Marjoni Rachman, M.Si selaku Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikannya. Faridah dan Fauziah selaku tante serta orang tua yang telah banyak memberikan motivasi dan saran kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
PENDAHULUAN
- Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah
- Tujuan & Kegunaan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
- Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
- Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui sejauh mana hukum pidana bersifat positif terhadap kejahatan cyberbullying sebagai salah satu bentuk kejahatan dunia maya. Bagi peneliti, penelitian ini akan memberikan pengetahuan baru dalam hukum pidana dan pengetahuan hukum tentang kejahatan cyberbullying. Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, catatan resmi atau catatan penetapan peraturan perundang-undangan, dan keputusan pengadilan.
Bahan hukum sekunder meliputi buku-buku hukum utama, antara lain tesis, disertasi hukum, dan jurnal hukum. Pengumpulan bahan hukum melalui pendekatan hukum dilakukan dengan mencari peraturan atau ketentuan hukum yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti9. Pengumpulan bahan hukum dengan pendekatan konseptual yaitu mencari kitab-kitab hukum (risalah), yaitu kitab-kitab yang memuat konsep-konsep hukum10.
Analisis Bahan Hukum Penggunaan teknik analisis isi yaitu pengumpulan bahan hukum beserta penafsirannya, serta ketentuannya.
KERANGKA TEORITIS
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
PENUTUP
Unsur Tindak Pidana
Untuk memahami unsur-unsur suatu tindak pidana, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian dari unsur-unsur tersebut. Sianturi sebagaimana dikutip oleh Amir Ilyas bahwa tindak pidana mempunyai 5 (lima) unsur yaitu: 16. Sedangkan menurut Van Bemelen, unsur tindak pidana meliputi unsur kesalahan, tanggung jawab, dan sifat melawan hukum dari perbuatan tersebut.
Setiap tindak pidana yang termasuk dalam KUHP pada umumnya dapat diuraikan dalam unsur-unsur yang terdiri atas unsur subyektif dan unsur obyektif. Dalam pasal-pasal KUHP terdapat unsur delik yang dinyatakan secara tegas (Expressis Verbis) dalam pasal itu sendiri. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah stratbaarfeit dan dalam literatur hukum pidana sering digunakan istilah delik, sedangkan pembentuk undang-undang merumuskan undang-undang dengan menggunakan istilah peristiwa pidana atau tindak pidana atau delik pidana.
Menurut Wirjono Prodjodikoro, Indonesia memberikan pengertian “tindak pidana” atau strafbaar feit dalam bahasa Belanda, yang sebenarnya merupakan istilah resmi dalam strafwetboek atau KUHP yang berlaku di Indonesia.
Internet
Pada dasarnya setiap tindak pidana harus memuat unsur-unsur luar (fakta) dari delik tersebut, yang memuat tingkah laku dan akibat yang ditimbulkannya. Hal-hal tersebut adalah perilaku dan akibat (tindakan), ciri-ciri atau keadaan yang menyertai tindakan tersebut, keadaan-keadaan tambahan yang memperburuk kejahatan, unsur-unsur subyektif yang melanggar hukum dan unsur-unsur obyektif yang melanggar hukum22. Internet berasal dari kata interkoneksi dan jaringan merupakan jaringan yang terbentuk dari kerjasama jaringan-jaringan komputer yang saling terhubung satu sama lain.
Selain diartikan sebagai sambungan jaringan, Internet juga sering diartikan sebagai rangkaian jaringan yang menghubungkan jaringan-jaringan di dunia usaha, universitas, pemerintahan, dan organisasi lainnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa Internet adalah seluruh jaringan komputer yang saling terhubung melalui standar sistem global Transmision Control Protocol/Internet Protocol Suite (TCP/IP), yang melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
Kejahatan Mayantara (cybercrime)
Namun seiring berkembangnya teknologi dan informasi berupa jaringan internet, fokus pengenalan terhadap definisi cybercrime semakin luas, yaitu seluas kegiatan yang dapat dilakukan di dunia siber/virtual melalui sistem informasi yang digunakan. . Oleh karena itu, kejahatan ini tidak diartikan sebagai cybercrime hanya karena komponen perangkat kerasnya saja, namun dapat diperluas hingga cakupan dunia yang dieksplorasi oleh sistem teknologi informasi yang dimaksud27. Didik M Arief pada hakikatnya adalah segala tindak pidana yang berkaitan dengan sistem informasi itu sendiri, serta sistem komunikasi yang menjadi sarana pengalihan/pertukaran informasi dengan pihak lain28.
