• Tidak ada hasil yang ditemukan

faktor-faktor yang mempengaruhi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "faktor-faktor yang mempengaruhi"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA S1 EKONOMI ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN BANK SYARIAH SEBAGAI ALAT UTAMA DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI (STUDI

KASUS MAHASISWA S1 FEB UNIVERSITAS BRAWIJAYA ANGKATAN 2015-2016)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

SHOFIYAH SALSABILA 155020500111031

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2019

(2)

LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL

Artikel Jurnal dengan judul :

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA S1 EKONOMI ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN BANK SYARIAH SEBAGAI ALAT UTAMA DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI (STUDI

KASUS MAHASISWA S1 UNIVERSITAS BRAWIYAYA ANGKATAN 2015-2016)

Yang disusun oleh :

Nama : Shofiyah Salsabila

NIM : 155020500111031

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis

Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi

Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 27 Juni 2019

Malang, 27 Juni 2019 Dosen Pembimbing,

Tyas Danarti Hascaryani, SE., ME

NIP.

197505141999032001

(3)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA S1 EKONOMI ISLAM TIDAK MENGGUNAKAN BANK SYARIAH SEBAGAI ALAT UTAMA DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI (STUDI

KASUS MAHASISWA S1 UNIVERSITAS BRAWIYAYA ANGKATAN 2015-2016)

SHOFIYAH SALSABILA

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa S1 Ekonomi Islam FEB UB tidak menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi. Penelitian ini menggunakan 164 sampel responden mahasiswa S1 Ekonomi Islam FEB UB yang masih menggunakan bank konvensional. Data dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda dengan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel biaya, fasiliatas, pendidikan dan pengetahuan, lokasi, dan religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel keputusan mahasiswa melakukan transaksi menggunakan bank konvensional. Variabel biaya, fasilitas, dan lokasi berpengaruh signifikan positif terhadapa penggunaan tarnsaksi menggunakan bank konvensional dimana jika biaya yang dikeluarkan rendah, fasilitas yang diberikan oleh bank sesuai dengan kebutuhan nasabah, dan lokasi yang strategis menjadi bahan pertimbangan mahasiswa S1 Ekonomi Islam FEB UB dalam memilih bank. Untuk pendidikan dan pengetahuan mahasiswa sudah sangat memahami hukum riba dan produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah. Selain itu banyak mahasiswa yang belum memahami Islam secara kafah sehingga dalam belum mempraktekkan muamalah secara keseluruhan.

.

Kata kunci: Mahasiswa Ekonomi Islam, Bank Syariah, Bank Konvensional, Biaya, Fasilitas,Pengetahuan dan Pendidikan, Lokasi, dan Religiusitas

A. PENDAHULUAN

Industri perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peran penting dalam perekonomian di suatu negara. Perkembangan sektor perbankan telah tumbuh dengan pesat dan mendominasi kegiatan perekonomian Indonesia (Haris, 2015). Perbankan di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Bank syariah sendiri adalah bank yang menggunakan prinsip-prinsip yang berlandaskan syariat islam.

Industri perbankan syariah di dunia diawali dari aspirasi masyarakat di negara-negara yang mayoritas muslim untuk memiliki sebuah alternatif sistem perbankan yang islami. Adanya bank syariah diharapkan menjadi solusi keuangan bagi masyarakt muslim yang ingin melakukan transaksi keuangan tanpa adanya rasa resah karena selama ini bank-bank konvensional selalu menetapkan adanya bunga, yang mana bunga merupakan salah satu riba yang dilarang oleh agama islam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah yang artinya tambahan. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, tetapi secara garis besar riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam (Antonio, 2001: 37). Selain itu menurut jumhur ulama prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.

(4)

Grafik 1 Total Aset Bank Syariah

Sumber: OJK, 2018.

Garfik 2 Total Aset Bank Konvensional

Sumber: OJK, 2018.

Hal tersebut terbukti pada peningkatan total aset paling tinggi pada bank syariah hanya sekitar 40 ribuan, sedangkan peningkatan total aset pada bank konvensional bisa sampai ratusan ribu. Dan dari data yang telah dipaparkan dapat diketahui walaupun bank syariah setiap tahunnya mengalami penaikan jumlah aset, tetapi jumlah tersebut tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini masyarakat Indonesai masih lebih memilih mengguanakan bank konvensional dalam menabung, menggunakan, dan melakukan transaksi. Karena jumlah aset di bank konvensional lebih banyak dibandingkan jumlah aset di bank syariah.

Dalam penelitian ini variabel yang ingin diteliti adalah yaitu biaya, fasilitas, pendidikan dan pengetahuan, lokasi, dan religiusitas. Penelitin ini sampel akan dilakukan kepada mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa S1 Ekonomi Islam di Universitas Brawijaya angkatan 2015-2016.

Karena mahsiswa S1 Ekonomi Islam merupakan masyarkat yang dianggap sudah memiliki pengetahuan dan memahami dasar-dasar ekonomi Islam baik dari segi hukum maupun pemahaman, dan angkatan 2015-2016 merupakan angkatan yang dianggap sudah benar-benar memahami konsep riba, konsekuensi menggunakan riba, dan sudah mendapatkan mata kuliah Fiqh Muamalah, Mikro Islam, dan Manajemen Bank dan Lembaga Keuangan Islam, yang mana mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap mahasiswa Ekonomi Islam, yang mana mata kuliah tersebut membahas secara mendalam tentang riba, konsekuensi menggunakan riba, dan bank syariah.

Oleh karena itu, penelitian ini dirasa penting untuk mengetahui apa saja faktor yang membuat mahasiswa S1 Ekonomi Islam Universitas Brawijaya tidak menggunakan bank syariah sebagai alat utama pembayaran dalam melakukan transaksi. Yang mana harapan kedepannya dapat memberikan masukan kepada Bank Syariah dalam mengembangkan perbankan syariah.

B. KAJIAN PUSTAKA

(5)

Teori Perilaku Konsumen

Teori prilaku konsumen dalam mikro modern dijuruskan kepada aktifitas ekonomi dalam pasar. Teori ini menyebutkan bahwa preferensi konsumen dan anggaran belanjanya (pendapatan) menjadi syarat utama dalam konsumsi. Keduanya menjelaskan bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatan mereka untuk beragam barang yang pada gilirannya menentukan permintaan berbagai barang. Sedangkan prilaku konsumen dalam islam tentu banyak hal yang dipertimbangakan oleh konsumen ketika menikmati barang dan jasa seperti preferensi dalam dirinya, jumlah uang/pendapatan yang dimilki serta pertimbangan keimanan, hukum, etika, serta nilai sosial dan budaya. Islam mempetakan prinsip pokok bahwa seseorang wajib mengkonsumsi barang dan jasa yang halal dan baik (thoyyib) (Arif, 2018: 104). Yang dimaksud konsumen dalam penelitain ini adalah nasabah.

Preferensi Konsumen

Preferensi konsumen merujuk pada pilihan seseorang ketika ia membandingkan berbagai kelompok barang yang tersedia untuk dibeli. Dalam situasi ini, timbul pertanyaan; apakah sekelompok barang lebih disukai dari pada barang lain, ataukah konsumen tidak mempedulikan kelompok barang ini? Dari sini preferensi konsumen didasarkan pada empat asumsi berikut (Arif, 2018: 107):

(1) Kelengkapan. Karena uang terbatas, konsumen perlu membuat preferensi yang lengkap.

(2) Transivitas. Konsumen diasumsikan membuat pilihan yang bersifat prioritas.

(3) Konsisten. Preferensi konsumen yang transitif ini akan diasumsikan akan selalu terjadi.

Dengan kata lain konsumen akan konsisten dengan pilihannya.

(4) Banyak lebih disukai dari pada sedikit. Konsumen pasti ingin barang yang dipilih akan memberinya manfaat. Oleh sebeb itu memilik banyak barang menjadi lebih disukai daripada sedikit sebab hal ini berarti memberi konsumen lebih bayak utilitas.

Dari penjelasan diatas dapat disumpulkan bahwa konsumen akan memilih suatu barang/jasa dengan membandingkan beberapa kelompok barang/jasa yang tersedia. Yang mana preferensi konsumen didasarkan pada kelengkapan, apakah barang/jasa yang ingin dibeli oleh konsumen memiliki kelungkapan sesuai dengan yang konsumen inginkan. Kedua transivitas, atau bisa juga preferensi seorang konsumen memilih barang/jasa yang akan dibelinya. Ketiga, konsumen akan konsiten dengan pilihannya. Dan keempatbanyak lebih banyak disukai daripada sedikit.

