Faktor Pembentuk dan Perkembangan Tanah
Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram Rizki Amelia_C1B022093
A. Pendahuluan 1. Latar Belakang
Tanah merupakan komponen esensial dalam sistem kehidupan di Bumi, berperan sebagai media tumbuh bagi vegetasi, penyedia unsur hara dan air, serta habitat bagi berbagai organisme. Peranannya mencakup penyaringan alami yang membantu menjaga kualitas air tanah dan air permukaan, serta kontribusi terhadap kestabilan iklim dan produksi pangan. Kualitas dan fungsi tanah sangat menentukan keseimbangan lingkungan dan kualitas hidup manusia. Tanah juga menyediakan habitat bagi mikroorganisme dan fauna tanah yang berperan dalam dekomposisi bahan organik dan siklus nutrisi, yang pada gilirannya mendukung produktivitas ekosistem (S choonover & Crim, 2015).
Namun, tanah bukanlah entitas yang terbentuk secara instan. Proses pembentukan tanah, atau pedogenesis, merupakan hasil interaksi dinamis antara berbagai faktor selama kurun waktu geologis. Faktor-faktor tersebut meliputi bahan induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu—masing-masing berkontribusi dalam membentuk sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor ini penting untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Sebagai contoh, fauna tanah seperti cacing dan serangga berperan dalam menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi, dan mendistribusikan bahan organik, yang semuanya berkontribusi pada kesuburan tanah (Javed et al., 2022)
Melalui kajian terhadap faktor pembentuk dan perkembangan tanah, kita dapat memahami asal-usul dan karakteristik tanah di suatu wilayah, serta merumuskan strategi pelestarian tanah yang bijaksana. Pengelolaan tanah yang berlandaskan pada pemahaman ilmiah dapat mencegah degradasi lahan dan memastikan keberlanjutan fungsi tanah bagi generasi mendatang. Peran tanah dalam ekosistem juga mencakup penyediaan nutrisi bagi tanaman, yang sangat bergantung pada kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi tersebut (Suwarno, 2018)
2. Tujuan dan Urgensi a. Tujuan
Adapun tujuan dari artikel ini yaitu untuk memberikan pemahaman tentang peran faktor pembentuk tanah dalam menentukan morfologi dan klasifikasinya, serta pentingnya pemahaman tersebut untuk pengelolaan lahan dan sumber daya alam secara berkelanjutan.
b. Urgensi
Pentingnya kajian ini terletak pada kenyataan bahwa tanah merupakan sistem alami yang kompleks dan terus mengalami perubahan. Dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, pengelolaan tanah yang efektif memerlukan pemahaman yang kuat terhadap jenis dan sifat tanah. Dengan memahami morfologi serta klasifikasinya, para akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi lapangan dapat merancang strategi pemanfaatan lahan yang lebih tepat guna dan ramah lingkungan.
B. Kajian Toeri
Morfologi tanah merupakan kajian mengenai karakteristik fisik tanah yang bisa diamati langsung di lapangan, seperti warna, tekstur, struktur, konsistensi, serta pembagian horizon tanah. Observasi ini memberikan pemahaman mengenai proses pembentukan tanah (pedogenesis) dan sangat berguna dalam kegiatan klasifikasi tanah maupun penilaian kelayakan lahan. (Iyanti et al., 2023) menyatakan bahwa morfologi tanah menggambarkan kondisi fisik tanah yang bisa dikaji secara langsung, dan mencerminkan dinamika serta perubahan yang terjadi di dalam profil tanah melalui deskripsi dan interpretasi berbagai sifat tanah.
Morfologi tanah terdiri dari beberapa komponen fisik utama yang saling terkait, seperti tekstur, warna, struktur, konsistensi, dan profil tanah. Tekstur menunjukkan perbandingan antara pasir, debu, dan liat yang memengaruhi kemampuan tanah menahan air dan udara. Warna tanah menjadi indikator kandungan bahan organik, tingkat oksidasi, dan sistem drainase. Struktur tanah berkaitan dengan bentuk agregat yang memengaruhi pergerakan air dan pertumbuhan akar, sementara konsistensi menggambarkan kekuatan tanah dalam berbagai kondisi kelembapan. Profil tanah menunjukkan susunan horizon dari permukaan ke bawah, yang mencerminkan proses pembentukan tanah.(Ramandha et al., 2021).