Penggunaan sistem informasi yang ceroboh sambil melanggar kebijakan keamanan atau terlibat dalam praktik keamanan informasi yang tidak sehat, sehingga membuat sistem dan data menjadi sasaran serangan dunia maya. Tindak pidana tradisional dilakukan dengan menggunakan komputer atau perangkat elektronik TI jenis lainnya untuk komunikasi dan/atau perekaman untuk mendukung kegiatan ilegal mereka. Peretasan, penyusupan komputer, dan pembobolan kata sandi dengan maksud untuk membobol kata sandi akun komputer dan/atau memasuki sistem informasi secara tidak sah untuk melakukan kejahatan secara daring atau luring.
Dapat dipahami bahwa cybercrime merupakan suatu kejahatan yang dinamis, dimana pada awalnya hanya sebatas kejahatan yang menyerang komputer dan penggunaannya, kini menjadi kejahatan yang terjadi melalui pemanfaatan teknologi Internet.
Intimidasi (bullying)
Cyberterrorism adalah penggunaan Internet untuk melakukan tindakan kekerasan yang mengakibatkan atau mengancam hilangnya nyawa atau kerugian fisik yang signifikan, untuk mencapai keuntungan politik melalui intimidasi30. Hal ini juga menunjukkan kemungkinan akan lebih banyak lagi kejahatan yang muncul di masa depan akibat penggunaan teknologi di Internet. Menurut Coloroso, bullying adalah tindakan permusuhan yang dilakukan secara sadar dan sengaja dengan tujuan menimbulkan rasa sakit, seperti menakut-nakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror. Hal ini mencakup tindakan yang terencana atau spontan, nyata atau hampir tidak terlihat, di depan seseorang atau di belakang seseorang, mudah dikenali atau disembunyikan di balik persahabatan, yang dilakukan oleh seorang anak atau sekelompok anak31.
Bullying tidak dimaksudkan untuk terjadi satu kali saja, tapi juga berulang atau suka terulang kembali;
Intimidasi di Internet (cyberbullying)
Selain itu, cyberbullying tampaknya menjadi masalah yang semakin meningkat bagi anak-anak dan remaja dengan kemungkinan konsekuensi yang lebih buruk dibandingkan bullying di sekolah. Peniruan Identitas: berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan atau status buruk. Pada hakikatnya kehidupan di dunia maya tidak ada bedanya dengan kehidupan di dunia nyata.
Cyberbullying bisa menjadi masalah yang kompleks, terutama karena sebagian besar korban cyberbullying adalah anak-anak. Permasalahan yang dapat timbul dari anak yang menjadi korban cyberbullying adalah orang tua yang tidak terbiasa dan tidak memahami internet, instant messenger atau chat room seperti yang dimiliki anak-anaknya. Kurangnya kepedulian orang tua terhadap aktivitas Internet anak-anak mereka dapat mengakibatkan anak-anak terjerat dalam dampak cyberbullying yang sedang berlangsung atau bahkan menjadi pelakunya sendiri35.
Memperkenalkan program tersebut kepada masyarakat khususnya kepada pihak-pihak yang mengelola perangkat Internet agar dapat bekerjasama dalam menggunakan program ini dan pada akhirnya juga membuat masyarakat tidak sembarangan menggunakannya.
Setiap orang dilarang melakukan perbuatan sewenang-wenang, melawan hukum atau manipulatif: a. akses terhadap jaringan telekomunikasi; dan atau . B. akses terhadap layanan telekomunikasi; dan atau c. akses ke jaringan telekomunikasi khusus. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang mempunyai muatan yang melanggar kesusilaan. Setiap orang dengan sengaja dan melawan hukum menyebarkan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang mengandung muatan perjudian.
