• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVIT AS HUKUM DALAM MASY ARAKAT pdf

N/A
N/A
ismanudin gadingrejo

Academic year: 2024

Membagikan "EFEKTIVIT AS HUKUM DALAM MASY ARAKAT pdf"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

57

EFEKTIVIT AS HUKUM DALAM MASY ARAKAT

Oleh; Winarno Yudho,

S.H., M.A. ,

dan Heri Tjandrasari,

S.H. - _ - - - J

L -_ _

Pengantar

Dalam rangka mempertahankan ke- langsungan hidupnya sebagai makhluk - sosial, manusia dalam kenyataannya

saling terlibat dalam berbagai kegiat- an dalam bidang nutrisi, proteksi,

dan reproduksi. Untuk dapat berta- han hidup, manusia perlu makan. Se- perti halnya pada makhlukhidup yang lain, makanan merupakan suatu kebu- tuhan yang sangat dasar dan tak mung-

kin ditinggalkan. Setelah memperoleh makanan sebagai syarat untuk mem- pertahankan hidupnya , supaya makh- luk hidup tidak mengalami kepunah- an karena adanya berbagai ancaman (baik yang berasal dari luar maupun dari sesamanya) , maka diperlukan per- lindungan yang cukup memadai. Demi kelangsungan hidupnya sebagai spesies tertentu , yang tidak hanya terbatas pada satu generasi saja, manusia me- lakukan regenerasi dengan reproduksi.

Manusia adalah makhluk eiptaan Tuhan yang paling sempurna, sehing-· ga kebutuhan dasarnya' tidak terbatas pada tiga hal seperti tersebut di atas.

Menurut A.H. Maslow (Purnadi Purba- caraka dan Soerjono Soekanto ,

1982) ,

kebutuhan dasar manusia itu menea- kup;

1. Food, shelter, clothing;

2. Safety of self and property;

3. Self-esteem;

4. Self-actualization;

5. Love .

,

Supaya dalam memenuhi kebutuh- an-kebutuhannya. baik sebagai indivi- du maupun kelompok , tidak terjeru- mus dalam pertikaian yang justru da- pat menghancurkan eksistensinya . ma- nusia memerlukan berbagai pedoman atau patokan. Peduman atau patokan

tersebu t dinamakan norma atau kai- dah. Salah saw bentuk dari kaidah

tersebu t adalah kaidal! hukum.

Kaidah diperlukan ulell manusia sebagai salah satu bentuk usalla untuk menjaga atau ll1enciptakan keadaan yang tertib dan tenteram dalall1 kehi·

dupan bersall1a. Kehidupan tertib da- lam ll1asyarakat akan tercipta apabila kegiatan-kegiatan dari para warga ma- syarakat disera sikanke dalam suat L!

pola kegiatan bersama ya ng stabil.

ajeg dan berlangsung teru S. T ercipta- nya keadaan yang dcmikian itu paling

tidak dipengaruhi olel! tiga variabel pokok , yakni :

I . Adanya seperangkat kaidah yang terorganisasi ke da~aQ1 suatL! sistem dan berfungsi meinberikan pedo- man atau patokan mengenai bagai- mana orang di dalam masyarakat seharusnya atau seyogyanya bersi- kap tindak.

2. Adanya proses yang dinamakan so- sialisasi , yaitu proses pengajaran atau pendidikan , baik secara formal maupun informaL yang bekerja

"memasukkan" kaidah-kaidah ter- sebut ke dalam kepribadian para

Februari 1987

(2)

58

warga masyarakat, sehingga menjadi bagian dari kepribadian mereka.

3. Adanya proses yang dinamakan pro- ses kon trol sosial, yaitu proses-pro- ses represif yang dilakukan 01e!1 masyarakat dan/ atau oleh pihak- pihak tertentu yang diserahi wewe- nang untuk itu , dengan sarana-sa- rana yang cukup memadai untuk

"menggiring" para warga masyara- kat supaya bersikap tindak sesuai

dengan kaidah yang ada.