Morfologi tanah berperan penting dalam menentukan kesuburan karena sifat fisiknya—seperti tekstur, warna, struktur, konsistensi, dan profil mempengaruhi kemampuan tanah menyimpan air, udara, dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Penelitian oleh (Dergong et al., 2022) Kandungan bahan organik yang tinggi
meningkatkan keanekaragaman makrofauna tanah, yang berperan dalam memperbaiki kualitas dan kesuburan tanah. Selain itu, (Gani et al., 2021) Tekstur dan warna tanah sebagai bagian dari morfologi berpengaruh pada kandungan bahan organik dan unsur hara, sehingga menentukan tingkat kesuburan.
USDA Soil Taxonomy adalah sistem klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh Soil Survey Staff dari USDA dengan pendekatan hierarkis yang terdiri atas enam tingkatan: Ordo, Subordo, Great Group, Subgroup, Family, dan Seri. Setiap tingkatannya disusun berdasarkan karakteristik tanah yang dapat diamati di lapangan dan dianalisis di laboratorium, seperti sifat morfologi, fisik, kimia, dan biologi.
Keunggulan sistem ini terletak pada struktur klasifikasinya yang rinci, konsisten, dan aplikatif, sehingga sangat membantu dalam kegiatan pemetaan tanah, evaluasi lahan, dan perencanaan penggunaan lahan secara efektif. Di Indonesia, sistem ini telah diadaptasi dan digunakan secara luas untuk mendukung survei serta penelitian tanah di berbagai wilayah dengan menyesuaikan kondisi local (Agroekoteknologi & No, 2015).
World Reference Base for Soil Resources (WRB) adalah sistem klasifikasi tanah internasional yang dikembangkan oleh IUSS dan FAO, dengan fokus pada sifat morfologi tanah sebagai indikator utama. WRB mengelompokkan tanah ke dalam Reference Soil Groups (RSGs) dan qualifiers, serta lebih menekankan karakteristik lapangan dibanding faktor iklim seperti pada USDA Soil Taxonomy. Sistem ini banyak digunakan untuk pemetaan tanah skala besar, termasuk di Indonesia. (Schad, 2016).
Di Indonesia, kedua sistem klasifikasi tanah ini digunakan secara bersamaan untuk mendukung kegiatan survei tanah, penelitian, dan perencanaan penggunaan lahan. USDA Soil Taxonomy memberikan rincian deskriptif yang sangat spesifik, sementara WRB menawarkan fleksibilitas dan kemudahan dalam penerapan di berbagai kondisi regional. Penggunaan kedua sistem ini secara komplementer memungkinkan penilaian karakteristik tanah yang lebih akurat dan menyeluruh (Khusrizal et al., 2022) .
USDA Soil Taxonomy mengklasifikasikan tanah ke dalam 12 ordo utama berdasarkan sifat fisik, kimia, dan morfologi, seperti Entisols (tanah muda), Inceptisols (tanah berkembang awal), Alfisols (subur), Ultisols (miskin hara), dan Oxisols (terdegradasi) (Fischer, 1960). Berbeda dengan USDA, WRB dikembangkan oleh FAO dan IUSS, mengklasifikasikan tanah ke dalam 32 Reference Soil Groups (RSGs) yang lebih fleksibel dan dapat diterapkan global. Contoh tanah dalam sistem ini meliputi Acrisols, Ferralsols, Gleysols, Leptosols, dan Vertisols, masing-masing dengan
karakteristik spesifik seperti kejenuhan basa rendah, stabilitas fisik, atau perubahan volume sesuai kelembapan.(Ummah, 2019).
Bahan induk adalah material asal pembentuk tanah yang sangat berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah, termasuk tekstur, pH, dan kandungan hara. Komposisi mineralnya menentukan tingkat kesuburan tanah, seperti yang terlihat pada bahan induk vulkanik (misalnya basalt) yang menghasilkan tanah subur dengan kapasitas tukar kation tinggi (Pertanian, 2018). Variasi bahan induk juga memengaruhi persebaran unsur hara (N, P, K) dalam tanah, serta potensi dan kendala penggunaannya (Siswanto, 2019). Kondisi iklim terutama intensitas curah hujan dan suhu udara juga menjadi salah satu faktor dominan dalam proses pembentukan tanah (pedogenesis). Curah hujan tinggi mempercepat pelapukan batuan dan pencucian unsur hara, mengurangi kandungan nutrisi tanah di daerah tropis. Sebaliknya, curah hujan rendah menghasilkan tanah dangkal dengan sedikit bahan organik. Suhu yang lebih hangat mempercepat penguraian bahan organik dan pelapukan mineral, mempengaruhi pembentukan horizon tanah, kandungan hara, dan sifat fisik tanah.(Damanik et al., 2011).
