• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sosiologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammdiyah Makassar

OLEH ASRAH 10538 01809 10

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI

2014

(2)

vi

supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

(QS. AL 'ASHR ayat 1-3)

“Waktu akan terasa berarti Hanya setelah berlalu

Dan kita hanya merasa kehilangan Jika kita merasa memiliki”

“Setiap diri berpotensi 2 dimensi, kesadaran diri adalah Gerbang yang mnguak misteri hidup yang menguji kemampuan bertahan, melangkah, berjalan dan berlari Dalam meraih segala yang tak diraih oleh manusia dungu yang awam

“belajar” adalah merangkai sendi-sendi kehidupan Menjadi mahligai istana kesuksesan, tempat pemenang bertahta Dalam singgasana kebahagiaan karena Ending dari segalanya adalah Kebahagiaan sejati nan abadi dan barangsiapa yang meniggikan zaman Maka ia akan dimuliakan pula oleh zaman.”

ASRAH

(3)
(4)
(5)

viii

Alhamdullilah, puji syukur kehadirat Allah Swt atas Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi dengan judul “Nilai Sipassiriki Dalam Tatanan Adat Suku Makassar (Studi Perilaku Suku Makassar) Di Kota Makassar Kecamatan Tamalate Kelurahan Mangasa” ini dapat diselesaikan sesuai yang diharapkan, sebagai salah satu syarat unuk memperoleh gelar kesarjanaan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Hal yang tidak dapat dilupakan bahwa dalam penulisan skripsi ini diselesaikan berkat bantuan berbagai pihak yang turut membantu terhadap proses penyusunan skripsi ini, Terutama kepada Ibu Dra. Hj. Rosleny B, M.Si selaku Dosen Pembimbing I dan bapak Drs. H. Nurdin M.Pd. selaku Dosen Pembimbing II, dalam hal ini yang paling utama pada penulian penyusunan skripsi ini.

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Bapak Dr. H.

Nursalam, M.Si., dan Bapak Muhammad Akhir, S.Pd M.Pd selaku Ketua Jurusan dan Sekertaris Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar. Ibu Munirah M.Pd. selaku penasihat akademik selama empat tahun di Jurusan

(6)

ix

memmberi fasilitas dan bantuan selama penelitian di keluarahan Mangasa penulis ucapkan terima kasih, Bapak Oslan, S.Sos., selaku an. Lurah Mangasa yang telah memberikan izin untuk meneliti di kelurahan Mangasa.

Dan yang tercinta Etta Jamaluddin, dan Ibunda Lamming Jamal orang tua saya yang tak pernah lelah memberi dukungan baik moril maupun materil, serta kelima saudara tercinta (Masnajamal, Abd. Hakim, Ratna, Nasrun dan Subhan Jamal) yang telah memberikan support, semangat, motivasi dalam penyusunan skripsi ini, terimah kasih atas kasih sayang dan doa yang tiada hentinya yang kalian berikan selama ini. Buat yang telah mengisi hati penulis Rian Pramana Yuda, Terima kasih atas bantuan, do’a, serta bimbingan-nya sehingga penulis merasa terhibur dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik

Untuk sahabat-sahabatku Nirwana, Erwin, Nasrul Rasyid dan sarwono terima kasih atas dukungan, motivasi dan saran yang diberikan. Serta sahabat–

sahabatku seperjuangan di Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar terkhusus kelas C angkatan 010, Terima kasih atas kebersamaan dan kekompakan kita selama ini yang penuh keceriaan dan saling membantu.

Buat semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak sempat disebutkan satu-persatu terimah kasih atas bantuannya.

Kiranya Allah Swt. yang akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada kami.

(7)

x

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Makassar , Oktober 2014

Penulis

(8)

Vii

Perilaku Suku Makassar) Di Kota Makassar Kecamatan Tamalate Kelurahan Mangasa. Skripsi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Hj. Rosleny B. dan H. Nurdin.

Dalam tatanan adat suku Makassar terdapat nilai sipassiriki yang merupakan salah satu symbol keluhuran budi suku Makassar, untuk itu masyarakat harus senantiasa melestarikan dan mengimplementasikan nilai itu dalam perilakunya.disamping itu kemajuan teknologi dan perubahan zaman secara otomatis merubah paradigma masyarakat dengan demikian dibutuhkan kemampuan bertahan masyarakat dalam memfilter nilai yang ada agar tetap terjaga keluhurannya.

Oleh karena itu skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai sipassiriki itu dalam mendorong dan sekaligus berpartisipai dalam memotivasi mayarakat untuk mempertahankan nilai-nilai yang dimiliknya. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud diatas dalam penulisan skripsi ini, maka penelitian tersebut menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dimana metode penelitian ini dilakukan dengan cara interview atau wawancara, observasi. Kemudian hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk pemaparan hasil penelitian. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan/pengalaman yang tinggi membawa input yang cukup memadai untuk pertahankan nilai sipassiriki sebagai warisan leluhur.

Kata kunci: penelitian deskriptif kualitatif, nilai sipassiriki, pengetahuan/pengalaman, warisan leluhur.

(9)

xi

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... ii

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv

SURAT PERJANJIAN PENULIS ...v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... xi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...3

C. Tujuan Penelitian...4

D. Manfaat Penelitian...4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...5

A. Penelitian Yang Relevan ...5

B. Konsep Tentang Nilai...6

C. Analisis Teori Dekonstruksi ...23

D. Kerangka Pikir...24

BAB III Metode Penelitian ...31

A. Jenis Penelitian...31

B. Sasaran Penelitian...31

(10)

xii

F. Tekhnik Analisis Data...33

G. Pengecekan Keabsahan Data...35

H. Tahap-tahap Penelitian...36

G. Hasil Penelitian ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...30

A. Hasil Penelitian ...37

B. Pembahasan ...54

BAB V PENUTUP...60

A. Kesimpulan ...60

B. Saran ...62

DAFTAR PUSTAKA ...63

LAMPIRAN ...65

DAFTAR RIWAYAT HIDUP...73

(11)

1 A. Latar Belakang

Pada umumnya suku Makassar mempunyai hubungan baik dengan suku lain yang bersentuhan dengannya, baik dari segi budaya, maupun dari segi bahasa. budaya suku Makassar banyak menyimpan nilai-nilai kerarifan sebagai “tau” atau manusia,

Secara kontekstual nilai-nilai kebudayaan boleh dikatakan bahwa eksistensinya mulai dipertanyakan ditengah-tengah masyarakat suku Makassar, berbagai fenomena sosial seperti kasus korupsi ditingkat legislatif baik pusat maupun daerah, kolusi dan nepotisme maupun kasus asusila yang “menular” bahkan menjadi tren diberbagai institusi baik institusi legislatif sebagai wahana dalam pembentukan hukum maupun institusi lainnya.

Melihat fenomena sosial tersebut penulis tertarik meneliti nilai sipassiriki tersebut, baik berupa perilaku yang tidak relevan dengan nilai sipassirki tersebut hingaa sampai kepada persoalan etika. Jika kita melihat kembali kedalam sistem adat suku Makassar maka nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan harkat kedirian manusia ( an sich), sehingga nilai-nilai yang ada patutlah jika kita lestarikan.

Untuk itu, meski unsur kepercayaan yang telah dimanifestasikan oleh mereka dalam konteks mendukung dan memelihara adat, dalam sistem sosial itu merupakan faktor penunjang utama adat itu dapat bertahan sepanjang masa. Perubahan dapat

(12)

saja terjadi dalam perkembangan hidup manusia yang dapat berakibat terjadinya variasi dalam konteks sosial dan budaya, namun nilai-nilai dari hakikat adat tetap berjalan, karena suatu Negara dapat didekanali dari kebudayaannya. Globalisasi, westernisasi sebagai virus westoxication telah melibas berbagai kebudayaan- kebudayaan lokal sehingga kebudayaan itu seperti kehilangan jati dirinya atau nilai yang terkandung dalam kebudayaan itu, sama halnya dengan suku Makassar sebagai suku yang sangat menjunjung tinggi adatnya, karena bagi suku Makassar adatnya adalah bentuk keberadaban mereka, symbol-symbol yang mereka perlihatkan adalah symbol tingginya reward atau penghargaan terhadap harkat martabat kedirian sebagai

