Repo klasik adalah transaksi pasar uang dimana bank syariah meminjam dana dari Bank Indonesia yang dijamin dengan surat berharga syariah, akad yang digunakan adalah qard diikuti dengan rahn. Sedangkan repo jual/beli adalah transaksi jual beli surat berharga syariah di pasar uang dengan syarat surat berharga yang dijual dibeli kembali oleh penjual dengan harga dan waktu yang disepakati. Dalam transaksi Repo Syariah jenis ini, BUS (Bank Umum Syariah) atau UUS (Unit Usaha Syariah) meminjam dana dari Bank Indonesia dengan agunan (collateralized borrowing) surat berharga Syariah.
Dalam transaksi repo syariah jenis ini, BUS atau UUS menjual surat berharga syariah kepada Bank Indonesia dengan ketentuan pembelian kembali surat berharga tersebut pada waktu yang telah ditentukan dan harga yang telah ditetapkan. Berdasarkan uraian di atas, repurchase agreement atau biasa disebut repo adalah suatu jenis transaksi jual beli yang terjadi di pasar uang dengan syarat penjual berjanji untuk membeli kembali surat berharga yang dijualnya dengan harga dan waktu yang telah disepakati sebelumnya. . Untuk short sale syariah, surat berharga yang diterbitkan dalam short sale adalah surat berharga yang diterbitkan dengan prinsip syariah.
Jual/beli kembali Repo adalah jual beli surat berharga syariah antara Bank Indonesia dengan bank syariah tempat bank menjual surat berharga tersebut. Transaksi repo syariah menggunakan surat berharga yang diterbitkan sesuai dengan prinsip syariah yaitu Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Penjual kemudian menjual efek tersebut pada tanggal penyelesaian penjualan sebesar nilai transaksi penjualan efek tersebut.
Penjual wajib menyediakan surat berharga sesuai dengan nilai nominal, jenis dan seri yang telah disepakati dalam rekening surat berharga penjual di Bank Indonesia. 17/42/DPM tanggal 16 November 2015 tentang Tata Cara Transaksi Perjanjian Pembelian Kembali Sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan Bank Indonesia dalam rangka Instrumen Syariah Tetap, h. 4-6. Dari sisi pemberi pinjaman, Bank Indonesia menjalankan tugasnya sebagai bank sentral dengan meminjamkan dana sebagai agunan.
Dana yang diberikan Bank Indonesia kepada bank syariah sesuai dengan nilai surat berharga yang diagunkan. Jenis transaksi repo yang kedua adalah sell/bley back, pada jenis ini bank syariah menjual surat berharga kepada Bank Indonesia tetapi ada. Sehingga ketika bank syariah melakukan repo surat berharganya, Bank Indonesia secara otomatis membeli surat berharga tersebut sehingga uang beredar meningkat.
Bank syariah menjual surat berharga kepada Bank Indonesia dengan syarat Bank Indonesia harus menjual kembali kepada bank syariah sebesar harga beli dan margin. Dalam melakukan transaksi repo ini tidak ada unsur gharar (ketidakjelasan) atau riba karena objek jual beli sudah jelas berupa surat berharga dan dimiliki sepenuhnya oleh Bank Syariah. Kajian Repurchase Agreement (REPO) Fatwa No. Dewan Syariah Nasional: 94/DSN-MUI/IV/2014 tentang Repurchase Agreement (REPO) Surat Berharga Syariah.
17/42/DPM tanggal 16 November 2015 tentang Tata Cara Transaksi Repo Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan Bank Indonesia dalam rangka Standing Facilities Syariah.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
Metodologi Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis
JUAL BELI DAN EKONOMI ISLAM
Rukun Jual Beli
Jual beli memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli dapat dikatakan sah menurut hukum, adapun rukun jual beli antara lain: 31. Jual beli tidak dikatakan sah sebelum adanya persetujuan dan kabul dilakukan, karena ijab dan kabul menunjukkan kerelaan (kepuasan). Adanya nilai tukar pengganti barang, yaitu sesuatu yang memenuhi tiga syarat, yaitu mampu menyimpan nilai (store of value), mampu menilai atau menilai suatu barang (unit of account), dan mampu menggunakan Sebagai sebuah alat. pertukaran.
Syarat-syarat Sah Jual Beli
Tidak ditentukan batas waktu, tidak sah menjual barang untuk jangka waktu tertentu yang diketahui atau tidak diketahui. Syarat-syarat yang berkaitan dengan barang yang diperjualbelikan yaitu benda tersebut harus suci (tidak halal menjual barang najis seperti anjing, babi dan lain-lain), memberikan keuntungan, tidak tunduk atau bergantung pada hal lain (seperti izin Ayah). , saya akan menjual motor ini untuk anda) , tidak terbatas waktu (seperti menjual motor ini milik selama setahun, maka penjual tidak berlaku karena jual beli adalah salah satu dasar kepemilikan penuh yang tidak terbatas. dengan apapun kecuali ketentuan syara boleh disampaikan dengan cepat atau lambat, tidak halal menjual hewan yang lolos dan tidak dapat dirampas kembali, milik sendiri, dan dapat dilihat, jumlah, berat, takaran atau takaran lain yang diketahui.