Sedangkan dalam Islam cara mengukur utilitas nilai material juga berlaku untuk utilitas spiritual. Pengukuran ini hanya berfungsi sebagai acuan peringkat bagaimana nilai guna spiritualitas ini mendorong konsumen untuk meraih ridha Allah. Di sisi lain, jika Allah meridhai seseorang, maka Dia akan memberi utilitas yang tidak ada batasnya. Dengan demikian, balanja barang material dan spiritual jika ditunjukakan hanya untuk meraih ridha Allah akan memiliki utulitas yang sama karena keduanya bercita rasa ibadah (Arif, 2018).

Kendala Anggaran (Budget Line)

Konsumen hanya membeli barang jika mempunyai uang (anggaran belanja) yang cukup.

Karena penapatan terbatas maka konsumen membeli barang dan jasa yang memenuhi preferensinya saja. Hal ini berarti kendala anggaran yang membatasai pilihan konsumen mencerminkan dua hal penting dari daya beli. Yaitu pendapatan dan harga barang. Secara garfis kendala anggaran digambarkan sebagai garis anggaran (budget line) yang manyatakan uang yang dihabiskan untuk Y dan X sama dengan pendapatan konsume. Jika M adalah pendapatan konsumen, Px adalah harga makanan, dan Py adalah harga pakaian, maka garis anggaran untuk X dan Y adalah (Arif, 2018):

PXX+PYY = M

Dengan demikian, pendapatan M sama dengan uang yang dihabiskan untuk membeli makanan (PxY) dan pakaian (PyY). Dalam kasus ini mengapa mahasiswa S1 ekonomi Islam Universitas Brawijaya Malang belum menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi adalah bisa saja dikarenakan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan nasabah jika menggunakan bank syariah. Sedangkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh nasabah terkendala dengan anggaran yang mereka miliki.

Bank Sebagai Lembaga Keuangan

Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan usahanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dan serta memberikan jasa-jasa bank

(6)

lainnya. (Kasmir: 2008). Selain bank umum terdapat juga bank syariah, dalam dunia perbankan saat ini perbankan syariah sudah tidak dianggap lagi asing, karena bank syariah sudah membuktikan kinerjanya pada dunia perbankan di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, khususnya untuk Bank Syariah (Memanda, 2013).

Di Indonesia, bank syariah yang pertama didirikan pada tahun 1992 adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI). Walaupun perkembangannya agak terlambat bila dibandingkan dengan negara- negara Muslim lainnya, perbankan syariah di Indonesia akan terus berkembang. Pada tahun 2005, jumlah bank syariah di Indonesia telah bertambah menjadi 20 unit, yaitu 3 bank umum syariah dan 17 unit usaha syariah. Sementara itu, jumlah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) hingga akhir tahun 2004 bertambah menjadi 88 buah (Karim, 2014).

Bank syari’ah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Bank Islam atau disebut dengan bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga, atau dengan kata lain bank syariah adalah lembaga keuangan atau perbankan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip- prinsip syari’ah Islam, yang dikembangkan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad (Muhammad, 2015).

Riba Vs Bagi Hasil

Dalam perbankan syariah, bank menawarkan sistem bagi hasil (profit and loss sharing) yang menjanjikan adanya keadilan dan tidak ada pihak yang tereksploitasi. Dalam sistem bagi hasil, keuntungan dan kerugian ditanggung bersama oleh kedua belah pihak. Sedangkan dalam bank konvensional, sistem riba, fiat money, commodity money, fractional reserve system dalam perbankan, dan membolehkan spekulasi menyebabkan penciptaan uang (kartal dan giral) dan tersedotnya uang di sektor moneter untuk mencari keuntungan tanpa risiko. Akibatnya uang atau investasi yang seharusnya tersalur ke sektor riil untuk tujuan produktif sebagian besar lari ke sektor moneter dan menghambat pertumbuhan bahkan menyusutkan sektor riil (Suci, 2018).

Perbedaan bunga dan bagi hasil dapat dipahami lebih rinci pada tabel 2.2 berikut:

Tabel 1 Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil

Bunga Bagi Hasil

Penentuan bunga dibuat apda waktu akad dengan asumsi harus selalu untung.

Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung atau

rugi.

Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.

Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek

yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.

Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usah amerugi, maka kerugian akan ditanggung oleh kedua

belah pihak.

Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan

berlipat atau keadaan ekonomi sedang

“booming”.

Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.

Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama, termasik Islam.

Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

Sumber: Syafi’i, Antonio (2001: 61) Biaya-Biaya Yang Dikenakan

Biaya dikelompokkan menjadi biaya ekonomi, eksplisit, dan implisit. Biaya ekonomi (economic cost) mengacu pada konsep bahwa sumber daya memiliki penggunaan alternatif.

Perusahaan dapat menggunakan sumberdaya ini apabila hasil yang diharapakan lebih tinggi daripada sumberdaya lainnya. Hasil dari pemanfaatan yang paling baik ini disebut sebagai biaya ekonomi atau biaya oportunitas (opportunity cost) yang menandakan adanya pengorbanan satu sumberdaya dengan sumberdaya lain.

Hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan keputusan pembelian adalah biaya. Biaya yang murah dan terjangkau dengan kualitas barang yang bagus adalah keinginan setiap konsumen atau nasabah. Biaya akan membentuk suatu harga dimana jumlah keseluruhan nilai yang dipertukarkan konsumen untuk manfaat yang didapat atau digunakan atas produk atau

(7)

jasa. Semakin tinggu biaya atau harga akan mempengaruhi kepuasan (utility) seseorang, seperti rumus keseimbangan konsumen berikut berikut (Arif, 2018):

=

Dari rumus diatas dapat disumpulkan bahwa tingkat kepuasan seseorang dipengaruhi oleh harga atau biaya yang dikeluarkan. Sehingga semakin kecil harga/biaya (price) maka akan semakin besar tingkat kepuasan (marginal utility) yang akan didapatkan. Tetapi begitu juga sebaliknya, semakin besar harga/biaya (price) maka akan semakin kecil tingkat kepuasan (marginal utility).

Tapi terkadang pada nyatanya konsumen lebih menyukai sesuat dengan harga/biaya yang murah dengan tingkat kepuasan yang tinggi. Seperti dalam penelitian Rahmawati (2015) bahwa lembaga keuangan syariah harus mampu memberikan bagi hasil yang tinggi dengan biaya margin pembiayaan yang murah, biaya margin pembiayaan yang murah terjadi karena kebijakan lembaga keuangan dalam mengelola keuangan dan menetapkan biaya seminimal mungkin. Sehingga ini akan mempengaruhi pertimbangan nasabah dalam menentukan keputusan.

Tetapi dalam Islam justru memikirkan kepuasan masyarakat dalam jangka waktu yang panjang. Utilitas Islam memandu konsumen untuk memperoleh nilai guna yang memberinya kepuasan hidup dan akhirat (falah). Teori Islam menyatakan iman dan akhlak adalah pertimbangan yang esensial sebelum mengkonsumsi barang dan jasa tertentu.

Fasilitas Yang Baik Untuk Nasabah

Fasilitas merupakan segala sesuatu yang bersifat peralatan fisik yang disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kemyamanan konsumen (Kotler, 2000). Sedangkan menurut Hardiansyah (2011), mendefinisikan pelayanan sebagai aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain.

Pelayanan merupakan salah satu kunci utama dari upaya pemuasan pelanggan, dan menjadi suatu keharusan yang wajib dioptimalkan baik dari individu maupun organisasi, karena pelayanan dapat mencerminkan kualitas individu atau organisasi tersebut. Pelayanan yang baik akan memberikan kepuasan bagi pelanggannya, sehingga pelanggan akan dapat berulang kali menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan berulang kali menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan.

Demikian halnya dengan fasilitas yang diberikan dalam suatu produk perbankan. Fasilitas banyak dan beragam yang memudahkan setiap nasabahanya untuk memberikan kemudahan dalam bertransaksi akan lebih diminati oleh masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa sekalipun. Fasilitas yang diberikan oleh pihak bank misalnya seperti ATM, e-baking, mobile banking, pulsa, token, pembayaran listrik, pembayaran PDAM, dan fasilitas lainnya yang ditawarkan oleh pihak bank.

