• Tidak ada hasil yang ditemukan

Factors Affecting Stock Returns in Indonesian Food & Beverage Manufacturing Companies (2013-2018)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Factors Affecting Stock Returns in Indonesian Food & Beverage Manufacturing Companies (2013-2018)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 4, nomor 1, hal. 1-17

Coresponding author:

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham

(Studi Kasus Pada Perusahaan MAnufaktur Sektor Food and Beverages yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2018)

Anni Lutfiani

1)

, Yanto

2)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara1)2) [email protected]1), [email protected]2)

Abstract

Opportunities for investment in food and beverage companies are very promising, because seen from sales turnover, food and beverage companies always experience an increase, of course this is very attractive for investors to invest their capital. The purpose of this study is to determine the effect of ROA, ROE, NPM, EPS, PER and DER on Manufacturing Companies in the Food and Beverages sector on the Indonesia Stock Exchange. The type of research used in this research is quantitative data. The dependent variable in this research is Stock Return. The independent variables in this study are: Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER). The population taken in this study was obtained from manufacturing companies in the food and beverages sector listed on the Indonesia Stock Exchange starting from 2013 to 2018 with a total of 29 companies. The results showed that the independent variables, namely ROA, ROE, NPM, EPS, PER and DER simultaneously affected the dependent variable of stock returns.

This means that if the variables ROA, ROE, NPM, EPS, PER and DER if there is an increase or decrease, it will have an impact on increasing and decreasing stock returns listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013 - 2016.

Keywords: Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Net Profit Margin (NPM), Stock Return, Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE)

Abstrak

Peluang untuk investasi pada perusahaan makan dan minuman sangat menjanjikan, karena dilihat dari omzet penjualan Pada perusahaan makanan dan minuman selalu mengalami kenaikan, tentu hal ini sangat menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER Pada Perusahaan Manufaktur sektor Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupada data kuantitatif. Variabel dependen dalam penelilian ini yaitu Return Saham. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Rati (DER). Populasi yang diambil dalam penelitian ini diperoleh dari perusahaan manufaktur sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dimulai tahun 2013 hingga 2018 sejumlah 29 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan variabel independen yaitu ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen return saham. Hal tersebut berarti apabila variabel ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER jika mengalami perubahan kenaikan maupun penurunan maka akan berdampak pada kenaikan dan penurunan return saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 – 2016.

Kata Kunci: Debt to Equity Rati (DER), Earning Per Share (EPS), Net Profit Margin (NPM), Return Saham, Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE)

ISSN: 2548-5644 (online)1693-8275 (Print) DOI: -

(2)

PENDAHULUAN

Peluang untuk investasi pada perusahaan makan dan minuman sangat menjanjikan, karena dilihat dari omzet penjualan Pada perusahaan makanan dan minuman selalu mengalami kenaikan, tentu hal ini sangat menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya. Dimana investor dapat melihat perusahaan-perusahaan yang profit sehingga investor tertarik untuk melakukan investasi, tujuan utama dari investor yaitu mencari perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik sehingga investor dapat memperoleh keuntungan (return) yang didapat dari penanaman investasi.

Keuntungan investasi di pasar modal dapat dilihat melalui perolehan return atas saham yang dipilih. Return diperoleh dari hasil investasi (Jogianto, 2008). Untuk memprediksi return saham banyak faktor yang dapat digunakan sebagai parameter. Untuk keperluan tersebut investor memerlukan alat ukur yang memadai terhadap proyeksi keuntungan (return) perusahaan di masa mendatang dengan tingkat probabilitas yang berbeda-beda. Salah satu faktor dari alat ukur ini adalah informasi keuangan dari perusahaan tersebut. Untuk mengetahui apakah informasi keuangan yang dihasilkan sudah dapat bermanfaat untuk memprediksi harga atau return saham di pasar modal, termasuk kondisi keuangan perusahaan di masa depan, yaitu dengan cara melakukan analisis rasio keuangan.

Bagi perusahaan-perusahaan yang go public diharuskan menyertakan rasio keuangan yang relevan sesuai dengan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 (BEJ). Rasio keuangan yang dapat digunakan untuk memprediksi return saham antara lain Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) Dan Debt to Equity Ratio (DER). Enam rasio ini digunakan bagi investor yang membutuhkan informasi jangka pendek (Samsul, 2006).

Rasio keuangan yang perlu diketahui oleh para calon investor, yaitu Return On Assets (ROA) yang menggambarkan tingkat laba yang diperoleh perusahaan dengan tingkat investasi yang ditanamkan. ROA digunakan untuk menggambarkan sejauh mana kemampuan aset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba (Tandelin, 2001).

Return on Equity (ROE) juga merupakan salah satu rasio yang digunakan dalam penelitian ini, dimana ROE digunakan investor untuk mengetahui kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya (Robert, 1997).

Rasio keuangan yang ketiga dalam penelitian ini adalah Net Profit Margin (NPM). NPM merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (NIAT) terhadap penjualan (sales). Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih dengan total penjualan yang dapat diperoleh dari setiap rupiah penjualan (Rajio suwahyono & hening widi oetomo, 2003). NPM semakin meningkat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan keuntungan yang diperoleh pemegang saham akan meningkat pula (Robert, 1997).