“tau” atau manusia, konsep “tau” yang dikenal oleh suku Makassar adalah konsep “ aku” yang sama halnya Rene Descartes sebagai cogito ergo sum aku berfikir maka aku ada yang sangat populer, dalam suku Makassar itu sendiri konsep keakuan dibagi menjadi tiga yaitu : pertama kelompok “tau” kelompok inilah yang dikatakan sebagai kelompok orang-orang yang menghargai kedirian mereka sebagai manusia, mereka yang mengetahui dirinya sebagi orang yang beradat, konsep ini adalah konsep insan kamil suku makassar menyebutnya “ tau nia siri’na, tau naisseng kalenna, “ orang yang memiliki rasa malu dan orang yang mengetahui dirinya ( penulis ). Sebab itulah suku Makassar menggunakan kata “tau” untuk menyebut dirinya karena tingginya makna tau itu. Kedua “ tau - tau” istilah ini bagi orang Makassar adalah diperuntukkan bagi mereka yang tidak tahu memaknai ada’(dalam makassar) atau nilai yang terkandung dalam ada’ itu, golongan kedua inilah mereka yang tidak menghargai kedirian mereka sebagai manusia. Ketiga adalah golongan “ rupa tau ”,

(13)

golongan ketiga inilah yang paling banyak dalam masyarakat kita mereka yang bentuk dan wujudnya saja yang seperti manusia tetapi akhlak dan sifatnya menyerupai binatang , padahal dalam Quran dikatakan bahwa …balhum ‘adal inna

‘azabi lasyadid.. sesungguhnya azab Allah sangatlah pedih bagi mereka yang tidak menghargai kedirian mereka, golongan rupa tau inilah yang merusak tatanan adat suku Makassar dan meruntuhkan nilai siri’ sebagai falsafah hidup suku Makassar, para pelaku korupsi yang menjarah milik rakyat, para penguasa yang lalim dan mereka yang intelek tapi tidak berbudi, free sex dikalangan generasi muda juga menjadi boomerang bagi degradasi nilai sipssiriki itu sendiri bahkan tak ayal seperti pelegalan free sex karena jumlahnya yang semakin hari semakin meningkat sehingga patutlah jika mereka disebut “ rupa tau ”( penulis ).

Dari uraian diatas, maka saya tertarik untuk meneliti ada’ dan nilai sipassiriki di

suku Makassar dengan judul “Nilai Sipassiriki Dalam Tatanan Adat Suku Makassar (

Studi Perilaku Suku Makassar) di kota Makassar Kecamatan Tammalate Kelurahan

Mangasa”. Dalam bab pembahasan penulis akan menguraikan beberapa hal terkait

dengan nilai sipassiriki itu yang dikaji melalui grandtheory “ teori dekonstruksi”

Jacques Derrida, seorang pemikir modern Jerman.

(14)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas bahwa ada banyak fenomena sosial yang tidak relevan lagi dengan nilai sipassiriki, baik berupa pergaulan bebas ata persoalan moral, hingga sampai kepada persoalan etika, dengan demikian maka masalah dalam penelitian ini adalah: “ apakah terjadi pergeseran nilai sipassiriki dalam kaitannya dengan sikap sosial suku Makassar? ”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah : “ mendeskripsikan nilai sipassiriki demi mewujudkan perilaku suku Makassar yang beradab dan menjunjung tinggi nilai adatnya.”

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Sebagai sumbangsi pemikiran penulis terhadap masyarakat suku Makassar . 2. Manfaat praktis

a) Sebagai bentuk restorasi terhadap “ perilaku” suku Makassar.

b) Memberikan pemahaman tentang nilai sipassiriki kepada publik.

(15)

5 A. Penelitian Yang Relevan

Dewasa ini berbagai problematika tentang adat telah banyak diperbincangkan diberbagai forum diskusi maupun seminar-seminar namun persoalan adat ini masih saja tak ada selesainya, kemajuan teknologi, modernisasi menjadikan persoalan adat itu semakin rumit, terlebih baru-baru ini terjadi pelanggaran kesusilaan, etika dan moral yang kesemuanya itu berakar dari pergeseran nilai dalam adat itu, sehingga nilai seperti nilai sipassiriki itu tak lagi dijunjung tinggi, maraknya perbuatan yang melanggar adat itu diberitakan di media-media baik media elektronik maupun media cetak, yang semakin menambah catatan-catatan sejarah pergesaran nilai itu.rentetan peristiwa seperti contoh kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur yang baru-baru ini banyak diberitakan adalah salah satu contoh pergeseran nilai sipassiriki, orang tua tak lagi menghargai yang muda, yang muda tak menghormati yang lebih tua.

Dengan demikian ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian penulis yaitu :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Andy Faisal Ahmad dengan judul “Analisis Pengaruh Faktor Budaya, Sosial, Pribadi Dan Psikologis Terhadap Keputusan

(16)

Pembelian Semen Gresik Di Semarang” Universitas Dipenegoro Semarang.

skripsi ini membahas mengenai factor budaya terhadap perilaku masyarakat dalam menjalankan konsumsinya.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ni’matu Zahrah dengan judul " fenomena nikih sirri masyarakat Kuta (perspektif hukum keluarga). UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Skripsu ini menjelaskan tentang hukum nikah sirri yang banyak terjadi dalam masyarakat Kuta.

3. Penelitian ini dilakukan oleh Irma Anriyani dengan judul skripsi ”representasi nilai siri’ pada sosok Zainuddin dalam novel tenggelamnya kapal Van Der Wijck” UNHAS. Skripsi ini membahas nilai yang ada dalam pribadi seorang Zainuddin. Dimana nilai siri’ itu terimplementasikan dalam iapa lakunya sehingga sikap yang ditunjukkan sangatlah sara’ akan makna nilai siri’.

Itulah diatas beberapa penelitian yang penulis anggap relevan dengan pnenelitian yang penulis lakukan, dilalihat dari aspek metode penelitian hingga nilai yang penulis kaji.

B. Konsep Tentang Nilai

1. Pengertian nilai

Nilai adalah konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang di anggap baik dan apa yang di anggap buruk, benar-salah,patut-tidak patut, dan penting atau tidak penting. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik, sedangkan mencuri bernilai buruk.

(17)

Beberapa pendapat tentang pengertian nilai (Herimanto, 2010) dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Robert M. Z. Lawang, Nilai adalah gambaran mengenai apa yang di inginkan, yang pantas, yang berharga, dan yang mempengaruhi perilaku orang yang memiliki nilai itu. 2. Menurut Bambang Daroeso, nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang. 3. Menurut Darji Darmodiharjo, nilai adalah kualitas atau keadaan yang bermanfaat bagi manusia baik lahir maupun batin. 4. Menurut Kimball Young Nilai adalah asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang dianggap penting dalam masyarakat. 5. Menurut A.W.Green Nilai adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek. 6. Menurut Woods Nilai merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama serta mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. 7. Menurut Hendropuspito Nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia. 8. Menurut Karel J. Veeger Menyatakan sosiologi memandang nilai-nilai sebagai pengertian-pengertian (sesuatu di dalam kepala orang) tentang baik tidaknya perbuatan-perbuatan. Dengan kata lain, nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan moral.

2. Makna Kultural

Makna kultural kata siri’ berkaitan dengan hal yang menyangkut kahidupan budaya masyarakat suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan.

(18)

Suku-suku yang terdapat dalam lingkungan Sulawesi Selatan lebih menghayati makna kultural kata siri’ tidak dapat dipisahkan dengan kondisi kulturalnya.

Dikatakan, bagi masyarakat Bugis secara umum pengertian kultural itulah yang lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari, karena apabila ia menyebut perkataan siri’ , maka esensisiri’adalah dirinya sendiri.

Kamus Besar Bahasa Indonesia disumuskan entri katasiri’dengan huruf akhir (k). tanpa pembubuhan glottal stop (’) menurut makna kultural, sebagai berikut : Siri’

adalah sistem nilai sosio-kultural kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.

Rumusan kultural yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut mengikuti defininisi (batasan) kata siri’ yang di tetapkan dalam Seminar masalahsiri’

di Sulawesi Selatan yang berlangsung di Makassar pada bulan Juli 1977.

Namun dalam Kamus Bahasa Indonesia penerbitan berikutnya terdapat penambahan kata masyarakat pada perumusan entri kata sirik, sehingga rumusan kata siri’ dinyatakan sebagai berikut :

Aturan sistem nilai sosio-Kultural kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat pada masyarakat suku Makassar.

Penambahan kata masyarakat suku Makassar pada rumusan kata siri’ dapat menimbulkan kesalahpahaman, seakan-akan konsep budaya siri’ hanya terdapat di kalangan masyarakat Suku Makassar. Siri’, selain terdapat pada masyarakat Makassar juga dikenal dalam konteks masyarakat Mandar dan Toraja. Makna kultural kata siri’

(19)

baru dapat dihayati secara komprehensif manakal diamati dari sisi keberadannya sebagai sistem nilai budaya pada empat sistem adat suku yang ada di Sulawesi Selatan.