Pengetahuan dan Pendidikan: Tolak Ukur Mahasiswa Menjadi Nasabah

Seseorang mendapatkan fakta dan informasi baru dengan menggunakan pengetahuan yang merupakan suatu faktor penting dalam membentuk tindakan seseorang. Menurut Notoatmodjo (2005, dalam Ayu, 2016), pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil “tahu”

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara tradisional, seperti bertanya pada orang yang ahli, dari pengalaman setelah menyelesaikan masalah, dan berpikir kritis (Potter & Perry, 2005 dalam Ayu, 2016). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan hasil informasi baru yang dihasilkan melalui penginderaan yang diperoleh dari pengalaman hidupnya atau berpikir kritis, yang menjadi acuan dalam pembentukan sikap seseorang.

Pengetahuan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank syariah, baik tentang bank syariah, produk-produk yang ditawarkan, sistem diterapkan pada bank syariah, maupun hal lainnya yang berkaitan dengan bank syariah. Terutama faktor apa saja yang membuat mahasiswa S1 ekonomi Islam Universitas Brawijaya tidak tertarik untuk menggunakan jasa bank syariah bisa jadi karena nasabah kurang memahami atau minimnya pengetahuan nasabah tentang bank syariah. Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti; pengalaman, pendidikan, keyakinan, penghasilan, sosial, lingkungan, dan sebagainya. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh dari diri sendiri maupun orang lain, maka semakin bertambah juga pengetahuan yang kita dapatkan.

Rivai dkk (2006) penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat perbedaan persepsi terhadap keberadaan bank syariah dibanding dengan bank konvensional. Dari 124 responden nasabah bank konvensional, sebanyak 51,4% menyatakan bahwa konsep bunga bertentangan

(8)

dengan ajaran agama. Namun demikian mereka tetap memilih untuk tetap berhubungan dengan berbagai produk yang ditawarkan bank konvensional. Hanya 29,8% dari jumlah responden yang menyatakan dengan tegas bahwa konsep bunga tidak bertentangan dengan ajaran agama, sehingga dapat menjadikan ligitimasi bagi mereka untuk tetap berhubungan dengan berbagai produk bank konvensional. Sementara sisanya (18,5%) berpendapat bahwa mereka tidak tahu; apakah bunga bertentangan dengan agama. Dengan dasar bahwa kelompok pendidikan tinggi lebih didominasi oleh responden bank syariah, dapat dinyatakan bahwa responden yang memilih bank syariah memiliki tingkat pendidikan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memilih bank konvensional.

Pengetahuan dan pendidikan yang sudah didapatkan oleh mahasiswa S1 ekonomi Islam Universitas Brawijaya Malang tentu saja seharusnya memahami bagaimana konsep riba maupun bank syariah. Tetapi tetap saja ada dari beberapa mahasiswa S1 ekonomi Islam belum menerapkan konsep tersebut di kehidupan sehari-hari.

Lokasi: Keputusan Masyarakat untuk Menjadi Nasabah

Ma’ruf (2005: 114) menyatakan bahwa lokasi memiliki pengaruh terhadap keputusan pembeli dimana lokasi yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses dibandingkan gerai lainnya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama. Tujuan dengan letaknya loksi yang strategis adalah untuk memaksimalkan keuntungan bagi lembaga.

Menurut Kasmir (2004) lokasi bank adalah tempat dimana diperjual belikannya produk perbankan dan pusat pengendalian perbankan. Penentuan lokasi bank merupakan kebijakan yang sangat penting. Bank yang terletak dalam lokasi yang strategis sangat memudahkan nasabah dalam berurusan dengan bank. Adapaun indikator lokasi yaitu: kedekatan dengan konsumen/pasar, tempat parkir yang luas, tersedia sarana dan prasarana, dan lokasi ATM yang banyak tersebar atau mudah dijangkau oleh nasabah.

Menentukan lokasi merupakan suatu tugas penting bagi pemasar, karena keputusan yang salah dapat mengakibatkan kegagalan. Lokasi kantor mempengaruhi minat nasabah untuk melakukan transaksi, jika letak kantornya jauh dari tempat tinggal calon nasabah maka nasabah pun kurang tertarik untuk melakukan transaksi (Ayu, 2016). Perlu adanya penyebaran lokasi kantor maupun ATM yang merata, tidak hanya di perkotaan saja tetapi juga ke pelosok pedesaan, agar memudahkan nasabah untuk menabung ataupun melakukan transaksi yang lainnya.

Pertimbangan penentuan lokasi bank tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan berbagai faktor. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penentuan lokasi suatu bank maupun ATM adalah dengan mempertimbangkan sebagai berikut (Kasmir, 2004):

(a) Dekat dengan kawasan industri atau pabrik (b) Dekat dengan perkantoran

(c) Dekat dengan pasar

(d) Dekat dengan perumahan atau masyarakat

(e) Mempertimbangkan jumlah pesaing yang ada di suatu lokasi

Jika lokasi bank atau ATM dekat dengan kawasan industri, perkantoran, perumahan, dan masyarakat, hal tersebut bisa saja menjadi pertimbangan masyrakat untuk menjadi nasabah di bank tertentu karena lokasi yang mudah di jangkau maupun memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi.

Religiusitas Nasabah Dalam Memilih Bank

Kata religi atau religion itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yang berasal dari kata relegere atau relegare. Kata relegare mempunyai pengertian dasar “berhati-hati”, dan berpegang pada norma-norma atau aturan secara ketat. Dalam arti bahwa religi tersebut merupakan suatu keyakinan, nilai-nilai dan norma-norma hidup yang harus dipegangi dan dijaga dengan penuh perhatian, agar jangan sampai menyimpang dan lepas. Kata dasar relegare, berarti “mengikat”, yang maksudnya adalah mengikatkan diri pada kekuatan gaib yang suci. Kekuatan gaib yang suci tersebut diyakini sebagai kekuatan yang menentukan jalan hidup dan yang mempengaruhi kehidupan manusia. Dengan demikian kata religi tersebut pada dasarnya mempunyai pengertian sebagai “keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci,yang menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia, yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan-jalan dan aturan-aturan serta norma-normanya secara ketat, agar tidak sampai menyimpang dan lepas dari

(9)

kehendak atau jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib yang suci tersebut” (Muhaimin, 2005: 34).

Agama bukanlah sekedar tindakan ritual seperti shalat dan membaca do’a. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridha dari Allah SWT. Agama menunjuk pada aspek-aspek formal yang berkaitan dengan aturan dan kewajiban, sedangkan religiusitas menunjuk pada aspek agama yang telah dihayati oleh seseorang dalam hati. Ghufron & Risnawita (dalam Atik, 2015) menegaskan lebih lanjut, bahwa religiusitas merupakan tingkat keterikatan individu terhadap agamanya. Apabila individu telah menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya, maka ajaran agama akan berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya.Jika seorang hamba memiliki keyakinan terhadap suatu agama maka hal-hal yang diatur dalam agama tersebut harusnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan merasa berdosa jika tidak mengamalkannya. Contonya dalam kehidupan bermuamalah seorang muslim haruslah meninggalkan sesuatu yang bersifat riba atau macam-macam transaksi lainnya yang dilarang oleh Islam. Seperti misalnya memilih menggunakan bank syariah ketimbang bank konvensional, karena di bank konvensional adanya unsur bunga, yang mana bunga dalam Islam dilarang.

C. METODE PENELITIAN

Berdasarkan tujuan dari penelitian ini diperlukan beberapa data dari mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang, yaitu: faktor biaya, fasilitas, pengetahuan, pendidikan, lokasi, dan religiusitas berpengaruh atau tidak terhadap mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang belum menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi.

Populasi dan Penentuan Sampel

Pada penelitian ini, populasi yang dipilih adalah mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang. Sampel yang ingin diteliti yaitu mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang angkatan 2015-2016.

Alat pemilihan sampel tersebut dikarenakan mahasiswa pada angkatan tersebut sudah mendapatkan mata kuliah Fiqh Muamalah, Mikro Islam, dan Manajemen Bank dan Lembaga Keuangan Islam, yang mana mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang membahas secara mendalam tentang riba, konsekuensi menggunakan riba, dan bank syariah. Dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan- pertimbangan atau kriteria-kriteria tertentu, yaitu mahasiswa Ekonomi Islam FEB UB yang menggunakan bank konvensional dalam pengambilan sampel sesuai dengan tujuan penelitian.