Mikroorganisme tanah, seperti bakteri dan jamur, berperan dalam dekomposisi bahan organik, fiksasi nitrogen, dan pelarutan fosfat, menjadikannya tersedia bagi tanaman untuk pertumbuhan.(Tarmeji et al., 2018). Selain itu, mikroorganisme tanah dapat digunakan sebagai bioindikator kesuburan tanah, sehingga penting untuk memahami jenis organisme dalam tanah dan peranannya terhadap kesuburan tanah (Febriana, 2024). Akar tanaman memperbaiki struktur tanah dengan mengeluarkan senyawa organik yang merangsang aktivitas mikroorganisme, selain berfungsi sebagai penopang dan saluran air.(Adolph, 2016) Eksudat akar menyediakan energi bagi mikroorganisme dan membantu membentuk struktur tanah yang stabil. Fauna tanah, seperti cacing dan serangga, berkontribusi melalui bioturbasi, yang meningkatkan aerasi, porositas, dan mempercepat dekomposisi bahan organik, mendukung pertumbuhan tanaman.
Topografi memengaruhi pembentukan tanah, di mana lereng curam rentan terhadap erosi dan mengurangi kesuburan, sementara lereng landai mendukung akumulasi bahan organik dan perkembangan struktur tanah yang lebih stabil. Dari hasil penelitian oleh (Aryani et al., 2022) Elevasi memengaruhi suhu dan kelembapan, yang berdampak pada aktivitas organisme tanah dan pelapukan batuan induk. Kondisi topografi juga memengaruhi dinamika air tanah, distribusi bahan organik, dan intensitas erosi, yang penting dalam pembentukan dan variasi jenis tanah. Waktu merupakan
faktor kunci dalam pedogenesis, di mana interaksi berkelanjutan antara bahan induk dan lingkungan selama jutaan tahun membentuk karakteristik tanah. Tanah yang lebih tua memiliki horizon yang jelas, struktur stabil, dan akumulasi bahan organik lebih banyak dibandingkan tanah muda.(Chen et al., 2018). Waktu berperan sebagai faktor penentu dalam penambahan, translokasi, dan transformasi bahan tanah. Setelah faktor lain tersedia, waktu memungkinkan perubahan bertahap yang memengaruhi distribusi hara, kedalaman horizon, dan pembentukan mineral sekunder.(Pertanian, 2018). Selain itu, dalam penelitian oleh (Herdiansyah et al., 2021) juga menjelaskan tanah di lahan vulkanik memerlukan waktu lama untuk mencapai kestabilan morfologi dan kimia.
Tanah yang lebih tua menunjukkan pencucian hara intensif, pembentukan horizon spodik atau argilik, dan penurunan pH akibat pelapukan jangka panjang.
C. Metodelogi
Artikel ini disusun menggunakan metode studi pustaka sebagai pendekatan utama. Studi pustaka berkaitan dengan kajian teoritis dan beberapa referensi yang tidak akan lepas dari literatur-literatur ilmiah (Putri, 2019). Sumber pustaka yang digunakan berasal dari jurnal ilmiah, makalah, skripsi, media elektronik, dan website lembaga- lembaga yang relevan dengan topik tulisan. Tujuan dari studi pustaka ini adalah untuk memperoleh informasi dan wawasan tambahan yang mendalam bagi penulis mengenai topik yang dibahas. Referensi yang terkumpul kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan materi, menemukan solusi, dan merumuskan kesimpulan yang utuh dalam tulisan ini.