Earning Per Share (EPS) merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham perusahaan. Bagi para investor, informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan berguna, karena bisa menggambarkan prospek perusahaan masa depan (Eduardus Tandelin, 2001). EPS menunjukkan tingkat keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar saham. Semakin besar EPS menyebabkan semakin besar laba yang diterima pemegang saham, hal tersebut menunjukkan semakin baik kondisi operasional perusahaan (Darmadji, 2006).

Pendekatan PER merupakan pendekatan yang lebih popular dipakai di kalangan analisis saham dan para praktisi. Price Earning Ratio (PER) adalah cara mengukur seberapa besar investor menilai laba yang dihasilkan perusahaan. PER dapat menjadi indikator pertumbuhan laba dan mengindikasikan pertumbuhan laba di masa yang akan datang. PER paling lazim digunakan dan diperhatikan oleh investor.

Rasio lain yang juga dapat mempengaruhi return suatu saham adalah Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang mengukur kemampuan kinerja perusahaan dalam mengembalikan hutang jangka panjangnya dengan melihat perbandingan antara total hutang dengan total ekuitasnya (Robert, 1997). Rasio ini dapat memberikan gambaran

(3)

mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat dilihat tingkat risiko tidak terbayarkan suatu hutang (Suharli, 2005).

Dari penelitian terdahulu penulis menemukan adanya gap variabel ROA, dan ROE tidak berpengaruh terhadap return saham. Dalam penelitian Safitri (2012) secara simultan ROA tidak memiliki pengaruh secara signifikan. Sedangkan dalam penelitian Gd Gilang (2015) secara parsial ROA dan EPS secara signifikan berpengaruh positif terhadap return saham. Dalam penelitian (Retnasari, 2018) NPM memiliki pengaruh terhadap return saham, dimana hasil dari penelitian secara parsial NPM berpengaruh terhadap return saham. Hasil penelitian dari Pibrianti Dahlia Lastria Simanjuntak (2014) menunjukkan dimana variabel ROA, EPS dan NPM secara simultan dan parsial tidak memiliki pengaruh terhadap return saham. Sedangkan dalam penelitian Arisa Nurlitasari (2015) EPS dan PER berpengaruh signifikan terhadap return saham.

Dengan adanya gap yang mendukung penelitian ini, maka dengan demikian penelitian ini layak untuk diteliti kembali. Dengan demikian peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)” Dengan periode pengamatan tahun 2013 sampai 2014.

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Robert (1997) Return Saham adalah Keuntungan yang diperoleh investor atas investasi yang dilakukannya. Tujuan utama dari investor yaitu mencari keuntungan atau return.

Tanpa adanya tingkat keuntungan tentunya investor tidak akan melakukan investasi. Menurut Tandelin (2001) Return Saham merupakan keuntungan yang diterima oleh investor sebagai imbalan atas keberaniannya mengambil resiko dalam investasi yang dilakukannya.

Menurut Jogiyanto (2013) Return saham dibagi menjadi dua jenis yaitu: (1) Return Realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Dalam perhitungannya return realisasi menggunakan data historis dimana data yang diperoleh dari periode sebelumnya. Data historis digunakan oleh investor untuk mengukur kinerja perusahaan. Return realisasi dapat juga untuk menentukan return ekspektasi (expected return) dan resiko yang akan diperoleh dimasa yang akan datang. (2) Return Ekspektasi (expected return) merupakan return yang diharapkan oleh investor atas suatu investasi yang akan diperoleh dimasa yang akan datang. Return ekspektasi digunakan untuk mengambil keputusan atas investasi yang akan dilakukan oleh investor.

Menurut Hanafi (2002) Return on asset (ROA) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan tingkat aset tertentu. Untuk mengukur tingkat pengembalian investasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya. ROA dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, dimana jika nilai ROA tinggi menunjukkan efisiensi manajemen asset pada suau perusahaan. Menurut (Munawir, 2001) Keunggulan return on asset diantaranya adalah sebagai berikut : ROA dapat dengan mudah dihitung dan dipahami; ROA dapat digunakan pada setiap bagian atau unit yang bertanggung jawab pada profitabilitas perusahaan; ROA sebagai alat kontrol seluruh laporan keuangan dan juga dapat digunakan untuk kepentingan perencanaan; Sebagai tolak ukur atas keberhasilan manajemen dalam mengelola asset untuk memperoleh laba; Mendorong perusahaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut Mamduh (2004) Return On Eqiuty (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih setelah pajak berdasarkan modal. ROE merupakan salah satu alat ukur investor untuk menggambarkan besarnya tingkat pengembalian investasi. Return on Equity (ROE) yang tinggi melihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi pula bagi pemegang saham. Semakin tinggi perusahaan memberikan keutungan bagi pemegang saham, maka saham tersebut banyak diinginkan untuk dibeli. Dengan demikian maka Return on Equity (ROE) akan mempengaruhi perubahan harga saham. Semakin tinggi resiko, maka return yang diharapkan juga akan semakin tinggi (Robert, 1997).

Menurut Suharjono (2006) Net Profit Margin adalah rasio yang digunakan untuk

(4)

(sales) Net profit margin digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih. (Ridwan, S. S., & Inge, 2002) Net Profit Margin ialah rasio yang digunakan untuk mengetahui berapa besar presentase penjualan yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya, pengeluaran bunga dan pajak. (Riyanto, 2001) Besar kecilnya profit margin pada setiap transaksi sales ditentukkan oleh 2 faktor, yaitu net sales dan laba usaha. Besar kecilnya laba usaha atau net operating income tergantung kepada pendapatan dari penjualan (sales) dan besarnya biaya usaha (operating expenses).