Kata siri’ tidak dengan tegas disebutkan dalam Surek Sulleang I Lagaligo namun terdapat kata siri’ atakka dalam manuskrip sastra Bugis kenamaan, yakni nama dua jenis tanaman yang dipandang merupakan perlambang (sennureng) terhadap kata siri’. B.F. Matthes (1874) berpendapat bahwa nama tanaman yang dilambangkan sebagai bali atakka sebagai bahasa Tobakke, yang digunakan mereka sebagai “omtezinspelen op siri, zich schamen, zijn eerkwijt zijn, enz, dewijl desiri- heester en de atakka-boom inde oudegedichten doorganstegelijk vermeld worden,zooddat de siri-huster als’t ware de neven-man van de attaka is. Nama tanaman siri atau sirih mempunyai kesamaan fonem dengan kata siri’. Penulisan kedua kata dimaksud adalah sama pula , yakni :

Salahuddin menggarisbawahi penyebutan nama tanaman siri atakka itu pada bagian episode Reulokna Batara Guru dalam Surek Selleang I Lagaligo. Dituturkan bahwa Datu Patoto To Palanroe, Dewata pencipta langit, yang bernama La Patiganna Ajik Sangkure Wira menghendaki salah seorang putranya turun ke bumi (alekawa) guna memimpin apa yang diistilakan sebagai “dunia tengah” itu. Setelah dimusyawarahkan pilihan jatuh kepada putra sulungnya yang bernama La Togelangi bergelar Batara Guru. Ketika melepas anaknya. Datuk Patoto berpesan kepadanya agar apabila ia turun ke bumi maka “…tiwiko ritu siri’ atakka narekko mattengnga lalenno nonro rilino … muadan-keng siri’ atakka ri ataunnu … ianatu matu mancaji

(20)

alek ( bawalah sirih atakka … manakala engkau tengah dalam perjalanan menuruni bumi … susurkansiri’ atakka di bagian kananmu … itulah kelak menjadi hutan).

Menurut Salahuddin, kata alek (hutan) di sini bermakna pelindung bagi kehidupan.

Kalau kita mencari relevansi etimologi siri’ ke dalam Islam maka akan ditemukan sebuah istilah seperti haya’ dan ghirah (malu dan harga diri). Dua sifat yang tidak hanya sangat dijunjung tinggi dalam tradisi Islam akan tetapi juga diyakini sebagai bagian terpenting dari struktur keimanan seorang Muslim. Sehingga sering kali ditegaskan bahwa konsep siri’ dalam tradisi adat Sulawesi Selatan adalah sumber inspirasi dan inti dari bangunan kebudayaan mereka yang bersifat Islami.

Seperti telah dijelaskan oleh penulis sebelumnya bahwa di Sulawesi Selatan telah pernah diadakan seminar masalah siri’ yakni tepatnya pada tanggal 11 sampai 13 Juli1977, diselenggarakan oleh Komando Daerah Kepolisian (KODAK) XVIII Sulawesi Selatan dan Tenggara dengan bekerja sama Universitas Hasanuddin.

Seminar diadakan di Makassar (Ujung Pandang) serta diikuti antara lain oleh para aparat pemerintahan, cendekiawan, tokoh-tokoh masyarakat dan wakil pelbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Pada seminar nasional ini, telah dibicarakan dan dibahas bersama konsep siri’

dari sudut pandang pelbagai budaya suku bangsa di Sulawesi Selatan serta perkaitannya terhadap pembangunan nasional, dengan menampilkan sejumlah makalah berkenaan dengan siri’.

Seminar ini pula meletakkan batasan umum bagi pengertian siri’ sebagai berikut :

(21)

a. Siri’ dalam sistem budaya, adalah pranata pertahanan harga diri kesusilaan dan hukum serta agama sebagai salah satu nilai utama yang mempengaruhi dan mewarnai alam pikiran dan perasaan dan kemauan manusia. Sebagai konsep budaya ia berkedudukan regulator dalam mendinamisasi fungsi-fungsi struktural dalam kebudayaan.

b. Siri’ dalam sistem sosial, adalah mendinamisasi keseimbangan eksistensi hubungan individu dan masyarakat untuk menjaga kesinambungan kekerabatan sebagai dinamika sosial, terbuka untuk beralih peran (bertransmisi), beralih bentuk (bertransformasi), dan dapat ditafsir ulang (reinterpretasi) sesuai perkembangan kebudayaan nasional sehingga siri’

dapat ikut memperkokoh tegaknya falsafah bangsa Indonesia, Pancasila.

Siri’ dalam sistem kepribadian, adalah sebagai perwujudan kongkrit di dalam akal budi manusia yang menjunjung tinggi kejujuran, keseimbangan untuk menjaga harkat dan martabat manusia.

3 Pandangan Masyarakat Terhadap Siri’

Terdapat pandangan yang memandang siri’ sebagai pancangan nilai dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan Bagi pakar budaya misalnya A. Rahman Rahim yang mengemukakan bahwa siri’ adalah sala satu nilai utama kebudayaan masyarakat. Beliau juga kemudian mengklarifikasi nilai itu kedalam dua golongan besar yaitu nilai primer yang dibahasakan sebagai nilai utama dan nilai sekunder yang diasumsikan sebagai nilai yang tidak utama. Rahman Rahim mengacu pada pendapat

(22)

SH. Alatas yang menyatakan bahwa nilai yang tidak berubah adalah nilai yang mengandung kemutlakan, yakni sifat tertentu yang harus melekat pada nilai utama.

Kata mutlak di sini yang melekat pada pengertian nilai utama ditandainya dengan hal berlakunya suatu kebenaran yang tidak di batasi oleh faktor-faktor yang umumnya mempengaruhi sesuatu sifat yang dianggap benar atau baik menurut waktu dan tempat. Nilai yang tidak utama bersifat nisbi (relatif) yang dibatasi oleh waktu dan tempat.

A. Rahman Rahim selanjutnya mengemukakan enam nilai utama kebudayaan masyarakat sulawesi selatan yakni apa yang dalam tradisi masyarakat bugis dikenal dengan lempu’ (kejujuran), ammacang atau acca (kecendekiawanan), asitenajang (kepatutan), getteng (keteguhan), reso (keuletan) serta siri. Dikatakan bahwa masalah siri’ selalu menerik perhatian mereka yang hendak mengenal manusia dan kebudayaan khas sulawesi Selatan karena konsep siri’ selalu dihayati oleh orang- orang yang berpegang teguh pada ade’ serta sistim Pengadereng. Seseorang yang tidak memeliki siri’ adalah lepas dari konteks moralitas ade’ serta kesepakatan adat.

Orang yang telanjang dari perasaan malu atau siri’ akan memberikan ruang gerak yang luas bagi lahirnya tindakan-tindakan anarkis dan tidak bertanggung jawab dalam hal ini di dala lontara orang ini dapat disejajarkan dengan binatang. Konsep ini tentunya seirama dengan Islam tentang kesetaraan manusia dengan binatang ketika mereka bertindak melampaui batas.

CH. Salam Basjah dan Sdappernas Mustaring sebagaimana yang dikutip Mattulada dalam Latoa Memberikan tiga penggolongan terhadapsiri’yaitu :

(23)

a. Siri’ itu sama artinya dengan malu, isin (jawa), shame (inggris);

b. Siri’ merupakn daya pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir dan sebagainya terhadap apa atau apa saja yang menyinggung perasaan mereka. Hal ini merupakan kewajiban adat yang mempunyai sanksi adat, yaitu hukum menurut norma-norma adat jika tidak dilaksanakan.

c. Siri’ itu sebagai daya pendorong yang bisa juga ditujukan ke arah pembangkit tenaga untuk membanting tulang, bekerja mati-matian, demi suatu pekerjaan atau usaha.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa siri’ merupakan pembalasan yang berimplikasi kewajiban moril untuk membunuh pihak pelanggar adat. Demikian pula M.Natsir Said, menempatkan batasan bahwa siri’ itu adalah perasaan malu (kreking/beledeging) yang dapat menimbulkan sanksi dari keluarga yang dilangggar norma adatnya.

Dapat ditarik sebuah benang merah bahwa untuk mendekati batasan siri’ itu tidak mungkin orang hanya memandang satu aspeknya saja atau hanya memperhatikan perwujudannya saja. Hal ini mudah dimengerti karena siri’ adalah suatu hal yang abstrak dan hanya akibat kongkritnya saja yang dapat diamati dan diobservasi. Dalam kenyataan sosial, kita dapat mengobservasi orang-orang bugis yang cepat merasa tersinggung, lekas menggunakan kekerasan dan balas dendam dengan pembunuhan. Hal ini memang banyak terjadi terutama dalam hal perjodohan , yaitu salah satu pranata sosial atau salah satu aspek dalam pangngadakkang yang

(24)

masih dapat bertahan, dibanding dengan unsur-unsur lainnya walaupun sekarang dari hari ke hari telah mengalami banyak perubahan. Namun demikian siri’ masih mempunyai arti yang esensial untuk dipahami, karena terdapatnya anggapan bahwa orang Sulawesi Selatan pada umumnya ia masih merupakan sesuatu yang melekat kepada martabat kehadirannya sebagai suatu pribadi dan sebagai warga dari suatu persekutuan. Masyarakat Sulawesi Selatan menghayati siri’ itu sebagai suatu panggilan yang dalam dari diri pribadinya, untuk mempertahankan suatu nilai yang dihormatinya. Sesuatu yang dihormati, dihargai dan dimilikinya mempunyai arti esensial baik bagi diri maupun bagi persekutuannya.