D. Pembahasan
1. Analisis hubungan antara faktor pembentuk tanah dan karakteristik morfologi serta klasifikasi tanah.
Bahan induk, seperti batuan dan endapan mineral, memengaruhi karakteristik morfologi tanah, termasuk warna, tekstur, dan struktur. Misalnya, tanah dari batuan kapur cenderung memiliki warna cerah, tekstur halus, dan kandungan kalsium tinggi, yang dapat mengarah pada kategori seperti Calciudolls atau Alfisols dalam klasifikasi tanah. Studi oleh (Chen et al., 2018) Di wilayah karst, variasi bahan induk, seperti batu gamping dan batuan silikat, menghasilkan perbedaan morfologi dan jenis tanah. Tanah dari batu gamping memiliki pH lebih tinggi, tekstur halus, dan horizon lebih berkembang, sementara tanah dari batuan silikat lebih gelap, kandungan lempung
rendah, dan horizon lebih sederhana. Perbedaan ini memengaruhi klasifikasi dan identitas tanah.
Iklim, melalui curah hujan dan suhu, memengaruhi pelapukan dan pembentukan tanah. Curah hujan tinggi mempercepat pelapukan dan pencucian hara, sementara daerah kering menghasilkan tanah dangkal dengan akumulasi garam. Suhu memengaruhi aktivitas mikroba dan dekomposisi bahan organik, berkontribusi pada pembentukan tipe tanah seperti Oxisols di daerah basah dan Aridisols di daerah kering.
(Chen et al., 2018) menggaris bawahi pentingnya peran iklim dalam membentuk karakter tanah. Penelitian Ramadhan menunjukkan bahwa iklim berperan penting dalam pembentukan tanah. Perbedaan curah hujan dan suhu antara dataran tinggi dan rendah memengaruhi ketebalan horizon, akumulasi bahan organik, serta laju pelapukan mineral, yang menentukan jenis dan tingkat kematangan tanah.
Topografi memengaruhi erosi, distribusi air, dan akumulasi bahan organik.
Lereng curam menghasilkan tanah dangkal dan miskin organik, sementara dataran mendukung akumulasi bahan dan horizon lebih dalam, memengaruhi morfologi dan klasifikasi tanah seperti Inceptisols dan Vertisols. Penelitian oleh (Ferdeanty et al., 2020) juga menegaskan bahwa Variasi topografi memengaruhi kedalaman horizon dan kandungan bahan organik tanah. Lereng curam cenderung mengalami erosi, menghasilkan horizon dangkal, sedangkan topografi landai mendukung pelapukan dan akumulasi bahan organik. Kondisi ini berpengaruh pada klasifikasi tanah, seperti perbedaan antara Andepts dan Udands dalam USDA Soil Taxonomy.
Organisme tanah berperan penting dalam pedogenesis melalui dekomposisi organik, pelapukan mineral, dan pembentukan agregat. Aktivitas mikroba dan fauna tanah memengaruhi horizon, struktur, dan kandungan organik, yang menjadi indikator utama dalam klasifikasi tanah seperti Soil Taxonomy dan WRB(Delfianto et al., 2021) . Organisme tanah membantu memperbaiki sifat fisik seperti porositas dan aerasi, serta mempercepat siklus hara, sehingga meningkatkan kualitas dan kesuburan tanah.(Gayo et al., 2022). Dengan demikian, aktivitas organisme tanah berperan penting dalam ekosistem dan menjadi indikator dalam klasifikasi tanah secara ilmiah.
Waktu memengaruhi pedogenesis dengan memungkinkan interaksi faktor- faktor pembentuk tanah. Tanah muda, seperti dari endapan vulkanik, berbeda sifatnya dari tanah tua yang telah berkembang lama. Perubahan seperti pada Inceptisol pascapenambangan juga mencerminkan dampak waktu terhadap morfologi dan klasifikasi tanah (Efriandi, 2020).
2. Studi kasus mengenai jenis tanah tertentu di berbagai wilayah berdasarkan faktor pembentuknya.
MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI TANAH PADA FORMASI PENIRON BAHAN INDUK ANDESIT PIROKSEN DI DESA PAGEDONGAN, BANJARNEGARA
Hasil studi menunjukkan bahwa tanah di Desa Pagedongan yang terbentuk dari bahan induk andesit piroksen memiliki perkembangan profil tanah yang cukup kompleks. Profil tanah memperlihatkan horizon-horizon yang berkembang dengan baik, yaitu horizon A (topsoil), Bt (horizon argilik), dan C (batuan terlapuk). Horizon A memiliki warna coklat tua, struktur granular, dan tekstur lempung, yang mengindikasikan akumulasi bahan organik hasil aktivitas organisme dan pelapukan lanjutan. Horizon Bt menunjukkan adanya akumulasi liat (clay illuviation), dengan struktur blok mengikat dan tekstur lempung berat, sedangkan horizon C menunjukkan masih adanya karakteristik fisik dari batuan asal.