Earning Per Share adalah rasio yang menunjukkan keuntungan (Return) yang diperoleh investor per lembar saham. EPS menunjukkan return yang dapat diperoleh investor per lembar saham yang dimiliki investor selama satu periode, (Darmadji, 2006). Menurut (Hanafi, Mamduh, M., & Abdul, 1995), Earning Per Share (EPS) dapat digunakan untuk beberapa macam analisis yaitu dapat digunakan untuk menganalisis profitabilitas suatu saham oleh para analis surat berharga, EPS mudah dihubungkan dengan harga pasar suatu saham.

Menurut Jogiyanto (2009) Price Earning Ratio merupakan indikator dalam menentukan harga saham yang dinilai terlalu rendah (undervalued) atau terlalu tinggi (over valued) sehingga dapat menentukan kapan membeli atau menjual saham diwaktu yang tepat. Harga saham dipengaruhi oleh tingginya minat investor untuk melakukan investasi suatu diperusahaan, harga saham yang semakin tinggi akan menarik investor untuk melakukan investasi karena tingginya harga saham akan mempengaruhi capital gain. Perusahaan yang memiliki PER tinggi akan lebih mudah dalam meningkatkan perusahaan.

Menurut Fakhrudin, sopian (2001) Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang membandingkan total hutang (Debt) dengan modal (Ekuitas) perusahaan yang digunakan sebagai sumber pendanaan operasional perusahaan. DER menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban atau hutang. Besarnya nilai DER mencerminkan banyaknya hutang yang dimiliki oleh perusahaan, jadi semakin rendahnya nilai DER maka akan semakin baik kinerja keuangan perusahaan.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Teoritis METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupada data kuantitatif, yaitu data yang berbentu angka atau bilangan. Adapun data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang sudah diolah yang bersumber dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Data sekunder dalam penelitian ini yaitu data perusahaan

(5)

manufaktur poada sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013 - 2018 yang berupa laporan keuangan. Data yang digunakan diperoleh dari website www.idx.co.id.

Menurut Sugiyono (2011) Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang diambil dalam penelitian ini diperoleh dari perusahaan manufaktur sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dimulai tahun 2013 hingga 2018. Dari populasi yang ada sejumlah 29 perusahaan manufaktur sektor food and beverages dan akan digunakan sejumlah tertentu sebagai sampel.

Sampel adalah sebagian dari subyek dalam populasi yang di teliti, yang mampu secara representativ dapat mewakili populasi (Sabar, 2007). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil setelah memenuhi kriteria yang berlaku dari penerapan definisi operasional variabel.

Variabel penelitian merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dengan memanipulasi, mengontrol atau mengobservasi dalam penelitian (Adiyanti, 2015). Dalam penelitian, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua variabel yaitu variabel dependen (dependent variable) dan variabel independent (independent variable). Variabel dependen dalam penelilian ini yaitu Return Saham. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS), Price Earning Rati (PER), Debt to Equity Rati (DER).

Return saham menggambarkan hasil yang diperoleh investor dari aktivitas investasi yang telah dilakukan selama periode waktu tertentu. Return saham dapat dihitung dengan membandingkan harga saham periode awal dengan harga saham periode akhir. Secara matematis return saham dapat dirumuskan sebagai berikut, (Jogiyanto, 2003)

P

it

– P

it- 1

R

it

=

P

it- 1

Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengetahui mengetahui kemampuan perusahaan dalam meperoleh laba dari investasi yang berupa asset. ROA diperoleh dengan cara membandingkan antara net income after tax (NIAT) terhadap average total asset. ROA dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Net Income After Tax

ROA =

Average Total Asset

Return On Equity merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal untuk menunjukkan tingkat % (presentase) yang dihasilkan suatu perusahaan dalam memperoleh keuntungan. (Riyadi 2006:155). Untuk menentukan nilai ROE dapat dihitung melalui rumus sebagai berikut:

Net Income After Tax

ROE = X 100%

Total Equity

Net Profit Margin (NPM) digunakan untuk mengukur kemapuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bersih terhadap total penjualan yang dicapai. Adapun rumus yang digunakan dalam menghitung NPM sebagai berikut :

Net Income After Tax

NPM =

Sales

Earning Per Share yaitu rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor per lembar saham yang dimiliki. (Darmadji, 2006). Untuk menghitung EPS

(6)

dapat dilakukan dengan membandingkan antara laba bersih dengan jumlah saham beredar. Dengan rumus sebagai berikut:

Laba bersih EPS =

Jumlah saham beredar

Price Earning Ratio merupakan indikator dalam menentukan harga saham dengan membandingkan antara harga saham dengan pendapatan setiap lembar saham. (Jogiyanto, 2009).

PER dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Harga saham PER =

Laba per lembar saham

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur utang (Liability) dengan modal (Equity). Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung DER sebagai berikut:

Total utang DER =

Total modal

Teknik dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria pengambilan sampel sebagai berikut : (1) Perusahaan manufaktur pada sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kurun waktu tahun 2013-2018 sejumlah 29 perusahaan. (2) Perusahaan manufaktur sektor food and beverages yang menyampaikan laporan keuangan berturut- turut yang berisi data informasi yang dapat digunakan dalam penelitan ini serta laporan keuangan tersebut telah diaudit.

