EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EKSPERIENTAL LEARNING TERHADAP PENNGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN SISWA
KELAS XI SMA NEGERI 5 BANDA ACEH Skripsi
diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Muliardin 1511010016
PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BINA BANGSA GETSEMPENA
BANDA ACEH
2020
v DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah... 6
1.3 Rumusan Masalah... 6
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
2.1.Deskripsi Teoritik ... 8
2.2.Penelitian Yang Relevan... 27
2.3.Kerangka Pemikiran... 29
BAB III METODELOGI PENELITIAN... 31
3.1.Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 31
3.2.Lokasi dan Waktu Penelitian ... 32
3.3.Populasi dan Sampel Penelitian ... 32
3.4.Instrumen Penelitian ... 33
3.5.Teknik Pengumpulan Data... 33
3.6. Teknik Analisis Data... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 38
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian... 39
4.3. Uji Normalitas Data Test Awal dan Test Akhir... 44
4.4.Pengujian Hipotesis ... 49
4.5.Pembahasan Hasil Penelitian ... 51
vi
BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 54 5.1 Kesimpulan ... 54 5.2 Saran ... 54 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Keterampilan seseorang dalam melakukan komunikasi sangat tergantung pada kemampuan dan keterampilannya dalam berbahasa. Keterampilan berbahasa merupakan patokan utama siswa dalam mempelajari pembelajaran bahasa. Menurut Tarigan (2013:1) keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu 1) keterampilan menyimak (listening skills); 2) keterampilan berbicara (speaking skills);
3) keterampilan membaca (reading skills); dan 4) keterampilan menulis (writing skills). Keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan yang lebih kompleks
dibandingkan dengan keterampilan yang lain.
Keterampilan menulis akan bermanfaat bagi siswa untuk mempermudah dalam menyelesaikan tugas-tugas, bahkan menulis dapat berorientasi pada dunia kerja jika siswa sadar akan pentingnya menulis. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendarini (2016:2) Pembelajaran keterampilan menulis memerlukan perhatian khusus dari guru, sebab keterampilan menulis merupakan salah satu pembelajaran bahasa yang cukup rumit. Seseorang dapat dikatakan terampil menulis apabila ia mampu menyampaikan gagasan (pikiran, pendapat, perasaan, maksud) kepada pembaca sehingga pembaca dapat menangkap gagasan yang dituliskan secara benar, tepat, dan akurat. Keterampilan menulis juga perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan untuk melatih siswa berpikir kritis dalam menanggapi segala sesuatu.
Oleh karena itu, keterampilan menulis harus diajarkan diseluruh jenjang pendidikan.
2
Salah satu keterampilan menulis yang diajarkan pada Sekolah Menengah Atas adalah keterampilan menulis kreatif karya sastra. Keterampilan menulis kreatif karya sastra dalam pelajaran Bahasa Indonesia dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu puisi, Apresiasi drama, dan prosa (fiksi) (Suryaman, 2010:6).
Menurut Pradopo (2009:7) puisi merupakan ekpresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Adapun apresiasi drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Cerita atau kisah, terutama yg melibatkan konflik atau emosi yg disusun untuk pertunjukan teater. Sedangkan prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksitalnya. Prosa juga merupakan karya sastra yang berbentuk tulisan bebas yang tidak terikat oleh kaidah yg terdapat dalam puisi. Bebas artinya prosa tidak terikat dengan aturan–aturan tulisan seperti rima, diksi, i r a m a , d a n lain- lain prosa terbagi dua yaitu prosa lama (Dongeng, cerita rakyat, kisah, riwayat, dan hikayat), dan prosa baru (novel, roman, biografi, dan cerpen) (Nurgiantoro, 2013:45).
Lahirnya sebuah karya sastra tidak jarang melibatkan emosi seorang penulis. Hal tersebut juga dapat diterapkan dalam salah satu keterampilan menulis kreatif karya sastra, yaitu menulis cerita pendek. Menulis cerita pendek memiliki tujuan agar siswa dapat mengekspresikan gagasan, pendapat, dan pengalamannya dalam bentuk sastra tertulis yang kreatif.
3
Sayuti (2009:9) mengemukakan cerita pendek merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Dalam sebuah cerita pendek hanya dijumpai satu insiden utama yang menguasai jalan cerita, hanya ada seorang pelaku utama, dan jalan ceritanya padat. Tidak berbeda jauh dengan pendapat sebelumnya, (Wiyatmi, 2009:28) mengemukakan bahwa cerita pendek termasuk teks naratif yang tidak bersifat dialog dan yang isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadir cerita.
