MANUSIA, MASYARAKAT DAN KAIDAH
Aturan-aturan yang mengatur tingkah laku manusia pada umumnya diciptakan oleh manusia melalui proses interaksi antar manusia dalam interaksi sosial. Namun, begitu aturan-aturan ini ditetapkan, maka aturan-aturan tersebut akan mendominasi kehidupan manusia. Artinya, aturan-aturan ini mempunyai kekuatan obyektif, yaitu berlaku secara umum bagi semua orang dalam komunitas terkait.
Dengan adanya aturan tersebut dan ketaatan anggota masyarakat terhadap aturan tersebut serta ditegakkannya aturan tersebut justru akan tercipta ketertiban dalam masyarakat. Ketertiban masyarakat akan tercermin dari perilaku anggota masyarakat yang berlangsung secara tertentu, yaitu ketaatan terhadap aturan.
HAKEKAT HUKUM BAGI BANGSA INDONESIA
Oleh karena itu, hukum yang dibutuhkan masyarakat Indonesia adalah hukum yang berjiwa Pancasila sebagai pedoman hidup. Asas ini juga merupakan asas mengenai bagaimana menyelenggarakan hubungan antar anggota masyarakat yang mana anggota masyarakat diharapkan berperilaku baik sesuai dengan kenyataan sosial. Berdasarkan asas ini, maka penyelesaian permasalahan konkrit selain harus didasarkan pada pertimbangan kebenaran dan kaidah hukum yang berlaku, juga harus diakomodir dalam proses kemasyarakatan secara keseluruhan dengan memperhatikan perasaan yang benar-benar hidup dalam masyarakat. ...
Oleh karena itu, warga negara dan penegak hukum diharapkan bersikap baik dalam mewujudkan hak dan kewajibannya, sehingga keharmonisan dan kesejahteraan sosial tetap terjaga dan berkembang. Asas kerukunan, asas kepatutan, dan asas kesesuaian sebagai ciri khas hukum yang bernuansa Pancasila dapat dicakup dalam satu istilah, yaitu sifat kekeluargaan.
TUJUAN HUKUM INDONESIA
FUNGSI HUKUM
Nilai-nilai itu sendiri merupakan hasil pengalaman interaksi antar anggota masyarakat dalam proses kehidupan bermasyarakat. Namun begitu suatu sistem nilai terbentuk dan memperoleh stabilitas, maka akan mempengaruhi dan membentuk sikap dan pola perilaku anggota masyarakat. Ketika terjadi perubahan dalam masyarakat terhadap nilai, sikap, dan pola perilaku warga negaranya, maka hukum bertugas memberikan bentuk hukum melalui perubahan dan/atau pembuatan peraturan hukum baru berdasarkan perubahan yang telah terjadi.
Terkait dengan sikap dan pola perilaku yang masih terpaku pada nilai-nilai lama, maka undang-undang diperintahkan untuk mempercepat proses mendidik masyarakat menuju sikap dan pola perilaku yang paling sesuai dengan masyarakat yang kita cita-citakan. Oleh karena itu hukum juga berfungsi untuk secara aktif mempengaruhi perkembangan nilai dan tumbuhnya nilai-nilai sosial budaya baru.
SISTEM HUKUM
- Tinjauan Umum Tentang Sistem
- Teori Sistem Dalam Hukum
- Pengertian Sistem (Tatanan) Hukum
- Unsur-unsur Sistem (Tatanan) Hukum
Istilah “sistem” berasal dari kata “systema” dalam bahasa Yunani yang berarti keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang berbeda. Pandangan ini terdapat pada definisi dan jenis cita-cita yang dikemukakan dalam teori sistem umum, yang merupakan inti gagasan filosofis dan teoretis yang digunakan untuk menemukan apa yang biasa disebut “sistem” dalam berbagai disiplin ilmu. Menafsirkan istilah “sistem hukum” bukan berarti menggabungkan pengertian sistem dan pengertian hukum sebagaimana adanya.
Yang dimaksud dengan istilah “sistem hukum” dalam arti sempit adalah keseluruhan asas dan kaidah hukum, kaidah hukum tertulis dan tidak tertulis, konsep hukum dan keputusan hukum yang disusun dan saling berkaitan, untuk mewujudkan suatu kesatuan yang relatif utuh. Istilah “sistem hukum” dalam arti sempit ini disebut Tatanan Hukum, yang pada dasarnya merupakan produk interaksi antara kesadaran hukum dan proses politik.