Hukum sebagai salah satu kaidah hidup an tar pribadi berfungsi se bagai pedoman atau patokan yang bersifat membatasi atau mematoki para warga masyarakat dalam bersikap tindak , khususnya yang menyangkut aspek hi- dup antar pribadi. Setiap masyarakat , dari bentuknya yang paling sederhana sampai yang paling modern , tentu mengenal ata11 mempunyai (tata) hu-

kum yang dijadikan pedoman atau patokan kehidupan bersama. Di mana ada masyarakat di situ ada hukum , dan pada setiap tata hukum paling tidak mempunyai elemen-elemen dasar yang berupa (Jonathan

H.

Turner , 1972):

1. Explicit laws or rules of conduct;

2. Mechanism for enforcing laws;

3. Mechanism for mediating and adjudi- cating disputes in accordance with laws;

4. And mechanism for enacting new or changing old laws.

Jadi dalam setiap tata hukum itu akan selalu dapat dijumpai seperang-

kat aturan-aturan yang;dinamakan kai- dah hukum. Dari perangkat aturan- aturan atau kaidah hukum itu dapat dikenali berbagai sikap tindak apa saja yang diwajibkan, yang diperbolehkan, dan yang tidak diperbolehkan at au di- larang dalam berbagai situasi. Atutan- aturan yang dinamakan kaidah hukum - itu pada hakikatnya adalah penjabaran

Hullum dan Pembangunan

lebih konkret dari pasangan nilai-nilai yang telah diserasikan.

Sebelum membahas mengenai efek- tivitas hukum dalam masyarakat. perlu kiranya memahami lebih dahulu pe- ngertian sistem hukum. Pem bicaraan masalah efektivitas hukum dalam ma- syarakat merupakan bagian dari studi yang terletak di luar bidang studi dog- matik hukum. lni berarti, bahwa sua- tu kajian terhadap efektivitas hukum dalam masyarakat tidak hanya meng-

kaji kaidah-kaidah hukum dan penger- tian-pengertian dalam hukum saja.

Berbagai kait~n dan hubungan hukum dengan faktor-faktor non-hukum perlu memperoleh perhatian. Suatu bidang studi yang mempelajari hubungan tim- bal-balik antara hukum sebagai salah satu gejala sosial dengan gejala sosial yang ,lain adalah Sosiologi Hukum (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto , 1983) .

Untuk kepentingan analisis, suatu sistem hukum dapat dibagi dalam tiga komponen (lawrence M. Friedman,

1969), yakni:

I. Komponen struktural. Yang tenna- suk dalam komponen ini adalah:

"The institutions themselves, the forms they take, the processes that

they perform . . . . Structure in- cludes the number and type of courts; presence or absence of fe- deralism or pluralism, division of powers between judges, legislatorts, governors, kings, juries, administra-

tive officers; modes of procedure in various institutions; . . . ". Jadi yang dimaksud dengan komponen ini adalah bagian-bagian dari sistem

hukum yang bergerak di dalam sua- . tu mekanisme. Masuk dalam pe-

(3)

Efektivitas HUkum

. ngertian ini adalah lembaga-Iembaga pembuat undang-undang, pengen- dalian dan berbagai badan yang di- beri wewenang untuk menerapkan hukum dan penegak hukum. Hu- bungan serta ruang lingkup kewe- nangan dari berbagai lembaga atau badan yang masuk dalam kompo- nen ini secara garis besar biasanya dapat dilihat dalam konstitusi atau undang-undang dasar dari suatu ne-

gara.

2. Komponen substansi. Yang terma- suk dalam kom ponen ini adalah:

" . . . the output side of the legal system. These are the laws themsel- ves - the rules, doctrines , statu tes, and decrees , to the extent they are actually used by the rulers and the ruled; and, in addition , all other rules and decisions which govern , whatever their formal status". ladi yang dimaksud dengan komponen ini adalah hasil nyata yang diterbit- kan oleh sistem hukum. Hasil ini

dapat terwujud hukum in concreto (kaidall hukum individual) maupun hukum in abstracto' (kaidah hukum umum). Yang dimaksud dengan hu- kum in abstracto (kaidah hukum umum) adalah, kaidah-kaidah yang berlakunya tidak ditujukan kepada orang-orang atau pihak-pihak ter- tentu, akan tetapi kepada siapa saja yang dikenai perumusan kaidah umum. Sedangkan yang dimaksud dengan kaidah hukum in concreto (kaidah hukum individual) adalah kaidah-kaidah yang berlakunya di- tujukan kepada orang-orang terten

tu saja.

