JURNAL PEMBELAJARAN MODUL 3
FILOSOFI PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN NILAI
“FILSAFAT PANCASILA DAN PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN NASIONAL”
DISUSUN OLEH :
NAMA : ESTRARIA DAELI, S.Pd NOMOR UKG : 201800327905
NIM : 2480307520
LPTK : UNIVERSITAS TIDAR
UNIVERSITAS TIDAR
PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) TERTENTU
2025
A. Filsafat Pancasila sebagai Landasan Filosofi Pendidikan Indonesia
Setelah mempelajari Modul 3 Topik 1, saya semakin menyadari bahwa Pancasila bukan hanya landasan negara, tetapi juga jiwa dan falsafah yang harus merasuki seluruh aspek pendidikan Indonesia. Landasan ini dapat diimplementasikan sebagai berikut dalam konteks pembelajaran IPA kelas VII tentang "Penggolongan Makhluk Hidup":
1. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa: Mengajak siswa untuk menghargai dan mensyukuri atas keanekaragaman makhluk hidup sebagai hasil karya Tuhan Yang Maha Esa mengawali proses pembelajaran. Proses pengelompokan tumbuhan dan hewan membantu kita memahami keagungan dan keteraturan Sang Pencipta.
2. Sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Siswa terbiasa bekerja dalam kelompok, membagi tugas secara adil, menghargai pendapat orang lain, dan berbicara dengan sopan ketika tidak sependapat. Lebih jauh, materi ini menumbuhkan rasa hormat terhadap alam, khususnya rasa kewajiban untuk menjaga keberlanjutan makhluk hidup.
3. Sila ketiga Persatuan Indonesia: Saya tegaskan bahwa kekayaan dan pemersatu negara Indonesia adalah keanekaragaman hayati (flora dan fauna) yang diteliti. Mempelajari spesies asli dari berbagai daerah, seperti Cendrawasih di Papua dan Komodo di NTT, dapat menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air.
4. Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Proses klasifikasi secara sederhana di kelas dilakukan melalui diskusi kelompok. Peserta didik bermusyawarah untuk menentukan dasar pengelompokan makhluk hidup, mendengarkan argumen teman, dan mengambil keputusan bersama secara bijaksana.
5. Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Setiap peserta didik, tanpa memandang latar belakangnya, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, bereksplorasi, dan menyampaikan gagasannya. Saya akan memastikan sumber belajar (gambar atau spesimen awetan) dapat diakses oleh semua kelompok secara adil.
B. Filosofi Pendidikan Indonesia Berdasarkan Pokok Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) Pemikiran KHD membuka mata saya bahwa pendidikan sejatinya adalah proses "menuntun" segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang1 setinggi-tingginya. Relevansinya dengan pembelajaran Klasifikasi Makhluk Hidup adalah:
1. Pendidikan yang Menuntun: Peran saya bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang "mencekoki" siswa dengan taksonomi Linnaeus. Sebaliknya, saya adalah seorang fasilitator (pamong) yang menuntun mereka untuk menemukan sendiri konsep klasifikasi. Saya akan membiarkan mereka mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri yang mereka amati terlebih dahulu, kemudian menuntun mereka menuju konsep klasifikasi ilmiah yang lebih sistematis.
2. Menyesuaikan dengan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman:
• Kodrat Alam: Peserta didik kelas 7 memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang dengan hal-hal konkret. Karena itu proses pembelajaran akan menggunakan media pembelajaran berupa gambar, video, atau bahkan pengamatan secara langsung di lingkungan sekolah. Ini sesuai dengan kodrat mereka yang masih dalam tahap perkembangan operasional konkret.
• Kodrat Zaman: Di era digital, saya akan mengintegrasikan teknologi, misalnya menggunakan aplikasi identifikasi tumbuhan atau mengajak mereka membuat kunci dikotom sederhana dalam bentuk bagan digital.
3. Trilogi Pendidikan (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani):
• Di depan, memberi teladan: Saya mencontohkan cara mengamati ciri-ciri makhluk hidup secara teliti dan sistematis.
• Di tengah, membangun semangat: Saya akan berkeliling di setiap kelompok, memotivasi, dan memberikan pertanyaan pemantik saat mereka berdiskusi.
• Di belakang, memberi dorongan: Saya memberikan kebebasan kepada kelompok untuk mempresentasikan hasil klasifikasi versi mereka, lalu memberikan apresiasi dan penguatan konsep di akhir sesi.
C. Rancangan Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik dengan Menerapkan Pokok- Pokok Pikiran Ki Hadjar Dewantara
Judul Kegiatan:
"Detektif Keanekaragaman Hayati: Mengungkap Rahasia Klasifikasi Makhluk Hidup di Sekitar Kita"
Tujuan: Peserta didik dapat membuat bagan klasifikasi sederhana berdasarkan ciri-ciri morfologi makhluk hidup melalui kerja kelompok yang kolaboratif dan kritis.