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu dengan studi pustaka dan dokumentasi. Untuk mengelola data, peneliti menggunakan bantuan SPSS yakni dengan analisis regresi linear berganda.

HASIL

Deskripsi Variabel

Return On Asset (ROA)

Semakin tinggi nilai ROA yang dihasilkan perusahaan maka semakin baik kinerja perusahaan dalam perolehan laba bersih dari asset.

Tabel 1. Return On Asset (ROA)

Uraian N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

ROA 90 -.07400 .31200 .0644111 .07870281

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai ROA keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 0,0644111. Perusahaan sampel yang mempunyai nilai rata-rata ROA tertinggi yaitu Delta Djakarta, Tbk dengan angka sebesar 0,31200 sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata ROA terendah yaitu Inti Agri Resources, Tbk dengan angka sebesar -0,07400.

(7)

Return On Equity (ROE)

Semakin besar nilai ROE artinya tingkat pengembalian yang diharapkan investor juga besar. Oleh sebab itu investor kemungkinan akan mencari saham ini hingga menyebabkan permintaan bertambah.

Tabel 2. Return On Equity (ROE)

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

ROE 90 -.25200 .57100 .1008111 .12487458

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai ROE keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 0,1008111. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata ROE tertinggi yaitu Sekar Laut, Tbk dengan angka sebesar 0,57100 sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata ROE terendah yaitu Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk dengan angka sebesar -0,25200.

Net Profit Margin (NPM)

Apabila nilai NPM pada perusahaan tinggi maka perusahaan tersebut dapat dikatan perusahaan yang memiliki kinerja baik dan perusahaan yang produktif. Maka jika nilai dari net profit margin (NPM) naik akan berpengaruh terhadap tingginya pengembalian return saham pada pihak investor.

Tabel 3. Net Profit Margin (NPM)

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

NPM 90 -.81800 .95300 .0259778 .23354156

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai NPM keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 0,259778. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata NPM tertinggi yaitu Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk dengan angka sebesar 0,95300 sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata NPM terendah yaitu Inti Agri Resources, Tbk dengan angka sebesar - 0,81800.

Earning Per Share (EPS)

EPS digunakan untuk menghitung besaran pengembalian (return) yang diperoleh investor per lembar sahamnya yang dicapai oleh perusahaan pada tahun 2013 sampai 2018.

Tabel 4. Earning Per Share (EPS)

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

EPS 90 -171,4700 17.621,0000 514,7703 2.521,2794

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai EPS keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 514,7703. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata EPS tertinggi yaitu Delta Djakarta Tbk dengan angka sebesar 17.621,0000 sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata EPS terendah yaitu Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk dengan angka sebesar -171,4700.

Price Earning

Ration (PER)
(8)

Tingkat harga saham dipengaruhi oleh tingginya minat investor untuk melakukan investasi disuatu perusahaan. Tingginya nilai saham akan menarik investor karena harga saham yang tinggi akan mempengaruhi pengembalian (return).

Tabel 5. Price Earnig Ratio (PER)

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

PER 90 -948,86400 727,27300 9,1967444 151,45266712

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai PER keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 9,1967444. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata PER tertinggi yaitu Bumi Teknokulture Unggul, Tbk dengan angka sebesar 727,27300, sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata PER terendah yaitu Inti Agri Resources Tbk dengan angka sebesar -948.86400.

Debt to Equity Ratio (DER)

Besarnya nilai DER menunjukkan kinerja perusahaan yang buruk, tingginya nilai DER mencerminkan banyaknya hutang yang dimiliki perusahaan. Jadi semakin rendah nilai DER maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan.

Tabel 6. Debt to Equity Ratio (DER)

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

DER 90 -1,52600 5,20100 1,0083111 .89014599

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai DER keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 1,0083111. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata DER tertinggi yaitu Bumi Teknokulture Unggul, Tbk dengan angka sebesar 5,20100, sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata DER terendah yaitu Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk dengan angka sebesar -1,52600.

Return Saham

Return Saham merupakan keuntungan yang diperoleh investor dari hasil kepemilikan saham yang berupa deviden dan capital gain atau loss yang diperoleh investor dari tahun 2013 sampai tahun 2018.

Tabel 7. Return Saham

Urain N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Return Saham 90 .10600 79,59200 3,5345222 9,15957995

Sumber : Output SPSS 2020

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai Return Saham keseluruhan perusahaan sampel secara rata-rata adalah 3,5345222. Dari sampel perusahaan yang mempunyai nilai rata-rata Return saham tertinggi yaitu Delta Djakarta, Tbk dengan angka sebesar 79,59200, sedangkan perusahaan sampel dengan nilai rata-rata Return Saham terendah yaitu Budi Starch & Sweetner Tbk dengan angka sebesar 0,10600.

(9)

Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Digunakan untuk menguji kaitannya pada model Regresi, variabel Residual memiliki hasil normal.

Gambar 2. Grafik Normal Probability Plot Sumber: Output SPSS 2020

Dengan melihat tampilan grafik di atas grafik normal plot dapat disimpulkan bahwa pada titik menyebar sekitar garis diagonalnya dan mengikuti arah garis diagonalnya, maka model regresi dinyatakan memenuhi asumsi normalitas.