3. Komponen kultural. Yang dimak- sud dengan komponen ini adalah:

. . . "the values and attitudes which

59 bind the system together , and

which determine the place o f the

legal system in the culture of the society as a whole" . Dengan demi- kian yang dinamakan dengan kom- ponen kultural ini adalah berupa sikap-sikap dan nilai-nilai dari ma- syarakat. Apakah masyarakat akan memanfaatkan lembaga pengadilan atau tidak dalam berbagai kasus dipengaruhi oleh sikap-sikap dan ni·

lai-nilai yang dinamakan budaya hu- kum

( legal culture).

Ketiga komponen dad sistem hu- kum itu sangat menentukan bekerja- nya atau beroperasinya suatu sistem hukum. Ini berarti bahwa suatu pem- bahasan mengenai efektivitas hukum

tidak boleh tidak harus memperhati- kan ketiga komponen di atas. Dan membicarakan ketiga komponen terse- but berarti tidak lagi hanya terbatas dalam lingkup kaidah dan pengertian pokok hukum saja.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas

Hukum

dalam Masyarakat Kata efektivitas berasal dari bahasa Inggris , yakni

ejfe ctiJie.

Arti kata ter- sebut adalah: " having the intended or expected effect ; serving the purpose" . Dengan demikian , efektivitas hukum dapat diartikan dengan kemampuan hukum untuk menciptakan atau mela- hirkan keadaan atau situasi seperti yang dikehendaki atau diharapkan oleh hukum.

Dalam kenyataannya. hukum itu ti- dak hanya berfungsi sebagai sosial kontrol , tetapi dapat juga menjalankan

fungsi perekayasaan so sial

(social-engi- neering

atau

instrument of change ).

Dengan demikian , efektivitas hukulll itu dapat dilihat baik dari sudut fungsi

Fcbruari 1987

(4)

60

so sial kontrol maupun dari sudut fung- sinya sebagai alat untuk melakukan perubahan. Faktor-faktor yang da- pat mempengaruhi efektivitas hukurn (Soerjono Soekanto, 1983) itu dapat diperinci sebagai berikut :

1. Faktor hukumnya sendiri;

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak- pihak yang membentuk maupun me- nerapkan hukum;

3. Faktor sarana atau fasilitas yang men- dukung penegakan hukum;

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan;

5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai ha- sil karya, cipta dan rasa yang dida- sarkan pada karsa manusia di dalam pergal.\lan hidup.

Kelima faktor tersebut saling ber- kaitan, sehingga dalam menganalisis efektif tidaknya hukum harus mem- perhatikan keterkaitan faktor-faktor tersebut di atas. Khusus dalam pembi- caraan efektivitas hukum sebagai alat untuk melakukan suatu perubahan, berbagai kondisi yang dikemukakan

oleh William Evan perlu memperoleh perhatian. Kondisi-kondisi tersebut adalah:

1. Apakah sumber hukum yang baru itu memang berwenang dan berwi·

bawa?

(whether

the

source of the

new-law is authoritative and presti- geful);

2. Apakah hukum tersebut secara te- pat telah dijelaskan dan diberi da- sar-dasar pembenar, baik dari sudut hukum maupun dari sudut sosio- historis

(whether

the law is ade-

quately clarified and justified in le- gal, as well as socio-historical term-

as);

3. Apakah model-model ketaatannya dapat dikenali dan dapat dipubli- kasikan (wether'existing models for compliance

can

be identified and

Hukum dan Pembangunan

publicized);

4. Apakah pertimbangan yang tepat mengenai waktu yang diperlukan

t

untuk masa transisi telah diarnbil

(whether

proper

consideration

is given to the amount

of

time re-

quired for the transition);

5. Apakah para penegak hukurn rne- nunjukkan ras keterikatannya pad a kaidah-kaidah yang baru itu(wheth-

er enforcement

agents demonstrate their commitment to the new norms};

6. Apakah sanksi-sanksi, baik yang po- sitif maupun negatif , dapat dijalan- kan untuk mendukung hukum

(whether

positive, as well as nega-

tive sanctions, can be employed to support the law);

7. Apakah perlindungan yang efektif telah diberikan terhadap orang- orang yang mungkin menderita ka- rena adanya pelanggaran terhadap hukum (whether effective protec- tion is provided to those indivi- duals who would suffer from the law's

violation).

