Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa terkait materi siklus air dengan pendekatan Teknologi Sains Komunitas pada siswa Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa. Implementasi Pendekatan Iptek Masyarakat Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Air Pada Siswa Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa” dapat terselesaikan dengan baik.
Permasalahan
Identifikasi Masalah
Dengan cara ini, guru IPA dapat menggunakan pendekatan IPS dan teknologi sosial untuk menanamkan pemahaman konsep dan pengembangannya untuk kepentingan masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan sains dan teknologi diharapkan siswa dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami konsep sehingga hasil belajar untuk pembelajaran tentang siklus air lebih baik.
Pemecahan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
Pendekatan STM
Titik tolaknya adalah pembelajaran IPA dengan pendekatan STM harus berorientasi pada siswa. Berdasarkan ciri-ciri STM yang telah disebutkan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan STM diawali dengan pertanyaan.
Belajar dan Hasil belajar
Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif permanen sebagai hasil interaksi dengan lingkungan belajar. Hasil belajar seringkali dijadikan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai materi yang telah diajarkan.Untuk mewujudkan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran dengan menggunakan alat evaluasi yang baik dan berkualitas.
Evaluasi dimaksudkan sebagai refleksi untuk melihat apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar sudah efektif dalam mencapai hasil pembelajaran. Yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dalam pembelajaran. Motivasi belajar merupakan faktor psikologis yang bersifat non-intelektual. Slameto mengambil kesimpulan sebagai berikut: Faktor luar diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar adalah faktor metode pembelajaran.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar antara lain.
Hakikat IPA
Guru adalah guru yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, akhlak dan nilai-nilai kemasyarakatan, dan untuk memenuhi peranan tersebut seorang guru dituntut mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas yang nantinya akan diajarkan kepada anak didiknya. Dalam menyampaikan materi, seorang guru harus memilih metode yang sesuai dengan situasi kelas atau siswa agar siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Pendidikan sains diharapkan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar tentang dirinya dan alam di sekitarnya, serta pengembangan lebih lanjut pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan Carin dan Sund (1993) dalam Puskur mengartikan sains sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data yang berasal dari observasi dan eksperimen”. Mengacu pada pengertian IPA, dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA mencakup empat unsur utama, yaitu: sikap, proses, produk, dan penerapan. Dalam pembelajaran IPA, keempat unsur tersebut diharapkan muncul agar siswa dapat merasakan proses pembelajaran secara utuh.
Daur Air
Oleh karena itu, agar air di sekitar kita tidak pernah habis maka harus dijaga kelestariannya. Pada umumnya uap air di atmosfer hanya terdapat pada uap air laut, karena luas laut mencapai ¾ dari permukaan bumi. Air yang ada di dalam tanah akan diserap oleh tumbuhan melalui pembuluh darah yang ada di dalam tubuhnya, kemudian tumbuhan atau tumbuhan tersebut akan mengeluarkan uap air tersebut ke atmosfer melalui transpirasi.
Air yang sampai di daratan kemudian mengalir ke permukaan seperti sungai dan terus kembali ke laut. Air yang tiba di darat kemudian mengalir ke permukaan sebagai sungai dan terus kembali ke laut untuk menyelesaikan siklus air. Perkolasi: air yang terus merembes hingga kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah.
Air larian: air yang mengalir di permukaan tanah melalui parit, sungai dan sampai ke laut.
Kerangka Pikir
Kerangka Pendekatan IPS Teknologi Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Materi Siklus Air Kelas V SD Inpres Mangasa I Kabupaten Gowa.
Hipotesis Tindakan
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Subjek Penelitian
- Fokus Penelitian
- Pengecekan Keabsahan Data
- Rencana Penelitian Tindak Kelas
- Prosedur Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan
Jika dianalisis hasil belajar siswa pada siklus I, persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Selama penelitian, selain peningkatan hasil belajar IPA pada siklus I dan siklus II, tercatat pula beberapa perubahan yang terjadi pada setiap siswa terkait dengan pembelajaran IPA. Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA pada siklus II mencapai skor rata-rata 85,14 dan berada pada kategori tinggi.
Grafik perbandingan tes hasil belajar Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada grafik 4.9 di bawah ini. Meningkatnya hasil belajar menjadikan pembelajaran dengan pendekatan Teknologi Sains Komunitas lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Grafik perbandingan tingkat ketuntasan hasil belajar Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada grafik berikut.
Ketuntasan pada siklus II lebih besar dibandingkan siklus I, hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPA konsep Siklus Air meningkat setelah penerapan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) C.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Distribusi frekuensi observasi aktivitas siswa pada Siklus I terkait pembelajaran IPA terkait materi siklus air, berdasarkan langkah-langkah pembelajaran IPA dengan pendekatan IPTEK Masyarakat, disajikan pada Tabel 4.1. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sikap siswa dari siklus I adalah kesediaan siswa untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Pada siklus I I sebesar 55,14% atau berada pada kategori baik. Rata-rata skor Hasil Belajar IPA siswa Kelas 5 SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa berdasarkan Siklus 1 adalah 60, dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100, skor tertinggi 90 dan skor terendah 30.
Pada siklus I proses pembelajaran diawali dengan pengenalan pembelajaran yang digunakan yaitu pendekatan IPTEK Masyarakat. Distribusi frekuensi observasi aktivitas siswa pada siklus II pembelajaran IPA materi Siklus Air berdasarkan langkah-langkah pembelajaran IPTEK Masyarakat dapat dilihat pada tabel 4.5 Tabel 4.5. Grafik aktivitas belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada grafik 4.4 di bawah ini.