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Tabel 2 Variabel Dependen

Variabel Indikator

Pemakaian transaksi Mahasiawa S1 Ekonomi Islam Universitas Brawijaya Sumber: Penulis, 2019

Tabel 3 Variabel Independen

Variabel Indikator

(X1) Faktor Biaya

1. Adanya biaya yang diberikan ketika melakukan penarikan atau transfer antar ATM yang berbeda

2. Keluarga juga menggunakan bank konvensional, sehingga lebih memudahkan dalam melakukan transaksi dan tidak dikenai biaya.

3. Merasa lebih puas menggunakan bank konvensional sebagai alat utama dalam melakukan transaksi dibandingkan Bank Syariah walaupun biaya yang dikenakan Bank Konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Syariah.

(X2) Faktor Fasilitas

1. Fasilitas ATM Bank Konvensional lebih tersebar luas dibandingkan dengan ATM bank syariah.

2. Tidak adanya fasilitas pembayaran untuk jual-beli online atau platform tertentu.

(10)

Variabel Indikator

3. Tidak adanya debit Bank Syariah di beberapa toko.

(X3) Faktor Pengetahuan dan Pendidikan

1. Sudah mengetahui hukum bunga dengan jelas.

2. Dengan berkuliah di jurusan ekonomi Islam dapat meningkatkan pengetahuan tentang bank syariah maupun produk-produk yang ditawarkan.

3. Memahami produk-produk yang ditawarkan oleh Bank Syariah.

(X4) Faktor Lokasi

1. Lokasi Bank Syariah yang jauh dari tempat tinggal.

2. Lokasi ATM yang dekat dengan tempat tinggal atau kampus.

3. Lokasi ATM dan bank yang jauh dari tempat aktivitas yang biasa dilakukan.

(X5) Faktor Religiusitas

1. Selalu sholat 5 kali sehari setiap hari dan melasanakan puasa saat bulan Ramadhan.

2. Membayar zakat.

3. Melaksanakan haji sesuai dengan perintah agama.

Sumber: Penulis, 2019 Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam jenis data primer. Dalam penelitian ini data primer yang dikumpulkan diperoleh melalui hasil survey penyebaran kuesioner yang disebar kepada mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang.

Metode Analisis Data Uji Instrumen

1. Uji Validitas

Validitas menurut Sugiyono (2017:125) menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakan instrumen yang dalam hal ini dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrumen mencirikan tingkat konsistensi.

Maksud dari uji reliabilitas adalah untuk mengetahui apakah kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini menunjukan tingkat ketepatan, keakuratan, dan konsistensi meskipun kuesioner ini digunakan dua kali atau lebih pada lain waktu. Uji reliabilitas dilakukan terhadap item pernyataan dalam kuesioner yang telah dinyatakan valid.

Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah model dalam regresi, variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunya kontribusi normal atau tidak.

Jika distribusi data adalah normal maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Gusmail, 2016).

2. Uji Multikolinearitas

Uji asumsi multikolinieritas adalah untuk menguji apakah pada model regresi di temukan adanya korelasi antar variabel bebas. Multikolinieritas adalah keadaan jika suatu variabel bebas berkorelasi dengan satu atau lebih variabel bebas yang lainnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan problem multikolinieritas (Imam, 2016). Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk menjelaskan kemungkinan terdapatnya hubungan antara variabel independen dengan variabel independen yang lain.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas menguji terjadinya perbedaan variance residual suatu periode pengamatan keperiode pengamatan yang lain (Imam, 2016). Tujuan uji ini adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas. Jika Variance berbeda maka disebut Heteroskedasitas.

(11)

4. Uji Autokorelasi

Uji untuk mengetahui korelasi antara sisaan yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam deret waktu) atau ruang (seperti dalam data cross section). Dalam konteks regresi, model regresi linier klasik mengasumsikan bahwa tidak terdapat autokorelasi dalam sisaan.

Uji Hipotesis

1. Uji Regresi Linear Berganda

Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dengan alat analisis regresi berganda.

Dalam analisi regresi berganda untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, dan untuk mengolah dan membahas data yang diperoleh. Analisis regresi linier berganda digunakan oleh peneliti karena peneliti bermaksud menguji bagaimana keadaan naik turunnya variabel dependen bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor predictor dimanipulasi. Persamaan regresi berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Imam, 2016):

= + + + +

2. Uji T

Uji statistik T pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel dependen secara individual dalam menerangkan variasi variabel independen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi sebesar 0,05 (Imam, 2016).

3. Uji F

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X1,X2) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y) atau untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen atau tidak (Julia, 2017).

4. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) menunjukan sejauh mana tingkat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen, atau sejauh mana kontribusi variabel mempengaruhi variabel dependen (Imam, 2016)

D. HASIL & PEMBAHASAN Uji Validitas

Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel

Item r Hitung Sig. r Tabel Keterangan

X1.1 0.872 0 0.143 Valid

X1.2 0.811 0 0.143 Valid

X1.3 0.872 0 0.143 Valid

X2.1 0.85 0 0.143 Valid

X2.2 0.861 0 0.143 Valid

X2.3 0.876 0 0.143 Valid

X3.1 0.857 0 0.143 Valid

X3.2 0.901 0 0.143 Valid

X3.3 0.868 0 0.143 Valid

X4.1 0.902 0 0.143 Valid

X4.2 0.908 0 0.143 Valid

X4.3 0.919 0 0.143 Valid

X5.1 0.844 0 0.143 Valid

X5.2 0.863 0 0.143 Valid

X5.3 0.816 0 0.143 Valid

Y1 0.874 0 0.143 Valid

Y2 0.863 0 0.143 Valid

Y3 0.83 0 0.143 Valid

Sumber: Data primer diolah, 2019

Dari Tabel 4.10 di atas dapat dilihat bahwa nilai sig. r indikator pertanyaan lebih kecil dari 0.05 (α = 0.05) yang berarti tiap-tiap indikator variabel adalah valid, sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

(12)

Uji Realibilitas

Teknik pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan nilai koefisien reliabilitas alpha.

Kriteria pengambilan keputusannya adalah apabila nilai dari koefisien reliabilitas alpha lebih besar dari 0,6 maka variabel tersebut sudah reliabel (handal).

Tabel 4 Hasil Uji Reliabilitas

No. Variabel Koefisien Reliabilitas Keterangan

1 X1 0,810 Reliabel

2 X2 0,828 Reliabel

3 X3 0,848 Reliabel

4 X4 0,894 Reliabel

5 X5 0,792 Reliabel

6 Y 0,817 Reliabel

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Dari Tabel 4.11 diketahui bahwa nilai dari alpha cronbach untuk semua variabel lebih besar dari 0,6. Dari ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya maka semua variabel yang digunakan untuk penelitian sudah reliabel.

Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah nilai residual tersebar normal atau tidak.

Prosedur uji dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Dengan normalitas terpenuhi apabila nila sig. (p-value) lebih besar dari 0,05 Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 5 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardize d Residual

N 188

Kolmogorov-Smirnov Z .516

Asymp. Sig. (2-tailed) .953

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Dari hasil perhitungan didapat nilai sig. sebesar 0.953 dapat dilihat pada Tabel 5 atau lebih besar dari 0.05; maka ketentuan H0diterima yaitu bahwa asumsi normalitas terpenuhi.

Uji Autokorelasi

Dari tabel Durbin-Watson untuk n = 188 dan k = 5 (adalah banyaknya variabel bebas) diketahui nilai du sebesar 1.816 dan 4-du sebesar 2.184.

Tabel 6 Hasil Uji Autokorelasi Model Durbin-Watson

1 1,860

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Dari tabel diatas diketahui nilai uji Durbin Watson sebesar 1,860 yang terletak antara 1.816 dan 2.184, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi tidak terdapat autokorelasi telah terpenuhi.

Uji Multikolinieritas

Cara pengujiannya adalah dengan membandingkan nilai Tolerance yang didapat dari perhitungan regresi berganda, apabila nilai tolerance < 0,1 maka terjadi multikolinearitas.

Tabel 7 Hasil Uji Multikolinieritas

Variabel Bebas Collinearity Statistics Tolerance VIF

X1 0.474 2.108

X2 0.334 2.995

X3 0.63 1.587

X4 0.407 2.455

X5 0.567 1.765

Sumber: Data primer diolah, 2019.

(13)

Pada hasil pengujian didapat bahwa keseluruhan nilai tolerance > 0,1 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas. Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas. Dengan demikian uji asumsi tidak adanya multikolinearitas dapat terpenuhi.

Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah terjadi ketidaksamaan nilai simpangan residual akibat besar kecilnya nilai salah satu variabel bebas. Atau adanya perbedaaan nilai ragam dengan semakin meningkatnya nilai variabel bebas. Prosedur uji dilakukan dengan Uji scatter plot.

Gambar 2 Hasil Uji Heterokedastisitas

Sumber: Data primer diolah, 2019

Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa diagram tampilan scatterplot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas.

Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi ini digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh antara variabel bebas, yaitu Biaya (X1), Fasilitas (X2), Pengetahuan dan pendidikan (X3), Lokasi (X4), Religiusitas (X5) terhadap variabel terikat yaitu Pemakaian Transaksi (Y).

Persamaan regresi digunakan mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dengan menggunakan bantuan SPSS ver 20.00 didapat model regresi seperti pada Tabel 8:

Tabel 8 Persamaan Regresi

Variabel Bebas

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

(Constant) 1.2 0.641 1.872 0.063

X1 0.164 0.068 0.177 2.411 0.017

X2 0.194 0.081 0.208 2.381 0.018

X3 0.266 0.072 0.235 3.704 0

X4 0.15 0.069 0.173 2.184 0.03

X5 0.156 0.072 0.144 2.148 0.033

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Berdasarkan pada Tabel 8 didapatkan persamaan regresi sebagai berikut : Y = 1,200 + 0,164 X1 + 0,194 X2 + 0,266 X3 + 0,150 X4 + 0,156 X5 Dari persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

(14)

(1) Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,164 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X1 (Biaya). Jadi apabila Biaya mengalami peningkatan 1 satuan, maka Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,164 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

(2) Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,194 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X2 (Fasilitas), Jadi apabila Fasilitas mengalami peningkatan 1 satuan, maka Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0.194 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

(3) Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,266 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X3 (Pengetahuan dan pendidikan), Jadi apabila Pengetahuan dan pendidikan mengalami peningkatan 1 satuan, maka Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0.266 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

(4) Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,150 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X4 (Lokasi), Jadi apabila Lokasi mengalami peningkatan 1 satuan, maka Pemakaian

Transaksi akan meningkat sebesar 0.150 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

(5) Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0,156 satuan untuk setiap tambahan satu satuan X5 (Religiusitas), Jadi apabila Religiusitas mengalami peningkatan 1 satuan, maka

Pemakaian Transaksi akan meningkat sebesar 0.156 satuan dengan asumsi variabel yang lainnya dianggap konstan.

Uji F/Serempak

Pengujian F atau pengujian model digunakan untuk mengetahui apakah hasil dari analisis regresi signifikan atau tidak, dengan kata lain model yang diduga tepat/sesuai atau tidak. Jika hasilnya signfikan, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan jika hasilnya tidak signifikan, maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Tabel 9 Uji F/Serempak

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression 357.721 5 71.544 42.212 0.000

Residual 308.466 182 1.695

Total 666.186 187

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Berdasarkan tabel diatas nilai F hitung sebesar 42,212. Sedangkan F tabel (α = 0.05 ; db regresi = 5 : db residual = 182) adalah sebesar 2,264. Karena F hitung > F tabel yaitu 42,212 >

2,264 atau nilai Sig. F (0,000) < α = 0.05 maka model analisis regresi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel terikat (Pemakaian Transaksi) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh variabel bebas (Biaya (X1), Fasilitas (X2), Pengetahuan dan pendidikan (X3), Lokasi (X4), Religiusitas (X5)).

Hasil Uji t / Parsial

t test digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Dapat juga dikatakan jika t hitung

> t tabel atau -t hitung < -t tabel maka hasilnya signifikan dan berarti H0 ditolak dan H1 diterima.

Sedangkan jika t hitung < t tabel atau t hitung > -t tabel maka hasilnya tidak signifikan dan berarti H0 diteima dan H1 ditolak.

Tabel 10 Hasil Uji t / Parsial

Variabel Bebas t Sig. Keterangan

(Constant) 1.872 0.063

X1 2.411 0.017 Signifikan

X2 2.381 0.018 Signifikan

X3 3.704 0.000 Signifikan

X4 2.184 0.030 Signifikan

X5 2.148 0.033 Signifikan

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Berdasarkan Tabel 4.19 diperoleh hasil sebagai berikut :

(1) t test antara X1 (Biaya) dengan Y (Pemakaian Transaksi) menunjukkan t hitung = 2,411.

Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 182) adalah sebesar 1,973. Karena t hitung > t

(15)

tabel yaitu 2,411 > 1,973 atau sig. t (0,017) < α = 0.05 maka pengaruh X1 (Biaya) terhadap Pemakaian Transaksi adalah signifikan. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemakaian Transaksi dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Biaya atau dengan meningkatkan Biaya maka Pemakaian Transaksi akan mengalami peningkatan secara nyata.

(2) t test antara X2 (Fasilitas) dengan Y (Pemakaian Transaksi) menunjukkan t hitung = 2,381.

Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 182) adalah sebesar 1,973. Karena t hitung > t tabel yaitu 2,381 > 1,973 atau sig. t (0,018) < α = 0.05 maka pengaruh X2 (Fasilitas) terhadap Pemakaian Transaksi adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemakaian Transaksi dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Fasilitas atau dengan meningkatkan Fasilitas maka Pemakaian Transaksi akan mengalami peningkatan secara signifikan.

(3) t test antara X3 (Pengetahuan dan pendidikan) dengan Y (Pemakaian Transaksi) menunjukkan t hitung = 3,704. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 182) adalah sebesar 1,973. Karena t hitung > t tabel yaitu 3,704 > 1,973 atau sig. t (0,000) < α = 0.05 maka pengaruh X3 (Pengetahuan dan pendidikan) terhadap Pemakaian Transaksi adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemakaian Transaksi dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Pengetahuan dan pendidikan atau dengan meningkatkan Pengetahuan dan pendidikan maka Pemakaian Transaksi akan mengalami peningkatan yang tinggi.

(4) t test antara X4 (Lokasi) dengan Y (Pemakaian Transaksi) menunjukkan t hitung = 2,184.

Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 182) adalah sebesar 1,973. Karena t hitung > t tabel yaitu 2,184 > 1,973 atau sig. t (0,030) < α = 0.05 maka pengaruh X4 (Lokasi) terhadap Pemakaian Transaksi adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemakaian Transaksi dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Lokasi atau dengan meningkatkan Lokasi maka Pemakaian Transaksi akan mengalami peningkatan yang tinggi.

(5) t test antara X5 (Religiusitas) dengan Y (Pemakaian Transaksi) menunjukkan t hitung = 2,148. Sedangkan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 182) adalah sebesar 1,973. Karena t hitung

> t tabel yaitu 2,148 > 1,973 atau sig. t (0,033) < α = 0.05 maka pengaruh X5 (Religiusitas) terhadap Pemakaian Transaksi adalah signifikan pada alpha 5%. Hal ini berarti H0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemakaian Transaksi dapat dipengaruhi secara signifikan oleh Religiusitas atau dengan meningkatkan Religiusitas maka Pemakaian Transaksi akan mengalami peningkatan yang tinggi.

Koefisien Determinasi (R2)

Untuk mengetahui besar kontribusi variabel bebas (Biaya (X1), Fasilitas (X2), Pengetahuan dan pendidikan (X3), Lokasi (X4), Religiusitas (X5)) terhadap variabel terikat (Pemakaian Transaksi) digunakan nilai R2, nilai R2seperti dalam Tabel 11 dibawah ini:

Tabel 11 Koefisien Korelasi dan Determinasi R R Square Adjusted R Square

0.733 0.537 0.524

Sumber: Data primer diolah, 2019.

Koefisien determinasi digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh atau kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari analisis pada Tabel 11 diperoleh hasil adjusted R2 (koefisien determinasi) sebesar 0,524. Artinya bahwa 52,4% variabel Pemakaian Transaksi akan dipengaruhi oleh variabel bebasnya, yaitu Biaya (X1), Fasilitas (X2), Pengetahuan dan pendidikan (X3), Lokasi (X4), Religiusitas (X5). Sedangkan sisanya 47,6% variabel Pemakaian Transaksi akan dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Biaya Berpengaruh Terhadap Kurang Minatnya Mahasiswa Menggunakan Bank Syariah dalam Melakukan Transaksi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel biaya bernilai signifikan terhadap variabel pemakaian transaksi, yang berarti terdapat pengaruh biaya terhadap kurang minatnya mahasiswa S1 Ekonomi Islam menggunakan bank syaria dalam melakukan transaksi. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan biaya berhubungan positif terhadap pemakaian transaksi diterima.