Kemampuan menulis cerita pendek tidak muncul begitu saja, tetapi membutuhkan proses latihan dan praktik yang terus menerus. Dalam menulis cerita pendek yang menarik, siswa juga membutuhkan pengetahuan dan imajinasi yang cukup. Akan tetapi, kegiatan menulis cerita pendek belum sepenuhnya terlaksana dengan baik, sebab siswa masih menganggap jika menulis merupakan kegiatan yang sulit dan membosankan.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada guru Bahasa Indonesia kelas XI SMA Negeri 5 Banda Aceh, diperoleh informasi bahwa siswa masih mengalami kesulitan saat menulis cerita pendek. Hal ini dibuktikan dengan tidak tercapainya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 70. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa kendala, diantaranya siswa mengalami kesulitan dalam mencari dan mengembangkan ide cerita, siswa menganggap pembelajaran menulis cerita pendek membosankan, guru seringkali menggunakan model
4
pembelajaran konvensional. Selain itu, siswa belum dilibatkan secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
Problematika menulis senantiasa berpangkal dari model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Menurut Cahyani (2012: 66) model pembelajaran menulis di sekolah masih menggunakan model pemberian tugas yang dapat menyebabkan siswa merasa bosan dengan model belajar yang demikian. Selain itu, model pembelajaran yang konservatif dan tradisional harus diubah. Menulis bukan belajar teori melainkan membangkitkan inspirasi, gagasan, kegiatan meneliti, dan menerapkannya dalam bentuk pengalaman. Dengan demikian, dibutuhkan pemilihan model yang tepat dalam pembelajaran menulis. Melalui model tersebut diharapkan siswa tidak lagi menemukan kesulitan dan rasa bosan dalam pembelajaran menulis.
Disinilah perlu adanya upaya peningkatan kemampuan menulis cerita pendek pada siswa dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat, agar siswa lebih terlibat secara aktif selama proses pembelajaran dan mampu memudahkan siswa dalam mencari ide cerita. Salah satu alternatifnya, yaitu dengan menggunakan model Eksperiental Learning. Model Experiential Learning memudahkan siswa dalam
menuangkan pengetahuan yang diperolehnya. Siswa diajak terjun ke lapangan untuk memperoleh pengalaman dan menuangkan hasil pengalamannya dalam bentuk tulisan. Siswa harus terbiasa dengan lingkungan sebagai sarana belajar. Model Experiential Learning tidak hanya memberikan wawasan pengetahuan konsep- konsep saja tetapi memberikan pengalaman kepada siswa. Pengalaman tersebut merupakan suatu kenyataan hidup yang dapat menjadi renungan, bahan
5
perbandingan, dan pengetahuan bagi orang lain apabila pengalaman itu dituliskan (Cahyani, 2012:174).
Model Eksperiental Learning merupakan model yang cocok digunakan dalam keterampilan menulis cerita pendek karena model ini menuntut siswa untuk mengolah pengalamannya sesuai imajinasi, kreativitas, dan keterampilan masing- masing siswa dengan menggali lebih lanjut pemikiran siswa tanpa ada efek yang membahayakan yang dapat dituangkan pada bentuk tulisan. Ciri-ciri model ini menurut Hosnan (2014:379) yaitu, siswa akan terlibat langsung dengan proses pembelajaran berdasarkan apa yang dialaminya, gagasan yang diperoleh siswa lebih efektif untuk menerima materi pembelajaran, selain itu belajar pada hakikatnya melalui sebuah proses.
Kelebihan dari model Eksperiental Learning adalah membantu terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif, meningkatkan semangat dan gairah siswa, membuat suasana pembelajaran nyata atau langsung dalam proses pembelajaran, dan membantu mengembangkan proses berfikir kreatif. Selain itu, model Eksperiental Learning sesuai digunakan dalam menyampaikan materi pembelajaran di Sekolah
Menengah Atas.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan menggunakan model Eksperiental Learning karena model tersebut dapat memicu siswa untuk menarik pengetahuan dan keterampilannya dari pengalaman. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Eksperiental Learning terhadap
6
Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Banda Aceh”.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah penelitian sebagai berikut:
1. Siswa mengalami kesulitan saat menulis cerita pendek dalam hal dalam mencari dan mengembangkan ide cerita
2. Siswa menganggap pembelajaran menulis cerita pendek membosankan
3. Kurangnya minat dan antusias siswa dalam hal menulis, khususnya penulisan cerita pendek.
4. Siswa belum dilibatkan secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung 5. Belum bervariasinya model-model pembelajaran baru yang diterapkan
dalam pembelajaran penulisan cerita pendek.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah apakah penerapan model Eksperiental Learning berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Negeri 5 Banda Aceh.
1.4 Tujuan Penulisan
Merujuk pada rumusan masalah di atas, adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Eksperiental Learning terhadap peningkatan kemampuan menulis cerpen siswa kelas XI SMA Negeri 5 Banda Aceh.
7
1.5 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi Guru
Diharapkan guru memperoleh model baru yang inovatif serta kreatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran penulisan cerita pendek, supaya dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dan menghasilkan keluaran yang baik bagi sekolah, khususnya SMA Negeri 5 Banda Aceh;
2. Bagi Siswa
Penerapan model Eksperiental Learning diharapkan mampu memberikan pengalaman dan pengetahuan baru dalam menulis cerita pendek serta dapat menjadi alternatif dalam mengembangkan ide secara lebih maksimal;
3. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk meningktakan kualitas pembelajaran di XI SMA Negeri 5 Banda Aceh dan menghasilkan output siswa yang lebih berkualitas.
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)