Berbagai ungkapan dalam bahasa khas Bugis (Sulawesi Selatan) yang mengambil wujud dalam kesusastraan, pesan amanah-amanah dari leluhurnya yang dapat dijadikan petunjuk tentang siri’ itu pada masyarakat Sulawsi Selatan.

a. Mate ri siri’ na. Artinya mati dalam siri’ yakni mati demi menegakkan martabat atau harga diri. Mati yang demikian dianggap sebagai suatu hal yang terpuji dan terhormat.

b. Matesiri’. Artinya orang yang sudah hilang harga dirinya dan tidak lebih dari bagkai hidup. Orang Sulawesi Selatan yang merasa mati siri’akan melakukan jallo’ (amuk), hingga ia mati sendiri. Jallo’ yang demikian disebut napattatongi siri’na artinya ditegakkan kembali harga dirinya. Banyak terjadi dalam masyarakat Sulawesi Selatan baik di daerah-daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan terpencil peristiwa bunuh-membunuh dengan jallo’

dengan latar belakang siri’. Secara lahiriyah sering tampak seolah-olah orang

(25)

yang masuk dalam kategori tersebut yang merasakan siri’ yang sanggup membunuh atau dibunuh, memperbuat sesuatu yang fatal karena alasan-alasan sepele atau karena masalah permpuan yang sesungguhnya harus dipandang biasa-biasa saja. Akan tetapi pada hakekatnya apa yang kelihatan oleh orang luar sebagai hal yang sepele dan biasa bagi kelompk masyarakat tertentu sesungguhnya hanya merupakan salah satu alasan lahiriyah saja dari suatu kompleksitas sebab-sebab lain yang menjadikan ia merasa kehilangan harga diri yang juga menjadi identitas sosialnya.

Masalah siri’ seperti banyak dipahami masyarakat mempunyai banyak segi- segi, sehingga ada kalanya ia di beri isi dan tanggapan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang sangat emosional seperti di tafsirkan oleh banyak orang yang menyamakannya dengan perasaan malu dan kebanyakan lagi di identikkan dengan masalah pelanggaran adat perkawinan misalnya kawin lari atau semacamnya.

Hakekat siri’ hendaknya dilihat dari segi aspek nilai dari pangngedereng sebagai wujud kebudayaan yang menyangkut martabat dan harga diri manusia dalam lingkungan hidup kemasyarakatan. Nilai-nilai pangngedereng yang amat dijunjung tinggi masyarakat Sulawesi Selatan yang dapat membawa kepada peristiwa siri’ yang tersimpul pada hal-hal tersebut dibawah ini :

a. Sangat memuliakan hal-hal yang menyangkut kepercayaan (keagamaan) b. Sangat setia memegang amanah atau janji yang telah di buatnya

c. Sangat setia kepada Persahabatan

(26)

d. Sangat mudah melibatkan diri pada persoalan orang lain (memiliki kepedulian sosial terhadap sesame.

e. Sangat memelihara akan ketertiban adat kawin-mawin.

Lima elemen tersebut disaring dari lima aspek pangngadakkang yaitu ada’,. Itulah yang paling banyak menimbulkan ekses-ekses berupa pembunuhan, jallo’, pemberontakan, pembangkangan dan meninggalkan negerinya dengan dimotori oleh semangatsiri’.

Jadi adalah lumrah apabila jallo’, pembunuhan, pemberontakan, atau sejenisnya yang dilakukan baik secara sendiri-sendiri ataupun berkelompok, itu hendaknya diperiksa motifnya pada konsep siri’ yang mereka anut. Apabila motif peristiwa dilatarbelakangi oleh siri’ maka pemulihannya dapat dirintis melalui nilai- nilai pangnhedereng juga.

Latoa berkata :

“ ada empat hal yang memperbaiki kekeluargaan yaitu ; pertama, kasih saying dalam keluarga, kedua, saling memaafkan secara kekal, ketiga, tidak segan memberi pertolongan dan pengorbanan demi keluhuran, keempat, mengingatkan untuk berbuat kebajikan”.

Pada kesempatan lain ahli-ahli lontara berkata :

“ bukankah yang demikian berarti bahwa ade’ ada buat kasih sayang, bicara ada buat saling memaafkan, rapang ada buat saling memberi pengorbanan demi keluhuran dan wari’ ada buat mengingatkan kepada perbuatan kebajikan”.

Dengan demikian tujuan hidup menurut pangngadereng tidak lain adalah untuk melaksanakan fitrah manusia guna mencapai martabatnya yakni siri’. Bila pangngadakkang dengan segala aspeknya tidak ada lagi, akan terhapuslah fitrah

(27)

manusia, hilanglah siri’ dan hidup tidak lagi artinya menurut orang Bugis. Jadi jawaban yang paling kena terhadap pertanyaan mengapa orang Bugis taat kepada pangngadereng ialah karenasiri’.

4. Pengaruh Siri’ dalam Masyarakat

Sejak ledakan reformasi menjadi fenomena dominan bangsa ini, tiba-tiba saja wacana-wacana klasik kembali menyeruak ke permukaan dan mengambil tempat cukup urgent untuk dijadikan objek kajian. Wacana-wacana klasik tersebut tidak lain adalah konsep siri’ itu sendiri beserta unsur-unsur yang menyertainya. Betapa tidak, hal ini jelas menjadi dominan dibicarakan mengingat sekian banyak kasus siri’

(Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) yang melibatkan tidak sedikit orang Bugis (Sulawesi Selatan) yang secara kultural sangat peka terhadap Persoalan-persoalan yang menyinggung harga diri dan membangkitkan perasaan primordial untuk tidak menyebut arogansi siri’ kedaerahan yang telah lama subur dan berakar di Sulawesi Selatan.

Dalam konteks makro Indonesia di luar Sulawesi Selatan sesungguhnya terdapat konsep yang sama menyangkut siri’ yang banyak dianut oleh suku-suku tertentu, misalnya seperti yang dikemukakan oleh Widodo Widodarmo bahwa “… siri’ yang identik dengan perasaan malu terdapat juga pada suku jawa dengan istilah Wirang, pantang untuk orang, jenga untuk orang Bali dan sebagainya.

Konsep yang dikenal oleh mayoritas suku jawa yang meliputi kurang lebih 60 juta jiwa, menyimpan pula esensi nilai-nilai malu serta harga diri (martabat). Kata wirang

(28)

atau awirang berarti malu melakukan. konsep ini juga ditemukan dalam karya proses jawa klasik, misalnya dapat dibaca dalam kitab Adipurwa, bagian pertama Wiracarita Mahabarata, yang ditulis pada Zaman Dharmawangsa di kala abad X, atau awal abad XI.

Istilah wirang dapat pula dibaca dalam karya proses jawa klasik lainnya, misalnya dalam Serat Sritanjung, kitab Calon Arang serta Babad Tanah Jawi.

Jika ditelaah secara mendalam pengaruh yang paling dominan mewarnai masyarakat yang menganut paham siri’ seperti di daerah yang disebut terkhusus dalam wilayah Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar, Mandar dan Toraja) dapat dirinci sebagaimana berikut:

a. Meningkatkan tingkat kedisiplinan. Disiplin adalah harkat, martabat dan harga diri. Dia merupakan refleksi dari ketinggian siri’. Menegakkan disiplin baik terhadap orang lain maupun terhadap diri dan keluarga, sesuai dengan fungsi dan peranan yang harus diemban sama dengan menjaga harkat, martabat dan harga diri. Berarti kita telah menunjukkan diri sebagai seorang yang mempunyai siri’. Siri’ pada dasarnya tolok ukur tentang harkat dan martabat.

Tolok ukur keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara tanggung jawab dan kepatuhan. Seorang yang mestinya bertugas dan berwenang meluruskan yang bengkok, tapi tidak dapat dan tidak berani melakukannya berarti siri’

orang tersebut telah memudar. Demikian juga apabila seseorang membiarkan hak pribadinya dilanggar dan diinjak-injak di luar batas-batas hukum dan etika ini berarti siri’ yang bersangkutan telah menurun (berkurang).

(29)

b. Siri’ itulah yang mendorong keberanian dan ketegaran para pemimpin seperti Sultan Hasanuddi, Karaeng Galesong untuk mempertahankan wilayahnya dari jajahan colonial Belanda .

