan kesungguhan untuk mengubah kebiasaan terlambat yang sering dialaminya. Peserta didik mengawali dengan memilih salah satu perilaku baru yang dikehendaki, mendeskripsikan perilaku tersebut, mengidentifikasikan ganjaran yang akan diperoleh sebagai bentuk dari perilaku yang dikehendaki yang dituangkan dalam kontrak perilaku antara peneliti dan subyek dengan penambahan punishment dan reinforcement yang telah disepakati.

(9)

288 | P a g e

Penerapan behavior contract pada layanan konseling dapat dikatakan efektif untuk mengurangi perilaku terlambat peserta didik, hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya perilaku terlambat masuk sekolah, pada awal sebelum di beri perlakuan sebesar 57, setelah di beri perlakuan pertama berkurang menjadi 22 dan setelah di beri perlakuan kedua berkurang kembali menjadi 5, maka secara langsung behavior contract sudah berjalan sesuai rencana dengan konsekuensi yang sudah disepakati.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah di lakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik behavior contract sangat efektif digunakan untuk mengurangi perilaku terlambat peserta didik kelas XI BDP SMK Negeri 1 Metro Tahun Pelajaran 2019/2020. Hal tersebut dapat terlihat dari adanya perubahan perilaku terlambat peserta didik setelah diberikan tindakan dengan teknik behavior contract yaitu berkurangnya frekuensi kebiasaan datang terlambat dari sebelum diberi perlakuan rata-rata 57, setelah diberi perlakuan pertama berkurang menjadi 22 dan pada perlakuan kedua berkurang kembali menjadi 5. Mengingat bahwa kebiasaan terlambat peserta didik merupakan salah bentuk pelanggaran terhadap tata tertib di sekolah.

Apabila kebiasaan terlambat ini di biarkan akan berdampak negatif bagi diri sendiri dan sekolah, yaitu menghambat proses pembelajaran dan menurunnya prestasi belajar peserta didik. Oleh karena itu, diharapkan peserta didik mampu merubah perilaku maladaptif dan mematuhi semua tata tertib yang berlaku di sekolah.

REFERENSI

Achmad, Juntika Nurihsan. 2007. Bimbingan Dan Konseling Dalam Berbagai Latar Belakang. Bandung: Rafika Adiantama.

Busmayaril, Arfa Havilla, Konseling Kelompok Menggunakan Teknik Behavioral Contract Sebagai Layanan pada Peserta Didik yang Memiliki Perilaku Membolos, 05 (2); 2018; 131-140 KONSELI: Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-

Journal). Retrieved from

http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/konseli/article/view/3605/2443

Fauziyah, N. V. (2021). Efektivitas Layanan Konseling Individu Dengan Teknik Behavior Contract Untuk Mengatasi Perilaku Membolos Siswa: Literature Review. Jurnal Bikotetik (Bimbingan dan Konseling: Teori dan Praktik), 5(1), 17-21.

Hurlock, Elizabeth B. 1994. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gramedia.

(10)

289 | P a g e

Marisa, C., Yekti, W. B., & Karneli, Y. (2020). Konseling behavior contract untuk mengurangi perilaku membolos sekolah di tingkat menengah kejuruan. TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 4(2), 330-338.

Muslih, Y. N., Wibowo, M. E., & Purwanto, E. (2017). Konseling Behavioral menggunakan Teknik Kontrak Perilaku dengan Students’ Logbook untuk Meningkatkan Minat Membaca Siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 6(1), 34- 43.

Prayitno dan Emran Amti. 2013. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Rismayanti, R., & Nuryanto, I. L. (2020). Efektivitas Layanan Konseling Individual Dengan Teknik Behavior Contract Untuk Mengurangi Perilaku Membolos Pada Siswa Kelas VIII Di SMP PGRI Kasihan Tahun Ajaran 2019/2020. G-Couns:

Jurnal Bimbingan dan Konseling, 5(1), 38-44.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitafit, Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Yoan Turiona, Marti, Munir Abd, and Ratu Bau. ―Upaya Mengurangi Perilaku Membolos Melalui Konseling Individual Dengan Teknik Behavioral Contract Pada Siswa SMP Negeri 6 Palu.‖ Konseling & Psikoedukasi 1, no. 1 (2016): 69.

Lodgaard, E., & Aasland, K. E. (2011). An examination of the application of plan- do-check-act cycle in product development. In S. J. Culley, B. J. Hicks, T. C.

McAloone, T. J. Howard, & A. Dong (Eds.), Design methods and tools part 2.

Paper presented at The 18th International Conference on Engineering Design (ICED 11), Technical University of Denmark, Copenhagen, 15-19 August 2011 (pp. 47-55). Copenhagen: The Design Society.

Makmara. T. (2009). Tuturan persuasif wiraniaga dalam berbahasa Indonesia:

Kajian etnografi komunikasi. (Unpublished master’s thesis) Universitas Negeri Malang, Malang, Indonesia.

Septiadi, B. (ed.) (2017). Jumlah penderita HIV/AIDS di Rejang Lebong bertambah. Retrieved November 20, 2017, from website http://pedomanbengkulu.com/2017/11/jumlah-penderita-hiv-aids-di-

rejang-lebong-bertambah/

Menteri Perhubungan Republik Indonesia. (1992). Tiga undang-undang:

Perkeretaapian, lalu lintas, dan angkutan jalan penerbangan tahun 1992.

Jakarta. Eko Jaya.

Referensi

Dokumen terkait

BEHAVIOR THERAPY (REBT) UNTUK MENGURANGI PERILAKU AGRESIF PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 27 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 ”. Skripsi ini dapat diselesaikan untuk

Rumusan program bimbingan dan konseling dengan teknik bermain peran (role play) difokuskan dalam mengurangi kecenderungan perilaku agresif peserta didik pada setiap indikator,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan behavior contract dalam mengurangi perilaku hiperaktif anak tunalaras kelas IV SLB E Bhina Putera Surakarta

Kecenderungan perilaku menyontek siswa dalam kategori tinggi yaitu (72,75%) kemudian setelah memperoleh layanan konseling kelompok dengan teknik behavior contract berada

Dalam pelaksanaan konseling Cognitif Behavior Therapy (CBT) yang peneliti berikan pada peserta didik kelas VIII di SMPN 9 Bandar Lampung yang memiliki perilaku

Tujuan penelitian ini diantaranya adalah untuk mengetahui efektifitas konseling Rational Emotive Behavior Therapy dalam meminimalisasi perilaku bullying siswa kelas XI di SMK Gajah

Persepsi Peserta Didik tentang Perilaku Nonverbal Guru Bimbingan dan Konseling dalam Layanan Konseling Perorangan Mengenai Body Motion atau Kinesics Behavior Berdasarkan hasil

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis tentang Pelaksanaan Layanan Konseling Individu dengan teknik behavior contract dalam mengatasi kedisiplinan belajar peserta didik, telah