Tabel 8. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 64

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 5844.14496457 Most Extreme Differences

Absolute .160

Positive .151

Negative -.160

Kolmogorov-Smirnov Z 1.277

Asymp. Sig. (2-tailed) .077

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai test Kolmogorov Smirnov adalah 0,77 dan nilai Asmp. Sig. (2-Tailed)> 0,05. Maka hal tersebut menyatakan Ho diterima memiliki arti data residual terdistribusi normal. Dengan begitu model regresi layak digunakan sebagai penelitian.

Uji Heteroskedastisitas

Pada uji Heteroskedastistas digunakan sebagai menguji apakah di dalam model regresi terdapat atau mungkin adanya suatu indikasi terjadinya ketidaksamaan variance dari residual pengamatan ke pengamatan lain secara tetap.

(10)

Gambar 3. Sactterplot Uji Heteroskidastistas

Sumber: Output SPSS 2019

Dari grafik Scatterplot dapat diketahui bahwa titik-titik menyebar secara acak atau membentuk suatu pola yang teratur dari angka 0 sumbu Y. Maka dapat disimpulkan bahwa dikatakan tidak memiliki heteroskedastistas pada model regresi, maka layak untuk dipakai sebagai prediksi pada variabel dependen berdasarkan pada variabel independen.

Tabel 9. Uji Glejser

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 3,626 1,631 2,223 ,029

ROA -10,816 18,781 -,093 -,576 ,566

ROE -3,587 11,561 -,049 -,310 ,757

NPM -1,359 4,406 -,035 -,309 ,758

EPS ,002 ,000 ,669 7,335 ,000

PER ,000 ,005 ,003 ,032 ,974

DER -,249 ,945 -,024 -,263 ,793

a. Variabel Dependen: Return Saham Sumber: Output SPSS 2020

Berdasarkan uji Glejser pada tabel di atas memiliki perolehan dengan hasil nilai signifikan dan variabel independen ROA sebesar 0,566 lebih besar dari > 0,05. Variabel ROE memiliki nilai signifikan sebesar 0,757 lebih besar dari > 0,05, variabel NPM memiliki nilai signifikan sebesar 0,758 lebih besardari > 0,05, Variabel EPS memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari

< 0,05.Variabel PER memiliki nilai signifikan sebesar 0,974 lebih besar dari > 0,05, Variabel DER memiliki nilai signifikan sebesar 0,793 lebih besar dari > 0,05 Maka dapat disimpulkan bahwa variabel indepeden yang antara lain ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER menunjukan semua variabel independen signifikan secara statistik terhadap variabel dependen Return saham nilai absolute Ut dan dinyatakan tidak terjadi heteroskedastistas pada model regresi.

Uji Multikolonieritas

Uji Multikolonieritas tujuanya untuk membentuk pengujian dari model regresi antara variabel bebas yakni (ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER) dalam model regresi.

(11)

Tabel 10. Uji Multikolinieritas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics B Std.

Error Beta Tolerance VIF

1

(Constant) -,241 ,225 -1,071

ROA ,102 ,126 ,182 ,808 3,594 ,278 3,594

ROE -,033 ,127 -,052 -,257 2,871 ,348 2,871

NPM -,170 ,096 -,283 -1,771 1,819 ,550 1,819

EPS ,111 ,050 ,367 2,210 1,965 ,509 1,965

PER ,094 ,095 ,145 ,990 1,515 ,660 1,515

DER ,069 ,086 ,115 ,804 1,457 ,686 1,457

a. Variabel Dependen: Return Saham (Y) Sumber: Output SPSS 2019

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER memiliki nilai Tolerance 0,278, 0,348, 0,550, 0,509, 0,660 dan 0,686. Maka menunjukan ke enam variabel tersebut memiliki nilai dibawah 10. Kemudian perhitungan nilai VIF menunjukan tidak adanya nilai dari variabel independen yang melebihi angka 10. Hal tersebut disimpulkan tidak terjadi Multikolonieritas antara variabel independen dalam model regresi.

Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi digunakan untuk mengetahui adanya autokorelasi dalam suatu model regresi. Uji autokorelasi dilakukan melalui pengujian terhadap nilai uji Durbin Watson (Uji DW), sebagai berikut:

Tabel 11. Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 ,358a ,128 ,044 ,24493 2,156

a. Predictors: (Constant), DER, PER, NPM, EPS, ROE, ROA b. Dependent Variable: Res_2

Hasil uji regresi melalui SPSS versi 20 yang terlihat pada tabel di atas menghasilkan nilai Durbin Watson sebesar 2,156 disimpulkan bahwa ada autokorelasi.

Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan sebagai alat untuk mengetahui bahwa besarnya pengaruh variabel ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER terhadap Return saham perusahaan manufaktur sektor food and beverages di Bursa Efek Indonesia.

Tabel 12. Hasil Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 3,626 1,631 2,223 ,029

(12)

ROA -10,816 18,781 -,093 -,576 ,566

ROE -3,587 11,561 -,049 -,310 ,757

NPM -1,359 4,406 -,035 -,309 ,758

EPS ,002 ,000 ,669 7,335 ,000

PER ,000 ,005 ,003 ,032 ,974

DER -,249 ,945 -,024 -,263 ,793

a. Variabel Dependen: Return Saham (Y) Sumber: Output SPSS

Maka berdasarkan tabel diatas, persamaan pada Regresi Linier Berganda sebagai berikut, yakni :

Return saham = 3,626 + -10,816ROA + -3,587ROE + -1,359NPM + 0,002EPS + 0.000PER + - 0,249DER + e

Dimana nilai konstanta Return saham sebesar sebesar 3,626 artinya bahwa jika nilai variabel bebas (X) nilainya 0 maka variabel terikat (Y) nilainya sebesar 3,626. Koefisien regresi variabel bebas bernilai positif semua. Apabila bernilai positif, maka hal ini membuktikan kontribusinya terhadap harga saham, artinya bahwa return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 – 2018 dapat dipengaruhi oleh ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER.