Kearifan budaya Suku Makasaar yang berkaitan dengan ihwal disiplin di atas merupakan indikasi besarnya potensi budaya yang masih terpendam di berbagai daerah. Budaya tersebut memiliki kemampuan untuk menyodorkan tawaran-tawaran peranan, baik dalam ikut memecahkan issu pembangunan dewasa ini, maupun dalam merumuskan visi kebijaksanaan di masa datang yang dapat mewujudkan disiplin nasional.

Mewujudkan disiplin nasional, sasarannya tentu saja bukan sekedar menimpa ketaatan dan kepatuhan berdasarkan proses conditioning yang bersifat paksaan. Baik paksaan karena kekuatan maupun paksaan karena hukum. Akan tetapi sasaran yang paling ideal adalah menjadikan disiplin menjadi mental blue print. sehingga pola tingkah laku yang berstandarisasi, sehingga disiplin telah menjelma sebagai suatu unsur budaya yang hidup dan berfungsi, baik dalam wujud fungsi manifest maupun fungsi latent.

Studi kasus tentang segi budaya kearifan di kerajaan Gowa Tallo adanya budaya disiplin dalam kehidupan masyarakat dan dalam lingkungan penyelenggaraan pemerintahannya. Budaya disiplin ini mampu mewujudkan fungsi manifestnya dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap aturan dan pengaturan. Kemampuan mewujudkan kepercayaan rakyat terhadap hukum dan penegak hukum. Karena disiplin telah menjadi rambu-rambu dalam memandu bangsa dan negara. Dapat

(30)

menimbulkan dampak psikologis terhadap setiap anggota masyarakat yang berupa tumbuh rasa berdosa (disiplin religious), rasa malu (disiplin sosial), gelisah dan tidak tentram karena menganggap bahwa awal disiplin berkaitan dengan harga diri, harkat dan martabat (disiplin affeltif).

Kearifan budaya Suku Makassar memberi isyarat bahwa metode dan cara yang ideal, ialah metode sosialisasi melalui proses belajar simbolik. Hal ini sejalan dengan pendapat Loving Hallowel yang menjelaskan, “Transmisi Kebudayaan dilihat secara kenyataan, tidak boleh dipandang sebagai kemampuan yang diproleh melalui proses conditioning seperti sering kali ditemukan dalam deskripsi etnografi, melainkan sebagai dari proses belajar simbolik.

Proses perwujudan disiplin dalam kehidupan Suku Makassar, nampaknya diramu dalam beberapa langkah sebagai berikut :

a. Pemantapan pola peranan-peranan dalam bentuk pengaturan formasi lembaga kekuasaan yang efektif, seimbang, serasi dan saling berinteraksi perwujudannya adalah adanya Lembaga Kekuasaan eksekutif dan yudikatif yang berwibawa, dan adanya lembaga pengawasan yang mampu mengendalikan jalannya pelaksanaan kekuasaan.

b. Penciptaan iklim sosial yang segar yang mampu memberikan suasana kepercayaan dan kesadaran masyarakat tentang adanya kepastian hukum.

c. Memantapkan kepercayaan kepada hukum.

d. Timbulnya keteladanan yang sangat mutlak diperlukan di era globalisasi sekarang ini.

(31)

e. Adanya sistem nilai etika dan norma yang dapat menjadi pijakan dasar tegak tumbuhnya budaya disiplin. Siri’ ternyata telah mampu menjadi akar tunggang berdirinya disiplin, seperti terlihat dalam adat Suku Makassar dan adat Sulawesi Selatan pada umumnya.

Sebagaimana dimaklumi di dalam Kongres Kebudayaan Mandar tahun 1991 antara lain dibicarakan mengenai peranan daya cipta dalam pengembangan kebudayaan. Proses yang dimaksud akan terjadi interaktif berkesinambungan yang di dalamnya terdapat daya cipta yang memegang peranan penting.

Daya cipta yang penulis maksudkan telah hadir dan telah mempengaruhi kebribadian setiap anak bangsa yakni sistem nilai maysarakat itu sendiri yang secara psikoanalisis dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Budaya siri’ memberikan dorongan secara sadar lahirnya reaksi-reaksi terhadap kekuatan tertentu yang negatif. Jadi meletakkan kondisi tertentu terhadap jiwa seseorang (pola pikir), budaya siri’ merupakan perangsang untuk bertindak positif dan hati-hati.

b. Budaya siri’ sebagai bagian dari secara keseluruhan sistem budaya global mengenai mekanisme reward and punishment, hal ini dengan sendirinya disamping sebagai “perisai” juga akan memberikan Konsekuensi logis (hukuman) terhadap kelakuan yang bertentangan atau mengusik ketentraman suatu masyarakat.

c. Budaya siri’ dapat dijadikan modal dasar memasuki proses belajar terutama dalam upaya memperkaya kepribadian.

(32)

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa nilai sosial dapat diartikan sebagai konsep abstrak mengenai segala sesuatu yang baik, dicita-citakan, yang penting, dan yang berguna bagi kehidupan manusia menurut ukuran masyarakat dimana nilai tersebut dijunjung tinggi. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk menentukan apa yang benar dan penting.

Menurut Notonegoro,dalam Herimanto (2010) menyatakan ada tiga macam nilai, yaitu :

a. Nilai materil, yakni sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.

b. Nilai vital, yakni sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melaksanakan kegiatan.

c. Nilai kerohanian, yakni segala sesuatu yang berguna bagi kebutuhan rohani manusia, seperti:

1. Nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber pada akal manusia (cipta) 2. Nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber pada unsur perasaan

(estetika)

3. Nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada unsure kehendak (karsa) dan

4. Nilai keagamaan (religiositas), yaitu nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.

Berdasarkan uraian diatas maka nilai sosial dapat diartikan sebagai konsep abstrak mengenai segala sesuatu yang baik, dicita-citakan, yang penting, dan yang berguna bagi kehidupan manusia menurut ukuran masyarakat dimana nilai tersebut

(33)

dijunjung tinggi. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk menentukan apa yang benar dan penting.

Fungsi nilai sosial antara lain sebagai berikut:

a. Sebagai faktor pendorong, berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.

b. Sebagai petunjuk arah dari cara berfikir, berperasaan, dan bertindak; penentu dalam memenuhi peran sosial; dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial.

c. Sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai sosial mendorong, menuntun, dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai sosial menimbulkan perasaan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.

d. Sebagai alat solidaritas kelompok atau masyarakat.

e. Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.

C. Analisis teori dekonstruksi

Dekonstruksi merupakan teori sosial kontemporer yang diperkenalkan oleh Jacques derrida, seorang teoritisi ilmu sosial posmo yang bertujuan untuk melakukan pembongkaran terhadap bagian-bagian dari keseluruhan, dekonstruksi berasal dari dua kata bahasa jerman. Jacques Derrida terlibat dialog dengan kaum strukturalisme

(34)

yang menurutnya lebih berwatak metafisik. Strukturalisme mencapai keterbatasannya ketika gagal membahas strukturalitas struktur, sekaligus terlepas dari strukturalitas.

Lebih jelas lagi, derrida mengatakan bahwa selalu ada sesuatu yang tersembunyi dibalik apa yang hadir, ia adalah realitas dan hubungannya terdapat dalam realitas.

Upaya melakukan pembongkaran terhadap apa yang dipandang tidak relevan dengan relaitas sosial yang menjadi penting dalam rangka mengganti alat atau instrument yang tersedia dalam hal ini Spivak menyebutkan bahwa untuk melokalisasi teks yang dharapkan, untuk menyingkap momen yang tidak dapat dipastikan, untuk membalikkan hierarki yang tetap, hanya dengan menggantinya, membongkarnya agar membangun kembali apa yang sudah senantiasa ditulis. Derrida melakukan dekonstruksi bukan bermaksud untuk memastikan kebenaran, namun untuk menemukan kebenaran, dekonstruksi sebagai jalan untuk melakukan kerja – kerja intelektual, oleh karena itu semua anilisis yang saya lakukan dalam rangka membongkar kembali nilai sipassiriki itu adalah menggunakan teori dekonstruksi, untuk mengembalikan nilai sipassiriki itu kepada esensi dan eksistensinya.

D. Kerangka Pikir

Unsur kepercayaan dan keyakinan yang telah dimanifestasikan oleh mereka dalam konteks mendukung dan memelihara adat dalam sistem ada itu merupakan faktor penunjang utama adat itu dapat bertahan sepanjang masa. Perubahan dapat saja terjadi dalam perkembangan kehidupan manusia yang dapat berakibat terjadinya

(35)

variasi dalam konteks kehidupan sosial dan budaya, namun nilai-nilai hakikat adat itu dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat dalam struktur sosil. Sistem sosial atau nilai-nilai kemasyarakatan yang lahir berdasarkan ketetapan adat telah membentuk pola tingkah laku dan pandangan hidup suku Makassar. Mereka percaya dan sadar bahwa setiap manusia terikat secara langsung ataupun tidak langsung dalam suatu sistem yang mengatur pola kepemimpinan , mengatur interaksi sosial dan kewajiban anggota masyarakat ( Abdullah, 1958:6 ).