Meskipun h\lkum itu tidak hanya undang-undang , dalarn pernbahasan ini sengaja hanya rnenampilkan undang- undang sebagai pusat pembahasan. Se- dangkan yang diartikan sebagai un- dang-undang dalarn tulisan ini adalah (Soerjono Soekanto, 1983) peraturan tertulis yang berlaku umurn dan dibuat oleh penguasa pusat maupun daerah yang sah. Dengan demikian rnencakup:

1. Peraturan pusat yang berlaku untuk sernua warga negara atau suatu go- longan tertentu saja rnaupun yang berlaku urn urn di sebagian at au di seluruh wilayah negara.

2. Peraturan setempat yang hanya ber- laku di suatu tempat atau daerah

(5)

Efehtivitas Huhum

Karena hukum sendiri (baca un- dang-undang) juga berpengaruh terha- dap efektivitas hukum, maka dalam membuat hukum (undang-undang) per- lu diperhatikan beberapa asas perun- dang-undangan yang ada. Hal ini per- lu diperhatikan supaya undang-undang yang dibuat itu dapat memberikan ha- sil atau akibat seperti yang dikehen- daki atau diharapkan, sehingga efek-

tif.

Asas-asas tersebu t adalah :

1. Undang-undang tidak boleh berlaku surut. Arti dari asas ini adalah: un- dang-undang hanya boleh dipergu- nakan terhadap peristiwa yang dise- but dalam undang-undang tersebut, dan yang terjadi setelah undang-un- dang dinyatakan berlaku. Asas ini antara lain terdapat dalam Pasal 3 Algemene Bepalingen van Wetge- ving (AB) yang herbunyi (terje- mahannya): Undang-undang hanya mengikat untuk masa mendatang dan tidak mempunyai kekuatan yang berlaku surut. Pasal 1 ayat I Kitab Undang-undang Hukum Pida- na berbunyi (terjemahannya): Tia- da su"atu peristiwa dapat dipidana kecuali at as dasar kekuatan suatu aturan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelumnya.

2. Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi mempu- nyai kedudukan yang lebih tinggi pula. Sesuai dengan sistem konsti- tusi seperti yang dijelaskan dalam penjelasan Undang-Undang Dasar

1945, Undang-Undang Dasar Re- publik Indonesia 1945 adalah ben- tuk peraturan perundangan yang tertinggi , yang menjadi dasar dan

sumber semua peraturan perun- dang-undangan lainnya. Bentuk- bentuk peraturan perundang-un- dangan Republik Indonesia menu-

61

rut Undang-Undang Dasar 1945 ada- lah sebagai berikut :

Undang-Undang

Dasar 1945 ;

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

Undang-undang / Peraturan Pemerin- tah Penggan ti U ndang -undang;

Peraturan Pemerintah;

Kepu tusan Presiden;

Peraturan-peraturan pelaksanaan la- innya , seperti Peraturan Menteri , Instruksi Menteri , dan seterusnya .

3. Undang-undang yang bersifat khu- sus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum , jika pembuat- nya sarna

(lex specialis derogat lex generalis).

Maksud dari asa s ini ada-

lah, bahwa terhadap peristiwa khu- sus wajib diperlakukan undang- undang yang menyebut peristiwa itu , walaupun untuk peristiwa khusus tersebut dapat pula diper- lakukan undang-undang yang me nyebut peristiwa yang lebih luas atau lebih umum yang dapat juga mencakup peristiwa khusus terse- but.

4. Undang-undang yang berlaku bela- kangan membatalkan undang-un- dang yang berlaku terdahulu

(lex p osteriore derogat lex priori).

Mak-

sud dari asas ini adalah , bahwa un- dang-undang yang lebih dahulu ber- laku di mana diatuj' suatu hal ter- tentu, tidak berlaku jika ada un- dang-undang baru (yang berlaku be- lakangan) yang mengatur pula hal yang tertentu tersebut , akan tetapi makna atau tujuannya berlainan atau berlawanan dengan undang- undang lama tersebut. .