Berdasarkan hasil analisis laboratorium dan klasifikasi Soil Taxonomy (USDA), tanah ini diklasifikasikan ke dalam ordo Ultisol, subordo Humults, dan great group Palehumults, dengan subgrup Typic Palehumults. Kriteria utama klasifikasi ini adalah kejenuhan basa yang rendah (<35%) dan adanya horizon argilik dengan kandungan lempung tinggi. Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut dan cenderung miskin hara karena proses pencucian yang intensif.
Faktor pembentuk tanah di wilayah Desa Pagedongan, Banjarnegara, menunjukkan interaksi kompleks antara bahan induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu yang membentuk tanah bertipe Ultisol. Bahan induk berupa batuan andesit piroksen menyediakan mineral primer seperti piroksen dan plagioklas yang mudah melapuk, menghasilkan tanah bertekstur lempung. Iklim tropis basah dengan curah hujan tinggi (±1.634 mm/tahun) dan suhu rata-rata 25,7°C mempercepat proses pelapukan kimia dan pencucian unsur hara. Topografi yang curam (15–45%) meningkatkan erosi dan translokasi partikel lempung dari horizon atas ke horizon bawah, mempercepat pembentukan horizon argilik. Aktivitas organisme, termasuk vegetasi semak dan mikroorganisme tanah, mendorong akumulasi bahan organik di horizon permukaan. Seluruh proses ini berlangsung dalam waktu yang lama, memungkinkan berkembangnya profil tanah yang matang dengan horizon-horizon yang jelas dan sifat kimia yang mencerminkan tanah tua, yaitu Ultisol bertipe Typic Palehumults.
3. Dampak perubahan lingkungan terhadap morfologi dan klasifikasi tanah.
Perubahan lingkungan, baik yang disebabkan oleh faktor alami maupun aktivitas manusia, memiliki dampak signifikan terhadap morfologi dan klasifikasi tanah (Asril et al., 2024). Sebagai contoh, tanah Ultisol di Desa Pagedongan, yang awalnya stabil akibat proses pedogenesis jangka panjang dapat mengalami degradasi akibat perubahan penggunaan lahan. Aktivitas seperti konversi lahan menyebabkan erosi, kerusakan struktur, dan penurunan kualitas tanah, yang berpotensi mengubah klasifikasinya.
Demikian pula, penelitian oleh (Tenggara et al., 2024) di lahan bekas tambang menunjukkan bahwa Revegetasi belum sepenuhnya memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, menunjukkan bahwa degradasi tanah akibat aktivitas manusia sulit dipulihkan.
Perubahan lingkungan berdampak signifikan terhadap morfologi, klasifikasi tanah, serta kesuburan lahan, sehingga pengelolaan lahan yang berkelanjutan sangat penting.
E. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa perkembangan dan pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor utama, yaitu bahan induk, iklim, topografi, organisme, serta waktu. Kelima faktor ini berinteraksi secara dinamis membentuk ciri-ciri morfologi tanah, seperti warna, tekstur, struktur, konsistensi, dan keberadaan horizon. Morfologi tanah berperan penting dalam menentukan tingkat kesuburan dan klasifikasi tanah, baik menggunakan sistem USDA Soil Taxonomy maupun World Reference Base (WRB). Studi kasus pada tanah dari bahan induk andesit piroksen di Desa Pagedongan menunjukkan bahwa tanah tersebut, yang mengalami pelapukan lanjut di bawah iklim tropis lembap dan berada di wilayah dengan topografi curam, termasuk dalam klasifikasi Ultisol dengan kejenuhan basa yang rendah serta horizon argilik yang sudah berkembang. Selain itu, perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan, dapat mengubah morfologi dan klasifikasi tanah, serta berdampak negatif terhadap kualitas dan produktivitas tanah.