Setiap orang dengan sengaja dan tidak wajar menyebarkan dan/atau mentransmisikan dan/atau memberikan akses terhadap informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang mengandung muatan yang menyinggung dan/atau mencemarkan nama baik. Setiap orang dengan sengaja dan tidak wajar menyebarkan dan/atau mentransmisikan dan/atau memberikan akses terhadap informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang mengandung unsur pemerasan dan/atau pengancaman. Setiap orang dengan sengaja dan tidak wajar menyebarkan informasi yang bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap individu dan/atau kelompok tertentu dalam masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, atau afiliasi antargolongan (SARA).
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa izin mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang mengandung ancaman kekerasan atau intimidasi dengan maksud tertentu.
Penggunaan Pasal 27 tidak lepas dari Pasal 45 ayat (1) UU ITE yang berbunyi: Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp satu miliar rupiah). Sementara itu, bunyi Pasal 28 ayat (2) berbunyi: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang bertujuan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap orang dan/atau kelompok tertentu dalam masyarakat berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. SARA).." Atas pelanggaran pasal-pasal tersebut, UU ITE memberikan sanksi yang cukup tegas, sebagaimana diatur dalam Pasal 45 ayat (1) dan (2). Kejahatan non-konvensional, di situs (www.http://jurnalnasional .ump.ac.id), diakses pada 20 Juli 2018 pukul 05.00.
Indonesia sudah mempunyai aturan hukum mengenai tindak pidana cyberbullying yaitu di dalam KUHP yaitu tindak pidana pencemaran nama baik pada pasal 310, kemudian Indonesia mengeluarkan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai landasan hukum bagi berbagai jenis kejahatan siber, termasuk dapat dijerat dengan pidana cyberbullying tepatnya pada Pasal 27(3) dan ayat (4), kemudian pada Pasal 28(2) dan Pasal 29 Karena Indonesia menghormati asas lex specialis derogat lex generalis, maka UU No. 11 Tahun 2008 telah menjadi kerangka hukum utama kejahatan cyberbullying di Indonesia. Meskipun undang-undang telah disahkan untuk mengatur kejahatan dunia maya, namun secara umum undang-undang tersebut gagal mengekang perilaku masyarakat dalam memanfaatkan dunia maya.
Undang-undang kejahatan dunia maya mau tidak mau harus mengimbangi kejahatan dunia maya satu langkah di belakang.
SARAN
UU ITE juga mengatur hukum acara mengenai penyidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum (polisi dan kejaksaan), yang memberikan paradigma baru bagi upaya penegakan hukum untuk meminimalisir potensi penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penegak hukum, sehingga sangat bermanfaat dalam memberikan jaminan hukum. dan keamanan. Aparat penegak hukum harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat agar kejahatan apa pun, khususnya cyberbullying, dapat diatasi secara efektif dan pelakunya tidak dapat lepas dari hukum. Perlu pula kesadaran masyarakat dalam menyikapi fenomena cyberbullying. Dilihat dari interaksi sosial yang mayoritas menggunakan fasilitas internet, maka tingkat kesadaran masyarakat terhadap undang-undang yang mengatur tentang pencemaran nama baik atau penghinaan perlu ditingkatkan.
Mengingat minimnya perlindungan hukum terhadap korban cyberbullying di Indonesia, Pasal 27(3) UU ITE masih bisa dijadikan rujukan bagi mereka yang meyakini dirinya sebagai korban cyberbullying. Oleh karena itu, dari putusan Mahkamah Konstitusi no. 50/PUU-VI/2008 berharap masyarakat dan jurnalis yang melakukan aktivitas di dunia siber dapat melaporkan intimidasi yang dilakukan terhadap dirinya berdasarkan ayat 3 Pasal 27 UU ITE. , bukan Pasal 310 dan 311 KUHP.
Buku Bacaan
Peraturan Perundang-Undangan Undang-undang Dasar 1945
Sumber Lain