STRUKTUR TATA HUKUM
- Cita Hukum
- Asas Hukum
- Kaidah Hukum
- Aturan Hukum Positif
Dalam suatu sistem (tatanan) hukum terdapat kaidah-kaidah tingkah laku yang mendasar, yaitu asas-asas hukum yang berperan sebagai kaidah meta bagi kaidah-kaidah hukum dan sebagai kaidah penilaian terhadap kaidah-kaidah hukum tersebut. Schelten, bahwa pada akhirnya seluruh asas hukum dan kaidah-kaidah hukum dapat dikembalikan kepada satu asas tunggal sebagai asas fundamental, yaitu asas penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia (respectability of the humanbeing).47. Oleh karena itu, asas hukum tersebut merupakan kaidah hukum yang memuat norma-norma.
Sebagai ukuran nilai-nilai asas hukum yang merupakan kaidah tertinggi suatu sistem (tatanan) hukum positif, maka dikatakan asas hukum merupakan landasan dari suatu sistem (tatanan) hukum positif. Prinsip-prinsip hukum terlalu umum dan abstrak untuk memandu tindakan. Terbentuknya peraturan hukum yang tidak berdasarkan asas hukum (konstitutif) akan menghasilkan seperangkat peraturan yang bukan merupakan peraturan hukum substantif, begitu pula proses pelaksanaan peraturan hukum yang tidak dapat ditemukan landasan asas hukumnya (regulatori). akan menghasilkan aturan hukum yang jauh dari tujuan keadilan.53.
Konsistensi material dalam sistem hukum (material systematicity) mengacu pada rangkaian asas-asas hukum yang melandasi dan menjiwai sistem hukum tersebut. Sebab, asas-asas hukum tersebut terkadang terkandung atau terkandung dalam suatu aturan hukum positif. Asas hukum bersifat umum atau abstrak, sedangkan kaidah hukum positif bersifat khusus atau konkrit.
58 Roeslan Saleh, Membangun Cita-cita Hukum dan Menerapkan Asas Hukum Nasional dalam “Majalah Hukum Nasional”. Hal ini secara konsisten menyikapi suatu sistem hukum (ketertiban) dalam suatu sistem hukum (tatanan) dengan memberikan asas-asas hukum. Ketidaklengkapan, ketidakjelasan, atau kekosongan hukum diatasi oleh sistem (tatanan) hukum itu sendiri melalui penemuan hukum berdasarkan asas-asas hukum.
Sebagai ukuran nilai, asas-asas hukum tersebut merupakan kaidah tertinggi dari suatu sistem (tatanan) hukum positif. Oleh karena itu, asas hukum dikatakan sebagai landasan sistem hukum positif (tatanan) atau landasan sistem hukum (tatanan).
SUMBER TATA HUKUM
Sumber Hukum Material
Dalam arti materiil, hukum berarti suatu keputusan pemerintah yang tertulis, yang isinya berlaku umum, yang disebut juga ketentuan hukum. Sedangkan undang-undang dalam arti formal adalah keputusan pemerintah, yang karena tata cara pembentukannya dan bentuk timbulnya disebut undang-undang. Kedua, sumber-sumber yang menjadi bahan pembuat undang-undang untuk membentuk undang-undang.
Termasuk dalam pengertian ini adalah penggunaan sistem hukum (perintah) yang berlaku di negara lain dan sistem hukum (perintah) yang menjadi tempat tumbuhnya hukum positif suatu negara, misalnya hukum positif. hukum perdata adalah sumber langsung yang paling penting dari hukum tersebut. Hukum Hukum Perdata di Indonesia yang merupakan turunan dari Burgerlijk Wetboek Belanda. Yang dimaksud di sini adalah faktor-faktor sosial yang sebenarnya menentukan atau mempengaruhi isi peraturan hukum positif. Faktor sosial tersebut meliputi situasi dan sistem sosial ekonomi, keyakinan agama, dan kondisi budaya secara umum.
Sumber daya sosiologi ini memerlukan pendekatan multidisiplin dan interdisipliner, artinya penelitian terhadap faktor-faktor tersebut memerlukan kerjasama beberapa ilmu lain, misalnya sejarah (sejarah hukum, agama dan ekonomi), psikologi, filsafat dan sebagainya. Dalam filsafat sumber hukum dibedakan lagi menjadi dua, yaitu: Pertama, sumber isi hukum yang dipandang dalam konteks pertanyaan “Kapankah suatu undang-undang atau peraturan hukum dapat dikatakan baik?”. Menurut pandangan yang dulunya sangat tersebar luas dan masih dianut oleh banyak orang hingga saat ini, yaitu bahwa Tuhanlah sumber isi hukum.
Pandangan ini sejalan dengan anggapan bahwa pemerintah yang menetapkan hukum berperan sebagai pengganti Tuhan di dunia. Selanjutnya menurut teori hukum kodrat rasionalis seperti yang diajarkan Hugo de Groot dan para pengikutnya, sumber isi hukum adalah akal (rede). Selanjutnya menurut pandangan yang lebih modern yaitu yang diperkenalkan oleh mazhab sejarah, maka isi hukum itu harus disebut sebagai kesadaran hukum suatu bangsa, atau dengan kata lain pandangan-pandangan yang hidup dalam masyarakat mengenai apa yang disebut dengan hukum. .