5. Undang-undang tidak dapat digang- gu gugat. Berbeda dengan Undang- Undang Dasar Semen tara 1950 yang secara tegas memuat asas inL

Februari 1987

(6)

62

dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak terdapat satu pasal pun yang memuat asas inL -

6. Undang-undang sebagai sarana un- tuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan material bagi masyarakat mau- pun individu, melalui pelestarian ataupun pembaharuan. Dan agar su- paya undang-undang terse but tidak hanya sekedar huruf mati, maka perlu diperhatikan syarat-syarat ter- . tentu, antara lain:

a. keterbukaan dalam proses pem- buatannya.

b. pemberian kesempatan pada war- ga masyarakat untuk berpartisi- pasi, umpamanya dengan meng- ajukan usul-usul tertentu .

Asas-asas perundang-undangan di atas perlu diperhatikan dalam pe- nyu sun an perundang-undangan, ka-

rena asas-asas tersebut berhubungan dengan berlakunya suatu undang-

undang. Suatu undang-undang diha- rapkan tidak hanya berlaku secara yuridis saja, namun juga berlaku se- cara filosofis dan sosiologis.

Faktor-faktor yang berpengaruh ter- hadap efektivitas hukum itu dapat ber- beda dari satu hukum ke hukum yang lain. Namun demikian, ada faktor-fak- tor yang berciri urn urn yang dapat mempengaruhi efektivitas hukum di-

tinjau dari hukumnya (komponen subs- stansinya) , yang dalam pembahasan ini dibatasi pada hukum perundang-un-

dangan saja. Faktor-faktor tersebut adalah syarat-syarat yang perlu diper- hatikan dalam pembuatan suatu un-

dang-undang, yang melipu ti:

a. Undang-undang harus dirancang se- car a baik, sehingga kaidah-kaidah yang merupakan pedoman atau pa-

Hukum dan Pembangunan

tokan untuk bersikap tindak itu ha- rus (ditulis) jelas dan dapat dipa- hamL

b. Sejauh mungkin undang-undang itu bersifat melarang dan bukan bersi- fat mengharuskan, karena pada umumnya hukum yang bersifat me- larang lebih mudah dijalankan dari- pada hukum yang bersifat meng- ' haruskan.

c. Jika undang-undang tersebut me- muat sanksi, hendaknya sanksi yang diancamkan di dalam undang-un- dang tersebut sesuai dengan sifat undang-undang yang dilanggar.

d. Sanksi yang diancamkan kepada pe- langgar jangan sampai terlalu berat (berlebihan). Adanya sanksi yang berlebihan dapat mengakibatkan ra- sa enggan bagi penegak hukum un- tuk menerapkan sanksi secara kon- sekuen.

e. Adanya kemungkinan untuk meng- amati dan menyelidiki perbuatan- perbuatan atau sikap tindak yang telah dip at oki dan dipedomani oleh kaidah-kaidah dalam undang- undang itu.

f. Hukum yangmengandung larangan- larangan moral cenderung lebih efektif dari hukum yang tidak sela- ras dengan moral.

g. Undang-undang yang telah dibuat perlu "dimasyarakatkan" melalui penyuluhan-penyuluhan yang ter- arah.

Bilamana hal-hal yang diuraikan di atas tidak diperhatikan, (yakni yang berhubungan dengan undang-undang

sebagai komponen substansi dari sis- tern hukum) efektivitas hukum dapat terganggu. Sudah barang tentu syarat- syarat yang menyangkut komponen substansi saja tidaklah cukup dapat menjamin adanya efektivitas hukum

- .

-

(7)

Hulrum dan Pembani/unan

Berbagai faktor yang termasuk dalam komponen struktural besar pula penga- ruhnya terhadap efektivitas hukum.