Langkah-langkah Pembelajaran:
1. Awal (Menuntun & Kodrat Alam):
• Pembelajaran dibuka dengan menunjukkan beragam gambar hewan dan tumbuhan yang familiar bagi siswa (misalnya: kucing, ayam, pohon mangga, rumput, ikan mas, kupu-kupu).
• Pertanyaan pemantik: "Jika kalian diminta merapikan semua gambar ini ke dalam beberapa album, bagaimana cara kalian mengelompokkannya? Apa dasar pengelompokan kalian?"
2. Inti (Ing Madyo Mangun Karso & Berpusat pada Peserta Didik):
• Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-5 orang).
• Setiap kelompok mendapatkan set gambar makhluk hidup yang lebih beragam (termasuk hewan vertebrata, invertebrata, tumbuhan berbiji, dan paku-pakuan).
• Tugas: Secara berkelompok, diskusikan dan buatlah sebuah "peta" atau "bagan"
pengelompokan (klasifikasi) berdasarkan ciri-ciri yang kalian amati. Berikan alasan untuk setiap pengelompokan.
• Guru berkeliling, bertanya, memfasilitasi diskusi, dan memastikan semua anggota aktif (membangun semangat).
3. Akhir (Tut Wuri Handayani & Penguatan):
• Setiap kelompok menempelkan hasil karyanya di dinding ("Gallery Walk").
• Perwakilan kelompok berdiri di dekat karyanya, sementara anggota lain berkeliling untuk melihat dan bertanya pada kelompok lain.
• Guru memberikan apresiasi atas semua hasil kerja keras siswa (memberi dorongan).
• Sebagai penutup, guru bersama siswa menyimpulkan konsep dasar klasifikasi (misalnya, perbedaan hewan dan tumbuhan, vertebrata dan invertebrata) dengan merujuk pada hasil karya siswa, lalu mengenalkan konsep kunci dikotom sebagai alat bantu para ilmuwan.
D. Keberagaman Nilai yang Muncul Berlandaskan Nilai-nilai Keindonesiaan Dari rancangan pembelajaran di atas, nilai-nilai yang diharapkan muncul adalah:
1. Religius: Tumbuhnya rasa syukur atas kekayaan ciptaan Tuhan.
2. Gotong Royong: Terlihat jelas dalam kerja kelompok yang kolaboratif untuk memecahkan masalah.
3. Bernalar Kritis: Muncul saat siswa menganalisis ciri-ciri makhluk hidup dan menentukan dasar pengelompokannya.
4. Kreatif: Terlihat dari beragamnya bentuk bagan klasifikasi yang dihasilkan oleh setiap kelompok.
5. Mandiri: Siswa didorong untuk menemukan pengetahuannya sendiri, tidak hanya menerima dari guru.
6. Kebinekaan Global: Mengenal bahwa keanekaragaman hayati adalah kekayaan dunia, yang di Indonesia sangat melimpah, menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab global.
E. Refleksi Diri
Sebelum mempelajari modul ini, saya cenderung mengajar klasifikasi dengan metode ceramah dan langsung memberikan bagan taksonomi yang sudah jadi. Saya berfokus pada "apa" yang harus dihafal siswa, bukan "mengapa" dan "bagaimana" konsep itu ditemukan.
Setelah refleksi, saya sadar bahwa pendekatan tersebut mematikan nalar kritis dan kreativitas siswa.
Filosofi KHD menyadarkan saya bahwa tugas saya adalah menuntun, bukan memaksa. Saya harus lebih mempercayai kemampuan siswa untuk membangun pemahamannya sendiri. Tantangan terbesar bagi saya adalah mengubah kebiasaan menjadi "pusat pengetahuan" dan berani memberikan
"panggung" yang lebih besar bagi siswa untuk bereksplorasi, bahkan jika prosesnya terlihat sedikit
"berantakan" pada awalnya.
F. Umpan Balik Rekan Sejawat
G. Dokumentasi
H. Rencana Tindak Lanjut
Berdasarkan refleksi diri dan umpan balik dari rekan-rekan, saya akan:
1. Segera: Memperbaiki RPP dengan menambahkan alokasi waktu yang detail untuk setiap tahapan kegiatan, terutama saat "Gallery Walk", seperti saran dari Rekan Bpk Filzar Dakhi.
2. Jangka Pendek (Minggu Depan): Menyiapkan set gambar makhluk hidup dan lembar kerja siswa (LKS) yang berisi pertanyaan pemantik, sesuai masukan Rekan Ibu Ris. Laia, untuk memfasilitasi kelompok yang membutuhkan arahan lebih.
3. Saat Pelaksanaan: Berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia (saran Rekan Ibu Ester Dakhi) dengan mengingatkan siswa untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar saat presentasi, dan menjadikannya salah satu poin penilaian soft skill.
4. Jangka Panjang: Mencoba menerapkan pendekatan "menuntun" ini pada materi-materi IPA lainnya, seperti Ekosistem atau Zat dan Perubahannya, dengan menyesuaikan aktivitas sesuai kodrat alam dan kodrat zaman siswa.