• Tidak ada hasil yang ditemukan

faktor penyebab konversi lahan tanaman padi ke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "faktor penyebab konversi lahan tanaman padi ke"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

FAKTOR PENYEBAB KONVERSI LAHAN TANAMAN PADI KE TANAMAN KARET DI KELURAHAN PULAU TEMIANG

KECAMATAN TEBO ULU KABUPATEN TEBO Oleh:

Muhammad Ridwan*, Dasrizal**, Elvi Zuriyani**

Mahasiswa Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat*

Dosen Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat**

ABSTRACT

The research on the background by many people in kelurahan Pulau Temiang subdistrict Tebo Ulu Tebo district that conversion paddy plant to rubber plant. This study aims to determine the data or information and analyze the data in depth about the level of production, sales price and the management of cost the paddy plants and rubber plants in kelurahan Pulau Temiang Tebo Ulu subdistrict Tebo, Tebo district. This type of research used in this research is qualitative data descriptive generated in the form of speech or writing and behavior of the people being observed.

Through qualitative research researchers can identify the subject, feel what they experience in everyday life. To obtain answers to the object in the required thorough research informants through the community and other agencies to research purposes. Informants were taken by means snow ball sampling technique (snowball) and further process this snowball continues until researchers obtained data is needed. Informants in this study were farmers land conversion from paddy plant to rubber plant. The results of the research as showed: 1) The level production paddy of 7-10 sacks of on 0.5 hectares of land and money earned Rp1,500,000-Rp2,600,000 for 3 months. 50-60 Kg while the rubber plant on 0.5 hectares of land acquired Rp350.000-450.000 money of week, on 3 months of earnings rubber plant is Rp4.000.000-5.400.000. The level production of paddy plants and rubber comparable rubber production is greater than the paddy. 2) The selling price of paddy plants Rp250.000-Rp270.000 persacks, with an income of 7-10 sack on 0.5 hectares of land, acquired money Rp2.700.000-Rp1.500.000 in one harvest. The selling price of rubber Rp7000-Rp8000 of Kg, with earnings of 50-60 kg on 0.5 hectares of land and earned money Rp350.000-450.000 per week, for 3 months earnings rubber is Rp4.000.000-5.400.000. the selling price of paddy plants and rubber plants can be compared to the selling price of rubber plants larger than in paddy plants. 3) The management of cost of the paddy plant from seedling to harvest is Rp2,000,000-Rp2,500,000 to results Rp1,500,000-3,000,000 and management costs rubber crop farmer pay Rp1,500,000-Rp2,500,000 to buy seeds and garden and income for 3 months Rp4.000.000-5.400.000. The management of cost the paddy plants and rubber plants can be compared to the cost of managing paddy crop is greater than the management of cost rubber plantation.

Key words: convertion, paddy plant, rubber plant

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar penduduk indonesia pekerjaannya adalah petani, artinya petani mempunyai peran penting dari seluruh perekonomian Nasional. Hal ini banyaknya

penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja dari sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan sektor yang banyak dilaksanakan oleh masyarakat indonesia karna lebih kurang 60% masyarakat indonesia bergerak dibidang pertanian. Jadi, sektor pertanian merupakan sektor

(3)

terpenting dan terbesar yang ada di indonesia.

Menurut Fahmudi (2004) konversi lahan sawah adalah suatu proses yang disengaja oleh manusia (anthropogenic), bukan suatu proses alami. Kita ketahui bahwa percetakan sawah dilakukan dengan biaya tinggi, namun ironisnya konversi lahan tersebut sulit dihindari dan terjadi setelah system produksi pada lahan sawah tersebut berjalan dengan baik. Konversi lahan merupakan konsekuensi logis dari peningkatan aktivitas dan jumlah penduduk serta proses pembangunan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif.

Di kelurahan Pulau Temiang luas lahan tanaman karet mengalami peningkatan dan luas lahan tanaman padi mengalami penurunan dalam 4 tahun belakangan ini.

Pada tahun 2010 luas lahan tanaman karet yaitu 1312 Ha dan pada tahun 2014 yaitu 1381 Ha. Sedangkan luas lahan tanaman padi pada tahun 2010 yaitu 110 Ha da pada tahun 2014 yaitu 32 Ha. (Kantor Petanian Kec Tebo Ulu 2015).