Seperti dalam penelitian Rahmawati (2015) bahwa lembaga keuangan syariah harus mampu memberikan bagi hasil yang tinggi dengan biaya margin pembiayaan yang murah, biaya margin

(16)

pembiayaan yang murah terjadi karena kebijakan lembaga keuangan dalam mengelola keuangan dan menetapkan biaya seminimal mungkin. Sehingga ini akan mempengaruhi pertimbangan nasabah dalam menentukan keputusan. Pada penelitian ini banyak mahasiswa yang tidak menggunakan bank syariah karena adanya biaya yang diberikan oleh bank lain ketika melakukan penarikan atau transfer antar ATM yang berbeda. Hal tersebut pasti akan sedikit memberatkan mahasiswa. Dalam hal ini bank syariah masih banyak belum melakukan kerjasama-kerjasama dengan ATM lainnya agar saat melakukan penarikan atau tranfer antar ATM yang berbeda tidak dikenai biaya administrasi atau setidaknya biaya yang diberikan oleh bank lainnya ringan.

Kerjasama tersebut perlu dilakukan karena jumlah ATM bank syariah masih terbilang sedikit untuk jumlah persebarannya. Seperti hal nya bank konvensional jika ingin melakukan penarikan di ATM yang berbeda seperti di LINK atau ATM Bersama, sehingga nasabah tidak merasa terbebani dengan adanya biaya tersebut.

Fasilitas Berpengaruh Terhadap Alasan Mahasiswa Ekonomi Islam Melakukan Transaksi Tidak Menggunakan Bank Syariah

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel fasilitas berniali signifikan positif terhadap pemakaian transaksi. Hal ini menunjukan bahwa fasilitas yang diberikan oleh bank baik atau sesuai dengan kebutuhan mahasiswa maka pemakaian transksi bank juga akan naik. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan fasilitas berhubungan positif terhadap pemakaian transaksi diterima.

Hasil penelitian ini mendukung teori Kotler (2000) yaitu fasilitas merupakan segala sesuatu yang bersifat peralatan fisik yang disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung kenyamanan konsumen. Selain teori Kotler, ada teori lainnya yang dipaparkan oleh Hardiansyah (2011) beliau mendefinisikan pelayanan sebagai aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain.

Pelayanan merupakan salah satu kunci utama dari upaya pemuasan pelanggan, dan menjadi suatu keharusan yang wajib dioptimalkan baik dari individu maupun organisasi, karena pelayanan dapat mencerminkan kualitas individu atau organisasi tersebut. Pelayanan yang baik akan memberikan kepuasan bagi pelanggannya, sehingga pelanggan akan dapat berulang kali menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan berulang kali menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan.

Bank merupakan perusahaan yang menjual jasa untuk masyarakat. Apabila fasilitas yang diberikan oleh bank sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat maka bank tertentu akan dipilih oleh masyarakat. Fasilitas yang dibutuhkan masyarakatpun juga berbeda-beda dan akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Dalam penelitian ini masih banyak mahasiswa S1 Ekonomi Islam yang tidak menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi, hal tersebut karena banyak mahasiswa yang kurang bermiat dengan fasilitas yang diberikan oleh bank syariah dan melihat fasilitas yang diberikan oleh bank konvensional jauh lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Pengaruh Pengetahuan dan Pendidikan Mahasiswa Ekonomi Islam Terhadap Minat Menggunakan Bank Syariah

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel pengetahuan dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap pemakaian transaksi menggunakan bank konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pendidikan tidak berpengaruh terhadap minat mahasiswa Ekonomi Islam menggunakan bank syariah dalam melakukan transaksi.

Pengetahuan dan pendidikan mahasiswa adalah semua informasi yang dimiliki mahasiswa mengenai berbagai macam produk dan jasa bank syariah, hukum bunga bank serta pengetahuan lainnya yang berkaitan dengan bank syariah. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan melalui kuesioner, menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswa S1 Ekonomi Islam mengenai perbankan syariah sudah memahami dengan jelas baik mengenai produk-produk bank syariah maupun hukum riba. Tetapi dari hasil koesioner yang disebar banyak mahasiwa yang menggunakan bank konvensional dalam pemakaian transaksi. Sebelumnya penelitian ini pernah dilakukan oleh Mega (2014), dalam penelitain tersebut yang menjadi objek penelitian yaitu mahasiswa S1 Ekonomi Islam Universitas Airlangga, dan hasil akhir dari penelitian tersebut banyak mahasiswa S1 Ekonomi Islam yang masih menggunakan bank konvensional sebagai alat utama dalam melakukan transaksi, dan banyak dari mahasiswa tersebut yang menyatakan bunga adalah riba dan diharamkan, tetapi selama bunga tidak melebihi tingkat inflasi 10% maka bunga bank tidak disebut riba. Sehingga tingkat pendidikan maupun pengetahuan tidak membuat mahasiswa S1

(17)

Ekonomi Islam menggunkana bank syariah, walaupun sudah mengetahui hukum bunga ban sekalipun.

Pengambilan keputusan nasabah untuk menggunakan suatu produk jasa perbankan selalu diawali dengan adanya informasi atau pengetahuan yang dimiliki oleh nasabah menganai jasa tersebut. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang pendidikannya lebih rendah. Namun dalam hal ini, mahasiswa Ekonomi Islam rata-rata sudah mengetahui hukum bunga dan produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah, dan rata-rata responden menjawab sangat sangat setuju. Walaupun banyak mahasiswa yang pengetahuan dan pendidikannya sudah tinggi dan paham mengenai bank syariah maupun hukum bunga bank, tetap saja banyak mahasiswa yang menggunakan bank konvensional. Bahkan 136 dari 185 jumlah mahasiswa aktif angakatan 2015 masih menggunakan bank konvensional dalam melakukan transaksi sehari-hari, yang mana ada sekitar 73,5 % mahasiswa aktif angkatan 2015 masih menggunakan bank konvensional dalam melakukan transaksi sehari-hari, baik itu untuk melakukan penarikan maupun pembayaran. Hal tersebut tentu saja tidak sesuai dengan yang dipelajarari oleh mahasiswa Ekonomi Islam. Dalam penjelasan Fiqh Moderen segala bunga yang dibayarkan oleh bank adalah riba yang diharamkan oleh nash-nash yang diturunkan untuk mengharamkan riba. Demikianlah yang menjadi keputusan Ijma’ Muktamar Islam dan berbagai Lembaga Pengkajian Fiqh Modern (Al-Mushlih, 2004: 415). Selain itu untuk hukum bunga sudah ditetapkan oleh Fatwa DSN MUI No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga, memutuskan bahwa bunga atau riba hukumnya adalah haram, baik dilakukan oleh bank, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya maupun yang dilakukan oleh individu. Dapat dikatakan bahwa selama ini mahasiswa Ekonomi Islam FEB UB baru memahami teori-teori yang diajarkan di kampus, tetapi dalam prakteknya masih banyak mahasiswa yang belum menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak mahasiswa yang menganggap hal tersebut bukanlah hal yang serius untuk diperhatikan. Mahasiswa memilih menggunakan bank untuk melakukan transkasi sesuai dengan kebutuhan yang mereka butuhkan.

Lokasi Berpengaruh Terhadap Pemakaian Transaksi Menggunakan Bank Konvensional Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel lokasi bernilai signifikan positif terhadap pemakaian menggunkan bank konvensional. Hal ini menunjukan bahwa Lokasi berpengaruh signifikan positif terhadap pemakaian menggunakan bank konvensional. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan Lokasi berhubungan positif terhadap Pemakaian Transaksi diterima.

Yang dimaksud dengan lokasi bank adalah tempat dimana diperjualbelikannya produk perbankan dan pusat pengendalian perbankan. Dalam praktiknya ada beberapa macam lokasi kantor bank yaitu lokasi kantor pusat, cabang utama, cabang pembantu, kantor kas, dan lokasi mesin-mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) (Kasmir, 2004: 163).