Tidak bisa dipungkiri bahwa derasnya arus globalisasi yang tidak menyisakan ruang gerak terhadap budaya-budaya lokal, termasuk budaya Makassar yang harus merespon globalisasi tersebut. Di sini, apakah budaya Makassar masih tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya atau ada pergeseran nilai-nilai budaya yang dapat mempengaruhi pola berpikir dan tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena globalisasi membawa berbagai paradigm baru atau pola kehidupan yang dipaksa untuk disintesiskan dengan pola penerapannya. Nilai-nilai yang ditampilkan dalam globalisasi belum tentu dapat dapat, atau searah dan serasi dengan dengan nilai-nilai budaya lokal seperti halnya dalam bidang hukum.

Memahami manusia Makassar harus dimulai dengan pengertian ada’(selanjutnya ditulis adat saja) sebab inilah pribadi kebudayannya. Kebudayaan menurut Taylor, Frazer, Durkheim, Redciffe Brown, malinonowski, R. linton, M Mead, tokoh kebudayaan yang lain. Maka H.S Alatas mengemukakan pendapatnya dalam disertasi mengenai konsep ini “…individu dan masyarakat bukanlah saling terpisah tetapi berkaitan dengan erat. Tentang urusan yang logis yang mana utama

(36)

individu atau masyarakat dapat ditekankan terlalu jauh sebab tidak dapat memberikan pemecahan yang jelas. Setiap individu dalam pertumbuhannya di cetak masyarakat dimana dia lahir. Sebaliknya, setiap individu dalam kehidupannya memberikan sumbangannya pula untuk mewarnai masyarakatnya. Kedua-duanya bukan bertentangan, manusia dan masyarakatnya. Tidak ada watak manusia yang terpisahkan dari masyarakatnya, sifat manusia hanya ada karena dibentuk oleh masyarakatnya. Individu dan masyaraktnya adalah dua sisi dari tingkah laku manusia yang sama yang saling melengkapi dan mencukupi “.

Adat merupakan konsepsi kunci sebab keyakinan orang Makassar terhadap adatnya mendasari segenap gagasannya mengenai hubungan-hubungannya baik dengan sesama manusia, dengan pranata-pranata sosialnya, maupun dengan alam sekitarnya, bahkan dengan makrokosmos. Kalau ditemukan makna dalam kehidupan kekeluargaan, ekonomi, politik, pemerintahan, dan keagamaan maka barulah dipahami pandangan hidup mereka yang dijiwai oleh adatnya. Sejarah gemilang yang mereka tulis dengan tinta emas, juga kemorosotan yang telah menimpanya berabad lamanya. Seperti yang telah dibahasakan oleh Alexi de Tocquiville (2005:47) tentang

“budaya massa”, dalam hal kesetaraan atas masyarakat sipil dan tingkah laku. Yang penekanan pada manners (perilaku). Ia membahasakan juga sebagai “ kumpulan tabiat moral dan intelektual makhluk sosial”.

Sipassiriki merupakan prinsip hidup bagi suku Makassar, apabila merujuk kepada pengertian sipassiriki itu maka kita harus kembali kepada istilah sipassiriki

(37)

itu, sipassiriki merupakan bahasa Makassar yang berasal dari kata siri’, siri secara terminologi berarti rasa malu.

Beberapa pendapat ahli hukum adat tentang pengertian siri’(Pemda Gowa : 1995):

1. Moh natsir menyatakan bahwa sirik adalah suatu perasaan malu yang dapat mendapatkan sanksi dari keluarga (verwantegsroup) yang dilanggar norma adatnya.

2. Menurut Cassuto, seorang ahli hokum adat yang berkebangsaan jepang yang pernah meneliti masalah siri’ di Sulawesi Selatan berpendapat bahwa siri’

merupakan pembalasan berupa kewajiban moral untuk membunuh pihak yang melanggar adatnya.

3. Kodak VIII Sul-Selra bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin mengadakan seminar masalah siri’ tanggal 11-13 juli 1977 telah merumuskan bahwa siri’

adalah merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.

Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa siri’ adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat suku Makassar karena merupakan bentuk penghargaan terhadap kedirian manusia.

Jika siri’ adalah bentuk penyifatan maka sipassiriki adalah bentuk perilaku atau implementasi dari sifat siri’ itu. Istilah sipassiriki memang kurang dikenal oleh masyarakat namun esensi dari nilai sipassiriki itu sangatlah mendalam karena ia mencerminkan bentuk keluhuran budi masyarakat suku Makassar.

(38)

Perkembangan zaman yang makin “menakutkan” bagi eksistensi nilai sipassiriki, dalam beberapa kasus tak jarang kita menemukan berbagai kasus-kasus yang meruntuhkan nilai itu baik itu kasus pidana seperti korupsi, sampai kepada kasus asusila. Semua itu adalah sumber masalah bagi nilai itu. Nilai sipassiriki berubah menjadisipakasiri’, namun yang paling ironis adalah ketika banyaknya kasus asusila seperti free seks atau bahasa agamanya perzinaan menjadi hal yang lumrah dan biasa-biasa saja bagi masyarakat suku Makassar, ini karena hukum-hukum tentang kasus free sex itu tak lagi ditegakkan jika dahulu perzinaan, kawin lari atau silariang, nilariang (dibawa lari) dan erangkale (wanita yang membawa dirinya kepada laki - laki) dihukum dengan “niladung” (dimasukkan kedalam karung kemudian ditenggelamkan kedalam laut atau air sampai mati), maka zaman sekarang semuanya tak lagi berarti, hukum-hukum adat hanya sekedar menjadi symbol tanpa makna.

Dalam hasil prapenelitian yang penulis lakukan, yang paling menyedihkan adalah ”kasus silariang. Nilariang, dan erangkale, menjadi biasa – biasa saja bagi banyak keluarga dalam suku Makassar, hampir setiap kasus yang saya temukan dalam masyarakat Makassar hampir semua yang melakukan kasus seperti itu berujung pada penerimaan yang baik oleh keluarga pelaku, dengan berbekal beberapa juta uangpanai’ maka perbuatan asusila itu menjadi terlupakan dan kembali diterima oleh keluarga bersangkutan bahkan para keluarga pelaku tidak merasa malu terhadap apa yang dilakukan oleh anggota keluarga mereka.”

(39)

Dari pendapat narasumber, saya melihat bahwa Sungguh Ironis, suku Makassar yang dahulu sangat “dihormati” suku lain karena keluhuran budinya, dijunjung tingginya nilai budaya siri’, tutur katanya yang santun, tingkah lakunya yang khas, namun sekarang hampir tak memiliki jati dirinya lagi. Seharusnya sekaranglah saatnya kita sebagai suku Makassar kembali menegakkan hukum-hukum adatnya, agar kita kembali dikenal sebagai suku yang menjunjung tinggi nilai budaya sebagai falsafah hidup, menghidupkan kembali suku Makassar yang dihormati dan memiliki siri’ na pacce. Tapi semua itu hanya akan menjadi sebatas harapan jika semua masyarakat menganggap nilai-nilai yang ada hanyalah penghambat perkembangan modernitas. Saya melihat banyak sekali kesenjangan yang terjadi dalan suku Makassar, bukan hanya masalah asusila yang tak terselesaikan namun tutur kata yang dahulunya santun sekarang tutur kata itu diwarnai dengan kata-kata kasar yang tak “beretika”. Tutur kata yang santun itu berganti dengan (maaf) sundala, kongkong. Kabbulamma dan kata-kata kasar lainnya, istilah sepeti itulah yang sekarang menghias mulut sehari-hari, nilai sipassiriki itu benar-benar telah berubah menjadisipakasiri’.

Bukan hanya itu prinsip suku Makassar kana tojeng sebagai toddo’ puli juga tak lagi memiliki namanya, berbagai problematika itulah yang harus kita sadari dengan baik sebagai bentuk refleksi diri (ibda’ binafsih) sebagai orang yang bangga menjadi suku Makassar. Alur kerangka pikir di dalam penelitian ini dapat digambarkan secara praktis mengenai nilai sipassiriki dalam tatanan adat suku Makassar (studi perilaku suku Makassar) dapat dilihat pada bagan berikut ini :

(40)

Bagan kerangka pikir

Suku makassar Kota makassar

Dekonstruksi nilai sipassiriki

Hukum adat

Konsepsi nilai

(41)

31 A. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yang fokus penelitiannya adalah Nilai Sipassiriki dalam Tatanan Adat Suku Makassar (Studi Perilaku Suku Makassar) Di Kota Makassar Kecamatan Tammalate Kelurahan Mangasa. Pendekatan ini merupakan suatu proses pengumpulan data secara sistematis dan intensif untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana Nilai Sipassiriki Dalam Tatanan Adat Suku Makassar (Studi Perilaku Suku Makassar) Di Kota Makassar Kecamatan Tammalate Kelurahan.