Tanaman karet lebih lebih diminati oleh petani dikarenakan produksi tanaman karet lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman padi. Produktivitas tanaman padi pada tahun 2011 hanya 50,41 ton/Ha pertahun dengan biaya pengelolaan yang tinggi sedangkan produktivitas tanaman karet yaitu 48.915 ton/Ha dengan biaya pengelolaan yang rendah, dan risiko gagal panen dan dan harga relatif stabil sehingga resiko yang dihadapi petani karet relatif kecil dibandingkan dengan petani padi. (BPS Kabupaten Tebo2011)

Faktor petani melakukan konversi lahan dari tanaman padi ke tenaman karet diduga diantaranya yaitu disebabkan karena:

1) tingkat produksi tanaman karet lebih tinggi dari pada tanaman padi, hal ini disebabkan karena pada saat pengolahan dan penanaman pada tanaman karet hingga saat panen intensitas terkena hama atau penyakit lebih rendah dibandingkan tanaman padi.

Dibandingkan tanaman karet, tanaman padi lebih rentan terkena hama atau penyakit dan di kelurahan Pulau Temiang tidak terdapat irigasi yang mempengaruhi hasil produksi.

2) harga jual tanaman karet lebih tinggi dari pada tanaman padi dimana harga jual tertinggi tanaman karet mencapai Rp20,000 sedangkan harga terendah mencapai Rp5,000 jika dibandingkan dengan tanaman padi harga tertinggi Rp250,000 perkarung.

3) biaya pengelolaan karet lebih rendah atau ekonomis dibandingkan dibandingkan tanaman padi, hal ini terlihat dari banyaknya obat atau pupuk yang digunakan pada tanaman padi dimulai dari waktu penyemaian sampai panen jika dibandingkan dengan tanaman karet sangatlah ekonomis karena petani hanya mengeluarkan biaya pada saat penanaman bibit tanaman karet.

Selain itu tingkat pendapatan antara petani padi dan petani karet di kelurahan Pulau Temiang relatif berbeda (Observasi 27 maret 2015).

Penulis berasumsi bahwa setelah beralihnya mata pencaharian masyarakat dari yang semula petani tanaman padi menjadi petani tanaman karet akan merubah pola kehidupan para petani. Hasil produksi karet yang tinggi dibandingkan produksi tanaman padi akan mempengaruhi pendapatan petani, pendapatan dari hasil penjualan karet dapat memenuhi kebutuhan hidup para petani, hasil produksi padi yang rendah salah satunya dikarenakan tidak adanya irigasi, pada saat musim kemarau petani tidak dapat menanam padi karena keteragantungan pada musim hujan, dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi tersebut dapat mengurangi jumlah produksi padi petani. Harga jual karet yang cukup tinggi, dan biaya pengelolaan karet yang murah dibandingkan dengan biaya pengelolaan tanaman padi yang tinggi dan hasil produksi tidak memuaskan mempengaruhi petani untuk melakukan konversi lahan tanaman padi ke tanaman karet. Dengan adanya konversi lahan dari tanaman padi ke tanaman karet di kelurahan Pulau Temiang kecamatan Tebo Ulu dapat merubah pola kehidupan para petani. sehingga diharapkan petani karet mendapatkan kehidupan yang layak dan terjadi peningkatan kesejahteraan keluarga para petani karet.

Dengan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti, penyebab petani melakukan konversi lahan dari tanaman padi ke tenaman karet, yang dituangkan dalam bentuk penelitian dengan

(4)

judul “ Faktor Penyebab Konversi Lahan Tanaman Padi ke Tanaman Karet di Kelurahan Pulau Temiang Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo”.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. menurut Maleong (2007) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah snow ball sampling, yaitu teknik pengambilan sumber data, yang pada awal jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah data yang sedikit itu belum mampu memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sumber data semakin besar seperti bola salju yang menggelinding lama menjadi besar (Sugiyono, 2011).

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini dan otensitas penelitian, peneliti mengacu kepada penggunaan standar data yang dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Moleong, 2010):

1. Perpanjangan Keikutsertaan 2. Kekuatan Pengamatan 3. Trianggulasi

4. Pemeriksaan Teman Sejawat

Teknik analisis data merupakan yang diperoleh dari hasil data observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang sesuai dengan fokus penelitian tersebut sampai diperoleh suatu kesimpulan. Analisis data penelitian ini dilakukan secara sirkuler dan dilakukan sepanjang penelitian.

1. Reduksi Data 2. Penyajian Data 3. Menarik Kesimpulan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa penelitian ini ditujukan untuk mencari jawaban atas fokus dan pertanyaan penelitian yang telah dibuat tentang faktor penyebab konversi lahan tanaman padi ke tanaman karet di Kelurahan Pulau Temiang Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo yang meliputi: tingkat produksi, harga jual, biaya pengelolaan.