Grafik perbandingan aktivitas belajar siswa dari Siklus I dan Siklus II dapat dilihat pada grafik 4.7 di bawah ini. Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa tinjauan tindakan yang dilakukan pada siklus II pada proses pembelajaran melalui pendekatan Sains Teknologi di Masyarakat (STM) sudah efektif. Rata-rata nilai siswa dari siklus I sebesar 60, meningkat pada siklus II yaitu 85,14 dengan kategori penuh sehingga dikatakan indikator dalam penelitian ini telah tercapai.
Nilai statistik
Kategori hasil belajar
Penentuan tingkat ketuntasan hasil belajar
Siklus II
Sumber: diadaptasi dari Lampiran IV. Gambar 4.4 Grafik persentase hasil observasi aktivitas belajar siswa pada II. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah siswa yang mencapai ketuntasan mengajar, dari 9 siswa pada tingkat I menjadi 32 siswa pada tingkat II. Berdasarkan tinjauan refleksi siklus I dan siklus II yang telah diuraikan di atas, perbandingan peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.10 di bawah ini.
Grafik perbandingan nilai statistik siklus I dan siklus II dapat dilihat pada grafik 4.8 di bawah ini. Pada grafik di atas dapat dinyatakan bahwa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA pada penerapan pendekatan STM pada materi Siklus Air. Penggunaan pendekatan Iptek Masyarakat (STM) dalam pembelajaran IPA pada materi konsep siklus air di SD Inpres Mangasa 1 Kelas V Kabupaten Gowa diterima dengan alasan dapat meningkatkan hasil belajar sains khususnya materi konsep siklus air kelas Siswa V, hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan dari rata-rata hasil belajar IPA siswa dari siklus I sebesar 60 menjadi 85,14 pada siklus II.
Seluruh aktivitas yang diamati melalui lembar observasi siswa dari Siklus I ke Siklus II mengalami peningkatan yang signifikan.
Penentuan tingkatketuntasan hasil belajar
Pembahasan
- Perbandingan aktifitas belajar murid pada siklus I dan
- Hasil Belajar Murid
Pada tabel 4.10 dapat dijelaskan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus I sebesar 55,14% meningkat menjadi 76,2% pada siklus II, keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran sebesar 31,42% meningkat menjadi 80,94%. Kerjasama antar siswa dalam kelompok 45,7% meningkat menjadi 76,2%, keaktifan siswa dalam berpartisipasi dalam proses belajar mengajar 53,34% meningkat menjadi 77,14%, keterlibatan siswa dalam berpartisipasi dalam pembelajaran 36,2% meningkat menjadi 81,91%, Keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat meningkat dari 20,94% menjadi 68,57%. Berdasarkan grafik di atas peningkatan aktivitas pembelajaran pada setiap siklus dapat disimpulkan bahwa peningkatan aktivitas siswa menjadikan pembelajaran dengan pendekatan IPTEK Masyarakat lebih bermakna dan berkesan bagi siswa.
Pembelajaran dengan pendekatan iptek komunitas dipilih karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memberikan kesempatan kepada seluruh siswa dari semua tingkat kemampuan untuk berperan dalam menyumbangkan nilai kepada kelompoknya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya. . . Hasil belajar mengalami peningkatan, dimana motivasi siswa dalam menjawab soal dan menganalisis soal yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa sudah terlampaui, dimana tingkat kemampuan siswa mengalami peningkatan terutama pada soal tes. Pendekatan pembelajaran STM ini dipilih karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memberikan kesempatan kepada seluruh siswa dari semua tingkat kemampuan siswa untuk berperan dalam mempelajari hal-hal yang terjadi serta dapat menyumbangkan poin dalam kelompoknya sehingga pada akhirnya dapat meningkat. hasil belajar mereka.
Kesimpulan ini pada siklus II lebih besar dibandingkan siklus I, memberikan indikasi bahwa hasil belajar IPA konsep Siklus Air mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM).
Verifikasi Hipotesa
Indikator Keberhasilan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam penerapan Pendekatan Iptek Masyarakat merupakan salah satu alternatif atau cara untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada konsep siklus air pada siswa kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kab. Melihat hasil penelitian yang diperoleh, pembelajaran dengan pendekatan Teknologi Sains Komunitas (STM) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Guru harus dapat menggunakan metode atau pendekatan pembelajaran yang tepat, karena dengan metode atau pendekatan pembelajaran yang tepat maka aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat karena pembelajaran terlaksana dengan baik dan menyenangkan bagi siswa.
Penulis mengenal dan mengembangkan ilmunya di sekolah dasar pada tahun 1997 di SD Negeri 08 Tondong Kura Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun 2003, penulis melanjutkan pendidikannya di SMP sederajat di SMP Negeri 2 Tondong Tallasa. , Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep dan lulus pada tahun 2006. Kemudian pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan jenjang SMA di MAN Pangkep Kabupaten Pangkep dan tamat pada tahun 2009.
Penulis kemudian berencana masuk perguruan tinggi dan mendaftar di Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2009, memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pada program studi Sarjana (S1).Pada tahun yang sama, penulis diterima menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar hingga selesai studi pada tahun 2014 dengan judul skripsi yaitu “Penerapan Pendekatan Iptek Masyarakat untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Siklus Air Siswa Kelas V SD Inpres Mangasa 1 Kabupaten Gowa”.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Guru selalu melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan sehingga mengetahui kelemahan dan kekurangan metode pengajaran yang digunakan selama ini. Diharapkan kepada peneliti lain dapat mengembangkan dan menindaklanjuti hasil penelitian ini demi kemajuan pendidikan nasional khususnya pada tingkat sekolah dasar.