Menurut Lexy Moleong dalam bukunya metodologi penelitian kualitatif (2006), menjelaskan bahwa :

“yang dimaksud penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengkaji tentang fenomena–fenomena yang dialami oleh objek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan secara menyeluruh dan dengan secara deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.”

Berdasarkan pernyataan diatas, maka penelitian ini diarahkan pada analisis Nilai Sipassiriki Dalam Tatanan Adat Suku Makassar (Studi Perilaku Suku Makassar) di Kota Makassar Kecamatan Tammalate Kelurahan Mangasa.

(42)

B. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian ini adalah suku Makassar yang bertempat tinggal di Kota Makassar di Kecamatan Tammalate Kelurahan Mangasa.

C. Sumber data

Sumber penelitian ini adalah beberapa warga suku Makassar dan beberapa dokumen. Adapun sumber data yang digali dalam penelitian ini terdiri dari sumber data utama yang berupa kata – kata dan tindakan, serta sumber data tambahan yang berupa dokumen – dokumen. Sehingga beberapa sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi:

1. Sumber data utama ( primer ), yaitu sumber data yang diambil peneliti melalui observasi dan wawancara langsung dengan informan.

2. Sumber data tambahan ( sekunder ), data yang biasanya tersusun dalam bentuk dokumen–dokumen misalnya arsip atau buku–buku yang berhubungan dengan masalah penelitian.

D. Instrument penelitian

Instrument penelitian ini adalah peneliti sendiri, setelah datanya jelas peneliti menggunakan pedoman observasi, wawancara dan dokumentasi.

(43)

E. Teknik pengumpulan data

Data penelitian ini akan dikumpulkan dengan tiga teknik yaitu : teknik wawancara, teknik observasi, dan teknik dokumentasi.

1. Teknik wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

2. Teknik observasi

Observasi yaitu : pengamatan, pengawasan, peninjauan, penyelidikan dan riset. Pengamatan merupakan metode pertama yang digunakan dalam penelitian ilmiah. Dalam hal ini peneliti mengamati perilaku suku Makassar.

3. Teknik dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagi jenis informasi, dapat juga diperoleh melalui dokumentasi.

Data yang didapatkan peneliti ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan bagaimana esensi nilai sipassiriki dalam tatanan adat suku Makassar ( studi perilaku suku Makassar ).

f. Analisis data

Setelah berbagai data terkumpul, maka untuk menganalisisnya digunakan teknik analisis deskriptif, artinya peneliti berupaya menggambarkan kembali data –

(44)

data yang telah terkumpul mengenai dekonstruksi nilai sipassiriki dalam tatanan adat suku Makassar ( studi perilaku suku makassar ) di Kota Makassar Kecamatan Tammalate Kelurahan Mangasa.

Sebagaimana pandangan Lexy Moleong menyebutkan bahwa analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data dalam pola, kategori, dan dapat dirumuskan hipotesis kerja spirit yang disarankan oleh data. Proses analisis data yang dilakukan peneliti melalui tahap–tahap sebagai berikut :

1. Pengumpulan data, dimulai dari berbagai sumber yaitu : dari beberapa informan dan pengamatan langsung yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, transkrip wawancara dan dokumentasi.

2. Proses pemilihan, yang dilanjutkan dengan menyusun dalam satuan – satuan yang kemudian diintegrasikan pada langkah berikutnya.

3. Tahap terakhir adalah pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai tahap ini, mulailah pada tahap pemabahasan hasil penelitian, sehingga dapat digambarkan sebagaimana berikut :

Komponen–komponen analisis data : model interaktif

Pengumpulan data

Penyajiaan data

Kesimpulan– kesimpulan penarikan / verivikasi Reduksi

data

(45)

G. Pengecakan Keabsahan data

Pengambilan data – data melalui tiga tahapan, yaitu : tahap pendahuluan, tahap penyaringan, dan tahap melengkapi data yang banyak terjadi pada tahap penyaringan data yang masih kurang. Dari ketiga tahap ini, untuk pengecekan keabsahan data yang tidak relevan dan kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi dilapangan. Sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi. Moleong berpendapat bahwa : dalam penelitian diperlukan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data. Sedangkan untuk memperoleh keabsahan temuan perlu ditelti kredibilitasnya dengan menggunakan teknik sebagai berikut :

1. Presistent observation (ketekunan pengamatan) yaitu mengadakan observasi secara terus menerus terhadap objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktivitas yang sedang berlangsung dilokasi penelitian.

2. Triangulasi yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data.

Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alatyang berbeda dengan metode kualitatif.

3. Peerderieting (pemeriksaan sejawat melalui diskusi), bahwa yang dimaksud dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan–rekan sejawat.

(46)

H. Tahap - tahap penelitian

Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan penelitian:

1. Tahap pra lapangan a. Memilih lapangan

b. Mengurus perijinan, baik secara formal maupun informal.

2. Tahap pekerjaan lapangan

a. Mengadakan observasi langsung ke lokasi penelitian.

b. Memasuki lapangan dengan melakukan wawancara beberapa informan.

c. Berperan serta menumpulkan data

d. Menyusun laporan penelitian berdasarkan hasil data yang diperoleh.

(47)

37 A. Hasil Penelitian

1. Sejarah Singkat Lokasi Penelitian

Kota Makassar pada masa H.M.Dg.Patompo (1965-1978) menjabat Walikotamadya Makassar, yaitu tanggal 1 September 1971 berubah namanya menjadi Kota Ujung Pandang setelah diadakan perluasan kota dari 21 km² menjadi 175,77 km². Namun kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1999 berubah kembali namanya menjadi Kota Makassar. Kota Makassar biasa juga disebut Kota Daeng atau Kota Anging Mamiri. Daeng adalah salah satu gelar dalam strata atau tingkat masyarakat di Makassar atau di Sulawesi Selatan pada umumnya, gelar Daeng ini sebenarnya sudah ada sebelum pemerintahan H.M.Dg.Patompo, Daeng dapat pula diartikan "kakak". Ada tiga klasifikasi "Daeng", yaitu : nama gelar, panggilan penghormatan, dan panggilan umum. Sedang Anging Mamiri artinya

“angin bertiup” adalah salah satu lagu asli daerah Makassar yang sangat populer pada tahun 1960-an. Lagu ini sangat disukai oleh Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno ketika berkunjung ke Makassar pada tanggal 5 Januari 1962.

2. Gambaran Umum Wilayah Penelitian

a. Administrasi

(48)

Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia memiliki luas areal 175,79km2 dengan penduduk 1.112.688, sehingga kota ini sudah menjadi kota Metropolitan. Sebagai pusat pelayanan di KTI, Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutanbarang dan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.

b. Luas Wilayah Kota Makassar

Secara administrasi kota ini terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan laut. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2000 adalah 1.130.384 jiwa yang terdiri dari laki-laki 557.050 jiwa dan perempuan 573.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,65 %.

Masyarakat Kota Makassar terdiri dari beberapa etnis yang hidup berdampingan secara damai seperti Etnis Bugis, etnis Makassar, etnis Cina, etnis Toraja, etnis Mandar dll. Kota dengan populasi 1.112.688 jiwa ini, mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam sejarah perkembangan Islam, Makassar Gbr. Tanjung Bunga

No kecamatan Luas km2

1 Tamalanrea 31,84

2 Biringkanaya 48,22

3 Manggala 24,14

4 Panakkukang 17.05

5 Tallo 5,83

6 Ujung Tanah 5,94

7 Bontoala 2,10

8 Wajo 1,99

9 Ujung Pandang 2, 63

10 Makassar 2, 63

11 Rappocini 9,23

(49)

12 Rappocini 20,21

13 Mamajang 2,25

14 Mariso 1,82

Total 175,77

Sumber : Litbang Kompas diolah dari Badan Pusat Statistik Kota Makassar, 2001 kota Makassar adalah kunci dalam penyebaran agama Islam ke Kalimantan, Philipina Selatan,NTB dan Maluku. Munculnya kasus SARA di Ambon -- Maluku dan Poso padabeberapa tahun terakhir ini, tidak terlepas dari peran strategis Makassar sebagai kota pintu di wilayah Timur Indonesia.

Kekristenan di Makassar dalam beberapa tahun terakhir ini sering menjadi sasaran serbuan.