Pertama, tingkat produksi tanaman padi di kelurahan Pulau Temiang adalah rata-rata dari 7-10 karung pada lahan seluas 0,5 Ha, dan uang yang diperoleh rata-rata antara Rp1.500.000-Rp3.000.000 dalam satu kali panen selama 3 bulan. Dan tingkat produksi tanaman karet adalah rata-rata 50- 60 Kg dengan luas lahan 0,5 Ha dan uang yang diperoleh sekitar Rp350.000-450.000 perminggu, jika dikalikan dalam waktu 3 bulan penghasilan dari tanaman karet adalah sekitar Rp4.000.000-5.400.000. Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa produksi tanaman karet lebih besar dibandingkan dengan tanaman padi, maka masyarakat di kelurahan pulau temiang melakukan konversi lahan dari tanaman padi ke tanaman karet.

Sesuai dengan pendapat Kasturi (2012) produksi adalah jumlah hasil. Dalam usaha tani, guna memperoleh hasil produksi petani melakukan usaha pengkombinasian faktor-faktor produksi yang dimiliki seperti;

luas tanah, modal seperti pupuk, obat- obatan, bibit dan lain-lain, tenaga kerja, keahlian. Produksi dan produktivitas ditentukan oleh banyak faktor seperti kesuburan tanah, varitas bibit yang ditanam, penggunaan pupuk yang memadai baik jenis maupun dosis, tersedianya air dalam jumlah yang cukup. Dari pendapat Kasturi dapat dikatakan bahwa tingkat produksi tanaman karet di kelurahan Pulau Temiang lebih besar dari pada tingkat produksi tanaman padi.

Kedua, harga jual tanaman padi di kelurahan Pulau Temiang rata-rata Rp250.000-Rp270.000 perkarung, dengan penghasilan 7-10 karung maka uang yang diperoleh petani adalah Rp1.500.000- Rp2.700.000 dalam satu kali panen. Dan harga jual tanaman karet rata-rata Rp7000- Rp8000 per (Kg) di pasaran, penghasilan petani 50-60 Kg dengan luas lahan 0,5 Ha dan uang yang diperoleh Rp350.000- 450.000 perminggu, dalam waktu 3 bulan

(5)

penghasilan dari karet adalah Rp4.000.000- 5.400.000. Dari harga jual tanaman padi dan harga jual tanaman karet dapat dibandingkan harga jual tanaman karet lebih besar dari pada tanaman padi.

Hal ini berkaitan dengan pendapat Mulyadi (2005) harga jual adalah besarnya harga yang akan dibebankan kepada komsumen yang diperoleh atau dihitung dari biaya produksi ditambah biaya nonproduksi dan laba yang diharapkan. Dan menurut Alimisyah dan Padji (2003) harga jual (selling Price) adalah harga jual meliputi biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan distribusi, ditambah dengan jumlah laba yang diinginkan.

Ketiga, Biaya pengelolaan tanaman padi yang dikeluarkan oleh petani dari menyewa mesin bajak, upah penanaman, membeli pupuk, membeli obat hama, dan biaya panen rata-rata biaya yang dikeluarkan Rp2.000.000-Rp2.500.000 dalam satu kali penanaman dengan hasil panen Rp1.500.000-Rp3.000.000. Sedangkan biaya pengelolaan tanamnan karet, petani hanya mengeluarkan uang untuk membeli bibit dan kawat pagarnya, rata-rata petani mengeluarkan biaya Rp1.500.000- Rp2.500.000 dalam satu kali panen dengan penghasilan dalam 3 bulan Rp4.000.000- 5.400.000. Cara pengelolaan tanaman padi adalah pertama dilakukan pembajakan sawah, penyemaian, penanaman, besiang dan pemanenan. Dan waktu yang dibutuhkan rata-rata 3 bulan atau lebih. Dan pengelolaan tanaman karet adalah menyiapkan lahan untuk penanaman, menyiapkan bibit, dan penanam dan tidak membutuhkan biaya yang besar, tetapi membutuhkan waktu yang sedikit lama rata-rata 4-6 tahun. Alasan petani melakukan konversi karena pengelolaan tanaman padi memerlukan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit, banyaknya gangguan hama seperti tikus, burung, dan hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kendala yang dihadapi seperti tidak adanya pengairan atau irigasi.