Sumber Hukum Formal
Dalam sejarah, konsep sumber hukum mempunyai dua pengertian, yaitu: Pertama, sumber untuk mengetahui hukum dan mengetahui hukum mana (sumber ilmu) yang berlaku pada waktu tertentu di tempat tertentu. Sumber pengenalan hukum dalam sejarah mencakup segala jenis tulisan, misalnya: dokumen, prasasti, dan piagam yang memuat peraturan hukum, keputusan, kontrak tertulis, karya tulis para ahli hukum, novel dan tulisan lainnya, serta tulisan yang tidak sah. sifatnya relevan, sepanjang memuat pernyataan tentang lembaga hukum. Selain itu, hukum Jermanik, Romawi, dan gerejawi merupakan sumber tidak langsung terpenting dari hukum perdata Belanda.
Pandangan-pandangan tersebut bukan sekedar hasil penalaran semata, namun lambat laun tumbuh karena pengaruh berbagai faktor, misalnya agama, ekonomi, politik dan sebagainya. Akibatnya tidak ada ukuran objektif terhadap isi undang-undang tersebut, yaitu yang dapat diterima oleh semua orang berdasarkan landasan ilmiah. Dalam konteks ini yang menjadi pertanyaan adalah “Atas dasar apa warga negara wajib menaati aturan hukum?” atau "Mengapa hukum itu mengikat?".
Kekuatan mengikat suatu aturan hukum tidak semata-mata didasarkan pada kekuasaan yang bersifat memaksa, namun karena didorong oleh keyakinan moral atau agama, maka setiap orang akan taat pada hukum. Sumber hukum formal (Tradisional) umumnya mencakup undang-undang, adat istiadat, perjanjian, kasus hukum dan doktrin atau pendapat para ahli hukum terkemuka.79.
PEMBIDANGAN DALAM HUKUM
BEBERAPA KONSEP YURIDIS
- Hak dan Kewajiban
- Masyarakat Hukum
- Subyek Hukum
- Peristiwa Hukum
- Perbuatan Hukum
- Obyek Hukum
Perbuatan hukum adalah perbuatan subjek hukum yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum yang secara sadar dikehendaki oleh subjek hukum. Unsur perbuatan hukum adalah keinginan dan ungkapan kesengajaan yang secara sadar dimaksudkan untuk menghasilkan akibat hukum. Objek hukum adalah segala sesuatu yang menguntungkan subjek hukum dan dapat dikuasai oleh subjek hukum.89 Objek hukum tersebut terdiri atas benda dan jasa tertentu.
Penalaran hukum adalah proses penggunaan alasan hukum untuk menentukan kedudukan hukum yang dirumuskan dalam keputusan hukum. Arief Sidharta, Penalaran Hukum (tidak diterbitkan) pada mata kuliah “Teori Hukum”, Magister Ilmu Hukum, Program Pascasarjana Unpar, Bandung, Semester Ganjil Tahun Akademik hal. Arief Sidharta, Pengantar Penalaran Hukum (tidak diterbitkan) dalam “Bahan Kajian Penalaran Hukum Mata Kuliah”, Fakultas Hukum Unpar Bandung, hal.
Aturan hukum yang biasa dirumuskan dalam kalimat indikatif, selain mempunyai makna logis, juga sebenarnya mempunyai makna retoris. Aspek retoris penalaran hukum menitikberatkan pada perilaku, pada aktivitas hukum yang mencakup pembentukan hukum dan pengambilan keputusan hukum. Penalaran hukum akan mengacu pada aturan hukum yang telah ditetapkan sebelumnya dan keputusan hukum sebelumnya untuk menjamin stabilitas dan prediktabilitas.
Bahkan terkadang peristiwa hukum yang terjadi sama sekali tidak diatur oleh hukum positif. Dalam penemuan hukum, fokus perhatiannya terutama pada peristiwa-peristiwa konkrit (individu-individu konkrit), pada permasalahan-permasalahan sosial tertentu yang konkrit, yang untuk itu harus dicarikan jalan keluarnya atas dasar (aturan) hukum yang sah. Manusia, Masyarakat dan Aturan (tidak diterbitkan) dalam dikte kuliah “Pengantar Ilmu Hukum”, Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, 1988;
Pengantar Penalaran Hukum (tidak dipublikasikan) dalam “Bahan Kajian Mata Kuliah Penalaran Hukum”, Fakultas Hukum Unpar Bandung, 2003;. Penalaran Hukum (tidak dipublikasikan) pada mata kuliah “Teori Hukum”, Program Studi Magister Hukum, Program Pascasarjana Unpar, Bandung, Semester Ganjil Tahun Akademik 2004-2005;
PENALARAN DAN PENEMUAN HUKUM