Uji Signifikan Simultan (Uji-F)

Uji F dilakukan untuk melihat apakah dari variabel ROA (X1), ROE (X2), NPM (X3), EPS (X4), PER (X5) dan DER (X6) berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat yakni pada Return Saham (Y).

Tabel 13. Hasil Uji F

ANOVAa

Model Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 3059,555 6 509,926 9,603 ,000b

Residual 4407,358 83 53,101

Total 7466,914 89

a. Dependent Variable: Return Saham

b. Predictor: (Constant) ROA, ROE, NPM, EPS, PER, DER Sumber: SPSS

Maka dengan begitu berdasarkan tabel diatas dapat diketahui dengan nilai Fhitung sebesar 9,603 dengan nilai Ftabel 3,58. Jadi nilai Fhitung lebih besar dari pada Ftabel yakni sebesar 9,603 > 3,58 dan untuk nilai signifikan 0,000. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER bertindak secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Variabel Return Saham.

Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Pada uji parsial (uji – t) digunakan untuk menunjukan seberapa jauh pengaruh antar variabel independen yakni ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER terhadap variabel dependen yakni Return Saham.

(13)

Tabel 14. Hasil Uji t

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 3,626 1,631 2,223 ,029

ROA -10,816 18,781 -,093 -,576 ,566

ROE -3,587 11,561 -,049 -,310 ,757

NPM -1,359 4,406 -,035 -,309 ,758

EPS ,002 ,000 ,669 7,335 ,000

PER ,000 ,005 ,003 ,032 ,974

DER -,249 ,945 -,024 -,263 ,793

a. Dependent Variable: Return Saham Sumber: Output SPSS

Koefisien Determinasi (R Square)

Koefisien Determinasi (R2) adalah seberapa jauh dalam mengukur secara terpisah adanya suatu dampak variabel bebas yaitu ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER terhadap variabel terikat, yaitu Return saham.

Tabel 15. Nilai Koefisien Determinasi Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,640a ,410 ,367 7,28702290

a. Presictors : (Constant), DER, NPM, ROE, EPS, ROA, PER Sumber: Output SPSS

Tabel diatas menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0,410. Hal tersebut menjelaskan 41% variasi dari Return saham dapat dijelaskan melalui regresi ini.

Sedangkan pada sisanya yaitu sebesar 69% dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian ini.

PEMBAHASAN

Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap Return Saham

Hasil perhitungan uji parsial diperoleh nilai thitung sebesar -0,093 dengan tingkat signifikansi sebesar -0,576 maka dapat disimpulkan ROA tidak memiliki pengaruh parsial terhadap return saham sehingga dapat dijadikan pertimbangan perusahaan dalam pengambilan keputusan perhitungan return saham serta nantinya dapat pula dijadikan pertimbangan bagi investor dalam pengambilan investasi.

ROA merupakann hasil dari laba bersih yang berbanding terbalik dengan keseluruhan aktiva untuk menghasilkan laba perusahaan (Kasmir, 2012) Signifikannya ROA menunjukkan bahwa investor dalam melakukan investasi di Bursa Efek perlu memperhitungkan variabel ROA untuk memprediksi laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan.

Pengaruh Return On Equity terhadap Return Saham

Hipotesa kedua mengatakan bahwa variabel ROE tidak memiliki hubungan positif karena memiliki nilai koefisien regresi -3,587. Namun hipotesa kedua tidak memiliki pengaruh terhadap return saham (Y) di Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki thitung sebesar -0,310 dimana thitung <

(14)

sebesar 0,757 dimana lebih besar dari tarafnya yaitu 0,025. Terdapat hubungan yang tidak searah antara ROE dengan variabel yang dipengaruhi yaitu return saham(Y).

Penelitian ini mendukung dan sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (Nurlitasari, 2015) yang menyatakan bahwa ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (Juwita, 2012) dimana hasil penelitian mengatakan bahwa ROE berpengaruh signifikan secara individu (parsial) terhadap return saham (Y). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak, artinya bahwa variabel ROE merupakan bukan faktor menjadi patokan utama yang mempengaruhi return saham.

Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Return Saham

Hipotesa ketiga mengatakan bahwa variabel NPM tidak memiliki hubungan positif karena memiliki nilai koefisien regresi -1,359. Namun hipotesa ketiga tidak memiliki pengaruh terhadap return saham (Y) di Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki t hitung sebesar -0,309 dimana t hitung< t

tabel yaitu 2,26216 artinya Ha ditolak. Selain itu hipotesa ketiga juga memiliki nilai signifikasi sebesar 0,758 dimana lebih besar dari tarafnya yaitu 0,025.Terdapat hubungan yang tidak searah antara NPM dengan variabel yang dipengaruhi yaitu return saham.