Penelitian ini mendukung teori yang dipaparkan oleh Ma’ruf (2005), beliau menyatakan bahwa lokasi memiliki pengaruh terhadap keputusan pembeli dimana lokasi yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses dibandingkan gerai lainnya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama. Tujuan dengan letaknya lokasi yang strategis adalah untuk memaksimalkan keuntungan bagi lembaga. Selain teori yang dipaparkan oleh Ma’ruf, Kasmir (2004) juga menyatakan lokasi bank adalah tempat dimana diperjualbelikannya produk perbankan dan pusat pengendalian perbankan. Penentuan lokasi bank merupakan kebijakan yang sangat penting. Bank yang terletak dalam lokasi yang strategis sangat memudahkan nasabah dalam berurusan dengan bank. Adapaun indikator lokasi yaitu: kedekatan dengan konsumen/pasar, tempat parkir yang luas, tersedia sarana dan prasarana, dan lokasi ATM yang banyak tersebar atau mudah dijangkau oleh nasabah.

Hasil pengujian hipotesis ini sejalan dengan pegujian yang dilakukan Eka (2016). Faktor lokasi yang diteliti signifikan tehadap keputusan pemakaian suatu bank tertentu, dapat diartikan bahwa lokasi bank syariah yang strategis dan mudah dijangkau oleh sarana transportasi berpengaruh terhadap keputusan mahasiswa IAIN Surakarta menggunakan bank syariah.

Penentuan lokasi suatu cabang bank merupakan salah satu kebijakan yang sangat penting.

Bank yang terletak dalam lokasi yang strategis sangat memudahkan nasabah dalam berurusan dengan bank (Kasmir, 2004: 163). Jika kita bandingkan jumlah persebaran kantor bank konvensional dengan bank syariah, maka kita akan melihat angka yang sangat timpang. Jumlah kantor bank konvensional yaitu sebanyak 31.618 kantor, sedangkan untuk bank syariah sebanyak

(18)

2.187 kantor (bi.go.id), yang mana artinya persebaran bank syariah masih sangat kurang dibandingkan dengan persebaran bank konvensional.

Faktor yang meyebabkan mahasiswa tidak menabung di bank syariah salah satunya karena lokasi ATM yang kurang. Fasilitas-fasilitas perbankan syariah yang seharusnya menjadi perhatian khusus seperti pengadaan mesin ATM masih diabaikan, hal ini sesuai dengan realita di lapangan yang mana sulit untuk menemukan ATM bank syariah karena jumlahnya yang masih terbatas, sehingga untuk mendapatkan layanan ATM bank syaraih masyarakat masih harus menggunakan ATM bank konvensional.

Jumlah ATM bank kovensional lebih dari 61 ribu, sedangkan jumlah ATM bank syariah 2.791 (bi.go.id, 2018). Dari dua data tersebut, adanya perbedaan persebaran ATM antara bank konvensional dan bank syariah. Masih sedikitnya jumlah persebaran ATM dan kantor bank syariah membuat nasabah agak kesulitan jika ingin melakukan transakasi maupun membuka rekening baru di bank syariah, terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari pusat kota, karena bank syariah saat ini masih agak susah ditemui di daerah-daerah pedesaan.

Tingginya tingkat mobilisasi mahasiswa saat ini menuntut mahasiswa untuk bergerak cepat dari suatu tempat ke tempat yang lain. Jika untuk lokasi bank maupun ATM tidak strategis maupun tidak searah dengan tempat biasanya mahasiswa melakukan aktivitas, tentu saja hal tersebut dapat mempengaruhi mahasiswa dalam memilih bank tertentu. Karena pemilihan lokasi bank maupun ATM akan mempermudah mahasiswa untuk melakukan penarikan maupun transaksi lainnya. Sedangkan untuk lokasi pengadaan ATM maupun bank masih sedikit, dan jika ada biasanya lokasi ATM maupun bank tidak searah dengan aktifitas sehari-hari, sehingga penempatannya kurang strategis.

Religiusitas Berpengaruh Terhadap Pemakaian Transaksi Menggunakan Bank Konvensional

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, variabel religiusitas bernilai signifikan positif terhadap pemakaian transaksi menggunakan bank konvensional. Hal ini menunjukan bahwa tingkat religiusitas berpengaruh signifikan positif terhadap pemakaian transaksi menggunakan bank konvensional. Oleh karena itu, hipotesis yang menyatakan religiusitas berhubungan positif terhadap pemakaian transaksi bank konvensional diterima.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nisa (2018) dalam penelitian yang dilakukan oleh Nisa menyatakan bahwa tingkat religiusitas seorang mahasiswa tidak berpengaruh terhadap minat menabung mahasiswa di bank syariah. Tetapi menurut penelitian yang dilakukan Julia (2017) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang maka akan semakin berhati-hati dalam memilih segala sesuatu yang dikerjakan sesuai dengan ajaran Islam. Sama hal nya memilih menabung di bank syariah, semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, maka minat menabung di bank syariah akan semakin besar pula karena sistem perbankan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dari hasil dua penelitian sebelumnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa walaupun tingkat religiusitas mahasiswa tinggi, hal tersebut tidak mempengaruhi seseorang menggunakan bank syariah, banyak yang menggunakan bank konvensional. Dari penelitian ini banyak mahasiswa yang melaksanakan ibadah sesuai yang diperintahkan oleh syariat Islam tetapi belum mengamalkan Islam secara kafah, yaitu menyeluruh, seperti dalam mempraktekkan fiqh muamalah. Sehingga ketika dihadapkan oleh dua pilihan, mahasiswa memilih yang lebih menguntungkan bagi mereka. Jika dikaitkan oleh penelitian ini, masyarakat menggunakan bank sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal dalam Islam kewajiban seorang muslim bukan hanya sekedar ibadah seperti menunaikan sholat, zakat, haji, dan amalan-amalan lainnya, tetapi menajuhi larangan-larangan seperti halnya meninggalkan riba termasuk kewajiban seorang muslim. Tentu saja dari hasil kuesioner yang disebar ke mahasiswa angkatan 2015-2016 Ekonomi Islam, banyak mahasiswa yang dalam ibadahnya bagus yaitu dengan rata-rata jawaban sangat setuju. Tetapi dalam urusan pemilihan bank dalam melakukan transaksi masih menggunakan bank konvensional.

Jika dilihat dari hasil penelitian sebelumnya ada yang menyatakan bahwa tingkat religiusitas berpengaruh terhadap keputusan seseorang menggunakan bank syariah dan ada juga yang menyatakan bahwa tingkat religiusitas tidak berpengaruh terhadap keputusan seseorang menggunkan bank syariah, yang mana yang menjadi objek penelitian adalah sama-sama dari mahasiswa Ekonomi Islam. Dari kedua hasil penelitian sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat religiusitas seseorang tidak berpengaruh terhadap keputusan nasabah dalam memilih bank dalam melakukan transaksi. Karena nyatanya ketika tingkat religiusitas seseorang

(19)

tinggi, bank yang akan digunakan oleh nasabah akan disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing individu. Sehingga semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang tidak membuat mahasiswa merasa harus menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi.

E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel mana sajakah yang mempunyai pengaruh pada Pemakaian Transaksi :

(1) Variabel biaya berpengaruh terhadap kurang minatnya mahasiswa menggunakan bank syariah dalam melakukan transaksi. Banyak mahasiswa yang merasa lebih puas menggunakan bank konvensional walaupuan biaya administrasi yang diberikan oleh bank konvensional lebih tinggi dibandingkan bank syariah. Tetapi biaya administrasi tersebut dianggap lebih murah jika dibandingkan dengan apa yang diperoleh mahasiswa.

(2) Variabel fasilitas menjadi alasan mahasiswa Ekonomi Islam melakukan transaksi tidak menggunakan bank syariah. Banyak mahasiswa S1 Ekonomi Islam yang tidak menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi, hal tersebut karena banyak mahasiswa yang kurang bermiat dengan fasilitas yang diberikan oleh bank syariah dan melihat fasilitas yang diberikan oleh bank konvensional jauh lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

(3) Dengan tingginya tingkat pengetahuan dan pendidikan mahasiswa Ekonomi Islam terhadap bank syariah tidak menjamin mahasiswa tersebut menggunkan bank syariah dalam menabung maupun transaksi. Karena nyatanya ilmu yang mereka dapatkan di perkuliahan tidak diprektekkan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak mahasiswa

(4) memilih menggunakan bank untuk melakukan transkasi sesuai dengan kebutuhan yang mereka butuhkan.

(5) Lokasi yang startegis membuat mahasiswa lebih memilih menggunkaan bank konvensional dibandingkan bank syariah. Karena pemilihan lokasi bank maupun ATM akan mempermudah mahasiswa untuk melakukan penarikan maupun transaksi lainnya. Sedangakn untuk lokasi pengadaan ATM maupun bank masih sedikit, dan jika ada biasanya lokasi ATM maupun bank tidak searah dengan aktifitas sehari-hari, sehingga penempatannya kurang strategis.

