• Tidak ada hasil yang ditemukan

Essay Sisitem Peradilan Pidana

N/A
N/A
Malik Fahad

Academic year: 2024

Membagikan "Essay Sisitem Peradilan Pidana"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ESSAY

KOMPONEN PENEGAKAN HUKUM Malik Fahfad _210111100272

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 1. PENDAHULUAN

Penegakan hukum dalam istilah lain disebut dengan law enforcement merupakan sebuah mekanisme untuk merealisasikan kehendak pembuat Perundang – Undangan yang dirumuskan dalam produk hukum tertentu.1 Penegakan hukum sejatinya tidak hanya dipahami dalam arti penegakan undang – undang saja, akan tetapi merupakan sebuah proses untuk mewujudkan maksud pembuat Undang – Undang.2 Penegakan hukum hendaknya di lihat sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses social maupun yang harus menerima pembatasan – pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan.

Pada prinsipnya proses penegakan hukum tetap mengacu pada nilai – nilai dasar yang terdapat dalam hukum, seperti kepastian hukum (rechtssicherheit) kemanfaatan hukum (zweckmassigkeit), dan keadilan (gerechtigheit), ketiga unsur itulah yang harus dipenuhi dalam proses penegakan hukum sekaligus menjadi tujuan utama penegakan hukum.3 Hukum itu harus di laksanakan dan di tegakkan. Setiap orang mengarap di tetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa yang konkrit. Bagaimana hukum itu harus berlaku sebenarnya dan tidak boleh menyimpang : Fiat Jutitia et pereat mundus ( meskipun langit akan runtuh hukum harus di tegakkan ). Begitulah yang di inginkan oleh kepastian hukum itu sendiri. Bahwa seseorang akan memperoleh sesuatu yang di harapkan pada keadaan tertentu, masyarakat mengharap akan kepastian hukum itu sendiri karna dari situ masyarakat akan lbeih tertib.

1 Diintisarikan dari buku karangan Satjipto Raharjo, 2005, Masalah Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung: Sinar Biru, hal. 24. Bandingkan dengan Barda Nawawi Arif, 2001, Masalah Penegakan Hukum Dan Penanggulangan Kejahatan, Bandung: Citra Aditya Bakti, hal.22. pengertian yang berbeda diungkapkan oleh Sudarto, 1981, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, hal. 112. Baginya penegakan hukum merupakan proses penerapan hukum yang dilakukan oleh aparat eksekusi, polisi, jaksa, hakim dan pemerintah.

2 Op. Cit.,hal. 14.

3 Diintisarikan Dari Buku Karangan Sudikno Mertokusumo, 2003, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar.

Yogyakarta: Liberty, hal. 122.

(2)

Sebaliknya masyaraka mengharap mendapat manfaat dalam pelaksanaan penegakan hukum. Hukum adalah untuk manusia, oleh sebab itu adanya huukm tadi harus memberikan manfaat kepeda manusia. Sedangkan unsur ketiga adalah keadilan. Dalam unsur ini hukum harus membawa keadilan di tengah-tengah kepentingan setiap individu, hukum itu bersifat umum, mengikat setiap orang, dan bersifat menyamaratakan. Barang siapa yang mencuri harus di hukum.

Kalau dalam penegakan hukum hanya memperhatikan unsur kepastian saja maka akan mengorbankan unsur – unsur yang lainnya dan begitupun sebaliknya. Dalam proses penegakan hukum harus ada kompromi dari ketiga unsur tersebut. Ketiga unsur tersebut harus memperoleh perhatian secara proporsional seimbang, akan tetapi dalam praktek snagat sulit untuk bisa berkompromi dan mendapatkan perhatian secara proporsionalitas tersebut.

2. ISI

Berbicara tentang pengaruh hukum sebagai suatu sistem terhadap proses penegakan hukum hukum kiranya kita perlu melihat pula faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. Dalam usaha untuk menjawab mengapa upaya penegakan hukum di Indonesia selalu mengalami hambatan dalam pelaksanaanya. Ada baiknya kita melihat masalah ini dengan menggunakan teori Sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman4, antara lain:

1. Legal Substance (Substansi Hukum), yang mana sistem ini adalah peraturanperaturan yang di pakai oleh para pakar pelaku hukum pada waktu melakukan perbuatan- perbuatan serta hubungan-hubungan hukum.

2. Legal Structure (Struktur Hukum), yang mana sistem ini adalah pola yang memperlihatkan tentang bagaimana hukum itu dijalankan menurut ketentuanketentuan formalnya oleh apara penegak hukum.

3. Legal Culture (Budaya Hukum), yang mana sistem ini merupakan suasana pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari atau disalahgunakan. Keadaan budaya hukum ini tercermin pada masyarakat kita yang biasanya enggan untuk berurusan dalam suatu perkara dengan aparat penegak hukum.

4 Baca lebih lanjut Lawrence M. Friedman, 1975, The Legal System A Social Science Perspective, Russel Sage Foundation, New York, hlm. 14.