Biaya adalah salah satu aspek yang dapat mempengaruhi laba. Jika biaya lebih besar dari pada pendapatan maka perusahaan/industri dan usaha tani lainnya akan mengalami kerugian, tetepi jika biaya lebih kecil dari pendapatan maka perusahaan/industri usaha tani lainnya akan

mendapatkan keuntungan. Menurut Mulyadi (2005) Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam arti sempit Biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Dari pendapat para ahli di atas dapat dikatakan bahwa biaya pengelolaan tanaman padi lebih besar dibanding biaya pengelolaan tanaman karet.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Tingkat produksi tanaman padi 7-10 karung pada lahan 0,5 Ha dan uang yang diperoleh Rp1.500.000-Rp2.600.000 selama 3 bulan. sedangkan tanaman karet 50-60 Kg pada lahan 0,5 Ha diperoleh uang Rp350.000-450.000 perminggu, dalam waktu 3 bulan penghasilan tanaman karet adalah Rp4.000.000- 5.400.000. Tingkat produksi tanaman padi dan karet dapat dibandingkan produksi karet lebih besar dibandingkan padi.

2. Harga jual tanaman padi Rp250.000- Rp270.000 perkarung, dengan penghasilan 7-10 karung pada lahan 0,5 Ha, diperoleh uang Rp1.500.000- Rp2.700.000 dalam sekali panen. Harga jual karet Rp7000-Rp8000 per (Kg), dengan penghasilan 50-60 Kg pada lahan 0,5 Ha dan diperoleh uang Rp350.000- 450.000 perminggu, selama 3 bulan penghasilan karet adalah Rp4.000.000- 5.400.000. harga jual tanaman padi dan tanaman karet dapat dibandingkan harga jual tanaman karet lebih besar dari pada tanaman padi.

3. Biaya pengelolaan tanaman padi dari pembibitan sampai panen adalah Rp2.000.000-Rp2.500.000 dengan hasil Rp1.500.000-Rp3.000.000, dan biaya pengelolaan tanaman karet petani mengeluarkan biaya Rp1.500.000- Rp2.500.000 untuk membeli bibit dan kawat pagar kebun dan penghasilan selama 3 bulan Rp4.000.000-5.400.000.

Dari biaya pengelolaan tanaman padi dan tanaman karet dapat dibandingkan biaya pengelolaan tanaman padi lebih besar dibandingkan biaya pengelolaan tanaman karet.

(6)

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis dapatkan dilapangan maka penulis menyarankan dan masukan kepada petani sebagai berikut:

1. Diharapkan kepada petani dapat meningkatkan produksi tanaman padi dan tanaman karet agar dapat meningkatkan kebutuhan sehari-hari.

2. Diharapkan kepada petani lebih memperhatikan biaya pengelolaan lahan tanaman padi dan tanaman karet agar biaya pengelolaan yang dikeluarkan lebih sedikit.

3. Sebagai acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian yang selanjutya.

DAFTAR PUSTAKA

Fahmudi, Agus. 2004. Konversi lahan dan hilangnya multifungsi lahan sawah http//fahmud wordpress.com. diakses 15 februari 2015

Kasturi, Besse Ani. 2012. Analisis Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Padi Dikabupaten Wajo.

Skripsi. Univesrsitas Hassanuddin.

Makassar

Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyadi. 2005. Akuntansi Biaya pengertian harga

jual,(http://jalurbaru.blogspot.com/20 13/07/pengertian-harga-jual-dan- metode.html. diakses 5 april 2015) Sugiyono. 2011. Metode Penelitian

Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

ALFABETA, cv.

Diki Nopriadi, Dasrizal Dasrizal, Elvi Zuriyani. 2013. Alih Fungsi Lahan Pertanian Menjadi Tempat Permukiman di Kelurahan Jati Hilir Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman, (http://ejournal-s1.stkip- pgri-

sumbar.ac.id/index.php/geografi/artic le/view/26. diakses 27-10-2015) Riana Yori, Dasrizal Dasrizal, Elvi Zuriyani.

2013. Perubahan Mata Pencarian Dan Pendapatan Masyarakat Akibat Konversi Lahan Pertanian Di Kecamatan Iv Jurai Kabupaten Pesisir Selatan, (http://ejournal- s1.stkip-pgri-

sumbar.ac.id/index.php/geografi/artic le/view/65. diakses 27-10-2015)

Referensi

Dokumen terkait

Kecamatan sunggal sedang dilakukan usaha tani rotasi tanam padi-padi- jagung dan jagug-padi-padi harapan bahwa petani mempunyai pendapatan lebih dari usaha tani tersebut, serta

Giảng viên có thể giao bài tập, thiết kế câu hỏi trắc nghiệm, lấy ý kiến, cho người học đánh giá chéo… Ngoài những lý do chung ở trên, đối với môn học Thiết kế và Quản trị Website,