Saran
Untuk memastikan keberlanjutan fungsi tanah, diperlukan pengelolaan yang berbasis pada kajian ilmiah dengan mempertimbangkan morfologi tanah serta faktor- faktor yang memengaruhi pembentukannya. Perencanaan penggunaan lahan harus disesuaikan dengan karakteristik tanah guna mencegah terjadinya degradasi, terutama di daerah bertopografi curam yang rawan mengalami erosi. Upaya rehabilitasi lahan yang telah terdegradasi harus dilakukan secara komprehensif, misalnya melalui
revegetasi dan penambahan bahan organik untuk memperbaiki struktur dan meningkatkan kesuburan tanah. Selain itu, perlu adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman dari masyarakat maupun para pengambil kebijakan mengenai peran penting morfologi dan klasifikasi tanah dalam pengelolaan sumber daya alam.
Monitoring serta evaluasi rutin terhadap perubahan kondisi tanah juga sangat diperlukan agar penurunan kualitas tanah dapat dikenali lebih awal dan ditindaklanjuti dengan langkah yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Adolph, R. (2016). 済無No Title No Title No Title.
Agroekoteknologi, J. O., & No, I. (2015). Klasifikasi Tanah Berdasarkan Taksonomi Tanah 2014 di Desa Sembahe Kecamatan Sibolangit Soil Classification Based on Soil Taxonomy 12. 3(4), 1447–1458.
Aryani, R. D., Basuki, I. F., Budisantoso, I., & Widyastuti, A. (2022). Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanam Cabai Rawit
(Capsicum frutescens L.). Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences, 6(2), 202–211. https://doi.org/10.25047/agriprima.v6i2.485
Asril, M., Pajula, H., Sofyan, A., Ladjinga, E., Dedy, A., & Hasan, A. (2024). Kajian Morfologi dan Sifat Fisika Tanah Pada Lahan Pasca Tambang Galian C. 9(3), 173–184.
Chen, X. X. X. X., Tsai, M. Y., Wolynes, P. G., da Rosa, G., Grille, L., Calzada, V., Ahmad, K., Arcon, J. P., Battistini, F., Bayarri, G., Bishop, T., Carloni, P., Cheatham, T. E., Collepardo-Guevara, R., Czub, J., Espinosa, J. R., Galindo- Murillo, R., Harris, S. A., Hospital, A., … Crothers, D. M. (2018). No 主観的健 康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造 分析Title. In Nucleic Acids Research (Vol. 6, Issue 1).
http://dx.doi.org/10.1016/j.gde.2016.09.008%0Ahttp://dx.doi.org/10.1007/
s00412-015-0543-8%0Ahttp://dx.doi.org/10.1038/nature08473%0Ahttp://
dx.doi.org/10.1016/j.jmb.2009.01.007%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/
j.jmb.2012.10.008%0Ahttp://dx.doi.org/10.1038/s41598-018-2212
Damanik, M. M. B., Hasibuan, B. E., Fauzi, S., & Hanum, H. (2011). Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Medan. In Universitas Sumatera Utara Press, Medan
(Issue October).
https://www.researchgate.net/profile/Rivandi-Putra/publication/374588185_Kesu buran_Tanah_dan_Pemupukan/links/652643df0d999b4754b82dee/Kesuburan- Tanah-dan-Pemupukan.pdf
Delfianto, R., Rayes, M. L., & Agustina, C. (2021). Morfologi Dan Klasifikasi Tanah Pada Toposekuen Lereng Barat Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur. Jurnal Tanah Dan Sumberdaya Lahan, 8(2), 539–552.
https://doi.org/10.21776/ub.jtsl.2021.008.2.24
Dergong, S. D., Kusumadewi, A. . I., & Atmaja, I. W. D. (2022). Hubungan Kadar Bahan Organik Tanah dengan Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Lahan Pertanian di Kecamatan Baturiti. Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 11(3), 286–
300. https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAT286
Efriandi, E. (2020). Morfologi Tanah Inceptisol Setelah Dilakukan Penambangan Untuk Bahan Baku Pembuatan Batu Bata. Jurnal Tanah Dan Sumberdaya Lahan, 7(1), 159–166. https://doi.org/10.21776/ub.jtsl.2020.007.1.20 Febriana, D. dan D. S. (2024). Pengaruh Keragaman Jenis Organisme Terhadap
Kesuburan Tanah. Agrosience, 14(1), 5–24.
Ferdeanty, F., Sufardi, S., & Arabia, T. (2020). Karakteristik Morfologi dan
Klasifikasi Tanah Andisol di Lahan Kering Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, 4(4), 666–676. https://doi.org/10.17969/jimfp.v4i4.12694 Fischer, J. (1960). Dreiersysteme, Vierersysteme, Fünfersysteme und Größenlehre.