Kota makassar disamping sebagai daerah transit para wisatawan yang akan menuju ke Tana Toraja dan daerah-daerah lainnya, juga memiliki potensi obyek wisata seperti: Pulau Lae-lae, Pulau Kayangan, Pulau Samalona, Obyek wisata peninggalan sejarah lainnya seperti: Museum Lagaligo, Benteng Somba Opu, Makam Syech Yusuf, makam Pangeran Diponegoro, Makam Raja-raja Tallo, dan lain-lain. Fasilitas penunjang tersedia jumlah hotel 95 buah dengan jumlah kamar 3.367 cottage wisata sebanyak 76 buah, selain itu juga terdapat obyek wisata Tanjung Bunga yang potensial.

1) Orientasi Wilayah

Secara geografis Kota Metropolitan Makassar terletak di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan pada koordinat 119°18'27,97" 119°32'31,03" Bujur Timur dan 5°00'30,18" - 5°14'6,49" Lintang Selatan dengan luas wilayah 175.77 km2 dengan batas-batas berikut :

a) Batas Utara : Kabupaten Pangkajene Kepulauan

(50)

b) Batas Selatan : Kabupaten Gowa c) Batas Timur : Kabupaten Maros d) Batas Barat : Selat Makasar

Secara administrasi Kota Makassar terbagi atas 14 Kecamatan dan 142 Kelurahan dengan 885 RW dan 4446 RTKetinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C.

Kota Makssar diapit dua buah sungai yaitu: Sungai Tallo yang bermuara disebelah utara kota dan Sungai Jeneberang bermuara pada bagian selatan kota.

2) Penduduk

Jumlah dan Pertumbuhan penduduk kota Makassar No

Kecamatan Penduduk

Laju Pertumbuhan

Penduduk Per Tahun

1990 2000 2003 1990-

2000

2000- 2003

Mariso 55.607 51.003 51.980 -0,88 0,54

Mamajang 67.929 58.850 56.988 -1,46 -0,91

Tamalate 199.650 253.827 140.306 2,49 2,21

Rappocini (03) 133.660 2,49*) 2,21*)

Makassar 92.513 80.127 79.362 -1,46 -0,27

Ujung Pandang 44.391 27.765 27.279 -3,22 -0,50

Wajo 64.560 34.114 32.51954.

671

-2,66 -1,36

Bontoala 45.229 56.875 45.156 -1,29 -1,12

Ujung Tanah 111.182 44.055 124.755 -0,27 0,714

Tallo 150.758 115.527 127.632 -0,39 2,22

Panakkukang 73.361 200.942 89.088 2,99 2,18

Manggala (11) 2,99*) 2,18*)

Biringkanaya 73.361 176.934 9,45 3,09

Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk

Penduduk

(51)

No Kecamatan Jumlah Kepadatan

1 Tamalanrea 82.641 2.596

2 Biringkanaya 96.057 1.992

3 Manggala 124.861 3.208

4 Panakkukang 116.633 7.323

5 Ujung Tanah 44.373 20.006

6 Bontoala 57.406 7.470

7 Wajo 34.833 27.336

8 Ujung Pandang 27.254 17.504

9 Makassar 80.593 10.363

10 Rappocini 128.637 31.981

11 Tamalate 130.777 13.937

12 Mamajang 59.689 6.471

13 Mariso 51.491 26.528

14 Tallo 77.443 28.292

Total 1.112.688 6.330

Sumber : Litbang Kompas diolah dari Badan Pusat Statistik Kota Makassar, 2001 3) Ekonomi

Sejalan dengan perkembangan kota Makassar, kegiatan ekonomi juga semakin pesat ini ditandai dengan meningkatnya jumlah perusahaan perdagangan yang sekarang telah mencapai 14.584 unit usaha yang terdiri dari 1.460 perdagangan besar, 5.550 perdagangan menengah dan 7.574 perdagangan kecil.

Kemudian terdapat 21 industri besar dan 40 industri sedang yang terkonsentrasi di kecamatan Biringkanaya dan konsentrasi industri besar kedua terdapat di kecamatan Tamalanrea dan kecamatan Panakkukang masing-masing 5 unit.

Sementara itu kawasan perdagangan utama kota Makassar terdapat di Pasar Sentral (Makassar Mall) sebagai pusat dan wilayah Panakkukang dan Daya sebagai sub pusat pelayanan selain itu terdapat 2 Mall (Mall Ratu Indah dan Latanete Plaza) dan kawasan perdagangan Somba Opu, sedangkan JI. Jend.

Sudirman, jl. DR. Ratulangi cenderung untuk berubah menjadi kawasan perdagangan. Perdagangan kota Makassar tergolong maju. Pusat-pusat perniagaan

(52)

dari pasar-pasar tradisional, pasar grosir sampai mal-mal modern berkembang pesat. Sektor perdagangan terkait erat dengan sektor industri dan transportasi.

Untuk mengantisipasi perkembangan industri dan tata kota, pemda telah menyediakan lahan untuk kawasan industri seluas 200 hektar dengan nama PT Kawasan Industry Makassar (KIMA)

4) Keuangan Daerah

Dari sisi penerimaan APBD kota Makassar pada tahun 2001, penerimaan daerah yang berasal dari Dana Perimbangan merupakan yang terbesar yaitu sekitar 83%

atau sekitar 286,4 milyar dari sekitar 344,7 milyar, sedangkan penerimaan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah menyumbang sekitar 13% atau sekitar 45,6 milyar. Sedangkan penerimaan lain yaitu sebesar 3,1 milyar yang berasal dari penerimaan yang sah lainnya dan sisa anggaran tahun lalu sebesar 9,4 milyar.

Dari sisi pengeluaran, anggaran terbesar, diperuntukan bagi belanja rutin yaitu hampir sekitar 80% atau sekitar 278,1 milyar, sedangkan untuk belanja pembangunan, dialokasikan hanya sebesar 66,5 milyar atau sekitar 20%. Dengan alokasi dana pembangunan yang cukup kecil dibandingkan dengan alokasi untuk belanja rutin, salah satu pertimbangan yang dipakai dalam menentukan kebijakan pengelolaan anggaran belanja seperti sebagai berikut; Belanja pembangunan difokuskan pada sektor yang bersifat cost recovery. Penerimaan PAD kota Makassar perlu ditingkatkan seiring dengan berlakunya UU tentang Otonomi Daerah melalui optimalisasi sumber-sumber pendanaan yang selama ini ada, selain berusaha menciptakan sumber-sumber pendanaan baru, baik dari penerimaan sektor pajak maupun perusahaan daerah.

(53)

5) Fasilitas Umum Dan Sosial a) Pendidikan

Pada tahun 2003 di Kota Makassar, jumlah Sekolah Dasar sebanyak 441 unit, dengan jumlah guru sebanyak 5.073 orang dan jumlah murid sebanyak 137.877 orang. Jumlah SLTP sebanyak 153 unit dengan jumlah guru sebanyak 52.343 orang. Sedangkan jumlah SLTA 175 unit dengan jumlah guru sebanyak 4.929 orang dan jumlah murid sebanyak 56.273 orang.

b) Fasilitas Kesehatan

Pada tahun 2003 di kota makassar terdapat 16 rumah sakit, yang terdiri dari 4 rumah sakit pemerintah, 7 rumah sakit swasta dan 3 rumah sakit abri serta 2 Rumah sakit khusus. Jumlah puskesmas 75 unit, yang terdiri dari 36 puskesmas dan 39 puskesmas pembantu.

6) Prasarana Dan Sarana Permukiman a) Komponen Air Bersih

PDAM Kota Makassar memberikan pelayanan air minum untuk penduduk wilayah kota Makassar secara keseluruhan. Sumber air baku yang digunakan oleh PDAM Kota Makassar untuk melayani penyediaan air minumnya sebagian besar berasal dari air permukaan (sungai), yaitu Sungai Jeneberang dan dan Sungai Maros. Untuk pengambilan air baku dari sungai Jeneberang dibangun Intake Ratulangi (IPA Ratulangi) dan Bili-Bili (IPA Somba Opu) sedangkan air baku dari Sungai Maros dibangun Intake Lekopadng (IPA Panaikang). kapasitas produksi masing-masing Instalasi Pengolahan Air (IPA) adalah sebagai berikut :

(1) IPA Ratulangi 50 l/det

Gambar

Tabel 4 Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3 Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Umur

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan paparan data di atas, dapat disimpulkan bahwa peran guru baik sebagai motivator, fasilitator, dan pembimbing dalam mengembangkan keterampilan berbahasa siswa kelas rendah di

AAU HIGHLIGHTS 2022 International Accreditations International and Arab Rankings MOUs Highlights INTERNATIONAL ACCREDITATIONS The College of Engineering obtained the “ABET”