Penelitian ini mendukung dan sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (Simanjuntak, P. D., & Linda Sari, 2015) yang menyatakan bahwa NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (Savitri, 2012) dimana hasil penelitian mengatakan bahwa NPM memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham (Y). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak, artinya bahwa variabel NPM merupakan bukan faktor menjadi patokan utama yang mempengaruhi return saham.

Pengaruh Earning Per Share Terhadap Return Saham

Hipotesa ketiga mengatakan bahwa variable EPS tidak memiliki hubungan positif karena memiliki nilai koefisien regresi 0,002. Namun hipotesa keempat ini memiliki pengaruh terhadap return saham (Y) di Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki t hitung sebesar 7,335 dimana t hitung > t

tabel yaitu 2,26216 artinya Ha diterima. Selain itu hipotesa keempat juga memiliki nilai signifikasi sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari tarafnya yaitu 0,025. Terdapat hubungan yang searah antara EPS dengan variabel yang dipengaruhi yaitu return saham.

Penelitian ini mendukung dan sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (Nurlitasari, 2015) yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap return saham.

Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (L.

Retnasari, 2018) dimana hasil penelitian mengatakan bahwa EPS tida terdapat pengaruh signifikan terhadap return saham (Y). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, artinya bahwa variabel EPS merupakan salah satu faktor menjadi patokan utama yang mempengaruhi return saham.

Pengaruh Price Earning Ratio Terhadap Return Saham

Hipotesa ketiga mengatakan bahwa variabel PER tidak memiliki hubungan positif karena memiliki nilai koefisien regresi 0,000. Namun hipotesa kelima ini tidak memiliki pengaruh terhadap return saham (Y) di Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki t hitung sebesar 0,032 dimana t

hitung < t tabel yaitu 2,26216 artinya Ha ditolak. Selain itu hipotesa kelima juga memiliki nilai signifikasi sebesar 0,974 dimana lebih besar dari tarafnya yaitu 0,025.Terdapat hubungan yang tidak searah antara PER dengan variabel yang dipengaruhi yaitu return saham.

Penelitian ini mendukung dan sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (Hartati, 2010) yang menyatakan bahwa PER tidak pengaruh signifikan terhadap return saham. Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (Savitri, 2012) dimana hasil penelitian mengatakan bahwa PER memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham (Y). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak, artinya bahwa variabel PER merupakan bukan faktor menjadi patokan utama yang mempengaruhi return saham.

(15)

Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap Return Saham

Hipotesa keenam mengatakan bahwa variabel DER tidak memiliki hubungan positif karena memiliki nilai koefisien regresi -0,249. Hipotesa keenam ini tidak memiliki pengaruh terhadap return saham (Y) di Bursa Efek Indonesia. Karena memiliki t hitung sebesar -0,263 dimana t hitung< t

tabel yaitu 2,26216 artinya Ha ditolak. Selain itu hipotesa keenam ini juga memiliki nilai signifikasi sebesar 0,793 dimana lebih besar dari tarafnya yaitu 0,025.Terdapat hubungan yang tidak searah antara DER dengan variabel yang dipengaruhi yaitu return saham.

Penelitian ini mendukung dan sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (Nurlitasari, 2015) yang menyatakan bahwa DER tidak pengaruh signifikan terhadap return saham.

Namun, penelitian tersebut berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh (Cerlienia) dimana hasil penelitian mengatakan bahwa DER memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham (Y). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak, artinya bahwa variabel DER merupakan bukan faktor menjadi patokan utama yang mempengaruhi return saham.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Hasil penelitian menunjukkan variabel independen yaitu ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen return saham.

Hal tersebut berarti apabila variabel ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER jika mengalami perubahan kenaikan maupun penurunan maka akan berdampak pada kenaikan dan penurunan return saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 – 2016. Variabel ROA secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan ROA tidak mempengaruhi tingginya nilai return. Variabel ROE secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan ROE belum tentu menyebabkan peningkatan return yang diterima investor. Variabel NPM secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan NPM belum tentu menyebabkan peningkatan return yang diterima investor.Variabel EPS secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan ROE akan menyebabkan peningkatan return saham yang diterima investor. Varaibel PER secara parsial berpengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan PER belum tentu mempengaruhi peningkatan pada return saham. Varaibel DER secara parsial berpengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini berarti setiap kenaikan DER tidak dapat mempengaruhi nilai return saham. Variabel yang berpengaruh dominan terhadap return saham adalah EPS sehingga nilai EPS yang semakin tinggi akan memberikan kontribusi terhadap return saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 – 2018.

Berdasarkan penelitian tentang pengaruh ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER (Studi Pada Perusahaan Manufaktur sektor Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia), maka peneliti memberikan saran yaitu : Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti dengan variabel- variabel lain di luar variabel ini agar memperoleh hasil yang lebih bervariatif yang dapat menggambarkan hal-hal apa saja yang dapat berpengaruh terhadap return saham dan dapat memperpanjang periode pengamatan dan disarankan untuk memperluas cakupan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi return saham. Dan diharapkan dapat mengembangkan dan menyempurnakan peneliti ini dengan menambahkan variabel dan indikator-indikator baru atau faktor lain mengingat variabel bebas dan pengaruhnya terhadap variabel terikat dalam penelitian ini hanya sebesar 0,311 atau (31,1%). Bagi perusahaan, perusahaan harus membuat kebijakan terkait dengan kinerja keuangan sebaik mungkin karena terbukti bahwa variabel keuangan seperti ROA, ROE, NPM, EPS, PER dan DER mempunyai pengaruh terhadap return saham. Di sisi lain, perusahaan juga harus mempertimbangkan faktor makro untuk membuat kebijakan terkait dengan

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Adiyanti. (2015). Pengaruh Pendapatan, Manfaat, Kemudahan Penggunaan, Daya Tarik Promosi, Dan Kepercayaan Terhadap Minat Menggunakan Layanan E-Money. Universitas Brawijaya Malang

Darmadji, T. dan F. (2006). Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya. Salemba Empat.