Mentalitas dan kemampuan para pene- gak hukum

(Sebagai

bagian dari kom- ponen struktural) sudah tentu besar pula pengaruhnya. Demikian juga fasi- lit as yang diperlukan dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai pene- gak hukum perlu pula memperoleh perhatian. Misalnya, apakah telah ter- sedia berbagai saran a pendukung yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan perkembangan masyarakatnya. Sa- rana-sarana ini tetap merupakan alat pendukung, yang pada akhirnya ba- nyak tergantung pada orang-orang yang mengoperasikannya. Bagaim an a- pun canggihnya suatu sistem persen-

'

jataan, orang-orang yang mengoperasi-

kan merupakan faktor yang sangat

penting.

Kemudian, faktor-faktor lain yang berpengaruh pula terhadap efektivitas hukum adalah faktor masyarakat di mana hukum tersebut berlaku. Di da- lam faktor masyarakat ini terdapat apa yang dinamakan budaya hukum

,

yakni sikap-sikap dan nilai-nilai

yang

Bahan Pustaka

63

berkaitan dengan hukum dan sistem hukum serta sikap-sikap dan nilai-ni- lai yang berpengaruh terhadap sikap

tindak dalam hukum

(peristiwa

hu- kum). Oleh Friedman

,

budaya hukum ini dianggap sebagai faktor yang me- nentukan bagaimana sistem hukum memperoleh tempat dalam kerangka

budaya masyarakat

(. ..

which deter- mine the place of the legal system in . the culture of society as whole). Sikap-

sikap dan nilai-nilai yang kita sebut bu- daya hukum seperti yang dijelaskan di atas

,

merupakan

faktor

penggerak dari

(sistem)

pengadilan. Perlu diper-

hatikan bahwa yang dimaksud dengan budaya hukum di sini tidaklah sarna dengan apa yang dinamakan

opini

umum

.

Sebagai kesimpulan

,

dapatlah dije- laskan bahwa efektivitas hukum itu sa- ngat dipengaruhi

oleh

komponen struk-

tural, komponen substansi dan kom- ponen hukum yang ada

.

Ketiga kom- ponen tersebut perlu memperoleh per- hatian jika kita ingin mengadakan studi

ten

tang efektivitas hukum dalam masyarakat.

Friedman, Lawrence M. , "Legal Culture and Social Development" . Law and Society R e- view, (No.1 Aug. 1969).

-

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. Perihal Kaidah Hukum. Bandung: Penerbit Alumni, 1982.

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. Perundang-undangan don Yurisprudensi. Bandung: Penerbit Alumni, 1979.

Schur, Edwin M., Law and Society. New York: Random House, 1968.

Soerjono Soekanto. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: Pidato Pengukuhan (14 Desember 1983).

Turner, Jonathan M. Patterns of Social Organization. New York: McGraw-Hill, 1972.

Februari 1987

Referensi

Dokumen terkait

Penetapan suatu hukum tertentu yang didasarkan pada urf dan telah me– menuhi syarat-syarat sebagai dasar hu – kum, maka kedudukannya sama dengan penetapan suatu hukum

Tidak ada gunanya memberlakukan kaidah-kaidah jika tidak dapat dipaksakan melalui sanksi dan menegakkan kaidah dimaksud secara prosedural (hukum acara). Hakekat sanksi

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penemuan hu- kum (rechtsvinding) dapat dilakukan oleh ha- kim atau aparat penegak hukum dan juga oleh ahli hukum

hu*ungan hukum anta!a manusia dan *adang *adan hukum satu dengan ang lainnna dalam *idang "e!dagangan. Pada mulana kaidah hukum ang dikenal se*agai hukum dagang saat ini

Yang dimaksud dengan kuasa hukum adalah orang perseorangan yang telah mendapat izin menjadi Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak dan memperoleh Surat Kuasa Khusus dari

Penggunaan Feies Emerssen tidak boleh bertentangan dengan sistem hukum yang berlaku (kaidah hukum positif). Penggunaan Feies Emerssen hanya ditujukan demi kepentingan

Prodeo adalah sebuah bantuan hukum atau pelayanan hukum yang diberikan secara cuma-cuma kepada seseorang atau sekelompok orang untuk kepentingan umum atau pihak yang dianggap tidak

Schelten, bahwa pada analisis terakhir semua asas-asas hukum dan kaidah-kaidah hukum tersebut dapat dikembalikan pada satu asas tunggal sebagai asas hukum pokok grondbeginsel, yakni