(6) Variabel religiusitas tidak berpengaruh terhadap mahasiswa akan menggunakan bank syariah.

Tingkat religiusitas seseorang tidak berpengaruh terhadap keputusan nasabah dalam memilih bank dalam melakukan transaksi. Karena nyatanya ketika tingkat religiusitas seseorang tinggi, bank yang akan digunakan oleh nasabah akan disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing individu. Sehingga semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang tidak membuat mahasiswa merasat harus menggunakan bank syariah sebagai alat dalam melakukan transaksi.

Saran

Kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan maupun bagi pihak-pihak lain. Adapun saran yang diberikan, antara lain:

1) Diharapkan bank syariah dapat meningkatkan fasilitas yang diberikan kepada nasabah sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh nasabah. Seperti kerjasama-kerjasama dengan online shop atau platform-platform dalam melakukan pembayaran online. Memberikan fasilitas pembayaran debit dibeberapa toko. Sehingga jika hal tersebut dilakukan maka nasabah tidak akan dikenakan biaya tambahan dari melakukan transaksi. Hal tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan oleh mahasiswa maupun masyarakat, yang mana belakangan ini sedang marak-maraknya aktifitas perdangan jual-beli online. Sehingga jika hal tersebut lebih diperhatikan dapat menambah jumlah nasabah.

2) Diharapkan proses pembelajaran di kampus dapat memberikan bagaimana nilai-nilai yang dipelajari mahasiswa di kampus dapat di praktekkan oleh mahasiswa di kehidupan sehar-hari.

Seperti yang dilakukan oleh dosen saya yaitu dengan cara mewajibkan setiap mahasiswa membuka rekening bank syariah. Sehingga mahasiswapun secara tidak langgsung perlahan- lahan mulai menggunakan bank syariah sebagai alat utama dalam melakukan transaksi.

(20)

3) Mahasiswa tetap membuka rekening bank syariah walaupun keluarga masih belum menggunakan bank syariah. Sehingga ketika mahasiswa menerima transfer dari keluarga atau orangtua, bisa langsung memindahkan ke rekening yang menggunakan bank syariah.

DAFTAR PUSTAKA

Addien, Faqih. 2017. Determinasi Mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Tetap Menjadi Nasabah Bank Konvensional. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Airlangga.

Al-Mushlih, Abdullah. 2004. Fikih Ekonomi Keuangan Islam. Pengantar: Karim, Adiwarman.

Jakarta : Darul Haq.

Ascarya. 2015. Akad dan Produk Bank Syariah. Edisi 1, Cetakan ke-5. Jakarta: Rajawali Pers.

Atik Masruroh. 2015. Analisis Pengaruh Tingkat Religiusitas dan Disposible Income terhadap Minat Menabung Mahasiswa di Perbankan Syariah (Studi Kasus Mahasiswa STAIN Salatiga), Skripsi Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Salatiga.

Azmi, Dian, dkk. 2017. Kualitas Produk, Pelayana, dan Nilai Syariah terhadap Persepsi Mahasiswa Ekonomi Islam Untuk Menjadi Nasabah di Bank Syariah. FALAH Juranl Ekonomi Syariah.Volume 2, Nomor 2, Agustus.

Daniar, Aguss. 2012. Persepsi dan Motif Menjadi Nasabah Bank Konvensioanl bagi Nasabah Muslim. Jurnal Motif

Haris, Muhammad. 2015. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Preferendi Nasabah Terhadap Bank Syariah di DKI Jakarta. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. Institut Pertanian Bogor.

Hoetoro, Arif. 2018. Ekonomi Mikro Islam Pendekatan Integratif. Malang: UB Press.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/03/125837526/januari-2018-jumlah-rekening- tabungan-naik di akses pada tanggal 19 Januari 2019

https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20181026075105-29-39119/jumlah-nasabah-bank- syariah-tembus-rekor-ayo-hijrah diakses pada tanggal 19 Januari 2019

Imam Ghozali. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Irawaty, Denisa. 2013. Anlisis Faktor-Faktor Yang Memepengaruhi Keputusan Masyarakat Kecamatan Medan Helvetia Dalam Memilih Lembaga Keuangan Sebagai Sumber Pendanaan. Jurnal Ekonomi dan Keuangan, Volume 1 Nomor 6, Juni.

Kasmir. 2004. Pemasaran Bank. Cetakan ke-2. Jakarta: Kencana.

Mega, Ririn Tri. 2014. Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Mahasiswa S1 Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Belum Menjadi Nasabah Bank Syariah. JESTT Volume 1, Nomor 8, Agustus.

Nisa, Khoirun. 2018. Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan dan Religiusitas Mahasiswa Terhadap Minat Menabung di Bank Syariah. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negri Raden Intan Lampung.

Ningsih, Julia Sri. 2017. Pengaruh Persepsi, Tingkat Religiusitas dan Disposable Income Terhadap Minat Menabung di Perbankan Syariah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negri Raden Intan Lampung.

Nopitasara, Eka. 2017. Penagruh Lokasi, Produk, Reputasi dan Pelayanan Terhadap Keputusan Mahasiswa IAIN Surakarta Menggunakan Bank Syariah. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Institut Agama Islam Negri Surakarta.

Nur Imam, Isnaeni. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Menjadi Nasabah Bank BPD DIY Syariah. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Univerisitas Islam Negri Sunana Kalijaga. Yogyakarta.

Philip Kotler. 2000. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis. Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Terjemahan: A. B. Susanto, Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat.

Rahmawati dan Rokhman. 2015. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Penetapan Margin Pada Pembiayaan Murabahah di BMT se-Kabupaten Jepara.Jurnal Ekonomi Syariah. Vol. 3.

No. 2, 1-21.

Rivai, Harif Amali, M.Si,Niki Lukviarman, Syafrizal, Syukri Lukman, Fery Andrianus. 2006.

Identifikasi Faktor Penentu Keputusan Konsumen Dalam Memilih Jasa Perbankan: Bank Syariah VS Bank Konvensional. Kerjasama Bank Indonesia dan Center for Banking Research Universitas Andalas Padang.

(21)

Satria, Dias. 2017. A-Z Skripsi Ilmu Ekonomi, Keuangan dan Perbankan. Malang: UB Press.

Sectio, Yuli. 2013. Pendidikan: Hakikat, Tujuan, dan Proses. Jurnal Pendidikan.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Syafi’i Antonio, Muhammad. 2001.Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Cetakan 1. Jakarta: Gema Insani Press.

Veithzal Rivai, dkk. 2007. Bank adn Financial Institution Management, Conventional and Sharia System. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Zulganef. 2008. Metode Penelitian Sosial dan Bisnis. Edisi 1, Cetakan Pertama. Yogyakarta:

Graha lmu.

Gambar

Grafik 1 Total Aset Bank Syariah
Tabel 1 Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil
Tabel 3 Variabel Independen
Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menjelaskan akad transaksi dalam Bank syariah. 7 Memahami ekonomi islam Menjelaskan ilmu dan

Apakah pertimbangan pasar kerja mempengaruhi minat mahasiswa Fakultas Ekonomi di Kota Medan untuk bekerja di bank syariah. Apakah penghargaan finansial mempengaruhi minat

Hal ini menandakan tingkat efisien dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya pada kegiatan Bank Umum Syariah masih harus banyak perbaiakan.Bank Mega Syariah

Dengan sistem sesuai syariah islam, Bank Muamalat ternyata mampu melewati krisis ekonomi dan dapat predikat sebagai salah satu bank tersehat di Indonesia,

Mata uang dalam Islam lebih sebagai alat tukar, nilai harga, nilai usaha, alat perhubungan, dan alat simpanan dalam bank-bank dalam seluruh transaksi ekonomi

Mahasiswa ekonomi Islam Yogyakarta yang dijadikan responden dalam penelitian ini sebagian besar menggunakan rekening tabungan bank syariah untuk melakukan transaksi,

Dengan melihat keadaan sekitarnya yang berkarir di Bank Syariah, membuat mahasiswa berminat berkarir di Bank Syariah Dari hasil penelitian yang telah di lakukan bahwa Lingkungan sosial

Oleh karena itu, Bank Muammalat Indonesia BMI sebagai perintis utama berdirinya bank dengan sistem syariah harus dapat meningkatkan kualitas jasa yang diberikan pada setiap nasabahnya