Dasar Hukum Jual Beli
Maksudnya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling menikmati harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kamu. Dari Ibnu Umar, dia berkata: "Ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah (SAW) yang tertipu dalam jual beli, maka Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang kamu ajak untuk berjual beli, katakanlah kepadanya: 'Hendaklah ia tanpa tipu daya. (dalam jual beli).'" Sejak dia berniat untuk melakukan transaksi jual beli, dia berkata: Tidak ada penipuan dalam jual beli." (HR Muslim). Hannad memberitahu kami, Abdah bin Sulaiman memberitahu kami dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah RA berkata bahwa "Rasulullah SAW melarang dua akad dalam proses jual beli" Sahih Misikat ( 2868) dan Al Irwa' (5/149) (H.R. Tirmidzi).
34; Tidak halal jual beli dengan syarat diberi hutang, dua syarat dalam jual beli dan untung sesuatu yang bukan disebabkan." (H.R. An-Nesai).
Jual Beli yang Dilarang
34. Tidak halal jual beli dengan syarat diberi hutang, dua syarat dalam jual beli dan untung dari sesuatu yang tidak ditanggung. 42. Para ulama telah membagi syarat-syarat dalam berbagai transaksi jual beli menjadi syarat-syarat yang disyariatkan dan yang tidak.
Maka ulama Malikiyah melarang jual beli dengan syarat jika syarat tersebut bertentangan dengan akibat jual beli atau merugikan harga jual. Mazhab Hanbaliyah melarang jual beli dengan syarat jika syaratnya bertentangan dengan akibat perjanjian atau menghilangkan akibat dan syarat yang membuat jual beli menjadi tanggungan, sedangkan ulama Hanafiyah melarang jual beli dengan syarat jika syarat tersebut tidak termasuk dalam akad. . kontrak. 55 Abdullah Al-Mushlih dan Shalah Ash-Shawi, Fiqh ekonomi keuangan, h. 4) Makna dari dua akad dalam satu kegiatan jual beli adalah untuk memberikan syarat bagi akad yang lain dalam satu transaksi jual beli yang terjadi.
Oleh itu harga akad jual beli tidak jelas kerana seratus yang diterima adalah pinjaman ('ariyah). Larangan memungut salaf dan jual beli dalam satu akad untuk mengelakkan terjerumus ke dalam riba yang diharamkan.
Ekonomi Islam
- Tujuan Ekonomi Islam
- Prinsip Ekonomi Islam
Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam bertujuan untuk mencapai kemakmuran ekonomi dan kebaikan masyarakat melalui distribusi sumber daya material secara adil dan melalui pelaksanaan keadilan sosial. Salah satu tujuan penting dari sistem ekonomi Islam adalah menyediakan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan bagi seluruh warga negara Islam. Sistem ekonomi Islam menjamin tersedianya kebutuhan pokok bagi setiap orang yang membutuhkannya melalui sistem jaminan sosial yang komprehensif.
Salah satu tujuan utama dari sistem ekonomi Islam adalah untuk menjaga keadilan sosial-ekonomi di antara semua anggota masyarakat. Untuk membuat distribusi sumber daya ekonomi yang adil dan merata, Sistem Ekonomi Islam menetapkan sistem zakat dan sedekah yang rinci. Dengan demikian, sistem ekonomi Islam melalui zakat, sedekah, dan sarana lain untuk membantu orang miskin menciptakan keharmonisan sosial dan meningkatkan persaudaraan di antara lapisan masyarakat.
Tujuan penting dari sistem ekonomi Islam adalah untuk mencegah penimbunan dan memastikan sirkulasi aset yang berkelanjutan yang dapat dicapai melalui zakat, amal serta warisan dan hukum wasiat. 82 Mohamed Aslam Haneef, Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer: Analisis Komparatif Terpilih, diterjemahkan oleh Suherman Rosyidi, dari judul asli Pemikiran Ekonomi Muslim Kontemporer: Analisis Komparatif, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), hal.
HASIL REPO DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
Jenis Transaksi Repo
Pihak yang melakukan Repo
Surat Berharga yang diRepokan
Transaksi repurchase agreement yang selanjutnya disebut Repo SBIS adalah transaksi pinjaman dari Bank Indonesia kepada BUS atau UUS dengan agunan SBIS (secured borrowing). Repo SBSN adalah transaksi penjualan SBSN oleh bank syariah Bank Indonesia dengan janji akan membelinya kembali sesuai harga dan jangka waktu yang disepakati dalam kerangka standar syariah. A. Dalam transaksi repo klasik, bank syariah meminjam dana dari Bank Indonesia (menggunakan akad qard), kemudian bank syariah harus memberikan surat berharga sebagai agunan/jaminan atas dana yang diterimanya (menggunakan akad rahn).
Hal ini dilakukan untuk meminimalisir default loss yang dialami Bank Indonesia dari bank syariah. Saat mengembalikan uang dari Bank Syariah ke Bank Indonesia, harus ada biaya tambahan yang harus dibayarkan. Repo klasik sangat berguna bagi Bank Syariah dalam mengatasi masalah likuiditas, karena alat ini memungkinkan Bank Syariah untuk meminjam uang dari Bank Indonesia sebagai jaminan surat berharga syariah.
Mekasnisme Repo
Tinjaua Ekonomi Islam Terhadap Repurchase Agreement (Repo)