Archiv Für Elektrotechnik, 45(4), 225–232. https://doi.org/10.1007/BF01574372 Gani, R. A., Purwanto, S., & Sukarman, S. (2021). Karakteristik Tanah Vulkanik di
Kabupaten Wonosobo dan Pengelolaannya untuk Pertanian Characteristics of Volcanic Soils at Wonosobo District and their Management for Agriculture.
Jurnal Tanah Dan Iklim, 45(1), 1–11.
http://dx.doi.org/10.21082/jti.v45n1.2021.1-11
Gayo, A. A. P., Zainabun, Z., & Arabia, T. (2022). Karakterisasi Morfologi dan Klasifikasi Tanah Aluvial Menurut Sistem Soil Taxonomy di Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian, 7(3), 503–508.
https://doi.org/10.17969/jimfp.v7i3.20885
Herdiansyah, G., Sofyan, E. T., Bawana, S., & Herawati, A. (2021). Perkembangan Tanah Dari Bahan Induk Vulkanik Di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor.
JURNAL TANAH DAN AIR (Soil and Water Journal), 17(2), 56.
https://doi.org/10.31315/jta.v17i2.4235
Iyanti, N., Tufaila, M., & Syaf, H. (2023). KABUPATEN MUNA Soil morphological characteristics in various land use types in Labaha Village , Watopute Sub- District , Muna Regency. 03(02), 115–121.
Javed, A., Ali, E., Binte Afzal, K., Osman, A., & Riaz, D. S. (2022). Soil Fertility:
Factors Affecting Soil Fertility, and Biodiversity Responsible for Soil Fertility.
International Journal of Plant, Animal and Environmental Sciences, 12(01), 21–
33. https://doi.org/10.26502/ijpaes.202129
Khusrizal, Oktavia, N., Muliana, & Nasruddin. (2022). Pedogenesis dan Klasifikasi Tanah Sub-Das Peusangan Hilir Berdasarkan Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah dan Fao-Unesco. Jurnal Agrium, 19(4), 316–327.
Pertanian, P. (2018). TANAH ANDOSOL DI INDONESIA (Issue February).
Putri, A. E. (2019). Evaluasi Program Bimbingan Dan Konseling: Sebuah Studi Pustaka. JBKI (Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia), 4(2), 39.
https://doi.org/10.26737/jbki.v4i2.890
Ramandha, M. R., Wiharso, D., Supriatin, S., & Salam, A. K. (2021).
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH PADA LAHAN PERTANAMAN UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) DAN KEBUN CAMPURAN DI DESA ADIPURO KECAMATAN TRIMURJO, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH. Jurnal Agrotek Tropika, 9(1), 91.
https://doi.org/10.23960/jat.v9i1.4793
Schad, P. (2016). The International Soil Classification System WRB, Third Edition, 2014. In Springer Water. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24409-9_25 Schoonover, J. E., & Crim, J. F. (2015). An Introduction to Soil Concepts and the
Role of Soils in Watershed Management. Journal of Contemporary Water Research & Education, 154(1), 21–47. https://doi.org/10.1111/j.1936- 704x.2015.03186.x
Siswanto, B. (2019). Sebaran Unsur Hara N, P, K Dan Ph Dalam Tanah. Buana Sains, 18(2), 109. https://doi.org/10.33366/bs.v18i2.1184
Suwarno, D. P. P. (2018). Technosol Tanah Masa Depan. Agroista Jurnal
Agroteknologi, 2(1), 93–107. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.34083.71208 Tarmeji, A., Shanti, R., & Patmawati. (2018). Hubungan Bahan Organik dengan
Keberadaan Fauna Tanah pada Umur Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang yang Berbeda. Agorekoteknologi Tropika Lembab, 1(1), 1–10.
Tenggara, W. N., Widjaja, H., & Suryaningtyas, D. T. (2024). The Effect of Revegetation on Soil Properties of Copper Post-Mining Land in. Journal of Mining Environment Management, 1(1), 1–11.
Ummah, M. S. (2019). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康
関連指標に関する共分散構造分析Title. In Sustainability (Switzerland) (Vol.
11, Issue 1).
http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng- 8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/
j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/
305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTA RI