(3)

Achmad Ali selain mengutip pendapatnya Lawrence M. Friedman tentang 3 unsur dalam sistem hukum di atas juga memberikan penambahan sehingga berjumlah 5 dalam unsur sistem hukum yaitu:5

1. Struktur, yaitu keseluruhan institusi-institusi hukum yang ada beserta aparatnya, mencakupi antara lain kepolisian dengan para polisinya, kejaksaan dengan para jaksanya, pengadilan dengan para hakimnya dan lain sebagainya;

2. Subtansi, yaitu keseluruhan atauran hukum, norma hukum dan asas hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, termasuk putusan pengadilan;

3. Kultur hukum, yaitu opini-opini, kepercayaan-kepercayaan (keyakinankeyakinan), kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak, baik dari penegak hukum maupun dari warga masyarakat, tentang hukum dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum;

4. Profesionalisme, yang merupakan unsur kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok penegak hukum;

5. Kepemimpinan, juga merupakan unsur kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok-sosok penegak hukum, utamanya kalangan petinggi hukum.

Kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan kemampuan pemimpin untuk melakukan komunikasi yang optimal, sehingga dia mampu membangun trust dan kepercayaan. Komunikasi hukum dan sosialisasi hukum adalah sub-elemen dari elemen kepemimpinan dalam suatu sistem hukum. Dengan kata lain, komunikasi hukum dan sosialisasi hukum merupakan faktor yang sangat esensial bagi efektifitas hukum. Secara umum dikatakan bahwa melalui komunikasi, seorang pemimpin ataupun penegak hukum, membangun trust dari masyarakatnya. Dalam kaitannya dengan trust dan hukum, masyarakat dapat dibedakan ke dalam good trust society dan bad trust society.

Berbicara tentang komponen penegakan hukum mana yang lebih efektif sebenarnya in merupakan suatu sistem yang saling berjalan beiringan dengan keseluruhan. Artinya tidak boleh mendikrediktkan satu di antara tiga komponen itu, ketiga -tiga nya harus bejalan seimbang.

Dalam hal kenyataanya prosentase paling banyak citra buruknya di masyarakat adalah aparat penegak hukum. Meskipun di atas sudah di sebutkan komponen ini merupakan suatu

5 Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk

Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hlm. 203.

(4)

sistem, akan tetapi ada yang paling parah dari ketiga komponen tersebut, yaitu aparat penegak hukumnya sendiri yang seharusnya menjadi contoh terhadap masyarakat tetapi malah membuat kepercayaan masyarakat semakin hilang.

3. Penutup

Model dan karakter hukum di Indonesia harus mampu mengakomodasi nilainilai dan budaya yang berkembang dalam masyarakat dan tetap mengacu pada cita hukum Indonesia serta pemahaman tentang kepastian hukum hendaknya tidak sekedar dipahami sebagai kepastian undang-undang melainkan dipahami juga sebagai kepastian rasa keadilan dalam masyarakat yang tidak diabaikan dalam setiap kebijakan dan keputusan para penegak hukum. Di dalam penegakan hukum, tidak boleh memandang pasal-pasal dalam undang- undang sebagai pasal yang berdiri sendiri, terpisah dari sistem hukumnya, asas hukumnya dan rasa keadilan dalam masyarakat. Oleh karena itu harus memandang hukum sebagai suatu sistem yang utuh.

Mengenai hal di atas, hukum di Indonesia harus bisa mencerminkan hukum yang sesuai dengan kultur dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia dan perlu adanya perubahan karakter hukum dari kolonial menjadi Hukum yang berkarakter keIndonesiaan.

Penegak hukum harus mempunyai jiwa yang bersih dan berwibawa, serta mempunyai dedikasi yang tinggi dengan landasan moral, etika dan profesi yang baik dan bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum.

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Satjipto Raharjo, 2005, Masalah Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung:

Sinar Biru, hal. 24.

Sudikno Mertokusumo, 2003, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty, hal.

122.

Lawrence M. Friedman, 1975, The Legal System A Social Science Perspective, Russel Sage Foundation, New York, hlm. 14.

Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hlm. 203.

Referensi

Dokumen terkait

kerja dan daya paksa dari peraturan perundang-undangan yang ada baik melalui penegakan hukum pidana maupun melalu i penegakan hukum perdata. Khusus untuk skripsi ini

(2) Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum terhadap tindak pidana penyuapan pada penerimaan anggota Satpol PP Lampung Barat adalah: a) Faktor perundang-undangan,

Sementara Panel Tematik membahas 4 (empat) tema yaitu; Panel pertama bertema Uji Implementasi Rancangan KUHP terhadap Peraturan Perundang- undangan dan Hukum Acara Pidana;

Penyelesaian kasus pidana cepat dan biaya murah telah dirumuskan dalam Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman yang menghendaki agar pelaksanaan penegakan hukum di

menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan senjata api dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dimana dalam penegakan

Formulasi kebijakan pidana denda dan uang pengganti dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi di indonesia dilihat dari dua sisi, yaitu ; Pertama , sisi peraturan perundang

(2) Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum terhadap tindak pidana penyuapan pada penerimaan anggota Satpol PP Lampung Barat adalah: a) Faktor perundang-undangan,

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum terhadap perbuatan tindak pidana pelaku perusakan lahan tambang di Kalimantan Selatan tidak terletak pada regulasi