Fakhrudin, sopian, & H. (2001). Perangkat dan Model Analisis Investasi di Pasar Modal. PT. Alex Media Komputindo.

Gunadi, Gd Gilang, K. W. K. (2015). Pengaruh Roa, Der, Eps Terhadap Return Saham Perusahaan Food And Beverage Bei.

Hanafi, Mamduh, M., & Abdul, H. (1995). Analisis Laporan Keuangan. UPP AMP YKPN.

Hanafi, M. M. dan A. H. (2002). Analisis Laporan Keuangan.

Hartati. (2010). Pengaruh Return On Asset (Roa), Debt To Equity Ratio (Der), Earning Pershare (Eps), Price Earning Ratio (Per) Terhadap Return Saham (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia). 78.

Jogianto. (2008). Teori Portofolio dan Analisis Investasi (5th ed.). BPFE.

Jogiyanto. (2003). Teori Portofolio dan Analisis Investasi (3rd ed.). BPFE.

Jogiyanto. (2009). Sistem Informasi Manajemen. Andi.

Jogiyanto, H. (2013). Teori Potofilio dan Analisis Investasi.

Kasmir. (2012). Analisis Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo Persada.

Mamduh, H. &. (2004). Manajemen Keuangan. BPFE UGM.

Munawir, S. (2001). Analisis Laporan Keuangan. BPFE.

Nurlitasari, A. (2015). Pengaruh EPS, PER, ROE, DAN DER Terhadap Return Saham pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. 8.

Pibrianti Dahlia Lastria Simanjuntak, R. L. S. (2014). Analisis Pengaruh Return On Asset, Net Profit Margin, Earning Per Share Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bei.

Rajio suwahyono & hening widi oetomo. (2003). Analisis Pengaruh Beberapa Variabel Fundamental Keuangan Perusahaan Terhadap Harga Saham Perusahaan Telekomunikasi Yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta.

Retnasari, L. (2018). Pengaruh Npm, Roe, Epsterhadap Return Saham Pada Perusahaan Farmasi Di Bei. 15.

Retnasari, Latifah. (2018). Pengaruh Npm, Roe, Epsterhadap Return Saham Pada Perusahaan Farmasi Di BEI. 15.

(17)

Ridwan, S. S., & Inge, B. (2002). Manajemen Keuangan Satu (4th ed.). prenhallindo.

Riyanto, B. (2001). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE.

Robert, A. (1997). PasarModal Indonesia. Mediasoft Indonesia.

Sabar. (n.d.). Pengantar Metodologi Penelitian. 2007.

Safitri, D. A. (2012). Analisis Pengaruh ROA, NPM, EPS dan PER Terhadap Return Saham (studi kasus pada perusahaan Manufaktur food and beverages periode 2007-2010. Universitas Diponegoro, Semarang.

Samsul, M. (2006). Pasar Modal Dan Manajemen Portofolio. Erlangga.

Savitri, D. A. (2012). Analisis Pengaruh Roa, Npm, Eps Dan Per Terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Food And Beverages Periode 2007-2010). 24.

Simanjuntak, P. D., & Linda Sari, R. (2015). Analisis Pengaruh Return On Asset, Net Profit Margin dan Earning Ratio terhadap Return Saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Suharjono, B. &. (2006). Akuntansi Perbankan (1st ed.). Salemba Empat.

Suharli, O. dan. (2005). Memprediksi Tingkat Pengembalian Investasi Pada Equity Securities Melalui Rasio Profitabilitas, Likuiditas, dan Hutang pada Perusahaan Publik di Jakarta.

Tandelin, E. (2001). Analisis Investasi dan Manajemen Risiko. BPFE.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh DER ( Debt to Equity Ratio ), NPM ( Net Profit Margin ), ROA ( Return On Assets ) dan ROE ( Return On Equity ) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur

(ROE), Net Profit Margin (NPM) dan Earnings Per Share (EPS) terhadap harga saham dengan objek penelitian perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Untuk mengetahui pengaruh Net Profit Margin (NPM), Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE) terhadap harga saham perusahaan sektor perbankan yang terdaftar dalam Bursa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis potensi kesulitan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor

Putri, Anggun Amelia Bahar, 2012.”Analisis pengaruh ROA, EPS, NPM, DER dan PBV terhadap Return saham pada industri Real Estate dan Properti yang terdaftar di Bursa Efek

Berdasarkan hasil pembahasan rasio profitabilitas dan EPS terhadap harga saham pada 10 perusahaan makanan dan minuman go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) maka dapat ditarik

Saham-saham perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI yang memiliki kelayakan sebagai sarana investasi jika dihitung dengan metode

KESIMPULAN DAN SARAN Menurut hasil dan pembahasan di atas bahwa pengaruh ROA, ROE, NPM dan QR terhadap return saham perusahaan sektor energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia BEI